Showing posts with label profil. Show all posts
Showing posts with label profil. Show all posts

Wednesday, 7 May 2025

Yuji Beleza, Si Poliglot Ramah yang Viral di Instagram & TikTok

Lagi scroll Instagram, eh yang muncul di beranda malah kebanyakan konten dari influencer. Sementara postingan dari teman sendiri? Nyaris nggak kelihatan. Pilihannya ya harus nyari sendiri secara manual, atau sering-sering interaksi di IG Story mereka. Kadang kita udah sering chat, kirim-kiriman reel juga, tapi tetep aja nggak tahu apa postingan terbarunya.


Kalau kamu ngalamin hal yang sama, toss dulu. Samaan kita!

Ngomongin soal konten dari luar circle, sepengalaman saya sih justru lumayan bikin betah. Apalagi kalau nemu content creator dari luar negeri. Tanpa harus nyari, mereka rajin banget setor konten di beranda. Dan saya punya beberapa content creator luar yang update-nya selalu saya tunggu-tunggu.

Kali ini saya mau bahas Yuji Belaja (@yuji_beleza).

Here we go!

Spesialis Ngobrol Multibahasa

Content creator berdarah Irlandia–Jepang ini pertama kali muncul di explore IG saya. Begitu lihat kontennya, langsung jatuh hati sama konsepnya. Lupa mulai kapan jadi fans, pokoknya waktu itu langsung auto-follow!

Yuji ini suka ngajak ngobrol orang asing — tapi bukan ngobrol biasa, lho. Dia pakai bahasa ibu si lawan bicaranya. Semacam spesialis ngobrol multibahasa. Keren banget! Entah berapa banyak bahasa yang dia kuasai. Saya benar-benar salut sama kecerdasan linguistiknya.


Tebak-tebakan Negara di Peta

Di salah satu kontennya, Yuji coba menebak asal negara lawan bicaranya. Tapi alih-alih jawab langsung, mereka malah main tebak-tebakan posisi negara di peta. Saya ngakak lihat ekspresi Yuji yang awalnya frustrasi, tapi akhirnya bisa nebak juga.

Respon lawan bicaranya juga macam-macam. Ada yang antusias, ada yang lempeng, bahkan yang awalnya datar jadi kelihatan terkesan. Di video itu, cewek target Yuji malah jadi gemesin karena sadar kamera dan gaya pecicilannya.

Yang bikin saya kagum adalah bagaimana Yuji bisa ganti bahasa dengan lancar. Pronunciation-nya juga bagus banget. Penasaran sih, berapa lama dia belajar semua itu?

Ketemu Sesama Poliglot

Di video lain, ternyata ada juga target yang bisa beberapa bahasa. Reaksi Yuji? Kelihatan seneng dan makin semangat! Di satu momen, Yuji ketemu orang Ghana yang tinggal di Italia. Begitu tahu Yuji dari Jepang, langsung deh mereka ngobrol pakai bahasa Jepang.

Terus si cowok Ghana ini bilang kalau dia juga bisa bahasa China. Hobinya belajar bahasa! Yuji sampe bilang, “This guy is crazy,” karena takjub banget. Tapi ya, Yuji juga nggak kalah “crazy” sih dalam artian positif.

Dinotice Target

Excuse me, Sir. I think I can speak your language,” kata Yuji ke segerombolan bapak-bapak yang berpapasan.

Salah satu dari mereka jawab: “I don’t think so.”

Duh, siapa yang nggak merasa tertantang? Yuji pun minta mereka ngomong dalam bahsa mereka. Agak lama  bagi Yuji buat mikir tapi akhirnya bisa menebak juga.  Ternyata, mereka udah tahu Yuji dari TikTok dan memang sengaja ngerjain Yuji.

Bahasa yang Dikuasai Yuji

Dari sekian banyak targetnya Yuji saya mencatat  kalau cowok ramah ini bisa bahasa Rusia, Swahili, Arab, Albania, Chechnya, Jepang, Perancis, Jerman, Farsi (Iran), Italia dan mungkin  banyak lagi bahasa lainnya. 

Uniknya lagi, saat ngobrol dengan orang Italia asal Sicilia yang juga seorang security (atau lebih cocok disebut bodyguard kalau saya bilang mah), dibahas juga bahwa bahasa Sicilia punya pengaruh dari bahasa Latin, Spanyol, dan Arab. Saya pun jadi penasaran, kenapa bisa ada pengaruh Arab di Sicilia? Ternyata, orang Arab pernah berkuasa di sana selama kurang lebih 250 tahun sejak abad ke-9. Nambah wawasan, deh.

Yuji & Indonesia

Yuji juga bisa bahasa Indonesia, lho! Di salah satu videonya, dia ngobrol dengan Mbak asal Indonesia. Waktu ditanya, “Seperti apa Indonesia menurut kamu?”  Mbaknya jawab, “Indonesia luar biasa!”

Terus Yuji langsung bilang, “Mantap!”

Eh dia tau mantap kata mbaknya. Saya jadi ikutan senyum dan amaze. Jadi senyum-senyum sendiri lihat interaksinya. Yuji bukan cuma tahu bahasa, tapi juga ngerti konteks pembicaraan. Itulah yang bikin dia beda.

Nggak heran juga ketika ketemu seorang warga negara Singapura yang masih cilik, Yuji bisa ngajak ngobrol anak ini dengan ramah dan hangat.

Orang yang fasih banyak bahasa seperti Yuji ini disebut dengan istilah Poliglot. Mereka yang dikaruniai kecerdasan linguistik punya kelebihan seperti daya ingat yang kuat (kognitif), fleksibel dan mudah beradaptasi, punya rasa ingin tahu yang tinggi serta empati yang tinggi. 

Selain itu mereka juga dikenal punya kedisiplinan dan konsistensi. Nggak heran kalau ciri-ciri seperti ini tercermin dalam interaksinya Yuji dengan siapa saja.

Nah kalau temen-temen punya rencana jalan-jalan ke Eropa, saya doain semoga ketemu cowok baik hati ramah dan tidak sombong ini. Jangan lupa follow ig atau tiktoknya Yuji San ini, ya.


Share:

Tuesday, 14 January 2025

Isaac Kearney, Disabilitas Bukan Pembatas

Waktu pertama kali lilhat postingan di instagram resminya Liverpool tentang pertemuan Isaac Kerney, saya ga bisa berhenti sampai selesai.  Bocah kecil yang ngefans berat dengan klub Liverpool itu dapat kejutan ketemu dengan Virgil Van Dijk dan Mo Salah. 

Jadi waktu ketemu itu Virgil nanya sama Isaac. "Aku lagi nyari seseorang yang ngefans berat sama Liverpool. Katanya dia tuh suka maen gitar. Kalau ga salah, namanya Isaac. Apakah itu kamu?"

Anak kecil yang sejak melihat sosok menjulang di depannya menyebut tentang dirinya itu cuma bengong campur takjub.  Kayak mau bilang, "Ini beneran Virgil?" Tampang polosnya cuma mengangguk waktu Virgil mengonfirmasi tentang dirinya.

Kejutan berikutnya muncul Mo Salah yang sebelumnya sudah nungguin di belakang bersama kedua ayah ibunya Isaac, Alan & Melissa. Ibunya berbisik pelan "I'm deadly emotional. Sumpaaah aku emosional banget lihat ini".

Di ruang sebelah, Virgil cerita kalau dia bawa temennya, namanya Mo Salah. Terus Virgil dengan lembut minta izin ngajak temennya untuk masuk. "Aku boleh ajak dia, ga?"

Isaac celingukan nyari sosok yang dibilang Virgil. "Mana dia?"

Salah pun muncul dan menyapa Isaac yang dibalas dengan sapaan kecil "Hai Salah." Ya di luar negeri emang gitu ya. Udah biasa nyapa orang lain dengan nama meskipun beda usianya jauuuh banget, even kalau orang itu udah seumuran orangtua kita. Please jangan praktekin di sini kalau ga mau cari masalah hahaha.

Kunjungan Pertama

Singkat cerita Virgil dan Salah ngajakin Isaac pergi ke markasnya Liverpool di Anfield. "Tenang aja, mama sama papa kamu juga ikut, kok," Virgil meyakinkan Isaac kalau dia ga pergi sendirian. Lucu banget deh waktu Isaac bilang sama ibunya "Mereka suka aku...." Bukan sebaliknya, "Aku suka mereka Mom." Duh ini yang bikin videonya jagoan banget bikin scriptnya ih.

Sampai di tempat latihan, sudah ada Kostas Tsimikas, Cornor Bradley, Elliot, Wataru Endo, Andy Robertson dan beberapa pemain sampai coach Arne Slot yang menyambut bocah itu datang. Saya bayangin kalau lagi di sebelah mamanya Isacc bakal senyum-senyum sambil nyodorin tissue karena pemandangan di depan mata ini bikin seneng sekaligus haru.

Seperti kata Arne Slot, Isaac jago nyanyi dan itu dibuktikan waktu Isaac nyanyi-nyanyi sepanjang nonton latihannya Anfield boys itu. Meski hujan rintik-tintik, Isaac tetep semangat dan antusias nonton idola kesayangannya.

Kejutan yang didapatkan Isaac ga cuma sampai di situ saja. Isaac juga diajakin nonton big matchnya Liverpool vs Manchester City. Walau Manchester biru ini lagi lucu-lucunya, saya termasuk penonton layar kaca yang deg-degan. Takutnya mood ngelucunya City lagi ilang kan. Jadi back fire buat Liverpool kalau gitu. Tapi untungnya City masih doyan lucu huehehe. Lucky us, pertandingan  hari itu dimenangin sama Liverpool. Kejutan yang manis dan pengalaman yang juga mengesankan buat Isaac.

Berbeda dengan fans lainnya, Isaac ga punya pemain paling difavoritkan. "He just love them all" kata Melissa dengan aksen scouse yang kental. 

Melissa Kearney, source: MSN

Di pertandingan itu, Isaac bukan cuma dapat sambutan dari suporter atau reporter. Sebuah pemandangan yang bikin mata hangat adalah ketika pemain-pemain City juga menyambutnya dengan ramah. What a moment.

Isaac memang bukan fans biasa. Dengan keterbatasaannya, Isaac tumbuh penuh dengan cinta kasih orangtuanya. Isaac juga jadi sumber inspirasi saat orangtuanya sedang sedih atau putus asa, gitu kata Melissa.

Ada Apa dengan Isaac?

Isaac terlahir dengan kelainan Wolf-Hirschhorn syndrome. Singkatnya dengan sindrom ini perkembangan fisik dan mental Isaac lebih lambat dari teman-teman sebayanya. Walaupun begitu, Isaac ga sepenuhnya mengalami keterlambatan seperti ciri-ciri penyandang sindrom ini. Kemampuan Isaac mengingat nama-nama pemain juga lagu-lagunya tentang Liverpool adalah hal yang mengagumkan. Bagitu juga bagaimana waktu Isaac berinteraksi dengan pemain-pemain dengan percaya diri adalah hal yang luar biasa. Belum tentu lho anak seusia Isaac bisa sepede ini. Bahkan dengan orang yang lebih tua pun. 

dari ignya Isaac Kearney

Di balik wajah polos dan senyum cerahnya, Isaac Kearney punya hak sama seperti kita, melangitkan asa untuk mewujudkan sejuta mimpi. Ia memang tidak pernah meminta terlahir dengan sindrom Wolf-Hirschhorn hingga  menggariskan batasan baginya. 

Tapi takdir memilihnya menjadi seseorang yang istimewa dengan keterbatasannya itu. Semangatnya untuk mencintai sepak bola tidak terhalang dengan keterbatasannya itu. 

Di awal-awal video sosial medianya, keluarga Isaac mendokumentasikan bagaimana proses tumbuh kembang Isaac. Berbeda dengan anak-anak lainnya, Isaac perlu alat khusus untuk melatih otot-otot kakinya agar bisa berjalan. Dengan keterbatasannya itu, Isaac malah menunjukan minatnya pada musik dan bernyanyi. Kalau gitar, harmonika dan drum adalah alat musik yang disukainya, maka antheme Liverpool You'll Never Walk Alone dan We are the World adalah salah 2 lagu dari lagu-lagu yang jadi favorit  bocah berusia 6 tahun itu.

5 Juni 2021 adalah postingan perdana Isaac yang menceritakan kunjungannya ke stadion Anfield. Saya menduganya, ayah Isaac adalah fans berat Liverpool. Isaac yang kerap menyanyikan lagu-lagu lawas macam lagunya Whitney Houston, Michael Jackson atau Phil Collins (saya mikirnya sih ini bawaan dari ortunya hahaha, kereeen deh) kemudian lebih banyak muncul tampil di sosial media dengan jersey Liverpool, entah itu jersey home atau away.

source: https://x.com/isaackearney

Selain Isaac terpilih jadi maskot pertandingan tempo hari, ia juga dapat spot khusus di dressing room pemain Liverpool lho. So sweet. Ketika orang-orang lain bermimpi mendapatkan satu spot ini, Isaac mendapatkannya dengan cara yang bikin hati meleleh.

Disabilitas Bukan Pembatas

Treatment spesial yang diberikan klub bagi Isaac mulanya ditujukan untuk memperingati hari disabilitas internasional pada bulan  Desember lalu. Tapi ternyata peringatan hari itu tidak berakhir pada momen seremonial saja. Isaac jadi viral dan dikenal banyak orang. Menjadi inspirasi bagi kita kalau keterbatasan tidak menghalangi cinta dan semangat yang terus bertumbuh lalu menyebar dengan cepat dan dengan rasa yang manis.

Apa yang kita tahu dari kisah Isaac Kearney ini jadi reminder buat kita, kalau keterbatasan adalah seni Tuhan menjadikan seseorang istimewa dengan caranya yang tidak pernah kita bayangkan. Skenario Tuhan memang ajaib dan tidak pernah bisa kita duga alurnya. Setiap kita punya hak yang sama untuk menjadi seseorang. Tinggal bagaimana kita mengatasi keterbatasan yang ada di depan mata. 


Share:

Monday, 6 January 2025

Dari Tenis ke Bisnis: Kisah Sukses Gabriela Sabatini Setelah Pensiun Dini

Beberapa waktu lalu di halaman explore instagram muncul postingan yang memunculkan foto Gabriel Sabatini di akun memorialnya Diego Maradona. Saat itu Gaby muncul di museum memorialnya Maradona. 

Beberapa slide yang saya geser selain memunculkan foto-foto lama Maradona juga ada fotonya Gaby bersama Si Tangan Tuhan ini.

Di akhir 80an- sampai awal 90an, Gaby dan Maradona memang jadi ikon legendanya olahraga Argentina saat ini. 

Berbeda dengan Maradona yang umur karirnya cukup panjang di dunia sepakbola, Gaby memutuskan untuk gantung raket di usianya yang masih muda. Bayangin aja, 26 tahun malah resign. Padahal itu lagi usia keemasannya. Apa dia ga merasa sayang ya?

Tidak Menyesal

Pada wawancara yang dimuat di https://www.swisslife.com/ Gaby menegaskan kalau dirinya tidak pernah menyesali keputusannya buat menyudahi karir tenisnya jauh lebih awal. Katanya gini:

Saya tidak menyesal. Saya sudah 12 tahun malang melintang di pro tour dan sudah cape juga kehilangan motivasi. Saat bangun tidur, saya berpikir: "Sekarang harus latihan lagi padahal saya udah enggak mau." Saya pun berbicara dengan seorang psikolog dan menyadari: "Enough is enough" Saya selalu mendengar keyakinan dalam hati, Ini soal nasib saya. Dan saya merasa tenang dengan keputusan ini.
Sepak terjang Gaby dalam dunia tenis memang tidak diremehkan begitu saja, teman-teman. Di usianya yang baru 14 tahun, Gaby menjadi petenis muda dunia terbaik. Setahun kemudian Gaby berhasil menembus semifinal turnamen Perancis Terbuka, dan pernah mengalahkan petenis dunia dari Jerman Stefi Graf pada turnamen US Open (1988). Keputusan mundurnya Gaby diambil 6 tahun kemudian  setelah momen ini.

Gaby yang Stylish

Keputusan Gaby untuk resign bukan emosi sesaat. Gaby ini tau betul "what next" setelah memutuskan untuk resign. Dengan dukungan ayahnya, Gaby memperluas bisnis parfum sepaket dengan bisnis jam tangan dan koleksi fashionnya. Ga heran kalau Gaby selalu tampil modis.

Seperti ini penampilan Gaby saat masih melakoni karirnya sebagai petenis.

Walaupun bukan hal yang aneh jika para petenis punya selera fashion yang tinggi bahkan saat beraksi di lapangan. Steffi Graff, Monica Seles, Roger Federer, Rafal Nadal Williams bersaudara atau Andre Aggasi pun tidak kalah stylishnya di lapang.

Kembali lagi ke Gaby, wanita cantik kelahiran Buenos Aires 16 Mei 1970 ini punya kejelian memanfaatkan hobi dan passionnya untuk menjadi lahan bisnis. 

Disiplin dan Fokus

Sebagai mantan atlet, Gaby tentu sudah tau bagaimana ketatnya jadwal latihan yang harus ia jalani. Tidak ada hasil yang manis tanpa ketekunan. Faktor inilah yang membuat Gaby sukses menjalani bisnisnya.

Jadwal yang ketat: 
Sebagai mantan atlet, Gaby tentu sudah tau bagaimana ketatnya jadwal latihan yang harus ia jalani. Tidak ada hasil yang manis tanpa ketekunan. Faktor inilah yang membuat Gaby sukses menjalani bisnisnya, membantu Gaby menentukan tujuan-tujuan yang ingin dicapainya.

Konsistensi: 
Gaby memang pernah mengeluh karena harus berlatih setiap hari tapi bukan berarati ia kehilangan konsistensinya. Karena berbisnis sudah menjadi keinginan hatinya yang kuat,  ia terus melakukan evaluasi secara berkala. Memperbaiki bagian yang masih kurang dalam bisnisnya agar menjadi lebih baik.

Manajemen Waktu: 
Gaby tau waktunya sangat berharga agar rencana-rencana bisnisnya bisa berlangsung dengan lancar. Karenanya ia patuh dengan jadwal yang suah dibuat untuk mengelola bisnisnya.

Komitmen: 
Tidak ada yang lebih bertanggung jawab dalam kelangsungan bisnis selain pada pemiliknya. Karyawan atau timnya boleh melakukan kesalahan tapi Gaby tidak bisa mengandalkan sepenuhnya pada orang lain. 

Bayangkan Gaby sedang bermain di puncak turnamen, pada partai final menghadapi lawan tangguhnya. Bola yang berpindah dari sisinya ke sisi lawan adalah bisnisnya dan raket yang digunakana adalah skill, passion dan komitmen yang dimilikinya. Gaby fokus pada bisnisnya dengan semua modalitas yang dimilikinya. Saat menganalisa lawan yang dihadapinya, kurang lebih situasinya sama dengan saat ia menganalisa pasar dan kompetitornya secara cermat dan detil. 

Apa yang terjadi di lapangan bisa terjadi di luar prediksi dengan dinamis. Mau tidak mau Gaby harus bisa segera menyesuaikan dirinya untuk beradaptasi dengan pergerakan lawan. Dalam pengelolaan bisnisnya Gaby berusaha fleksiel menghadapi perubahan di pasar agar bisnisnya terus bertahan.

Dari Gaby kita belajar, jangan takut untuk mencoba hal-hal baru dan mengejar passion kita. Kombinasi dari skill dan semangat untuk mraih tujuan dari bisnis yang ingin kita capai, Gaby adalah contoh mereka yang berhasil menapaki karir baru.

Share:

Thursday, 7 November 2024

Kevin Gani Pejuang Pangan Berkelanjutan Peraih SATU Indonesia Awards

Pernah melihat sisa makanan yang tidak habis seperti di acara resepsi, resto atau tempat lainnya kan? Saya tuh suka merasa sedih dibuatnya. Seriusan? Sebanyak itu makanan yang ga habis? Misal di sebuah acara pesta pernikahan dalam setiap 30 menit ada 20 piring makanan yang menyisakan makanan yang masih ada di piring.

Sebutlah acara resepsinya berlangsung 3 jam (ya anggap aja umumnya acara dimulai dari jam 11.00 sampai 14.00), berarti ada 120 piring yang masih punya sisa makanan. Itu belum dihitung di stand makanan semacam cake, aneka mie/pasta, bakso atau hidangan lainnya. Makanya, saya  selalu berusaha mindful untuk mengambil makanan. Sebelumnya udah memperkirakan porsi yang pas agar habis tidak bersisa.
ilustrasi sampah sisa makanan, sumber Canva library

Sampah Makanan Masalah Bagi Lingkungan
Beberapa waktu yang lalu juga saya baca berita kalau TPA Sarimukti yang menampung sampah di area Bandung Raya kembali overload. Lebih dari setengahnya adalah sampah makanan. Pada tahun 2023 saja dari target kapasitas 2 juta ton, jumlah sampah yang masuk saat ini sudah mencapai 14 juta ton. Overload sekali. Saya jadi inget beberapa waktu lalu ketika TPA Sarimukti ditutup sampah-sampah sisa pasar tumpah di beberapa titik berceceran di pinggir jalan.

Dibiarkan meresahkan, tapi kalau diangkut juga mau dibawa kemana? Dilematis tapi harus segera diatasi. Itu baru di Bandung saja. Kalau mau naik level yang lebih tinggi fakta yang tersaji lebih mengerikan. 

Indonesia jadi 'runner up' penghasil sampah makanan di dunia. Bukan prestasi dong. Andai bisa diolah bukan saja menghemat banyak aspek tapi juga bisa mengatasi masalah makanan dengan menyalurkan makanan yang masih layak pada mereka yang membutuhkan.
sumber foto: https://www.astra.co.id/satu-indonesia-awards
Sama halnya juga dengan yang dirasakan oleh Kevin Gani, pemuda Pejuang Pangan Berkelanjutan. Pemuda asal Surabaya Jawa Timur ini baru saja terpilih sebagai penerima Apresiasi SATU AWARD untuk periode tahun 2024 untuk kategori bidang lingkungan. Apa yang dilakukan pemuda ini menjaawab keresahan saya. Seneeeeng banget karena ternyata memang ada yang sepeduli itu seperti Kevin. So, ayo kenalan dengan Kevin dan Garda Pangannya, yuk!

Kevin dan Garda Pangan
Kevin mendirikan Garda Pangan pada tahun 2017 yang berfokus pada isu sampah makanan dan kesetaraan akses pangan di Surabaya. Langkah yang dilakukannya adalah dengan cara mengumpulkan surplus makanan yang didapatkan dari industri penghasil makanan olahan seperti hotel, bakery, kafe, restoran, rumah makan, katering dan industri sejenis lainnya.

Tentu saja Kevin tidak asal menampung karena makanan-makanan ini masih layak untuk dikonsumsi dengan cara menjemput bola. Kualitas makanan lebih terjaga selain itu juga distribusinya lebih cepat tersampaikan kepada penerima manfaat.
sumber foto: gardapangan.org
Pada pelaksanaanya, Garda Pangan juga menerapkan Standard Operating Procedure (SOP) agar makanan tetap higienis mulai dari penjemputan sampai diterima kepada masyakarat sehinggi martabat mereka juga tetap terjaga

Inspirasi dari Surabaya untuk Kota-kota Lain
Di sini saya jadi mikir, yang di Bandung mau mengadopsi cara ini juga ga, ya? Selain cerita di acara resepsi yang saya ceritain tadi kan Bandung tuh terkenal dengan industri food and beveragenya. Ada aja tuh kreasi makanan atau minuman baru, kafe-kafe kekinian yang entah suah berapa banyak. Laris manis ya syukur tapi kalau tersisa alangkah lebih baiknya dimanage biar ga jadi mubazir.

Pernah tuh saya ngobrol sama tetangga saya yang jualan es kelapa muda. Saya pernah nanya sama beliau tuh batok-batok kelapa di kemanain sih, bu? Ibunya cerita dia sendiri bingung mau di kemana-in, tapi kan lingkungan di sekitar tempatnya jualan harus tetap terjaga kebersihannya. "Eneng kalau mau ambil aja, gratis," gitu katanya. Saya menggeleng karena kalau ditampung pun ga bisa mengolahnya .

Jadinya beliau ini mengalokasikan Rp. 400.000 buat membayar tukang sampah untuk mengangkut sampah cangkang kelapa itu biar ga menumpuk. Saya bisa membayangkan kalau sisa-sisa kelapa itu ga diangkut sehari aja udah menggunung tuh di samping depotnya.
ilustrasi pemanfaat batok kelapa. sumber https://jadesta.kemenparekraf.go.id/
Padahal nih selain dijadikan souvenir atau ornamen pelengkap fashion, batok kelapa juga bisa diolah menjdi salah satu alternatif bahan bakar atau briket di industri-industri kecil. Bisa jadi multiplier effect ke sektor lainnya sebagai alternatif bahan bakar non fosil. Ya, kan?

Sisa Makanan Tak Terpakai Tetap Bermanfaat
Balik lagi ke Garda Pangan. Selain mendistribusikan makanan-makanan ini bagi 28 ribu penerima manfaat dari masyarakat kurang mampu, Kevin dan teman-temannya juga tidak hilang akal mengatasi sisa makanan yang tidak layak. Garda Pangan juga memanjangkan langkahnya dengan melakukan upaya lain yaitu mengolah makanan yang sudah tidak layak konsumsi diolah menjadi pakan ternak sehingga bisa meminimalkan sampah.
sumber foto: gardapangan.org
Seperti ide yang saya pikirkan tadi ternyata limbah makanan sisa ini juga bisa diolah dengan memanfaatkan teknologi biokonversi BSF (Black Soldier Fly). Hasil pengolahannya behasil mereduksi emisi gas rumah kaca hingga sebanyak 533.900 kg. Sebuah capaian yang fantastis. Bayangin saja kalau sampahnya ga diolah. Bukan cuma soal polusi udara dari aromanya yang menganggu tapi juga mengundang masalah baru yang mengusik kesehatan bagi masyarakat di sekitar.

Edukasi untuk Anak-anak Sekolah
Garda Pangan juga ga cuma menyasar orang-orang dewasa sebagai penerima manfaat atau memberikan edukasi tentang pentingnya kesadaran memperlakukan makanan dengan kesadaran. Ini nih, yang saya suka dari Garda Pangan, menanamkan kesadaran sejak dini untuk anak-anak dengan program Kids Education-nya. Sederhana tapi bermakna.

Jangan sampai kesadaran ini terputus tanpa adanya estafet sebagai upaya keberlanjutan mengatasi masalah sampah makanan ini kan?
sumber foto: gardapangan.org
Mereka diajak terlibat dalam simulasi permainan yang membuat mereka lebih mudah faham dan melakukannya dengan riang gembira.Cara ini lebih mudah dicerna mereka tanpa harus membuat mereka jadi mikir. Pas banget.

Apresiasi SATU untuk Teladan Kevin Gani
Apa yang dilakukan Kevin adalah sebuah aksi nyata untuk mengurangi food loss dan waste, dan memberikan pemahaman yang sederhana akan pentingnya mengelola dan mengonsumsi makanan hingga proses akhirnya menadji sampah seminimal mungkin.
sumber foto: gardapangan.org
Saat ini sudah ada 1.500 relawan serta kemitraan yang berkolaborasi dari pelaku usaha yang turut berpartisipasi. Ini seperti sebuah pepatah lama yang masih relevan. Sekali mendayung, 2-3 pulau terlalui. Bukan cuma soal sampah makanan yang teratasi tapi juga membantu mengatasi masalah gizi masyarakat dengan cara yang layak dan bermartabat.

Kolaborasinya Garda Pangan ini memang inspiratif. Makanya, ga heran kalau akhirnya sang penggagas, Kevin Gani mendapat awards SATU Indonesia Awards untuk kategori penerima apresiasi bidang lingkungan sebagai Pejuang Pangan Berkelanjutan.


Share: