Monday, 22 August 2016

Fenomena Totto Chan dan Raja Kecil

Menjadikan anak  sebagai raja pada usia 0-7 tahun adalah salah satu dari fase mendidik anak seperti yang diperkenalkan oleh sahabat Nabi Muhammad saw. Pada saat anak-anak menginjak usia ini, otaknya sangat mudah merekam hal-hal yang pernah diamati atau dialaminya. Pengalaman yang didapatkan oleh mereka pada 7 tahun pertama ini akan bepengaruh pada pembentukan karakter mereka. Kalau mau membaca cerita lebih lengkap dan pengalaman personal, boleh deh baca blognya salah satu emak keren dari Bandung, Fauzia Subhan : Tiga Fase Mendidik Anak 

Waktu saya blogwalking ke blognya Zia ini, saya jadi teringat salah satu buku best seller yang ditulis oleh Tetsuko Kuroyanagi, omak keren asal Jepang, Tetsuko Kuroyanagi (83 tahun) yang terkenal dengan buku best sellernya, Totto-Chan, Gadis Cilik di Jendela. Familiar kan, ya?
http://www.catatan-efi.com/2016/08/fenomena-totto-chan-dan-raja-kecil.html
dokumen pribadi
Saya terkesan dengan 62 cerita-cerita pendek dalam buku setebal 279 halaman ini. Kalau dirata-ratakan, setiap bab diceritakan sektiar 4,5 halaman. Beberapa bagian ada yang kurang, ada yang lebih. Jadi seperti ini ceritanya.

Pindah Sekolah
Ceritanya Totto Chan terpaksa pindah sekolah karena gurunya tidak tahan dengan Totto Chan - nama kecil Tetsuko Kuroyanagi - karena dicap nakal. Padahal sebenarnya Totto Chan bukan nakal, Tapi ia seorang anak yang punya rasa penaran yang tinggi. Meski mungkin ulahnya memang tampak menyebalkan. Misalnya saja, Totto Chan senang membuka dan menutup mejanya ratusan kali lalu memasukan atau mengeluarkan buku dan alat tulis atau apa saja isi dibalik mejanya berulang-ulang, berdiri di atas meja lalu berteriak memanggil pemusik jalanan dari jendela kelasnya, melukis di atas kertas dan melewati pinggirannya dan dengan cueknya melanjutkan goresan krayonnya sampai ke meja belajar. Ga se-rese karakter Sinchan memang tapi gurunya Totto Chan sempat stres dan menyerahkan gadis kecil  itu pada ibunya.

By the way,  Semua tokoh yang ada di  buku Totto Chan - yang di tahun pertamanya laris sampai 4,5 juta copy di tahun terbit pertamanya - mulai dari ibu guru yang kesal, sekolah Totto Chan yang baru, Tomoe Gakuen, kepala sekolah yang baik dan pengertian Mr Sasuko Kabayashi dan teman-temannya Totto Chan juga tokoh nyata. They do exist!  Cerita di dalmnya juga enggak ngarang, bukan sesuatu yang utopis, alias too good to be true. Segitunya membekas, Tetsuko  bisa mengingat detil pengalamannya waktu kelas satu SD. Sesuatu yang memorable sekali pastinya.
Fenomena Totto Chan dan Raja Kecil
Oma Tetsuko diwawancarai Tom Cruise. Sumber: http://www.tomcruise.com/blog/2013/05/30/tom-cruise-interview-on-japanese-talk-show-tetsukos-room/
Totto Chan adalah anak yang beruntung. Sampai usianya menginjak 20 tahun, Mamanya tidak pernah menceritakan mengapa Totto Chan pindah sekolah. Label anak nakal   yang bisa meruntuhkan kepercayaan diri tidak pernah didapatkannya.

Soal label pada anak emang jangan sembarangan mengomeli mereka. Saya pernah nulis soal ini juga di sini

Ngomong-ngomong soal sekolahnya Totto Chan yang kedua, alias Tomo Gakuen ini tidak akan pernah kita temukan kalau coba googling fotonya. Ini karena sekolahnya dibom oleh Amerika. Yup, Tetsuko Kuroyanagi ini menghabiskan masa kecilnya pada masa-masa perang dunia kedua pecah. Riwayat sekolah Tomoe Gakeun ini sendiri usianya tidak lebih dari 10 tahun. Dibom oleh Amerika pada tahun 1945 setelah sebelumnya dibangun Mr Kobayashi tahun 1937. Pak kepsek yang baik dan ramah ini pernah belajar metode Euritmik dari Emile Jaques Dalcroze, seorang komponis berdarah Swiss. Ia membangun sekolah dengan uang sendiri. Konsep tempat belajarnya juga unik, karena tidak berupa gedung, tapi gerbong-gerbong kereta yang dimodifikasi sedemikian rupa untuk menampung murid setiap kelas yang jumlahnya sedikit.

Beberapa kebiasaan unik yang diterapkan oleh Mr Kobayashi di sekolah Tomoe Gakuen ini adalah seperti berikut.

Sesuatu dari Laut dan  Sesuatu dari Darat

Setiap murid diwajibkan untuk membawa bekal makan siangnya dengan bahan yang berasal dari laut dan dan darat. Sepintas syarat ini terasa berat tapi mamanya Totto Chan senang dengan peraturan ini karena lebih mudah menyiapkan bekal untuk gadis kecilnya.   Makanan dari darat bisa saja sayur yang dibumbui atau telur. Sementara makanan dari laut pun boleh hanya  berupa keripik ikan atau rumput laut. Kalaupun ada anak yang tidak lengkap membawa bekalnya sesuai dengan yang disyaratkan, tidak akan dimarahi atau kena hukum. Istri kepala sekolah akan menambahkan bahan yang tidak ada untuk anak-anak di sekolah. Kebayang kan ya, Miss Kobayashi ini harus masak setiap hari untuk memenuhi gizi 50an anak-anak di sekolah Tomoe?

Cara Belajar Yang Unik

Alih-alih memulai jam pelajaran dengan skema standar seperti jam pertama pelajaran ini, jam berikutnya pelajaran itu, di Tomoe Totto Chan dan teman-temannya bebas memilih belajar apa saja yang disukainya. Guru-gurunya akan sabar melayani pertanyaan anak-anak tentang hal yang dipelajarinya. Sistem jam belajar yang berlaku di sini juga membuat teman Totto Chan, Taiji Yamanouchi  menjadi seorang genius di bidang Fisika. Tai-Chan bekerja di sebuah laboratorium terbesar di dunia dengan 145 ahli fisika dan 1.400 staf teknis. Waktu masih sekolah di Tomoe, Tai-Chan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membuat berbagai percobaan dengan pembakar alkohol, tabung reaksi dan buku-buku 'sulit' tentang fisika dan sains.

Beda dengan Tai-Chan - teman Totto Chan yang lain -  Kunio Oe, tidak pernah meraih gelar pendidikan yang tinggi. Boro-boro kuliah, Oe tidak menamatkan SMPnya tapi  pengetahuannya yang tinggi tentang anggrek membuatnya jadi seornag ahli anggrek spesies timur jauh. Benih persilangan yang dibuatnya bisa dihargai sampai puluhan ribu dolar.  Gara-gara baca Totto Chan ini, saya jadi penasaran dengan Anggrek musim semi Cina yang katanya punya wangi paling juara dibanding parfum mana pun!

Tentang Euritmik

Tadi kan saya udah nyebut soal euritmik, ya? Jadi nih euritmik ini kata Mr Kobayashi adalah olahraga yang menghaluskan mekanisme tubuh, mengajari otak mengendalikan tubuh. Sebuah olahraga yang memungkinkan raga dan pikiran memahami irama. Dengan mempraktikkan euritmik membuat kepribadian anak bersifat euritmik. Karena kepribadian ini adalah kepribadian yang kuat, indah, selerasa dengan alam dan mematuhi hukum-hukumnya. Untuk mempelajarinya, murid-murid Tomoe  berjalan mengikuti irama piano dengan gaya sesuka hati dengan tempo yang sesuai dengan ketukan. Bisa lebih cepat atau lebih lambat, tergantung berapa ketukan yang dimainkan, asalkan selama bergerak itu mereka tidak saling bertabrakan dengan temannya yang lain. Kebebasan bergerak ini juga membuat mereka kreatif menciptakan gerakan yang bervariasi.

Kepala Sekolah yang Visioner

Anyway, Tomoe yang kalau digambarkan mirip simbol yin dan yang ini ternyata mempunyai arti tubuh dan pikiran yang berkembang secara bersama-sama dalam keselarasan yang sempurna. Pada waktu itu pula, Mr Kobayashi menerapkan kurikulum yang anti mainstream, berbeda dengan kurikulum sekolah lainnya pada waktu itu yang menurutnya membuat anak-anak jadi memiliki persepsi indrawi yang sempit terhadap alam dan menghilangkan kepekaan mereka terhadap suara Tuhan. Jadi maksudnya gini,  Sir Issac Newton pastinya bukan orang yang petama kali melihat apel yang jatuh kan? Tapimengapa dia yang menemukan teori gravitasi?  Quote Mr Kobayashi yang ngehits dan bisa kita temukan kalau googling adalah sebagai berikut:
Punya mata, tapi tidak melihat keindahan; punya telinga tapi tidak mendengar musik; punya pikiran tapi tidak memahami kebenaran; punya hati tapi tidak pernah tergerak  dan karena itu tidak pernah terbakar.

Ketika Totto Chan Berbohong

Rasa penasaran Totto Chan tidak pernah bisa dibendung.  Karena ga bisa diam, ia sering membuat bajunya sobek dan kotor. Satu waktu, Totto Chan berbohong karena takut mamanya marah. Totto Chan berbohong punggungnya dilempar pisau oleh anak-anak nakal.  padahal secara logika, kalau dilempar pisau bukan cuma pakaian yang rusak, tapi punggungnya juga bakalan luka serius.

Tapi mamanya memang cerdik, berhasil memancing Totto Chan untuk bercerita secara tidak  kenapa celana dalamnya ikutan sobek.  Akhirnya Toto Chan bercerita hobinya yang sering merangkak di bawah kawat (setelah sebelumnya menggali tanah dulu agar bisa menyusup di bawahnya).  Nah, waktu Toto Chan menyusup di bawah kawat ini, bukan cuma bajunya saja yang terkait kawat tapi celana dalamnya juga.  

Karena Totto Chan dan teman-temannya yang senang mengeksplorasi keinginan tahunya ini juga, Mr Kobayashi menyuruh murid-murid Tomoe mengenakan pakaian yang usang. Jadi ketika pulang sekolah pakaian mereka yang rusak atau cepat kotor jadi tidak mubazir. Kebayang aja kalau punya baju yang masih baru terus kotor atau sobek gitu. Ide yang brilian, ya?
http://www.catatan-efi.com/2016/08/fenomena-totto-chan-dan-raja-kecil.html
Totto Chan dewasa jadi duta Unicef. sumber: unicef.org.np

Learning by Doing

Selain  ulahnya yang bikin  guru di sekolah sebelumnya stres, rasa penasaran Totto Chan lainnya adalah pernah loncat  ke lubang berisi kotoran yang hanya ditutup kertas selembar, terperangkap dalam adonan semen yang membuatnya kaku berjam-jam sampai ditemukan mamanya, telinganya yang pernah terluka karena bercanda dengan Rocky, anjing gembala Jerman piaraannya, bersikeras memaksa untuk membeli anak ayam dengan bulu berwarna warni meski kemudian mati 5 hari kemudian, atau menyeret Yasuaki Chan, temannya yang menderita polio untuk memanjat pohon. Kenangan manis yang indah karena semester berikutnya Totto Chan dan teman-temannya bersedih  kehilangan Yasuaki Chan yang meninggal. 

Kepala Sekolah, Papa dan Mama yang sabar membiarkan Totto Chan mengeksplorasi hal-hal yang membuatnya penasaran menjadikannya seorang gadis yang bertumbuh dengan karakter yang kuat, meninggalkan kenangan yang kuat karena kisahnya yang ditulis 40 tahun kemudian masih diingatnya dengan baik. 

3 November: Hari Olahraga dan Reuni Sekolah

Mr Kobayashi berpikir keras dengan melakukan riset untuk menentukan 3 november sebagai perayaan olahraga di sekolah yang kemudian juga diperingati sebagai harinya untuk reunian Tetsuko dan teman-temannya dalam tahun-tahun mendatang. Pada hari yang cerah dan tidak turun hujan ini, bukan cuma murid-murid Tomoe yang merayakan olahraga. bahkan orang tua yang datang  menonton acara ini juga harus siap terlibat. Kalau dicari persamaannya dengan saat ini, semacam porak atau pekan olahraga antar kelas gitu. Kelihatannya cetek tapi ternyata tidak semudah kelihatannya. Uniknya, teman Totto Chan,  Takahashi yang memiliki tubuh pendek dan tidak bisa tumbuh tinggi lagi selalu memenangkan lomba setiap tahunnya.

Belajar Kepercayan Diri

Sejak usia bocah sekolah dasar, Totto Chan belajar menikmati jerih payah sendiri yang bisa dinikmati bersama keluarga. Kalau dalam lomba-lomba biasanya anak-anak akan mendapat hadiah berupa alat tulis, Pak Kepala Sekolah atau Mr Kobayashi akan memberi hadiah yang unik untuk para pemenangnya sperti kubis, lobak, umbi burdock, atau bawang bombay. Awalnya anak-anak ini merasa malu karena harus membawa hadiah-hadiah itu Tapi kerennya Pak Kepala Sekolah ini bilang kalau anak-anak bisa meminta mamanya untuk memasaknya untuk makan malam. 
Itu sayuran yang kaliah peroleh dengan usaha kalian sendiri. Kalian telah memberi makan untuk keluarga dengan jarih payah kalian sendiri. Hebat, kan? Aku yakin, rasanya pasti sedap!

Mr Kobayashi juga mengajarkan anak-anak di Tomoe untuk memiliki kepercayan diri berbicara di depan umum. Seorang anak yang super duper pemalu dan mengaku tidak punya sesuatu untuk diceritakan akhirnya berhasil menaklukan rasa mindernya. Tepuk tangan yang didapatinya setelah selesai bercerita akan jadis sesuatu yang tidak bisa dilupakan seumur hidupnya. 

Sebenarnya masih buanyaaak... yang pengen saya ceritain dari novel keren ini, tapi bakal lebih seru kalau baca sendiri novelnya lah ya, Hehehe... Semoga masih ada sekolah Tomoe lainnya (juga ada di Indonesia) yang bisa mencetak anak-anak hebat seperti Totto Chan, Tai Chan atau  Takahashi yang bisa melejitkan potensi yang dimiliki, terlepas dari keterbatasan yang dimilikinya. Mereka adalah contoh anak-anak yang di usia emasnya mendapat perlakuan sebagai raja seperti yang dianjurkan oleh Ali bin Thalib.


Share:

Monday, 15 August 2016

Wisata Halal Indonesia dan Media Sosial

Setahun yang lalu waktu  berlibur ke Bali, hal yang terpikirkan adalah bagaimana mencari makanan halal di sana. Khawatir kesulitan mencari makanan halal, saya menghubungi teman blogger, Mbak Ferdias yang tinggal di sana. Jawaban melegakan yang saya dapatkan. Ternyata tidak usah pusing mencari makanan halal selama tiga hari liburan di Bali. Ditambah lagi  dikasih list tempat liburan yang bisa dikunjungi.

Buat kita yang tinggal di Indonesia, soal makanan halal saat jalan-jalan di Indonesia itu  gampang. Ga sekhawatir seperti ketika kita liburan ke luar negeri seperti ke Eropa misalnya. Padahal, sesuatu yang kita anggap biasa  ini sebenarnya  potensi yang kalau digarap dengan serius bisa jadi sesautu yang prospektif secara ekonomi. Itu salah satu poin yang saya dapatkan waktu mengikuti acara diskusi Optimalisasi Peningkatan Wisata Halal Melalui Media Sosial di Green Forest Resort, Lembang tanggal 6 Agustus 2016 kemarin. Anyway, saya pengen maen lagi ke resort ini, kapan-kapan. Ada yang mau ke sini juga? Banyak spot kece soalnya ^_^
http://www.catatan-efi.com/2016/08/wisata-halal-indonesia-dan-media-sosial.html
Ada yang bisa nebak, siapa aja  3 model di foto ini?
Apa Sih,  Wisata Halal Itu?
Sudah tau, kalau wisata religi itu  cuma sebagian dari wsiata halal? Iya, karena wisata halal enggak mesti selalu yang berhubungan dengan sesuatu yang sifatnya ritual seperti pergi haji atau umrah. Toh, dalam sehari-hari  pun sebagai muslim kita harus salat 5 waktu, memastikan makanan yang kita makan adalah makanan yang halal. Ya, kan?

Begitu juga saat pergi ke luar kota atau luar pulau, entah itu cuma liburan atau urusan pekerjaan. Sebagai muslim,  kita bukan cuma aware soal label halal makanan saja saat traveling.  Ketika kita salat, masjid/musala atau arah penunjuk kiblat juga jadi perhatian, termasuk tempat wudhu dan peralatan salat yang akan digunakan, seperti mukena dan sajadah yang bersih dan nyaman, pengingat waktu salat ketika berada di daerah yang minim atau susah menemukan masjid dan sebagainya. Waktu  liburan di Bali itu saya memanfaatkan aplikasi penunjuk kiblat dari gadget, karena setelah melihat sekeliling kamar yang saya tinggali tidak menemukan penunjuk arah salat. Untungnya saya membawa mukena dari Bandung, jadinya ga kelabakan nyari mukena, karena di tempat saya menginap ga tersedia musala.

Acara yang digelar selama seharian dari pagi sampai sore minggu kemarin itu sukses membuat mata saya melek, padahal malam harinya kurang tidur.  Materi yang disampaikan apra narsum hari itu seru semua. Selain Bu Katy Kepala Bidang Target Pasar Kemenpar, masih ada Taufan Rahmadi, dari Creative Strategy Expertnya Kementerian Pariwisata yang juga bagian dari tim suksesnya Lombok di acara Word Halal Tourism Summit tahun 2015, Don Kardono, Staf Khusus Menteri Bidang Publikasi dan Bang Aswi dari Blogger Bandung.

Di awal acara, Taufan Rahmadi  menceritakan saat-saat pengumuman Lombok memenangkan award sebagai The Best Halal Destination Tourism dan Halal Honeymoon Destination. Eh, kalau saya merit trus mau hanimun,  nanti, ke sini aja gitu, ya? Muehehe... Udah, jangan diperpanjang :D
http://www.catatan-efi.com/2016/08/wisata-halal-indonesia-dan-media-sosial.html
asik nyimak sambil  ngambil foto dan live twit
Daaan... Indonesia yang diwakili oleh Lombok berhasil mengalahkan nominasi lain yang digadang-gadang lebih berpeluang, Malaysia dan Turki! Saya membayangkan mimik muka perwakilan dari Malaysia, sebagai nominator kuat urung tersenyum karena  kalah.

Indonesia, Malaysia dan Turki memang dikenal sebagai negara dengan mayoritas penduduk bergama muslim. Tapi soal pengelolaan wisata halal ini, Jepang dan Aussie juga sudah serius menggarapnya. Padahal di sana populasi muslim bisa dibilang minoritas. Konsen banget ya, mereka?  NAh waktu ditanyakan, wisata halal di mata  mereka bukan sekadar soal ritual tapi sudah menyentuh soal bisnis juga. Ada banyak wisatawan muslim yang membelanjakan uangnya saat liburan.  Contohnya nih, turis dari Uni Emirat Arab aja ga segan menghabiskan US$ 1.500 per kepala waktu ketika berlibur. Sayang banget, kan.  kalau potensi devisa yang satu ini dicuekin?

Soal menu makanan di beberapa maskapai  penerbangan dari Inggris seperti British Airways, Virgin Atlantic,  Qantas dari Aussie atau Air France juga sudah menyediakan menu halal untuk penumpangnya yang beragama Islam. Bebas alkohol dan daging babi untuk memberi kenyamanan penumpangnya. See? mereka aja sangat peduli soal ini, lho. Masa kita enggak, sih?

Untuk kenyamanan beribadah salat pun Jepang sudah mengakomodasinya.  Bang Aswi yang pernah diundang ke Jepang untuk promo tur wisata halal di Jepang pun bercerita pengalamannya. Kalau di sini kita biasa menggunakan sajadah untuk alas salat, mereka menyediakan tatami, tikar khas negerinya Oshin ini sebagai pengganti alasnya. Menarik, ya? Selain itu juga di sana da rumah potong ayam yang syari alias islami. Asik pisan, lah.

Wisata Halal dan Media Sosial
Punya akun medsos FB, twitter dan instagram, kan? Coba cek ada berapa followersnya Wonderful Lombok Sumbawa? Di akun FB,  ada 103.000an likes, baru 4.559 followers untuk instagram dan  baru  259 aja untuk twitternya. Hiksss... follow dong, Kakak. Untuk akun resmi kemenpar,  Halaman FB Pesona Indonesia, kampanye yang digencarkan untuk Kementerian Pariwisata masih tertinggal, baru 4.888 likes, meski followers twitternya udah cukup banyak, 527K waktu saya ngedraft tulisan ini.  Masa kalah sih sama  Aussie  (7,2 juta likes di FBnya)? Padahal pengguna sosmed FB di Indonesia ini ada 79 juta dari 259 juta populasi. Hiks hiks hiks... yang ngelike ternyata ga sampai 1%nya.  Padahal di sini banyak info bagus yang bisa kita dapatkan. Misalnya saja ketika tim Indonesia, The Resonanz Children's Choir menjuarai lomba paduan suara di Venice, Italia.

Statistik user media sosial di Indonesia
statistik user medsos di Indonesia

Kalau ditarik ke belakang, media sosial bisa menjadi kekuatan untuk memeberi pengaruh. Masih ingat kemenangan Jokowi atau Barrack Obama dalam Pilpres di masing-masing negara?  Tim sukses di belakangnya sangat jeli menggunakan medsos untuk  kampanyenya. Begitu juga dengan Kang Emil yang eksis di medsosnya dan rajin menyapa followersnya di medsos.

Cara yang sama ini juga dilakukan oleh Kemenpar sejak tahun 2012. Jejaring media sosial seperti yang saya sebut di atas dimanfaatkan semaksimal mungkin. Bayangin deh, dengan intensitas followers atau likers yang masih kurang aja bisa juara di acara Word Halal Tourism Summit. Gimana jadinya kalau bisa saingan dengan fanpagenya Aussie yang udah 7 digit itu?

Well, dibalik kesuksesan Lombok di ajang ini pastinya ada man behind the scene, orang di belakang layar. Salah satunya adalah Mbak J, volunteer  yang ikut sharing di acara ini. Mbak J yang penuh semangat ini bercerita suka dukanya ketika tim relawan Wisata Lombok ini terbentuk. Dari semula terbentuk yang berisikan 25 orang, sempat surut  kurang dari setengahnya, cuma 10 orang tapi tetap berusaha solid. Sekarang ini tim medsosnya Wisata Lombok sudah 243 orang, lho. Dan karena namanya juga volunteer alias relawan, mereka berkontribusi secara sukarela. Salut!
http://www.catatan-efi.com/2016/08/wisata-halal-indonesia-dan-media-sosial.html
Mbak J yang penuh semangat bercerita, nular ke seluruh ruanga
 Selain di Lombok, teman-teman yang punya jiwa muda, suka traveling dan cinta Indonesia  bisa bergabung di setiap kordinator daerah seperti halnya Mbak J ini di komunitas GEN PI atau Generasi Pesona Indonesia. Silahkan cari tau informasinya di kota atau daerah masing-masing, ya. Kalau tinggal di Bandung atau Jawa Barat, cari deh Bang Aswi :).

Kecil Tapi Berpengaruh
Tanpa kita sadari, ke-eksisan kita di media sosial bisa mempromosikan wisata Indonesia, terutama wisata halalnya.  Daripada memviralkan sesuatu  yang berbau debat kusir atau riweuh ga puguh, mending share yang positif dan menginspirasi aja. Soal wisata ini kita bisa bercerita tentang bentang alamnya yang cantik dan memesona, kreatiitas apik tangan-tangan terampil yang unik dari setiap daerah (misal tenun songket, batik, keramik) atau menyaksikan festival budaya di berbagai daerah.

Suka makan, dong? Kalau suka upload foto makanan di instagram,  ketika mencicipi makanan khas Indonesia, selain caption yang unik, hashtag yang menarik juga bisa mendatangkan likers di akun IG kita. Selain jadi aset portofolio, mencantumkan beberapa hashtag bisa mendatangkan calon pelancong yang mencari tau lewat hashtag itu.
kuliner Indonesia paling enak sedunia credit: kemenpar.go.id
Untuk wisata di Bandung yang juga punya potensi besar sebagai salah satu destinasi wisata halal, beberapa tagar yang bisa diimbuhkan ada #bandungjuara, #bandunggram, #jalan2dibandung, yang umum di gunakan. Jangan lupa dong tambahkan #pesonaindonesia, #wisataindonesia, #wisatahalalbdg, #wisatahalalindonesia. Kurang lebih seperti itu.  O, ya september 2016 ini, akan ada penyelenggaraan PON di Jawa Barat.  Selain seseruan nonton para kontingen  bertanding, jangan lupa juga ceritakan kecantikan panorama atau kulinerannya, ya.

Kadang dalam satu waktu tertentu, kita suka gatel juga melihat kelakuan wisatawan yang suka nyampah seenaknya. Objek wisata yang harusnya memanjakan mata dengan pemandangan indahnya malah bikin kesel karena ada coretan atau sampah berserakan di mana saja. Sense of belonging yang masih memprihatinkan memang di Indonesia. Tidak merasa memiliki lalu abai soal kebersihannya. Kadang di sisi lain kita pernah mejumpai grafiti yang bukan pada tempatnya, atau seperti beberapa waktu lain, label nama-nama negara pesera KAA yang hilang dari monumennya di jalan Asia Afrika Bandung. Maksud kita sih baik, mencurahkan kegemasan kita soal ini. Tapi hati-hati lho,  kadang respon yang datang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Bisa jadi kerusakan di objek wisata itu malah membuat calon turis urung datang atau citra tempat wisata itu jadi luntur atau kemungkinan terburuknya bisa kena travel warning. Nah, lho.  
foto bareng para narsum
Padahal sebenarnya siapa tau sudah ada usaha membenahi atau memperbaiki kerusakan itu tadi. So, ada baiknya untuk menghindari efek buruk dari share media sosial - yang kadang suka jadi heboh - itu kita pertimbangkan dulu, mau di mana foto itu akan dibagikan. Contohnya, bisa test case dengan membagikannya dalam grup kecil atau tertutup dan perhatikan respon yang muncul. Secara offline, tidak ada salahnya untuk cek ricek apakah lokasi tadi sudah mengalami perubahan? 

Anyway, ajang World Summit Halal Tourism ini akan digelar lagi dalam waktu dekat, bulan November 2016 nanti di Abu Dhabi. Semoga Indonesia berjaya lagi, ya. Aamiin. Selain Lombok yang sudah memenangi penghargaan setahun kemarin, masih banyak objek wisata lainnya yang tidak kalah cantiknya. Saat ini saja, ada 10 top destinasi  wisata prioritas. Selain Danau Toba di Sumatera Utara, ada Tanjung Kelayang di Belitung, Kota Tua di Jakarta,  Tanjung Lesung di Banten, Candi Borobudur di Yogya, Bromo, Tengger dan Semeru di Jawa Tengah, Mandalika, tetangga dekatnya Lombok, Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur serta yang terakhir pula Pulau Morotai di Maluku Utara. Hmm... saya harus bikin pengakuan kalau satu pun dari ke-10 tempat ini belum  ada yang saya kunjungi :P. Haduuh, harus ngebongkar lagi wish list liburan ini mah.  

Foto bareng peserta dan tim dari Kemenpar. credit foto: Fajar Zulfikar


















Share:

Thursday, 11 August 2016

Pesan Cerita dari Dorama

Waktu bulan puasa kemarin, lewat obrolan di grup WA KEB Bandung pernah tercetus ide untuk mengeratkan sesama blogger Bandung secara online.  Obrolan di WA cukup rame, mulai dari bahas printilan soal ngeblog atau obrolan santai ala emak. Ya, meski beberapa diantaranya belum jadi emak, termasuk saya, huehehe.  Let's say saya ini emak wanna be atau emak going to be. Calon emak.

Setelah menampung ide yang masuk, akhirnya dibuatlah semacam ide kolaborasi ngeblog. Intinya seperti ini, satu postingan dari peserta akan direspon peserta lainnya dengan membuat tulisan di blognya masing-masing. Karena isi kepala setiap kepala ga sama, jadinya respon yang ditulis dari sumber yang sama jadi unik, beragam. Well, ini jadi salah satu mood booster ngeblog ketika merasa stuck atau bingung mau cerita apa  sih di blog?
sumber gambar: get2iarea.blogspot.com
Postingan saya kali ini juga mau merespon tulisannya Mak Lendy One Way Trip-2015 Were Friendship Will End Like This

Program yang akhirnya dikasih nama PIN KEBandung (mengadposi idenya Ayu Oktariani) yang kalau diurai jadi kependekan dari Program Inspirasi Ngeblog KEB Bandung. Minggu ini sudah memasuki putaran kedua. Putaran pertama sebelumnya  merespon tulisan dari Mak Injul tentang Media Sosial. Respon saya ada di sini, nih:  Berekspresi di Media Sosial

Back to topic,  di blognya, Mak Lendy bercerita tentang review film Korea tentang pertemanan 4 anak muda. Meski saya bukan fans berat film Korea, pesan ceritanya oke, lho. Makanya, dibaca ya :)  Kan udah dikasih backlinknya di atas.

By the way, ini ga berarti saya mau nyebrang jadi fans film atau drama Korea gitu, lho. Icoel, Tian dan Ery yang virus Koreanya super duper mumpuni pun belum bisa ngaruhin saya hehehe. Tosss dulu sama Armita Fibriyanti.

Ngomongin soal film serial, dulu pernah juga keranjingan sinetron muahaha... Yes, I was. Masih inget duetnya Dude dan Naysila Mirdad di sinetron Cahaya?

Saya pernah ngefans juga tuh dan suka ngikik geli kalau lihat aktingnya Tante Meriam Bellina. Udah senior, masih cantik dan aktingnya total banget. Pernah waktu itu juga nonton wawancaranya di Sarah Sechan Show. Amaze deh sama usahanya tetap moncer di usianya yang udah ga muda lagi. Rajin olahraga dan pola tidur  yang teratur, mantap surantap (kosa kata macam apa ini?), Tante.

Di luar sinetron Cahaya itu saya ga rajin ngikutin sinetron yang lain. Entah lah, mungkin karena faktor charmingya Dude itu yang bikin saya betah nongkrong di depan layar. No wonder kalau  Dude banyak fansnya. Waktu dia merit juga sempet heboh dan pernah saya tulis di blog ini.


Waktu SMA saya juga pernah curi-curi pandang, eh curi-curi nonton, nonton serial Tokyo Love Story atau Ordinary People.  Beberapa OSTnya masih terngiang di telinga:). Ehm... banyak adegan yang  emang bikin risih, meski mengusung pesan tentang persahabatan yang asik. Serupa dengan serial Dawson Creek atau Party of Five yang sialnya emang banyak bumbu-bumbu gitu juga. IMHO, serial kayak Growing Pains yang dibintangin Kirk Cameron keren, lho.  Ada sih cerita kebadungan anak muda tapi masih aman ditonton.

sumber: Kirkcameron.com
Pesan film yang  ga kalah kerennya juga diusung serial One Litre of Tears.  Diangkat dari kisah nyata dan ga sampai 10 seri aja buat nonton film yang rata-rata durasinya kurang lebih sejam. Pas nonton serial ini saya dibuat mewek, keren banget. Padahal   pemeran Aya Ikeuchi tokoh utama di serial ini adalah seorang artis film panas di Jepang sana. Faktanya dari menit pertama sampai menit akhir serial yang saya tonton di youtube ini beneran aman ditonton. Ada scene yang nunjukin Aya lagi patah hati dan dihibur Asou ditengah gerimis hujan. Touching, sekaligus romatis tapi masih bagian yang wajar, ga usah bikin penontonnya nutup mata, yang ada malah ngusap air mata saking sedihnya. 
sumber: deviantart.com
Ada juga serial lain dari Jepang sana yang seru buat ditonton. Great Teacher Onizuka a.ka. GTO.  Seorang guru yang  punya cara mengajar yang nyeleneh, diolok-olok muridnya, dicap aneh sama rekannya tapi dia punya cara tersendiri mengatasi konflik yang terjadi. Dari yang tadinya dipandang sebelah mata, jadi sosok guru yang akhirnya diakui.   Memang di serial GTO ini ada aja becandaan nakal khas dorama sana. Mungkin serial Ksatria Baja Hitam  yang paling aman buat ditonton mah, ya hehehe

sumber gambar: great-teacher-onizuka-gto.wikia.com
Last but not least, walau ga ngerti bahasa Jepang, saya ga suka liat serial atau film yang disulih suara *toss lagi sama Armita*.  Mending baca terjemahan di layarnya aja, deh. English atau Indonesia gapapa, pokoknya jangan disulih suara.
Share:

Tuesday, 9 August 2016

Deadline? Yay Or Nay?

Deadline,  Yay Or Nay?  Dikejar Deadline? Biasanya time line medsos saya suka rame kalau pas lagi ada event lomba blog. I was in that position, still at sometimes,  beberapa kali nulis gitu pas jelang mepet deadline hehehe
http://www.catatan-efi.com/2016/08/deadline-yay-or-nay.html

Kalau suka merhatiin status saya, biasanya suka ngebajak si Upik Abu alias neng Inces Cinderella. Kan, rata-rata deadline itu biasanya jatuh di jam 23.59, sama dengan dead line yang dikasih ibu Peri agar si Eneng ini buru-buru balik kalau ga mau kostumnya kembali jadi baju harian, keretanya jadi labu, saisnya jadi tikus eh tapi kenapa sepatunya ga berubah, ya? Ah sudahlah, abaikan.

Meski kebanyakan deadline itu jatuhnya di jam 23.59, tapi kadang ada juga lho beberapa lomba yang batas waktu setornya siang. Saya pernah kecele, mengira masih ada waktu buat nulis, pas baca lagi syarat dan ketentuannya, ternyata jamnya itu bikin jantung saya mencelos sementara di perut saya kayak ada ribuan kupu-kupu. Mules, sebel, ah ga puguh pokoknya. Akhirnya urung nulis karena waktunya ga memungkinkan. Suruh siapa coba mepet gitu nulisnya? 

Beberapa waktu yang lalu, Admin Kece bikin thread soal dead line ini di grup Blogger Bdg, terus saya sama Tian jadi kepikiran buat curhat ini di blog. Karena, curhat di thread ini kepanjangan buahaha...
Baca juga curhatnya Tian di sini: Deadline Yay Or Nay

Jadi, Deadline itu Yay or Nay?

Udah lama banget saya ga ngontes ikutan lomba blog, kalau alasannya bukan soal waktu dan kadang tema yang dikasih ga saya kuasai. Ya sudah, saya skip aja. Tapi ada kalanya lombanya menarik terus karena sayanya kelupaan mau ngedraft, dan baru keingetan di hari terakhir. Masih penasaran, ya ga ada salahnya nyoba. Menang ya syukur, ga menang lumayan blog saya ga jadi sarangnya Spiderman hehehe.

Sebenarnya dulu jaman masih sekolah dan kuliah - belasan tahun silam- *LOL* saya tipe dead liners juga, enggak itu menghafal pas UTS atau UAS (tpai ga ngope atau bikin contekan, lho) atau ngerjain tugas makalah. Sering tuh semalaman ga tidur. Selesai ujian atau kuliah, saya merasa kliyengan. Buru-buru pulang atau numpang tidur di kosan temen (perempuan lah yang pastinya).  Begadangnya semalam, tapi efeknya bisa berhari-hari. Udah tau kayak gitu, tapi masih tetep aja diulangi. *self toyor*


Saat deadline semakin dekat,  pikiran saya kalau digambarin kayak bola kusut  yang kalau coba diurai malah makin rumit, beribet, keringat dingin keluar padahal di luar sana suhu Bandung lagi dingin menggigit. Nyari gambar pendukung yang cocok lah, kasih caption di foto lah, googling cari data pendukung lah,  belum soal teknis lainnya kayak kouta yang ternyata lagi megap-megap, sinyal yang on off (riskan banget pas klik submit ternyata eror), belum lagi kerjaan lain yang ngantri dan harus buru-buru dieksekusi. Enggak banget, lah  Daripada  sutress gitu mending tarik selimut aja, lalu bobo cantik :)
Deadline? Yay Or Nay?


Ada juga yang sengaja mepet deadline, karena beberapa alasan. Misalnya ga mau idenya dicontek. Jadi triknya kayak gini. Draftnya udah disiapin. Tinggal dilengkapi dengan beberapa printilannya, baik  itu foto, infografis dan pendukung lainnya. Setelah oke polesannya baru deh submit linknya. Potensi dicontek jadi lebih minim karena di last minute gini peserta lagi sibuk-sibuknya otak atik tulisan sendiri. Kalau lirik kanan kiri,  keburu peluit panjang alias waktunya udah abis. Mana sempeeet? *kibasin tangan ala-ala iklan minuman sereal itu*  

Kalau saya sih lebih suka skip atau abaikan tulisan kompetitor alias sesama peserta, sebelum nulis atau sesudahnya. Bukan apa-apa, suka bikin mules atau minder kalau baca yang postingannya lebih cetar.   Baru mau baca tulisan lain setelah keluar pemenangnya :)

Jangankan ikutan lomba, postingan biasa aja, fokus saya suka terpecah sama soal lain. Misalnya notif di medsos atau grup chat, film di tv yang seru, lagu di radio yang nyolekin saya buatngelamun bentar (doooh) atau ujug-ujug mules ga jelas. Sering lho, pas lagi hectic gini saya suka ujug-ujug mules dan entah kenapa ketika semuanya berlalu, tiba-tiba mulesnya itu ilang.

Jadi, kalau mau maksain alias keukeuh mepetin deadline, ketika Mas Ide ga kunjung tiba, saya milih bobo cantik aja. Kecuali yaa itu tadi, Mas Ide tiba-tiba datang bagai Ibu Peri yang nolongin Cinderella. Hayu lah geber, urusan menang atau kalah gimana ntar.  :)
Share:

Friday, 5 August 2016

Merencanakan Keuangan Liburan Yang Ideal Bersama Sun Life

Merencanakan Keuangan Liburan Yang Ideal Bersama Sun Life -  Ada yang ga setuju sama quote ini? Kayaknya semuanya setuju, deh.
“Pada sebuah buku yg berbicara tentang masa depan, aku melihat wajahmu menjelma pagi yang terbit di tiap halaman bersama asaku.”
Helvy Tiana Rosa
Saat membaca buku, adalah sebuah big no mengintip ending cerita.  Terserah deh apakah endingnya mau sedih, senang atau gantung. Orang Sunda bilang teu kaci, ga sah atau ga boleh ngintip. Begitu juga dengan masa depan kita. Enggak ada yang tau apa yang akan terjadi dengan masa depan kita. Tapi syukurlah, ada bagian hidup kita yang harus diikhtiarkan, ga pasrah kayak daun yang hanyut terbawa arus.
sumber foto: Sun Life
Yang namanya masa depan tentu kita ingin berada dalam situasi lebih baik. Ga ada kan, yang berharap dalam kondisi stagnan atau malah lebih buruk. Makanya untuk memproyeksikan masa depan itu perlu perencanaan termasuk merencanakan liburan. Jangan sampai habis liburan malah merana karena ada yangt terabaikan dalam persiapan.
Hari minggu, tanggal 31 Juli 2016 kemarin, saya barengan teman-teman blogger Bandung menghadiri acara Talkshow di Cafe Halaman Paris van Java, Bandung. Ada dua narsum utama yaitu Joyce Tauris Santi, seorang perencana keuangan yang punya hobi traveling dan Parmadi Budi Prasetyo, blogger Bandung yang berbagi tips dan pengalamannya berlibur. O, ya acara talk show ini adalah salah satu rangkaian eksibisi yang digelar di 10 kota. Bandung adalah kota ketiga setelah Makasar dan Surabaya. Beberapa kota lainnya segera menyusul acara serupa seperti Semarang, Yogakarta, Bali dan Jakarta. Tungguin aja infonya ya.

boothnya Sun Life di dalam mall PvJ
Serunya acara talk show bareng para blogger Bandung
Acara dibuka jam 13.00 dengan menghadirkan Kaiser Simanungkalit AVP Head of Branding Communicationnya Sunlife, yang bercerita kalau ternyata tingkat melek asuransi di Indonesia itu masih kecil. Bayangin aja, cuma 1% aja dari 250 jutaan penduduk Indonesia yang sudah punya asuransi. Artinya cuma 2,5 % saja yang mengantisipasi.

Padahal nih, dalam perencanaan kita juga harus mempertimbangkan faktor X, sesuatu yang terjadi di luar ekspektasi. Ya amit-amit, naudzubillah ya, semisal terjadi musibah kecelakaan atau misal kepala keluarga meninggal, dan target dari rencana yang sudah dibuat itu  jadi stuck, ga bisa jalan lagi. Misalnya nih, kita menabung masa depan untuk membeli rumah, atau menyiapkan dana pendidikan untuk anak.

Kalau udah pernah nonton Sabtu Bersama Bapak, atau baca bukunya pasti inget deh sama karakternya Pak Gunawan. Kinda family man yang bener-bener punya persiapan visioner buat keluarganya.

Dengan perencanaan yang matang, beberapa kasus kayak saya bilang tadi itu bisa tercover. Kenapa? Let's say, sebuah keluarga yang sudah menyiapkan dana pendidikan tadi, terhenti karena sang ayah meninggal dunia, ibunya ga usah cemas mikiran masa depan anaknya karena sudah ada yang akan melanjutkannya.
Baca juga ini: Bijak Menyiapkan Masa Depan
serius nyimak sambil live twit
Setelah Kaiser Simanungkalit, ada Fabie Farabie, the man behind social medianya Sun Life, tepatnya Senior Manager Digital and Social Media Marketing. Beliau ini lho yang suka bikin quote atau caption kece dan inspiring di IGnya Sun Life. Misalnya kayak gini.




A photo posted by Sun Life Financial Indonesia (@sunlife_id) on

Duh, kenapa ini jadi bahas makanan, ya? hehehe...  Oke, kembali ke topik.

 Pada kesempatan ini, beliau bercerita tentang layanan dari Sun Life untuk nasabah atau calon nasabah di kanal brightadvisor.co.id   Jangan lupa untuk kepoin, ya :)

Selain para advisornya yang sigap merespon pertanyaan yang masuk (maksimal 2x24 jam),  sebagai penanya, kita boleh lho request kalau konten yang dikonsultasikan ga dirilis di FAQ (frequently Ask Questions), so, privacynya tetep terjaga.

Untuk memudahkan penjelajahan topik yang dibutuhkan, beberapa pertanyaan yang bisa dibaca juga sudah diklasifikasikan sesuai kategori. Jadinya ga akan siwer dan sebagai stalker, kita hanya akan fokus mencari jawaban yang relevan dengan kebutuhan.
sumber foto: Sun Life
Selesai menyimak paparan dan tanya jawab dengan Pak Fabie,  next ada Mbak Joyce yang share tips dan pengalamannya mempersiapkan dana liburan.
sumber foto: Sun Life
Hari gini, siapa coba yang  mau kerja terus dan abai rekreasi? Ah, saya juga pengeeen. Mudah-mudahan, November nanti saya bisa jalan ke Yogyakarta, buat menyaksikan acara Yogya International Heritage Walk, seru kayaknya.

Emang sih, Yogya mah relatif deket dari Bandung. Bisa ditempuh pake pesawat kalau punya budget lebih, atau kalau mau ngirit sambil menikmati perjalanan, bisa tuh pake kereta api. Kan sisanya bisa buat yang lain. Kulineran atau belanja souvenir, hehehehe. Untuk yang satu ini juga kudu menyiapkan banyak hal. Jangan sampai ada yang miss dan bikin saya merana.  Yang jelas, dana yang cukup buat pulang-pergi dan ga menyita pos rutin bulanan lainnya. Selain itu, obat-obatan yang harus saya siapkan, pakaian ganti dan errr.. oleh-oleh juga harus masuk list. Eh, tapi jangan minta oleh-oleh sama saya, ya hihihi Atuhlah, kan berat bawanya. Berat di dompet pula *ngirit detected*

Ngomong-ngomong soal perencanaan liburan, pos tranportasi ini punya porsi yang gede, hampir seperempatnya alias 25% dari total pengeluaran. Pos lainnya yang harus direncanakan dengan matang adalah: Penginapan, Makanan (15%), Rekreasi, Oleh-oleh dan biaya tak terduga. Bisa sih memangkas biaya pengeluaran untuk penginapan kalau punya kenalan dan kasih tumpangan nginep gratis. Tapi kalau liburannya lama, ya ga enak juga nebeng lama-lama. Untuk penginapan, fleksibel aja. Kan cuma numpang tidur, aja. Bisa deh cari penginapan yang murah, promo dan better booking sejak awal. Riskan sekali kalau nyari penginapan di last minute terutama di saat peak season. Nginep di stasiun atau gelar tikar di halaman masjid? Enggak deh, jangaaaan. Ngirit yang kebangetan itu mah.

Last but not least, jangan pernah coba-coba mengisi dana liburan dengan ngutang. Ga enak, begitu pulang ke rumah, selain tumpukan cucian, kepala dibuat pening karena mikirin tagihan. Jadi di mana esensi piknik untuk bersenang-senangnya, coba?
Komika Fandi Bkri, menghibur audiens

Setelah Fandi Bakri, komika yang menjeda acara dengan stand up comedynya yang kocak plus bumbu curcolnya itu,  giliran Parmadi Budi Prasetio yang berdiri di stage.  Parmadi bercerita pengalaman  serunya waktu traveling yang bikin amaze sekaligus envy. Menurutnya, salah satu hikmah dari jalan-jalan itu bisa mengenal partner yang jalan bareng (ga berlaku kalau solo traveling, atuh ya). Soalnya saat jalan-jalan ini kita bisa kenal watak aslinya seseorang. Cocok deh dengan bunyi sebuah hadist (duh lupa siapa yang meriwayatkannya).

Bukan cuma itu aja, dengan jalan-jalan bareng pasangan pun bisa jadi salah satu cara untuk memperbaiki hubungan yang terasa mulai garing. Nah, yang lagi bete-betean sama suami atau istrinya, kayaknya merencanakan ide sebuah perjalanan bisa jadi solusi asik, nih.

Ngomong-ngomong soal perjalanan,  masih menurut Parmadi juga jangan takut untuk tersesat. Meski, siapa sih yang mau dan merencanakan untuk tersesat? Apalagi kalau di negeri orang. Tapiiii kadang kita bisa menemukan sesuatu yang baru dan momen yang tidak terlupakan karena tersesat itu. Beberapa tips lain yang saya catat untuk perjalanan liburan nanti misalnya kayak gini, nih.

Catat Mimpinya

Mimpi punya acara liburan kan gratis, jadi mau liburan ke mana, sih?
Kita ga pernah tau kapan Tuhan mengabulkan doa kita. Banyak yang punya mimpi atau cita-citanya terwujud karena memvisualkan mimpinya. Ngutip tips dari Mbak Melly, MC acara, minimal kita punya screen capturenya deh di gadget tentang mimpi kita itu.

Jadi keingetan kalau tahun 2015 kemarin saya  bisa jalan-jalan ke Bali, sama adik lagi. Saya udah lupa  kalau ternyata sebelumnya saya pernah punya mimpi ini. Teh Dey, teman saya di facebook yang mengingatkan kalau jauh hari sebelumnya saya pernah punya keinginan untuk ini. Eh, beneran terwujud!

Ok, next setelah jalan ke Yogya (lagi) November nanti, list mimpi liburan saya adalah ke Raja Ampat di Papua, Danau Toba di Sumatera Utara,  Geopark Ciletuh di di Sukabumi (nyaris pergi, ga jado karena waktunya bentrok). Terus kalau ke luar negeri pengen deh ke Jepang, Inggris, dan Spanyol. Eh, habis itu jalan ke mana lagi, ya?

Jalan Sama Siapa?

siapa partner jalan, menentukan rencana perjalanan juga
Kalau solo traveling alias jalan sendiri ya santai aja, ya Kita tau gimana caranya menikmati perjalanan. Nah, kalau pergi bareng sama yang lain, tentu ga bisa sesuka hati menentukan rencana. Misalnya pergi dengan anak kecil atau balita. Ga mungkin kan, ngajak mereka menempuh rute yang bikin cape atau menantang bahaya.

Kapan Mau Pergi Liburan?

Kapan kita akan pergi  liburan? Low season? Peak season? Anggaran yang disiapkan pasti bakalan beda. Perhatikan juga rutinitas harian. Jangan sampai urusan bisnis atau kerjaan jadi berantakan pas kita tinggal liburan.

Apa Tema Perjalanannya?

Rencana liburannya mau ngapain aja, sih?
Sebenarnya liburan nanti mau ngapain sih? Lebih banyak wisata kulinerannya?  Menempuh jalur-jalur yang menantang adrenalin? Atau wisata budaya? Dengan teman perjalanan yang sudah dirancang, kita ga bakalan pusing menyusun itenerary saat liburan nanti. Dokumentasi perjalanan pun jadi rapi. Siapa tau bisa  kita share di media (tv, koran, majalah atau blog), terus dapat  honor nulis, deh. Asik kan, bisa dapat talangan biaya liburan *ngirit detected again*

Pergi Pakai Apa?

sumber gambar: pixabay
Bagaimana kita menempuh perjalanan, apakah  dengan kendaraan sendiri, naik kereta api, atau pesawat juga perlu diperhatikan. Sedikit tips nih agar dapat posisi strategis saat naik pesawat, ternyata kita bisa milih seat pas check in, lho. Merujuk pengalaman narsum, kita bisa datang lebih awal ke bandara. Saat  konfirmasi dengan petugas yang ngurusin tiket, coba deh basa-basi dikit, tepe-tepe atau tebar pesona ga papa lah. Kalau udah cair lebih mudah buat kita minta posisi dekat jendela atau di pinggir.  Kasih alasan deh yang kira-kira make sense alias masuk akal.

Perhatikan Budaya Lokal

Perhaikan kebiasaan penduduk setempat, jangan cari masalah
Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung. Pepatah ini tepat sekali untuk diingat selama kita berlibur.  Beberapa kebiasaan tertentu seperti isyarat tubuh, nada bicara sampai interaksi dengan orang baru yang dikenal bisa punya standar norma tersendiri. Ga ada salahnya juga lho , buat mempelajari sedikitnya beberapa kosa kata setempat. Selain menjaga kesantunan dengan penduduk lokal, siapa tau bisa akrab dengan penjual saat tawar menawar, atau nih, ketika bingung menanyakan arah agar tidak nyasar.

Packing

Packing bawaan yang tepat, jangan bikin repot
Sebisa mungkin sih, kalau perjalanan liburan jangan kayak orang bedol desa, segala diangkut. Beberapa dokumen penting biar ga rusak atau hilang bisa disimpan dalam bentuk digital. Sabun mandi, sampo atau pasta gigi  bisa bawa kemasan sachet atau kalau nginep di hotel bisa diskip karena biasanya sudah disediakan. Beberapa keperluan toiletris atau kosmetik bisa membawa kemasan yang kecil aar tidak menyita ruang penyimpanan. Cara melipat pakaian pun bisa memengaruhi berapa banyak ransel atau koper yang dibawa. Pendeknya, sepraktis mungkin untuk bawaan liburannya, ya.

Selain beberapa poin di atas , hal lainnya yang perlu diperhatikan saat berlibur adalah dokumen penting seperti kartu tanda pengenal (KTP/SIM/paspor), informasi penting kesehatan semisal riwayat medis (alergi terhadap makanan tertentu, golongan darah, dan lain-lain) serta  asuransi yang bisa mengcover risiko kecelakaan atau penyakit. Ya,  kalau-kalau terjadi sesuatu yang megharuskan kita menjalani perawatan saat berlibur. Who knows, lah. Kan, Nabi juga mengajarkan tawakal itu setelah ada ikhtiar.  Nah kalau persiapan sudah maksimal, baru boleh pasrah. Tawakal itu well prepare, menyiapkan nanti gimana, ya? bukan gimana ntar.  Setuju, kan?


Sun Life Financial Indonesia:
Facebok: https://web.facebook.com/SunLifeIndonesia/?fref=ts
Twitter/Instagram: Sunlife_id
Web: http://sunlife.co.id & http://www.brightadvisor.co.id











Share:

Thursday, 4 August 2016

Tentang Sepatu Boots Fashionnya Pria dan Wanita

Puss in boots!  Kucing lucu bersuara dalam dan berat itu menggoreskan ujung pedangnya  membentuk huruf P di batang pohon.  

Ada yang yang inget dengan salah satu scene film  Shrek ini?  Inget dong, ya. Salah satu film animasi favorit saya juga, lho.

Ceroboh, bodoh dan panik ga jelasnya si keledai ga bikin pangeran buruk rupa alias Shrek mati kutu. Dia masih punya partner yang kalem, ya, si Puss ini. Kucing jantan yang pede tapi kadang bisa memasang tampang innocent yang menggemaskan, cuma demi mengecoh tentara yang mau mengejar Shrek. 

sumber: wikipedia
Puss yang bergaya ala-ala Zorro ini juga suaranya diisi oleh Antonio Banderas, karakter yang juga dimainkannya dalam film The Mask of Zorro. Wow, filmnya udah lama banget, nih :).  

Kalau memerhatikan kostumnya si Puss yang bergaya ala-ala Zorro, selain topi dan jubahnya, yang jelas ga bisa lepas juga dari boots.

Makanya dikasih nama Puss in boots, bukan Puss in Sneakers. Lah, nanti malah jadi main basket, terus nyasar ke film Space Jam, dong atau Puss hang out at mall? Kasihan Putri Fionanya nanti :). Lagian kan Shrek sama Space Jam beda rumah produksi,  ngayal yang maksa ini huehehe...
sumber: http://www.sepatukesatria.com
Ngomong-ngomong soal boots, salah satu item dari kostum Zorro ini, jadi mengingatkan saya sama sepatu pria jaman dulu. Kalau sekarang emang aneh lihat cowok memakai sepatu berhak tinggi, tapi dulu pernah, lho. Salah satunya raja Louis XIV yang  ngehits itu.


Tapi ga berarti kaum pria selalu identik dengan sepatu yang desainnya flat atau sepatu pria casual. Selain Zorro,  semacam Billy the Kid, anak muda yang dikenal sebagai seorang kriminal legendaris ini juga pake boots. Sik, ga enak banget ya, punya label jelek begini di akhir hayatnya?  

Coba deh, googling. Perhatikandeskripsi penampilan Billy the Kid yang punya nama asli William Henry McCarty Jr ini juga setelannya mengenakan sepatu boots, tentu saja desainnya sepatu boots pria, dong, meski  hari gini juga banyak perempuan yang mengenakan boots yang sudah dimodifikasi jadi lebih feminim. Bisa disimpulkan, fashion sepatu antara pria dan wanita ini saling menginspirasi. Ya, ga, sih? :) Eh tapi jangan sampai ada sepatu pria yang modelnya mirip-mirip pump shoes, misalnya. Please, jangan.
sumber: http://www.sepatukesatria.com
Ngomongin koleksi sepatu, saya sendiri malah lebih nyaman pake sepatu model kasual.  Ada juga koleksi sepatu flat yang modelnya feminim (malu euy kalau mau klaim girly, inget umur! :). Buat kamuflase penampakan, sekarang ini lagi suka pake sepatu boots. Lumayan, biar ga terlalu kelihatan kurang tinggi hehehe.  Wedges? Errr.... untuk saat ini skip dulu. Masih trauma dengan insiden kepleset yang bikin pegal pantat berhari-hari, karena mendarat lebih dulu. 

Ga kok, saya ga meratapi nasib dengan postur badan yang mungil gini. Ada enaknya juga karena bisa menyamarkan usia dan ga usah pake seragam SMA *LOL*. Meskipun kalau lagi bayar di kasir, udah banyak yang manggil saya ibu. Ya, gapapa lah, daripada dipanggil Dek.  Kan, lebih menyebalkan -_-.

Soal penampilan yang stylish, emang dari dulu bukan monopolinya perempuan aja. Dari duluuu banget juga laki-laki udah sadar fashion. Cuma soal ruang dan waktu aja yang membedakannya. Ah iya, satu lagi, pantas enggaknya membuat padu padan setiap item yang dikenakan. Jangan sampai hare-hare, alias nabrak-nabrak. Kasian yang lihatnya, jangan sampai jadi sakit mata.







Share:

Tuesday, 2 August 2016

Kebiasaan Penumpang di Dalam Bus Kota

Kebiasaan Penumpang di Dalam Bus Kota  - Ada yang belum pernah naik bus kota? Kayaknya kecil kemungkinan kalau ada yang jawab belum pernah sama sekali. Dulu, jaman SMP,  saya adalah penumpang setia - eh sering - bus kota. Alasannya? Paling murah soalnya hehe.
http://www.catatan-efi.com/2016/08/kebiasaan-penumpang-di-dalam-bus-kota.html

Tahun 1993-1994 pas saya duduk di bangku kelas 2-3 SMP, bus ini adalah angkutan umum favorit. Waktu SMP 25 Bandung lokasinya masih di jalan Kelenteng, tinggal jalan dikit 100-200 meteran ke perempatan  Sudirman-Keleteng- Cibadak. Bisa ditemui anak-anak berbaju putih biru bergerombol nungguin  Mercy yang merakyat ini. Dulu saya cuma harus membayar 100 perak aja dari perempatan itu sampai ke bundaran Holis atau jalan Paltiga. Malah pernah juga lho bayarnya cuma 75 perak!

Bandingkan, dengan naik angkutan umum yang waktu itu  tarifnya 150 perak. Hari gini emang ga ada apa-apanya uang segitu, tapi jaman saya SMP itu worth it banget, lah. Dengan uang 500 perak aja udah bisa dapet bakso semangkok, lengkap dan super kenyang! :) Hantu inflasi emang ngehe dan nyebelin, ya.

Kembali ke topik. Meskipun lebih banyak merelakan diri untuk  jadi penumpang kelas festival (baca: berdiri) biasanya saya sama temen-temen enjoy aja. Selain emang jaraknya dekat, juga ada temennya. Kadang suka nemu juga penumpang yang berbaik hati berbagi kursi, atau emang busnya pas lagi kosong. Jadinya tetep bisa duduk. 

Nah, kalau merhatin penumpang di bus kota, biasanya unik-unik deh karakter dan cara mereka menghabiskan waktunya. Satu waktu saya pernah naik bus kota menuju kantor Dinas Pendidikan di jalan Ahmad Yani, Bandung. Pas lewat pasar Andir, busnya berhenti untuk mengangkut penumpang.  

Karena namanya juga pasar yang identik dengan becek (tapi ga pake ojek), mau ga mau aroma smelly khas pasar jadi menguar di dalam bus. Pengharum ruangan dan parfum beberapa penumpang yang dominan ternyata bisa kalah dari bau lumpur  yang nempel di kaki penumpang. Saya udah coba buat maklum aja, meski rada ga nyaman juga, sih.

Eh, tahu ga? Si Ibu  penumpang yang baru naik itu tiba-tiba menyapa penumpang lainnya. Gini katanya, "Hapunten Ibu, bapak, ka panumpang sadayana. Pami abi naek janten barau dina bis (Maaf Bu, Pak, sama penumpang semuanya. Kalau saya naik, busnya jadi bau)."

Mau-mau ga  mau saya nyengir dengernya di balik tissue yang dipake buat nutupin idung. Beberapa penumpang lain ada yang tersenyum menanggapinya ada juga yang cuek bebek, mungkin pikirannya lagi entah di mana lah. Mikirin dead line pekerjaan,  klien yang mau ditemui atau nahan ngantuk.

Selain si ibu ini yang celetukannya tidak terduga, selama beberapa kali naik bus kota, saya suka memerhatikan beberapa kebiasaan penumpang bus kota lainnya. Kayak gini, nih.

Ngobrol

Kalau pergi sama temen, biasanya bakal asik arisan alias ngobrol. Topiknya suka-suka deh, Bisa soal kerjaan, kuliah, ngomentarin yang diamati di dalam atau di luar bus, sampai curhat. Ya kalau volumenya kenceng jangan salahin penumpang lain  jadi ikutan nyimak dong.  Kadang ada juga yang pergi sendiri, eh tiba-tiba penumpang di sebelah ngajak ngobrol. Yang begini dua kemungkinan yang terjadi. Lanjut ngobrol atau seperlunya aja (saya pernah ngalamin dua-duanya :)) . Pernah juga saya merhatiin penumpang yang pergi bareng anaknya. Emak atau bapaknya jadi sibuk bercerita sama anaknya.

"Itu namanya jembatan penyeberangan, dek."
"Ini namanya persimpangan. Kalau pas lampu merahnya nyala, mobil dan kendaraan yang lewat harus berhenti."
"Deeek, makanannya jangan dimainin gitu, ah."
"Iya, sabar, bentar lagi turun."
"Hai Tante, apa kabar?"

Kurang lebih kayak gitu lah obrolan para ortu yang bawa anak balita atau batitanya. Kadang di bus juga bisa jadi ajang reuni, ketemuan teman lama. Bisa-bisa saking senengnya ketemuan, terus heboh ngobrol dan lupa volume suaranya rada kenceng.

BacaBuku/Ngoprek Gadget

Just in case macet atau bosan nunggu, biasanya saya suka bawa buku buat menemani di jalan pas pergi sendirian. Kalau sudah bosan, saya simpen bukunya dan buka gadget, ngecekin notif di grup chat, medsos atau email. Kalau batrenya abis (ini yang nyebelin) ya udah diem aja :D. Pas busnya lagi penuh banget better jangan ngoprek gadget karena biasanya kita cenderung asik sendiri. Jangan sampai ada barang kita yang pindah tangan.

Tidur

Pernah turun dari bus kelewatan karena ngantuk? Saya pernah hihihi dan sialnya rute yang dilewatin itu satu arah, ga bisa naik angkot biar sampai ke tujuan dengan cepat. Ya udah, anggap aja olahraga. Salah sendiri, ketiduran di bus. Kayaknya belum pernah nemu penumpang bus yang ngantuk, terus minta dibangunin kalau udah sampai jalan tertentu. *Emang gue siapanya elu?*

Gelantungan Pegangan

Kalau yang ini mah udah jelas kerjaan penumpang kelas festival alias yang kebagian berdiri tadi. Sambil gelantungan terutama ketika busnya penuh, kadang suka jelalatan juga cari posisi yang nyaman, alias gelagat penumpang yang mau turun. Kalau perjalanan masih jauh, terus macet kan pegel juga kalau berdiri terus, mah. Ada juga yang ga bisa gelantungan karena busnya udah penuh banget dan rempong dengan bawaannya. Atau tangannya kurang sampai buat gelantungan? Kalau pas kayak gini, saya suka cari posisi mepet ke sisi aja biar lebih aman.

Pura-pura sibuk sendiri

Ada yang memang anteng dengan buku atau gadgetnya, ada yang pura-pura sibuk karena ga mau ngalah kasih kursi sama penumpang lain yang lebih butuh kursi gitu. Hmm yang ini no comment deh.

Maksain duduk

Kadang suka ada juga penumpang yang berusaha cari celah buat duduk. Entah nyempil di antara penumpang yang lain, atau yang ekstrim kayak dulu saya masih SMP, duduk deket pak sopir, di sebelah persnelingnya bus gitu. Huahaha... Ada yang pernah kayak gitu juga, ga? Lumayan soalnya, apalagi kalau bodinya imut kaya saya #eeh. Ga enaknya, ya ada sensasi hangat dari mesin bus. Dan karena duduknya berlawaman arah dengan kemudi bus, jadi berasa duduk di kursi tunggal angkot gitu itu, lho. Lumayan lah daripada gelar tikar. Duh jangan atuh :)

Nyimak musik

Dulu pengamen bisa dengan bebas naik bus buat menghibur penumpang sambil usaha mengais receh. Mayoritas, lebih sopan dan kebanyakan nyanyi lagu-lagu Iwan Fals atau ever green.  yang ngamen di bus sih daripada yang suka rada maksa-maksa di angkot pas lewat perempatan gitu. Kalau sekarang - seenggaknya di Bandung - udah jarang banget ada pengamen yang naik bus kota kecuali di pangkalan sebelum busnya pergi. Setelah bus jalan, biasanya sopir bus bakal menyalakan musik. Kalau beruntung, genre musiknya bakal pas dengan selera kita. Giliran  bosen atau ga suka, saya milih nyalain musik dari HP dan mendengaraknnya dari earphone.  Selanjutnya terserah deh, mau ngelamun, merhatiin jalan atau baca buku sampai nunggu waktunya turun.

Ada yang mau nambahin kebiasaan penumpang lainnya kalau lagi naik bus kota?
Share: