Top Social

Catatan Efi

Bring world into Words

Moon Cake Story: Harmonis Yang Manis dari Dua Dunia

Senin, 27 Maret 2017
Saya termasuk orang yang percaya kalau sesuatu yang terjadi pasti ada alasannya, termasuk kalau bertemu dengan seseorang. Bisa jadi salah satu atau masing-masing  akan saling mengubah alur lembaran cerita keseharian kita.  Misalnya saja seperti pertemuan antara David (Morgan Oey) dan Asih (Bunga Citra Lestari) dalaam film Moon Cake Story.  Diantara berbagai joki three in one yang mengacungkan tawaran pemilik mobil agar lolos dari aturan kawasan three in one, David seorang pengusaha yang hari itu melintas meminta supir pribadinya  Pak Tri (Dedy Sutomo) untuk menepikan mobil dan membukakan pintu untuk Asih,  bersama anaknya Bimo.  


David yang sebelumnya mengeluhkan rasa kue bulan yang dicicipi tidak seenak buatan mendiang ibu dan istrinya tidak sempat ngobrol banyak dengan Asih karena keburuh ada razia satpol yang menyebabkan Asih kabur. Merasa punya hutang karena belum membayar upah Asih joki cantik yang terlihat cerdas dengan kacamatanya itu, David berusaha keras mencari tahu alamat Asih yang ternyata tinggal di perkampungan. 

Pertemuan demi pertemuan di antara keduanya semakin intens. David yang semasa kecilnya pernah mengalamai situasi hidup yang sulit seperti keluarga Asih meminta Asih untuk merintis usaha membuat kue bulan dengan memberikan resep dan cetakan kue peninggalan  ibunya.  Bagi David - yang sangat memuja dua orang mendiang yang dicintainya itu - Asih yang sudah menjanda itu tidak pantas hidup di jalanan. Keberaradaan David yang sering berkunjung mengusik perhatian orang-orang di sekitarnya dengan berbagai respon. 

Adegan Teatrikal & Potret Sosial 
Kalau sudah pernah menonton film-fim arahan Garin Nugroho biasanya selalu ada benang merah yang bisa kita simpulkan. Selain beberapa adegan bergaya teatrikal, film Moon Cake Story masih menyajikan ciri khas Garin  berupa fenomena sosial  di sekitar kita yang diangkat dalam filmnya. Kemiskinan masyarakat di pinggiran  kota, perbedaan status sosial, dan toleransi disajikan dengan apik. Salah satu yang saya suka ketika David yang divonis terkena penyakit Alzheimer mulai sering lupa meminta Asih kembali berdoa untuk arwah ibu dan istrinya, Asih bersedia menemaninya. Sementara David khusyuk berdoa, Asih duduk di belakang memberi kesempatan bagi David untuk berdoa lagi.Ngomong-ngomong soal alzheimer, reaksi penyakit ini bukan  cuma mengikis ingatan penderitanya saja tapi juga mengancam sistem organ tubuh lainnya.

Pencuri Perhatian

Siapa yang mencuri perhatian saya di film ini, ya?  Menurut saya, semuanya bermain dengan total. Kemunculan Mbok Tun yang suka ngomel dengan suara cempreng khasnya mengingatkan watak dengan nama yang sama di film Guru Bangsa: Tjokroaminoto

Totalitas yang dimainkan oleh para pemeran pendukung membuat film ini terasa hidup, lengkap dengan derai tawa dan keharuan yang bisa dirasakan penonton.  Salah satunya adalah ketika Sekar yang mati-matian menolak cinta Mang Saswi yang berprofesi sebagai badut hiburan. Dalam satu adegan akhirnya bersedia melukiskan gambar hati di pipi Mang Saswi menggunakan lipstik kesayangan. Adegan ini lumayan bikin saya mewek, lho.

Filosofi Kue Bulan dan Meja Makan

Ditengah kekhawatiran Aline (Dominique Diyose), kakak angkat David dan Achin Suk  - yang entah siapanya David dalam keluarga -  mengkhawatirkan kondisi kesehatannya, David merasakan kenyamanan saat berkumpul bersama dengan Asih. Di sisi lain, Sekar (Melati Zein), adiknya Asih yang centil,  kurang suka dengan keberadaan David. Hanya Bimo  yang walaupun bandel bisa lekas akrab dengan David menghabiskan waktu bersama.  Bersama keluarga Asih, David merasakan kembali kehangat keluarga meski tinggal di pinggiran kota yang kumuh.

David yang umur hidupnya tidak akan lama lagi tidak memedulikan kesehatannya, sangat meresapi filosofi kue bulan. Baginya kue bulan adalah tanda orang diberinya sangat spesial, meski hubungannya dengan Asih tidak  jelas -  tidak ada ungkapan secara eksplisit semacam I love you dan sejenisnya itu. 

Yang tidak kalah menarik juga tentang pentingnya arti meja makan dalam sebuah rumah. Saya ikut merasakan kenelangsaan ketika  meja yang sekian lama dirindukan Asih sepeninggal suaminya hanya bertahan sesaat ketika muncul gerombolan yang merusak meja tersebut.  Sama halnya bagi David, meja bukan sekadar pasangan kursi sebagai perabotan rumah tangga, tapi juga sebagai tempat untuk makan, berkumpul dan berdoa bersama keluarga.  Buat kita mungkin yang namanya meja biasa saja, tapi tidak bagi Asih juga David. Meja itu punya arti yang sangat penting untuk mengeratkan ikatan emosi di antara keluarga. Beruntunglah kalau masih punya rutinitas makan bersama keluarga dengan melingkari meja makan dan berdoa sebelum bersantap. 

Sepanjang film berdurasi sekitar 94 potret keberagaman antara berbagai suku (Sunda, Betawi, Maluku dan Tionghoa), status sosial  dan perbedaan agama tetap  konsisten menggambarkan berartinya setiap orang dalam kehidupan. Seperti yang disampaikan oleh Pak RT,  jika kita adalah siapa-siapa bagi orang lain.  

Sayang sekali kalau melewatkan film bagus ini dalam daftar kunjungan ke bioskop.



Baracas: Ketika Para Cowok Sedang Pundung

Rabu, 22 Maret 2017
"Yanti, Jangan bergerak!"
Itu adalah salah satu kalimat yang epik dari film Baracas yang saya tonton Senin kemarin, 20 Maret 2017. Seorang anggota polisi yang ditugasi untuk menyelidiki keberadaan Baracas ini tergelitik untuk curcol jika dirinya juga pernah patah hati. Saking menjiwai profesinya,  seruan yang biasanya diucapkan ketika memburu pelaku tindak kejahatan pun terlontar saat memergoki Yanti berselingkuh.

Apakah membuat patah hati orang lain bisa dikategorikan sebagai tindak kejahatan,ya?

Ceritanya hari itu saya mendapat undangan screening film komedi Baracas bersama kru film yang juga dihadiri oleh walikota Bandung, Ridwan Kamil a.k.a Kang Emil. Sebelum penayangan film ini juga sempat digelar talk show dengan para kru film.

Performance sebelum pemayangan film Baracas

Talkshow dulu sebelum filmnya diputar

Film besutan Surayah Pidi Baiq ini menceritakan para cowok yang patah hati (diputuskan atau ditolak oleh para  gadis yang dicintainya). Mereka bersatu dalam sebuah kelompok bernama Baracas (Barisan Anti Cinta Asmara). Agus (Ringgo Agus Rahman)  sang founder Baracas sendiri patah hati ditolak Sarah (Tika Bravani), padahal Agus sudah berkorban begitu banyak untuk Sarah.

Keberadaan Baracas meski diklaim sebagai gerakan yang positif oleh Agus dan kawan-kawannya menyulut  aksi penolakan, terutama para kaum wanita (ibu-ibu dan para mantan yang bikin mereka patah hati ini).  Salah satu yang dibuat galau karena keberadaan Baracas ini adalah keluarganya Ajo (Ajun Perwira) yang keukeuh maksa bergabung dengan Baracas meski harus meninggalkan ibunya (Cut Mini) dan adik perempuannya yang sudah remaja gara-gara mergokin pacarnya (Stella) sedang bersama cowok lain.

Saat Ajo menghadapi sesi wawancara bersama tim panel Baracas, ia mendapat doktrin dari Agus, Budi (Budi Doremi) dan Deni (Edi Brokoli). Baracas hanya membenci pemudi. Kaum perempuan jika itu adalah ibu atau adik adalah pengecualian.

Saya nyengir asem ketika disebutkan sesuatu yang menyebalkan dan menyeramkan  versi Baracas adalah perempuan dengan menyebut contoh karakter hantu. Haaa, film-film hantu Indonesia yang nyeremin memang menghadirkan sosok hantu perempuan. Sebutlah itu Kuntilanak, Suster Ngesot, Suster Keramas sampai Tali Pocong Perawan. Aseeem deh :D  Coba kalau di barat kan ada sosok hantu berjenis kelamin laki-laki. Freddy Krueger atau Dracula misalnya. Eh tapi kalau tuyul gimana?  

Ajo, debutan Baracas ini merasa sudah bisa move on.  Ia juga didaulat jadi juru bicara Baracas saat diundang debat. Doktrin Baracas anti pemudi tidak menghalanginya untuk tetap bisa berkomunikasi dengan adik dan ibunya di rumah lewat handphone. Sialnya, celah komunikasi lewat handphone ini dimanfaatkan oleh Sarah dan para mantan untuk melakukan aksi adu domba.  Kalau boleh saya bilang sih ini mah adu domba genit.  Karena tidak mellibatkan pihak lain berbau kriminal untuk mengganggu ketenteraman para Baracas.

Walau ngaku-ngaku sok tegar, sok strong dan ga ada kata maaf untuk mahluk Tuhan yang berlabel perempuan, para pemuda yang tergabung di Baracas ini sesungguhnya tidak setangguh yang mereka klaim.  Apel pagi  yang ditujukan untuk menguatkan rasa ketidaksukaan pada kaum perempuan pun masih bisa terdistraksi ketika adu domba genit tadi satu persatu mengusik masing-masing dari mereka.

Dengan menampilkan latar jalan Asia Afrika dengan quote terkenalnya Pidi Baiq, mural di jalan Silwangi, lapangan Gasibu, Taman Balai Kota sampai Bukit Moko, sepanjang filmnya, Baracas  lebih fokus pada isu soal  patah hati dan konflik yang timbul.  Sentuhan nyundanya kurang dapet euy. Padahal ini juga bisa bikin film ini terasa makin kental dengan bodor sundanya.

Anyway,  selama mengikuti film ini,  laki-laki yang katanya lebih banyak menggunakan logikanya, bisa berubah jadi lebih sentimen dan perasa dari perempuan. Paling jelas kelihatan dari Budi dan anggota Baracas asal Medan yang menasbihkan Baracas sampai mati.

Di sisi lain  temannya Sarah sebagai seorang playgirl mengganggap masa bodoh dengan keberadaan Baracas karena masih ada laki-laki lain yang dimanfaatkan. Sepanjang pengamatan saya, karakter-karakter seperti itu memang ada. Heart breaker,  player,  baperan bisa kita temukan pada siapa saja, laki atau perempuan.  Kadarnya aja yang beda.   Ngomongin soal baperan atau masa bodoan ditinggal mantan, pernah   ngalamin salah satunya, ga?   Atau dua-duanya? Jawab dalam hati aja, deh.  Saya ga maksa cerita hahaha... 

Makanya,  kalau ada yang nyebelin, jahat atau label apalah yang bikin kita patah hati sesungguhnya ga ada urusan dengan yang namanya gender. itu juga yang dibilang oleh Ibunya Ajo. Ketika para pemuda di sini patah hati karena perempuan,  hal  berbeda ada pada sosok Pak RT  (Iyank Darmawan). Biar sudah beristri pun masih ganjen menggoda ibunya Ajo, meski ternyata Pak RT ini  lebih cocok jadi anggota ISTI (Ikatan Suami Takut Istri). 

Sinyal jaim para perempuan yang memprotes keberadaan Baracas, sesungguhnya bila disampaikan secara lugas sama saja dengan kata begini:  "Jangan pergi",  "Saya butuh kamu."

Laki-laki dan perempuan memang ditakdirkan untuk bersama dan saling melengkapi, kan? Segimana bencinya Baracas pada perempuan, mereka ga bakal ada di dunia kalau ga ada perempuan.  Kalau sekarang ada yang sedang marahan, udahlah baikan aja. Ga usah sok gengsi buat minta maaf duluan.

Resep Sukses Hidup dari Aa Gym

Selasa, 21 Maret 2017
Beberapa waktu yang lalu saya dan teman SMA saya, Millah datang ke acara reuni SMA yang menghadirkan alumni mulai dari angkatan 1986an. Ketika saya merasa tuiran dibanding dedek-dedek emesh yang berseragam abu putih, di reunian kali itu rasanya jadi rada mudaan (((mudaan))) karena banyak senior di atas saya yang datang. Duh Akang, Teteh hampura (maafin, ya).

Kalau boleh saya bilang reunian kemarin sepertinya adalah reunian yang unofficial. Mungkin koordinasi antara angkatan yang kurang solid membuat acara reunian saat itu hingar bingarnya kurang rame. Waktu saya upload foto-foto di sana aja banyak yang belum mudeng. Atau mungkin kurang ekstra event di run downnya selain tausiyah dan bazaar alumni? Entahlah. Tapi saat itu angkatan 97 yang datang cuma berlima cukup enjoy mengikuti acara, bertemu dengan beberapa guru yang mangajar dulu masih ada di sana dan nyimakin tausiyahnya dari Aa Gym.

Karena postingan saya di acara reunian udah kepanjangan, saya putuskan untuk menulis materi tausiyah Aa Gym secara terpisah. Biar ga terdistraksi juga dengan foto-foto sekolah yang penampakanya manglingi.
nyimak tausiyah tentang rahasia sukses menyikapi hidup


Dalam tausiyahnya, Aa Gym yang ketika saya masih SMA kelas 3 juga sudah pernah menyampaikan tausiyah di  kampus SMA 9 Negeri Bandung itu membahas topik rahasia sukses hidup.  Sukses hidup bukan cuma diukur dari capaia materi yang berhasil dihimpun atau status sosial saja lho. Tapi juga bagaimana kita menyikapi situasi yang mau tidak mau harus dihadapi. Begini nih...


Siap dengan yang cocok dan siap dengan yang tidak cocok dengan keinginan. 
Pernah kan menghadapi situasi yang ternyata enggak gue banget? Ya kok begini? Duh kok jadi gitu, ya? Moment-moment yang menghadirkan kekecewaan  kerap kita temui. Ga usah jauh-jauh deh. Misalnya saja kita pernah sebel ketika baju yang dibeli secara online aslinya beda sama denga yang ada di foto, tim jagoan kita kalah (ini saya banget hahaha), kalah lomba, mau pergi tiba-tiba hujan deras, dan kekecewaan lainnya. Lalu apa  dengan  ngomel-ngomel atau nangis kejer akan menyulap semua kenyataan itu jadi sesuai harapan kita? Kan enggak. Ambil saja hikmahnya. Untuk soal ini, surah Al Baqarah ayat 216 bisa jadi rujukan.
"....Boleh jadi kamu membenci  sesuatu, padahal itu baik bagimu.  Bisa juga kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."
Siapa tahu ketika kita akan pergi tidak jadi Allah mencegah dengan agar terlindung dari risiko kecelakaan, 

Kalau sudah terjadi harus rido

Akumulasi kekecewaan yang memuncak adalah tanda kita belum ikhlas dengan keputusan Allah.. Ingat pepatah ketika nasi sudah menjadi bubur? Daripada ngaduk-ngaduk bubur dengan muka asem an hati gondok, kenapa tidak kita tambahkan cakue, kerupuk, dan suiran daging ayam agar terasa nikmat?   Orang yang stres adalah orang yang tidak bisa menerima kenyataan yang sudah terjadi.  Masih inget ga ada calon bupati yang stres karena kalah dalam pemilihan? Sebenarnya yang bikin dia stres bukan kekalahannya itu tapi ia tidak siap dengan kenyataan jika takdirnya  bukan jadi bupati. Kekecewaan terhadap kenyataan sebenarnya bukan salah kenyataannya itu tapi sikap kita yang menghadapinya membuat keadaan terasa menyesakan.

Jangan mempersulit diri

Ketika situasi terasa sulit dan membuat kita rasanya ada di titik nadir, jangan lupa untuk berdoa: 
Allahumma yassir wala tu'assir
Semoga dengan melafalkan doa ini akan membuat proses yang kita jalani terasa lebih mudah untuk dilalui. Jika kita sudah mengusahakan dan hasilnya tidak sesuai harapan tugas kita sudah selesai. Allah menilai usaha kita lho, bukan hasilnya.

Evaluasi Diri

Ketika melihat  orang lain berhasil mengusahakan hal yang sama, sementara kita  gagal mewujudkannya kadang rasa cemburu akan menyelinap. Envy sih wajar. Tapi jangan sampai kita jadi kotor hati. Mendingkan lakukan evaluasi diri. Kira-kira apa yang salah, ya?  tahan emosi, da banyak-banyak lah beristighfar.  Aa Gym meningatkan kami saat itu kalau kebaikan apapun datang dari Allah,  sedangkan keburukan datang dari dosa sendiri. Mungkin kesalahan yang tidak disadari abru terasa ketika pikiran kita lebih tenang. Hei, ini juga cara Allah untuk membantu kita lebih hati-hati.   

Saya sempat ngikik waktu Aa Gym bercerita 'musibah' seseorang yang terkena kotoran burung merpati.  Di area yang luas, saat banyak orang di sana, dengan perhituangan kecepatan angin, sudut elevasi dan perhitungan ala fisika yang menggelikan kenapa kita  yang jadi target terkena e'e burung itu? Kenapa bukan orang lain.  Ah ini sih kita sendiri yang bisa menjawabnya.

Cukuplah Allah sebagai penolong

Mungkin kegagalan yang kita alami akibat kita measa jumawa, merasa kita jago dan lupa kalau apa yang kita usahakan itu tidak luput dari pertolongan Allah.  Saat gelisah dan  sedih melanda, segera ambil wudhu dan lakukan solat.  Kalau disimak, doa di antara dua sajud yang biasa kita baca setiap salat punya makna yang dahsyat lho.

Rabbighfirli : Tuhanku, ampuni aku
warhamni : sayangi aku
wajburni: tutuplah aib-aibku
warfa'nii: angkatlah derajatku
warzuqnii: berilah aku rejeki
wahdinii: berilah aku petunjuk
Wa'aafinii:sehatkan aku
wa'fuanii: maafkanlah aku

Kalau diresapi rasanya jleb banget, ya. Segala persoalan yang kita hadapi, kita adukan pada Allah suah disiapkan toolnya oleh Allah. Pernah ga sih mengalami saat sedang merasa hancur dan kacau, lalu mendirikan salat  ada sensasi rasa yang tidak bisa dijelaskan? Damai, psarah dan entah suasana apalagi yang kita rasakan. Makanya bener dong ya kalau  firman Allah di surah Al Baqarah, ayat 45 yang mengingatkan kita untuk menjadikan sabar dan solat sebagai senjata ketika kesulitan menghadang. Walau kenyataannya kita kadang merasa stok kesabaran itu sudah habis.

Ngomongin soal minta dicukupi, sesungguhnya yang paling nikmat itu adalah minta dicukupi rejeki, bukan harta yang berlimpah. Yang kaya belum tentu bisa menikmati rejekinya. Sebaliknya ketika pas butuh pas ada rejekinya akan membuat apa yang kita dapatkan jadi terasa nikmat dan membuat kita teringat untuk selalu bersyukur.

Benang merahnya adalah agar hidup yang kita jalani terasa ringan adalah bagaimana kita menyikapi kejadian yang tidak berkenan dengan harapan kita. Tidak selalu apa yang kita inginkan akan Allah kabulkan. Berdamai dengan kenyataan akan membuat segalanya terasa lebih mudah untuk dijalani. Hiks hiks... sesunguhnya untuk mewujudkan ini ga mudah, ya. Tapi kalau enggak mau menjalaninya, gimana dong? 
foto-foto dulu sebelum Aa Gym datang :)

Tentang Serial Drama Downton Abbey

Senin, 20 Maret 2017
Beberapa waktu lalu, sebelum trailernya Beauty and The  Beast wara-wiri di youtube, saya udah dibuat jatuh cinta  sama aktor asal Inggris Dan Stevens. Kalau di film Beauty and The Beast tampang gantengnya cuma muncul bentaran aja,  di serial Downton Abbey, Dan bisa nampang lebih lama, lho. Malah nih menurut saya Dan lebih ganteng di sini. Perannya sebagai Mathew Crawley juga bikin saya kesengsem dan ngefans jadinya.

Coba deh perhatikann. Foto pertama ini adalah  karakter Dan di Downton Abbey sebagai Matthew. 
sumber foto: http://www.dan-stevens.co.uk
Dan ini penampakan Dan Stevens sekarang. Kelihatan lebih hmmm.... tuir hehehe *hush*
sumber foto: voa-new
Karena lagi banyak yang ngomongin dese, saya mau ikutan cerita aja, ah. Serial sepanjang 5 season dengan rata tiap season terdiri dari 9 episode ini seolah-olah menghipnotis saya buat terus ngejabaninnya. Ini juga bisa dibilang rekor. Soalnya saya bisa tabah mengikuti jalan ceritanya. Sebelum ini suka males liat serial macam sinetron di tv gitu. Kecuali macam  Ok-Jek yang episode per episodenya bukan masalah besar kalau ditonton secara terputus.

Ga sengaja nemu serial ini lewat aplikasi Iflix  di ponsel. Setelah random mencari beberapa drama, saya pilih serial ini dan membaca sinopsisnya. Hmmm, menarik. Ditambah lagi intronya dengan tata musik yang langsung menghadirkan chemistry. Ini seru kayanya. Gitu yang kepikiran.
foto: http://theenchantedmanor.com
Kalau pernah membaca buku-bukunya Jane Austen pasti familiar deh dengan kehidupan bangsawan Inggris. Sistem hukum waris di sana bisa dibilang ribet. Seandainya seorang bangsawan meninggal dan ia tidak punya anak laki-laki, maka yang punya hak waris adalah keponakannya.  Di sini diceritakan Lord Grantham hanya mempunyai 3 anak  perempuan (Mary, Edith dan Sybil). Ia harus rela kalau warisannya jatuh kepada orang lain (keponakan laki-laki) bukan anaknya. Menikahkan anak pada sang pewaris adalah solusi agar anak-anaknya tetap bisa menikmati warisannya. Maka terpilih Mary (Michele Dockery) untuk menikah 'suami pilihan' yang sudah ditetapkan.
trio gadis Crawley:  Sybil, Mary dan Edith
Kandidat suami pertama Mary meninggal dalam kecelekaan kapal Titanic pada tahun 1912. Setelah upacara duka cita, Mary  bertemu dengan Mathew sebagai calon suami berikutnya. Pastinya masih ada pertalian darah dong makanya orangtuanya  mengharapkan Mary mau menikah dengan Matthew. Mary yang pernah terlibat skandal dengan diplomat asal Turki Kemal Pamuk ini cukup nyebelin dibalik kelebihannya yang dimiliki. Cantik, iya, pinter? Jangan ditanya tapi sifatnya kadang  ngeselin.  Bikin gondok,  termasuk saudaranya Edith yang juga tidak suka dibuatnya.

Tapi... saban  serial ini bahas rencana pernikahan Mary dengan Matthew bikin saya baper juga. Kok saya ga rela pas Matthew ketika  punya rencana menikahi gadis lain. Atuhlah, jangaaan. Sama Mary aja.  Matthew dan Mary memang pasangan yang ideal. Mereka harus nikah. Gitu yang saya pikir. Maka ketika akhirnya mereka menikah dan punya anak saya ikutan seneng, walau pun jatah Dan Stevens di serial ini cuma sampai akhir season 3  aja. Setelahnya? bye. Huhuhu... sedih banget dibuatnya.
Kaaaan, Dan Stevens nya charming :D foto: http://chicvintagebrides.com/
Waktu mengikuti episode selanjutnya  di season 4, saya sempet ragu, kira-kira bakal tetep menarik ga, ya? Udah kadung penasaran, terlepas dari love storynya Mary dan Matthew serial ini menyajikan twist penuh kejutan yang melibatkan karakter-karakter lainnya sampai ke tingkat para pelayannya, Perang Dunia I, koflik Inggris - Jerman, kode etik kedokteran, revolusi industri yang pernah terjadi saat itu, sistem hukum di Inggris yang pernah mengenal hukum gantung, sampai sentimen rasial yang dikemas dengan apik.
sebagian para pelayan di serial Downton Abbey. Foto: Downtobne Abbey
Well, saya  ga menyesal karena ternyata serial ini emang memuaskan secara keseluruhan. Jika keluarga Mary sangat strike dengan aturan kebangsawanannya (terutama Vicotria, neneknya Mary), Matthew dan ibunya   Isobel (Penelope Wilton) adalah tipikal bangsawan yang anti mainstream.  Ga suka dengan segala keribetan  aturan kebangsawanan membuat hubungan Isobel dan Vicotria jadi bagian yang sayang buat dilewatkan. Dua-duanya sama pinter, sama-sama keras kepala dan suka saling menyindir satu sama lain dengan gaya bangsawannya. Jangan bayangin mereka bakal cakar-cakaran  atau saling jambak, lho. Ga ada kamus kekerasan fisik di Downton Abbey.

Kalau nyimak perdebatan mereka malah kebanyakan bikin saya ngikik. Jika diibaratkan  keduanya main catur bareng mungkin bakal sering berakhir dengan remis. Walau sering berselisih paham, mereka bisa saling menunjukkan perhatiannya sebagai saudara sepupu. Misalnya Isobel yang rela tidak tidur ketika Vicotria sakit, atau Victoria yang 'keukeuh' nyomblangin Isobel dengan bangsawan lain yang sedang menduda.
Love and hate relationship antara Isobel dan Victoria di Downtobne Abbey. Foto: pbs.org
Tadi saya bilang kan ya, kalau konflik dan rivalitas di antara para pelayan di serial ini juga tidak kalah menarik? Saya sebel banget sama Thomas Barrow yang culas, dan licin, gemes sama  Daisy yang suka ngeyel, simpatik sama kisah cinta  Anna Smith dan Mr Bates,  suka dengan bijaknya kepala pelayan Mrs Hughes dan terpesona dengan bijak charmingnya Cora Crawley, ibunya Mary  yang berdarah Amerika. Dia punya stok sabar yang banyak menenangkan suaminya, Robert  Grantham (Hugh Bonnevile) yang suka meledak-ledak dan bijak meredam konflik dalam rumah tangga Downton Abbey.   Itu baru sebagian lho.  Kalau diceritain semua ga sanggup saya. Udah gitu kan nantinya jadi spoil dong.

Dua jari jempol saya acungkan sama Jullian Felowes yang menulis naskah serial ini secara apik. Saya jadi kepoin juga rumah klasik yang jadi lokasi syuting film ini.  para bangsawan Inggris sana, rumah bukan sekadar tempat tinggal saja. Tapi juga udah menyangkut gengsi dan harga diri. Makanya di sini juga diceritakan gimana jungkir baliknya Lord Grantham mempertahankan bisnis konvensional keluarganya dari ambang kehancuran. Apapun akan dilakukan agar tetap bisa mempertahankan kepemilikan rumah meski itu harus berdamai dengan mengadopsi bisnis yang lebih modern yang ditawarkan oleh Matthew dan Tom Branson (Allen Leech), menantunya yang mantan sopir dengan pemikiran revolusioer yang pro pergerakan kemerdekaan Irlandia.


Yang saya suka juga dari serial Downton Abbey kalau Marry udah nyanyi. Lagu jadul awal tahun 1900an jadi terdengar lebih berkelas pas dia nyanyi. Kostum-kosum bangsawan mereka di sini juga ga kalah memesonanya. Sesuai dengan gaya fashion pada saat itu tapi jika dipakai sekarang pun tidak akan mengesan ketinggalan jaman.

Setelah serial Downton Abbey ini, saya masih nyari film atau mini seri yang dibintangi Dan Stevens, atau tema cerita serupa. Huaaaa, makin mupeng aja punya impian jalan-jalan ke Inggris sana.

O, ya selain cerita tenggelamnya Titanic di serial ini, kasus skandal politik yang melibatkan diploma Turki sampai pengungsian oang-orang Rusia yang juga diceritakan di Downton Abbey beneran pernah terjadi.  Saya rekomendasikan deh buat yang suka cerita drama berbau sejarah dan pengen ngulik gimana kondisi sosiologi Inggris pada awal abad 20 dengan segala prinsip aritoskratnya.

6 Hal Yang Perlu diperhatikan Saat Membeli TV

Jumat, 17 Maret 2017
6 Hal Yang Perlu diperhatikan Saat Membeli TV [infomercial] - Dalam sebuah seminar, saya mendapatkan informasi statistik kalau akses hiburan masyarakat melalui televisi (tv) masih besar. Yes, walaupun keberadaan gadget udah banyak mengalihkan perhatian  untuk mendapatkan sarana hiburan, persentase tv masih numeru uno, nomer satu. 

Ngomong-ngomong soal tv, kira-kira apa sih yang biasanya jadi alasan kita saat memutuskan untuk membeli tv?  Cek poin-poin berikut ini, yuk.  Sama, ga?

Harga

Sama saja ketika kita akan membeli produk elektronik lainnya, untuk urusan harga biasanya akan nangkring di posisi pertama. Kalau sesuai budget, hayu. Bungkus. Kalau lebih, apalagi selisih lumayan jauh ya… engke heula alias entar dulu. Ya, kan?  Tapi kita juga ga bisa memungkiri kalau ada kualitas  ya ada harganya juga. Bahasa ceteknya harga mah ga boong.
Tapi sebenarnya di luar harga itu kita juga harus mempertimbangkan  spesifikasi dari tv yang kita butuhkan. Coba deh sebelum membulatkan keputusan mau beli tv merk tertentu, cari tahu dulu seperti apa  kualitas yang ditawarkan. Kira-kira worth it, ga? Jangan sampai nyesel setelah membeli tv eh ga taunya ada merk lain yang kualitasnya sama tapi harganya lebih murah. Kan sayang. 

Konsumsi Listrik

Ini juga yang harus diperhatikan. TV sih keren. Harga pun cincai. Eh gilliran dinyalain bikin listrik jadi sering byar pet. Olalala.. ternyata wattnya maruk, boros.  Gimana mau enjoy nonton kalau dikit-dikit alirannya padam? Biasanya nih, TV  yang punya ukuran lebih kecil dan merupakan rilis terbaru dengan  teknologi yang joss lebih hemat listrik.
.

Rasio Kontras

Kenyamanan saat menonton juga perlu diperhaitikan. Kalau rasionya mengharukan alias bikin sakit mata ya skip aja lah. Ngapain juga kan,  mau cari hiburan eh malah nyiksa.  No way.  TV yang baik adalah tv yang fleksibel soal pengaturan kontrasnya. Pendek katanya gini TV yang  kontras layarnya tinggi akan menghasilkan gambar yang berkualitas dan nyaman di mata.

Half Life

Maksudnya gimana? Banyak lho yang ga kepikiran soal ini. Half life adalah paruh hidup yang terdapat dalam perangkat TV. Masih pusing? Saya perjelas lagi, deh.  Half life adalah kemampuan tv  dalam satu rentang waktu tertentu untuk menyajikan layar yang cerah. Semakin besar nilai half life-nya,  semakin lama tv itu mampu menampilkan gambar yang cerah. Nah, jelas, kan?

 Garansi Perangkat

Ah ya ini juga dong. Jangan sampai belum lama beli, eh rusak. Udah gitu ga bisa diapa-apain. Duh rugi dong, ya. TV yang bagus mestinya bisa memberikan jaminan dalam jangka waktu tertentu masih bisa menyala dengan baik.

Layanan Purna Jual 

Jangan abaikan juga yang satu ini. Baik ketika tv yang kita beli masih punya garansi atau sudah habis, kita ga dibuat kerepotan mendapatkan layanan konsumen atau service centre untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi. Biasanya  merek-merek yang sudah punya good will akan memberikan layanan purna jual yang  maksimal bagi para konsumennya. Jadi jangan sampai lupa untuk menanyakan hal ini ketika kita memutuskan iyes membeli tv.

Kalau sudah yakin akan membeli tv merk x, misalnya, pertanyaaan berikutnya adalah di mana sih membeli TVnya? Hei, jangan kayak orang susah ah. Belinya di ES.id aja. Kenapa? Karena Toko online ES.id memberikan penawaran perangkat TV yang lengkap. Kualitasnya juga ga diragukan. Coba deh cek di sini.

O, ya khusus untuk pertengahan bulan maret ini ES.id  punya promo menarik. Yaitu, promo white day yang akan  jatuh pada 14 Maret. Saat promo ini berlangsung kita bisa menapatkan diskon special sampai Rp 500.000, harga spesial Rp 143.017 dan Diskon spesial 14% + 3%.  Coba cek katalog produk lengkap ES.id di sini.


Yuk, ah.  Buruan lengkapi perangkat elektronik rumah tangga lengkapnya dengan berbelanja online yang menyenangkan cuma di ES.id

On My Way Home, 5 Jam Menghabiskan Waktu di Bus

Kamis, 16 Maret 2017
KM 84, saat jam  di ponsel sudah menunjukkan waktu 16.54. Tadinya saya pikir bus yang saya tumpangi dari terminal Baranang Siang jam 12.50an  setidaknya sudah mengantarkan saya di pintu keluar tol Pasir Koja. Prediksi yang meleset. Masih ada sekitar kurang lebih 20 km lagi menuju pintu keluar tol. Ga menyangka kalau hari biasa akan selama itu.

Ngomong-ngomong soal terminal Baranang Siang, sebelum ini saya menjejakkan kaki tahun 2007 lalu saat menghadiri resespsi nikahan teman. Sudah lama sekali.

Tertahan di Bekasi, di antara lautan truk,  tronton, mobil travel dan pribadi. Lalu tersendat saat melintasi Cisomang.  Di sela-sela itu,  Shanenya Westlife (emang Shane yang mana lagi?), Ronan Keating,  Gareth Gates,  Beyonce,  Nsync, Katon sampai All 4  One bergantian mampir dari balik headset yang memyumpal telinga. Sisa kuota dan cadangan power supply dari powerbank sangat memadai buat digeber :)

Sesekali lirik yang mereka nyanyikan mengalihkan perhatian. Tepatnya membawa saya ngelamun, menjeda waktu saat membaca novel Pulang di pangkuan. Lumayan lah ga bikin boring. Ini juga sambil membantu mengejar resolusi tahun ini.  Lebih banyak buku yang khatam dibaca,  dan menulis buku lagi.  kalau bisa terbit lebih dari satu.  Aminkan dong.


Kalau bahas nulis buku,  saya merasa dihantui tagihan Dydie.  Beresin naskahnya dooong,  Efi. *Ampuun Dy, kok punya temen berasa punya dosen pembimbing yang cerewet hahaha*

Kembali ke topik.  Pas jalan sendiri, dari dan keluar kota  kayak gini bukan hal baru buat saya. Ada asiknya juga. Walau yaaa ga ada temen ngobrol. Kadang-kadang temen jalan  malah merem atau sayanya yang merem (pas bangun malah suka pusing karena tidurnya ga lepas).

Begitu juga pas kemarin itu,  asik sendirian di seat saya.  Seperti beberapa penumpang lain yang mungkin memilih privasinya. Mungkiiin... ya.  Saya males sih ngepoin orang lain.  Saya juga gitu, rasanya ga nyaman dikepoin. *diih curhat nih :P*

Asiknya menghabiskan waktu di jalan selama itu sebenarnya bukan cuma buat ngelamun aja hihihi.  Meski  yakin banget deh penumpang  bus yang waktu itu isinya 15an itu mayoritas hanyut di alam pikirannya masing-masing. Apalagi masing-masing duduk sendirian. Ya kali pengen punya privasi itu tadi. Cuma satu aja yang satu row duduk berdua gitu, tepat di belakang saya. Itu juga seorang  ibu dengan anaknya usia SD.

Sementara itu,  saya yang duduk sendirian di belakang Pak Sopir yang sedang bekerja juga kadang asik baca buku,  tabloid atau sesekali buka medsos. Eh sebenarnya di sebelah sempat ada bapak-bapak gitu yang duduk. Dia asik ngobrol semacam tender-tender gitu lah sama temennya jauh di sebrang sana, entah di mana. Abis bahas bisnis yang kayaknya bahas jual beli mobil dia melipir ke belakang.

Kadang saya sempat terhenyak ketika bus ngerem mendadak. Rada beda kalau dibanding naik travel yang lebih smooth. Tapi Alhamdulillah ga ada apa-apa. Kami semua selamat, sehat. By the way, itu masih mending lho dibanding perjalanannya Andro sama Aki Engkus yang ketahan di Semarang gara-gara ada kereta terguling. Hah? Siapa emang Andro dan Aki Engkus ini? Ini mah tokoh cerita di novel Pulang yang saya baca hahaha... Beli dong bukunya temen saya, Oyin dan Mak Carra.  Ntar deh saya buat review novelnya di akunbuku.com.

Waktu berhenti di rest area, beberapa penumpang lain ada yang turun. Sekadar ke rest room, jajan camilan atau yang cowok ada yang nyempetin ngerokok. Ini yang saya suka kalau jalan jauh, lebih bebas dari asap rokok dibanding perjalanan dekat dalam kota numpang angkot. Naik bus, travel atau kereta lebih aman dan nyaman dari recokan asap rokok.
langit Bandung yang sendu waktu saya hampir sampai 
Lagu lawas Fire House When I look Into Your Eyes masih setia bernyanyi dari balik headset saat saya minta turun di perempatan Pasir Koja. Mata saya yang bawaannya sayu makin sayu aja kayaknya kalau sore itu nyempetin ngaca. Gini nih, orang kadang ga bisa bedain saya lagi lemes atau enggak gara-gara liat mata aja.  *curhat lagi*

Duduk di bus selama 5 jam walau bisa curi-curi merem tetep ga pol. Lebih enak tidur di rumah, di kasur sendiri. Bisa curi waktu take a nap sebentar di bus feelnya tetep beda dengan tidur di rumah *haish*.

Begitu melalui jalan-jalan yang sangat familiar, rasanya seperti mendapat sambutan macam Welcome home. Welcome to real world.  Dunia yang sangat dekat dengan keseharian, karena lebih sering saya lewati dibanding hari-hari lain kalau saya berpergian ke luar kota. Pernah kepikiran gitu ga, sih? Sesuntuk dan senyebelin macetnya jalanan menuju rumah,  still it's my home. Jelek-jelek rumah gue,  kampung halaman saya.

Meski punggung dan kaki rasanya remuk, cape dan pegal karena ga leluasa dengan posisi duduk,  better dinikmati perjalanan pulang kayak gini.  Udah kepalang terjadi. Ngomel ga akan mengubah situasi.  Ya, kan?  Ga tiap saat juga menjalaninya. Anggap aja intermezzo, improvisasi atau semacam itu.  Setidaknya rasa penat dan pegel-pegel saya lebih cetek dibanding posisi sopir yang nyetir selama kurang lebih 5 jam itu tadi.