Thursday, 8 October 2020

Cwie Mie Mami Khas Malang Ada di Bandung

Pertama kali lihat story ignya Cwie Mie Mami (@cwiemiemami),  saya tuh udah dibuat ngiler, banget! Jadi pengen ke sana. Waktu itu belum pandemi. Lumayan lama ya? Gara-gara dientarin jadinya kepending terus, wacana melulu, keburu tuh wabah Covid-19. huhuhu....

Padahal ya,  beberapa kali pas saya  lagi jalan, ga jauh lho, bisa mampir ke kedainya Cwie Mie Mami ini.  Tapi situasinya ga mendukung dan rasanya lebih greget makan di tempat ketimbang pesen pake ojol. Pengen sekalian aja silaturahmi sama ownernya yang juga seorang teman yang cukup kenal baik. 

Lalu abis baca ini mungkin ada yang ngomel dalam hati: "teman macam apa kamu sih, Fi?" hahaha.... gapapa kok kalau mau ketawa :D

Dan akhirnyaaa.... kesampaian juga saya mampir ke kedainya Cwie Mie Mamie yang lokasinya terletak di Jalan Jawa no 30, Bandung. 

Suasana Kedai Cwie Mie Mami di Jalan Jawa 30

Petang itu selesai kegiatan Swap BARS (tentunya dengan protokol kesehatan dong ya) saya, Nchie dan Uwien lapar berat.  Ya udah karena posisi kami dari Cipunagara cukup dekat, eksekusi deh tuh rencananya.

"Jangan bilang-bilang Teh Melly kita mau ke sana, ya!" Saya bilang gitu sama Nchie dan Uwien. Sok surprise ceritanya. Ga gitu ding,  ga mau ngerepotin hehehe. Takutnya Teh Mellynya lagi ada di rumah terus belain dateng ke kedai buat ketemu kami. Diiih.... geer amat ya hahaha

Sampai di lokasi kami bertiga sudah  set mode Pink Panther on alias  jalan ngendap-ngendap. Beneran, ada Teh Melly! Doi (((doi))) lagi duduk manis di depan mini pantrynya itu.  Reuni malam itu pun diisi dengan ketawa ngikik  kami yang akhirnya meet up juga setelah sekian lama..

Cwie Mie Bakso Bakar jadi plihan saya. Karena biasanya  makan olahan mie gini biasanya kan baksonya dikuah. Saya pengen nyicipin sesuatu yang baru. Sementara untuk minumnya air lemon hangat jadi pilihan kami bertiga.

Yang special dari cwie mie ini adalah mangkuknya yang terbuat dari pangsit. Cara pengolahannya yang sedemikian rupa, jadinya udah dibentuk kayak mangkuk. Lucu ya? 

Karena terbuat dari pangsit itu, yang bisa dimakan dong. Gurihnya Cwie Mie Mami ini bikin saya jadi sabar buat menghabiskan biar bisa ngemilin mangkuk pangsitnya yang kriuk itu. Padahal itu lagi lapar berat, karena belum makan dari siang. 

Pas lapar pas nemu yang enak. Kombinasi yang sempurna.

Selain disajikan dengan bakso bakar,  ada toping abon ayam dan daun selada + mentimun yang mempercantik penampilan.  Kalau suka pedes, udah tersaji juga. Ngambilnya dikit dulu aja, karena pedesnya lumayan menggigit.  

Kalau saya dan Uwien milih menu Cwie Mie Bakso Bakar, Cwie Mie bakso kuah jadi pilihan Nchie.  

Seperti ini penampakannya. Baksonya dicemplungin ke dalam kuah plus siomay.

Selain  itu ada menu lain juga sih, salah satunya Cwie Mie Cakalang. Penasaran pengen nyicipin yang ini. Next mau coba ah.

Kedai Cwie Mie Mamie menempati lokasi sebuah halaman yang asri. Penerangannya yang  mumpuni ditambah nuansa furniturnya yang serba kayu membuat suasanya terasa nyaman dan hangat. Berhubung lagi pandemi gini, kalau makan di sini ga bisa lewat dari jam 9. malam 

Demi kenyamanan dan keselamatan bersama, kita jalani aja protokol kesehatan yang udah ditetapkan ini, ya. Untuk satu porsinya rata-rata di kisaran 30 ribuan dan pilihan minumnya juga cukup variatif, kok. Kalau pengen minuman lain ready, lho.


Sambil ngobrol ngalor ngidul Teh Melly cerita gimana awalnya kedainya ini hadir. Mulanya, Teh Melly suka bawain oleh-oleh Cwie Mie buat suaminya. Eh Paksunya suka dan bilang kalau cwie mie ini harus dijalanin secara serius jadi bisnis. 

Selain rasanya enak dan unik juga belum banyak kedai di Bandung yang menjual oalahan cwie mie ini. Emang bener, rasanya bikin naksir. Semacam first love at first taste hahaha. Lebay yak? wkwkwk....

Diolah dengan mengandalkan resep keluarga, Teh Melly yang juag ikut turun tangan mengelola  kedainya bilang kalau bahannya  (termasuk pangsitnya itu) didatangkan langsung dari Malang, lho. So, soal originalitas resepnya ga diraguin lagi.

Gimana, sudah mupeng pengen nyicipin? 

Cus dateng aja langsung ke kedainya di Jalan Jawa No 30. kedainya buka setiap hari dari jam 11.00 sampai jam 21.00. 

Kalau mager atau lagi ga memungkinkan buat ke luar bisa pesan jga lewat aplikasi  Go Food atau Grab Food. Mumpung lagi ada diskon tuh. Cuus manfaatin, ya
Share:

Saturday, 19 September 2020

Cantik Tidak Selalu Harus Putih

Tau dong dongengnya Snow White, yang punya ibu tiri sirik karena merasa kalah cantik?  Dari dongeng klasik ini, sebenarnya ga dari dulu atau di mana aja semua perempuan itu punya cita-cita eh keinginan yang sama. Bahkan katanya Cleopatra rajin mandi susu buat perawatan kulitnya. Ga kebayang berapa susu yang dihabiskan buat dia sekali mandi kalau mandinya ala-ala bathub gitu ya?

Sementara di saat sekarang, persepsi cantik buat semua wanita itu adalah yang kulitnya putih.  Dulu nih di tv copywriting iklan sering menonjolkan yang cantik itu kalau kulitnya putih. 

Jadinya yang kulitnya berwarna sawo kematengan kayak saya rasanya terintimidasi gitu lho. Emang kenapa sih dengan kulit berwarna? Ga cantik? Padahal  diva-diva atau pemaen film banyak yang cantik walau kulitnya berwarna. Let's saya Beyonce, Halley Berry atau rada lawasan ada Mariah Carey yang tetep cantik dengan kulit berwarnanya itu.

mendefinisikan kembali arti cantik

Terus di zaman 4.0  seperti ini, saat akses informasi segitu mudahnya mengalir dari ujung jari,  persepsi cantik harus putih itu makin masif aja.  Pernah kan, liat iklan di sosmed atau market place yang menjanjikan perubahan warna kulit jadi putih dalam waktu instan?

Tunggu....
Ini muka kita lho. Bukan mie instan. Kalau kenapa-kenapa gimana memperbaikinya? I mean, kalau rusak biaya mengobatinya bakal lebih mahal! Bukan soal biaya aja yang bikin nyali kita menciut tapi juga efeknya. Boro-boro kosmetik umum yang punya izin resmi, untuk para bumil aja ga boleh sembarangan lho pake kosmetik atau skin care.

Nah, ini yang mau saya ceritain sekarang.  Hari rabu kemarin, 16 September 2020 saya ngikutin webinar yang diselenggarakan oleh BPOM soal 
mendefinisikan kembali arti cantik

Cantik itu ga sama dengan putih! Jangan mau dibodo-bodoin sama propaganda yang ga jelas.  Karena buat saya penting banget diketahui semua orang soal bahaya pemakaian kosmetik abal-abal. Sekalian meluruskan soal persepsi cantik itu tadi.

Acara dibuka dengan paparan dari DR Penny K. Lukito, MCP selaku Kepala Badan POM RI. Dalam paparannya   DR Penny menjelaskan kalau urusan keamanan kosmetik ini udah ada payung hukumnya lho, yaitu PP No 23 Tahun 2019.  Bayangin, walaupun udah ada pengawasan sejak dari produksi sampai pemasaran tapi tetap aja ada 'mafia' bisnis kosmetik yang tetep berani menjual kosmetik dengan klaim bisa menyembuhkan masalah kulit.

Hello??? Obat? No, Dear, Camkan baik-baik ya. 

Kosmetik itu bukan obat

Jadi kalau ada iklan yang klaimnya gini, centang pertama: MENCURIGAKAN 


Selanjutnya secara berturut-turut ada paparan lainnya yang disampaikan  oleh Dra. Mayagustina Andarini, Apt, MSc, Deputi Bidang Pengawasan  Obat Tradisional Suplemen Kesehatan dan Kosmetik, dr Listya Paramita , Sp.KK  dan dr Anggind G. Andromeda atau lebih dikenal sebagai Dokter  Grand Lich. 

dr Grand ini juga punya channel youtube yang suka membahas seputar kosmetik/skincare. Postingannya banyak membantu meluruskan pandangan kita kalau kosmetik aman itu ga selalu mahal dan mudah ditemukan. Cari aja di youtube, ya. 
mendefinisikan kembali arti cantik

Mari kita perjelas definisi kosmetik biar ga keliru lagi.
mendefinisikan kembali arti cantik


Dari penyalahgunaan kosmetik abal-abal berbahan merkuri sebagai bahan berbahaya yang banyak digunakan dalam komposisi kosmetik, pasar merkuri ini meraup keuntungan yang deretan nolnya bisa bikin mata kita berkunang-kunang saking banyaknya, 20 Milyar Dolar Amerika, lho! Atau kalau dikonversikan ke rupiah ini setara dengan 283 trilyun.

Balik lagi sedikit ke  PP No. 23 Tahun 2019 yang saya bilang di atas tadi beberapa efek berbahaya yang ditimbulkan oleh merkuri pada tubuh kita antara lain:
  • Kanker
  • Gangguan Janin
  • Gangguan Saraf
  • dan Penyakit Ginjal Kronis
mendefinisikan kembali arti cantik

Sialnya untuk mendeteksi keberadaan merkuri itu ga segampang mitos yang bilang menggosokan emas ke kulit yang sudah diolesi produk yang kita amati. Hmmm... 

Deteksi Merkuri dengan Emas itu Mitos, Gaes!

mendefinisikan kembali arti cantik

mendefinisikan kembali arti cantik


Jadi gimana cara mendeteksi kosmetik yang mengandung merkuri?  Yang paling akurat ya bawa kosmetiknya ke laboratorium untuk diteliti. Tapi secara sederhana bisa lho dideteksi dengan beberapa tanda berikut. Biasanya yang seperti ini patut dicurigai
  • Kemasan minimalis alias ga mencantumkan Label
  • Ga ada info izin edar bpom), tanggal kadaluarsa dan komposisi bahan yang tercantum
  • Janji manis hasil instan
  • Kalau sudah terlanjur pakai bisa muncul tanda-tanda yang banyak diabaikan seperti: kulit jadi tipis, terititasi dan rasa seperti terbakar 
Selain propaganda iklan yang level muluk-muluknya udah overdosis,  peran cirlce pertemanan di antara kita juga bisa memicu orang untuk mengambil jalan pintas untuk tampil kinclong dengan cara cepat itu tadi. Pernah dengar kan celetukan gini:

Kok kamu item? 

Padahal ga ada yang salah dengan tone kulit hitam/gelap. Ya kayak saya bilang di atas tadi kalau kulit cantik dan sehat itu bukan monopolinya yang berkulit putih. Tuh Kaisar Julius Agustinus aja sampai tergila-gila sama Cleopatra yang notabene berkulit gelap. 

Jadi definisi kulith sehat itu gimana?

Bersih, cerah. Udah gitu aja. Kan Tuhan juga udan menciptakan manusia dari berbagai ras dengan tone kulit yang berbeda.  Kalau masih ga percaya, coba deh jalan-jalan ke luar negeri dan cari drug store yang menjual skin care/kosmetik. Ga ada yang menjual produk dengan label "pemutih".  Yang ada bule-bule di luar sana itu kan sampai ngebetnya pengen punya kulit eksotis kayak orang asia kebanyakan.
mendefinisikan kembali arti cantik


Makanya tokoh selebritis seperti Vidi Aldiano dan Dini Aminarti juga ga mau asal ngambil endorse kalau ga mengedukasi. Mungkin terasa klise ya, tapi bagi Vidi, perempuan cantik itu ga bisa cuma diukur dari penampilannya aja.  Otak smart juga jadi salah satu hal yang bikin seorang perempuan punya inner beauty yang shining shimmering splendid gitu lho . 

Saya dibuat kesel dan gemes pas Ibu Mayagustina dan perwakilan BPOM lainnya cerita gimana kosmetik bermekuri ini diproduksi. Ternyata bukan dibuat di pabrik/laboratorium yang kehigenisannya terjaga. Kosmetiknya diproses dari ember, diproduksi di rumah. Gatel-able ga bayangin lihat kayak gitu?
mendefinisikan kembali arti cantik

Kalau ada teman yang udah kepalang pakai produk ini jangan lupa ingetin dengan cara yang baik-baik. Heart to heart alias dari hati. Jangan mempermalukan dia dengan komen yang malah membully. Kasih support kalau dia ga harus mengorbankan masa depannya demi kata cantik yang identik dengan putih.  

Kalau masih penasaran gimana sih  ukuran maksimal kecerahan kulit kita. Caranya gampang. Berdiri depan kaca dan bandingkan warna kulit wajah dengan warna lengan bagian dalam atau dada kita. Segitu tuh mentoknya.

Saya sendiri ga menampik pengen punya kulit cerah (bukan putih ya). Tapi ga mau asal pake kosmetik.  Selain setia (((setia))) sama produk yang terbukti aman yang lagi saya pake, saya lagi rajin-rajinin lagi menjaga kesehatan dari dalam. Ini yang buakal support biar kulit kita sehat. Ada yang samaan kayak saya ga?
  • Minum air yang banyak
  • Banyak makan buah dan sayur yang cukup
  • Hindari stress
  • Yoga dan banyakin jalan kaki
  • Tidur yang cukup (ini pr banget sih hahaha)
Mari sayangi kulit kita  dan luruskan kembali persepsi glowing itu ga harus maksa jadi putih. 
Share:

Thursday, 17 September 2020

PCR Test Setelah Rapid Test

Beberapa waktu lalu saya pernah baca meme-meme di sosial media soal tahun 2020 ini. Ada yang menulis tahun 2020 ini seperti software yang rasanya pengen di uninstall saja karena terlalu banyak virus. Iya, virus apa lagi kalau bukan Covid 19? Antara pengen ketawa tapi rasanya kok ngenes banget ya. Ada juga yang lebih ekstrim nulis, 2020 ini adalah gladi resik akhir zaman.

Ish, jangan gitu ah. Horor tau! Sudah terlalu banyak korban yang tumbang akibat virus ini. Mulai dari orang awam sampai dokter.  Dari yang bandel sampai yang patuh protokol kesehatan pun bisa kena.  

Kadang saya sebel juga lihat kerumunan masa, ditambah pada ga pake masker. Bandel amat sih? Emang ga pengen pandemi ini udahan? Padahal kalau aja dari awal pada patuh pake masker dan protokol kesehatan lainnya, ya. Mungkin wabah ini sudah tidak ada dan kita bisa beraktivitas dengan normal.
selalu pake masker
jangan lupa selalu pake masker ya

Sejak bulan puasa lalu, gang masuk ke komplek kami aksesnya dibatasi. Cuma menyisakan satu pintu masuk saja untuk ke semua RT di di lingkungan RW kami. Ribet sih. Kami jadi harus memutar setiap mau keluar. Terutama yang berpergian dengan kendaraan bermotor, baik sepeda motor ataupun mobil.  Kadang saya harus jalan kaki sampai ke depan gang buat ngambil paket yang diantar kurir karena mereka pusing nyari rute menuju rumah. Padahal  saya tuh udah share loc segala.

Bukan cuma saya aja yang lelah sama situasi kayak gini. Tetangga saya yang berprofesi sebagai bidan pun pasiennya harus ngambil jalan muter setiap menuju rumahnya karena keterbatasan akses itu tadi. Ya mau gimana lagi? Efek dari wabah ini membatasi banyak akses demi faktor keamanan.  Dan soal keamanan ini juga saya membatasi diri untuk melakukan mobilitas ke luar kota. Salah satunya membatalkan untuk pergi ke walimahan teman yang tinggal di luar kota.

Ga enak? Sudah pasti. Apalagi karena teman ini sahabat waktu kuliah dulu. Tapi setelah dipikir-pikir saya tuh ga yakin kalau orang yang saya temui di perjalanan (bus atau travel) 100% dalam kondisi aman. Belum lagi di rumah ada orangtua dan balita (keponakan) yang rentan terkena. Amit-amit ya kalau saya jadi OTG, carrier virus Covid 19 ini.  

Seingat saya untuk yang mau pergi ke luar kota lewat jalur kereta api ini wajib melakukan Rapid Test  atau PCR test. Syaratnya itu kurang lebih begini:

Menunjukkan surat keterangan uji tes PCR dengan hasil negatif yang berlaku 14 hari atau surat keterangan uji Rapid-Test dengan hasil non reaktif yang berlaku 14 hari pada saat keberangkatan
Itu juga jadi ganjalan kuat buat ga ke mana-mana. Ongkosnya lebih mahal daripada tiket kereta (paling sering jalan ke luar kota ya pake kereta). Beda kalau puya kendaraan sendiri, setidaknya ga harus ambil test ini dan interaksi sama orang lain relatif lebih terbatas.

pcr test di rumah sakit terdekat

Seperti yang kita ketahui kalau rapid test dan PCR Test ini ga sama. Rapid test berfungsi sebagai skrining yang dilakukan dengan mengambil sampel darah. Kalau terjadi infeksi, antibodi akan terbentuk. Kalau  IgG dan IgM bertambah, hasil rapid test dinyatakan reaktif terhadap infeksi virus Covid 19.

Nah beda lagi dengan PCR  Test. Ini adalah pemeriksaan lanjut dari rapid test yang sudah dilakukan sebelumnya untuk menegakan diagnosa yang lebih pasti.

Dengan kurva perkembangan kasus Covid 19 yang masih belum mau melandai, jadi warning buat kita untuk lebih hati-hati. Rasanya setiap orang sudah hafal di luar kepala soal aturan protokol kesehatan. Pake masker, jaga jarak, rajin cuci tangan dan sebagainya.  

Ya syukur kalau hasil rapid testnya negatif. Gimana kalau hasilnya positif? Nah pasien reaktif ini bakal dirujuk untuk menjalani PCR (polymerase chain reaction) Test, untuk mendeteksi material genetik  virus Covid 19 yang diambil dari lendir lewat hidung atau tenggorokan. 

source: https://www.connexionfrance.com/

Walau tampak ngeri atau bikin linu, PCR test sebenarnya ga sakit.  Selain itu waktu yang diperlukan juga cuma butuh 15 detik sebelum hasil pemeriksaan dikirim ke laboratorium untuk diteliti lebih lanjut.  Dan itu tadi hasilnya lebih akurat. 

Kalau ada orang terdekat kita yang membutuhkannya sekarang semakin mudah untuk itu. Jangan sampai harus nunggu kondisinya parah, dan dirawat di rumah sakit.

Semakin ke sini semakin banyak rumah sakit yang menfasilitasi. Kalau masih bingung mencari infonya di mana, cek saja langsung di halodoc.  Tinggal piih rumah sakit terdekat dengan tempat tinggal kita dan buat janji deh di sana. Rentang harganya beragam. Semakin cepat hasil yang keluar, biaya yang harus dibayar juga ikut nambah. Tapi kalau budget terbatas, ada pilihan lain dengan keluar hasil pemeriksaan sedikit lebih lama. Tinggal dipilih saja.

Soal layanan halodoc ini saya pernah memanfaatkan fasilitasnya. Sewaktu Apa (bapak) saya harus dirawat di rumah sakit berbarengan di awal-awal pandemi corona ini,  saya dan adik-adik memanfaatkan fasilitas konsultasi  dengan dokter lewat fitur chatnya. Responnya cepet dan memuaskan. Lain waktu saya pernah konsul juga soal gigi, dalam rentang waktu yang sama. 

Stay healthy ya teman-teman. Jaga kesehatan dan jangan lupa patuhi protokol kesehatan. Semoga wabah ini segera reda. Sudah terlalu banyak yang jadi korban karena wabah ini.
Share:

Tuesday, 15 September 2020

Enaknya Sei Sapi Bubulae Bandung

Pernah mencoba  olahan daging yang dimasak dengan cara diasap? Bukan sate tapinya lho. Sate mah kan dibakar ya.  Dan uniknya olahan daging asap ini signaturenya khas Indonesia, lho. Tepatnya dari Nusa Tenggara Timur. Boro-boro lagi pandemi gini, jauh hari lalu pun saya belum kesampaian menjejakan kaki di NTT buat melihat keindahan alam dan menikmati kulinernya. Dan ternyata lidah saya cocok sama sei sapi ini.
sei sapi bubulae


Untuk  kedua kalinya saya mencicipi hidangan sei sapi lagi.  Kali ini saya mencicipi Sei Sapi Bubulae gerai baru yang lokasinya ada di Jalan Dalem Kaum no 12 A.  Saya tuh sempet ngira kalau sei sapi itu pasangan makannya ya sama nasi. Eh di Sei Sapi Bubulae malah bisa dimakan bareng Mie. Kayak bakmi gitu ya hihi 

Karena waktu itu saya belum makan dan sebagai USA alias urang sunda asli yang katanya belum makan kalau ga makan nasi, saya jadi milih nasi sebagai pendamping makan sei sapinya. Eh pas lihat mie pesenannya Sandra, duh saya nyesel 
sei sapi bubulae
Mie ala Sei Sapi Bubulae

Untuk jenis sei sapinya ada 3 pilihan yang tersedia. yaitu sei sapi ayam, sei daging sapi dan sei lidah sapi.  Mana yang paling enak?  Karena saya tuh paling suka daging sapi bagian lidahnya, mata saya berbinar-binar lihat penampakan sei lidah sapi. Semacam liat saldo tabungan yang menggendat hahahaha *lebay*

Biasanya kalau olahan lidah sapi teksturnya tebal tapi ga alot. Nah sei lidah sapi ini disajikan dengan irisan yan tipis tapi bumbunya itu nyerap lho. Jadi ga seperti numpang lewat aja di lidah. 
sei sapi bubulae
Sei Lidah Sapi Bubulae

Kalau mau sei ayamnya atau sei sapinya juga ga kalah enak.  Beneran deh waktu pramu saji nganterin hidangan saya tuh mupeng mau nyicip semuanya. palternya juga cantik

sei sapi bubulae

Yang menarik dari  sajian daun singkongnya ini. Ternyata  punya rasa yang unik. Pas dikunyah itu punya rasa yang khas. Racikan rempah-rempah bumbu-bumbunya terserap dengan sempurna. Sejumput itu sih buat saya kurang banyak. Mesti nambah 2-3 kali hahaha. Segitu senengnya saya sama olahan sayuran hijau.

Terus masih ada space dong di perut. Waktu dikasih tau ada nasi goreng sei sapi saya iyain buat nyicipin. Sama seperti nasi goreng umumunya yang dissajikan dengen telur mata sapi. Selain tampilanc antik telur yang bulatannya presisi ga beleber ke mana-mana, ada potongan sei sapi yang mempercantik penampilannya.  Ini juga menu yang rekomended di sana.  Dijamin ngefans deh.
sei sapi bubulae

Kalau untuk sambal pendampingnya, di sini bukan hanya menyajikan sambal luat khas NTT saja lho. Ada sambel rica, sambel matah, sambel goang, dan sambal ijo dalam mangkuk kecil yang bisa kita nikmati. Entah itu buat cocolin daun singkong, diaduk sama nasi atau dilarutkan sama kuahnya. Bebas lho gimana seleranya.. 

Ada yang menarik soal  Sei Sapi Bubulae ini. Bubulae ini ternyata adalah nama latin dari sapi lho. Hayo, ternyata nama latin juga bisa catchy gini ya. Malah sekilas kayak kosa kata bahasa lokal di Indonesia.

Balik lagi sama Sei Sapi Bubulae, geainya ada di tiga tempat, yaitu:
  • Setrasari Plaza Blok A2
  • Jalan Mekar Utama 111H
  • Jalan Dalem Kaum No 12 A

Untuk gerai di Setrasari dan Jalan Mekar Utama buka setiap hari mulai jam 11 siang sampai jam 20.30 dan di jalan Dalem Kaum bukan lebih awal jam 09.00 dan tutup  lebih dulu jam 19.00. Kalau lagi di Bandung samperin aja gerai terdekatnya, ya.

sei sapi bubulae

Kalau ga bisa keluar, mager, atau males masak  udah pesen aja lewat ojek online. Dan kalau pesen di Grab Food lagi ada promo lho. Diskonnya sampai 50%. Hmmm apa yang asyik?  Pokoknya kalian harus nyoba menu-menunya Sei Sapi Bubulae ini ya. 






Share:

Monday, 7 September 2020

Sarapan Pagi Aman dan Nyaman di The Trans Luxury Hotel dengan Protokol Kesehatan

Sarapan di hotel dalam situasi seperti sekarang aman ga, ya?

Pertanyaan seperti itu bakal terlintas di benak kita saat tau hotel dan restoran sudah kembali beraktifitas  seperti biasa. 

Pakai masker, jaga jarak, selalu cuci tangan dengan hand sanitizer, hmmm... apa lagi yang bisa menjamin agar kita merasa aman di eranya New Normal? Ternyata nih, ada hal yang berbeda waktu saya barengan teman-teman sarapan di The Restaurant and The Lounge Hotel Trans Luxury Bandung beberapa hari ini.  Pengalaman ini yang mau saya ceritain sekarang.

Menu sarapan di sini masih disajikan secara buffet, tapi di setiap stand ada petugas dengan APD lengkap (masker, face shield dan sarung tangan) yang melayani pengunjung untuk mengambilkan makanan yang kita pilih.  Iya, jadi berbeda dengan kebiasaan sebelumnya. Kalau dulu tamu bebas mengambil sendiri sajian yang diinginkannya.Sekarang ada petugas yang akan mengambilkan.

Foto: properti The Trans Luxury Hotel

Untuk pengunjung pun, regulasi lainnya yang diterapkan ga kalah ketatnya. Diantaranya pengecekan suhu tubuh dan masker dengan infra-red thermal dand mask detector  (mesin pengecekan ini juga ada di kawasan mall dan theme park Trans Studio), jarak meja antara satu dan lainnya sedemikian rupa serta pengaturan waktu  kedatangan bagi tamu yang akan sarapan di sini. Ga akan ada tuh penampakan tamu yang berkerumum di stand untuk mengambil makanan. Yang ada semuanya pada tertib seperti yang saya saksikan. Selain itu pengunjung juga tetap diwajibkan menggunakan masker, kecuali kalau saat sedang makan.

Foto: properti The Trans Luxury Hotel

Seperti biasa, kalau sarapan di hotel, salad tuh menu wajib sebagai pembuka.  Bukan sok healthy, tapi emang suka banget. Salad sayur jadi pilihan buat saya hari itu plus sereal yang sudah disajikan dalam gelas mungil ini. Lucu banget, ya?




Saya sempat ngobrol dengan Teh Anggi selaku Marcom The Trans Luxury Hotel. Dari Teh Anggi saya jadi tau kalau Hotel Trans ni menerapkan protokol kesehatan yang super ketat. Selain regulasi umum yang juga berlaku di tempat lainnya (seperti cek suhu tubuh, pemakaian apd berupa masker, face shield dan sarung tangan bagi staf dan karyawan), cairan kimia yang digunakan untuk membersihkan perkakas makanan dan peralatannya adalah  grade terbaik yang  ampuh membunuh virus dan kuman. 

Sebagai buktinya Food and Beveragae outlet di hotel ini sudah mendapat sertifikat Hazard Analysis dan Critical Control Points (HACCP) yang dikeluarkan oleh lembaga audit  makanan dan minuman internasional. So, udah ga ragu lagi dong ya untuk stay cation dan sarapan di hotel ini. 


Selesai sarapan dengan salad, saya juga tertarik untuk mencicipi aneka pastry dan pizza. Pizzanya ini punya tekstur yang lembut dan empuk. Sepotong rasanya ga cukup hahaha... Begitu juga muffin cokelat dan croissantnya. Saya harus pinter-pinter ngatur space di perut, ngasih ruang untuk makanan lain yang pengen saya cicipin. 

Untuk sarapan pagi, The Restaurat yang lokasinya ada di lantai 3 ini buka mulai dari jam 08.00  sampai 10.30 pagi untuk melayani pengunjung. Ga ada batasan berapa banyak makanan yang akan kita ambil. Selama masih muat di perut. Tapi jangan sampai nyisa (apalagi nyisa banyak) gara-gara lapar mata ini pengen itu mau. Jangan, ya.

Selain salad dan aneka pastry yang saya bilang sebelumnya juga tersedia menu lain khas Indonesia,  ala Japanese, Hongkong, western,  dan lainnya. Nah lho! Saya udah berhasil bikin galau teman-teman kan? Maafkan, ya. Makanya biar ga berlanjut buruan agendain ke sini, ya hehehe.

Foto: Property The Trans Luxury Hotel


Foto: properti The Trans Luxury Hotel

Mumpung lagi ada promo juga nih. Karena dengan membayar sebesar Rp. 1.425.ribu untuk nginap di sini, kita bisa menginap 1 malam di kamar Premier yang mewah sudah include dengan sarapan untuk 2 orang dewasa dan 2 orang anak di bawah usia 6 tahun plus tiket masuk ke Trans Studio Bandung untuk 2 orang dan 1 VIP Acces Trans Studio Bandung! Wow asik banget ini mah bonusnya.

Masih ada waktu sampai tanggal 27 September 2020 ini untuk menikmati previledge yang saya sebutin di atas. Untuk informasi dan reservasi langsung aja hubungi nomor telepon 022-87348888 atau chat via Whatasapp di nomor +628118118391

Share:

Thursday, 16 July 2020

Mengurus Kartu ATM BJB yang Hilang (dengan Surat Kuasa)

Udah kesel nunggu orang lama di dalam ATM, ga taunya pasa giliran sendirinya malah bingung. Kok kartu atmnya ga ada?

Pernah ngalamin gitu, ga?

Baru-baru-baru ini saya ngalamin. Antara sebel, kesel dan malu. Campur jadi satu. Seinget saya, kartu atm selalu ada di dompet. Ga ke mana-mana.  Kasian sama yang nunggu di luar, saya buruan keluar dari bilik atm. Masih penasaran di mana itu kartu atm, saya udekin tiap celah kompartemen dompet tetep ga nemu. Huaaa.... mulai panik ini.
atm bjb
ilustrasinya punya tempo.co

Saya segera balik ke rumah dan coba nyari di mana kiranya itu kartu atm berada.  By the way kartu atm yang saya cariin itu bukan punya saya, tapi atm BJB punya Apa (bapak). Terkena Parkinson yang membuat motoriknya lemah membuat Apa minta tolong saya ngurusin ngambil uang pensiunannya tiap bulan.

Ga pake slip biasa?

Udah. Tapi ini kena limit juga. Kalau dikuasakan ga boleh lebih dari 3 kali penarikan. Setelah itu harus dibuatkan kartu atm. Waktu itu, saat buat kartunya, petugasnya datang ke rumah dan ngurusin administrasinya sampai selesai. 

Balik lagi ke cerita. Ternyata setelah cape nyariin di setiap celah kayak tas, buku dan tumpukan dokumen atmnya tetep ga ketemu. Mungkin jatuh, mungkin ketelan mesin waktu terakhir ngambil (lupa ga diambil selesai uang keluar) dan kemungkinan lainnya.

Karena ini menyangkut hajat hidup, saya harus buruan ngurus. Nyari informasi di internet ga nemu petunjuk yang detil. Akhirnya saya memutuskan buat nelpon call center BJB di 14049 buat blokir rekening dan nanya cara ngurusin dokumen pengajuan kartu yang baru.

Petugas call center mengarahkan saya buat nyiapin dokumen termasuk surat keterangan hilang dari kepolisian buat ngurusin penggantian atmnya. Waktu itu saya dikasih tau buat nelpon dulu ke kantor BJB di mana Apa buka rekening buat nanya lebih detil (bukan ngurus ke BJB terdekat dengan rumah). Sayang,  sayanya abai. Kelak ini jadi nyusahin saya sih wkwkwk... Nanti saya cerita di bawah, ya.

Jadi ini alurnya yang harus dilakukan kalau seandainya kartu atm BJBnya hilang, ketelen mesin dan sebagainya.
 

Datang ke Kantor Polisi

Cukup datang ke polsek terdekat aja buat minta pengantar kehilangan kartu atm. Kalau dikuasakan kayak kasus saya, jangan lupa bikin surat kuasa. Sederhana aja redaksinya, ga ribet, kok. Kalau bingung tinggal googling aja.  

Di polsek ini, saya ga bayar sepeser pun buat ngurus kehilangannya. Kan ini udah tugas mereka melayani masyarakat buat membantu. 

Karena ini surat kehilangannya atas nama Apa, saya ga bisa langsung pergi ke BJB yang saya tuju tapi harus balik lagi ke rumah buat mintain tanda tangan Apa. 

Sungguh repotnya ga bisa bawa motor itu, baru kerasa saat seperti ini. Bolak balik dari rumah ke polsek, ke rumah lagi baru bisa pergi ke Bank. Tau sendiri lah angkot itu selow, karena nunggu penumpang rada banyakan.   Prediksi alokasi waktu jadi meleset dibuatnya. Padahal di banknya mah ga pake lama.


Pergi ke BJB Di Mana Rekening Dibuka

bjb jalan braga

Pas ke sini ini dramanya sampai 5 kali. Bukan cuma urusan tanda tangan yang emang perlu effort ekstra, tapi karena kecerobohan saya yang saya ceritain tadi.

O,ya sebagai pensiunan purna bakti ASN, seperti sebagian besar mantan PNS lainnya di Bandung, rekening tabungan Apa dibukakan di BJB cabang utama jalan Braga.  Saya naik bus kota dan turun di perempatan jalan Braga. Dari situ saya jalan kaki sekitar 5-10 menit untuk sampai sana. 

Geliat jalan Braga yang eksotik dengan suasana vintagenya,  sudah mulai terasa.  Walau sebel karena kecerobohan saya tempo hari, kalau bukan karena ngurusin ginian, saya ga bisa liat update terbaru secara real lewat pandangan mata bagaimana kehidupan kota kembali berjalan.  Ya daripada sebel ngedumel mending ngambil sisi positifnya aja, ya hahaha.
bilik disinfektan bjb

Sampai di depan Bank, setiap pengunjung wajib melewati bilik disinfektan. Ini kekatroan saya selama PSBB kemarin. Baru kali itu juga saya merasakan masuk bilik ginian. Kuyup ga, kena semprotannya? Ternyata enggak. B aja. Cuma semprotan kayak rinai hujan gerimis tipis. Saya dikasih tau pak satpam buat nginjak tombol di sudut kanan bawah untuk mengaktifkan semprotannya.

Setelah itu saya dicek suhu tubuh baru bisa masuk ke dalam. Eh iya deket pintu masuk juga sudah disediakan wastafel buat cuci tangan.

Saya cuma nunggu bentaran aja buat dapat giliran curhat eh konsultasi sama petugas customer service. Waktu saya ceritain apa masalahnya dan nunjukin dokumen yang sudah saya siapkan,  ternyata ada yang kelewat (ya karena saya ga nanya-nanya dulu sih sebelum pergi ke sini).


Jadi ini yang harus disiapkan dengan baik dan benar. Jangan salah karena bakal nguras energi (ya waktu, ya kesabaran).

1. Surat Keterangan Hilang dari Kepolisian
2. Surat Kuasa (pake materai)
3. Fotocopy Buku Bank (juga aslinya)
4. Fotocopy kartu keluarga
5. Fotocopy KTP pemberi kuasa dan yang diberi kuasa (juga aslinya)
6. Surat keterangan sakit dari dokter yang menerangkan kalau yang bersangkutan ga bisa datang tanpa diwakilkan,
7. Dokumen diagnosa terakhir yang menguatkan kondisi terakhir

Nah, buat nomer 6 itu yang jadi masalah buat saya karena pas datang ini kelewat buat nanya.  Petugasnya dengan ramah memohon maaf karena saya harus balik lagi untuk melengkapinya.  

Senyum ramah dan permohonan maaf yang tulus melelehkan saya (cieeee) buat ga ngegrundel karena ternyata ribet juga ngurusinnya.  Dari informasi pertama ini saya udah dapat gambaran kalau prosesnya ga cukup 1-2 kali datang.

Ngurus Surat Keterangan Dokter 

Sebagai informasi surat dokternya ini harus beneran surat dokter yang sudah punya izin praktik. Adanya cap dokter dengan nomer izin praktik atau kop surat dari rumah sakit bakal lebih menguatkan.  

Jangan minta surat dari puskesmas deh, karena formatnya standar kayak izin ga masuk kerja atau sekolah biasa itu. Ini bakal ditolak karena ga menjelaskan kondisi real pasiennya (dalam hal ini Apa yang mobilitasnya terbatas buat ngurusin uang pensiunannya di BJB). Ini juga yang jadi drama tersendiri waktu saya minta ke puskesmas. Minta dibuatkan keterangan  kondisi Apa, ga bisa katanya. Formatnya udah plek gitu, ga boleh berubah.

Kok ga dateng langsung ke dokter biasanya?
Apa termasuk yang susah dibujuk buat berpergian. Apalagi saat itu belum waktunya buat kontrol rutin. Apa sempet bilang ke dokter deket rumah aja.  Ga ah saya bilang, nanti diagnosanya takut beda lagi. Belum lagi kan harus ada biaya administrasi ini itu.  

Setelah saya bujuk buat pergi ke dokter  yang emang udah menangangi, akhirnya Apa mau. Alhamdulillah dokternya kooperatif buat menandatangani surat keterangan. 

Sebelum pergi, saya WA-in dulu redaksinya buat mastiin oke apa masih ada yang kurang. Jangan sampe bolak balik lagi mengingat rumah saya dan rumah dokter lumayan jauh 😂.  Jadi pas kami dateng kontrol rutin (tepatnya early check up sih hahaha) Dokternya tinggal nandatanganin gitu.

Kalau orang sunda bilang, asa bucat bisul (bisulnya pecah).  Tapi to do list saya buat beresin printilan dokumen belum separuhnya rampung. Rasain Fi, makanya jangan ceroboh hahaha.....

Pengisian Form

Hari ketiga saya datang ke Bank, barulah dokumennya udah dianggap lengkap. Saya dikasih form buat ditandatangani sama Apa. Untuk kolom lainnya boleh saya yang bantu isiin. Khawatir tangan Apa yang tremor dan bikin kesalahan kan repot harus bolak balik.


Sistem keamanan BJB ini emang ketat dan berlapis. Saya pahami buat keamanan simpanan nasabah. Jangan sampai ada yang menyalahgunakan. Gitu aja. 

Waktu ngisi form ini saya diminta untuk video call buat nunjukin dokumennya beneran ditandangani sama Apa. Saya juga harus moto (minta tolong) dari sudut lain pas Apa nandatanganin. Kan saya lagi pegang HP buat video call-an gitu. Jadi susah buat moto, kan?

Hari keempat baru deh semua dokumen lengkap. Hari itu juga Kartu ATM pengganti sudah selesai dan bisa digunakan. 


Tanda Terima Kartu ATM

Tapi.... masih ada dokumen lain yang harus diselesaikan. Tanda terima kartu atmnya. Yang ini juga harus ditandatangani sama Apa, ga bisa diwakilkan. Saya tetep harus balik lagi buat nyerahin tanda terima. 

Jangan-jangan satpam yang ngurusin nomer antrian  jadi familiar deh lihat muka saya karena dalam seminggu rutin setor muka ke Bank hahaha.... Tapi saya lega semua urusan kelar. CS yang ramah dan sabar ngurusin administrasi bikin cerita PP saya ke bank jadi berkesan. Jangan sampai kejadian lagi kartu atm hilang. 

Tapinya lagi kalau udah kepalang kejadian kayak saya itu, teman-teman udah punya gambaran harus ngapain.  

Still, saya ingetin buat nelpon dulu ke Bank yang dituju soal kelengkapan dokumen yang dibutuhkan. Karena siapa tau kan ada aturan baru yang diberlakukan. Kalau dokumennya bener, temen-temen ga perlu sebanyak saya bolak-balik ke Bank ngurusin ginian. Mungkin cukup 3 kali aja dari pertama datang sampai nyerahin tanda terimanya. 



Share:

Monday, 29 June 2020

Acara Nikahan Pasca Pandemi Covid-19

Beberapa hari yang lalu Kang Emil, Gubernur Jawa Barat mengumumkan Pembatasan Sosial Berskala Besar alias PSBB di Jabar berakhir (kecuali untuk wilayah Bogor, Depok dan Bekasi).  Berlanjut dengan adaptasi kebiasaan baru alias AKB, sejujurnya saya tuh udah betah diem di rumah. 

Cepat atau lambat semua aktivitas akan kembali berjalan dan  yang namanya waspada mah tetep aja kudu ada. Ga terkecuali dengan acara nikahan teman blogger, Mega Rachma yang kemarin saya hadiri. Baik. Ini undangan acara nikahan pertama pasca pandemi buat saya.
 
nikahan pasca pandemi covid 19

Saya dikasih tau untuk datang jam 10 pagi, tapi karena harus setor muka untuk kelas zoom yang saya ikuti, saya dateng 30 menit lebih awal biar bisa diem dulu di lobi sambil ngikutin kelasnya. Ternyata pas nyampe di acara (di Hotel Tebu, jalan Riau 62 - Bandung) pihak hotel ga nyiapin tempat untuk berkerumun termasuk lobi yang bisa ditongkrongi.

Petugas yang jaga di depan mengonfirmasi kedatangan saya yang mau menghadiri acara nikahan. Sebelum masuk, saya disuruh cuci tangan pake hand sanitizer dan dicek suhu tubuh. 

"36,4" kata petugasnya nunjukin angka digital yang muncul di thermo gunnya. Sesudah itu saya ngisi daftar tamu dengan mencantumkan alamat dan suhu tubuh yang tadi dikasih tau. Kemudian saya diarahkan untuk naik ke lantai 1. Di sana udah banyak tamu yang nunggu di ruang transisi. Kursinya dikasih jarak seperti  posisi kursi lagi ujian waktu kuliah dulu. 

Sebelum masuk ruang transisi ini saya disuruh buat cuci tangan lagi pake hand sanitizer.  Masuk akal sih karena pas jalan ke sini kan tangan kita secara ga sadar pegang tepian tangga gitu ya. 

Jam di hp saya udah nunjukkin jam 9.30. Sambil nunggu Nchie yang baru sampai parkiran saya nyalain aplikasi zoom itu tadi dan nunggu giliran masuk. Keluarga dari mempelai yang ada di sana juga banyak yang nunggu giliran masuk. Noted. Kekerabatan ga berpengaruh sama akses masuk. Maksud saya tetep aja keluarga juga harus patuh aturan. Good!

Salah seorang keluarga (kayaknya among tamu atau panitianya) mempelai datang menghampiri dan  menginformasikan kalau nanti boleh naik ke lantai 9 (lokasi acara)  secara bergilir buat 6 orang.  

acara nikahaan pasca pandemi covid 19

Yaaa udah saya sama Nchie ngopi dulu (udah disiapkan deket pintu masuk ruang transisi ini)  sambil nunggu giliran masuk.  Lucu juga nih biasanya kalau datang ke acara nikahan kan suka ada hingar bingar prosesi adat, suara mc yang mandu acara dan celotehan riuh tamu yang datang. Ini suasana acara nikahan yang paling selow yang saya ikuti. 

Sekitar jam 11 siang kami dipersilakan masuk. Social distancing tetap berlaku di lift dan lagi-lagi pas masuk ke ruang antara selain jaga jarak kami dicek lagi suhu tubuh dan cuci tangan dengan hand sanitizer.
acara nikahaan pasca pandemi covid 19

Sebenernya saya tuh paling seneng kalau dateng ke acara nikahan disediain kursi yang banyak buat duduk. Bukan makan sambil berdiri. Sebagai seorang muslim saya diajari untuk makan dengan posisi duduk  dan penelitian medis juga mendukung soal ini.

nikahan pasca pandemi covid 19

Ga ada perasmanan atau buffet.  Hidangan yang akan diambil ga self service alias ngambil sendiri. pramusaji yang lengkap dengan masker,  face shield dan  sarung tangan dengan senang hati akan menyajikan di piring sesuai rikues tamu. Bahkan untuk sendok dan garpu yang bisanya tinggal ngambil pun sudah dibungkus dengan plastik. Super higienis dan safety.   

Saya ditanyai sama pramusajinya menu ini mau ga? yang itu gimana? Nasinya bisa rikues, jangan dibanyakin. Kalau minta nambah sih jangan ya. Malu hehehe


acara nikahaan pasca pandemi covid 19

Di bagian paling depan, lurusan pintu masuk tadi, ada panggung kecil yang menyajikan band buat menghibur tamu. Dengan polosnya saya celingukan nyari Mega.

"Meganya lagi ganti kostum" kata keluarga yang tadi saya temui di ruang transisi.   

"Oh..."

"Eh tapi pengen ketemu Mega dulu ah," kata Nchie. 

Dasar sayanya lagi labil ikutan berhenti dulu. Ga enak kalau mulut lagi penuh terus ada ngobrol sama mempelai.
nikahan pasca pandemi covid 19

Ternyata oh ternyata pengantinnya ditempatkan di ruangan lain. Kirain bakal kayak intimate wedding ala bule gitu. Pengantinnya berbaur sama tamu. Wkwkwk..... Duh kami lupa ini kan social distancing wedding. Ya udah kami lanjutin aja makannya. 

Nah abis makan ini baru deh MCnya ngasih tau tamu yang udah selesai makan boleh ketemu pengantin sambil nunjuk ke arah lorong yang ada di belakangnya. 

"Jangan lupa, kalau sudah bertemu dengan pengantin, bapak  ibu silakan meninggalkan acara"

"Duh diusir kita, Nchie" kata saya. Kami ngakak. Lorong yang kami susuri menuju pelaminan ternyata instagramable.   Naluri saya langsung on dan ngingetin Nchie buat foto di sini.
acara nikahaan pasca pandemi covid 19

Kalau aja panggung kecil band deketan sama pelaminan harusnya lagu Beautiful in White-nya Shane Fillan dinynyiin. Nih Mega manglingi banget dan cantik  dengan dress pengantin putihnya itu.  Tanpa cipika cipiki, cuma kasih salam namaste dan minta izin foto.

"Boleh ya kami lepas dulu masker, bentaaar aja" kata Nchie.

Panitianya ngizinan dan membantu buat fotoin kami.

"Satu, dua, tiga ...yak! Ganti pose 1, 2, 3! Pose bebas..."  Ga enak mau liat dulu hasil jepretan karena dari arah berlawanan orang lain juga udah nunggu giliran.  Kami pasrah aja dengan hasil jepretan, ga enak rikues macem-macem.  Saya yang ngambil posisi di sebelahnya Lugan beneran social distancngnya ya? Wkwkwk... Agak ga enak kalau berdiri sebelahan pengantin cowok. Gimana gitu :D
nikahan pasca pandemi covid 19

Setelah memenuhi hasrat futu-futu kami segera keluar dari lokasi acara, bergegas turun menuju lobi. Sepanjang acara yang saya hadiri, baik pihak penyelenggara maupun manajemen hotel sudah menerapkan protokol kesehatan dengan displin. 

Di tempat makan saya sempet lihat tamu yang datang membawa anaknya yang ga pake masker. Mungikin nih tamu merasa anaknya bakal sesak kalau dipakein terus maskernya. Seorang petugas datang menghampiri tamu dan ngasih tau agar anaknya tetep pake masker (kecuali lagi makan lho ya).

Saya pikir manajemen hotel lain pun bakal menerapkan protokol yang sama baik kalau ada acara atau untuk tamu yang may stacation.  No worry kalau lupa bawa hand sanitizer misalnya karena ini udah disiapkan. 

Untuk souvenirnya (dikasih waktu di ruang transisi itu)  adalah sepasang masker dan hand saniter jadi kenang-kenangan buat tamu. Ini souvenirnya gemesin dan valuable.  Memang ga ada hingar bingar gitu seperti yang kita  temui di acara walimahan atau resepsi. Ga ada acara photo booth, tenan makanan lain dan sebagainya. Tapi tetep aja ga mengurangi kekhidmatan selama acara.

Adaptasi kebiasaan baru yang mengesankan buat saya. Kalau temen-temen mau menggelar resepsi nikahan kayak gini no worry deh. Khawatir di rumah ga terkontrol dengan massa di mana kita suka ga enakan buat tegas, konsep  kayak gini bisa dicontek nih. Ga ribet harus beres-beres sesudahnya juga, kan?

Barakallah ya,  Mega. wish you all the best. Semoga jadi keluarga yang sakinah, mawaddah warrohmah. Moga ketemu lagi di acara lain yang susananya segera kembali normal huehehe tetep yaaa 
Share: