Showing posts with label Pinkebandung. Show all posts
Showing posts with label Pinkebandung. Show all posts

Tuesday, 10 January 2017

Panggilan Yang Tertukar

Sepanjang hidup, sejak lahir sampai sekarang, seingat saya baru pertama kali ketika sakit harus dirawat di rumah sakit. Jarang sakit serius, sekalinya sakit harus dioperasi.  Kejadiannya sekitar 3 tahun lalu, akhir tahun 2013, sekitar dua minggu sebelum hari ulang tahun saya. *penting ya dibahas?*
Cerita lengkapnya baca di sini aja, ya.

Waktu dirawat itu saya ngambil kelas 3 aja.  Tahu diri lah saya.  Biaya operasinya aja udah mehong nian.  Cukup buat beli motor  dua unit kayaknya. Waktu itu juga belum ada BPJS.

Walaupun dirawat di kelas 3, Alhamdulillah pelayanannya optimal. Bahkan untuk makanannya pun worth it. Yaaa meski makannya orang sakit mana enak sih?

Saat dirawat itu saya punya beberapa teman sekamar (dalam satu ruangan ada 8 kasur dengan pasien  yang menghuni 4 orang,  perempuan semua).  Ada yang korban tabrakan,  pasien batu ginjal dan perawat di rumah sakit itu yang kena tifus.  Perawat juga kan manusia, ya?  Segimana strongnya daya tahan tubuh,  ada kondisi tertentu yang meminta tubuhnya untuk beristirahat. Mungkin dia lelah.

Perawat yang disapa Achi ini malah jadi temen ngobrol sampai tukeran pin BB segala. Sayangnya pas ganti hp saya hilang kontak euy.  Chi, how are you,  Neng? Ngubekin seantero rumah sakit tempat saya dulu dirawat? Kayaknya ribet, yaaa :)

Seperti biasa,  di setiap ranjang pasien kan suka ada tuh identitas pasien.  Mulai dari nama,  usia dan printilan lainnya.  Begitu juga dengan saya.  Di atas ranjang tempat saya tidur tercantum identitas dengan panggilan Nyonya. Di sana ditulis Nyonya Efi.  Ya sudahlah,  ga kepikiran buat protes soal itu. Apalah artinya sebuah panggilan,  asal saya ga dipanggil Mas,  atau Eyang misalnya hehehe. Tapi belakangan panggilan Nyonya di depan nama saya itu jadi masalah.  Sempat bikin saya shock,  walau sesaat.

Jadi gini ceritanya... 

Identitas saya dengan panggilan Nyonya pun tercatat dalam rekam medik, mulai dari bolak balik ke ruang praktek dokter atau ketika dokter datang ke kamar perawatan untuk mengecek kondisi saya. Setelah tiga hari menjalani perawatan, saya diputuskan untuk menjalani operasi pada Jumat siang.

Pagi harinya,  sebelum menjalani operasi, saya harus menjalani pemeriksaan lagi, sekadar memastikan kondisinya sudah siap.  Salah satunya adalah menjalani pemeriksaan di dokter sepesialis kandungan. Masih di rumah sakit itu juga dong.

Untuk mengecek kondisi rahim, saya diantar oleh perawat  menemui dokter spesialis kandungan. Sesaat setelah pegecekan dengan USG, wajah dokternya terlihat aneh, seperti kebingungan. Sebelumnya dokter -  yang saya lupa namanya - ngasih tau kondisi kista dalam rahim. Gede banget. Saya ga nyangka selama itu punya kista. Sakit aja ga kerasa.  Lalu beberapa waktu kemudian,  ekspresi wajahnya, bikin saya jadi rada takut. Tatapannya serius bercampur bingung. Duh, ada apa ya? Jangan-jangan ada masalah baru.  Lalu beliau nanya gini:

Dokter  : Ibu sudah punya anak?
Saya  : Belum Dok
Dokter : Ibu pernah berhubungan badan?
Saya : Belum.

Wajahnya terlihat tambah aneh, buru-buru saya tambahkan, "Saya belum nikah, dok."

Seketika rona mukanya berubah, lalu menoleh ke  perawat  yang menemani saya pagi itu. dengan tatapan serius setajam silet. 

"Kenapa di sini namanya ditulis pake nyonya?" nadanya sedikit meninggi. 

Saya malah geli pas mendengarnya. Meski selang  NGT yang menjalar di hidung dan nyambung ke bagian dalam tubuh cukup menganggu, bikin ga nyaman. Ketakutan semula  ada gejala apa-apa yang baru terdektesi pagi itu,  pudar sudah. Ternyata dokter heran dengan kondisi rahim saya yang dikiranya sudah menikah.

*Aduh Dok, kirain ada apaan*

"Maaf , Dok. Nanti dikoreksi," sahut perawat setelah menerima kembali file yang diserahkan oleh dokternya.

"Ya udah, kamu jadi operasi nanti siang, ya." 

Saya mengangguk lega.  Meski sesungguhnya saat itu saya  harap-harap cemas menyiapkan mental untuk menjalani operasi besar. Tapi mengetahui kondisi tubuh  yang siap  adalah sinyal baik kalau tidak ada hal lain yang perlu dikhawatirkan akan menganggu jalannya operasi. Beberapa menit kemudian ketika balik lagi ke kamar tempat saya menginap, identitas di atas ranjang sudah berubah.  

Nama Pasien: Nn. Efi

asalnya sebelum keluar tertulis begini:

Nama Pasien: Ny. Efi  

Jadi siapa bilang panggilan Nona yang tertukar jadi Nyonya itu ga masalah? Seorang dokter spesialis aja bisa dibuat bingung jadinya hihihi..... Kan gawat kalau salah diagnosa.

By the way tulisa saya ini terinspirasi dari blogpostnya Ayu Oktariani: Operasi Pengangkatan Fibroadenoma Mamae untuk program #PINKEBANDUNG. 

Kasus yang kami alami memang berbeda, tapi sama-sama masalah yang bisa dialami oleh kaum perempuan. Abaikan soal panggilan yang tertukar itu. Sampai saat ini, saya sehat walafiat kecuali masalah alergi itu, ya.   

Sehat itu mahal, lho temans. Selain itu, sehat  juga investasi penting agar kita bisa tetap beraktifitas dengan leluasa. Bagi yang sedang sakit, tetap semangat untuk mengikhtiarkan kesembuhannya, ya.
  
Share:

Monday, 26 December 2016

Tentang Arti Nama

"Jadi kamu lahirnya pas lebaran, ya?"

Banyak yang nanya gitu pas tau nama lengkap saya, Efi Fitriyyah,  Kata Fitri-nya itu yang membuat orang-orang membuat simpulan seperti  itu.  Saya ga nyalahin kalau ternyata pada ngira gitu.  

Nama fitri emang  identik dengan  lebaran. Yang namanya Agus identik dengan lahiran bulan Agustus, Novi dengan November, Okta dengan Oktober dan seterusnya. Tapi.... coba deh iseng menghitung perbandingan tahun masehi dan tahun hijriyyah dan lihat kapan jatuhnya tanggal 4 November, 37 tahun silam barengan dengan bulan apa di tahun hijiryyah? 

Taraaa....
http://www.al-habib.info/kalender-islam/pengubah-tanggal-lahir-kalender-hijriyah.htm
Lho, jadi? bukan pas lebaran Idul Fitri?

Iyes, bukan. Bahkan setelah hari qurban pun  masih terjeda 4 hari.  

Terus, kenapa dikasih nama Fitri?

Ya biarin atuh, ga papa kali. Nama kan doa. Fitri itu kan artinya suci, kembali ke fitrahnya. Doa orangtua saya mungkin salah satunya agar saya selalu ingat dengan fitrah saya sebagai manusia, begitu. 

Sebelum cerita lebih jauh, postingan saya kali ini terinspirasi dari postingannya Amy Zet Maukar di programnya #PINKEBANDUNG. Baca juga, ya. Nama Untuk Killua

Ada yang menarik waktu saya duduk di bangku SMP dulu. Pas kelas 2 dan 3 SMP saya punya temen sekelas, namanya Epi Pitriana. Cowok. Nama kita mirip, ya. Udah gitu urutan absennya kan berdasarkan alfabet. Berurutan. Sesekali pernah kami dipanggil guru setelah membagikan ulangan, untuk mencocokan nilai yang dicatat. Jangan sampai tertukar (iya, bukan anak aja yang bisa ketukar, nilai juga :D).  Waktu ulangan kesenian, masih SMP juga. Aturan yang dikasih guru kesenian saat itu adalah kalau ilai ulangannya dibawah 6, her (remidial) yang diberikan adalah nyanyi di depan kelas. Sialnya yang harus diher karena nilainya kurang itu emang saya. Efi yang namanya pake f, bukan  Epi yang pake p. Dia mah udah di zona aman, ga usah diher. 

Aaaah.... tidak! Suara saya kan fals.  Lempeng, datar ga ada nadanya hihihi... Makanya kalau diajak maen ke karaoke saya nolak mentah-mentah. Maunya dikasih mentahannya aja (apa coba?). Tapi terpaksa deh saya akhirnya menyerah dan mau nyanyi (ya iyalah).

Karena waktu itu saya pemalu, sekarang juga sih *siap-siap dipotes*,  akhirnya nyanyi lagu yang aman, lagu anak-anak. Lupa judulnya, bukan macam lagu Ada Kodoknya Susan dan Ria Enez atau Abang Tukang Baksonya Melisa. Yang jelas bukan lagu cinta-cintaan yang pernah hits di tahun 90an kayak Isabellanya Amy Search atau Suci Dalam Debu yang suka tayang di tv atau diputar di radio. Hasilnya? Diledekin guru kesenian,  "kamu tuh nyanyinya asal banget!" 
Ampun deh,  Bu.  Pelajaran seni musik atau seni rupa ini termasuk yang suka saya hindari dulu. 

Anyway, masih ingat ungkapan  William Shakespeare: "Apalah arti sebuah nama?"

Yes or no? 
Kalau saya bilang sih ada artinya. Kan ga mungkin kalau someday ssaya punya anak terus kasihnya nama yang asal. Dari Huruf awal aja saya pengen menghindari alfabet awal kayak A, B, C, D atau huruf di akhir macam S, W, Y, Z. Kasian kalau pas diabsen dan disuruh gurunya jadi giliran pertama atau kalau dapat giliran akhir nunggunya lamaaaaa. Mules karena stres dan deg-degannya itu lho. Ga nahan! Bukan urusan absen di sekolah aja sih, tapi urusan lain yang pake sistem urutan alfabet. Eh tapi gimana kalau gurunya iseng nyuruh muridnya secara random dan mulai dari absen tengah?  Itu sih lain cerita :D

Ngomongin soal arti nama, saya pernah punya tetangga, namanya Dasim. Satu waktu saya pernah dengar tausiyah kalau Dasim ini adalah nama dari anak-anaknya setan, tugasnya adalah ikutan makan bersama kita yang lupa membaca basmalah sebelum makan. Hayooo, kalau udah foto makan, jangan langsung makan, yaa. baca Bismillah dulu minimal.  Kalau lupa? Ya udah baca aja "Bismillaah awwalahu wa aakhirohu” 

Mungkin orangtuanya almarhum tetangga saya ga tau soal ini. Dalam kesehariannya beliau adalah tetangga yang baik, dan ramah, kok. 


But still,  kalau ternyata nama anak yang kita kasih punya arti yang ga bagus, emang mau? Kan enggak. Yang namanya biasa aja suka jadi olok-olokan.  

Waktu SMA dulu pernah ada becandaan soal nama. Dipikir-pikir sekarang, itu ga sopan. Boys and girls, Jangan ditiru ya. Entah gimana ceritanya, lupa saya. Waktu itu teman-teman sekelas jadi pada tau nama orangtua kami masing-masing. Mulai muncullah panggilan teman dengan nama orangtua masing-masing. Yang ngerti senyum atau ketawa. Ya ga ngerti ya bingung lah. Untungnya cuma bentaran aja kejayusan kami waktu itu, ga sampai bablas. Gawat kan kalau keceplosan pas maen ke rumah temen dan nanyain dia atau enggak malah nyebut nama bapaknya. 


Beberapa tahun yan lalu, ketika masih kerja sebagai staf tata usaha saya suka dibuat terharu juga soal nama.  Kombinasi huruf yang belibet dari murid-murid suka bikin jari saya kepeleset. Kalau udah masuk raport, daftar nama peserta ujian atau ijazah kan repot. Udah dicocokin ama akte pun tetep aja ada yang komplain. Sebelum keluar quote  Barbie mengeluh pusing, saya udah pusing duluan, lho. Lah situ yang kasih nama,  nyodorin akte, sik masih protes juga. Kumaha ieu teh? Baru deh setelah itu selesai perkara *tersenyum menang*

By the way, kombinasi nama saya sebenarnya agak  rumit dikit sih, Fitriyyah. Ini kan diambil dari bahasa arab, ya. Ga ngerti soal gramatikanya juga kenapa y-nya ada dua. Saya pun  untuk urusan nama ini kadang bawel kasih tau penulisan yang seharusnya. Untuk kartu keluaraga dan KTP pun masih saja salah.  Makanya, malau nanti saya punya anak,  ga akan bikin kombinasi nama yang ribet, ah. Kasian. 

Jadi, masih termasuk golongan yang selow soal nama kayak Shakespeare, ga? 

Share:

Friday, 28 October 2016

Angkutan Masal, Transport Aplikasi, atau Kendaraan Pribadi?

"Kamu tuh kan jarambah, kenapa sih ga bawa motor aja?"
Untuk pertanyaan seperti itu saya punya dua jawaban yang... well sama-sama benernya.  Hihihi Jadi jawaban pertama yang ideal kayak gini:
"Enggak mau nyumbang kemacetan. Bandung tambah heurin (sempit). Lebih suka naik angkutan masal. Selain angkot ada bus kota, misalnya."
Faktanya kalau lagi terburu-buru saya lebih milih gojek yang nota bene motor, salah satu  yang dianggap jadi penyumbang kemacetan. Tapi kan dengan gojek dan sejenisnya jadi ladang mata pencaharian buat orang lain. Mengurangi angka pengangguran, selain memang  memangkas waktu yang terburu-buru.
Angkutan Masal, Transport Aplikasi, atau Kendaraan Pribadi?
Kapan sampainya? :D
Eh ada alasan lain juga sih kenapa saya ga mau belajar motor. Ini jawaban keduanya.
Saya ini sieunan (ga berani) bawa motor. Suka ga fokus, gugupan dan ini, dislokasi ruang alias linglung yang suka ujug-ujug kumat.
Ya udah, saya mah jadi penumpang aja deh :) Yakin?  Ya kalau bisa bawa kendaraan sendiri, saya lebih memilih punya mobil daripada motor.

Mampir ke sini juga, ya.Dicurhatin Sama Driver Gojek

Beberapa kali kalau naik angkot saya sering dengar sopir angkotnya yang ngeluh karena penumpangnya sedikit. 
"Beuki rea wae motor di jalan teh, siga siraru (makin banyaak aja motor di jalan, kayak laron aja)." 
Kalau nguping (ya kan  ga sengaja denger gini, abiss volume suara mereka kan keras, jadi ya wajar aja kalau ga sengaja nyimak :). Nyimak yang macam gini suka bikin jadi iba. Tapi suka sebel kalau angkot yang saya tumpangi, sopirnya kayak kesambet Juan Pablo Montoya -  yang gahar melibas tikungan di F1 dan suka maen psywar. Ini pembalap yang pernah saya idolain karena bosen dengan dominasi Schummy sih sebenernya *LOL*

Lihat tayangan GP F1 yang kebut-kebutan di  sirkuit balapan itu  keren. Tapi kan jalanan Bandung,  atau kota lainnya beda. Bukan sirkuit di Monako,  yang memang ngambil jalan buat arena balap jet darat. Meski kadang ketika saya terburu-buru merasa bersyukur pas dapat angkot yang sopirnya bisa memacu kecepatan di atas rata-rata, namun tetep smooth. Enakeun kata urang sunda, mah.  Lah kalau ngebutnya sableng? Boro-boro enak, eneq yang ada.

Mobil? Iya, ini juga dituding jadi pencetus kemacetan jalanan. Suka sayang aja sih lihat mobil di jalan raya yang penumpangnya cuma 1-2  aja. Kenapa ga rame-rame aja? Itu dulu yang saya pikirkan. Tapi otak orang Indonesia itu kreatifnya luar biasa. Ketika ada aturan ini di buat seperti aturan kawasan Three in One, lalu  jadi lahan bisnis buat para joki. Dapat tumpangan gratis, dibayar pula. 

Ada juga yang lebih elegan, pas dengan tren dunia digital. Coba deh kepoin aplikasi nebengers. Konsepnya kurang lebih seperti ini. Berbagi seat yang masih kosong di dalam mobil. Kalau sudah unduh aplikainya nanti kita bisa cari tau siapa yang rutenya satu arah, lalu tinggal numpang. Sama-ssama cincai alias diuntungkan. Yang butuh akses perjalanan yang cepat bisa mendapatkan tumpangan murah. Yang punya mobil juga bisa dapat subsidi buat ngisi BBMnya.  So far saya belum nyobain aplikasi ini. Takut sslah pillih tumpangan, kemudian saya diculik hihihi... Lebay.  Ga gitu juga, sih. Tapi someday pengen coba ah. 

Nah ngomong-ngomong soal aplikasi transportasi yang fasilitasnya bisa kita dapatkan secara digital selain gojek itu tadi saya juga pernah pake Uber, Blue Bird, Go Car dan Grab Bike. Ada yang pernah barengan, cuma berdua atau sendiri.

What? Kamu nyumbang kemacetan dong Fiiii...

Ya mungkin gitu. *maafkan* 

Lirik Gita ah hihihi. Eh tulisan ini terinspirasi dari blogpostnya Gitawatty untuk program #PINKEBANDUNG. 


Angkutan Masal, Transport Aplikasi, atau Kendaraan Pribadi?
foto pribadi

Ketika sudah kemalaman, perlu cepat sementara  hujan sangat deras  membuat saya tidak mungkin jadi penumpang motor, atau  angkot susah didapet dan kalau ada pun rasanya insecure, khawatir aja sama keamanan sendiri, transporrtasi seperti ini jadi pilihan saya.  Ada alasan lain juga yang membuat saya naik sarana transportasi macam ini. Promo! Modis banget, modal diskon *greening*

Ga setiap hari juga saya naik  kayak gini, kok. Bisa bangkrut lah kalau saban hari ke mana-mana jalan pake jasa transportasi seperti ini. So, pilihannya kondisional aja, sih. Mostly, lebih suka ngangkot. Meski harus melapangkan hati ketika kesal tiada tara dengan kelakukan sopirnya, merasa terganggu dengan pengamen di perempatan yang mintanya 'maksa' dengan dandanan yang... gitu deh, kembaliannya yan kurang dan sebagainya. 

Setidaknya saya bisa merem dulu kalau merasa ngantuk. Pernah sampai kebablasan pula hahaha... Begitu sadar terlewat, biaasanya perlu energi ekstra untuk memulihkan rasa kantuk dan muka lecek yang entah kusutnya sampai level apa.

Begitu juga ketika naik bus kota. Saya merasa ada di kafe ((kafe))) karena beberapa pengamen menyanyikan lagu yang asik dan atau sopirnya suka memutarkan lagu-lagu easy listening. Meski beberapa kali muncul lagu jadul yang melownya bagai kidung nina bobo. Bikin saya buru-buru menjejalkan ear phone, memilih play list saya sendiri wkwkwk....

Ngomongin soal bus ini juga kadang saya suka belajar banyak hal.   Dari gerak-gerik penumpang, pengamen yang menyapa, pedagang yang menawarkan jualannya sebelum bus lepas landas eh jalan, atau sensasi ketika menjadi penumpang kela festival (baca: berdiri).


Maunya saya sih  sarana transport di Bandung khususnya dan Indonesia jadi lebih rapi, lebih tertib kayak di Barat sana. Banyak yang lebih milih bus daripada kendaraan pribadi, merasa tidak terancam ketika mengayuh sepeda atau menikmati jadi pedestrian tanpa takut diklasoknin motor yang ujug-ujug melaju di trotoar -_-.

coba siapa yang jadi model di foto ini?
Jadi kalau disuruh milih, mau pake sarana transport seperti apa, ya idealnya seperti yang ada di luar negeri sono, kayak di Eropa sana. Tapi lagi-lagi dalam kondisi  tertentu saya menjatuhkan pilihan untuk akses yang cepat dan nyaman. So, punya kendaraan priibadi buat saya ga salah kok.  Kondisional aja.
Share:

Monday, 3 October 2016

Finding Home

Finding Home - Unfairness of Feeling. Waktu baca judul ini kok saya menangkap sebuah perasaan yang ummm.... hati yang terluka cukup dalam.  Ceritanya saya ga sengaja berlangganan newsletternya Medium. Waktu itu mau meninggalkan komen di sebuah blog, saya kudu punya akun di medium. Medium ini semacam template blogging juga. Entah saya yang gaptek atau gimana, akhirnya saya iyain aja mendaftarkan akun di medium ini biar ga susah kalau nantinya blogwalking dan mendarat di blog dengan bawaan template Medium gini. Eh ga tauya saya juga ternyata meminta berlangganan update-an blognya dari Medium ini. 
Finding Home
Kembali ke topik, ya.  Biasanya kalau dapat email newsletter gini suka saya abaikan. Tapi pas baca ada update postingan ini,  Tentang perasaan yang tidak adil. Duh, saya jadi kepo. Meskipun postingannya ditulis dalam bahasa Inggris, sedikit memaksa saya mengunyah tulisannya pelan dan sesekali mencari terjemahan untuk kosa kata yang tidak saya mengerti huehehe. Oke, jadi seperti ini ceritanya.
Di awal postingnya, penulisnya, Ashley,  cerita ketika usia 5 tahun pernah melakukan percobaan bunuh diri dengan menggunakan pisau dan botol kecap. Saat  itu mamanya ga mengganggap serius. Yang ada malah Ashley dianggap sedang melucu.  Ya, lagian anak seusia gini ga lazim aja udah mengenal tindakan nekat kayak gini, kan?. Karena merasa diabaikan, Ashley Corbett, begitu nama anak ini mencoba bunuh diri dengan cara lain, gelantungan di lemari kabinet. Mamanya malah lebih mengkhawatirkan furniturnya alih-alih anaknya itu bakal kenapa-kenapa. Gagal lagi. Saya jadi penasaran, kenapa waktu itu  mamanya Ashley ga ngeh kalau gadis kecilnya sedang butuh 'perhatian'.

Saat berulang tahun ke-7, Ashley mendapat kado ulang tahun boneka Barbie. Apa ya  istilahnya? Semacam hadiah idaman  buat anak-anak seusia Ashley gitu, kan? Saya juga dulu waktu seumuran dia pernah punya keinginan yang sama, meski sampai sekarang ga kesampaian dan udah ga kepengen lagi memilikinya. Well, nanti aja kalau saya udah punya anak huehehe, iya kalau punya anak cewek *ngeles*.

Meski sesungguhnya Ashley kepengen banget sama Barbie itu, eh ternyata dia malah nangis dan bilang ga suka Barbie. Aneh emang. Masalah selanjutnya datang lagi ketika Mamanya menikah dengan seorang lelaki 'bermasalah'. Sampai-sampai kakek neneknya mengungsikan Ashley segera, tidak lama setelah ibunya menikah lagi. Namun, Ashley ga tega membiarkan mamanya tinggal berdua dengan ayah tirinya itu. Demi mamanya, Ashley nekat menodongkan pisau sama  ayah tirinya, membebat luka mamanya dengan perban, memeluk ibunya sampai menelpon polisi. Ini tipikal keluarga broken home seperti di serial tv ala barat itu lho. Hubungan dengan orang tua yang berantakan, anak-anak yang broken home,  remaja-remaja  yang frustasi, free sex, drugs,  sampai hamil di luar nikah adalah fenomena yang sering dijumpai di sana. Hiiiy,  mengerikan.

Kalau suka nonton serial Oprah Winfrey Show, kasus seperti ini pernah juga jadi salah satu topik tayangan, lupa kapan saya nonton. Udah lama juga, sih. Seinget saya waktu itu beberapa remaja yang datang dalam keadaan perut membesar, ada yang protes, marah-marah sama mamanya. Iya, selama talkshow itu berlangsung.
sumber gambar: depressionhelps.com
Kalau baca sampai selesai, kondisi yang dialami oleh Ashley ini mengerikan, sekaligus menyedihkan. Berkali-kali mencoba bunuh diri, bukan cuma ketika dia masih bocah saja. Berbagai kenakalan sudah pernah dilakukannya. Ashley akhirnya diketahui menderita kelainan Bipolar Disorder.   Sampai kemudian Ashley bertemu dengan seseorang yang mengubah jalan hidupnya. Lucky her. 

Anyway, kalau kepoin Om Google, Bipolar Disorder atau kadang diebut Manic Depressive ini adalah kondisi mood seseorang yang cepat sekali berubah secara ekstrim. 

Kesimpulannya dari kasus Ashley ini? Secara pribadi, Ashley bisa bangkit karena ia jujur tentang kondisi dialaminya. Ia niat banget buat sembuh hingga menjalani berbagai terapi. Di satu sisi, Ashley juga punya keluarga yang menddukungnya untuk sembuh. Ada kalanya ketika seseorang sedang dalam keadaan sedih atau berantakan butuh seorang teman yang tidak menceramahi atau menghakimi semua kesalahannya.

Cerita awal sampai Ashley bisa move on bisa baca di sini
Credit: pixabay.com
Kadang mereka hanya butuh sepasang telinga yang tulus mendengar curhatan. Ashley akhirnya menemukan kenyamanan. Bukan hanya rumah tempat tinggal, kalau dalam bahasa Inggris mah finding home, not house. 

Ngomong-ngomong soal sepasang telinga yang siap mendengar, sepasang tangan yang siap merengkuh dan menguatkan, tulisan ini terinspirasi dari postingannya Dessy Natalia Engel yang juga ikut meramaikan program #PINKEBANDUNG, silahkan di baca: Cantik dari Hati

Kita memang tidak bisa memilih lahir dari keluarga mana dan seperti apa situasi yang kita hadapi. Bersyukurlah ketika kita lahir dan tumbuh dalam keluarga yang harmonis. Kalau tidak? Menyalahkan keadaan hanya akan terus membawa luka lama yang tidak akan pernah sembuh.Dalam beberapa kali seminar tentang keluarga atau parenting, luka lama ketika masa kecil kalau tidak selesai akan terus berlanjut sampai dewasa, menikah dan punya anak.  
credit: pixabay.com
Baca juga cerita saya waktu ikutan seminar tentang menyiapkan keluarga yang harmonis di postingan ini, ya.

Apa sih yang bisa saya bilang? Karena masih melajang, ga bisa ngomong banyak,  cuma bisa jadi pengamat saja. Mood atau suasana hati yang berubah dengan cepat enggak cuma dialami saja oleh orang-orang seperti Ashley atau kalau di sini kita pernah ngeh dengah kasusnya Marshanda. Saya juga pernah kok mengalami susana hati yang moody alias teu paruguh kalau kata urang Sunda mah. Tapi saya termasuk tipe orang yang anti menggalau di medsos. Lebih suka 'nyampah' sama teman atau keluarga yang bisa dipercaya buat menampung keluh kesah sampai  merasa plong. 

Jadi, ketika pernah mengalami patah hati atau kekecewaan, alih-alih menyalahkan keadaan atau menuntut sesuatu seperti gambaran ideal yang kita inginkan hanya akan membuat kita merasa semakin gondok, ngenes. Enggak ada pilihan lain selain move on, berdamai dengan keadaan. Lebih mudah ngomong memang, tapi kalau kitanya sendiri ga mau menolong diri sendiri. gimana  atuh?

Terus, bagaimana kalau yang mengalaminya itu orang lain? Dukung mereka, jangan menjatuhkan, mengolok-olok atau meruntuhkan semangatnya.

Ah udah ah, segini aja dulu. Kalau mau sharing atau menambahkan silahkan berkomentar saja, ya.



Share:

Sunday, 18 September 2016

Tentang Usia yang Bertambah

Tentang Usia yang Bertambah - Pernah ga, ketika belanja ke supermarket disapa kasir atau pramuniaganya dengan sebutan Bu? Teteh, atau  Kakak? Pernah dong, ya. (iyain aja biar cepet :D). Dalam rentang waktu yang hampir berdekatan gitu, saya pernah disapa dengan panggilan yang berbeda. Datang ke tempat ini disapa Kakak. datang ke mini market A dipanggil Ibu, eh besok lusanya pas beli properti di sebuah toko buku, mbaknya yang jaga stand dengan sopan ngobrol dan memanggil saya Teteh.
Jangan bete atau seneng dulu. Mungkin SOPnya begitu, harus menyapa pengunjung dengan sapaan tertentu, atau memang pelayan, pramusaji atau pramuniaganya dibebaskan menyapa pengunjung sesuai dengan panggilan yang kira-kira pantas.

Kadang saya suka mikir nih, jangan-jangan penampilan atau baju yang dipakai bisa ngaruh juga. Kalau dekat rumah, cuma  ke pasar atau minimarket mah saya lebih suka pake kerudung instan alias berego. Dan biasanya kalau pake kerudung instan gitu lebih sering disapa ibu huehehe.. Pernah sih pake setelan yang ga secuek ke pasar gitu pun tetep aja ada yang nyapa saya ibu. Ya, sudahlah emang secara usia saya udah waktunya dipanggil ibu, meski di KTP masih menyandang status single :)  

Dulu saya suka bete kalau disapa ibu, tapi kemudian  bisa berdamai disapa begitu. Kalau masih ada yang menyapa teteh, mbak, kaka dan semacamnya ya ga usah geer juga. Yang lebih tua seumuran mama atau beberapa teman yang usianya dibawah saya sih biasanya manggil gitu. Ya asal jangan nyapa kita, Eyang misalnya. Kan, masih kejauhan kalau buat seumuran saya disapa gitu.

By the way, postingan saya kali ini terinspirasi dari blogpostnya Tian, untuk program #PINKEBANDUNG. Dibaca, ya: Jangan Takut Menjadi Tua

Lanjut. Saya setuju kalau yang namanya usia ga selalu berbanding lurus dengan kedewasaan. Yang muda ga selalu kolokan dan yang yang tua ga selalu berpikir matang. Kadang ada kalanya juga ketika berkumpul dengan teman lama, kita masih seusiaan dulu, tidak merasa bertambah umur. Candaan garing jaman dulu kerap terlontar, lalu tiba-tiba ada yang mengingatkan,  hoooi, inget umur. Di sisi lain, ada kalanya kita merasa perlu sesuatu yang membuat lebih rileks, merasa lebih muda untuk melepas penat di benak.

Usia saya sekarang memang sudah memasuki pertengahan kepala 3, segmen usia yang sangat potensial untuk dibidik obat atau krim muka dengan embel-embel anti aging. Lho kok ada keriput di sini? Lho kok fleknya jelas? bla bla bla..say

Lalu saya takut ga menjadi tua? Sejujurnya ketakutan itu ada. Saat bercermin dan melihat lembaran putih mulai muncul, saya khawatir. Seumuran gini kok udah ubanan? Dokter yang saya curhati pun menaikan alisnya. "Hah? Kamu sudah ubanan?"   

Saya mengangguk sambil nyengir. Lalu mengalirlah petuah-petuahnya, kadang disela omelan yang anehnya saya tanggapi dengan santai, cuek.  Uban yang muncul di kepala memang belum saatnya. Di satu sisi senang mendengarnya. Berarti masih muda? #eeh, tapi di sisi lain, ini sinyal kalau stamina saya ga sekuat dulu. Ternyata saya punya alergi yang cukup serius. Masih suka cheating soal makan, tapi berusaha untuk ngerem. Sinyal paling gampang adalah munculnya jerawat. Artinya, tingkat penolakan (((penolakan))) tubuh saya cukup tinggi. Satu waktu, 3 minggu jerawat di muka tidak sembuh-sembuh, dan beberapa suntikan yang bikin saya meringis mendarat dengan sukses. Cantik itu sakit memang :) 

Sebentar, saya koreksi soal ketakutan  menjadi tua. Saya takut saat bertumbuh usia tidak dibarengi dengan fisik yang tidak sekuat dulu. Beberapa tahun yang lalu, saya sanggup begadang sampai menjelang dini hari. Menonton bola atau film di tv/youtube, membaca buku atau kejar setoran kerjaan. Jaman kuliah dulu malah lebih ekstrim, sering tidak tidur sampai subuh demi SKS alias Sistem Kebut Semalam. Sekarang, kalau sudah waktuya Cinderella kembali ke rumah saya masih melek, malah pengen nangis. Saya Pengen tiduuur. Ya memang ga bisa dibantah, seusiaan ini rentan melemah dri fisik atau kesehatan.

Mindset saya berubah. Bertambah usia adalah sesuatu yang tidak bisa ditolak. Percayalah, saat kita meratapi tanda-tanda penuaan, di luar sana masih ada yang resah apakah besok lusa ia bisa menghirup udara. Ada yang punya harta berlimpah tapi tidak bisa menikmati lezatnya makanan, leluasanya meluncur ke sana ke mari dan kenikmatan lain yang kadang kita sepelekan, karena merasa semuanya kita anggap sebagai hal yang biasa.

Mengunjungi teman atau family yang sakit kadang bisa menjadi vitamin hati, lho.Meski aroma khas rumah sakit lebih terasa seperti mengintimidasi, semacam perasaan ga enak.  Tapi berpapasan pasien di selasar  rumah sakit, atau sedang menunggu antrian itu bisa membuat kita ngomong sama diri sendiri, "You were lucky, be grateful of what you are."

Biasanya sesuatu itu terasa berarti ketika kita menyadari tidak mendapati atau merasakannya lagi. Contoh paling gampang, misalnya saat direcoki flu. Hidung yang lega akan kita rindukan ketika terasa mampet. Nikmat sehat itu mahal.

Jadi, biarkanlah usia kita semakin bertambah, tapi tetap bisa menikmati dan mensyukurinya. Salah satu caranya adalah dengan menjaga kesehatan. Karena dengan menjaga kesehatan juga adalah cara kita menjaga amanah Tuhan, memelihara aset penting agar kita tetap produktif. Setuju?

Tua itu pasti, dewasa itu pilihan. Pun begitu juga dengan kesehatan kita.




Share: