Top Social

Bring world into Words

Oleh-oleh Seminar Integrated Learning for Family Integrity

Senin, 26 Januari 2015

Biar  belum jadi emak,  saya enggak risih  buat bergaul  dengan para  emak. Buktinya  nih, saya ikutan komunitas  emak-emak blogger heuheu...  Dari chit chat  santai sampai thread rada serius   saya  jabanin. Alhamdulillah, senengnya  punya teman-teman  yang woles,  positif thinking dan dewasa  menghargai perbedaan. Umur  sih boleh  nambah, niscaya itu mah. Tapi soal kedewasaan? Belum semua bisa.  Saya  ga  mengklaim  udah  beneran mature, tapi  berusaha untuk ke arah sana.
 
Makanya  pas ada tawaran Seminar Parenting saya  sambut  juga buat diikutin.  Kayak acara tanggal 25 Januari 2015  kemarin. Konten acaranya padat, keren banget, lah.  Acara seminar  dengan tagline “Integrated Learning for Family Integrity” dibagi  dalam 2 sesi. Sesi  pertama  menggelar  Manajemen Keuangan dan Bisnis dalam Keluarga, dilanjutkan dengan  Membangun Keluarga Berkarakter Dengan Home Education.  Oke, kita  ulik dulu  dari yang pertama, ya.

Manajemen  Keuangan dan Bisnis dalam Keluarga
Untuk sesi ini ada Febiola Aryanti seorang praktisi Islamic  Financial Planner dan Muri Handayani, pemilik  online shop Hijab  Razha dan seklah bisnis  online.  Ngomong-ngmong kenapa  harus  islamic financial planing, ya? Emang bedanya apa dengan  perencanaan keuangan konvensional?     

Ternyata  kata kuncinya  adalah always keep Allah in mind.  Coba simak  dalam beberapa  paparan perencanaan keuangan konvensional.   Emang ga ada yang salah, sih. Cuma enggak disinggung   batasan halal-haram.  Jadi  nih, ada beberapa perbedaan yang perlu digarisbawahi  kalau dalam islam  kita  cuma dititipin harta  buat mengelola.  Soal  bagaimana mendapatkan dan dipakai buat apa juga perlu diperhatikan,  sederhananya  menghisab diri sendiri.  Harta kita sudah bersih, belum?

Ngomong-ngomong peran  istri sebagai menteri keuangan di rumah bukan cuma  seksi   juru bayar  aja.  Kudu smart juga  mengendalikan cash flow  dan  jangan  malas  mencatat  pengeluaran keuangan.   Saya  jadi nyengir, tersenyum malu  soalnya suka sekenanya, seingetnya kalau nyatet  pengeluaran. Kalau  merasa  ada  pengeluaran  yang  ga jelas  baru deh setengah mati  meras  otak  buat merecall  memori,  abis dipake  apa, aja.  Biasanya  saya lakukan kalau  dompet udah menipis, hihihi....  kebiasaan yang jelek, ya. Giliran dompet  lagi  rada gemukan  malah woles-woles, aja. Padahal  mau  dompet gendut, atau kurus  tetep aja  kudu rajin nyatet pengeluaran. Enggak harus ribet nyari aplikasi  ini itu atau kuliah akuntansi  kok,  gimana asiknya kita aja.  Ternyata masalahnya  bukan soal susah gampang, ya! Tapi niat, catet *nunjuk  hidung sendiri*

Kalau  Bu Febiola Aryanti  membahas soal mengelola  keuangan,  maka  Muri Handayani yang akrab disapa  dengan Teh Hani lebih banyak  sharing pengalamannya  mengelola  bisnis onlinenya.  Kalau dari  teteh  cantik ini saya  ngambil  satu kata kunci  yang cetaar,  sukses  itu satu paket dengan gagal.  Ada cost learningnya.  Jangan ngaku bisnisnya baik-baik saja kalau  belum  pernah  menghadapi masalah.  Kenapa  bilang gitu? Soalnya pemilik    bisnis  online  hijab ini    harus  jatuh  bangun beberapa kali membangun bisnisnya.  Merugi  juga sudah dialaminya beberapa kali hingga akhirnya  menemukan chemistry  di bisnis  yang digelutinya sekarang.


Membangun  Keluarga  Berkarakter  Dengan Home Education
Mendidik Dengan Cinta
Kalau dalam sesi  pertama  dua narsum tampil sekaligus,  maka sesi kedua ini Bu Irawati  Istadi  dan   pasangan duet trainer  Ikhsanun  Kamil  - Citra Cuaca Elmart tampil dalam  sesi yang terpisah.  Bu Irawati  yang juga sudah menulis 15 buku anak dan Parenting  Best Seller: Mendidik Dengan Cinta ini   memaparkan  seluk beluk  tentang  Home Education  yang diterapkannya. Well, mungkin faktor  perut  yang  kriyuk-kriyuk bikin saya perlu waktu rada  lama buat  mengunyahnya.

O, ya hampir  lupa.  Seluruh rangkaian acara  yang saya ikuti kemarin ini  digagas  komunitas  Home Schooling  Muslim Nusantara.  Ok,  balik  ke topik, ya. Banyak  yang  masih salah  kaprah soal home schooling.  Masih banyak yang menjadikan  home schooling sebagai bentuk pelarian dari sekolah formal  yang hasilnya mengecewakan  atau enggak merasa  cocok.   

Padahal  enggak cukup  sampai di situ saja. Untuk menyelenggarakan  home schooling di rumah, orang tua  harus mempersiapkan diri dengan bekal  yang  cukup, banyak  bergaul dan sharing dengan  komunitas  orang tua  yang menyelenggarakan  home schooling.  Meski belajar  di rumah,  enggak berarti kaku juga, ya. Tetap aja perlu  terkoneksi dengan dunia luar biar dapat banyak pencerahan.  Apalagi yag namanya  homeschooling tetap harus disiplin dan komitmen dengan agenda  yang suah disiapkan. Kalau enggak, bisa keteteran dan anak  jadi korban karena  belajarnya   yang kelewat santai. Ish, jangan sampai dong.

Dalam menyelenggarakan  home schooling,  ortu juga berperan lebih esktra  sebagai  pemandu bakat anak  dan membantu mereka  plus minus  yang mereka  miliki.    Mendidik dengan cinta  akan membuat anak lebih mudah menyerap dan mengikuti orang tua.  Triknya, sampaikan dulu  yang positif dari  anak,  baru sampaikan kekurangan anak  untuk dperbaiki. Berdasarkan pengalaman  Bu Irawati  yang punya 6 anak ini, trik yang dilakukan berhasil.   Bu Irawati  yang fasih mengutip beberapa  ayat Quran  sebagai dasar  untuk mendidik anak dengan cinta berdasarkan Quran  ini  mengkhususkan waktunya untuk menulis saat suami dan anak-anaknya sudah tidur atau istirahat. Me time  yang dipakai  untuk menulis  benar-benar  tidak  mengganggu  waktu untuk  keluarga.  Mungkin ini  yang membuat Bu  Irawati  terlihat langsing terus karena istirahatnya  yang sedikit, ya.  :)
 Menyiapkan Keluarga Harmonis
Nah, ini  sesi terakhir  yang jadi favorit  buat saya. Sayangnya alokasi waktu yang tersedia  hanya sedikit mengingat durasi  seminar yang hampir usai. Biar sebentar  bikin jleb-jleb dan peserta  enjoy mengikuti sesi acara  yang diselingi beberapa  games. Khas  banget dengan suasana training, bikin  ngantuk  saya  ngibrit sejauh-jauhnya.

Pasangan duet trainer  Ikhsanun  Kamil  - Citra Cuaca Elmart yang beneran suami istri ini  saya acungi jempol karena  mengemas  acara jadi super duper seru. Masih  nyambung  dengan materi sebelumnya,  untuk mendidik anak dengan cinta  juga  harus disiapkan dulu dengan pasangan harmonis.   Orang tua  yang  mesra dan kompak adalah   hadiah paling terindah  buat  anak.  Banyak  yang  rumah tangganya   “terpaksa “ bertahan demi alasan anak,  tapi realitanya  anak  malah dikasih tontonan  ortu  yang  perang dingin  diwarnai dengan adegan dramatis  piring terbang,  teriakan,  tangisan  atau  drama  rumah tangga lainnya. Serem ya?

Analogi Bambu Cina
Bisa bedakan konsep  house dan  home?   Kebutuan dasar seperti  untuk   membayar cicilan rumah, makan sehari-hari dan  perintilan lainnya.  Pernah terpikirkan   buat  mendelegasikan  atau meminta dari orang lain? Pasti  enggak ada  yang mau. 

Tapi  bagaimana dengan perasaan  nyaman, hommy yang dibutuhkan?  Konflik dalam rumah tangga  bisa  membuat salah satu  pihak  akan mencoba mencari  dari orang lain, alias selingkuh.  Kalau saja tidak ada rahasia,    mestinya tidak terjadi.  Ya,  jangan ada  rahasia  di antara suami dan istri.  password gadget, medsos  atau gaji.  Kalau  baik-baik saja, kenapa  main rahasia-rahasian, ya? Atau kenapa  enggak mau curhat sama pasangan sendiri kalau enggak percaya?  Makanya jadi hal yang aneh kalau  kita  lebih nyaman curhat  dengan orang lain, bukan dengan pasangan halalnya sendiri.  Sebenarnya soal konflik  dalam rumah tangga  adalah sebuah kepastian, dinamika  yang  akan dialami karena  masing-masing suami atau istri  berasal  dari  latar  yang berbeda. Bakalan ada  hal yang berbeda, enggak mungkin sama persis. Cara  membuka  pasta gigi,  menyimpan piring bekas makan atau perbedaan lain  kalau tidak disikapi dengan  woles  bisa  memancing letupan-letupan kecil. Duh,  mules  saya   nih  ngebayanginnya.
Bambu cina  untuk menggambarkan   awal-awal kehidupan  rumah tangga  jadi analogi  yang  cetar.  Coba bayangin deh, dalam 5 tahun pertama  bambu cina yang disirami  air enggak ada  perubahan, seperti susah numbuhnya. Padahal  kalau kita  tahu,  di dasar tanah sana, akar-akar  bambu  ini  sedang menguatkan akarnya  agar kuat dan tidak  mudah  goyah. Hasilnya,  setelah 5 tahun berlalu  bambu akan tumbuh melesat dan  tinggi menjulang. Yakin kok, sejak  akad  diucapkan, enggak  ada  tuh salah satu pasangan  yang  punya pikiran  sinting  berniat selingkuh. Yakiiiin, enggak ada. Kalau ada saya  cubitin  nih pake jepitan jemuran :P Makanya untuk membangun “home”, diperlukan 3  hal.   

Cleansing (Menyembuhkan)
untuk  menyembuhkan trauma/luka  batin. Luka masa  lalu  yang dibiarkan  bakal menghadirkan suami atau istri yang homeless.  Kalau dua-duanya ketemuan,  bisa  menghasilkan anak-anak yang  homeless.    Duh, jadi lingkaran setan atuh, ya. Enggak ada abisnya. 

Nursing (Merawat)
Merawat api asmara. Aiiih,  bahasanya, ya.  Coba perhatiin api unggun. Berapa  lama bisa menyala?  Enggak lebih dari 5 jam, ya?  Begitu juga dengan rumah tangga  kalau dibangun hanya dengan api asmara,  hasilnya akan cepat  padam,  rumah tangga akan terasa  hambar dan garing.  Ah, jangan atuhlah.....

Design (Desain)
Sudah menikah pasti  semua psangan suami istri   pengen punya anak, dong? Alih-alih  menyiapkan anak  yang  cerdas  secara akademik alias IQ  mending  juga  siapkan mereka cerdas secara emosi. Life skill  yang satu  ini  bakal jadi modal  paling berharga  buat bertahan  dan tangguh  menghadapi masalah nantinya.

Tatap-tatapan Mata
Sebelum acara bubar peserta seminar mencari pasangan  buat bermain tatap-tatapan mata. Bukan sembarang tatap mata, lho.  Yang datang dengan suami atau istri dipisahin dulu.  Tapi tetep  aman kok, karena partner  tatap-tatapan matanya   dengan sesama  lagi. Perempuan yang perempuan lagi. Laki-laki ya sama lah, ya.

Saya berusaha  serius  buat  mengikuti sesi ini dan membuang  suara-suara  di benak  Saya  dengan partner  saya dan pasangan lain dikasih waktu buat saling menatap selama satu menit. Saya enggak  tahu  apa yang dipikirkan oleh partner saya, tapi saya lihat  bola matanya berkaca-kaca dan ada  buliran air mata  yang tumpah.    Selesai?

Belum.  Selanjutnya  kami diberi kesempatan untuk saling curhat hanya dalam waktu 1 menit saja.   Itu kali pertamanya saya dan partner saya itu  merasa  enakk untuk menumpahkan uneg-uneg. Cuma sebentar dan rasanya plooong banget. 

Sesi terakhir  sore itu ditutup dengan saling berpelukan sesama peserta (tetep ya, ga ada peluk lintas  gender  :D). Pelukan yang lebih lama dan tepukan  lembut di punggung itu  seperti jadi terapi  yang joss buat meringankan beban. Saya dan teman-teman di acara hari itu  membuktikannya.  Percaya deh....
 

17 komentar on "Oleh-oleh Seminar Integrated Learning for Family Integrity"
  1. belum jadi emak - emak maksudnya belum nikah? :D *eh*
    beberapa penjabarannya sudah dilakukan meskipun masih lajang apalagi masalah duit ya, mencatat segala pengeluaran :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi malah diperjelas sih, mak. :) baya PR nih buat saya, ternyata manajemen keuanga saya parah banget. :)

      Hapus
  2. aku paling g bisa tatap2an,aneh aja hahaha..curhat apa mbak satu menit??hehehe *kepo banget*
    lama banget g ikutan seminar,pingin bangett...tfs ya mbak^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu dia, mak. Games ini sampe diulang karena banyak yang ketawa ketiwi. Aku juga sempat ketawa hehehe. Curhatnya masing2 satu menit. Ga sampe detil, cuma bilang aja, apa yang ngenganjel di hati. :)

      Hapus
  3. belum jadi emak, kan ilmunya bisa ditabung, ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mak, catet dulu biar ga lupa dan nguap. :)

      Hapus
  4. Saya juga ga dicatet nih pengelola ran..HARUS Belajar management keuangan lagi :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. ternyata sama ya masalah kita, males nyatet :)

      Hapus
  5. seru bgt... saya kepingin ikut daftar, tp ga bisa ikutan...
    makasih ya udah share...
    acara tatap2an matanya unik & hrs dicoba...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba praktek sama suaminya, mak hehehe :)

      Hapus
  6. waaah, kayaknya seru banget ya acara trainingnya, bener kata efi, proses pendewasaan itu ya harus belajar hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yoi, Ran. Acara2 yang dikemas ala training selalu menarik, kayak ESQ 165 juga.

      Hapus
  7. waah, bagus ya materi seminarnya, harus banyak belajar nih utk jd ortu yg bisa jd panutan utk anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, jadi ortu bukan alasan berhenti belajar, ya.

      Hapus
  8. Mau dongg dipeluk jugaa *jiyaaah...nyari bahu untuk numpahin air mata*, nah lhooo apaan sih :P
    Btw sy nih menteri keuangan sekaligus Deputi Gubernur BI tapi gak banget sm itung2an uang jd kedodoran seringnya ini mah...kayaknya sekali2 kudu ikutan seminar kayak gini deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi yuk berpelukan *teletubies banget, ya* Saya juga kudu belajar biar neraca keuangan keluarganya enggak defisit :)

      Hapus
  9. oleh2 dari seminar memang sangat ditunggu-tunggu apalagi oleh2 ilmu :)

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.