Top Social

Bring world into Words

Sepotong Cerita dari Rumah Sakit

Minggu, 25 November 2012
Rumah sakit? Entah itu rumah sakit besar atau rumah sakit kecil, begitu mendengar yang terbersit di benak saya adalah sebuah tempat yang tidak enak, meski kelas VIP sekalipun. Mulai dari aroma eter yang menusuk hidung, jarum suntik, belalai infus, kasur berseprai putih, kursi roda sampai ruang operasi. “Jangan sampai saya ngalamin dirawat di RS, kecuali kalau melahirkan,” begitu yang selalu terpikirkan.
Seumur hidup pun saya belum pernah merasakan dirawat di rumah sakit, kecuali menengok atau menunggui mama dan apa (sebutan buat orang tua saya) waktu mereka sakit.Itu pun jarang sekali. Alhamdulillah, keduanya jarang mengalami sakit yang serius.
Manusia punya harapan tapi Allah juga yang punya rencana lain. 16 Oktober 2012 silam adalah awal semuanya. Selasa sore, ditengah jam les bahasa Inggris yang saya ikuti  perut saya terasa mulas melilit. Beberapa hari sebelumnya memang perut saya rasanya tidak nyaman. Saya pikir cuma masalah kecil saja.

 Saya asyik mengikuti materi sampai kelas bahasa Inggris bubar. Adzan pun berkumandang,  saya segera mengambi wudhu dan shalat maghrib sambil berdoa mudah-mudahan rasa sakit itu hilang. Selesai shalat,  perut saya terasa semakin sakit, bahkan tidak bisa berdiri tegak menahan sakit yang semakin hebat.
Waktu itu saya memutuskan pulang naik taksi saja. Mahal memang, tapi rasa sakit yang tidak bisa kompromi lagi membuat saya memutuskan begitu, hampir setengah jam saya menunggu taksi tapi tidak juga ada yang lewat.
Sambil menahan sakit, saya menyerah, akhirnya saya pulang juga dengan angkot. Syukurlah setiap angkot yang saya naiki tidak penuh, saya bisa leluasa duduk setengah leyeh-leyeh demi menahan sakit. Satu jam kemudian, akhirnya saya sampai ke rumah dan segera jatuh terkulai di ranjang.
Saya berteriak memanggil seisi rumah, mengeluh rasa sakit yang terus menekan. Rasanya perut saya seperti balon yang ditiup dan nyaris pecah, mulas, dan sesak yang menghimpit. Masuk angin kah? Saya coba menarik nafas lebih dalam untuk mengeluarkan angin. Sia-sia, rasa sesak semakin menekan. Hampir menjelang subuh saya  tidak bisa tidur. Shalat isya pun saya lakukan tengah malam dengan posisi terlentang. Warm sack yang ditempel di perut saya tidak bisa menolong banyak. Madu dan norit yang saya minum pun mental, termuntahkan.
Saya mengeluh sedih. Padahal saya sudah dapat izin 'bolos sehari' mengikuti acara forum grup diskusi (FGD) tentang fasilitasi publikasikasrya fiksi dan non fiksi yang digelar kementerian ekonomi kreatif. Ah, sesuatu yang berharga sekali buat penulis pemula seperti saya. Alih-alih bisa menghadiri acara yang ternyata keren itu, saya malah harus masuk UGD. Beda satu huruf saja ya, tapi tentu beda  sekali suasananya.
Pagi harinya kondisi saya agak mendingan tapi tetap masih harus bersusah payah bangkit dari kasur menuju toilet. Siang harinya saya lagi-lagi muntah hingga akhirnya saya menyerah, pasrah dibawa ke rumah sakit.
“Mudah-mudahan ga sampai nginep,” adik saya coba menghibur. Meski demikian, saya nurut saja menyiapkan beberapa potong pakaian, berjaga-jaga jangan-jangan memang harus dirawat.
Benar saja, setelah melalui serangkaian pemeriksaan di UGD, dokter jaga memberitahukan kalau saya harus dirawat. Selain belalang infus yang dipasang, belalai NGT juga dipasang melalui hidung hingga salah satu ujungnya mencapai lambung.


“Untuk mengambil racun yang terjebak di lambung,” jelas salah seorang perawat. Saat proses pemasangan selang NGT itu, saya sempat tersedak karena selang itu melalui tenggorokan. Ingatan saya langsung melayang, teringat mendiang Uwak yang sempat dirawat. Separah apa penyakit saya sampai harus dipasang selang seperti ini? Saya coba menepis pikiran buruk itu.
“Bagaimana nanti saja,” pikir saya pasrah.
Akhirnya sebelum masuk ruang perawatan, salah seorang dokter yang ditunjuk menangani saya datang menghampiri.
“Diagnosa awalnya kalau tidak masalah dengan usus buntu, ada masalah dengan kista di rahim kamu. Bisa jadi dua-duanya,” jelas dokter ramah itu dengan eskpresi tenang.
Entah kenapa, mendengar berita itu saya tidak bisa menangis. Rasa sakit yang mengusik membuat saya tidak bisa berfikir panjang ada apa dengan perut saya.
Esok harinya dokter kembali datang. Setelah beberapa dokter datang memeriksa dan pemeriksaan lab akhirnya keluar juga, didapatlah diagnosa yang lebih akurat. Ada kista dengan diameter 10 cm di rahim saya dan mulai bocor, rembes ke usus sehingga membuat usus saya melengket, pergerakannya jadi melambat.
Entah karena saya yang kurang peka atau cuek, saya tidak pernah merasakan gejala sakit seperti yang dialami oleh kebanyakan penderita kista. Saya tidak pernah merasa sakit ketika datang bulan. Bahkan, dua minggu sebelum dioperasi itu saya sempat menasihati seorang teman yang sudah ketahuan  mempunyai kista di rahimnya untuk terus berobat.
“Berat memang, tapi kamu jangan putus obat, Kalau sudah masuk rumh sakit, biayanya bakal lebih mahal lho,” bujuk saya. Tapi ternyata justru saya sendiri yang mengalami hal itu.
Itu dia rupanya yang menyebabkan saya muntah-muntah tiga hari terakhir dan kehilangan selera makan selama beberapa hari sebelumnya. Saya tidak punya pilihan lain selain operasi untuk mengangkat kista.
“Kamu harus puasa dulu ya sebelum operasi besok,” ujar dokter itu sebelum meninggalkan saya. Saya mengangguk lemah. Dengan kondisi tidak enak makan seperti ini saya tidak perlu protes harus  berpuasa dan menerima asupan makan cuma melalui infus saja.
Sebelum dioperasi serangkaian pemeriksaan harus saya lalui lagi, mulai dari tensi darah (yang alhamdulillah sekali tekanannya normal), tes alergi obat, sampai USG ulang.
Hari jumat, bada jumatan, seorang perawat datang menghampiri saya. “Sudah siap bu?” tanyanya dengan tenang.
Saya mengangguk. Dikiuti kedua orang tua saya, perawat itu mendorong ranjang saya menuju ruang operasi di lantai atas. Jika beberapa waktu sebelumnya saya sempat menyaksikan seorang pasien terkulai lemah diatas kasur menyusuri lorong rumah sakit, kali itu saya sendiri yang mengalaminya, diiringi tatapan beberapa pasang mata yang berpapasan melihat saya. Entah tatapan iba atau penasaran. Saya tidak peduli dengan semua itu, yang saya fikirkan cuma satu hal, berharap rasa sakit itu segera hilang.
Syukurlah proses operasi selama tiga jam itu berjalan lancar.  Bahkan saya baru tersadar sekitar pukul 19 malam. Itupun rasanya masih ngantuk sekali. Saya baru merasakan kesadaran saya benar-benar pulih ketika menjelang tengah malam ketika seorang perawat datang memeriksa keadaan saya.
Esok paginya saya menyadari ada dua selang tambahan lainnya yang terpasang di perut saya. Rasanya saya tampak aneh sekali. Adik saya yang bungsu sempat bercanda menyebut saya mirip sapi glonggongan. Ya, karena memang tidak ada asupan makanan kecuali lewat selang infus, lengan dan kaki saya terlihat bengkak.
Bosan terlentang di kasur, membuat saya meminta adik saya menemani saya  menikmati Healing Garden di lantai paling atas, dengan menggunakan kursi roda tentunya. Nah, saat 'berwisata' di Healing Garden itu saya bertemu dengan seorang bocah usia 4 tahunan. Matanya yang sipit berkejap-kejap lucu memandang saya yang tampak aneh.
“Tante, hidungnya kenapa?” tanya polos sambil tertawa.
Aku cuma nyengir sambil menahan nyeri. “Iya, tante lagi sakit. Kayak gajah ya? Tante ada belalainya,” aku mencoba bercanda.
“Hehehehe,.... iya tante,” sambut bocah itu disela tawa-tawa kenesnya. Kedua orang tuanya cuma tersenyum rikuh dengan pertanyaan bocah itu. Ah, namanya juga anak kecil.
Setelah lima hari berpuasa, akhirnya saya diperbolehkan untuk makan. Enak? Jujur saja, saya tidak bisa lahap menikmati bubur atau nasi tim yang disajikan dari pantry rumah sakit. Cuma setengahnya saja saya sanggup habiskan. Untunglah perawat tidak rewel melihat makanan yang tidak bisa saya habiskan.
Akhirnya setelah seminggu dirawat, dokter memperbolehkan pulang, sambil rawat jalan untuk memantau luka bekas operasi.
Nah, selama dirawat di rumah sakit dan rawat jalan oini ada banyak hal yang saya sakitkan. Ada banyak hal yang jadi vitamin hati buat saya. Mulai dari korban tabrak lari yang tangannya nyaris putus, seorang ibu yang mengalami gangguan buang air kecil selama satu bulan (bayangkan, seperti apa rasanya menahan nyeri selama itu?) atau seorang pasien yang mengidap batu empedu tapi terlihat selalu ceria selama dirawat.
Saat rawat jalan saya juga sempat menyaksikan seorang bapak tua dengan perban memenuhi kepala dan hidungnya, entah operasi apa atau pasien-pasien lainnya yang duduk lemas dalam kursi roda nyaris tanpa ekspresi.
Ah... saya tidak tahu sampai usia berapa jatah yang Allah beri buat saya. Saya membayangkan bagaimana jadinya saya di hari tua nanti? Apakah saya akan menjalaninya dengan segar bugar? Jika saya sakit, apakah orang-orang di sekeliling saya akan menemani saya sepenuh hati seperti mereka yang menemani pasien-pasien yang sudah uzur itu?
Saya tidak tahu, saya cuma berharap Allah memberi usia yang berkah buat saya. Jika satu waktu waktu saya sudah habis, mudah-mudahan tidak saya alami dengan kepayahan. Saya berdoa semoga saya menutupnya dengan Khusnul Khatimah.

Nikmat sehat itu mahal sekali. Setelah dirawat itu, saya lebih hati-hati lagi dengan makanan. Makanan dengan penyedap yang kuat misalnya, saya harus berusaha lebih arif memilih camilan atau makanan yang lebih meyehatkan. Saya tidak mau mempertaruhkan lagi hidup saya karena pola makan saya yang kacau.

2 komentar on "Sepotong Cerita dari Rumah Sakit"
  1. Mbak Efi, waktu masang NGT sakit ga? Terus setelah terpasang rasanya gimana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sakit sih, enggak.Cuma rasanya ga nyaman selama NGT terpasang. Aneh, gitu.

      Hapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.