Top Social

Bring world into Words

Mencegah Bahaya Kecanduan Games Pada Anak

Senin, 18 Januari 2016
Engkau  kah itu anakku? Buah hatiku?

Kalimat  ini  kerap  diulang berkali-kali oleh Bunda Elly Risman dalam acara seminar Kiat-kiat  Memahami dan Melindungi Anak Dari Bahaya Dibalik  Kecanduan Games  yang diselenggarakan   oleh Kakatu tanggal 14  Januari 2015 di auditorium FK Unpad jalan Eyckman, Bandung.

Sebentar. Kamu kan, belum jadi parent, Fi?

Nah, itu,  karena saya  belum jadi parent, ilmu ini  penting  juga pake banget  buat saya yang masih lajang.  Ya,  bukan berarti  saya abai dong soal beginian. Ya, kan?  Tantangan dan masalah pengasuhan anak jaman saya kecil dulu dengan sekarang dan nanti  tentunya punya karakter  berbeda.  Kalau jaman kecil  dulu saya cuma kenal maen semacam bikin kue-kuean dari lumpur, maen boneka, petak umpek, gala asin dan permainan  lainnya. Sekarang?  Mainan yang umumnya dijumpai  digunakan oleh anak-anak  pasti enggak jauh-jauh dari gadget.
kenapa anak amin games?
Yaelah, Fi. Emang sebahaya apa sih gadget? Biasa  aja kali,  tuntutan  jaman sekarang kan  emang kudu melek gadget dan teknologi.  Ya, ga aneh  dong kalau anak-anak main games.


Yes, yang  namanya  gadget  emang udah ga bisa dipisakah dari keseharian  kita,  bahkan hasil riset  pun menunjukkan kalau rata-rata  satu penduduk di Indonesia  punya lebih dari  1 gadget.  Ponsel saja  sudah punya lebih dari 1, belum tablet dan netbook.

Tapi yang namanya gadget  itu ibaratnya seperti  pisau bermata dua. Tergantung siapa  yang memegang, bisa jadi mendatangkan manfaat atau sebaliknya, bahaya yang menimbulkan lebih dari sekadar adiksi dan  bisa merusak masa depan.  Ini serius, lho. Seperti pengakuan Muhammad Nur Awaludin - atau dipanggil  Mumu - Co-Foundernya Kakatu.  Justru  masa lalunya  karena kencanduan games, menjadi inspirasi  untuk  menggagas  aplikasi   gadget  yang sehat dan aman untuk anak-anak.

Hmmm, eerything happen for a reason, ya. Tapi selalu ada alasan juga untuk belajar dari pengalaman, kan?  Next, kisah  Mumu  founder Kakatu  yang berani menikah di usia muda  ini saya ceritakan di postingan selanjutnya. 

Ngomong-ngomong soal games,  saya  udah insaf dan menghapus  games semacam candy crush di ponsel. Ga ada  viusal aneh emang yang menjurus  konten  negatif. Tapi masalahnya  adalah saya jadi kehabisan waktu karena keasikan mengumpulkan poin dan naik level. Kadang saya ga sabar nunggu 'nyawa' terkumpul biar bisa maen lagi. Sebelumnya juga pernah terbuai dengan asiknya maen games Farmville.  Ngumpulin poin yang  banyak, naik level, belanja  ini itu untuk mempercantik tampilannya farm saya.  Errrr, seru emang, tapi  ya itu tadi, nyita waktu banget, meski memang mendatangkan rasa puas tersendiri karena sudah berhasil melewati tantangan.

Oke, kita garis bawahi di sini.  Kepuasan.  Bisa diidentikan juga dengan pengakuan karena adanya pencapaian.  Sesuatu  yang buat sebagian orang teruama anak-anak yang memainkan  games, apresiasi atas prestasi adalah hal yang dicari-cari. Saat orang tua menganggap memberikan gadget sebagai cara biar anak anteng/enggak  rewel, lah kan biasa  aja, daripada  maen di luar? Biar ga gaptek dan alasan lainnya, sebenarnya  ada bahaya yang mengancam.

Kecanduan yang parah bisa membuat seorang anak jadi berdusta,  mencuri,  dan kecanduan sex. Ish, ngeri, ya.  Saya bergidik ketika  bunda Elly bercerita ada anak kelas 4 SD  udah mengenal pornografi  akibat games yang dimainkannya itu. 

Sebenarnya  maen game  ga melulu  memberi pengaruh  negatif.  Masih ada sisi positif dari games ini. Misalnya  nih beberapa di antaranya seperti  ini:

Selain itu  dengan  bermain games juga  membantu mengasah instink membuat  strategi dan  ketajaman  menganalisa  masalah, melatih kekompakan dalam permainan yang membutuhkan kerjasama, menstimulasi otak dan kreatifitas  untuk memecahkan masalah, mengembangkan imajinasi, dan mengenalkan anak pada  nilai ekonomi seperti pada permainan  yang mengonversikan poin yang dikumpulkan dalam nilai uang.

Hayo, yang pernah maen Farmville pasti  tau ini. Kumpuli uang yang banyak biar bisa beli rumah, hewan ternak atau bibit hehehe.

Nah, itu segi positifnya. Yang negatifnya juga ada, dong. Misalnya seperti  ini


Dampak Negatif  dari games
Kalau sudah kecanduan, bisa dikenali dengan ciri-ciri  seperti menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain games,  abai dan tidak peduli pada orang lain, mengalami  gangguan tidur,  prestasi akademik yang turun, lupa mandi dan kekurangan gizi (karena asiknya main games)  bisa jadi lupa makan atau asal-asalan makan.  Dalam penjelsannya, Bunda Elly malah sempat bercerita  pecandu games  online  banyak yang menderita  kolestrol akibat konsumsi makanan instan yang dibelinya  lengkap satu paket  di tempat bermain) dan mempunya  kecenderungan berbohong  agar keinginannya  bermain  games terpenuhi,   menilep  uang  SPP  misalnya. 

Dalam kasus  yang kompleks,  seorang anak yang sudah kecanduan games   bisa menjadi sangat agresif (misalnya yang senang  nonton games  yang mengandung unsur kekerasan), kehilangan akal sehat dan bertindak konyol  yang membahayakan keselamatan karena merasa  punya nyawa cadangan seperti layakanya karakter  games  yang dimainkannya  dan efek lainnya seperti perilaku seksual kecanduan film porno  atau  masturbasi  bila  dalam  games  yang dimainkan mengandung unsur  pornografi  itu tadi.

efek dari gadget tanpa pembatasan pada anak
Selain mengatur  akses  anak pada permainan  gadget  seperti menginstal  aplikasi Kakatu di gadget,  pendampingan  orang tua dengan terlibat  bermain gadget dengan anak  juga perlu  diperhatikan komunikasi.  

Nah, pas  bagian komunikasi  ini,  peserta seminar  yang menisi auditorium FK Unpad itu kadang dibuat tersenyum menertawakan  diri sendiri.  Beberapa  kesalahan  ketika pendidikan anak  diakui  peserta seminar hari itu.  Kalau saya menyimpulkannya sebagai  masalah komunikasi. Coba kita cek list  berikut, kira-kira  apa saja kekeliruan  itu.
  1. Bicara tergesa-gesa
  2. Tidak kenal diri sendiri
  3. Lupa setiap  individu itu adalah  unik
  4. Kebutuahn dan kemauan setiap anak  berbeda
  5. Mengabaikan  bahasa tubuh anak
  6. Tidak memedulikan perasaan
  7. Kurang mendengarkan secara  aktif.
Beberapa  kekeliruan  gaya bicara  yang juga dibahas hari itu  sangat umum dilakukan kebanyakan orang tua  terhadap anak-anak:
Masih bingung seperti apa bentuk kesalahan komunikasinya? Misalnya seperti ini, nih.  Tuh lihat  kakak kamu,  Kamu bisa ga sih kayak si X?  Kamu ini ceroboh,  bandel  dasar cengeng, tuh kan, udah dibilangin ga nurut, sih! Udah,  ga apa-apa, besok juga sembuh, kalau enggak mau bobo digigit nyamuk lho, De, dan seterusnya.

"Acungkan tangan anda, anggap  itu stempel," kata Bunda Elly. Kami diajak menyebutkan label buruk itu tadi di depan kepalan tangan yang seolah-olah kami anggap stempel. Label bodoh, ceroboh, malas, cengeng, bandel, susah diatur dan sejenisnya kami sebutkan.

"Sekarang, tempelkan cap itu ke muka anda."

Ya Allah, saya ga mau! Beneran ga mau menempelkan cap itu meski cuma imajinasi, pura-pura saja.

Kalau hanya cemong karena tinta stempel biasa bisa dicuci dan hilang. Tapi, cap yang melekat di ingatan karena kata-kata buruk tadi, siapa yang bisa menjamin akan hilang tanpa bekas?

Bunda Elly yan aktif dan lincah mengajak peserta berkomunikasi juga mengajak kami menganalisa  dampak dari kata-kata  ini.  Akibatnya anak bisa jadi minder,  pembangkang,  pemalu, agresif, terluka, dendam dan sebagainya.  Dengan  bemain games,  bisa jadi merupakan salah satu anak mencari kompensasi berupa pengakun, penerimaab dan merasakan dirinya dihargai  dengan pencapaian yang didapatkannya. Makanya tidak heran  kalau banyak anak-anak yang merasakan menemukan dunianya sendiri meski  itu semu.

Saya dan audiens juga dibuat menangis  ketika Bunda Elly mengajak  kami menutup  mata dan membayangkan ketika  ayah dan ibu  yang sedang berdialog dengan anaknya. Mengajak berbicara dengan lembut dan meminta maaf  untuk semua kesalahan yang sudah terjadi.  Ah, beneran saya meleleh  dibuatnya.

Kelanjutannya saya bahas di postingan berikutnya, ya. Sudah cukup panjanng ini  ceritanya  :)  
  





21 komentar on "Mencegah Bahaya Kecanduan Games Pada Anak"
  1. Saya sudah dua kali ikut seminar Ibu Elly Risman dan selalu di buat nangis,,cara penyampaian beliau bener2 ngena banget di hati.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ga bosenin ya nyimak dia. Ga ada tuh yang namanya ngantuk.

      Hapus
  2. uuuh aku baca ini berulang kali dan berasa nyess banget banyak salah sering merintah dan kadang membandingkan ioo yang (terlalu ) aktif dengan anak lain yang lebih kalem .. Makasih mbak efi artikelnya .. Amat sangat berarti, cambukan bagi aku yang masih jauh dari kata good parent :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih khawatir aku mah kalau liat anak kecil yang diem aja, Yas. Jangan-jangan sakit.
      Masih bisa diperbaiki, Io nasih batita, kan? :)

      Hapus
  3. Negatifnya kayanya lebih banyak yah dibanding positifnya teh, Pengen ke seminarnya bunda elly risman deh teh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, makanya selain pembatasan waktu, filter juga harus didampingi.

      Hapus
    2. Iya, makanya selain pembatasan waktu, filter juga harus didampingi.

      Hapus
  4. wah makasih sharingnya bermanfaat

    BalasHapus
  5. ini penting banget.... saya juga tak mau anak saya yang kelas 1 SD itu kecanduan games. thanks.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mereka masih bisa maen kok, mbak. Tinggal kitanya yang memilihkan games yang cocok.

      Hapus
  6. gadget memang sudah merasuki dunia anak2, dan kita sebagai org tua hrs bisa mengontrolnya. Makasih infonya ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, makanya harus kita atur ya, mak.

      Hapus
  7. Dan saya pun menangis hiks, sedih. Semoga MArwah tidak kecanduan games, aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Andai sejak dulu udah ada pakar parenting kayak beliau, ya.

      Hapus
  8. hanupis Neng Efi, btw anak-anakku udah pada gede, artikel ini buat mereka saat punya incu keren Neng

    BalasHapus
  9. Ponakan sy juga udah kecanduan game Mak. Kalo pulang sekolah langsung pegang hp. Kalo dinasihati udah mulai susah :((

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin cara pendekatannya yang harus diubah, mbak. Biar mereka nurut gitu.

      Hapus
  10. Sangat bermanfaat. Thx u Efi

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama kang. Nuhun kalau bermanfaat :)

      Hapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.