Top Social

Catatan Efi

Bring world into Words

Sumber Polusi di Dalam rumah yang Tidak Disadari

Sabtu, 10 Desember 2016
Sumber Polusi di Dalam rumah yang Tidak Disadari [infomercial] - Pernah terpikir ga kalau ternyata di dalam rumah pun bisa muncul polusi? Padahal rasanya kita tuh rajin banget membersihkan rumah dan enggak ada anggota keluarga yang merokok, pun.  Kok, bisa?

Percaya deh, secara berkala teman-teman tuh udah rajin bersih-bersih rumah. Malah biar semakin sehat dan menambah kesegaran udara pun di halaman rumahnya ditanami aneka tanaman. Kalau pun lahannya terbatas, setidaknya sirkulasi udara yang segar diusahaakan dengan menjaga ventilasi udara. 

Tinggal di kota-kota besar, rumah yang nyaman dengan udaranya yang segar adalah sesuatu yang mewah. Itu juga yang dicari oleh para calon pembeli yang sedang mencari rumah dijual di Depok [disclosure] atau di kota-kota lainnya. Selain Jakarta, Tangerang dan kota-kota besar lainnya punya persoalan yang sama, yaitu tingkat polusi yang cukup tinggi. Hiiiy, ngeri, ya. Mungkin itu juga sebabnya semakin bertambah usia, saya suka mengalami nafas yang agak sesak. 

Balik lagi ke sumber polusi ddi dalam rumah nih. Penting banget kita ketahui dan antispiasi. Ibarat cerita dalam film, kayak musuh dalam selimut. Dia itu ada, eksis dan mengancam tapi kitanya ga mudeng dengan keberadaannya. So, perlu dong untuk diperhatikan secara serius, pake banget. Risiko penyakit yang bisa muncul dari polusi ‘laten’ ini mulai dari keluhan sakit perut atau yang berat macam kanker. Hiiiy…

Terus gimana?

Coba kita cek lagi, yuk. Sebenanya kondisi kualitas di rumah kita itu udah layak dan sehat, belum? Sirkulasi udara yang bersih akan membuat kita bisa bisa bernafas lega untuk menghirup udara yang segar. Mau tua atau mua, orang tua ataau balit, semuanya berhak, malah harus mendapatkan oksigen yang sehat, biar ga mudah sakit. 

Apa saja sih sumber polusi di dalam rumah yang harus diwaspadai?

Furnitur dan Lantai Kayu

Walau kita rajin membersihkan perabotan rumah, ternyata kandungan formaldehida, yaitu senyawa kimia yang umumnya dijumpai dalam larutan bahan kayu ini adalah sumber polusi juga. Baru ngeh, kan? Sekian tahun ini saya juga juga gitu, baru tau. Hadeuh, ke mana aja? Selain kursi atau lemari, lantai rumah yang terbuat dari kayu pun bisa jadi media menumpuk dan menyebarnya polusi. Saya inget banget nih waktu kecil dulu (sampai dewasa juga sih meski udah jarang) paling enak itu kalau tiduran di lantai. Adem! Apalagi pas udara lagi panas atau gerah. Lantai rumah dengan bahan kayu memang lagi banyak digemari. Untungnya sih rumah saya masih pake lantai keramik. Setidaknya satu pencetus penyakit seperti asma, pernapasan, penyakit gangguan tenggorokkan, lalu gangguan neurologis, hingga iritasi pada mata rada ngurangan lah, ya.

Tapi kan, lemari dan dipan di rumah saya 90% dominan dengan bahan kayu. Tetep atuh kudu  memastikan sirkulasi udara di dalam ruangan terjaga dengan baik. Ventilasi yang sehat bisa membuat paparan senyawa formaldehida mengalir ke luar secara efektif.

Suhu Tinggi Memasak

Pernah mengalami sesak nafas akibat dari aroma masakan yang tajam? Saya pernah, tuh. Asap dari masakan yang harum atau ga enak (entah karena gosong atau bau yang terasa tajam dan ga nyaman terhirup) menghasilkan senyawa akrolein. Senyawa ini juga merupakan racun yang bisa mengiritasi mata dan hidung. 

Oke. Sekarang paham dong, ya, ketika menumis cabe dan bawang buat bahan sambal goreng bisa membuat mata terasa perih dan rasa ga nyaman pada hidung yang bikin sulit bernafas. Terlalu sering meghirup akrolein bisa menyebabkan risiko terserang kanker paru-paru jadi meningkat.

Sepertinya menarik juga kalau dipikirkan gimana caranya biar bisa meminimalkan paparan senyawa ini. Yang jelas, ga mungkin lah pake topeng ala-ala robot gitu atau baju ketopong kayak ksatria jaman dulu mau perang. Ribet pakenya, Menuhin space dan nambah kerjaan aja buat dibersihkan secara berkala hahaha….

Da Vinci: Minuman Dengan Sentuhan Maha Karya

Jumat, 09 Desember 2016
Kalau makan di kafe, selain main dessert, kayaknya ga afdol nge-skip pesan minuman. Keselek makanan kan ga asik.   Lemon tea, cappuccino atau minuman lain dengan tampilan yang  cantik suka ngegoda kita buat memesan.  Beli bahannya dan bikin sendiri di rumah sih bisa. Tapi apalah saya ini, ga ada bakat jadi seorang barista atau mixologist hahaha... Daripada gagal? Ya udah pas nongki-nongki atau sengaja melipir ke kafe buat mengenyahkan lapar dan haus  sekalian aja.


Eh tapi suka penasaran ga sih, story behind minuman yang tampilannya kece dengan rasa khasnya itu? Biasanya kita tinggal pesan sama waiter atau waitress. Nunjuk atau bilang pesan satu  dan dalam hitungan beberapa menit kemudian taraaaa.... pesanan kita sudah datang. Emang ga penasaran  liat proses pembuatannya?

Rabu kemarin tanggal 7 Desember 2016, saya bareng Dydie datang ke hotel Best Western Premier di jalan Merdeka Bandung buat menyaksikan presentasi produk Da Vinci bersama distributor Maxindo Jaya. FYI Maxindo ini juga merupakan distributor Teh Dilmah lho. 



Hari itu kami nyempil diantara para Barista dan Mixologist perwakilan hotel, kafe dan resto yang datang. Rada roaming nyimak interaksi para undangan Barista/Mixologist Duo Kenny dan Fahri yang hari itu mempresentasikan 3 jenis minuman. Ya udah, ikutan drink test aja hehehe...

Dalam acara ini Bu Lusi dari  Maxindo  memperkenalkan produk Da Vinci dan Mixer yang jadi bahan utama pembuatan minuman yang cara pembuatannya ditampilkan hari itu. Botolnya lucu-lucu dengan  komposisi warna yang memanjakan mata. Pemilihan nama Da Vinci ini memang terinspirasi dari nama pelukis maestro jaman Renaisans asal Italia yang terkenal dengan lukisan Monalisanya.

Cita rasa jenius dari Da Vinci dihasilkan dari resep turun temurun yang disempurnakan selama 25 tahun terakhir. Terpikir ga sih, kalau pancaindera ternyata memengaruhi kita dalam menikmati minuman?  Jangan sampai tampilan warna mengguhah selera eh rasanya aneh atau rasanya sebenarnya menggoda tapi tampilannya biasa aja.

Da Vinci menyempurnakan resep dari produk-produknya dengan menguatkan citarasa yang dihasilkan. Seperti halnya pakaian, warna dari minuman pun bisa memengaruhi emosi. Begitu juga dengan aroma yang menguar. Kita bisa menafsirkan rasa sebuah minuman lewat aroma yang dihasilkan.  Aroma mangga misalnya, kan ga mungkin pas dicecap ternyata rasanya rasa jeruk. Begitu juga dengan rasa. Da Vinci menganut prinsip Truth to the Fruit, artinya rasa yang dihasilkan benar-benar rasa yang sejati, sama persis seperti aslinya. 

Saat minuman sudah terasa di mulut pun akan memberi sensasi rasa yang sempurna, sehingga Da Vinci merupakan sebuah mahakarya dari kombinasi ilmu pengetahuan dan seni dalam membuat sirup. Pernah  baca novel atau film Filosofi Kopi? Mungkin kalau untuk sirup dengan bahan dasar buah-buahan ini juga menarik ada yang mau ngulik filsafatnya.

Selain melihat demonstrasi cara pembuatannya, kami juga berkesempatan mencicipi tiga jenis minuman yang disajikan hari ini. Ada Hot and Spicy yang dibuat oleh Mixologist Kenny.  Yang satu ini dmerupakan perpaduan dari rasa chili and cinnamon.  

What, Chili cabe maksudya? Iyes, betul. Chili cabe tapi beda sama cabe yang biasa diulek buat nyambel lho ya. Pokoknya sudah diolah sedemikian rupa untuk bahan minuman.  Rasanya? enak lho, saya suka. Ga pedas kayak nyeruput kuah mie atau bakso hahaahaa... Tapi yang saya suka sih rasa cinnamonnya yang dominan. Kayaknya asik deh dipesan pas cuaca lagi dingin atau hujan. O ya tenang aja, semua bahan dari Da Vinci atau Mixer ini aman kok, ga mengandung alkohol. Makanya saya bisa mencicipi.

Resep kedua yang ditampilkan adalah  Bubble Gum Baby ala Fahri dari EnHai Bandung. Udah ketebak dong kalau dari namanya aja punya citarasa kayak permen karet yang kuat.  Bubble Gum Baby ini juga ternyata bisa dibuat di rumah. Komposisi bahan yang digunakan antara lain adalah Mixer Watermelon, Mixer Strawberry, Fresh Milk, Vanilla Ice Cream dan es batu. Semua bahan ini dimix dengan cara menggunakan blender. Keliatannya sih gampang,t api entah ya kalau saya bikin sendiri *lol* Yang jelas, kombinasi bahan yang tepat pastinya akan menghasilkan rasa yang juara.  Again, enaknya tinggal nyicip aja deh. Atau ada yang mau buatin buat saya?

Presentasi resep ketiga ini yang saya suka. Suka dengan cara Mixologist yang mukanya mirip Boy William ini menunjukan teknik pembuatannya Buat para barista atau mixologist  hari itu bisa lah jadi contekan buat menu minuman yang baru. O, ya namanya adalah Secret Garden. Secret  Garden lho ya, bukan Meteor Garden.  

Minuman yang satu ini menggunakan tropical fruit seperti markisa dan kiwi. Dengan teknik pembuatan disahake, tambahan citrus dan  garnish berupa daun mint dan sedikit sentuhan soda api dan jus  membuat resep yang satu ini juga bakal banyak yang suka. Saya juga baru tau dari Kenny lho kalau nepuk daun mint sedikit lebih kuat sebelum jadi garnish bisa bikin rasanya lebih kuat. Diiih ke mana aja saya? 



Tips Menjual Rumah di Bandung

Kamis, 08 Desember 2016
Punya rencana menjual rumah dalam waktu dekat ini? Kalau iya sini ngobrol yuk sama saya. Kebetulan banget mau ngebahas ini.

As we know,  saat akan menjual rumah, ekspektasinya adalah terjual dengan tingkat harga seperti yang kita harapkan. Ya syukur-syukur yang mau beli nawarnya ga tega, ga kejauhan lah. So, pastinya kita akan mencari tahu gimana sih caranya agar punya  rumah dijual di bandung [disclosure]. 

sumber foto: urbanindo
Meskipun Bandung sekarang terasa lebih ramai dan tambah macet, punya rumah di kota ini adalah impian buat sebagian besar orang, lho. Hayo, kamu termasuk salah satunya? Tosss dulu atuh, yuk. Kulineran, belanja, wisata alam jadi lebih dekat dan lebih mudah dilakukan kapan saja. Bandung itu pokoknya ngagenin, selalu. Saya aja kalau udah ga tinggal sama ortu lagi maunya tinggal di Bandung lagi. Abis gimana dong? saya cinta mati sama kota di mana saya lahir dan tumbuh sampai detik ini. Dih, baper ya? Biarin ah.

Ngomong soal aturan menjual rumah tau ga sih kalau ternyata belum banyak yang tidak atau belum tau gimana caranya menemukan pembeli yang seriusgakan membeli rumah? Soalnya nih, kan banyak kasus yang dijumpai calon pembeli cuma datang lihat-lihat rumah. Eh  belakangan taunya cuma survey aja. Abis itu? Yuk dadah yuk bye bye. Ga ada kabar lagi. Ya mungkin belum klik dengan selera atau haapan mereka juga. Tapi sebagai penjual siapa sih yang ga kepingin segera laris?

Ada juga kenyataan kayak gini. Setelah survey dan nanya harga, mereka bilang: "Iya, ini baru liat-lihat aja. Buat nanti sih, masih rdadala lama, Lima tahun lagi perlunya. 

Oh Helooo, harga rumah sekarang dengan harga 5 tahun nanti beda kaliii…

Atau seperti ini. 

Iya mereka kelihatan antusias dan falling in love, naksir berat dengan rumah yang kita tawarkan. Begitu ditanya soal kapan mau bayar, susah pake banget. Ini juga bikin gemes. Pengen garuk-garuk tembok. Eh tapi jangan ding. Nanti kalau temboknya baret-baret, ga mulus karena dicakarin bisa turun harga. Sayang dong kalau harus ngecat ulang hehehe 

Makanya ada beberapa cara untuk mengikat kesepakatan. Ini buat membuktikan kalau mereka emang ga main-main alias komitmen. Misalnya saja dengan ngasih uang downpyamet (dp) alias panjer atau tanda jadi. Buat sebagian orang ada juga menentukan tanda jadi ini bisa hangus kalau calo pembeli membatalkan kesepakatan. Biasanya sih suka ada surat pejanjian untuk mengantisipasi sengketa atau salah paham di masa mendatang.

Bagi pemilik rumah yang dijual menunggu dana cair dari pembeli adalah biaya waktu. Kan kita juga butuh dana segar untuk keperluan lain. Untuk memiliki rumah sebenarnya kalau tidak punya uang tunai bisa disiasati dengan mengajukan kredit pemilikan rumah alias KPR ke bank. Kalau layak alias memenuhi syarat, proses pengajuan akan di-acc dan voilaaa ‘dana bantuan’ pun cair.
credit: dovenshirecompany.com
Ga semua orang memang punya keberuntungan bisa memenuhi impiannya memiliki rumah sendiri dengan uang tunai alis tanpa angsuran. Tapi semakin lama menunda rencana memiliki rumah sendiri sekian waktu itu juga ahrga rumah akan terus merayap. Yang perlu diingat ssaat menunggu pencairan dana dari bank memang perlu proses, tapi ga lama juga kok, asal ya itu tadi memenuhi syarat kelayakan.

So, kalau ada calon pembeli yang tampak galau soal biaya, sarankan mereka untuk mengaukan KRP saja. Ga mau? Bilang Dadah aja. Yakin deh, rumah yang akan dijual akan menemukan tuannya yang tepat.



4 Hal Tentang Film Terjebak Nostalgia

Selasa, 06 Desember 2016
Coba saya tanya deh kalau bahas lagu hitsnya Raisa yang judulnya Terjebak Nostalgia. Ada yang 'ngerasa' ga?  Kayaknya sebagian besar pernah deh, meski ga sampai menjadikan lagu diva cantik ini sebagai antheme song atau masuk list playlistnya yang digeber terus-terusan  :)  

Kamu sendiri gimana, Fi?
Pernah lah. Udah move on tuh. Cuma sebagai fans klub Liverpool yang terakhir kali juara tahun 1989, belum kepikiran berpaling jadi fans klub lain.  Makanya pernah diledekin teman SMA yang bilang kalau saya dan fans Liverpool lainnya adalah fans yang terjebak romantisme masa lalu hahaha.. Dan pas ketemu Mas Apri, owner Redsdipo, kafe yang identik dengan klub asal Merseyside itu, beliau ketawa dan mengiyakan. 

Oke skip. Segitu aja  curhat colongan, ya. Mending ngomogin lagunya Raisa yang diangkat jadi film dengan judul yang sama: "Terjebak Nostalgia".

Sedianya film ini udah tayang di bioskop-bioksop Februari 2016. Karena sesuatu hal, akhirnya film ini baru main di bioskop di awal Desember sekarang. Fansnya Raisa yang nunggu film ini pun sepertinya cukup sabar menunggu.
Sebagian fans Raisa yang ikut nonton
Kayak waktu kemarin nih pas nonton film ini di BTC ternyata saya ketemu sekitar 20an fans Raisa yang bela-belain nonton film ini. Mengutip salah satu quote dari filmnya, "love is magic". Demi cinta orang rela melakukan apapun. Seperti  Raisa yang rela nunggu Sora, kekasihnya.



Judul Film: Terjebak Nostalgia
Produser: Reza Hidayat
Sutradara: Rako Prijanto

Penulis: Anggoro Saronto
Pemeran: Raisa Andriana, Chicco Jerikho, Maruli Tampubolon, Khiva Iskak, Dewi Irawan, Robby Sugara, Sapto Soetarjo, Saddam Basamalah
Durasi: 95 menit
Usia Penonton: 13 tahun ke atas


Atas nama rasa

Dalam salah satu adegan, Reza (Chico Jerikho) bilang gini sama Raisa (Raisa) :

Aku ga tau Sa, dan kamu melakukan ini atas nama rasa.

Meski sudah dipastikan Sora (Maruli Tampubolon)  hilang dalam kapal yang membawanya ke Manhatan, Raisa masih berharap Sora masih hidup. Kekonyolan Raisa yang mengirim pesan dalam botol yang dihanyutkan ke laut ternyata berbalas jebakan nostalgia yang semakin dalam. Raisa mendapat balasan surat yang dikirm oleh Sora dari Amerika.  To good to be true. Kebetulan banget kalau pesan itu bisa berenang ribuan kilometer dan sampai ke orang yang tepat dituju. Love is magic atau love is silly,  ya?

Raisa nekat menunda menandatangani kontraknya dengan label record,  demi mencari tau keberadaan Sora yang sesungguhnya. Sementara Reza yang cintanya ga berbalas pun kelewat baik meninggalkan pekerjaannya sebagai chef demi nemenin Raisa.  Demi apa coba? Demi cinta! Kata Reza juga nih, 80%  para cowok mengalami situasi sepertinya, cuma levelnya aja yang beda. Duh baik banget sih kamu, Rez. Raisanya aja yang ga bisa liat. 

Napak tilas nostalgia 

Setelah beberapa kali saling berbalas surat dengan sosok "Sora", akhirnya Raisa yang ditemani Reza sampai di New York. Lewat surat yang dikirim dari alamat misterius, dia nurut aja 'dikerjain' untuk menyusuri tempat-tempat yang disebut di surat itu, demi 'janji' bakal ketemuan setelah selesai mengikuti permainan ini. Semakin lama, Raisa semakin merasa tersedot dalam pusaran kenangan manis masa lalu. "Gemes" deh saban nyimak dialog Reza dan Raisa. Raisa yakin banget karena apa yang ditulis di surat itu bahasanya Sora banget, termasuk 5 pertanyaan rahasia yang dijawab dengan tepat. 

Sudut-sudut kota New York yang klasik dan romantis seperti  gedung-gedung, sungai dan taman jadi latar di beberapa scene. Hayo siapa yang punya cita-cita jalan-jalan ke New York?  Yang inget lirik New Yorknya Frank Sinatra kayaknya generasi abg jadul kayak saya hehehe. Meski ga jadi salah satu bagian dari filmnya, kalau kata saya lirik lagu Eyang Sinatra ini oke juga. 
If I can make it there, I'm gone make it anywhere. It's up to you, New York, New York!
Cocok dengan  Raisa yang masih keukeuh ingin mewujudkan mimpinya dengan Sora, dan mengabaikan Reza yang nyata di depan mata.

If you looking for a sign, this is it.

Ini satu lagi yang dibilang Reza.  Yang namanya cinta bukan cuma magic aja, tapi juga love fool (kayak lagunya The Cardigan aja). Kenapa? Raisa yang bodoh mengharapkan Sora yang... ya gitu deh. Padahal  Reza  jelas-jelas nyata dan tulus untuk Raisa tanpa syarat. Raisa gagal mengimbangi Chico eh Reza dan membaca tanda yang jelas-jelas  terpampang.

Anyway, kalau jeli memerhatikan beberapa petunjuk, seperti  komentar Reza ketika Raisa mau mengabarkan surat balasan pada orangtuanya Sora, dan rangkaian petunjuk lainnya,  baik saat masih di Indonesia dan ketika di New York kita akan tahu siapa yang pintar bersandiwara dan pintar menutup rahasia dengan rapat, bakal ngerti lebih cepat "skenario"  film ini sebelum udahan. Saya sendiri baru mudeng di akhir :D  *ini spoil ga sih?*

Tentang para pemeran 

Siapa yang paling saya suka di film ini? Kalau boleh milih dua. Pertama adalah Chico Jerikho. Penghayatannya sebagai seorang kekasih yang care dan sabar banget. Yang kedua adalah Khiva Iskak, yang berperan sebagai Obin yang  lugu, culun, lucu adalah seorang sahabat sejati. Tipe sahabat yang selalu siap dimintai pertolongan tanpa pamrih. Langka lho manusia kayak dia. Kalau punya seperti ini, plis jangan sampai terputus jalinan persahabatannya. 

Eh Fi, Raisanya gimana? Kan dia pemeran utama? Well, scene yang paling saya suka sih waktu Raisa ditodong tampil di sebuah kafe dan nyanyi dengan bayangan imajinernya Sora sedang mengiringi nyanyi dengan permainan pianonya.  Chemistry Raisa paling dapet banget di bagian ini. Seperti  halnya ketika mendengar suara beningnya di radio, playlist atau pas konser.

Jadi gimana? Nonton ga?
Desember ini bakal banyak film yang berlomba mendulang penonton di bioskop. Seperit yang sudah-sudah, nafasnya film nasional ga sepanjang film-film barat. Ya sih, ujung-ujungnya skala prioritas. Ya waktu, ya budget dan selera juga. Kalau fansnya Raisa atau Chico bakal belain nonton deh. Kan seperti dibilang tadi,  love is magic. Kalau suka dijabanin deh. 

Grand Launhcing Ethica Store Cimahi

Minggu, 04 Desember 2016
Untuk kostum pakaian sehari-hari saya termasuk tipe orang yang cenderung cuek, alias kasual. Kecuali untuk acara-acara tertentu, ya saya sesuaikan dong dengan situasi. Datang ke resepsi, seminar, atau gala dinner misalnya. Jelas dong  ga bisa saya mengenakan pakaian yang santai. Semacam salah kotum yang bikin ga enak. Lain sendiri dengan lain dan rasanya ga sopan aja. 

Ngomongin soal kesopanan alias etika dalam berpakaian, sebagai seorang muslimah saya dan kalian yang lagi baca tulisan saya ini pastiya sudah  punya banyak referensi pakaian yang menutup aurat dan sesuai aturan. Salah satunya adalah Ethica, sebuah brand pakaian muslimah yang sabtu kemarin itu baru saja meluncurkan offline storenya di Jalan Amir Machmud No. 2, Cimahi. 

Photo Credit: Ethica

Sabtu pekan kemarin saya bareng  beberapa blogger Bandung berkesempatan hadir di acara itu. Alhamdulillah, perjalanan yang saya lalui dengan ngangkot hari itu lancar pake banget, belum macet seperti biasanya. Padahal  biasanya kalau saya jalan ke Cimahi lebih sering ketemu macetnya dibanding lancar seperti waktu itu.Eh tapi waktu siang pulangnya sih udah mulai rame juga. 



Cimahi memang jadi kota yang sedang berkembang cukup pesat. Selain di kota kecil yang di benak saya identik dengan pabik-pabriknya juga ternyata menjadi pusat peruamhan dan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Makanya dalam sambutannya hari itu Asep Mulyadi yang merupakan pemilik Ethica Fashion membidik kota ini dengan membuka tokonya di sini.
Photo Credit: Armita Fibri
Di acara yang juga dihadiri oleh walikota non aktif Atty Suharti, Ethica menjalin kemitraan dengan para pelaku UKM di cimahi. Kalau datang ke toko di Cimahi ini, kita bukan hanya akan menjumpai deretan koleksi pakaian muslim saja, tapi juga aneka produk seperti keripik, sosis dan penganan lainnya. Makanya dalam acarahari itu juga yang menyajikan fashion show koleksi dari Ethica, beberapa model dari Azzura yang tampil turut mempromosikan produk UKM seperti Zanana, keripik pisang yang saat ini juga pasarannya suah merambah swalayan-swalayan yang ada di Bandung.


Dalam sambutannya, Asep Mulyadi mengatakan kalau visi yang dimiliki oleh Ethica dengan Cimahi ternyata mempunyai kesamaan dalam soal nilai etika. Cimahi yang memiliki misi mengembangkan produk kreatif juga memiliki visi sebagai kota cerdas dan bernilai.
Photo Credit: Armita Fbri
Brand yang koleksi pakaiannya digunakan oleh para aktris dan aktor Tukang Bubur naik haji ini memiliki koleksi pakaian yang colorful karena memang menyasar anak-anak muda sebagai konsumen utamanya. Mahal? Jangan khawatir. Ethica mempuyai segmen harga pakaian yang bervariasi, mulai Rp. 100.000 s/d Rp. 2.000.000-an. Worth it kan? 

Ngomong soal nuansa warna yang colorful ini bukan cuma monopoli anak muda saja, lho. Secara medis pun ternyata ada hubungannya. Mereka yang senang mengenakan pakaian berwarna cerah cenderung memiliki tubuh yang sehat, dan emosi/mood yang lebih baik. Coba cek koleksi pakaian atau warna 'kebangsaan' sehari-harinya. Kira-kira sesuai mood, ga? Kalau saya sih merasa gitu. Pilihan warna yang dikenakan memberikan suasana yang berbeda.

Selain penampilan parade busana muslimah, acara hari itu juga diramaikan dengan festival nasyid yang diikuti oleh para pelajar sekota Cimahi dan meet and greet bersama brand Ambassador Ethica, Ririn Dwi Aryani. Sayang euy, sesi yang terakhir ini saya skip karena ada keperluan lain yang bikin saya harus segera pulang.

Sukses ya, buat Ethica. Semoga terus menginspirasi para muslimah dalam berpakaian dan jadi mitra yang terus mendukung para pelaku UKM di Cimahi.

Tentang Perempuan dan Apresiasi Diri

Jumat, 02 Desember 2016
Akhir pekan kemarin saya menghadiri sebuah acara yang digelar di Bandung.  Para perempuan yang inspiratif dari seluruh Indonesia dengan berbagai latar hadir di acara ini. Saya terkesan dengan sekelumit perjalanan hidup yang sempat mereka ceritakan setelah menerima emmm.. apa ya? semacam piala gitu lah, simbol award yan layak mereka terima atas pencapaiannya.

Selesai acara ini semua undangan yang hadir dapat goodie bag tuh. Isinya  adalah  produk-produk sponsor, ada makanan, aksesoris, sampai perawatan rambut. Yang bikin saya tertarik dari isi goodie bag itu justru 2 edisi tabloid yang disisipkan. Udah lama juga ga baca  tabloid nih. Koran juga ding. Palingan baca  1-2 berita  dengan metode scanning (baca: selintas).  Beda kalau baca tabloid, saya suka pengen baca artikel sampai tuntas dan berlanjut ke artikel berikutnya.  

Di tabloid yang saya dapatkan malam itu ada fitur menarik tentang wanita dan apresiasi. Yeah this is so me. Saya lagi butuh baca itu dan lumayan bikin saya tertegun dan merenung. Gimana dengan saya, ya? Sudahkah? Berlebih? atau masih kurang?  Ternyata masih kurang... Mungkin itu juga yang bikin penyakit ga pedenya kadang-kadang kumat.

Penasaran? Kalem saya share di sini, ya.  Bukan curcol baper, ya chit chat gitu deh. Anggap aja kita (saya sama kamu) adalah penpal yang lagi ngobrol lewat tulisan. Nanti jangan lupa berkomentar juga, ya.

Jadi gini lho. 
Dari riset yang dilakukan terhadap 100 responden perempuan  pada akhir bulan oktober kemarin (30 tahun  ke atas dengan 1 anak) didapatkan hasil seperti ini: 69%  Perempuan Tak Pernah Apresiasi Prestasinya. 

Wow, persentase yang lumayan sekali. Kurang lebih 7 dari 10 perempuan gitu deh. Beberapa sub hasil diantaranya adalah; 1 dari 4  orang perempuan ga punya waktu buat dirinya sendiri alias me time, 6 dari 10 perempuan menempatkan kesehatan diri sendiri di bawah suami dan anak-anak-anak serta 2% saja (dari 100 responden itu) yang melakukan medical check up secara rutin (mencakup pap smear, mamografi, pemeriksaan darah dan olahraga teratur). Nah saya termasuk yang 98%nya nih. Eh sebentar, yang masih lajang kayak saya harus ga sih melakukan pap smear dan mamografi? :)  Pemeriksaan darah? Dalam waktu dekat iya,  pernah. Itu pun kepaksa karena disuruh dokter yang penasaran dengan alergi saya hehehe. Olahraga? Iya sih ini juga udah lama enggak. Rencananya pengen nge-yoga rutin gitu. Eh tapi ada aja alasannya skip lagi dan lagi *banyak execuse ya*

Kalau saya ceritain detail riset ini bakal banyak banget, dan bakal jadi kayak cerbung alias cerita bersambung. Lanjut aja terkait dengan apresiasi saya mau bahas sub bagian relasi atau peers (teman) aja.

Sebagai generasi X yang hidup di jaman serba digital saya termasuk yang melek medsos. Minimal yang mainstream kayak FB, twitter dan IG (males maen snapchat, ribet :D). Dan itu sesuai hasil survei juga. 99% responden perempuan  punya akun medsos. Dari 10 perempuan ternyata 8 orang diantaranya pernah melakukan humblebragging di medsos. Errr, secara tidak sadar  mungkin saya pernah melakukan ini juga. Ok skip aja ya yang ini mah, ya.

Masih terkait dengan pertemanan, 8 dari 10 wanita ternyata pernah:
  • Meminta pendapat ketika akan membeli sesuatu. Oke, Checked. 
  • Berpakaian bagus/menarik dan berdandan cantik ketika berkumpul bersama teman. Oke, checked juga. Sedikit cerita ya  kalau dandan kece baik  pakaian atau minimal bedak dan lipen gitu buat saya bukan buat tepe-tepe , tapi lebih buat merasa nyaman dengan diri sendiri dan pede aja.  Apalagi kalau datang ke acara yang pake dress code, meski ga jago dandan ya paling enggak berasa panglingan dikit. 
  • Menunjukan kemampuan diri sendiri seperti memasak atau menyulam. Nah kalau masak saya ga jago banget. Tapi kalau bikin nasgor ala-ala bisa lah. Dan kata bapak saya nasgor ala saya minus msg gitu enak lho. Lah kok malah jadi promosi?  Saya juga punya akun instagram khusus tentang origami, hobi baru saya. Boleh ya difollow @ulik_origami. Sekalian usaha nambah followers hahaha...
bela-belain dandan dengan dresscode acara :)
7 dari 10 wanita ternyata:
  • Menunjukkan sifat humoris/dewasa dan kestabilan emosi. Hmmm gimana ya? Kalian aja deh yang nilai.
  • Membeli tas, sepatu atau baju baru. Ini  masuk juga, meski ga freak amat.
  • Mempercanntik diri dengan melakukan perawatan di salon atu klinik.  Oke, ini checked. Udah setahun lebih saya menjalani ini meski sering diomelin dokter yang katanya saya masih aja suka cheating *duh maaf dok*  Terus saya keingetan juga belum smoothing rambut *perlu ya dibahas?*
  • Melakukan tindakan yang baik dan berguna untuk orang lain.Kalau yang ini saya yakin semua orang pernah, membantu menyebrangkan orang tua, mengambilkan barang orang lain yang jatuh (walau ga kenal) dan sebagainya. 
Bersikap baik ga harus melulu sama orang lain aja, lho. Terkait dengan apresiasi diri, kita juga perlu bersikap baik pada diri sendiri. Menurut Psikolog Tjandra, M.Psi  di artikelnya itu mengapresiasi diri adalah proses untuk menghargai dan bersyukur atas diri sendiri.  Termasuk di dalamnya bersyukur atas tubuh yang bisa berfungsi dengan baik, bakat yang dimiliki, kelebihan dan bahkan kekurangan yang ada  pada diri kita.  
Seseorang yang mengapresiasi dirinya akan menghargai tubuhnya dengan bentuk apapun dan ukuran yang sudah diberi Tuhan. Alih-alih memikirkan kekurangan yang ada, ia akan lebih fokus bersyukur dengan setiap pencapaian yang diraih. 
Saya jadi ingat ketika salah satu penerima penghargaan sosok perempuan yang menginspirasi itu ternyata sedang mengalami bell palsy (suatu keadaan otot wajah yang mengalami kelumpuhan/kelemahan pada satu sisi). Saya gak akan mudeng kalau beliau ga cerita malam itu lho. See? masih banyak hal penting yang dipikirkan daripada meratapi nasib.

Mengapresiasi diri juga bisa dilakukan dengan hal kecil. Ternyata nih masih menurut Psikolog M. Tjandra di artikel yang saya baca, membuat kue dengan tulisan "Untuk Ibu luar biasa yang pernah hidup di dunia"  itu juga merupakan bentuk apresiasi diri.

Jadi ga usah nunggu pengakuan dari orang lain. Bukan berarti narsis. Gimana kalau justru pengakuan dari orang lain itu ga datang dan bikin kita jadi merasa bersalah karena merasa belum maksimal?   Kalau saya kadang sambil ngaca  suka ngomong sama diri sendiri, "Hey saya ga jelek kok, manis juga" hahaha..,  *meski kalau senyum yang memesona kayak cover majalah gitu susah rasanya*

Lalu gimana harusnya kita menghargai diri sendiri?  Nih saya simpulkan dalam beberapa poin ya.

Mulai dari hal yang sederhana. 

Paling gampang ya itu tadi bersyukur bisa melakukan tugas keseharian kita.

Positif thinking

Jangan keras dengan diri sendiri. Bahkan ketika bisa memasak makanan  baru  walau resepnya dapet nyontek. Intinya berhenti mengritik diri sendiri

Berempati dengan kelemahan diri sendiri. 

Ayolah, nobody perfect. Kalau kita bisa memaklumi kelemahan orang lain kenapa harus  begitu keras dengan diri sendiri? Ini sebenarnya PR juga buat saya sih

Berikan diri sendiri hadiah. 

Ah ini juga termasuk cara mengapreasiasi diri. Misalnya ketika sebuah pekerjaan bisa dieksekusi sebelum deadline, boleh dong merayakannya. Ga usah mewah-mewah sampai berlibur. Me time ke salon buat hair spa, pedi meni, melupakan diet dengan ngopi cantik di  kafe atau belanja online boleh juga, tuh. Ada momen tertentu yang bisa kita manfaatkan. Siapa coba yang ga ngiler kalau dirayu dengan promo diskon seperti di akhir tahun kayak gini. 


Tapi.....
Jangan sampai apresiasi diri yang kita lakukan jadi lebay alias kelewat batas. Apa-apa juga yang berlebihan mah tetep ga baik.  Soal me time misalnya, ya lakukan pada saat yang tepat. Kan ga mungkin juga mau enjoy baca buku, namatin koleksi dvd yang belum khatam atau nge-mall ketika perkerjaan di rumah belum selesai, atau nih belanja yang kalap saampai bikin pos lain terambil jatahnya. Intinya apresiasi diri bukan merupakan wujud memanjakan diri secara berlebihan atau kelewat narsis. Hal-hal yang sifatnya materi sebenarnya cuma sebagian saja dari cara kita untuk mengapresiasi diri.  Tetep ya yang utama adalah dengan mengubah pola pikir kita dan jangan larut dalam perasaan bersalah atau menyalahkan diri sendiri. Bukan cuma kita aja yang butuh apreasiasi diri sendiri. Orang-orang lain di sekeliling kita (teman, suami dan keluarga) juga membutuhkan apresiasi dirinya sendiri. Setuju, kan?