Top Social

Bring world into Words

Finding Home

Senin, 03 Oktober 2016
Finding Home - Unfairness of Feeling. Waktu baca judul ini kok saya menangkap sebuah perasaan yang ummm.... hati yang terluka cukup dalam.  Ceritanya saya ga sengaja berlangganan newsletternya Medium. Waktu itu mau meninggalkan komen di sebuah blog, saya kudu punya akun di medium. Medium ini semacam template blogging juga. Entah saya yang gaptek atau gimana, akhirnya saya iyain aja mendaftarkan akun di medium ini biar ga susah kalau nantinya blogwalking dan mendarat di blog dengan bawaan template Medium gini. Eh ga tauya saya juga ternyata meminta berlangganan update-an blognya dari Medium ini. 
Finding Home
Kembali ke topik, ya.  Biasanya kalau dapat email newsletter gini suka saya abaikan. Tapi pas baca ada update postingan ini,  Tentang perasaan yang tidak adil. Duh, saya jadi kepo. Meskipun postingannya ditulis dalam bahasa Inggris, sedikit memaksa saya mengunyah tulisannya pelan dan sesekali mencari terjemahan untuk kosa kata yang tidak saya mengerti huehehe. Oke, jadi seperti ini ceritanya.
Di awal postingnya, penulisnya, Ashley,  cerita ketika usia 5 tahun pernah melakukan percobaan bunuh diri dengan menggunakan pisau dan botol kecap. Saat  itu mamanya ga mengganggap serius. Yang ada malah Ashley dianggap sedang melucu.  Ya, lagian anak seusia gini ga lazim aja udah mengenal tindakan nekat kayak gini, kan?. Karena merasa diabaikan, Ashley Corbett, begitu nama anak ini mencoba bunuh diri dengan cara lain, gelantungan di lemari kabinet. Mamanya malah lebih mengkhawatirkan furniturnya alih-alih anaknya itu bakal kenapa-kenapa. Gagal lagi. Saya jadi penasaran, kenapa waktu itu  mamanya Ashley ga ngeh kalau gadis kecilnya sedang butuh 'perhatian'.

Saat berulang tahun ke-7, Ashley mendapat kado ulang tahun boneka Barbie. Apa ya  istilahnya? Semacam hadiah idaman  buat anak-anak seusia Ashley gitu, kan? Saya juga dulu waktu seumuran dia pernah punya keinginan yang sama, meski sampai sekarang ga kesampaian dan udah ga kepengen lagi memilikinya. Well, nanti aja kalau saya udah punya anak huehehe, iya kalau punya anak cewek *ngeles*.

Meski sesungguhnya Ashley kepengen banget sama Barbie itu, eh ternyata dia malah nangis dan bilang ga suka Barbie. Aneh emang. Masalah selanjutnya datang lagi ketika Mamanya menikah dengan seorang lelaki 'bermasalah'. Sampai-sampai kakek neneknya mengungsikan Ashley segera, tidak lama setelah ibunya menikah lagi. Namun, Ashley ga tega membiarkan mamanya tinggal berdua dengan ayah tirinya itu. Demi mamanya, Ashley nekat menodongkan pisau sama  ayah tirinya, membebat luka mamanya dengan perban, memeluk ibunya sampai menelpon polisi. Ini tipikal keluarga broken home seperti di serial tv ala barat itu lho. Hubungan dengan orang tua yang berantakan, anak-anak yang broken home,  remaja-remaja  yang frustasi, free sex, drugs,  sampai hamil di luar nikah adalah fenomena yang sering dijumpai di sana. Hiiiy,  mengerikan.

Kalau suka nonton serial Oprah Winfrey Show, kasus seperti ini pernah juga jadi salah satu topik tayangan, lupa kapan saya nonton. Udah lama juga, sih. Seinget saya waktu itu beberapa remaja yang datang dalam keadaan perut membesar, ada yang protes, marah-marah sama mamanya. Iya, selama talkshow itu berlangsung.
sumber gambar: depressionhelps.com
Kalau baca sampai selesai, kondisi yang dialami oleh Ashley ini mengerikan, sekaligus menyedihkan. Berkali-kali mencoba bunuh diri, bukan cuma ketika dia masih bocah saja. Berbagai kenakalan sudah pernah dilakukannya. Ashley akhirnya diketahui menderita kelainan Bipolar Disorder.   Sampai kemudian Ashley bertemu dengan seseorang yang mengubah jalan hidupnya. Lucky her. 

Anyway, kalau kepoin Om Google, Bipolar Disorder atau kadang diebut Manic Depressive ini adalah kondisi mood seseorang yang cepat sekali berubah secara ekstrim. 

Kesimpulannya dari kasus Ashley ini? Secara pribadi, Ashley bisa bangkit karena ia jujur tentang kondisi dialaminya. Ia niat banget buat sembuh hingga menjalani berbagai terapi. Di satu sisi, Ashley juga punya keluarga yang menddukungnya untuk sembuh. Ada kalanya ketika seseorang sedang dalam keadaan sedih atau berantakan butuh seorang teman yang tidak menceramahi atau menghakimi semua kesalahannya.

Cerita awal sampai Ashley bisa move on bisa baca di sini
Credit: pixabay.com
Kadang mereka hanya butuh sepasang telinga yang tulus mendengar curhatan. Ashley akhirnya menemukan kenyamanan. Bukan hanya rumah tempat tinggal, kalau dalam bahasa Inggris mah finding home, not house. 

Ngomong-ngomong soal sepasang telinga yang siap mendengar, sepasang tangan yang siap merengkuh dan menguatkan, tulisan ini terinspirasi dari postingannya Dessy Natalia Engel yang juga ikut meramaikan program #PINKEBANDUNG, silahkan di baca: Cantik dari Hati

Kita memang tidak bisa memilih lahir dari keluarga mana dan seperti apa situasi yang kita hadapi. Bersyukurlah ketika kita lahir dan tumbuh dalam keluarga yang harmonis. Kalau tidak? Menyalahkan keadaan hanya akan terus membawa luka lama yang tidak akan pernah sembuh.Dalam beberapa kali seminar tentang keluarga atau parenting, luka lama ketika masa kecil kalau tidak selesai akan terus berlanjut sampai dewasa, menikah dan punya anak.  
credit: pixabay.com
Baca juga cerita saya waktu ikutan seminar tentang menyiapkan keluarga yang harmonis di postingan ini, ya.

Apa sih yang bisa saya bilang? Karena masih melajang, ga bisa ngomong banyak,  cuma bisa jadi pengamat saja. Mood atau suasana hati yang berubah dengan cepat enggak cuma dialami saja oleh orang-orang seperti Ashley atau kalau di sini kita pernah ngeh dengah kasusnya Marshanda. Saya juga pernah kok mengalami susana hati yang moody alias teu paruguh kalau kata urang Sunda mah. Tapi saya termasuk tipe orang yang anti menggalau di medsos. Lebih suka 'nyampah' sama teman atau keluarga yang bisa dipercaya buat menampung keluh kesah sampai  merasa plong. 

Jadi, ketika pernah mengalami patah hati atau kekecewaan, alih-alih menyalahkan keadaan atau menuntut sesuatu seperti gambaran ideal yang kita inginkan hanya akan membuat kita merasa semakin gondok, ngenes. Enggak ada pilihan lain selain move on, berdamai dengan keadaan. Lebih mudah ngomong memang, tapi kalau kitanya sendiri ga mau menolong diri sendiri. gimana  atuh?

Terus, bagaimana kalau yang mengalaminya itu orang lain? Dukung mereka, jangan menjatuhkan, mengolok-olok atau meruntuhkan semangatnya.

Ah udah ah, segini aja dulu. Kalau mau sharing atau menambahkan silahkan berkomentar saja, ya.



5 komentar on "Finding Home"
  1. aku bold disini teh

    Enggak ada pilihan lain selain move on, berdamai dengan keadaan.
    betul itu..xixixixi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyes, masa mau baper terus-terusan sampe tua ya, Cheila. Mup on aja deh :)

      Hapus
  2. Saya termasuk yg moody bisa berubah banget mood dgn sangat cepat, sekarang lagi belajar fokus dan memiliki kesadaran sehingga bisa bereaksi lebih positif saat menghadapi sesuatu yg tidak enak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama Mbak, saya juga masih suka moody gitu hehehe

      Hapus
  3. Belajar mengontrol perasaan memang gampang-gampang susah ya Teh. Jujur saya baru tau ada yang namanya Bipolar Disorder sejak kasus Marshanda itu mencuat. Semoga kita semua dikuatkan dan bisa mewujudkan impian keluarga harmonis dan penuh cinta.

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.