Beauty is pain. Konon katanya cantik itu sakit. Rela wajahnya sakit ketika facial atau peeling di klinik kecantikan. Rela sakit ketika rambut ditarik biar lurus saat rebounding atau smooting di salon kecantikan. Dan, ini nih, rela sakit tumit, rela betis pegal gegara memakai high heels.
High heels atau gampangnya kita menyebut heels. Hayo, siapa sih, yang ga familliar sama salah satu item fashion perempuan yang satu ini? Mungkin ada yang kesehariannya akrab dengan sepatu yang satu ini, atau cuma sesekali saja memakai saat menghadiri pesta atau acara tertentu. Bisa juga nih, mungkin saja enggak pernah pake sama sekali? Ya, who knows?
Banyak hal menarik yang saya ketahui setelah membaca buku tentang high heels yang ditulis oleh Ika Noorharini. Buku dengan cover warna misty yang dominann ini berjudul Fenomenologi Wanita Ber-high heels.
Judul Buku: Fenomenologi Wanita Ber-high heels
Penulis : Ika Noorharini
Penerbit: PT Artha Kencana Mandiri
ISBN:98-602-73069-0-5
Pernah jatuh keserimpet karena gaun yang keinjek sepatu, keseleo lalu salah satu heelnya patah atau kepeleset? Dua yang terakhir itu saya pernah alamin ketika mengenakan wedges. Sakitnya jangan ditanya. Yang lebih makjleb itu kalau udah jatuh di depan umum. Duh malu. Saat ini saya berpikir untuk berhenti dulu mengenakan wedges yang paling banter saya berani pake yang tingginya 5 cm. Itu pun model wedges aja. Mungkin ada yang menganggap cetek saja. Ga ada apa-apanya dengan sepatu bertumit lancip semacam stiletto. Hihihi...iya cuma segitu aja.
Kadang saya suka amaze sama mereka yang berani memakai sepatu yang tebalnya di atas 10 cm. How come? Ga sakit? Ga pegel? Ga bosen?
Sepatu jinjit yang membuat kebanyakan para wanita merasa kepercayaan dirinya bisa maksimal berlipat-lipat ini saya pikir emang dari sononya memang sengaja dibuat untuk wanita. Tapi ternyata saya salah besar. Kalau ditarik ke belakang, sepatu ini juga pernah dipakai oleh laki-laki lho. Iya, laki-laki tulen, bukan laki-laki yang ngondek alias klemer-klemer gitu.
Ceritanya, parabangsawan di Eropalah yang pertama kali melek kalau high heels adalah item fashion yang keren. Perkenalan bangsa Eropa dengan sepatu high heels ini sebenarnya tidak segaja. Meskipun kalau timeline sejarah dibentangkan, bangsa Mesir kuno lebih dulu mengenalnya sebagai simbol ritual. Saat itu, sekitar tahun 1500an bangsa Persia (sekarang Iran) yang mengenalkan sepatu jangkung ini. Rivalitasnya dengan otoritas Ottoman Turki yang menguasai Eropa, membuat raja Persia pada waktu itu, Shah Abbas I memutar otaknya untuk mengikis kalau bisa mengambil alih dominasi pesaingnya itu sebagai penguasa Eropa. Lalu dibukalah usaha untuk membuka pintu diplomasi dengan mengutus sejumlah orang ke beberapa negara Eropa.
Sepatu yang biasa dipakai oleh pasukan kavaleri Persia ini lah yang menarik minat orang-orang Eropa. Sebenarnya fungsi utama sepatu ini tidak dimaksudkan untuk fashion tapi lebih ke segi kepraktisannya. Saat digunakan ketika berperang, terutama ketika menunggang kuda, sepatu berhak tinggi membantu sikap tubuh tetap seimbang meski haru berjibaku dengan busur, panah dan persenjataan lainnya. Modelnya yang menarik ini kemudian diadaptasi dengan cepat oleh bangsawan Eropa, termasuk salah satunya raja Louis XIV yang kebetulan punya masalah dengan tinggi badannya, yang cuma 160 cm-an.
sepatunya Louis XIV sumber: bbc.com |
Lain raja Louis XIV lain juga Napoleon Bonaparte yang meski sama-sama bertubuh pendek. Napoleon menolak sepatu yang pada saat memang jadi simbol bangsawan, kelompok masyarakat yang menjadi musuhnya. Selain ingin memangkas jarak status sosial, Napoleo menganggap sepatu ini juga tidak praktis untuk mobilitas. Ribet kalau bahasa sekarang.
Sempat terjeda selama kurang lebih 50 tahun, Model sepatu high heel kembali hidup setelah perang dunia I. Christian Dior mendobrak trend fashion pada waktu itu dengan memperkenalkan model sepatu berhak tinggi dengan ujung tumit yang lancip, yang kita kenal sekarang stiletto.
Menarik lho, membaca buku yang ditulis setebal 112 halaman ini. Bukan saja lembar demi lembarnya dicetakdi atas kertas lux dan ilustrasi yang eye catching dan membahas fenomena seputar high heel dan para pecintanya, kalau boleh saya bilang “Die Harder”nya.
Meski buku ini diadaptasi dari bahan penelitiannya untuk tesis (makanya ga heran juga kalau redaksi penulisan ini terasa lebih ilmiah, tidak nge-pop seperti buku lainnya), tapi hasil riset yang dikupas di di sini akhirnya akan membuat pembaca mengerti kenapa ada yang segitunya mencintai sepatu yang tampak menyiksa ini. Di sisi lain, buat para penggila sepatu bertumit tinggi ini akan mengangguk kepala sambil tersenyum sumringah lalu mengatakan,"Finally, somebody feel me."
So, entah itu Manolo, Stiletto, Mary Jane, Peep Toe, Louboutin dan model lainnya, percayalah high heels bukan cuma selera fashion saja. Ada prestise, identitas, status, karakter, interaksi saat berkomunikasi dan soal lainnya yang bisa kita ulik dibalik high heels. Bukan cuma Marilyn Monroe saja yang mengabaikan rasa sakitnya ketika ia benar-benar merasa cantik dengan sepatu jinjit ini. Ada banyak para perempuan yang tidak bisa menyisihkan begitu saja high heel dari sisi kehidupannya. High heels atau lidah Perancis mengenalnya dengan Talons Hauts ini adalah komponen fashion untuk bercerita tentang diri mereka, mulai dari yang muda sampai yang tua. Pecinta high heels akan selalu ada. , .
saya pecinta high heels loh.. soalnya pendek... hehe
ReplyDeleteWah sama-sama mungil ternyata kita, Mak. Salut euy kuat pake high heels.
Deletesaya termasuk yang nggak suka high heels. pernah pake wedges selama beberapa hari (tapi nggak dipake jalan jauh atau berdiri berjam2), abis itu langsung kaki saya sakit kalo dipake lari. langsung deh anti kalo disuruh pake high heels.
ReplyDeleteHihihi kalau disuruh lari pake heels pun aku ogah Ga berani.
Deletesaya kalo liat yang pake heels bawaannya antara amaze sama ngeri, soalnya kaga bisa pake heels, udah pernah tipalitek, suka kambuhan
ReplyDeleteTosss dulu, hihihi Salut sama mereka yang setia dengn heelsnya, ya.
Deletewah... kalo aku pakai heels..udah terkilir n salah urat..hahah..soalnya kaki tuh..suka ke pletok...hahahh
ReplyDeletePernah juga terkilir, lumayan nyerinya ya.
DeleteWuhaaa jadi di perancis zaman renaisssance yg lrianyapun berheels ya teh
ReplyDeleteAku biasanya dituntut tuk pake spatu berhak, biar kliatan gapendek2amat...e tapi baru beberapa meter jalan, mending milih tu sepatu dicangking aja hihi
Hihihi berasa jadi Cinderel, ya. Bedanya yang satu lepas terus ditinggal dan kabur. Kalau kita ogah rugi. Dijinjing biar bisa dipake lain waktu #apaansih
DeletePantesan Paris Hilton nggak bisa hidup tanpa high heels, bahkan kalo balapan lomba lari dia menang kali, hihi. Tapi high heels itu memang ngga tau kenapa ya kalo dipakai selalu menampakkan aura anggun. Apalagi kalo pas difoto pake heels, duh keren bingit deh. Walopun sebenarnya perjuangan buat make heels itu bener-bener deh. Aku biasanya pake salonpas ato counterpain kalo udah sakit kelamaan pakai heels.
ReplyDeleteIyaaaa salut sama si Paris,Na. Iya sih kalau berdiri di depn cermin liat kita pake heeles berasa nambah 100% cantik buahaha... Eh tapi kalau pake lama ga nahan. Terus meringis, terus dilepas yaaaa, cantiknya berkurang ga, ya? :D Aku belum pernah pake koyo, sih. Nantilah kalau kepaksa pake heels aku coba saranmu.
DeleteAku gak kuat sekarang pake high heels. Nyerah deh...mending disuruh pake korset deh (keduanya gak enak tapi korset mendingan drpd highheels)
ReplyDeleteAKu pernah pake setagen abis operasi. Duh sesak nafas, nah kalau korset entah. Sementara ini belum perlu, sih. :)
Deleteaku keserimpet sering banget teh kalau pake kebaya gitu. Tapi bukan penggemar high heels. pake high heels kalau acara tertentu dan terpaksa aja. hehe masih mendingan wedges
ReplyDeleteAku bisa diitung pake jari berapa kali pake kebaya. Sama dengan Gilang, lebih suka wedges dari pada heels.
DeleteIyayah utk laki2 bangsawan pakai high heels jugaa..klo sekarang masi ada ngga yaa, tapi pernah liat artis laki, dia patunya ada heelsnya buat ngebantu tinggi badan :D
ReplyDeleteHigh heels paling klo utk acara tertentu, tapi klo bikin pain jadinya no beauty hihii...
Aku jadi bayangin pangeran Charles pake heels hihihi. Kok aneh, ya? hehehe
Deletesebelum melahirkan, saya high heels lover, high heels 12cm aja saya sanggup tanpa pegal, eh begitu melahirkan dan punya anak yang ada pake 3cm pun pegal, faktor usia juga kali yah
ReplyDeleteHah 12 cm? kuatan, ih. Deuh Tian aja udah pegel apalagi aku *umeptin KTP*
DeleteSerius tuh, Raja Louis XIV pakai High Heels.
ReplyDeleteIya, serius. Coba aja googling pasti dapet. Lucu ya bayangin laki-laki pake heels? Hehehe
Deletewah, jadi kepo nih, liat sejarah high heels, daaaaan
ReplyDeletebicara high heels seperti bicara, "Mau makan apa hari ini?" ---- ga akan ada habisnya!
Gimana kalau potato wedges aja? Enak lho dan bisa dimakan :D
Deletesaya pake heels kadang-kadang ajah Mbak Efi gak kuat sama pegalnya..
ReplyDeletesaya paling suka pake sepatu flat :)
Sama Mbak. Aku juga gitu. Sekarang lagi nyaman sama sneaker. Munngkin nanti tergoda lagi pake tinggi, paling enggak wedges hihi
Deletesaya cewek yang ga betahan sama high heels :'D merasa kurang bisa mobile dengan aman,, hehe,, biasanya pakai kalo pas lagi kondangan ke nikahan temen aja, keluar gedungpun langsung ganti sendal serepan :'D
ReplyDeleteMakasih kaak, history-nya sangat mengedukasi ^^
Nah ide bagus tuh, harus siap sepatu cadangan. Kalau bawa motor atau mobil sendiri gampang. Buat yang ngangkot kayak aku harus siap tas yang rada gedean, nih tapi jangan gede bangetjuga ya pake tas ke kondangan mah hehehe
DeleteKamu nganu kak :D
ReplyDeleteDuh apaan sih, Adik Besar? Kamu suka aneh, deh :D
DeleteKunjungan siang hari, semoga sehat selalu :)
ReplyDeleteHai,Wira. Makasih udah mampir :)
Deletesetelah punya anak, ga doyan pake high heels, susah dipake ngejar :D
ReplyDeletedulu sih wkt msh nari, suka pake high heels minimal 12 cm...
di dalam dunia semiotika, Hak tinggi melambangkan ketinggian derjat berdasarkan harta. Menarik ulasannya :)
ReplyDeleteSaya pernah coba pakai sepatu tinggi di rumah soalnya penasaran dan saya coba punya mamah saya eh malaj gak muat dan ternyata tidak enak rasanya mungkin karena belum pernah coba pakai sepatu hak tinggi jadi tidak enak rasanya kalau memakainya.
ReplyDeletedari ulasan mbaknya ada lelaki yang pakai juga ya mbak...? baru tau saya... jadi pengen ketawa kalo ngebayanginnya... wkwkwkwk....
ReplyDelete