Saturday, 27 November 2021
Friday, 12 November 2021
SIlky Pudding, Pudding Instan yang Lembut dan Enak
"Suka masak, ga?"
Kalau ditanya gitu, dengan segera saya bilang suka ga suka. 😅 Ga suka ribetnya soalnya. Tapi kalau gampang dan cepat, ya, ayo. Intinya saya tuh penganut quick cook alias masak cepat huehehe. Bikin nasgor, bihun rebus atau puding instan dengan senang hati saya jabanin.
Dulu waktu masih kuliah saya suka bikin puding roti dan dibawa ke kampus. Sama loyang-loyangnya. Serius hihihi. Mana waktu itu kan belum ada ojol dan saya pergi ke kampus itu ngangkot. Kebayang dong itu di angkot saya bawa gembolan.
Terus di bawa ke area kampus sambil ngikutin kuliah?
Ya enggak. Saya mampir ke kosan temen dan nitip di sana. Lalu makan bareng-bareng di sana. Eh ya, pada suka, terus jadi rikues tuh. Disuruh sering-sering bawain pudding. Hmmm... bhaique, kalau ada duitnya ya wkwkwk.... Ya maklum masih kuliah, ngirit-ngirit buat pengeluaran :)
Ngomongin cemilan rumahan, trend bebikinan gini jadi booming lagi di saat pandemi hadir di tengah kita. Saya sempet nyoba-nyoba bikin kopi dalgona yang kekinian itu. Ga langsung jadi, gagal lagi tapi saya penasaran. Coba lagi dan lagi, eh berhasil.
Sebenernya ngulik hal baru kayak gini itu lumayan juga makan waktu cuma dari segi bahan ga ribet buat saya. Makanya pas tau ada Silky Pudding, pudding kekinian, saya penasaran cobain juga. Duh ke mana aja hari gini baru tau? :DBut better than late. Ya, kan?
Silky pudding ini adalah Mom's Recipe Silky Pudding yang awalnya hadir dengan dua rasa, yaitu yakni rasa peach dan biscuit. Tapi kemudian disusul oleh varian berikutnya yang memperkaya pilihan rasa. Ada rasa Chocolate, Avocado, Taro, dan Bubble Gum.
Kampanye #Silkysetiaphari yang digagas oleh produsen ini bertujuan mengajak para konsumennya untuk berkreasi menghasilkan olahan Silky Pudding dengan ragam yang kreatif.
Hari rabu lalu saya samperin mini market deket rumah buat mendapatkan Silky Pudding. Ga mau kalah pengen nyobain bebikinan juga.
Sedih, cuma nemu dua rasa, Taro dan Coklat. Yaudah, ga usah ngegrundel. Saya ambil dulu varian yang ada. Nanti kalau mau bikin yang baru tinggal beli di tempat lain atau beli online. As simple as that.
Waktu itu saya dapetin Silky Puddingnya seharga 17 ribu untuk satu dus. Jadinya beli dua bayar 34 ribu. Dipotong promo jadi lebih murah, cuma saya lupa jadi berapah jatuhnya. Struknya lupa nyimpen sih hehe.
Untuk satu dus silky pudding ini kita cukup mencampurnya dengan air sebanyak 700 ml. Udah itu aja. Ga pake gula tambahan. Tekstur bahannya lembut kayak susu bubuk dan menguarkan aroma wangi.
Saya menjerang air dulu sebanyak takaran sesuai anjuran. Setelah agak panas saya masukin tuh bahannya ke dalam panci. Kalau yang varian Taro ini warna bahannya putih seperti susu, tapi begitu bertemu air berubah jadi warna ungu, seperti warna lylac. Lucu amat. Tapi yang varian cokelat bubuknya udah senada sama nama variannya. Cokelat. Ga kalah harumnya waktu dijerang.
Setelah mendidih, saya buru-buru matiin apinya. Jangan dibiarkan lama-lama, ya karena airnya akan meluap dan luber. Sayang, kan?
Kalau mau cepat dingin, bagusnya Silky Pudding yang sudah dituangkan ini disimpan di kulkas. Biar bisa cepat dinikmati, Tapi kalau disimpan di udara terbuka biasa juga ga terlalu lama buat menunggu perubahannya jadi lebih padat.
Dan ini kreasi Silky Pudding ala saya. Sengaja yang rasa Taro dan Cokelat itu saya campur dalam satu wadah. Ih gemes lihat layernya, kayak model dress gitu. *Yeeeh narsis*
Waktu saya cicipin emang nih pudding rasanya manis, padahal ga dikasih gula , karena dari sananya udah dikasih pemanis. Kita ga usah pusing mikirin takaran gulanya. Manisnya pas tapi ga kelewat manis. Waktu saya cicipi, teksturnya lembut, moist dan enyoy kalau kata orang Sunda mah. HihihiBy the way aktivitaas berkreasi dengan Silky Pudding ini juga disukai sama aktris Jessica Iskandar lho. Menurutnya ini jadi kegiatan positif dan masak di rumah jadi menyenangkan.
Friday, 29 October 2021
Perjalanan di Tengah Pandemi
Pandemi kapan selesainya, sih?
Saya yakin banget ini pertanyaan kita semua. Kita rindu suasana normal yang dulu. Kita rela bemacet-macet di jalan, berdesakan di angkot tanpa takut rasa cemas tertular virus, kita jadi mikir gini:
"Aku rela kerja kantoran 9 to 7 (kalau masih kerja kantoran) daripada kerja di rumah tapi jam kerjanya lebih lama dari jam normal."
Atau, kita kangen rela mengantri di kasir supermarket daripada sepi. Sedih lihat kendaraan sepi penumpang, sedih lihat tempat belanja kosong melompong dan sedih juga lihat orang-orang termangu di jalan, menanti dagangannya laku.
Waktu saya ngobrol soal ini sama temen, komentarnya gini
"Semua orang ngalamin sih, Fi"
Ah iya semuanya juga mengalami. Hampir semua. Beberapa kali ngobrol sama orang lai, saya pun membesarkan mereka dan bilang "semuanya ngalamin" You are not alone.
Seperti satu waktu lalu, saya harus pergi ke Jakarta buat sebuah kepentingan. Ya biasanya memang urusan kerjaan sih, bukan buat main hehe :) Biasanya pulang pergi,entah itu naik travel atau kereta. Pernah juga rental mobil kalau pergi rame-rame.
Prokes yang berlaku sekarang mengharuskan semua penumpang yang akan berpergian menggunakan kereta harus menjalani swab test antigen. Saya ngambil tes ini karena lebih murah dari PCR. Walau untuk durasi perjalanan sehari PP itu saya tetep ngambil 2 kali tes antigen. Lebih murah juga, kan?
Waktu itu saya berangkat pagi hari jam 6 sesuai jadwal kereta, jadinya ngambil swab tes siang hari, di stasiun Bandung, H-1 sebelum pergi.
Padahal, sebelum pandemi stasiun Bandung udah dandan cantik, banyak fasilitas baru dengan sky walknya yang cantik dan membuatnya jadi lebih modern. Ini adalah kali pertama saya menjejakan kaki di Stasiun Bandung sejak pandemi. Pangling banget.
![]() |
| fotonya punya radarbandung.id |
Saat keberangkatan hari H saya tiba di Stasiun Bandung 30 menit sebelum jam keberangkatan. Sampai depan pintu masuk stasiun seorang porter menyapa saya. Gini, katanya:
"Neng, mau ke Jakarta, ya?"
Saya mengangguk.
Sebenernya bawan saya ga berat amat. Cuma satu tas ransel dan satu tas selempang berisi dompet, handphone dan printilan kecil lainnya.
""Pak, mau bawain tas saya, ga?"
Agak ragu buat nawarin beliau bawain ransel yang isinya ga sebesar penumpang lain. Terlalu receh. Mau ga, ya? Bapak porter itu mengangguk senang. "Boleh, Neng"
Sambil jalan ke dalam menuju kereta saya nanya bapak porter ini.
"Pak, sepi sekali ya, di sini"
"Iya, Neng. Sekarang jadwalnya sedikit sekali"
Kalau lihat jadwal kereta memang terlihat menurut drastis. Biasanya untuk keberangkatan Bandung - Jakarta bisa dapat kereta dalam rentang waktu selang satu jam. Kali ini dalam sehari cuma ada satu jadwal pagi dan satu jadwal sore. Begitu juga sebaliknya untuk keberangkatan dari Jakarta ke Bandung.
"Porter yang jaga ada berapa, pak?"
"Cuma 40an, Neng. Ini juga bapak pulang jam 9, aplusan (gantian) sama teman yang lain"
"Oh..." jawaban bapak ini menyiratkan banyak cerita.
Sambil jalan dari lobi, melalui pintu pemeriksaan lalu melewati sky bridge yang baru dan wah itu, saya lihat sekeliling penumpang di stasiun ini sedikit sekali. Sudahlah kesempatan yang diberikan untuk para porter ini sebentar, penumpang yang datang juga sepi sekali. Sangat sepi dibanding hari biasa sebelum pandemi. Kalau ada yang ga kebagian bantuin penumpang gimana, ya? Saya buru-buru menepis pikiran itu. Cecak aja masih dikasih rezeki. Saya menghibur diri.
Bapak porter bercerita lagi tanpa ingin menunjukkan kesedihannya. Saya diantar sampai ke tempat duduk, lalu bapak ini permisi pamit setelah saya ngasih sejumlah uang sebagai upahnya udah nganterin saya. Saya melihat matanya berbinar penuh sukacita. Semoga keran rejekinya di hari itu masih terbuka doa saya dalam hati.
Belum sampai 5 menit bapaknya dateng lagi
"Neng, tadi tiket sama fotokopi KTPnya jatuh. Barangkali dibutuhkan," bapak itu menyodorkan lembar tiket dan copy ktp yang entah jatuh tercecer di mana. Mungkin saking sepinya stasiun, selembar tiket yang terjatuh jadi lebih mudah terlihat.
"Ah iya. Makasih, ya, Pak" saya ga menyangka bapak ini bakal segitunya belain balik lagi bawain tiket saya yang tercecer.
Suasana sepi juga terasa waktu saya tiba ke Stasiun Gambir. Porter yang lalu lalang tidak banyak. Saya mencari spot untuk tes antigen biar pulangnya nanti ga gedubyakan.
Ngomong-ngomong soal tes antigen, boleh dibilang "colokan" alat swab petugas di Gambir lebih berasa. Saya belum sempet narik nafas hidung saya udah dicolok kanan kiri bergantian dengan cepat. Beda banget dengan yang di Bandung yang masih kasih jeda sekian detik. Derai air mata saya sedikit lebih deras pagi itu hahaha.... Saya menunggu beberapa waktu untuk mendapatkan hasil tes yang menunjukan hasil negatif. Alhamdulillah.
Untuk berpergian ke Jakarta dan ke luar kota lainnya (ini sih jarang semisal saya pergi ke Yoga tau Solo misalnya) keretea api ini jadi tujuan saya buat perjalanan. Kalau di dalam kota semisal di Bandung, moda transport yang paling saya andelin ya ojol alias ojek online buat ke mana-mana.
Kenapa ga belajar naik motor sendiri, sih?
Pertanyaan ini sering saya dapatkan. Kalau dhitung-hitung iya sih pengeluaran saya lumayan gede buat bayar ongkos. Kalau selow dan ga buru-buru saya masih pake angkot, kok. Cuma memang seringnya ya pake ojol itu.
Saya mikirnya gini aja, itung-itung berbagi rejeki buat sopir angkot atau driver ojol. Saya ga pernah ngitung realnya abis berapa uang yang saya keluarkan untuk perjalanan. Kalau ga penting banget saya lebih banyak di rumah, kok. Apalagi di masa pandemi gini, saya ke luar rumah itu paling banyak seminggu 1-2 aja. Tapi sekalinya pergi keluar bisa seharian hihihi
Ngomong-ngomong soal rezeki, kita emang ga bisa jadi manusia macam Robin Hood yang dengan mudahnya ngasih ke sana sini (eh tapi nyurinya jangan ditiru ya). Kita punya keterbatasan ga bisa menolong semua orang tapi di sisi lain bisa mengusahakan untuk membantu orang-orang di sekitar kita minimal.
Rezeki emang ga akan ke mana, tapi harus dijemput juga.
Seperti ini, nih. Smartfren punya program seru di bulan Oktober 2021 ini? Namanya Program Mystery Box #OktoBERHADIAH
Aih siapa sih yang seneng dapat rezeki? Cus jemput ke sini:
https://mysf.onelink.me/nFIA/FashionShoppingIG
Pastikan temant-teman sudah menginstal dulu aplikasi Smartfrennya untuk mengikuti langkah-langkah di sana.
Good luck, ya. Jangan lupa kalau menang hadiahnya sisihkan untuk berbagi dengan di sekitar dan orang-orang yang kita sayangi
Wednesday, 29 September 2021
Kebahagiaan Mendapatkan Rejeki Wow
"Berapa gaji yang kamu minta?' Sebuah pertanyaan saat wawancara dilontarkanoleh seorang pria berwajah oriental sambil tersenyum.
Saya menyebutkan angka yang diminta, sempat ragu-ragu karena yakin ga yakin bakal diterima kerja. Pengalaman sering dapat panggilan kerja tapi selalu aja ga cocok (entah dari saya atau perusahaan) bikin saya nothing to loose buat keterima kerja. Di sebelah pria itu yang kelak saya dan teman-teman kerja menyapanya Pak Pur, seorang wanita berusia separuh baya tersenyum.
"Oke, kamu diterima kerja. Tanggal satu mulai masuk, ya!" Pak Pur mengulurkan tangan, memberikan selamat.
Ah beneran? Masa sih?
"Terimakasih, Pak." saya menerima uluran tangannya dengan perasaan sumringah. Wow. Senengnya melebihi salaman sama idola atau pacar (?) muahaha... Karena itu kali pertama saya menyandang status sebagai karyawan kantoran notabene dapat gaji bulanan. Rejeki banget buat saya yang 2 tahun wira wiri nyari kerjaan. :)
Mungkin karena euforia, punya gaji itu, dengan nominal yang sedikit di bawah rata-rata UMR untuk posisi dan status pendidikan yang saya dapatkan, dibawa asik aja. Punya teman kerja yang seru, ada gank ngemil dan ngerumpi di jam kanto, saling nyicip bekal makan siang dan ketawa bareng ketika ngenes nungguin gajian di akhr bulan. Kadang saya kangen sama masa-masa itu. Masa pergi kerja kayak pergi sekolah, cuma bedanya tugas dan durasi aja.
O ya, waktu pertama kali payday alias gajian saya seneng dong belanja ke supermarket depan kantor dan bisa sedikit berbagi rejeki dari gajian sama mama saya.
Walau ga seberapa, rasanya seneng banget berbaji rejeki dari hasil keringat sendiri. Jadi berkah.
Perlahan dan pasti, mindset saya berubah soal bekerja. Dulu mikirnya cuan itu ya dari kerja aja. Tapi ga gitu.
Tanpa mengurangi rasa hormat saya sama temen-temen yang maih berstatus sebagai karyawan, rejeki dalam bentuk materi bisa berbentuk penghasilan dari jualan atau honor sebagai karyawan lepas a.k.a freelance. Dapat traktiran, punya teman yang baik, dikasih nikmat sehat juga bentuk rejeki. Coba bayangin kalau kita punya uang tapi dikasih sakit dan perlu biaya yang banyak? Kalau dikonversikan ke nominal itu angkanya bisa gede banget.
Balik lagi gomong-ngomong lagi soal rejeki dalam bentuk materi, temen-temen pernah punya wish list apa aja? Punya rumah langsung lunas, kendaraan pribadi atau hadiah dari lomba/undian misalnya?
Saya punya informasi menarik, nih.
Smartfren punya program Rejeki Wow Treasure Hunt Periode Ketiga berhadiah total miliaran rupiah. Duh, ya lagi pandemi gini ketika aktivitas ekonomi lagi tiarap, siapa sih yang ga senang kalau ketiban durian runtah dari program undian ini?
Sebagai informasi, saat ini sudah ada 3.9 juta pelanggan operator seluler Smartfren sudah menang dan mendapatkan hadiah dari program Smartfren Rejeki WOW Treasure Hunt, lho. Duh saya juga mau, dong.
Mau tau caranya?
Begini
Install atau update dulu aplikasi MySmartfren. Malahan, untuk pelanggan yang baru pertama kali install aplikasi MySmartfren bakal mendapat bonus kuota 5 GB.
Setelah itu lakukan langkah-langkah berikut:
Lakukan perjalanan perburuan harta di gurun pasir. Kalau kita melakukan pengisian pulsa atau membeli paket internet, akan semakin dekat ke Oasis tempat harta tersembunyi. Asiknya nih, nilai pengisian pulsa atau pembelian paket tersebut berlaku akumulasi. Kalau sampai mencapai total Rp100.000 atau kelipatannya di Oasis, peti harta karun akan terbuka dan kita berpeluang mendapatkan hadiah berupa smartpoin, pulsa, kuota YouTube, smartphone, tablet, TV, laptop, atau logam mulia.
Kalau bisa sampai di Oasis ketiga, pelanggan akanmendapatkan kesempatan memenangkan Grand Prize berupa city car (Honda Brio), SUV (Honda BRV), tabungan ratusan juta rupiah, logam mulia, atau sepeda.
Selain itu ada juga fitur baru lainnya berupa:
- Program Ajak Teman (Referral Program) dan Daily Login
- Veteran Booster yaitu booster tambahan agar pengguna bsia lebih cepat sampai ke oasis.
- Mission Challenge dengan hadiah smartpoin, bonus pulsa dan emas, di mana hadiah-hadiahnya bisa didapatkan jika berhasil menyelesaikan semua misi/tantangan.
- Dan ini nih, ada fitur donasi di mana kita bisa menyumbangkan Smartpoin dalam program Donasi dari Smartfren dengan Yayasan Benih Baik. Jadi selain membayar zakat penghasilan tiap bulan sebesar 2,5% tiap bulan, kita juga bisa menambah pundi-pundi amal lewat fitur ini. Asik banegt kan, bisa berburu ahdiah sekaligus berburu pahala.
Tau ga sih? Program kebaikan ini adalah bagian dari visi Smartfren untuk mewujudkan internet yang bermanfaat positif dan menjadi teman buka peluang bagi masyarakat Indonesia.
Makanya, buruan install aplikasi dan terus perbanyak transaksinya. Smartfren Rejeki WOW Treasure Hunt Periode Ketiga berlangsung dari tanggal 21 September 2021 sampai 14 Januari 2022. Masih banyak waktu yang bisa kita manfaatkan untuk berburu Rejeki WOW Treasure Hunt Periode Ketiga ini.
Untukprogram-program Smartfren lain bisa didapatkan informasinya di www.smartfren.com dan Instagram @smartfrenworld.
Friday, 24 September 2021
Tentang Kebhinekaan, Berbeda Tapi Saling Sayang
Tuesday, 31 August 2021
Donor Darah di Masa Pandemi
Katanya ditolak itu rasanya menyakitkan. Setuju?
Saya pernah ngalamin, nih. Ceritanya suatu waktu saya meliputi sebuah event baksos donor darah yang diselenggarakan oleh sebuah rumah sakit swasta di Bandung. Btw ini kejadiaannya beberapa tahun sebelum pandemi. Kalau ga salah tahun 2018.
Salah satu tim marketingnya nyamperin saya. Terus dia nanya gini:"Teh, mau donor darah, ga?"
Saya yang pernah baca pra syarat buat donor darah menggeleng, dong. Bukan karena takur jarum suntik, lho, ya. Tapi tau banget bakalan ga qualified.
"Nggak ah, Jay," gitu saya bilang.
"Emang kenapa?"
"Kurang gendut," saya ketawa.
Teman saya yang anak marketing itu ketawa. "Udah cobain aja dulu," katanya. Yaudah biar dia (bukan saya hahaha) ga penasaran, saya iyain aja.
Saya nyamperin petugas di bagian screening yang lagi asntai kayak di pantai dan asik serasa di Tasik (lebay).
"Pak,.." saya nyapa beliau sok misterius.
"Gimana, Teh?"
"Saya mau donor, dong"
"Teteh?" mukanya kelihatan sangsi. Tuh, kan udah suspect ga layak ini. Ih emang saya udah siap lahir batin.
"Emang berat badannya ebrapa?"
"45 kg," jawab saya.
"Kayaknya ga bisa sih, Teh. Tapi ya udah kita cek dulu, deh"
Saya nyebut tensi saya yang cenderung rendah. Biar valid dan meyakinkan, bapaknya baik mau luangin waktu buat mastin. Ya mungkin aja jarum timbangannya rada ngesot dikit ke kanan gitu, hahaha.
Tapi ternyata survei membuktikan saya emang ga bisa jadi pendonor. Pengalaman yang kurang lebih sama di tempat lain juga kayak gitu. Nih petugas PMI yang stand by udah punya jam terbang yang tinggi kayaknya. Sekilas aja udah tau bisa mengira-ngira apakah yang datang itu bisa lolos tes awal buat jadi pendonor atau enggak.
Beberapa situs informasi kesehatan menyebutkan sayarat minimal berat badan minimal untuk donor darah adalah 45 kg. Ga ngerti juga kenapa dua kali pas saya menawarkan diri saya ditolak. Tapi ya sudahlah, ya. Mungkin juga pas waktu itu saya ga kelihatna lagi fit (hiks)...
Padahal nih kalau layak dan qualified sebagai pendonor, ada banyak manfaat yang bisa kita dapatkan. Selai hadiah hiburan konsusi gratis (hahaha) rutin melakukan donor darah bakal ngasih sejumlah benefit. Misalnya:
* Kalau ada penyakit serius bisa segera terdeteksi
* Meningkatkan produksi sel darah merah
* Menjaga kesehatan tubuh dan membantu aliran drah jadi lebih lancar
* Sebagai muslim, jadi disayang malaikat karena jadi amalan jariyah buat menyelamatkan nyawa orang lain, dengan syarat niatnya tulus dan ikhlas lho, ya.
Selain screening yang tadi saya bilang berupa berat badan badan minimal beberapa syarat ini perlu kita perhatikan. Biar ga kecewa gundah gulana merana karena batal jadi pendonor:
* Berusia minimal 17 tahun - 65 tahun
* Kadar hemoglobin 12,5 = 17 gram
* Tekanan Darah Sistole 100-170
* Minimal rentang waktu donor darah sebelumnya adalah 12 minggu atau atau 3 bulan
Yang juga harus diperhatikan saat akan berdonor adalah tubuh dalam keadaan sehat dan bugar serta tidur malam yang cukup sebelumya. Dalam situasi ini petuah dari Bang Haji Rhoma terbukti nyata. Begadang jangan begadang.... kalau tiada artinya hihihi malah nyanyi.
Pernah kepikiran ga sih kalau bisa donor darah tuh adalah salah satu bukti nikmat sehat yang kadang kita lupain?
Coba bandingkan dengan mereka yang harus ke sana ke mari nyari donor darah yang cocok atau macam saya ini, mau donor ya ga bisa. Saya jadi envy sama yang bisa melakukan donor darah secara rutin.
Sebagai mahluk sosial yang bermasayarakat, donor darah ini juga jadi salah satu bentuk interaksi sosial alias silaturahmi. Beberapa waktu lalu saya sempet baca berita kalau sejak pandemi ini, jumlah sediaan darah dari pendonor yang tersedia di PMI jadi berkurang. Padahal di saat pandemi seperti ini pun bakalan tetep ada aja yang membutuhkan. Misalnya saja sahabat-sahabat kita para penyandang talasemia yang tetap membutuhkan donor setiap bulannya.Belum lagi kondisi lain yang tiba-tiba membutuhkan.
By the way, kalau mau donor darah di masa pandemi gini, aman ga, sih?
Seperti yang dilansir oleh situs kementerian kesehatan, berdonor di masa pandemi tetap aman. Selain dengan protokol kesehatan yang diterapkan dengan ketat Beberapa hal yang harus dilalui oleh petugas yang melakukan pengambilan darah antara lain:
* Sudah menjalani tes PCR secara rutin
* Mengenakan masker dan handscoon (sarung tangan medis)
* menggunakan antiseptik
Saya jadi ngilu bayangin kalau petugas pengambil darahnya harus rela hidungnya dicolok secara berkala. Hal mana yang sangat kita hindari, kecuali terpaksa hihihi. Terpujilah para petugas medis yang selalu stand by termasuk yang harus berjaga untuk melakukan pengambilan donor darah ini.
Dari segi pendonor pun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Selain dalam keadaan sehat juga perlu diperhatikan jenis vaksin yang diambil (kalau sudah vaksin). Apakah menggunakan jenis vaksin yang dimatikan atau dilemahkan. Ternyata ini juga berpengaruh dengan toleransi waktu menunggu. Pengguna vaksin yang dimatikan waktu nunggunya lebih cepat dibanding dengan yang pakai vaksin yang dilemahkan. Info detilnya bisa baca di sini:
https://yankes.kemkes.go.id/read/302/donor-darah-di-rsup-ham-tetap-aman-selama-pandemi
Ngomong-ngomong soal baksos donor darah, beberapa waktu yang lalu Smartfren berkolaborasi dengan komunitas nirlaba Blood for Life Indonesia (Blood4LifeID) Indonesia dalam rangka meningkatkan jangkauan pencarian donor dan ketersediaan darah /plasma darah. Baik terakit kasus Covid-19 maupun tidak.
Terkait acara baksos yang berjalan, pihak Smartfren juga memberikan dukungan berupa kartu perdana GOKIL MAX berikut paket data yang diberikan kepada seluruh relawan Blood4Life Indonesia. Dengan adanya dukungan ini jadi emudahkan berkomunikasi secara online. Jangankan saat pandemi, yang namanya kuota ini jadi jadi kebutuhan dasar untuk menunjang aktivitas. Apalagi saat ini. Udah deh, ga ada data bisa berantakan kerjaan juga koordinasi yang harus atau perlu dilakukan. Ya, ga?
Menurut Valencia M. Randa, aktivitas Blood4LifeID selama ini kebanyakan dilakukan secara online, di mana di dalamnya terdapat puluhan Relawan Tim 'IGD Virtual Blood4Life.ID' (media sosial & website Blood4LifeID) yangposisinya tersebar di berbagai kota di Indonesia. Makanya untuk memudahkan komunikasi, penting sekali memastikan koneksi internet tetap terjaga. Dengan terjaminnya koneksi internet yang memadai, tim Blood4LifeIDyang juga didukung oleh Smartfren Community lebih mudah untuk memantau ajakan donor darah yang dipublikasikan di website kami
Blood4LifeID selama ini telah menerima banyak permintaan untuk mem.enuhi kebutuhan pendonor darah. Pada Juli lalu, permintaan bantuan donor darah yang masuk ke Blood4LifeID mencapai puncaknya dan mencapai 230 permintaan dalam satu hari. Hingga saat ini pun permintaan masih cukup tinggi, dengan rata-rata sekitar 100-an permintaan donor yang masuk.
Sehat selalu buat kita semua, ya. Aamiin.
Thursday, 12 August 2021
SBK, Ketika Duren Montong Menjelma Menjadi Bolu Kukus Yang Enak
Kalau bukan karena artikel tentang kupu-kupu Monarkh, seorang profesor ahli Geografi mungkin ga akan sampai ke Asia Tenggara, kenalan sama budaya di sini dan kenal kulinernya. Termasuk kuliner yang sering ia jumpai di sini, Duren.
Nama Profesor itu adalah Kim Eje. Seorang wanita asal Korea Selatan yang membuat saya terkesan. Terkesan dengan cerita-ceritanya juga keramahannya waktu menyapa saya. Di situ saya menyesal dengan English Speaking saya yang pas-pasan ditambah saya tuh aslinya suka nervous kalau ketemu orang baru.
Biasanya saya sering menjumpai duren di pinggir jalan yang dijual di mobil truk terbuka gitu. Entahlah saya ga tau kayak gimana milih duren yang baik dan benar. Eh enak maksudnya.
Saya bukanlah tipe yang suka memburu duren tapi seneng kalau disodori duren yang kebetulan rasanya enak. Milih duren itu kayak milih jodoh, harus punya feeling yang bagus buat tau rasa dan harga memang sebanding. Lah malah dikaitkan sama jodoh segala hahaha.
Oh ya, kalau mau tau kenapa seorang Profesor dari Korea ini bisa begitu jatuh cinta sama yang namanya Duren, saya pernah nulis ceritanya di sini:
https://www.catatan-efi.com/2017/11/happy-yummy-journey-titik-balik-dari-kupu-kupu-dan-durian.html
Balik lagi sama duren.
Kalau versi klasik sajian duren yang pernah dan gampang saya temui juga nyicipinnya ya es krim duren. Yang versi ez puter itu lho. Terus toppingnya pake ketan. Wuih, ini enak. Kalau diolah jadi sajian lain kayak bolu, inilah yang dilakukan sama Siliwangi Bolu Kukus. Gimana, tertarik, ga?
Foto di atas ini adalah varian terbaru yang diperkenalkan oleh Siliwangi Bolu Kukus saat peresmian storenya ke-8 dan ke-9 yang berlokasi di Cimahi dan Bogor pada tanggal 10-11 Agustus 2021 kemarin. Harga perkenalannya adalah Rp. 33.000 Sedikit lebih murah dari harga aslinya yang dibanderol Rp. 35.000. Jadi kalau ga kebagian harga promonya juga ga nyesel amat, ya hihihi
ini cerita saya tentang Siliwangi Bolu Kukus alias SBK yang pernah ditulis. Bisa baca di sini juga buat tau awal mulanya berdiri, ya.
https://www.catatan-efi.com/2020/01/siliwangi-bolu-kukus-hadir-di-bandung.html
Dibanding awal mula kehadirannya, sekarang ini jumlah varian yang dihadirkan oleh Siliwangi Bolu Kukus sudah ada 22 varian rasa untuk bolu klasik dan dan 10 rasa bolu asih dan bolu cinta.
Sedangkan untuk varian bolu cinta itu selain bentuknya yang unik, juga didalemnya ada lelehan krim yang lumer di mulut. Kalau kaya bule mah, heaven. Yeeeeh kayak pernah ke surga aja :) Ya saking enaknya sih.
Trio bolu kubus alias dessert yang ada di tengah itu juga mesti dicobain. Mau yang mana? Semuanya aja deh, biar ga nyesel.
Ada hal yang menarik dari filosofi penyajian varian rasa yang dihadirkan oleh Siliwangi Bolu Kukus ini. Semua rasa yang ditampilkan adalah rasa yang identik dengan kuliner di Jawa Barat.Semisal Ui Cilembu, Stroberi Cilembu, Talas Bogor, Peuyeum Bandung atau Mangga Indramayu.
Menarik, ya. Kuliner lokal yang sederhana bisa disulap jadi sajian yang mewah dan berkelas.
Di mana aja lokasi Store Silwangi Bolu Kukus?
Siliwangi Bolu Kukus bisa didapatkan di mana saja dan sudah tersebar di di 11 Provinsi Indonesia (Jambi, Bengkulu, Padang, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI. Yogyakarta, Palembang, dan Lampung).
Ada yang bingung kenapa store terbarunya da 9 tapi ada di 11 provinsi?
Kalem, itu cuma istilah dari manajemen aja. Jadi selain Storenya, SBK juga punya bisa didapatkan di toko lainnya yaitu Sobis atau Sobat bisnis dan Reseller. Mereka ini ada di 11 prvinsi itu. Semoga bisa terus bertumbuh dan menambah titik-titik toko barunya, ya. Biar apa? Biar makin mudah mendapatkannya dan ga usah nyari jauh-jauh.
Jangan lupa patuhi prokes berikut setiap kita berkunjung ke Store Siliwangi Bolu Kukus. Demi kemanan dan kenyaman bersama
Chat Center : 0811-825-0044 (WhatsApp & Telegram)
Wednesday, 28 July 2021
3 Cara Agar Tetap Produktif di Rumah Selama PPKM
Setiap malam, setelah menutup laptop menyelesaikan pekerjaan, saya masih suka buka timeline twitter buat lihat update-an. Bukan buat nyetatus tapi lihat cuitan lucu-lucu yang rame di trending topic. Hiburan banget soalnya. Bagus juga buat imun booster. Ya, kan?
"Pek Perpanjang Kumaha Maneh"
Kurang lebih artinya terserah deh mau diperpanjang lagi, gimana kamu.
Saya percaya deh kalau aktivitas online (selain skrol-skrolan di sosmed) ini udah udahjadi kebutuhan pokok buat semuanya. Yang PJJ-an lah, Yang webinarlah, yang ngonten dan sebagainya. Ya, kan? Untuk yang satu ini kuota yang memadai dan kenceng adalah numeru uno. Nomer satu. Wajib. Nah, untuk urusan ini ada paket internetan yang gokil dari Smartfren: Gokil Max> udah tau belum apa saja benefit dan fiturnya? Coba deh download dulu, karena lagi ada campaign serunya nih. Modal download aja bisa dapet Redmi 8 A Pro, Mifi dan kuota internet 30 GB. Gokil, ya?
Jangan lupa baca ketentuannya di sini agar peluang menangnya tetep gede. Sayang banget kan kalau ada yang kelewat padahl kontennya udah bagus dan maksimal.
Ada yang sebel, ada yang sedih ada yang menanggapinya dengan positif thinking. Ya mau gimana lagi, situasi sekarang membuat kita memilih lebih banyak di rumah saja. Bersyukurlah yang masih bisa WFH-an. Kadang saya suka kepikiran gimana dengan mereka yang harus nyari nafkah ke luar rumah. Semacam pedagang, sopir dan pekerja di sektor esensial yang ga bisa ditinggal. Perawat dan karyawan pabrik misalnya.
Semoga pada sehat semuanya, ya. Biar rantai penularan C-19 ga mengular.
Lain waktu, pas saya keluar sore ketemu tetangga yang rada lama ga bersua. lalu terjadilah obrolan ini
+ : Ke mana aja, teh? Udah lama ga keliatan?
Padahal saya suka lewat depan rumahnya kalau mau ke pasar, warung dan sebagainya. Tetehnya ga keliatan. Emang ga jodoh aja buat ketemu. Terus saya jawab gini
- : Iya, Teh. Kan lagi PPKM
+ : ....
- :Pelan-pelan Kamu Menghilang
Kami ketawa ngakak. Sebenernya bukan menghilang literally gitu. Karena jadwal keluarnya aja ga barengan. Sibuk masing-masing. Ditambah lagi saya emang jadi lebih banyak online. Aktivitas offlinenya nyaris ga ada kecuali urusan personal aja.
Balik lagi nih sama aktivitas selama di rumah. Ga kerasa ya, pandemi ini udah 1,5 tahun kita lalui. Berlama-lama di rumah sebenernya bikin saya betah. Males ke luar kalau ga perlu. Malah kalau bangun pagi masih selimutan, buka email buka notif WA dan lainnya sebelum memulai to do list harian.
Ga produktif dong?
Kata siapa? 24/7 malah makin berasa. Guys, pada ngerasain hal yang sama ga? Tosss dulu dong. Biasanya jam kantor rumahan ala saya tuh setelah jam 9 pagi ke sana. pagi-paginya saya ngerjain dulu kerjaan rumah seperti nge-dj alias cuci piring, nyuci baju, beberes kamar, ngasih makan kucing dan printilan lainnya.
Ada kalanya tiba-tiba deadline kerjaan udah berderet kaya iring-iringan semut di dinding yang berbaris rapi. Nunggu eksekusi. Oh, No. Jangan sampai bikin keteteran. Makanya beberapa hal ini saya lakukan selama di rumah. Kerjaan beres, me time pun masih bisa.
1. Positif Thinking dan Menjaga Kesehatan
Apa kabar? Teteh, Akang sehat?
Sehat selalu, ya
Sapaan kayak gitu mungkin dulu terasa klise. Tapi sekarang sapaan itu bisa bikin hati adem, nyesss. Dalam keadaan seperti ini mendoakan teman, saudara atau rekanan yang ngobrol sama kita bukan ritual formal saja. Tapi udah jadi doa. Dan seneng banget kalau udah didoain gini. Karena sehat adalah sesuatu yang berharga sekali saat ini. Alih-alih kepo nanyain urusan pribadi atau misal ditanya kok gini kok gitu. percayalah didoakan seperti ini adalah kata-kata yang indah.
Inget, hati yang bahagia bisa membuat imun kita tetap terjaga.
Ah ya jangan lupa untuk selalu pakai masker obel dan menjaga kebersihan tangan kita terutama kalau harus keluar. Saban pergi ke atm yang itungannya sebentar (kadang dua bentar, tiga bentar kalau lagi banyak yang ngambil uang juga alias ngantri) bikin saya merasa butuh banget keberadaan hand santizer. Abis ngambil uang atau setor tunai, bersihin dulu tangahn pake HS sebelum cuci dengan sabun dan air yang mengalir di rumah.
Untuk menjaga kesehatan saya selalu ngusahain minum air yang cukup. Kadang males tapi alarm tubuh suka ngingetin saya kalu butuh. Kulit kering, gampang ngantuk dan ga fokus adalah tanda otak butuh oksigen hihihi....
2. Mengatur Waktu dan Membuat Skala Prioritas
Tadi saya udah bilang kalau selama PPKM ini intesitas kesibukan di rumah terutama di depan laptop atau gadget jadi nambah. Biar ga berantakan, saya suka bikin to do list apa yang mau dikerjakan besok. S elesai satu pekerjaan saya centangin tuh mana yang udah. Mana yang masih menggantung. Beberapa to do list juga saya tandain yang perlu diprioritasin.
(foto to do list)
Jangan sampai pas mau boci, alias bobo ciang istirahatin mata dan otak tiba-tiba ada chat masuk nanyain progres. Seketika mood bobo cantik jadi ambyar hahaha... Apalagi kalau malamnya kurang tidur. ya, kan?
3. Me Time
Refreshing selama pandemi gini masih bisa kita lakukan walau ga bisa ke mana-mana. Di rumah aja bisa dibikin tetep asik. Misalnya saja nonton film atau serial di aplikasi, baca novel, atau jajan makanan favorit lewat kurir di sela-sela aktivitas.
Ga usah tiap hari sih ya karena bisa bikin boncos. Di sisi lain Me time macam jajan gitu juga bisa ngasih faedah sama pejuang maisah alias mencari ladang rezeki baik yang jualan maupun drivernya yang nganterin. Dengan begitu, kita bisa membantu mengurangi beban yangdirasakan oleh orang lain selama PPKM ini.Me time buat saya bukan buat buang-buang waku tapi buat rehat. Setelah itu otak kita kembali segar dan siap menyelesaikan PR atau berkarya kembali. Me time juga bentuk self love agar selama pandemi ini mood kita tetap terjaga.
































