Dear Love: Ide Film Sederhana Yang Instagramable

Dear Love: Ide Film Sederhana dengan  Sentuhan Instagramable - Awalnya saya termasuk tipe orang yang percaya kalau persahabatan dua anak manusia  yang berbeda jenis kelamin itu biasa aja. Ga ada apa-apanya, sama aja kayak sahabatan sesama anak perempuan atau laki-laki. Tapi lamaaaa kemudian saya mikir kalau anggapan itu nonsense. Boong. Pasti ada apa-apanya. Ya mungkin ga berlaku buat orang lain teori versi saya ini.

Dan ngomongin soal dari sahabat jadi cinta seperti lagu yang pernah dinyanyikan mendiang Mike Mohede ini banyak contoh kongkritnya yang bertebaran di sekitar saya :). 


Di blogpost ini saya bukannya mau jadi agen infotemen atau semacam mamarazi yang iseng ngamatin orang lain. Enggak, kok. Tapi ini berdasar pengamatan dari film yang baru saja saya tonton pas premiernya kemarin di Cinema XXI Festival City Link. Sekaligus meet and greet bareng kru filmnya. 

Dear Love


Kisah cinta yang awalnya dari temanan dan jadi cerita cinta itu sudah banyak kita temukan, sinetron, FTV atau beberapa novel. Klasik, ditambah lagi kalau tokoh utamanya menderita penyakit serius. Seperti itu juga cerita dari film Dear Love yang dibintangi oleh Dimas Aditya (Nico), Mentari De Marelle (Rayya) dan Billy Davidson (Addin). Rayya yang sejak kecil punya tubuh ringkih. Rayya selalu menyembunyikan rasa sukanya pada lawan jenis lewat surat yang ditulis dan disimpannya di dalam whisper box. Kebalikannya dari tren digital di mana gadis-gadis seusiaanha, (21 tahun) lebih suka menggalau alias curcol di media sosial.

Rayya yang sejak kecil cuma punya sahabat sebaik Nico dibuat heran ketika tiba-tiba para 'gebetan'nya ujug-ujug datang menyatakan cintanya. Ia marah pada mamanya (Wanda Hamidah) dan Nico yang ternyata diam-diam mengirimkan surat terpendamnya itu pada Mike, Cello dan Addin. Dua nama pertama  segera balik badan begitu tahu kondisi kesehatan Rayya, kecuali Addin yang 'tulus' menerima Rayya apa adanya yang punya kelainan jantung bawaan. 

Dengan status Rayya yang enggak jomblo lagi, akhirnya Nico mengajak mereka double date. Rayya datang bersama Addin, sementara Nico  barengan dengan Nadine - yang nota bene klien kantornya Rayya bekerja, sebuah majalah fashion wanita dewasa.

Konflik kemudian mulai muncul ketika mereka berempat sering berinteraksi. Nadine yang rewel soal makanan, sok english dan posesif tidak suka Nico masih memperhatikan Rayya. Di sisi lain Addin juga tidak nyaman dengan perhatian Nico yang berlebihan pada Rayya. Sampai kemudian, Rayya mengetahui ada sesuatu hal yang disembunyikan oleh Nico dan Addin. Rahasia apakah itu?

Kalau memerhatikan alur film sepanjang 80 menit, sekilas rada mirip  dengan cerita Refrainnnya Winnna Efendi.  Kesamaan lainnya dari film dan novel ini adalah alur cerita yang berputar di sekitar dunia model dan fotografi. Bedanya di novel Wina ini para tokoh wanita  yang memperebutkan perhatian tokoh laki-lakinya. Selain itu di Refrain tokohnya masih remaja, usia anak SMA. Sedangkan Rayya, Nico, Addin dan Nadine sudah dewasa, mapan dengan karirnya masing-masing. 

By the way, saya cukup bingung juga, di usianya yang masih 21 tahun mereka sudah berada di posisi yang nyaman dalam urusan bisnis atau pekerjaan. Kalau dihitung-hitung seusiaan mereka kebanyakan baru selesai kuliah. Tapi bisa saja kalau  sejak masih kuliah, sudah magang.

Gimana soal wardrobe? Tidak hran kalau di film ini cukup menonjol. Mengingat profesi beberapa karakternya berhubungan dengan dunia modeling. Tapi style fashionnya Rayya terlihat sedikit lebih dewasa untuk seumurannya. Ya,  meski begitu tetap enak dilihat. Kasual dan stylish. Saya juga naksir sama outer yang dipakai Rayya  waktu ketemu  sama Mike. Motif geometrisnya keren, dengan potongan yang modern. Jadi mengingatkan saya pada corak songket dari Lampung.

Meski ide ceritanya klasik dan sederhana, film sepanjang 80 menit ini bisa dibilang eyegasm. Dedy Syah dan tim kreatifnya berhasil memanjakan mata penonton dengan latar film yang instragramable. Selain fashion  yang dikenakan oleh Rayya atau Nadine, contoh lainnya adalah suasana kafe tempat beberapa kali Rayya ngedate, desain eksterior rumah tempat tinggal Nico dan Rayya yang kayak rumah-rumah boneka. Begitu juga dengan danau tempat Rayya dan Addin mengayuh sampan adalah beberapa contoh dari bagian film yang membuat visual film tidak terasa membosankan.  

Curiganya saya, danau di mana syuting film ini  diambil tidak lama lagi bakal rame. Eh jangan-jangan sebenarnya biasa saja, hanya karena kelihaian angle kamera? Jadi keingetan komentar beberapa teman yang tinggal di Yogya. Waktu itu saya menyebut beberapa spot yang jadi latar film Ada Apa Dengan Cinta 2 menarik. Kata mereka sih biasa aja, hanya karena kejelian sudut pengambilan kamera yang membuat venue jadi terlihat menarik.

Baca juga 8 hal yang saya suka dari aadc 2

Buat yang merasa sadar fashion atau desain ruangan dengan pilihan warna yang sangat foto-able, boleh lah memasukan Dear Love dalam list film yang akan ditonton. Tapi kalau  berharap isu lain yang akan diangkat dari film ini ya siap-siap aja kecewa.  Mungkin kalau ide cerita sejenis seperti film produksi Hollywood: My Sister's Keeper  diangkat, bisa membuat Dear Love ini bisa jadi lebih menarik. Di film My Sister's Keeper  yang juga punya tema tentang penyakit serius , konflik cerita bisa sampai merembet ke masalah hukum, di mana seorang anak bisa menuntut orang tuanya karena dijadikan donor oleh orang tuanya.  Ini harapan saya saja. Ga berarti plot filmnya harus kayak gitu.  Mungkin yang sudah nonton punya ekspektasi yang berbeda untuk ide film dengan tema serupa.

Beberapa penampilan aktor/aktris senior yang jadi pendukung film seperti Ikang Fawzi (papanya Nico) di sini terlihat kurang maksimal. Ditambah kemunculannya yang cuma sedikit saja. Yang saya ingat waktu merayakan ulang tahun Rayya bersama mamanya Nico (Karina Suwandi) dan saat berada di rumah sakit.

Sementara Wanda Hamidah yang cukup sering muncul dari make up terlihat kurang tua untuk seorang ibu yang memiliki anak gadis yang beranjak dewasa. Kurangnya dikit. Kalau di film ini  kata saya lebih cocok jadi tantenya Rayya yang paling bontot. Masih kelihatan seperti seorang wanita di akhir usia 30an.  Kalau Ikang Fawzi emang dari sononya kelihatan awet muda. Dengan usia sebenarnya yang sudah kepala 5 masih nampak segar bugar. 

Selain venue yang jadi penyelamat film ini, Mbak Rere,  bosnya Rayya yang judes, suka ngomel dan merepet buat saya adalah tokoh yang berhasil mencuri perhatian. Biar begitu, dia ini kadang masih ga tegaan. Seperti ketika Rayya yang harus menjeda presentasinya gara-gara ada seseorang yang datang. 

Dengan genre film yang bernuansa drama, selama nonton film ini kita masih disuguhi beberapa dialog lucu, kadar kesedihan yang saya rasakan rada samar. Selama nonton film ini saya malah banyak dibuat terkekeh atau terpesona dengan suasana yang instagramable itu tadi. Misalnya saja ketika Jojo, anjing piarannya Nadine yang ga mau dipangku oleh model yang jangkungnya menjulang itu. Kasian banget. Masa hewan piaraannya aja ga suka sama dia?

Eh satu lagi ada satu scene yang saya suka di film ini, yaitu ketika Rayya pergi meninggalkan Nico di bawah gerimisnya hujan. Feelnya dapet, deh. 
Kalau kamu denger pake hati,  kamu tau mana yang boong, mana yang jujur.


Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

8 komentar:

  1. Kenapa ya kok saya kurang suka nonton film Indonesia yang cinta-cintaan yah. Hehehhee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi bukan karen trauma masa lalu kan, Mas? hehhehe

      Hapus
  2. Pengen nonton, tapi suka ngantuk kalau nonton hehe, tapi bener loh kalau pake hati bakalan tau mana yang boong dan mana yang jujur

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi masa sih? Kudu bawa cemilan cepuluh kayaknya biaar melek. Emang kalau yang dari hati nyampenya ke hati lagi, ya.

      Hapus
  3. Aku sudah lama enggak nonton film Indonesia. Film ini segmennya mungkin ke anak muda sma an gitu ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya anak sma-kuliahan gitu sih Astin. Tapi yang udah emak-emak ga dilarang kok nonton flm ini.

      Hapus
  4. wahhh filmnya keknya seru nihh,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayangnya ga bertahan lama, Mas. Udah turun layar kalau di Bandung :)

      Hapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.