Top Social

Bring world into Words

Wanita dan Sepatu Hak Tinggi

Kamis, 24 Maret 2016
Beauty is pain. Konon katanya cantik itu sakit. Rela wajahnya sakit ketika facial atau peeling di klinik kecantikan. Rela sakit ketika rambut ditarik biar lurus saat rebounding atau smooting di salon kecantikan. Dan, ini nih, rela sakit tumit, rela betis pegal gegara memakai high heels.

High heels atau gampangnya kita menyebut heels. Hayo, siapa sih, yang ga familliar sama salah satu item fashion perempuan yang satu ini? Mungkin ada yang kesehariannya akrab dengan sepatu yang satu ini, atau cuma sesekali saja memakai saat menghadiri pesta atau acara tertentu. Bisa juga nih, mungkin saja enggak pernah pake sama sekali? Ya, who knows?
http://www.catatan-efi.com/2016/03/wanita-dan-sepatu-hak-tinggi.html

Banyak hal menarik yang saya ketahui setelah membaca buku tentang high heels yang ditulis oleh Ika Noorharini. Buku dengan cover warna misty yang dominann ini berjudul Fenomenologi Wanita Ber-high heels. 

http://www.catatan-efi.com/2016/03/wanita-dan-sepatu-hak-tinggi.html

Judul Buku:  Fenomenologi Wanita Ber-high heels

Penulis : Ika  Noorharini

Penerbit: PT Artha Kencana Mandiri

ISBN:98-602-73069-0-5

Pernah jatuh keserimpet karena gaun yang keinjek sepatu, keseleo lalu salah satu heelnya patah atau kepeleset? Dua yang terakhir itu saya pernah alamin ketika mengenakan wedges. Sakitnya jangan ditanya. Yang lebih makjleb itu kalau udah jatuh di depan umum. Duh malu. Saat ini saya berpikir untuk berhenti dulu mengenakan wedges yang paling banter saya berani pake yang tingginya 5 cm.  Itu pun model wedges aja. Mungkin ada yang menganggap cetek saja.  Ga ada apa-apanya dengan sepatu bertumit lancip semacam stiletto.  Hihihi...iya cuma segitu aja.

Kadang saya suka amaze sama mereka yang berani memakai sepatu yang tebalnya di atas 10 cm. How come? Ga sakit? Ga pegel? Ga bosen? 

Sepatu jinjit yang membuat kebanyakan para wanita merasa kepercayaan dirinya bisa maksimal berlipat-lipat ini saya pikir emang dari sononya memang sengaja dibuat untuk wanita. Tapi ternyata saya salah besar. Kalau ditarik ke belakang, sepatu ini juga pernah dipakai oleh laki-laki lho. Iya, laki-laki tulen, bukan laki-laki yang ngondek alias klemer-klemer gitu. 

Ceritanya, parabangsawan di Eropalah yang pertama kali melek kalau high heels adalah item fashion yang keren. Perkenalan bangsa Eropa dengan sepatu high heels ini sebenarnya tidak segaja. Meskipun kalau timeline sejarah dibentangkan,  bangsa Mesir kuno lebih  dulu mengenalnya sebagai simbol ritual. Saat itu, sekitar tahun 1500an  bangsa Persia (sekarang Iran) yang mengenalkan sepatu jangkung ini. Rivalitasnya dengan otoritas Ottoman Turki yang menguasai Eropa, membuat raja Persia pada waktu itu, Shah Abbas I memutar otaknya untuk mengikis kalau bisa mengambil alih dominasi pesaingnya itu sebagai penguasa Eropa. Lalu dibukalah usaha untuk membuka pintu diplomasi dengan mengutus  sejumlah orang ke beberapa  negara Eropa.

Sepatu yang biasa dipakai oleh pasukan kavaleri Persia ini lah yang menarik minat orang-orang Eropa. Sebenarnya fungsi utama sepatu ini tidak dimaksudkan untuk fashion tapi lebih ke segi kepraktisannya. Saat digunakan ketika berperang, terutama ketika menunggang kuda, sepatu berhak tinggi membantu sikap tubuh tetap seimbang meski haru berjibaku dengan busur, panah dan persenjataan lainnya. Modelnya yang menarik ini kemudian diadaptasi dengan cepat oleh bangsawan Eropa, termasuk salah satunya raja Louis XIV yang kebetulan punya masalah dengan tinggi badannya, yang cuma 160 cm-an. 
http://www.catatan-efi.com/2016/03/wanita-dan-sepatu-hak-tinggi.html
sepatunya Louis XIV  sumber: bbc.com
Lain raja Louis XIV lain juga Napoleon Bonaparte yang meski sama-sama bertubuh pendek. Napoleon menolak sepatu yang pada saat memang jadi simbol bangsawan, kelompok masyarakat yang menjadi musuhnya. Selain ingin memangkas jarak status sosial, Napoleo menganggap sepatu ini juga tidak praktis untuk mobilitas. Ribet kalau bahasa sekarang.

Sempat terjeda selama kurang lebih 50 tahun, Model sepatu high heel kembali hidup setelah perang dunia I. Christian Dior mendobrak trend fashion pada waktu itu dengan memperkenalkan model sepatu berhak tinggi dengan ujung tumit yang lancip, yang kita kenal sekarang stiletto.

Menarik lho, membaca buku yang ditulis setebal 112 halaman ini. Bukan saja lembar demi lembarnya dicetakdi atas kertas lux dan ilustrasi yang eye catching dan membahas fenomena seputar high heel dan para pecintanya, kalau boleh saya bilang “Die Harder”nya. 

Meski buku ini diadaptasi dari bahan penelitiannya untuk tesis (makanya ga heran juga kalau redaksi penulisan ini terasa lebih ilmiah, tidak nge-pop seperti buku lainnya), tapi hasil riset yang dikupas di di sini akhirnya akan membuat pembaca mengerti kenapa ada yang segitunya mencintai sepatu yang tampak menyiksa ini. Di sisi lain, buat para penggila sepatu bertumit tinggi ini akan mengangguk kepala sambil tersenyum sumringah lalu mengatakan,"Finally, somebody feel me."

So, entah itu Manolo, Stiletto, Mary Jane, Peep Toe, Louboutin dan model lainnya, percayalah high heels bukan cuma selera fashion saja. Ada prestise, identitas, status, karakter, interaksi saat berkomunikasi dan soal lainnya yang bisa kita ulik dibalik high heels. Bukan cuma Marilyn Monroe saja yang mengabaikan rasa sakitnya ketika ia benar-benar merasa cantik dengan sepatu jinjit ini. Ada banyak para perempuan yang tidak bisa menyisihkan begitu saja high heel dari sisi kehidupannya. High heels atau lidah Perancis mengenalnya dengan Talons Hauts ini adalah komponen fashion untuk bercerita tentang diri mereka, mulai dari yang muda sampai yang tua. Pecinta  high heels akan selalu ada. , .
43 komentar on "Wanita dan Sepatu Hak Tinggi"
  1. saya pecinta high heels loh.. soalnya pendek... hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah sama-sama mungil ternyata kita, Mak. Salut euy kuat pake high heels.

      Hapus
  2. saya termasuk yang nggak suka high heels. pernah pake wedges selama beberapa hari (tapi nggak dipake jalan jauh atau berdiri berjam2), abis itu langsung kaki saya sakit kalo dipake lari. langsung deh anti kalo disuruh pake high heels.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi kalau disuruh lari pake heels pun aku ogah Ga berani.

      Hapus
  3. owalah...
    ternyata itu alasaanya... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, begitulah. Do you feel them now? :)

      Hapus
  4. saya kalo liat yang pake heels bawaannya antara amaze sama ngeri, soalnya kaga bisa pake heels, udah pernah tipalitek, suka kambuhan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tosss dulu, hihihi Salut sama mereka yang setia dengn heelsnya, ya.

      Hapus
  5. wah... kalo aku pakai heels..udah terkilir n salah urat..hahah..soalnya kaki tuh..suka ke pletok...hahahh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pernah juga terkilir, lumayan nyerinya ya.

      Hapus
  6. Wuhaaa jadi di perancis zaman renaisssance yg lrianyapun berheels ya teh

    Aku biasanya dituntut tuk pake spatu berhak, biar kliatan gapendek2amat...e tapi baru beberapa meter jalan, mending milih tu sepatu dicangking aja hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi berasa jadi Cinderel, ya. Bedanya yang satu lepas terus ditinggal dan kabur. Kalau kita ogah rugi. Dijinjing biar bisa dipake lain waktu #apaansih

      Hapus
  7. Pantesan Paris Hilton nggak bisa hidup tanpa high heels, bahkan kalo balapan lomba lari dia menang kali, hihi. Tapi high heels itu memang ngga tau kenapa ya kalo dipakai selalu menampakkan aura anggun. Apalagi kalo pas difoto pake heels, duh keren bingit deh. Walopun sebenarnya perjuangan buat make heels itu bener-bener deh. Aku biasanya pake salonpas ato counterpain kalo udah sakit kelamaan pakai heels.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaaa salut sama si Paris,Na. Iya sih kalau berdiri di depn cermin liat kita pake heeles berasa nambah 100% cantik buahaha... Eh tapi kalau pake lama ga nahan. Terus meringis, terus dilepas yaaaa, cantiknya berkurang ga, ya? :D Aku belum pernah pake koyo, sih. Nantilah kalau kepaksa pake heels aku coba saranmu.

      Hapus
  8. Aku gak kuat sekarang pake high heels. Nyerah deh...mending disuruh pake korset deh (keduanya gak enak tapi korset mendingan drpd highheels)

    BalasHapus
    Balasan
    1. AKu pernah pake setagen abis operasi. Duh sesak nafas, nah kalau korset entah. Sementara ini belum perlu, sih. :)

      Hapus
  9. aku keserimpet sering banget teh kalau pake kebaya gitu. Tapi bukan penggemar high heels. pake high heels kalau acara tertentu dan terpaksa aja. hehe masih mendingan wedges

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku bisa diitung pake jari berapa kali pake kebaya. Sama dengan Gilang, lebih suka wedges dari pada heels.

      Hapus
  10. Iyayah utk laki2 bangsawan pakai high heels jugaa..klo sekarang masi ada ngga yaa, tapi pernah liat artis laki, dia patunya ada heelsnya buat ngebantu tinggi badan :D
    High heels paling klo utk acara tertentu, tapi klo bikin pain jadinya no beauty hihii...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku jadi bayangin pangeran Charles pake heels hihihi. Kok aneh, ya? hehehe

      Hapus
  11. sebelum melahirkan, saya high heels lover, high heels 12cm aja saya sanggup tanpa pegal, eh begitu melahirkan dan punya anak yang ada pake 3cm pun pegal, faktor usia juga kali yah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hah 12 cm? kuatan, ih. Deuh Tian aja udah pegel apalagi aku *umeptin KTP*

      Hapus
    2. bener juga sist, aku juga sekarang cuma pake yang 3centian, itu juga pas dipake ngajar aja, tetep aja kerasa pegel, padahal ngajar cuma dari pagi sampai siang

      Hapus
  12. Serius tuh, Raja Louis XIV pakai High Heels.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, serius. Coba aja googling pasti dapet. Lucu ya bayangin laki-laki pake heels? Hehehe

      Hapus
  13. wah, jadi kepo nih, liat sejarah high heels, daaaaan
    bicara high heels seperti bicara, "Mau makan apa hari ini?" ---- ga akan ada habisnya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gimana kalau potato wedges aja? Enak lho dan bisa dimakan :D

      Hapus
  14. saya pake heels kadang-kadang ajah Mbak Efi gak kuat sama pegalnya..
    saya paling suka pake sepatu flat :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama Mbak. Aku juga gitu. Sekarang lagi nyaman sama sneaker. Munngkin nanti tergoda lagi pake tinggi, paling enggak wedges hihi

      Hapus
  15. saya cewek yang ga betahan sama high heels :'D merasa kurang bisa mobile dengan aman,, hehe,, biasanya pakai kalo pas lagi kondangan ke nikahan temen aja, keluar gedungpun langsung ganti sendal serepan :'D
    Makasih kaak, history-nya sangat mengedukasi ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah ide bagus tuh, harus siap sepatu cadangan. Kalau bawa motor atau mobil sendiri gampang. Buat yang ngangkot kayak aku harus siap tas yang rada gedean, nih tapi jangan gede bangetjuga ya pake tas ke kondangan mah hehehe

      Hapus
  16. Balasan
    1. Duh apaan sih, Adik Besar? Kamu suka aneh, deh :D

      Hapus
  17. Beauty is pain buat Marilyn Monroe ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Merhattin ga, itu foto dia dengan gaun putih dan heelsnya itu jadi legend banget sampai sekarang lho :)

      Hapus
  18. Kunjungan siang hari, semoga sehat selalu :)

    BalasHapus
  19. Kalau saya suka cewe yang pakai High heels, terlihat sexy

    BalasHapus
  20. setelah punya anak, ga doyan pake high heels, susah dipake ngejar :D
    dulu sih wkt msh nari, suka pake high heels minimal 12 cm...

    BalasHapus
  21. di dalam dunia semiotika, Hak tinggi melambangkan ketinggian derjat berdasarkan harta. Menarik ulasannya :)

    BalasHapus
  22. Saya pernah coba pakai sepatu tinggi di rumah soalnya penasaran dan saya coba punya mamah saya eh malaj gak muat dan ternyata tidak enak rasanya mungkin karena belum pernah coba pakai sepatu hak tinggi jadi tidak enak rasanya kalau memakainya.

    BalasHapus
  23. dari ulasan mbaknya ada lelaki yang pakai juga ya mbak...? baru tau saya... jadi pengen ketawa kalo ngebayanginnya... wkwkwkwk....

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.