Top Social

Catatan Efi

Bring world into Words

The Autopsy of Jane Doe, Tentang Analisa Anatomi Tubuh dan Teror dari Jenazah

Kamis, 25 Mei 2017
Ada yang masih ingat lagunya Frente yang judulnya Open Up Your Heart and Let The Sun Shine In? Saya mengenal lagu ini sekitar tahun 1996-1997an. Lagi jaman boomingnya lagu alternatif dengan balutan musik yang  lebih nge-pop. Lebih enak didengar walau sebagian besar diusung dengan aliran cadas. 

Band macam Collective Soul atau Frente adalah contoh band musik alternatif-an yang masih easy listening, ramah di telinga buat saya. Makanya waktu keluar album kompilasi Saturday Morning Cartoon Greatest Hits saya langung beli. Salah satu lagu yang di dalamnya saya sukai  ya  lagunya Frente itu tadi. Yang jadi OSTnya Flinstone itu lho. Lagunya catchy, ceria dan pas buat meninabobokan anak-anak.
foto: http://www.chicagofilmfestival.com/film/the-autopsy-of-jane-doe/

Tapi waktu nonton film The Autopsy of Jane Doe, lagu lawasnya Frente itu punya kesan lain. Horor. Saya jadi keingetan lagu Abdi teh Gaduh Boneka yang rasanya berubah  terasa menyeramkan setelah nonton film Danur  beberapa waktu yang lalu.

Jadi  begini ceritanya. Film The Autopsy of Jane Doe bercerita tentang dua ahli otopsi  ayah dan anak, yaitu Tommy (Brian Cox) dan anaknya Austin Tilde (Emile Hircsh) yang ditugasi oleh Sherif Sheldon (Michael McElhatton) untuk segera melakukan otopsi pada jenazah seorang wanita muda (Olwen Catherine Kelly). Tanpa ada informasi secuil pun tentang jenazah ini membuat Sheldon memberi nama sementara pada jenazah ini Jane Doe.

Austin, remaja pintar  dengan dandanan potongan jadul ala remaja 80an, terpaksa memundurkan rencana kencannya dengan sang kekasih karena kepolisian membutuhkan segera informasi penyebab kematian  Jane Doe dan misteri di baliknya. Maka dimulailah operasi pembedahan terhadap Jane Doe. Beberapa temuan seperti serpihan gambut yang ditemukan pada kuku tangan, kaki dan rambut, luka patahan pada pergelangan kaki, warna mata, lidah yang terpotong, pinggang yang terlalu kecil sampai membongkar organ tubuh tampak tidak biasa. Kejanggalan demi kejanggalan yang ditemukan membuat kedua ayah anak yang hmmm.. mungkin bisa saya sebut petugas forensik merasa ada yang aneh dengan jenazah Jane Doe ini.

Entah karena setingan film yang menggambarkan pembedahan mayat atau seting film yang  terasa seperti sedang membongkar torso (itu lho boneka peraga organ tubuh) membuat saya kuat bertahan terus menatapi layar  selama 86 menit film ini diputar.  Saya pikir yang jadi Jane Doe ini cuma boneka saja. Soalnya make upnya sempurna banget  seperti mayat kaku. Tidak ada satu pun ada adegan yang saya lihat menceritakan dia bergerak atau ngomong barang sepatah kata. 

Analisa Jane Doe  meninggal  kehabisan nafas karena kebakaran dipatahkan setelah ditemukan luka pada bagian tubuh lainnya. Artinya, Jane Doe sudah meninggal sebelum kebakaran terjadi. Saya sempat  mengira Jane Doe ini disusupi semacam alien ketika ada adegan lalat keluar dari hidungnya serta pengamatan dari mikroskop seolah-olah Jane Doe ini masih hidup.Tapi ternyata bukan.

Beberapa hasil temuan dicatat dengan baik oleh Austin di papan dengan menggunakan kapur tulis. Ini mengingatkan saya dengan pelajaran biologi jaman SMA dulu. Pelajaran tentang anatomi tubuh baik hewan atau manusia terasa ngejelimet. Salah satu alasan kenapa saya ga suka pelajara eksak, walau untuk Biologi lolos dari corengan warna merah di raport  hahaha.... Ih malah curhat.

Walau  sekitar 90%  film ini  bercerita adegan di dalam ruang otopsi, saya tidak merasakan kejenuhan mengikuti dialog antara bapak dan anak yang menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi. Yang tidak suka pelajaran biologi kalau nonton film ini mungkin sedikit banyak akan membuat  rasa penasaran ngulik jadi bertambah. Selama ini kan, kebanyakan teori tapi untuk aplikasinya masih jarang. Jadi mahasiswa kedokteran membutuhkan nyali gede ngoprek mayat, nah kalau cuma nonton aja mah massih bisa diakali. Kalau ga tega atau ngeri tinggal ngintip aja dari sela-sela jari.

Teror dari jenazah Jane Doe mulai terasa ketika gelombng radio berpindah dengan sendirinya, lalu berhenti ketika memutar lagu Open Up Your Heart and Let The Sun Shine. Aslinya, saya jadi sebel sama lagu itu karena jadi terasa mistis. Tanpa menggerakan tubuhnya, masih dengan mata terpejam, Jane Doe berhasil menebar teror  yang membuat Austin ingin cepat-cepat pulang. Selain gelombang radio yang berpindah dengan sendirinya, beberapa teror yang bikin mata terus melek mengikuti adegan film ini adalah listrik yang tiba-tiba mati dan hidup kembali, sinyal HP yang tiba-tiba hilang, darah yang merembes dari kulkas dan langkah-langkah kaki di luar ruangan.  

Mungkin aroma horor bakal lebih naik levelnya kalau Jane Done tiba-tiba bangun, atau tabir kain kafan berisi sandi yang dijejalkan di tubuh Jane Doe terungkap. Sayangnya, sang Sutradara Andr Vredal tidak mengeskplorasi lebih banyak untuk soal ini. Padahal masih ada lah sekitar 30 menit lagi durasi yang bisa ditambahkan untuk memperkuat sensasi horornya.

Ending filmnya rada ngeselin karena di luar harapan saya.  Bagi yang penasaran dengan film horor tapi merasa sedap-sedap ngeri, masih bisa lah nonton film ini tanpa menyisakan bayangan takut kalau dibanding nonton film horor lainnya. Setidaknya analisa tenteng anatomi tubuh, atau dugaan-dugaan soal insiden yang jejaknya biasa ditemukan dalam tubuh lumayan memberi pengetahuan buat penonton yang awam soal dunia medis atau sejenisnya.

Saya juga baru tahu kalau jenazah yang disimpan di kamar mayat kakinya dicanteli lonceng kecil. Ini salah satu cara untuk membedakan mana yang betul-betul sudah mati atau mati suri. Ya siapa tau kan hidup lagi.  Meski kalau nanti loncengnya bunyi bisa jadi bikin kaget dan takut. 

Walau dilabeli 21+ film ini tidak banyak mengumbar adegan vulgar. Mungkin karena banyak adegan membongkar  organ tubuh yang menjadikan film The Autopsy of Jane Doe ini dilabeli begitu. Kalau mau nonton film ini buruan deh, karena sepertinya nafasnya tidak akan terlalu lama bertahan wara wiri di layar bioskop.



Unboxing In The Box, Kasur Pegas Untuk Tidur Berkualitas

Selasa, 23 Mei 2017
Pernah mengalami cuma bisa tidur 2-3 jam semalam, ngantuknya sepanjang hari? Atau kalau bisa balas dendam, durasinya melebihi waktu tidur yang normal? Tadinya saya pikir cuma saya aja lho yang kalau kecapean malah jadi  susah tidur. Orang Sunda menyebutnya guling gasahan. Sudah bolak balik posisi tubuh, tetep aja susah meremnya.  Ya kalau punya niat begadang nonton bola (((nonton bola))) sih asik aja :D kalau enggak? Masa iya jadi ngeronda, sih?  

Kadang saat melek terpaksa begitu, saya ga bisa memanfaatkannya untuk sesuatu hal yang produktif. Mau melanjutkan pekerjaan yang tertunda atau sekadar membaca buku pun males. Pokoknya tersiksa deh,  terjaga malam-malam begitu tapi ga bisa tidur. Beda lho kalau memang menyengajakan untuk begadang. Itu sih, lain cerita. Susah tidur bisa membuat besok paginya saya malah ga bisa produktif. Loyo dan ngantuk,  ga bisa fokus mikir pula. Nyebelin, deh.

Sebetulnya selama ini kebanyakan dari kita (iya, saya sama kalian yang baca cerita ini) kadang suka jor-joran memforsir tenaga. Urusan cape nanti aja, dibawa tidur. Besok juga seger lagi.  Tapi  ternyata kenyataannya capenya ga selalu otomatis hilang setelah tidur. Kadang masih bersisa. Baru deh, saya ngeh (ke mana aja, neng?) kalau selama ini kualitas tidur bukan cuma soal waktu tapi juga kasur apa yang dipakai. 

Syukurlah sekarang sudah ada In The Box.
Kenapa? karena In The Box adalah brand spring bed yang memahami masalah itu tadi dengan menghadirkan solusinya.  Bukan hanya teknologi kasur yang secara ortopedi megikuti postur tubuh selama tidur tapi juga desainnya yang unik. Idealnya posisi tidur yang baik itu terlentang. Faktanya, saya lebih suka tidur dengan posisi nyamping. Atau ada juga nih yang tidurnya motah alias ga bisa diem. Posisi awal tidur sama bangun suka beda. Jauh pula.  Salah posisi tidur biasanya paling sering membuat kita mengeluh nyeri leher lah pegel pinggang, atau pegal-pegal di bagian tubuh lainnya. Hayo, ada yang ngerasa? 

Terus selama ini tidurnya pake kasur apa? Kasur kapuk? Busa? atau mungkin bulu angsa gitu kayak di cerita-cerita fairy tale  gitu? Kebanyakan sih dari kita kasurnya pake yang busa, ya. Kalau selama ini kita cuma mengenal matras atau kasur busa yang bisa dilipat, maka cuma In The Box, spring bed atau kasur pegas  yang bisa begitu. Ga percaya? Nih lihat video unboxingnya.

Keren, kan?
Bersama enak-emak dari KEB saya juga menyimak testimoni dari Mbak Dila, pengguna kasur ini yang sudah merasakan manfaat dari Bed In The Box ini. Mbak Dila bercerita pengalamannya setelah menggunakan kasur yang ternyata produksi lokal (Bandung) lho. Beliau merasakan tubuhnya lebih bugar, fit dan energik sepanjang hari. Waaah, asik. Saya jadi pengen punya juga.
sharing Mbak Dila setelah menggunakan Bed in the Box
Sebagian emak-emak KEB yang mengikuti games
Pertanyaan berikutnya yang pasti ditanyakan. Harganya gimana?
Ah, cincai. Enggak mahal, kok. Tersedia dalam berbagai ukuran, Bed In the Box ini affordable alias terjangkau. Asiknya lagi masih ada layanan purna jual yang dijamin sampai 10 tahun.  

sumber: inthebox.id
Perawatan kasur ini pun ga ribet. Selain tangguh menanggung beban kalau dipake loncat-loncatan (ya kan, kalau kasur berpegas begini sepertinya sudah suratan takdir diperlakukan seperti trampolin) oleh anak-anak,  kalau jadi korban diompoli anak-anak pun tidak usah membuat kita khawatir. Cukup disiram seperti biasa, dan jemur sampai kering. Setelahnya, In the Box tidak akan kehilangan kelenturan atau  warna kain yang memudar. 

udah cocok jadi modelnya, ga? :D

ajaib ya, ada kasur pegas bisaa masuk troli :D

Saat ini spring bed In The Box bisa dibeli secara online via laman resmi In The Box atau bisa juga didapatkan secara offline alias alias luring di  Hypermart yang ada di  seluruh Indonesia. Walau beratnya lumayan juga (sekitar 30-40 kg), dengan dukungan teknologi vacuum pocket spring bed, menjadikan kemasannya praktis dan ekonomis. So,  proses pengiriman kasur in the box jadi  lebih mudah dan murah. 

Nah, yang selama ini masih galau dan bingung mau mengganti kasurnya dengan merk apa, sudah tahu dong, ya. Spring Bed In the Box ini jawabannya.

Foto: Liswati Pertiwi

Film Ziarah, Masa Lalu Bukan Hanya Tentang Romansa

Minggu, 21 Mei 2017
Kapan terakhir kali nyekar?   Biasanya jelang bulan puasa seperti sekarang komplek pemakaman sudah ramai dengan pengunjung yang nyekar ke makam sahabat atau keluarganya.  Tapi bagaimana kalau makam yang akan kita ziarahi itu entah di mana?

Seperti itulah pengalaman Mbah Sri (Ponco Sutiyem)  yang terpisah dari suaminya sejak terjadi agresi militer Belanda kedua. Sesaat sebelum berpisah,  suaminya Prawiro Sahid mengamanahi untuk tidak mencarinya jika dirinya tidak kembali lagi.

Bagi Mbah Sri,  persoalan yang muncul puluhan silam kemudian bukanlah soal keberadaan suaminya apakah masih hidup atau tidak.  Mbah Sri hanya ingin mengetahui di mana makam suaminya. Satu dari sekian pahlawan tanpa nama yang mencari pusaranya seperti mencari jarum diantara timbunan jerami.

Berbekal berbagai potongan informasi, Mbah Sri nekat menempuh perjalanan panjang tanpa bekal yang mendukung.  Kalau jeli memerhatikan film sepanjang 87 menit ini,  Mbah Sri  tidak membawa pakaian juga (mungkin)  uang yang cukup selama berpergian. 

Sesungguhnya kalau mau,  Mbah Sri bisa meminta tolong cucunya untuk menemani dirinya pergi mencari makam suami.  Mungkin karena sudah uzur juga, Mbah Sri tidak terpikirkan soal itu.  Sementara sang cucu selain bingung mengejar Si Mbah yang memghilang,  ia juga cukup dibuat pusing dengan rencana pernikahan bersama kekasihnya.  Alih-alih membantu melacak keberadaan nenek mertua, sang kekasih malah banyak meminta ini itu untuk mengisi rumah yang fondasinya saja belum ditanam.

Walau bergaya dokumenter dan indie,  film besutan BW Purba Negara ini menuai apresiasi dari dalam dan luar negeri. Selain terpilih sebagai film terbaik pilihan juri dalam ajang Asean International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017, Ziarah juga menyabet Skenario terbaik di ajang yang sama juga film terbaik di festival film Salamindanaw 2016 di Filipina.

Mengambil latar kehidupan masyarakat desa di Jawa yang masih sangat tradisional, film Ziarah juga mengingatkan saya dengan program pemerintah yang pernah populer di tahun 80an. Ada yang masih inget jargon ABRI (sebelum sekarang dikenal TNI)  Masuk Desa? Salah satu upaya pemerintah dalam percepatan pembangunan dengan membaurkan unsur tentara dengan penduduk desa malah meninggalkan trauma bagi penduduk lainnya.

Di mata mereka ada dua versi tentara seperti kutub magnet yang bertolak belakang. Jika almarhum Prawiro Sahid dikenang karena jasa baiknya sebagai pejuang kemerdekaan di tahun 45, hal berbeda mereka rasakan ketika pembangunan melibatkan tentara malah menciptakan penderitaan.  Entah untuk alasan apa,  seorang penduduk desa di film ini curhat dipaksa meninggalkan rumah dan pasrah menyaksikan desanya berubah menjadi danau.  Gaya tutur yang jauh dari kesan akting para pemeran (kecuali Hanung Bramantyo sebagai cameo dengan logat jawa kentalnya)  membuat saya penasaran apakah kasus inj betul-betul terjadi atau cuma fiksi semata.

Selama menyaksikan film ini juga saya merasa sosok Mbah Sri mewakili gambaran orangtua di Jawa yang masih kental dengan budaya kejawen dan mistis.  Bukan hanya keris milik Prawiro Sahid yang jadi bekal Mbah Sri melacak pusara suaminya saja, ada obrolan penduduk desa yang menceritakan pejuang 45an yang sakti walau ditembak Belanda. Salah satu guyonan yang mempertanyakan kenapa Pak Sahid tidak menuntun saja jip rampasannya menuju tempat rapat sukses membuat saya tertawa, sekaligus mencairkan konsentrasi mengikuti adegan demi adegan film.

Film Ziarah memang termasuk film nasional yang keluar dari pakem. Selain alur film,  gaya akting para pemeran atau sinematografinya yang sederhana, Ziarah menawarkan harapan bagi penggiat film indie atau sineas muda, kalau film sederhana bukan saja bisa berjaya di ajang festival tapi juga bisa menembus jajaran jadwal tayang di bioskop.  Banyak hal menarik yang bisa kita dapatkan dari film ini.

Kalau saja  ada romantisme masa lalu Mbah Sri di masa muda,  mungkin bisa membuat saya berurai air mata dibuatnya.

Ngomong-ngomong, sudah berziarah belum?

Fiberkid, Solusi Minuman Enak dan Alami Untuk kebutuhan Serat Harian Anak

Jumat, 12 Mei 2017
Masalah umum yang sering dihadapi oleh para ibu soal kebiasaan makan anak adalah susah makan. Sebagian besar dari anak-anak tidak suka untuk melahap  buah-buahan dan sayuran.  Dulu juga waktu kecil saya termasuk yang rada susah makan buah dan sayur. 

Lupa juga mulai kapan saya jadi penyuka buah dan sayur. Walau sekarang pun sebenarnya konsumsi buah dan sayurannya ga rutin dengan porsi yang disarankan (rata-rata 30 gram per hari). Kecil?  Ga juga.  Sebagai ilustrasi,  mengunyah apel 1-2 butir per hari belum bisa mencukupi kebutuhan serat harian. Nah,  lho.

Tapi  kalau ada kesempatan, ga akan deh saya melewatkan buat mengonsumsi buah/sayur. Salad adalah menu favorit saya saban menemukannya. Kadang dalam waktu tertentu saya bakal beli buah-buahan di tukang buah potong  kalau dirasa sudah kurang banget konsumsi seratnya.
foto: pribadi
Kurangnya konsumsi serat yang berasal dari buah dan sayur bukan masalah orang dewasa saja. Pun begitu dengan anak-anak. Kalau dari kecil saja sukar dibiasakan, udah gedenya bakalan makin susah untuk menjadi kebiasaan. Faktanya nih,  9 dari 10 anak memang mengalami kekurangan serat.  Padahal asupan serat yang bersumber dari buah/sayuran bukan cuma mengatasi soal sembelit saja.

Jika kebutuhan ini tidak tercukupi bukan saja keluhan susah BAB yang terjadi tapi juga bisa menurunkan  kekebalan tubuh dan menyebabkan moody  pada anak. Nah, surprise, kan?  Sama dong dengan saya :) Selama ini sepertinya kebanyakan dari kita mengidentikan serat sebagai solusi untuk mengatasi masalah BAB dan kesehatan pencernaan saja. Padahal banyaaak sekali benefit yang bisa kita dapatkan kalau kebutuhan seratnya tercukupi.

Dulu saya mati-matian banyakin  makan buah dan sayur sebenarnya dilatari keinginan untuk menurunkan berat badan dan mengatasi sembelit dan pengin langsing huehehe.  Tapi  semakin ke sini semakin banyak tau pentingnya serat pangan. Selain itu serat juga ternyata mendukung proses tumbuh kembang pada anak-anak.

Pada hari jumat, 5 Mei 2017  saya bersama Emak-emak Blogger  menghadiri acara launching Fiberkid di Veranda Hotel. Hadir dalam acara itu sebagai nara sumber dokter spesialis anak, dr.Herbowo A.F Soetomenggolo Sp.A,   Yohana Astri Gumelar, selaku direktur utama PT Nugra Kasera produsen Fiberkid, Felicia Kumala (Cici Panda),  artis/presenter tv serta seorang blogger, Atika Nurkustanti.

credit: Fiberkid
Dalam paparannya, dr Herbowo menyampaikan  peran serat untuk kesehatan  usus.  Diantaranya adalah untuk membantu mengendalikan kadar gula dalam darah yang bisa mencegah timbulnya obesitas pada anak dan  menurunkan konsentrasi  kolesterol. 
foto: pribadi
Bukan itu saja, lho. Serat juga jadi bagian dari gizi dimana mendukung 60% proses  tumbuh kembang pada anak.  Kecukupan  gizi  pada anak bukan hanya soal banyak sedikitnya konsumsi protein berupa daging atau telur saja atau susu tapi juga serat yang terdapat pada sayuran dan buah-buahan itu tadi.

Yes, jadi  faktor internal seperti unsur genetik  yang mendukung proses tumbuh kembang pada anak seperti perkembangan motorik atau kecerdasan sebenarnya hanya sebesar 40% saja.  Sisanya  faktor eksternal yang 60% tadi mempunyai pengaruh lebih besar bagi perkembangan anak. Hmmm well note. Kabar bagus buat saya yang pengin memperbaiki keturunan. Bisa dong nanti saya punya anak yang posturnya lebih tinggi dan kecerdasannya lebih baik dari saya? Hehehe... Itu mah mimpi semua orang kan, ya.

Eh iya, tadi sayang bilang kan kalau serat ini ada hubungannya dengan mood pada anak/ Kok bisa, ya? Gimana ceritanya?

Masih dari paparan yang disampaikan oleh dr Herbowo, hari itu saya baru tahu lho bila kebutuhan serat tidak terpenuhi  akan menyebabkan neuro transmitter  yang menghubungkan otak dan tubuh mengalami gangguan, alias susah nyambungnya. Makanya, bisa jadi lho kalau anak-anak lagi uring-uringan itu dikarenakan makanannya kurang serat.  
foto: pribadi
Tapi kaaan, anak-anak susah banget untuk makan buah-buahan atau sayuran? Gimana biar mereka suka?

Pengalaman di mana sang buah hatinya sukar sekali untuk makan makanan yang mengandung serat juga dialami oleh  Yohana Astri. Karena alasan ini pula mendorong dirinya membuat kreasi minuman  yang kaya serat yang sehat tapi juga bisa disukai anaknya. Karenanya, terciptalah Fiberkid  dengan varian rasa leci dan anggur.  Jika dulu Yohana Astri membuat minuman kaya serat bagi anak-anaknya, beliau juga dengan senang hati berbagi solusi kebutuhan serat  bagi anak-anak lainnya.
credit: Fiberkid
Yang menarik dari produk Fiberkid ini adalah rendahnya kandungan gula dan bebas pengawet,  lho.  Sebagai informasi, disamping  garam dan lemak, gula juga merupakan salah satu bahan makanan yang sebaiknya dibatasi agar tidak membahayakan kesehatan tubuh. Fiberkid juga sudah mengantongi sertifikat halal dan lolos uji  standar kualitas yang ditetapkan oleh BPOM. So, enggak usah merasa cemas lagi soal kandungan kesehatan dan kehalalannya dong, ya. 

Dalam setiap botolnya Fiberkid mengandung 13 gram serat (setara dengan 51% angka kecukupan gizi).  Walau meminumnya dua botol sehari bisa memenuhi kebutuhan serat, bukan berarti Fiberkid ini berfungsi sebagai pengganti sumber serat. Kebutuhan serat alami tetap saja harus dipenuhi dari makanan lainnya.  

Variasi makanan dari berbagai sumber  dan cara penyajian akan membantu mencukupi kebutuhan serat setiap hari bagi tubuh. Kalau pinter ngulik kan bisa tuh dibuat smoothie atau puding dengan bahan dasar buah. Apalagi kalau buatan rumah, lebih aman, karena kita tau persis apa saja sih komposisi bahan--bahan yang digunakan.
credit: Fiberkid
Saat ini Fiberkid bisa dibeli secara online melalui situs www.fiberkid.com, atau marketplace seperti tokopedia.com dan blibli.com atau secara offline di Farmers Market, Ranch Market dan Gelael. Mulai saat ini, kita bisa mengalihkan jajanan minuman anak ke Fiberkid. Gimmick kemasannya dalam botol yang colorfull pasti menarik bagi anak-anak, begitu juga dengan rasanya. 

Meski produk Fiberkid ini ditujukan untuk anak-anak, bagi orang dewasa pun oke aja kok mengonsumsi Fiberkid. Just incase lupa atau  kurang asupan serat hariannya, Fiberkid bisa jadi penolong pertama untuk melengkapi asupan serat harian.

credit: Fiberkid


Meize Hotel: Family Hotel yang Nyaman di Bandung

Senin, 08 Mei 2017
Saya masih kepengin cerita lagi tentang Bandung, nih.  Apalagi jelang weekend seperti sekarang ini yang durasinya lumayan lama. Plus  anak-anak kelas 3 SMP/SMA yang sudah beres dari kegiatan belajarnya dan memilih berlibur sambil nunggu kelulusan. Bisa dipastikan kepadatan Bandung semakin meningkat, karena semakin bertambahnya turis lokal dan asing yang jalan-jalan di Bandung.

Selain wisata kuliner, wisata belanja dan wisata alam, jangan lupakan juga dong di mana akan menginap. Seperti yang saya bilang tadi, kalau lagi musim liburan,  atau dekat-dekat dengan acara wisudaan kampus, biasanya tingkat hunian hotel bakal meningkat pesat. Saran saya jangan dibiasakan mepet booking kamar di hotel kalau tidak mau kelimpungan ga kebagian kamar.

Terus hotel apa yang kali ini mau saya rekomendasikan untuk menginap?

Nih, saya punya referensinya. Meize Hotel, yang beralamat di jalan Sumbawa no 7. Cuma berjarak 5 menit saja dari kawasan pusat perbelanjaaan BIP, 15 menit dari Stasiun Bandung dan untuk sampai ke pusat kota lainnya seperti Alun-alun atau pintu tol Pasteur pun tidak lebih dari setengah jam. Strategis dong, ya. 

Pekan lalu, saya mengajak adik saya, Pipit  untuk nginep di hotel berbintang 3 yang dominan dengan nuansa biru kuningnya.  Staf resepsionisnya yang ramah dengan segera melayani. Setelah memperlihatkan KTP (Meize Hotel punya kebijakan di mana pengunjung yang booking kamar harus berusia minimal 18 tahun), saya mengisi form beberapa data yang diperlukan. 

Saya mendapat kamar di lantai 5 dan memililh kamar dengan fasilitas tempat tidur twin. Kalau lebih suka tempat tidur  single yang besar juga bisa, kok. Saat check in, staf resepsionis akan menanyakan pilihan kamar yang akan digunakan. Apakah kita ingin memesan kamar smooking atau non smooking. Saya milih yang non smooking, dong.

Kamar yang kami tempati cukup mungil tapi masih leluasa untuk menyimpan barang bawaan. Walau tidak tersedia lemari, tapi di pojok kanan disediakan hangar  untuk menggantung pakaian agar tidak kusut. Kamar mandinya bersih, aliran airnya juga lancar (air hangat atau dingin untuk mandi).

Selain ada akses wi-fi, AC dan tv yang bisa mengakses siaran tv lokal dan asing, di kamar masih ada space  lumayan buat solat. Bisa deh berjamaah 2-3 orang, mah. Untuk penunjuk kabah pun sudah ada panah di dalam ruangan, jadi ga usah bingung lagi nanya operator atau naik ke Sky Floor untuk salat di musalanya, 





Kita bisa memilih untuk mendapat fasilitas sarapan atau tidak saat menginap di sini. Jika tanpa sarapan, charge yang dikenakan sekitar Rp. 297.500/malam (sudah termasuk pajak). Tapi kalau malas nyari sarapan di luar, tinggal membayar Rp. 343.400 /malam saja. Murah lah, ya. Apalagi menu sarapannya juga cukup variatif, mulai dari nasi perasmanan, salad, bubur ayam, sereal, sampai teh dan kopi.

Malam itu saya dan Pipit lumayan lapar, sementara di luar hujan cukup bikin mager alias malas gerak. Gimana dong? Eh untungnya ada layanan room service untuk mengganjal perut. Setelah milih-milih menu, akhirnya saya menghubungi line 0 untuk memesan soto ayam, mie tek tek kuah dan orange juice. Suka deh sama soto ayamnya. Seger banget, ditambah beberapa sendok sambalnya yang bisa menghangatkan perut pas hujan pula.

Eh tapi,  lihat mie tek tek pesanan Pipit, kok saya jadi ngiler juga, nih. Hihihi...  kapasitas perut saya udah maksimal tapi nyicip-nyicip dikit boleh, lah.  penampakan telur mata sapinya yang tersaji di mangkuk ittu bikin ngiler soalnya. Saya cicipi, rasanya enak dan gurihnya pas. Yang alergi atau ga tahan dengan rasa msg yang biasanya didapati dari mie instan ga usah cemas, deh. Mie tek tek ala Meize hotel ini enak dan ga giung (rasa gurih yang bikin enek  yang bisanya dirasakan dari makanan yang kebanyakan msg) seperti rasa mie instan biasa. Walau harganya cukup murah, porsi dan rasanya sepadan. Untuk ukuran makan di hotel segini mah worth it, alias cincai.

malam-malam lapar? kalem, ada layanan kamar yang siap melayani
Sebelum makan malam itu, saya menyempatkan diri juga mencoba layanan spa disana. Pas nelpon ke operator, saya ditawari dua pilihan. Mau turun ke bawah atau terapisnya yang nyamperin ke kamar? Berhubung saya memesan layanan Deep Tissue Massage, it's ok aja  layanan pijatnya di kamar. Ya udahlah, saya bilang sama terapisnya Teh Fitri, buat naik ke atas aja. Jadinya bisa menikmati pijatan sambil nonton tv hehehe.

Kalau untuk layanann spa sih, mau ga mau harus turun ke bawah, karena pasti basah dan belepotan dengan rempah-rempah yang digunakan. Sementara itu untuk layanan massage, waktu 90 menit berlalu tanpa terasa. Pijatan dimulai dari bahu sampai pergelangan kaki termasuk tangan juga.

Sambil pijatan gitu saya nanya ini itu sama Teh Fitri. Untunglah sebelum mesan dipijat, sayanya  belum makan. So, terhindar dari rasa tidak nyaman yang mungkin terjadi kalau sebelumnya  makan dulu. Berhubung dari ubun-ubun sampai telapak kaki semua anggota badan mendapat pijatan, rawan sekali sama pencernaan kalau jaraknya terlalu dekat.

Sebaliknya, kalau mau mandi tunggu jarak yang agak jauh setelah pijat. Atau malah sebaliknya mandi dulu sebelumnya. Mandi setelah pijatan enggak baik juga karena pori-pori kulit lagi terbuka lebar.
layanan spa dan reflexiologynya enakeun, suer!
Yang saya suka juga  dari layanan Deep Tissue Massage ini adalah pijatan yang didapatkan di kepala. Migren yang saya alami mabur, deh. Selain badan yang rasanya ringan juga kepala ga pusing-pusing lagi. Saya yang bawaannya suka tidur telat paling sering direcoki migren gitu soalnya. Kebiasaan baru tidur jam 11 malam, kadang membuat saya besok paginya merasa kliyengan.  Hmmm, sepertinya saya juga tertarik buat datang lagi ke sini nyobain layanan totok wajah, Meize Sampler atau spanya. Soal tarif cincai, lah. Walaupun merupakan lini dari layanan Meize Hotel, tarif yang dikenakan affordable alias terjangkau.  Ga percaya? Nih liat aja price listnya. Murah, kan?
price list spa dan refleksiologi di Meize Hotel
Ga harus jadi tamu menginap di Meize Hotel kalau cuma pengin mendapatkan layanan spa dan refleksiologi di sini. Kayak saya yang asli  tinggal di Bandung. Kapan pun mau, tinggal cus aja ke sini buat mendapatkan perawatan pijat atau spa di sini. Sejak jam 10 pagi sampai jam 11 malam bakal ada 4 terapis yang stand by dan siap melayani.  Ada  terapis laki-laki juga lho yang siap memberikan pelayanan pijat bagi customer laki-laki.
Besok paginya setelah mandi, saya naik satu tahapan menggunakan lift ke Sky Floor untuk menikmati sarapan.Menu sarapan yang disajikan di sini cukup variatif.  Lumayan banyak dan saya harus selektif memilih mau menyantap apa pagi itu. Ga akan muatlah di perut kalau saya cicipin semuanya.
Suasana Sky Floor tempat sarapan di Meize Hotel
Buat yang suka sarapan sehat, ada salad dan buah untuk appetizernya. Untuk makanan beratnya, ada bubur ayam yang rasanya enaaak, pake banget. Masih kurang? Kalem aja, masih ada nasi perasmanan, roti bakar, sereal, teh atau kopi yang bisa kita pilih untuk mengganjal perut.

Bagi yang membawa anak balita saat menginap, tersedia juga kursi bayi. Sehingga para mamah muda yang membawa anaknya sarapan di sini tetap bisa menyuapi para bocilnya tanpa harus kejar-kejaran nguber anak-anaknya buat nyuapin makan.
beberapa sajian sarapan di Meize Hotel
Untuk booking kamar di Meize, selainn reservasi lewat nomor telepon juga bisa booking online seperti traveloka, pegi-pegi, agoda, klikhotel,com atau booking.com.

Untuk mengetahuo fasilitas lainnya yang bisa didapatkan, silahkan kepoin  web, akun media sosial atau telpon aja ke Meize Hotel.

Diantosan di Bandung, ya.

Meize Hotel
Jalan Subawa No. 7 Bandung
Telp. 022-426 3688/426 1888
Website: http://www.meizehotel.com/
Facebook: https://web.facebook.com/meizehotel?fref=ts
Twitter: https://twitter.com/MeizeHotel
Instagram: @meizehotel 
Email:  contact@meizehotel.com 
Reservasi: @meizehotel.com

Cuanki Serayu: Kuliner di Bandung yang Wajib dicicipi

Minggu, 07 Mei 2017
Dulu saya suka ngeluh, kenapa sih Bandung selalu macet setiap akhir pekan, apalagi kalau akhir pekannya berdurasi rada panjang, alias long weekend. Macet, lama di jalan aja. 

Itu dulu. Sekarang? 
Ya sejujurnya masih gemes juga dengan kemacetan yang terjadi. Ga selalu weekend aja, sih. Tapi hari biasa juga, pada jam-jam tertentu lebih banyak waktu yang habis di jalan dibanding hitungan normal. Tapi kaaan...  ngeluh juga ga akan mengurai kemacetan begitu saja.  Merapalkan mantra sim salabim, abrakadabra atau apalah juga tetep aja tertahan. Ya, kan? Kecuali kalau ada pintu ke mana ajanya Dora Emon beneran bisa diwujudkan. Atau karpet terbang Aladin beneran bisa direalisasikan. Eh tapi gimana kalau hujan? Apa itu karpet ga bakalan lepek? hahaha... 
Cuanki Serayu yang selalu ramai
Ini judul sama opening kok ga sinkron, sih?
Nyambung atuh. Gini gini... Salah satu penyebab Bandung jadi macet salah satunya adalah wisata kulinernya yang ngangenin. Entah lah, sudah ada berapa ratusan lapak atau gerai makanan dari camilan sampai makanan berat yang ada di Bandung. Dari  kaki lima atau kedai sederhana yang legend,  sampai  resto menu lokalan, western dan franchise yang ada di Bandung. Rame melulu. Hawa Bandung yang kadang panas juga ga bikin surut hasrat lapar yang semakin menggelora. *tsaaah...lebay*

Nah, kalau disebut Cuanki, pasti familiar dong, ya. Tiap hari juga ada aja tuh mamang-mamang penjaja Cuanki yang wara-wiri lewat depan rumah. Dengan membayar 5.000 sampai 7.000 udah kenyang. Masih nanggung? Bisa rikues tambah mie instan sama Mamangya, biar kenyangnya poll. Ibu saya suka nyuruh tambah nasi. Tipikal para ibu kita banget, ya, muahaha.... Saya suka skip aja anjuran tambah nasinya.  Bukan sok diet gimana gitu, tapi karena emang bukan selera saya aja makan bakso dikasih nasi. Kalau dicampur juga jarang sekali. Pas lagi iseng mungkin, ya *apa coba?*

Ada nih, satu sajian Cuanki yang legendaris di Bandung. Cukup terkenal. Bahkan antriannya cukup mengular,  yaitu Cuanki Serayu.  Jangan niatin buat makan di sini sambil nongkrong sama temen. Kasian tuh yang nunggu meja kosong, karena perbandingan meja yang tersedia dengan pengunjung cukup jomplang. Ini pengalaman saya waktu datang ke sana pas jam-jamnya makan, sih. Mungkin kalau agak pagian ga sepadat begini.  
antrian yang mengular di Cuanki Serayu

Akhir April lalu, setelah beres acara arisan Ilmu di gedung BCCF yang beralamat di jalan Taman Cibeunying, saya barengan teman-teman KEB yang masih resah karena camilan pot luck belum sepenuhnya menuntaskan lapar sepakat buat melipir ke Cuanki Serayu. Kebetulan lagi jaraknya deket banget, jalan kaki 5 menit pun sampai kok. Tapi pas waktu itu Yasinta yang dijemput suaminya mengajak saya, Tian dan Marwah  numpang. Mayan, dong :D.  Lalu ada Ummi, Teh Ida, Nessa dan temannya  menyusul kemudian. Jadi beginilah penampakan antrian di sana. Warbiyasah, kan?

Selain Cuanki, ada juga batagor yang bisa dipesan. Tapi saya lagi pengen mesen Cuanki. Jadilah satu porsi Cuanki campur (Siomay, tahu putih, tahu goreng dan bakso)  saya pesan. Kalau mau rikues tahu putih dan siomay putih (yang ga digoreng) bisa juga. 
Cuanki putih
Seporsinya dikasih charge 17.000. Harganya 2-3 kali lipat dari porsi yang kita dapatkan dari tukang bakso Cuanki yang lewat depan rumah itu, sih. Tapi untuk ukuran harga wiskulan gitu worth it lah. Apalagi kalau mengingat Cuanki Serayu ini cukup legend.

Sama seperti makan mie bakso, untuk cuanki pun saya lebih suka dibening, ga pake kecap atau saus. Palingan cheating pake sambel, sambil berharap alarm jerawat saya lagi ga sensitif huehehe. Setidaknya sambel yang biasanya dipake buat bakso gini kan ga ada komposisi terasinya. So far ternyata kalau dikit aja, jerawat saya responnya ga seheboh makan makanan yang ada terasinya (dih malah cuhat).
Cuanki kuah bening kesukaan saya
Soal rasa?
Cukup, buat saya. Walau beberapa teman bilang rasa ikannya udah ga begitu kerasa kayak dulu, saya tetap bisa ngabisin. Entah karena  lagi segitunya lapar atau emang lidah saya ga musingin konsentrasi rasa ikan yang katanya berkurang. Satu porsi  bisa dihabiskan, menyiakan sedikit kuahnya aja. Bukan cuma saya aja yang ngerasa Cuankinya masih enak. Buktinya tuh,  pengunjung yang datang juga tetep banyak dan mereka kayaknya ga kapok dateng lagi. Palingan  buat cari posisi parkir atau sabar nunggu giliran dilayani aja kali, ya, yang menguji kesabaran pas datang ke sini.

Yang bikin saya amaze adalah posisi meja kasir di Cuanki Serayu ini. Soalnya setelah mendapat pesanan yang posisinya di pintu masuk, kita langsung bawa sendiri mangkoknya dan cari tempat duduk yang kosong. Kalau sudah selesai makan, barulah kita bayar ke kasir dan bilang pesan apa saja (ya kali ada yang nambah komposisi dari menu standar), apakah ngambil kerupuk, teh botol, air mineral (yang ada di meja) dan bayar buat berapa porsi. 
makan di dalam atau di luar? saya lebih suka di luar
Di mata saya, Cuanki Serayu sangat memercayai pengunjungnya. Padahal kalau ada yang punya pikiran ga bener, bisa aja si pegunjung (terutama yang kebagian makan di luar) langsung cus aja, ga  menghampiri kasir buat membayar.  Mudah-mudahan aja sih yang makan di sini pada jujur, ya.

posisi kasir yang ada di belakang, di samping tembok yang ada tulisan Serayu itu
Ya udah lah, pokoknya kalau mau kulineran ke Bandung ala-ala kaki lima yang enak dan merasakan sensasi makan cepet ga pake ngobrol lamaan, cus aja ke jalan Serayu, ya. Kalau dari jalan Riau (RE. Martadinata) tinggal nyebrang aja dari LB LIA, sekitar 100 meter sampai deh ke jalan Serayu. Yuk, ah makan cuanki lagi.