Showing posts with label Sehat dan Cantik. Show all posts
Showing posts with label Sehat dan Cantik. Show all posts

Tuesday, 1 October 2024

Pencegahan Stunting dan Implementasi Germas di Jawa Barat

Stunting identik dengan kondisi seorang anak yang tinggi badannya di bawah rata-rata pada usia anak sebayanya.

"Ah, cuma soal tinggi aja, kok. Orang Indonesia secara postur kan emang kecil-kecil."

Beberapa waktu lalu saya menghadiri acara "Penguatan Mitra Kerja Promkes Forum Kesehatan dan Dunia Usaha Dalam Rangka Pencegahan Stunting dan Implementasi Germas" yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat. 

Pada acara ini hadir para narasumber yang memaparkan materi yang saya rangkum dalam postingan ini. Mereka adalah dr Vini Adiani Dewi selaku Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat (2024),  dr Ine Lutfiana, dr Dian Indah Wati, Sp. OG, dan Prof Dr. dr. Arto Yuwono Soeroto, Sp. PD-KP, FCCP, Finasim. 

Indonesia termasuk dalam 17 negaara di antara117 negara yang memiliki prevalensi tinggi masalah stunting, wasting dan overweight pada balita. Di mana komposisinya terdiri dari 37,2% stunting, 12,1 wasting dan 11,9% overweight. Yang bikin shock sekaligus ngeri, masalah stunting di Indonesia menduduki peringkat ke-5 secara global. Bukan sebuah prestasi membanggakan untuk hal ini.


Masalahnya stunting ini bukan cuma soal kurang tinggi saja. Ada permasalahan lain yang timbul bersamaan. Pada kasus stunting terjadi hambatan pertumbuhan dan perkembangan organ lainnya. Seperti otak, jantung, ginjal dan pankreas. Seremnya lagi kondisi ini terjadi pada 1000 hari pertama kehidupan  (kandungan dan 2 tahun pertama usia anak) alias HPK. So, stunting bukan saja ditangani sejak usia sebelum tahun 2 tahun tapi jauh sebelum itu. Kondisi ibu hamil juga sangat perlu dipersiapkan untuk mencegah terjadinya stunting ini.  

Mencegah lebih baik dari pada mengobati, kan?

Pada salah satu sesi acara yang dipaparkan oleh seorang dokter saya mendapatkan penjelasan lain  tentang stunting yang lebih mudah digambarkan secara grafik. 

"Gangguan gizi kronik sejak kehamilan sampai usia 2 tahun yang ditandai dengan tinggi badan menurut usia di kurva merah ke bawah (minus 2 standar deviasi) dengan kecerdasan tidak optimal."

Seperti ini gambaran kurva yang dimaksud pada kartu menuju sehat yang menggambarkan kondisi seperti itu.


Sederhananya, kondisi stunting itu kalau perkembangan anak tercatat pada bagian di bawah garis merah seperti gambar di atas.

Acara yang berlangsung seharian yang saya kira bakal butuh perjuangan untuk melawan kantuk ternyata meleset. Selama acara berlangsung saya terus melek dan antusias sampai  sesi terakhir. 

Belike: 

"yaaaa.udahan, ya?"  

Hei,  pulang pulang. Masa mau stay di arena acara? hahaha.

Lanjut, yuuuk

Acara yang diselenggarakan oleh  Dinas Kesehatan Jawa Barat  ini memang bukan cuma menyasar mereka yang aktif di  lapangan seperti  petugas Pos Yandu misalnya. Perwakilan dari dunia usaha, ormas dan media juga  jadi ujung tombak pentingnya awareness soal bahayanya stunting.

Bukan Cuma Soal Gagal Tumbuh

Kalau ada yang bilang tinggi badan yang pendek karena faktor bawaan, ternyata ini cuma 20% nya saja, lho. Selebihnya sebesar 80% dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti nutrisi, olahraga, obat, stress dan infeksi. Masalah-masalah ini akan berdampak pada perkembangan otak, perkembangan fisik,kesehatan salur cerna dan kesehatan imunitas.

Beneran lho stunting itu bukan cuma gagal tumbuh. Karena dari stunting ini juga bisa menimbulkan penyakit lainnya seperti thalasemia minor. Untuk penyakit ini, penderita harus mendapatkan suntik hormon yang diberikan setiap hari dengan biaya tidak kuang dari Rp. 8.000.000. 

Pengen nangis deh. Gimana kalau hal ini terjadi pada masyarakat yang pendapatannya jauh di bawah UMR,ya?

Dari segi demografi, Indonesia mempunyai komposisi penduduk di mana 10%nya adalah golongan lansia, 20% berikutnya merupakan penduduk berusia di bawah 15 tahun dan selebihnya masuk kategori produktif (70%).  Bonus demografi ini harus bisa dioptimalkan dan jangan sampai menjadi bumerang sepreti yang terjadi di Brazil. 

Dengan penduduk segini banyaknya, faktor gizi yang erat kaitannya dengan pendapatan untuk pengadaannya . Pengobatan memang sudah tercover dengan BPJS tapi yakin mau akrab sama penyakit? Sedangkan yang namanya pengadaan makanan tambahan (ga dibayarin tuh sama BPJS. Jika gizi ibu hamil tercukup. risiko anak stunting bisa dihindari. Di sini saya makin dibuat paham kalau stunting itu bukan soal tinggi badan yang membuat seseorang kalah alam pemilihan pramugari, tentara atau atlet misalnya. 



Satu hal yang bikin saya wow waktu dipaparkan dari 5 juta penduduk dengan masalah stunting, 1 juta di antaranya adalah warga Jawa Barat. Ini PR banget kalau ga mau kesejahteraan warga Jabar jadi stuck atau mundur.  Jangan sampai Indonesia Emas menjadi Indonesia Cemas kalau ga diantisipasi segera. 

Pada tahun 2035 diperkirakan Indonesia memngalami ledakan bonus demografi di mana komposisi usia produktinya mencapai 68% dari keselurahan penduduk. Jumlah ini naik lebih dari setengahnya dari tahn 2019 yang komposisinya sebesar 42%. Jangan sampai SDMnya tidak siap bersaing dengan negara-negara lainnya.

Peran Keluarga Mendukung Ketercukupan Gizi Ibu Hamil

Konsumsi gizi, pola asuh, pelayanan kesehatan serta kesehatan lingkungan menjadi faktor penting untuk memberi dukungan maksimal untuk ibu hamil yang sehat sejahtera. Kongkritnya bisa dilakukan dengan cara-cara seperti perhatian dan kasih sayang dari suami, keluarga (termasuk orangtua dan mertua) minimalnya beban kerja dan stres serta kesehatan mental ibu hamil yang senantiasa bahagia.

Memelihara satu kehidupan sama dengan memelihara kehidupan seluruh manusia

Makanya penting banget untuk fokus pada periode usia 0-6 bulan di mana ASI eksklusif itu wajib banget. Fun factnya adalah DHA yang diperlukan untuk tumbuh kembang anak ternyata hanya akan aktif jika ada zat dari ASI, dengan catatan pengadaan MPASI yang kaya dengan ragam jenis makanan dan protein tercukupi.

Dan ini adalah contoh yang bisa dilakukan untuk mengawal tumbuh kembang bayi sampai usia 24 bulan atau 2 tahun

Siapa yang suaminya masih suka merokok? Kalau beneran sayang sama istri dan anak, udah deh rokoknya distop aja. Bukan saja jadi polusi udara dan bikin sesak napas tapi juga bisa mengganggu produksi ASI. Padahal ASI ini asupan gizi yang penting banget untuk bayi.
contoh pengaturan makanan bergizi untuk bayi sesuai usia

Kebijakan Kesehatan dan Kualitas Hidup

Sudah tentu pemerintah dalam hal ini Pemerintah Propinsi Jawa Barat tidak tingga; diam untuk mengatasi masalah stunting ini. Puskesmas jadi ujung tombak dalam kegiatan pemberian makanan tambahan bagi anak bayi dan menunjukan hasil seperti berikut.


Dari sisi edukasi literasi Dilakukan Gerakan Bersama Sobat Literasi Stunting Imunisasi yang mellibatkan pelajar semua tingkatan, mulai dari PAUD sampai SMA dan tentu saja masyarakat umum pun turut serta di dalamnya.


Selain itu masih ada kegiatan lainnya seperti Jabar Zero Stunting  dan Jamilah (Jaga Ibu Hamil Lingkungan Bersih dan Sehat) dengan menerapkan intervensi spesifik pada masa kehamilan seperti mengunjungi ibu hamil, ibu menyusui dan balita di bawah 2 tahun, memastikan ibu hamil mengkonsumsi tablet tambah darah dan kegiatan-kegiatan lainnya seperti Memotivasi ibu hamil dan ibu menyusui untuk memberikan ASI Ekslusif serta memastikan pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) kaya protein hewani, dan beragam dengan memperhatikan Pedoman Pemberian Makan Bayidan Anak (PMBA).

Dari sisi pelaku usaha pun diperlukan langkah nyata untuk menyukseskan pencegahan stunting ini dengan memperhatikan elemen pekerja. Pekerja yang yang menjadi tulang punggung keluarga juga diharapkan menjadi pekerja yang sehat  dan menghasilkan produktivitas yang tinggi.

Maksudnya gimana sih?

Nah ini yang sering terlupakan. Penting banget lho untuk melakukan intervensi mendorong terciptanya keluarga yang sehat dan bahagia.   Dengan adanya fasilitas Medical Check Up bagi karyawan, pengusaha bukan saja selesai memenuhi hak pekerja tapi juga perlu ditindaklanjuti. 

Dalam kaitannya dengan pencegahan stunting, karyawan wanita yang menyusui  berhak mendapat ruang dan waktu untuk memerah ASI. Saya tercerahkan oleh penjelasan salah satu dokter  soal ini. ASI yang terbaik tetaplah ASI yang langsung didapatkan bayi dari payudara ibunya. ASI hasil pompa hanya diperlukan pada saat tertentu saja. 

Terus kenapa harus dipompa? Ini lah cerdasnya tubuh manusia.  Produksi ASI akan menurun secara alami karena tubuh mendeteksi ASI yang harusnya diberikan pada bayi tidak tersalurkan. Jadi memompa ASI ternyata bukan saja soal ketidaknyamanan ibu yang mengalami pembengkakan atau rembes dan basah pada pakaian. Wow. Ciptaan Tuhan memang luar biasa.

Sementara itu dalam kaitannya dengan masa 1000 hari pertama kehidupan, di mana 270 hari pertama adalah masa di alam kandungan penting banget untuk memastikan mental ibu hamil juga dalam kondisi terbaik.  Dalam kandungan ibu ini, organ tubuh yang pertama tumbuh pada janin adalah organ telinga.  

Makanya ga heran ibu hamil ini tuh disarankan untuk banyak mendengarkan musik klasik, atau murotal bagi umat muslim misalnya. Di sini saya makin paham kenapa psikis ibu hamil berpengaruh pada karakter anak. Misal ibunya ketika hamil ceria, anaknya tumbuh jadi anak yang ceria, atau sebaliknya. Ibu yang banyak bersedih membuat anaknya jadi pemurung.

Tuberkolosis: Penyakit Sosial dengan Aspek Medis

Pada acara ini juga ada sesi khusus yang membahas tentang penyakit tuberkolosis alias TB. TB bukan saja soal penyakit yang harus diobati secara intens tanpa putus dalam jangka waktu 6 bulan dengan disiplin obat seperti yang sudah kita kenal. TB ini juga jadi penyakit sosial yang membuat permasalahan makin kompleks.

Seperti ini yang dibilang oleh Rene J Dubos (1952)

“Tuberkulosis adalah penyakit sosial, pemahamannya menuntut agar dampak sosial dan ekonomi pada penderita dipertimbangkan sama besarnya dengan mekanisme yang menyebabkan basil tuberkulosis menyebabkan kerusakan pada tubuh manusia”

TB ternyata punya nenek moyang yang usianya setara dengan manusia. Bayangkan! Jejaknya sudah ditemukan pada fosil manusia prasejarah dengan usia 8.000 sebelum masehi di Jerman. Dengan rentang tahun yang begitu panjangnya, bisa dibayangkan berapa kali kuman penyebab penyakit ini mengalami mutasi. Serem, ya?  

Kenapa disebut penyakit sosial dengan aspek medis?

Dalam rangkain mencapai kesembuhan, seorang penderita TB bukan saja perlu disiplin secara paripurna sampai dinyatakan 100% sembuh. Faktor-faktor penunjang kesembuhan yang dibutuhkan berikut ini jadi alasan yang membuat kita jadi lebih paham betapa mahalnya untuk mencapai kesembuhan seorang penderita TB

  1.  Tersedianya obat obatan
  2.  Mudah menjangkau fasilitas kesehatan
  3.  Ada biaya transportasi ke faskes
  4.  Ada pendamping minum obat
  5.  Karena tidak dapat bekerja maka diharapkan ada subsidi
  6.  Tidak ada stigma di Masyarakat
  7.  Tidak di keluarkan dari tempat bekerja
  8.  Tersedianya makanan yang bergizi baik
  9.  Sanitasi dan ventilasi yang baik untuk mencegah penularan
Ketersediaan obat dan pendamping minum obat disediakan oleh pemerintah secara gratis. Tapi untuk poin lainnya butuh uang yang tidak sedikit. Bahkan semisal pergi ker Puskesmas yang sudah ditanggung BPJS pun tetap membutuhkan biaya seperti transportasi, biaya makan, sampai urusan izin kerja yang mungkin membuat gaji kena potong misalnya. Belum lagi ketika di rumah, perlunya sanitasi yang memadai agar pasien lekas sembuh. 

Pekerjaan rumah lainnya yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit.  Masalah-masalah ini  menjelaskan masalah TB menjadi sebuah lingkaran tidak berujung yang membuat masyarakat ekonomi ke bawah (mungkin juga menengah) terperangkap dalam masalah kemiskinan, belum lagi . Ya Allah sedih rasanya, ya.

Stunting, TB atau masalah kesehatan lainnya perlu mendapat perhatian serius bukan saja dari pemerintah tapi juga kita sebagai elemen masyarakat untuk menekan laju pertumbuhannya agar bisa menwujudkan Indonesia yang kompetitif di level internasional.


Sumber foto materi: dari panitia acara 


Share:

Monday, 14 August 2023

Pengalaman Scaling di Klinik Gigi OMDC Bandung

Kalau ditanya soal perawatan diri atau kesehatan pribadi, mungkin bagian yang satu ini yang paling sering dilewatkan untuk dilakukan secara rutin. Atau bahkan mungkin terpaksa ketika kondisi sudah darurat seperti sakit gigi, atau gusi bengkak.  Semoga ga semua temen-temen abai soal ini ya hehehe. Saya y..akin kok, ga sedikit juga yang bersedia buka mulut di depan dokter gigi.


Beda misal ketika kita datang ke salon untuk perawatan rambut, datang ke tempat spa atau refleksi,  atau mungkin keluhan pusing yang menggiring kita datang ke dokter umum. Ke dokter gigi ini rasanya kayak uji nyali. Dengerin suara peralatan dokter gigi  yang kayak bor dibalik ruang tindakan saja seakan  bikin kita pengen kabur, membatalkan janji atau pendaftaran yang sudah dibuat. 

Faktanya kesadaran orang Indonesia soal kesehatan gigi dan mulut ini memang masih rendah. Dari data yang dirilis oleh kemenkes, ternyata persentase masalah gigi dengan kasus gigi sakit, berlubang atau sakit mencapai 45,3%. Sementara itu dari 57,6% mereka yang bermasalah dengan kesehatan gigi dan mulutnya ternyata yang mau memeriksakan kesehaan giginya sekitar 10,2% saja. Tuh, kan.

Dulu nih, saya juga ogah atau males ke dokter gigi. Sampai kemudian di tahun 2007 akhir saya mengalami sakit gigi yang nyut-nyutnya minta ampun. Saking sakitnya saya ga bisa tidur bahkan ga bisa konsentrasi sama kerjaan. Intensitas sakitnya dengan jeda waktu yang rapat dari pagi ke pagi besoknya lagi memaksa saya untuk setor muka (apa mulut, ya?) ke dokter gigi. 

Masalah berikutnya adalah saya pas saya memeriksakan gigi malah ketemu sosok dokter gigi yang judes atau tidak adanya pilihan  tindakan selain  cabut gigi.Hiiiy, sereeem. Saya ga siap buat cabut gigi.

Saya pun mencoba buat nyari second opinion yang membuat saya memberanikan diri buat cek ke klinik gigi yang berada di lingkungan TNI AU. Walaupun teritorinya ada lingkungan dinas militer tapi tidak membatasi layanannya untuk masyarakat umum untuk mengakses layanannya.

Secercah harapan saya dapatkan di sini. Dokternya yang baik dan ramah memberitahu saya kalau opsi tindakan gigi ga selalu mesti dicabut. "Masih bisa dipertahankan kok, mbak".

Saya mulai mendapat titik terang. Alhamdulillah.

"Tapi di sini kami ga punya peralatan yang lengkap," lanjut dokternya. Sebelum raut muka saya kembali berubah mendung, dokternya menyarankan saya untuk mencari klinik lain yang punya fasilitas lebih lengkap.

Dengan perasaan bingung (waktu itu saya baru resign, dan ngitung biaya perawatannya lumayan lah soal biayanya). Tapinya  saya ga punya pilihan lain buat mendapatkan tindakan segera. Saya kapok sebener-benernya kapok sama yang namanya sakit gigi.

Akhirnya waktu itu saya menemukan dokter gigi yang bikin saya tenang dengan cara penanganannya.  Dari situ saya ga parno lagi ke dokter gigi. Imej dokter gigi yang nyeremin perlahan mulai surut. Sejak saat itu saya maksain diri, sakit ga sakit tetep menjadwalkan diri buat kunjungan ke dokter gigi. Saya trauma sama sakit gigi.

Berhubung kesadaran saya yang telat soal kesehatan mulut dan gigi yang agak telat, memang tambalan gigi saya lumayan banyak nih :) . Kalau ada tambalan yang lepas membuat saya segera ngatur janji ketemuan sama dokter meski belum waktunya jadwal kunjungan yang dianjurkan 6 bulan sekali. Atau pernah juga pas gosok gigi saya mendapati gusi menebal. Buru-buru saya buka handphone dan daftar ke dokter gigi yang nomornya  sudah tersimpan.  Ga jarang juga  sih waktu  saya datang ke dokter gigi mendapati komentar dokternya kayak gini: "Ga ada masalah kok, Teh. Masih aman. Walau ada tambalan-tambalan tapi tetap terawat,"

Yeay, budget perawatan giginya bisa dipakai buat belanja nih. Eh, gimana? hehehe

Ngomong-ngomong soal perawatan gigi yang dianjurkan secara berkala, bukan saja pemeriksaan kesehatan yang dianjurkan secara berkala. Scaling atau pembersihan karang gigi juga jadi agenda yang perlu dilakukan setiap 6 bulan skali.

Bulan Juli kemarin sudah waktunya saya memeriksakan kesehatan gigi ke dokter. Meski sudah berdamai dengan yang namanya klinik gigi, kadang saya masih merasa sensasi deg-degan pas mau ke dokter gigi lho. Tapi deg-degannya segera sirna saat mendapati dokter yang akan melayani kita adalah dokter yang ramah dan pembawaannya tenang. Sebuah poin penting buat semua pasien gigi ke dokter gigi adalah soal rasa aman dan nyaman.  Setuju?

Nah, beberapa hri yang lalu saya melakukan scaling gigi di klinik gigi di Bandung, OMDC yang terletak di jalan Cimanuk no 2, Bandung. Ga jauh dari sekolah Taruna Bakti. Posisinya gampang dikenali dari plang yang terlihat di pertigaan jalan Riau yang berhadapan dengan Hotel Tebu. Pokoknya gampang aksesnya, dilalui beberapa rute angkutan kota di sepanjang jalan Riau ini. Klinik gigi ini tetap buka di hari minggu lho. Just in case kalau ada kasus emergency, ga perlu lama-lama nahan sakit. Udah deh, cusss aja ke sini. Saya tau banget rasanya sakit gigi. Ga usah dibandingan sama sakit hati. Tetep aja ga enak. Beneran.

By the way nih walau klinik yang di Bandung masih kinyis-kinyis, baru buka tahun ini. Tapi 10 tahun yang lalu kliniknya sudah ada di Jakarta dan udah hits. Yang di Bandung sini bentar lagi juga bakal ikutan hits. Selain layannya paripurna,  venuenya juga unik. Dengan area seluas kurang lebih 600m, di sebuah gedung berarsitek  Bandung tempo doeloe OMDC juga mengusung tema klink dengan tema Dental Cafe. 

Eh gimana maksudnya?  Iya jadi dateng ke OMDC ini bukan cuma buat perawatan gigi, tapi juga ada kafenya. Dan kafenya juga terbuka untuk umum. Ga mesti jadi pasiennya buat menikmati makanan dan minumannya.

Pas pertama kali datang, saya disambut staf front office yang ramah. Saya diminta untuk mengisi dulu form data pasien di sini. By the way seragam FO-nya lucu nih. Mereka kayak pake apron, yang biasa dipakai di kitchen. Nuansa klinik sudah terasa hangat dan friendly. Sambil nunggu treatment, kita bisa duduk-duduk di loungenya atau melipir ke kafenya biar ga bosan nunggu. Hah, kafe? Iyes, ada kafenya. Hayo, gimana, terasa lebih cair kan?


Tanpa menunggu lama, setelah mendaftar saya sudah dipanggil menuju ruang tindakan. Saya masuk ke ruang Calm dan ketemu sama dokter Regy yang cantik dan ramah. Sebelum saya membuka mulut untuk diperiksa, nurse yang mendampingi dokternya nawarin saya mau ditemenin sambil nonton apa? Ditanya gitu saya bilang cuek, puterin seriesnya Naruto aja wkwkwk. Walau oldies tapi saya suka sama tengilnya bocah berambut kuning itu. 

Kalau temen-temen punya pilihan lain let say mau nonton series yang lagi on going atau film lainnya, nurse akan membantu memutarkannya untuk kita sembari menjalani waktu perawatan selama kurang lebih 30 menit. Lumayan mengendurkan syaraf-syaraf yang tetep aja deg-degan huehehe.

Meski sudah ga aneh sama yang namanya ketemu sama dokter gigi tetep aja ya yang namanya tegang mah ada aja. Tapi pembawaan dokternya membuat saya segera rileks. Apalagi memang kalau kitanya tegang malah menyulitkan dokternya untuk melanjutkan pemeriksaannya.  

Setelah berkumur-kumur saya memasrahkan diri buat buka mulut. Lewat kamera  khusus, dokter menunjukan kondisi gigi saya. Sisa makanan yang bermetaforsa menjadi plak dan karang gigi terlihat nyata di layar. Hiiiy, tebel amat batin saya. Iya, soalnya 6 bulan yang lalu pas jadwal kunjungan ke dokter gigi, saya melewatkan layanan scalling. 

Rrrrr.... rrrr..... suara  mesin pembersih gigi mulai menyusuri satu persatu gigi geligi saya. Di sela-sela pemeriksaan dokternya ngasih tau saya untuk mengangkat tangan jika intensitasnya terasa ngilu. Alhamdulillah, relatif kecil rasa linu yang saya rasakan. Tau-tau setelah kurang lebih 30 menit, gigi saya sudah selesai dibersihkan. Sesi scalling pun selesai dan saya ditunjukkan lagi kondisi gigi saya sesudah scalling. Terlihat beda. Celah gigi yang terlihat jadi lebih bersih setelah scaling.


Selesai perawatan saya diingatkan lagi untuk melakukan flossing alias membersihkan gigi dengan benang. Jujur saya emang jarang melakukan flossing. Saya pake benang gigi kalau ada sisa makanan yang nyelip dan ganggu. Mau dibersihkan pake sikat gigi kayaknya ga nyampe. Padahal nih, ternyata flossing ini idelanya dilakukan setiap hari. Dengan melakukan flossing setiap hari membuat peluang tumpukann karan gigi jadi lebih minimal. Saya dikasih contoh buat menyelipkan benang gigi dengan posisi sekitar 2 sampai 3 mili di bawah gusi.

"Emang gapapa tuh, dok?" Ngeri aja kalau kena ke akar gigi dan bikin berdarah.  drg Regy yang hari itu memberikan layanan scalling menjelaskan posisi benang gigi pas flossing memang seperti itu idealnya agar karang gigi mudah terangkat dan gigi jadi lebih maksimal bersihnya.

"Ada yang mau ditanyain, ga?"

Saya jadi inget buat nanyain beberapa hal. Soal perawatan scaling ini ga ada pantangan buat bumil. "Boleh, kok," jelasnya. Termasuk juga buat pasien yang punya kasu abses. Setahun lalu saya pernah ngalamin abses dan rasanya ga nyaman. Sampai 4 kali bola balik buat membersihkan sisa nanahnya. Ga nyaman banget buat makan atau ngomong. Nah ternyata buat pasien abses juga boleh kok buat scaling. Jangan khawatir, dokter tahu kok bagaimana melakukan tindakan ini, dan dijamin gusi yang terpapar abses ga akan kenapa-kenapa. FYI, kasus abses juga bisa dipicu dari sisa makanan yang tertinggal di sela gigi. 

Untuk melakukan scalling ini juga bisa dilakukan sejak dini pada anak-anak. Bisa dibilang untuk banyak kondisi, tindakan scalling bisa dilakukan pada siapa saja. Jangan khawatir atau malu buat memeriksakan kesehatan gigi. Dibalik rasa insecure kitas ama dokter gigi, mereka udah banyak menemui kasus kesehatan gigi dari pasien-pasien yang datang.  

So, pemeriksaan gigi bukan monopolinya mereka yang punya gigi yang sehat dan rapi saja, ya. Seperti data yang sudah saya bilang di atas tadi, kasus kesehatan gigi ini masih jadi pr besar. Tapi bukan berarti membenarkan alasan kita untuk memutuskan tidak memeriksakan kesehatan gigi. Apalagi kesehatan gigi ini bisa berpengaruh ke organ tubuh lainnya.

Selain pelayanan scalling tentunya OMDC klinik juga punya dokter-dokter gigi dengan spesialisasinya yang lengkap.  Di sini kita bisa menjumpai dokter spesialis othodonti, spesialis konservasi gigi, spesialis bedah mulut,  spesialis dokter gigi anak dan dokter gigi dengan spesialis lainnya untuk layanan kesehatan gigi ataupun manfaat estetis semisal bleching atau behel metal. 

Makan-makan di Kitchen OMDC

Berbeda dengan tindakan tambal gigi yang butuh jeda waktu sebelum makan, untuk tindakan scaling tidak membutuhkan jeda waktu untuk makan. Palingan nih kita hindari dulu makanan yang terlalu panas, dingin, pedas dan asam. 

Dengan sentuhan warna pastel oren dan ijau yang lembut, saya segera menuntaskan rasa lapar denan memesan rice bowl dan smoothie mango. Dan tau ga sih, smoothie mangonya di sini cuma 15 ribuan aja. Duh murah amat. Sangat worth it. Tekstur smootienya yang creamy dan manisnya pas ini bakal ajdi menu favorit saya yang bakal saya pesan lagi kalau main lagi ke sini.

Rice bowlnya juga enak, gurihnya pas dan porsi nasinya pas. Ga kebanyakan atau kurang. Dagingnya lembut dan chewable, ga alot. Oya rice bowl yang saya pesen ini adalah varian beef barbaque. 
Selain menu makanan berat seperti rice bowl yang saya cicipi, OMDC kitchen ini juga punya menu dessert yang ga kalah enaknya untuk dicoba. Dan hari itu saya beneran kenyang.  Kalau pas kebetlan datang ke klink ini di akhir pekan, bakal ada live performance dari band atau musisinya di sini. Dengan suasana interior khas heritagenya Bandung tempo dulu, ngafe di kitchennya OMDC jadi terasa asik dan menyenangkan.

O, ya kalau nunggu di klinik dokter gigi terasa jenuh nunggu giliran dipanggil, selain mencoba makanan di kitchennya, OMDC ini punya play groundnya juga lho. 

Cocok buat yang punya anak entah itu sebagai pasien atau cuma ikut nemenin orangtuanya main di area sini. Kalau pas kebetulan pasiennya adalah para bocil, mengajak mereka main-main dulu di playground sini bisa bikin mereka lebih rileks dan nyaman sebelum ketemu dokter gigi.  


So, ga usah takut lagi ketemu dokter gigi, ya. Yuk, ke klinik OMDC


Klinik OMDC Bandung
Jalan Cimanuk - R.E Martadinata No. 2  Bandung
Buka setiap hari Jam 10.00-21.00
Telp. 0812-8883-5560




Share:

Wednesday, 20 May 2020

Ga Mau Lagi Sakit Gigi

Masih inget lirik lagu ini?


Dari pada sakit hati

Lebih baik sakit gigi ini biar tak mengapa...

Untung ya, ini cuma kiasan.  Pada kenyatannya sakit gigi itu sungguh ga enak.  Terakhir kali saya ngalamin sakit gigi itu sekitar tahun 2006 akhir. Duh ampun deh, beneran ga nahan. Senut-senut yang intens tiap hari bikin saya ga bisa fokus mikir dan kerja. Ga enak makan. Tidur juga ga nyaman. 


review  pasta gigi sasha pencegah gigi berlubang

Sejak saat itu saya kapok sakit gigi. Trauma tepatnya.  Anjuran untuk rutin kontrol ke dokter gigi enam bulan jadi lebih saya perhatikan. Kalau ga perlu tindakan apa-apa ya alhamdulillah. Slot budget yang saya siapin buat biaya berobat kan bisa dialihin buat yang lain. Hehehe 

Beberapa waktu lalu saya mengunjungi dokter gigi buat kontrol rutin. Dokternya bilang gusi saya mengalami peradangan. Sehari sebelum pergi itu waktu lagi gosok gigi, saya merasa aneh. Kok berdarah ya?


Padahal ga lagi sariawan. Gosok giginya juga biasa aja. ga ada drama kejedug sikat gigi misalnya atau benturan lainnya yang menimbulkan perdarahan.  

Duuuh ngeri dan parno sebenernya mau ke luar.   Tapi saya ga mau miara parno lama-lama. Kucing aja yang dipiara. Mereka lucu. Kalau sakit gigi kan nyiksa! Buru-buru lah saya chat  ke bagian pendaftaran klinik gigi buat booking.  Kebetulan juga waktu itu udah jadwalnya buat cek ke dokter gigi.

Selesai memeriksa, dokter giginya bilang kalau  gusi saya mengalami radang.  Saya pun diingetin lagi buat benerin gosok gigi dengan arah yang bener. Untuk rahang  bawah, gosok giginya  arahnya ke atas. Dan sebaliknya kalau untuk gusi atas arahnya ke bawah.  Hoooo kenapa saya bisa ngaco gitu ya gosok giginya? Sebelum-belumnya ga deh.

Selain ngingetin lagi buat gosok gigi dengan cara yang bener, dokter menganjurkan saya pake sikat gigi yang kepalanya kecil. Untuk sikat gigi dewasa emang agak susah nemu yang ukuran kepalanya kecil. Makanya saya  suka nyari sikat gigi di rak perawatan gigi anak. Hahaha....  Beneran enak lho, lebih nyaman. Lebih menjangkau bagian belakang gigi dan rasanya lebih bersih. 
review  pasta gigi sasha pencegah gigi berlubang

Gosok gigi secara teratur itu udah ritual wajib setiap pagi dan malam sebelum tidur.  Gosok gigi pagi-pagi lebih mudah terkontrol.  Biasanya abis sarapan atau langsung abis mandi kalau ga keburu sarapan. Nah yang jadwal malam ini suka ada yang kecolongan. Tiba-tiba aja ketiduran. Padahal sebelumnya abis ngemil. Saya pernah tuh ketiduran dan bangun tengah malam, eh belum gosok gigi. 
review  pasta gigi sasha pencegah gigi berlubang

Makanya, kalau udah jam 9 malem buru-buru jalanin ritual malam berupa cuci muka dan gosok gigi. Biar lebih tenang.  Kalau udah gigi bisa tidur  nyenyak kalau udah beres gosok gigi. Biasanya malam hari jadi waktu enak buat snacking. Niat diet juga suka reschedule alias tunda aja besok hahaha... 


review  pasta gigi sasha pencegah gigi berlubang

Saya sendiri paling enak buat baca-baca buku atau buka sosmed malam hari sambil ngemil. Apalagi di suasana bulan Ramadan seperti sekarang ini. Siang hari kan ga mungkin beraktivitas sambil ngemil. Kalaupun lagi dapat menstruasi suka ga enak aja sama orang rumah  yang lagi puasa.   

Kebayang ga kalau lupa gosok gigi terus bablas sampai subuh? Itu tumpukan sisa makanan pada nyelip di gigi sampai besok pagi. Hiy serem deh.


Dari hasil penelitian sebagian besar sakit gigi dikarenakan gigi berlubang. 88% dialami oleh orang dewasa dan 92% oleh anak-anak. Selain telat atau malas gosok gigi, sakit gigi juga bisa disebabkan karena konsumsi makanan yang manis atau asam, penggunaan obat tertentu yang kandungan gulanya tinggi atau ini nih. Ga pake pasta gigi yang mengandung fluoride. Jangan sampai nunggu giginya berlubang, senut-senut baru ke dokter gigi. 

Kalau buat gosok gigi saya seneng nih sama pasta gigi Sasha. Tau ga? Sasha ini unik, lho.  Terbuat dari siwak yang mengandung resin dan fluoride alami, klorida dan kalsium.  
review  pasta gigi sasha pencegah gigi berlubang

Manfaat siwak diantaranya untuk menjaga  kekuatan akar gigi, mencegah karies dan gigi berlubang dan menguatkan enamel alias permukaan gigi secara menyeluruh.  Saya tuh suka deh sama sensasi segar yang dirasakan setiap menggosok gigi dengan Sasha ini.


review  pasta gigi sasha pencegah gigi berlubang

Dulu waktu kecil saya pernah dikasih siwak yang beneran siwak itu. Belum diapa-apain jadi pasta gigi.  Saya kesulitan buat pakenya. Ini gimana ya biar bisa menjangkau ujung gigi? Duh kok susah, ya? Hihi... Untungnya perkembangan zaman modern udah mengemas siwak jadi lebih mudah digunakan. 


Selain 4 bahan aktif tadi, Sasha juga tidak menggunakan  bahan yang bersumber dari hewan, tidak mengandung alkohol dan ini nih yang bikin yakin dan tenang. Sudah mengantongi sertifikat halal, lho.

Jadi bikin tenang dan bisa fokus beribadah dengan menjaga kesehatan. Masih inget quote ini, kan? 
Kebersihan sebagian dari Iman


Kebersihan gigi udah pasti termasuk di dalamnya. Dengan menggunakan Sasha sebagai pasta gigi membantu mencegah  masalah gigi berlubang dan bisa digunakan oleh setiap anggota keluarga muslim.   

Apalagi di saat pembatasan sosial berskala besar seperti sekarang, kunjungan ke dokter gigi jadi ga seleluasa dulu.  Parno keluar karena takut terpapar virus Covid membuat kita harus ekstra memperhatikan kesehatan. Termasuk menjaga kesehatan gigi pastinya.  Tetap beraktivitas di rumah tidak terganggu karena giginya ya sehat-sehat aja.


review  pasta gigi sasha pencegah gigi berlubang

So, jangan mau sakit gigi. Yuk beralih menggunakan Sasha. Soal harga Pasta Gigi Berlubang Sasha ini sangat terjangkau. Cuma Rp. 4.500,- buat tube kecil (ukuran 65 gram) dan Rp. 10.500,00 untuk harga pasta gigi tube ukuran besar (150 gr). 

Yuk, jaga kesehatan giginya biar ga sakit.
Share:

Sunday, 3 May 2020

Sehat dengan Infused Water Kurma

Beberapa waktu yang lalu, sepupu saya ngasih link video dari Dewi Hughes di grup WA keluarga. Saya klik linknya dan amaze banget lihat penampilan Dewi Hughes. Presenter tv yang  imejnya ramah dan ga pelit ketawa ini makin memesona aja. Iya kita tau beliau berhasil menurunkan berat badannya dan menunjukkan hasil signifikan.  

Di usianya yang hampir 50 tahun (49 tahun) ini Dewi bukan cuma langsing saja, tapi tetep segar bugar dan awet muda.  Yakin deh ini mah goalnya kita semua untuk tetap sehat, langsing dan seger kayak Dewi gini. Hayooo mana yang suaranya ga setuju?

Trus mungkin aja sih ada yang bilang gini:

"Dewi kan duitnya banyak, ga masalah mau jalanin program hidup sehat gitu."

Well, iya itu sih tergantung mindset. Ga harus beli suplemen kesehatan yang mehong atau nyewa trainer fitness pribadi misalnya.  Kayak di video kemarin yang saya lihat itu,  Dewi cerita ketemu kenalannya seorang profesor yang usianya udah 80 tahun tapi tetap sehat dan bugar.  Ini makin amazing aja.  Dan temennya Dewi ini ceritain rahasianya: 

Minum infused water kurma


Ngomong-ngomong soal kurma, bukan cuma pas lagi puasa gini aja Mama saya selalu sedia kurma di rumah. Sejak suka ngikutin channel youtubenya Zaidul Akbar, Mama totally mengubah gaya hidupnya. Yang dulu suk nyetok cemilan sekarang udah minim (bikin saya sedih deh :D), malah jarang banget.

Ga makan lagi gorengan, masak ga pake micin, ngurangin konsumsi gula putih, suka bikin lemon peras campur madu, ngejus kurma, ngeblender kunyit, beli minyak zaitun dan vco dan life style sehat lainnya. Huaaa kalah saya.

Karena stok kurma di rumah bakal selalu suport, saya mau deh rajin bikin jus kurma.Cara dan modalnya gampang, kok. Cuma kurma dan air panas aja.  Untuk kurmanya disarankan dalam jumlah ganjil. 3,5, 7 dan seterusnya. Tapi ya udahlah ngambil kurmanya yang 3 aja udah cukup kok.  


Kurmanya dipotong dulu, sisihkan bijinya. Terus masukan ke dalam air hangat tadi. Tunggu beberapa saat. Jadi deh kurmanya bisa dinikmati.  Lucu juga pas awal-awal kurmanya diseduh air, ada gelembung-gelembung kecil yang naik ke permukaan. Sayang, kamera saya ga sempet menangkap momennya.  


Makin bagus kualitas kurmanyanya makin enak karamel yang dihasilkan. Manisnya alami, ga usah dikasih gula lagi, lho. Kalau di rumah yang  ada cuma kurma kiloan ya gapapa juga. Bedanya dari rasa aja. Ada harga ada rasa. Kalau mau pake kurma yang high quality kayak Kurma Ajwa, boleh deh colekin saya. Nanti saya sediain. Beli lho, bukan minta.

Terus saya obrolin ini sama Mama. Eh saya kalah cepet. Mama malah udah duluan suka bebikinan kayak gini. Tuh kaaan, lagi-lagi saya kalah update sama Mama. 

"Tau, ga? Gara-gara minum infused water kurma, karang gigi yang nempel di gigi mama pada lepas"

Waktu itu saya lagi kurang fokus. Pas mama bilang karnag gigi, "karang"nya ga kedengeran. Hah? Kok ngeri sih bikin gigi lepas.

"Bukan! Karang gigi"

Buahaha... Mungkin saya lagi butuh kilikan kuping biar ga salah paham. Nah itu testimoni dari mama saya yang ngerasain benefit dari infused water kurma ini.

Kalau airnya habis dan kurmanya masih nyisa, bisa diseduh lagi sama air. Kalau mau dibiarin jangan lewat dari 6 jam karena nanti kurmanya akan berfermentasi dan berubah jadi arak. Jangan diminum ya, nanti malah jadi mabuk. Mabuk kepayang gapapa, mabuk kurma jangan. Oiya kurmanya ga usah dibuang. Sayang. Saya mah tetep dimakan aja. Sekalinya  nyeduh itu minum airnya sampai habis terus kurmanya juga dikunyah.

Yang udah langsing ga usat takut dengan rajin konsumsi kurma bakal bikin berat badannya makin menyusut. Benefit lainnya dari minum kurma antara lain bikin stamina prima, ga gampang sakit dan ini nih.... awet muda. Jadi, ayo minum infused water kurma.


Share:

Friday, 3 April 2020

Aktivitas Physical Distancing

Sudah lebih dari dua pekan masa-masa work from home, social distancing, physical distancing -  whatever it names,  ini kita lalui.  Gimana kondisi kalian, teman-teman? Semoga sehat semua dan ga patah arang buat tetap semangat, ya. Walau cukup menyita energi, pikiran, dan hal lainnya.  Saya mengaminkan doa agar wabah Corona ini lekas usai. Kalau bisa sebelum Ramadhan datang, udah kelar.  


Sementara kita menghitung hari, aktivitas yang sebagian besar dilakukan di luar jadi bekurang. Kalau ga penting banget (buat kalian yang masih harus ke luar rumah, mengikhtiarkan rejeki jangan lupa jaga selalu kesehatannya, ya)  usahakan diem di rumah.  Pakai masker setiap keluar, cuci tangan lebih sering, dan berjemur di bawah sinar matahari pagi adalah protokol kesehatan yang harus kita patuhi. Demi kita, demi keluarga, demi semuanya.

Karena banyak diem di rumah, ya otomatis saya mulai jenuh.  Ga mungkin juga lah mentransformasikan diri sebagai kaum rebahan melulu meski sering diserang kantuk, terutama siang  hari hihihi.  

Biar berfaedah dan ga sia-siain waktu, saya melakukan beberapa aktivitas berikut yang sebelum masa pandemi ini terjadi malah nyaris ga saya lakukan atau kurang/minim.  

Eh, eh ada yang ngeh sama gambar yang saya jadiin header postingan ini? Iya itu diambil dari film Five Feet Apart. 

Ceritanya tentang dua pasien pengidap penyakit Fibrosis Kistis yang  menyerang saluran lendir di tubuh mereka terutama paru-paru dan pencernaan. Membuat daya tahan tubuh mereka ringkih dan mudah ketularan penyakit. 

Tapi dasar namanya udah cinta, mereka masih aja ngakal buat jalan bareng dengan cara gitu.  Dibatasi langkahnya sama tongkat sepanjang 5 kaki. Ya, 5 langkah gitu hahaha. 

Sstt... jangan dicontoh dalam aplikasi sehari-hari, ya karena situasinya beda walau seakan-akan mirip. Udah diem aja di rumah dan keluar seperlunya 

Yoga 

Februari lalu udah mulai coba lari pagi,  keliling lapang deket komplek aja. Murah meriah, hemat ongkos dan ga tergoda buat jajan hahaha.  Baru sekali aja, dan rasanya badan rontok dan pegel. Padahal cuma lari-lari kecil, lho. Itu pun udah diselingi sama jalan kaki yang kebetulan lebih banyak jalannya sih. Duh ya ampun, cemen amat ya olahraganya? 

Kenapa ga lari di lintasan lari yang lebih support? Gasibu, misalnya? atau GOR Pajajaran?  Biasanya hari minggu itu saya ada aja keluar (sok sibuk yeee). Ya kalau ga ngaji ada acara. 

Jadinya, saya mikir nih, kalau mau olahraga lari gitu harus beneran free alias ga ada rencana mau jalan siangnya. Ya karena jarang olahraga, efeknya bikin semua sendi badan pada protes, kaget.  Belum soal ngatur waktunya itu.  Sepertinya agenda lari pagi buat saya ga coock buat diaplikasikan di hari  minggu.

Lalu sekarang ini, rencana itu tertahan lagi buat realisasinya. Ya karena ada wabah ini. Jadi mau mager terus di rumah? Ya enggak lah. Saya tuh pengen banget punya badan tetep sehat dan bugar sampai tua.  Maunya gitu, dan itu ga dateng secara gratis. Ya kali... Kudu usaha.

Akhirnya saya memutuskan untuk yoga di rumah aja. Mudah, murah (gratis malah), praktis. Ga usah parno bergesekan dengan orang lain di gym atau tempat umum lainnya.   Yang penting sih perlu komitmennya. Itu numero uno, alias utama hihihi...

Biar paginya ga gabut atau malah tiduran, akhirnya saya buka youtube dan nemu channel yoga yang cocok buat beginner kayak saya. Duile (((beginner))). But it's better than never, kan?

O, ya channel yang saya pilih itu adalah Psyche Truth dengan trainernya Sanela Osmanovic.  Orangnya cantik, cara ngomongnya asik dan  latihan fisik yang dia kasih pas banget dari durasi dan gerakannya.  Saya jalanin tiap pagi dan seneng banget, lho.  Selain Yoga for Anxiety, masih ada latihan lainnya di channel ini, kalian kepoin aja, ya. O,ya durasi yoganya bentar, kok. 20 menit aja. Ga bikin cape, tau-tau udahan aja. 

Eh tapi sebenernya awal-awal ngeyoga, sendi-sendi tubuh saya kasih sign, mereka berasa surprise. Pegel wkwkwk....  Nyerah?  Ya atuh kalau nyerah terus tau-tau saya maki  tuir dan badan dari yang tadinya ga siap jadi ga mau diajak olahraga.  


Namatin Buku


Sebenarnya saya tuh seneng baca buku, cuma akhir-akhir ini  perlu effort lebih ekstra untuk menundukan rasa malas. Duh, ada aja godaannya. 

Ya ngantuk, lah atau notif sosmed. Pas saya bandingin, ternyata ngecein notif sosmed  menghabiskan waktu lebih lama daripada baca buku. Diiiih enggak banget.  

Nah, selama dua minggu ini, saya uah namatin 2 buku, dong.  Dan sekarang mau masuk ke buku ketiga.  Yeay, prestasi buat saya.  

Dan ternyata saya masih punya tumpukan buku lama di lemari yang belum dikhatamin. Tuntas sebelum lebaran? Enggak janji sih, tapi kita liat nanti aja, ya.

Setidaknya dalam waktu 3 minggu saya namatin 2 buku. Mayan banget, itu pun masih diseling sama cek notif di hp. Duh ya ampun, kalau bisa lebih fokus, bisa tamat lebih banyak lagi nih hihihi... 

Saya lebih suka baca buku fiksi, dan genre berlatar sejarah selalu mengundang minat buat membaca. Yang komedi atau lucu juga suka, cumaaa ini koleksi bacaan di rumah aja masih banyak yang nunggu dikelarin.  At least, save the best for last. Simpen duitnya buat nanti beli buku lainnya,ya.

Ngulik Aksara Hiragana dan Katakana

Sekitar tahun 2006 saya tuh pernah ngambil kursus bahasa Jepang. Seminggu dua kali, pulang kerja ngibrit dulu ke tempat les. Lupa nama lembaganya, tapi lokasinya masih inget, deket Lapang Gasibu, sebelahnya Kantor Bening yang nyediain data base berupa arsip kliping-kliping itu, lho. 

Temen lesnya cuma bertiga. Saya masing inget nama temen-temennya, Hana dan Erwin. Hana sebayaan, sementara Erwin baru lulus SMA atau  kuliahan gitu deh. 

Yang ngajarnya masih muda, masih kuliah.. Saya lupa-lupa inget, kalau ga salah namanya Rangga. Bukan Nicholas Saputra yang nyamar, lho hahaha. 

Karena cuma bertiga, malah belajar jadi enak, saya ga ada beban dan seneng aja balik les, bukannya cape atau ngantuk tapi lanjut latihan atau ngulik. Di sela-sela kerjaan kantor kalau lagi santai saya ngereview aksara hiragana dan katakana  serta sedikit aplikasi grammarnya.  

Dulu sih apal huruf-huruf dan grammarnya, malau lulus memuaskan.  Sekarang? Jangan tanya,  pada nguap hahaha...  

Nah, biar ga gabut dan kebanyakan ngantuk, kenapa enggak sih saya hidupkan lagi ingatan saya soal hiragana dan katakana ini. Mana fontnya kan lucu-lucu buat diaplikasikan sambil latihan hand lettering. Duh banyak maunya, ya? Ya tapi kalau bisa dapet sekaligus, kenapa enggak, sih?

Ada aplikasi belajar bahasa Jepang (terutama nulis aksaranya) yang saya unduh di aplikasi. Namanya Write it!  Japanese. Daripada puyeng dan kesel liat hoaks yang wara-wiri di grup chat atau medsos. Ya, kan?

Keliatannya gampang, tapi ternyata lumayan menantang juga. Misalnya nulis aksara A dalam format hiragana ini. Duh, bikin lengkungnya yang presisi sebagaimana mestinya sungguh menguras kesabaran hahaha


Jangan lupain Aktivitas Rutin lainnya

Meski diem di rumah aja, saya masih tetep harus ke luar. Belanja ke pasar misalnya.  Ga bisa enggak ini mah. Lagi masak eh beras habis, eh minyak kosong, telur ga ada, uang tunai tandas.  Ya udah kepaksa ngibrit ke pasar atau atm. Ga lama-lama buruan balik. 

Dan selama masa wabah ini saya jadi rajin mandi pagi wkwkwk..... Biasanya baru mandi pagi kalau emang beneran ada perlu.  

Selain itu, saya jadi rajin minum lebih banyak, mau sun bath alias berjemur di bawah sinar matahari pagi. Demi sehat, biar semuanya segera berlalu. Dan setelah semua kerempongan wabah ini berlalu, saya mau aktivitas positif saya tetep jalan. Ga jadi hilang, kalaupun harus berkurang karena berbagi waktu dengan kesibukan lainnya.

Semoga kalian yang sedang baca ini stay safe dan stay healthy, ya.Agar bisa kembali beraktivitas normal, ketemu lagi secara real, bukan lagi virtual.




Share:

Saturday, 23 February 2019

Lebih Banyak Lagi Makan Buah-buahan

Salah satu hal yang berat untuk dijalani dan perlu komitmen kuat itu adalah balikan! Nih ya, aku ulang pake capslock, BALIKAN!

Eh tapi ini bukan sembarangan balikan. Bukan sama mantan. No! Apalagi kalau dia bikin sedih *curhat, bu?*

Trus apa dong?
Balikan sama kebiasaan sehat dong!

Jadi kan ya, beberapa waktu lalu, sekitar tahun 2016 tuh aku pernah jalani FC.  Alias Food Combining.  Ritual pagi berupa sarapan buah dan minum perasan jeruk nipis sebenernya bukan hal yang berat. Walau sekarang on off sih hahaha. Nah pantangan untuk ga makan selain buah (setauku  sih ya kalau minum smoothie sayur masih oke) itu yang berat. You know lah, godaan ngemil selalu saja melambai bagakan nyiur di pantai yang melenakan *halah*

By the way, baca juga soal kebiasaanku yang mulai nyemoothies lagi ya

Rules lainnya dari diet FC itu yang berat dan susah untuk ga dilanggar adalah untuk tidak mempertemukan karbo dan protein hewan dalam satu piring. Padahal buat sundanesse dan juga mungkin yang nese lainnya (maksudnya selain orang sunda gitu) kan sebagian besar nasi udah jadi makanan pokok. Belum makan kalau nasi belum ada yang masuk. Walau udah makan gorengan, mie, dan kue-kue yang mana itu sebenernya mengandung karbo. 

Aku sendiri ga sampai  3 kali sehari makan nasi, sih. Selain udah kebiaaan dari dulu, tambahan riwayat medis Apa yang punya penyakit diabetes. Secara genetik ini kan memperbesar risiko terkena penyakit yang sama. Makanya, aku berusaha mengurangi konsumsi karbo dan makanan yang manis-manis. Karena penyakit gula dan implikasi lainnya itu mengerikan. 


Balik lagi soal balikan, rasanya emang beraaat buat nge-FC lagi. Tapi ya kalau adaptasi kebiasaannya sih bisa. Semisal minum perasaan jeruk nipis atau banyakin makan buah.  Selain itu aku juga lumayan sering mengonsumsi air kelapa lagi. Ya terutama buat ingredientsnya smoothie itu tadi.


Kalau ngomongin soal buah-buahan, Mangga itu favorit aku. The best lah. Sayangnya buah ini ga selalu hadir setiap saat. Kalau pun ada juga buah mangga yang ada di tukang rujak, buah favoritnya para bumil dengan rasa kecutnya bisa bikin ekspresi kita kayakorang genit. Saking asemnya tuh hahaha...

Ya sudahlah, ga ada mangga pun masih ada buah yang lainnya yang bisa saya konsumsi.  Misalnya nih manggis alias mangosteen. Ratu buah yang suka ngasih kabar baik ini juga buah lain yang jadi kesukaanku. Buahnya aja sih, ga sampai kulitnya. Walaupun katanya bagus sebagai anti kanker.  Sekarang ini ketersediaannya lagi melimpah. Efeknya jadi murah dan bikin seneng aja. Kalau beli di pasar tradisional, bisa dapet tuh 9.000 per kg.   Sekali makan aku bisa ngabisin 5-6 biji ukuran sedeng.  Ada kayaknya setengah kilo tuh hahaha... paling seneng dapet yang ga ada bijinya, jadi ga berasa rugi (lho?).


Buah lain yang jadi kesukaanku tuh adalah jeruk peras.  Dia ini ibarat seseorang yang terjebak dalam friendzone. Selalu ada setiap saat, tanpa syarat tanpa modus tanpa pretensi apapun, tapi kehadirannya suka diabaikan *sungguh analogi yang lebai*. Ga kenal musim, dia selalu ada. Udah gitu murah pula. Selain jadi bahan tambahan untuk bikin smoothie, jeruk peras ini bisa kita minum langsung. Pake air hangat atau es. Dicampur air biasa atau diperas tanpa tambahan lain. Dan ya ampun rasa asamnya ini bisa ngalahin asamnya campuran jeruk nipis  atau  lemon peras, lho. Seriusan.  Untuk satu gelas kecil seperti ini, diperlukan sekitar 5 jeruk ukuran sedeng.


Nah, masih ada buah lain yang jadi favoritku. Stroberi. Buah imut yang warna merahnya menggoda ini dulu gampang banget didapatkan di pasar. Lalu kapan hari sempat hiatus. Susah banget nemuin di pasar tradisional. Adanya cuma di supermarket dengan banderol harga yang selisihnya jauuuh banget.  Sedih akutuh. Kalau kebeletnya udah ga nahan, ya udah kepaksa beli.  Ya mahal sih, tapi kalau dipikir-pikir buat jajan junkfood dan sejenisnya aja kan lumayan banget ya budgetnya. Jadi ya udahlah jangan dianggap biaya, tapi investasi buat kesehatan.  Mengingat usia yang udah ga unyu lagi, jelang 40 nih! Meski secara fisik agak tersamarkan (jangan protes, ya!) tapi alarm tubuh udah mulai rewel.


Anyway masih ada nanas madu dan kiwi yang aku sukai.  Ini enak juga  lho kalau dijadiin bahan buat bikin smoothies atau infus water.  Smoothie buah yang dicampur plain yogurt bisa jadi alternatif ngemil buat menghentikan nafsu makan biar berhenti ngemil. Yakin? Yakinin aja, mengingat uang yang udah dikeluarkan buat beli buah-buahan kan uah lumayan. Selain bikin bengkak alokasi jajan, ya sayang aja kalau udah invest makanan sehat direcoki micin-micinan.  Belum bisa dilepas sepenuhnya emang soal konsumsi makanan gurih buatku.  Apalagi lidahku cenderung suka makanan yang asin. Tapi setidaknya, asupan buah dan sayur komposisinya jadi lebih nambah.  

Kalau bukan kita sendiri yang sayang sama tubuh, siapa lagi coba? Yekan?  Yang masih jadi PR gede buatku itu adalah move out laias olahraga. Niat mau rajinin Yoga belum kesampaian nih huhuhu



Share: