Monday, 14 March 2011

Berhenti Sejenak

Hari ini baru saja selesai validasi data siswa peserta UN SD. Sementara kepala sekolah mengikuti rapat, saya dan staf tata usaha lainnya ditempatkan di ruangan lain. Mengoreksi data siswa yang harus dibetulkan mulai dari nama, tempat dan tanggal lahir sampai data ortu. Syukurlah menjelang dzuhur acara itu sudah beres, males rasanya kalau harus berlama-lama berkutat di sana karna saya cuma perlu waktu sebentar saja untuk membereskannya. 


Selesai validasi, teman saya Dadi (perempuan lho) mengajak saya mampir ke rumahnya. Cuaca Bandung yang lagi panas-panasnya ditambah janji mampir ke tempat teman untuk suatu keperluan membuat saya menolak ajakannya. Lagi pula saya pengen segera sampai rumah. Setelah berganti angkot dan turun di depan terminal Leuwi Panjang, saya meneruskan perjalanan pulang dengan angkot rute Cimahi. Nah, di perempatan Pasirkoja, sekitar 1 km dari Leuwi Panjang seorang bocah kecil menghampiri angkot yang saya tumpangi dan mulai memainkan kecrekan sederhananya. Dan mengalun lah "Bukan Bang Toyib"nya Wali dari mulut kecilnya.
ilustrasi pengamen cilik

Ah, Bang Toyib? Apakah ayahnya seperti Bang Toyib juga sampai sesiang itu dia harus mengamen. Apakah oranng tuanya tidak menyekolahkannya? Bukannya ada Dana BOS? Sekolah bisa gratis? Mungkin seperti itu kebanyakan yang terpikir sebagian orang.
Buat saya (meski tidak selalu ngasih sekedar receh sama pengamen), dengan membiarkan dia menyanyi dan tidak memberinya uang bukan satu solusi yang bijak. Bukan cuma potongan dari adegan sinetron atau film kalau seorang anak dieksploitasi orang lain atau malah orang tuanya sendiri untuk mengamen. Saya dan seorang teman pernah mengamati di tempat yang sama itu juga saat anak-anak itu mengamen tidak jauh dari mereka ada orang-orang dewasa (lai-laki dan perempuan) memperhatikan mereka. Entah siapa mereka, tapi yang terbayang dalam pikiran saya mereka seperti penadah setoran. Saya ga tega membayangkan anak-anak itu jika tidak bisa memenuhi harapan mereka. Dipukul? disiksa? Pikiran yang terlalu berlebihan mungkin tapi ya itu tadi kalau tujuannya mendidik bagi saya sasarannya salah. Lain cerita kalau pengamen atau pengemis yang kita jumpai itu sudah dewasa dan badannya bugar. 

Kalau dengan tidak memberinya apa lantas membuat anak itu mikir dan berhenti mengamen kah? Buat saya justru mereka yang memaksa anak-anak itu mengamen dulu yang harus dibereskan. Ngomong-ngomong soal sekolah gratis tidak lantas semua serba gratis kan? lagi pula mungkin kalau mereka memang tidak mampu keadaanlah yang memaksa. padahal  pasal 33  UUD 1945 jelas koq menyebutkan anak-anak terlantar dan fakir miskin dipelihara oleh Negara. Nah Lho!


Bicara soal keluarga miskin pun yang nota bene mendapat bantuan raskin dan BLT  juga tetep harus melaui mekanisme nan ribet. Seperti BLT misalnya, untuk membuktikan seorang warga berhak mendapatkan BLT dia  harus bisa menunjukkan Kartu keluarga, sementara di sisi lain birokrasi (lagi) yang ribet kerap meminta 'biaya administrasi' buat membereskannya. Ah, pusing, seperti Lingkaran setan saja ya? Saya berharap akan segera ada sosok seperti Muhamad Yunus (tau kan? beliau seorang tokoh dari Bangladesh yang konsen soal kemiskinan dan pernah diwawancara oleh Oprah karna kepeduliannya itu) di negeri ini. Mungkin ada dan tidak terekspos atau saya sendiri tidak tahu? Wallahualam, sya juga pengen seperti Muhamad Yunus yang bisa menyisihkan lebih banyak rejekinya buat mereka. Semoga yaaa, Amiin.




Nah, bicara soal pemberdayaan masyarakat miskin, saya jadi teringat satu judul buku "Berhenti Sejenak" tulisannya Bayu Gwatama. Sudah lama sekali saya membacanya. Waktu itu adik saya yang pinjam dari temen dan saya nimbrung ikutan baca. Ada satu bagian yang menginspirasi soal pengamen tadi. Saya tidak tahu apa masih bisa dicari atau tidak tapi mungkin ada teman atau saudaranya yang punya, silahkan baca. Isinya menyentuh kita akan kepedulian mereka yang malang.


Jadi, dalam salah satu bagian itu diceritakan (seingat saya itu yang dialami penulis dengan temannya, maaf kalau lupa ya). Dia heran dengan sikap cuek temannya yang tidak pernah mau mengulurkan barang sedikit receh untuk pengamen/pengemis yang dijumpai di jalan. Ah, pelit sekali sih kamu, protesnya. Temannya itu cuma tersenyum menanggapinya. Hingga satu waktu temannya ini mengajak beliau  mengunjungi seorang ibu di daerah pemukiman yang padat penduduk.  Ternyata temannya itu mengajaknya menemui seorang ibu penjual pecel. Akhirnya dalam obrolan itu terungkaplah kalau dulunya si Ibu penjual pecel itu seorang pengemis.
"Bu, saya mau ngasih ibu. Ibu mau pilih apa, saya kasih receh atau saya kasih modal buat usaha? kalau ibu mau modal usaha, ibu harus bisa mempertanggungjawabkan  modal yang saya kasih," kurang lebih seperti itu dialognya. Subhanallah, ternyata si ibu pengemis ini memang mengemis karna terpaksa. Akhirnya disepakati si Ibu ini mendapat bantuan modal.  Setelah mendapat modal usaha itu,  si temannya ini selalu menemui si Ibu dan memantau perkembangan usahanya. Memperhatikan apa saja yang harus dibenahi dalam usahanya. Dan.... berhasil! ternyata beliau bisa memenuhi kebutuhan keluarganya dari usaha itu.


Nah, proses mendidik seperti inilah yang menurut saya benar, bukan diam tidak memberi. (Duh, saya sih masih jauh dari sikap temannya Bayu Gawtama ini). Kalaupun kita tidak yakin dan mampu bisa memonitor bantuan si Ibu tadi, bukankah ada banyak  Lembaga Amil Zakat yang bisa kita titipkan dana untuk membantu mereka yang tidak mampu? Mudah-mudahan cuma saya aja yang su'uzhan melihat mereka yang tidak mau memberi sedekah dan diam-diam menyalurkan dananya lewat lembaga amil zakat atau cara lain yang menurut mereka lebih baik.
Semoga yaaaa





Share:

Sunday, 13 March 2011

Seishi O Kika Sete

Well. saya mulai mengenal Jepang waktu kecil dulu, kira-kira kelas 2 SD. Waktu itu hiburan tv cuman ada TVRI aja dan salah satu serial yang lagi happening diantaranya adalah serial Oshin. Nah, ketauan deh setua apa saya ya? hehehe

Jadi, yang masih tersisa dalam ingatan saya tentang Oshin, adalah gambaran wanita Jepang yang hidup perih sejak kecil. Mulai dari karakter Ayahnya yang keras dalam mendidik, suaminya yang nyebelin, hidupnya yang ditimpa kesulitan bertubi tubi diceritakannya dengan penuh bijak dan tenang pada sosok cucunya yang etnah lupa lagi siapa nama figurnya hehehe. Ya, seperti itu lah yang saya ingat.

Inget dong siapa Ayako Kobayashi (Oshin kecil) Yuko Tanaka (Oshin Muda dewasa) dan Nobuko Otowa (Oshin tua)?

Sejak mengenal film Oshin, semakin nambah yang terrekam dalam ingatan saya selain pendudukan tentara Jepang di Indonesia, Bom Hiroshima dan Nagasaki, atau serial hero lainnya seperti Voltus, Zabogar, Ksatria Baja Hitam, sampai serial komik macem Dora Emon dan Detektif  Conan kayaknya cuma serial Oshin  yang paling berkesan.

Share:

Tuesday, 1 March 2011

LDF : Paket Dari Jepang

Memenuhi request seorang sahabat, saya posting naskah LDF saya di blog ya :)

“Fi, ada paket tuh buat kamu. Dari Jepang,” kata Mama siang itu ketika saya baru saja pulang.

“Dari siapa sih?” Tanya Mama dan adik saya kompak seperti koor paduan suara.

“Ah, pasti kiriman dari Mba Dina,” jawab  saya sambil buru-buru masuk ke kamar, mencari paket yang di maksud.
Paket bersampul coklat  itu segera saya buka.  La Tahzan For Student yang dijanjikan beliau sudah berpindah tangan di antara kami yang terpisah ratusan mil. Padahal lebih mudah dan cepat ya  kalau saya pergi ke toko buku tanpa harus menunggu sekian waktu. Otak gretongan? Iya sih,  tapi tunggu dulu! Jangan protes ya. Selain buku itu memang special saya dapatkan langsung dari salah satu kontributor seri antologi itu tapi juga pertemanan yang saya jalin dengan Mba Dina  lewat salah satu milis yang saya ikuti.

Saya mengenal Mba Dina setelah saya memposting sebuah thread. Waktu itu Mba Dina menanggapi thread saya langsung secara japri. Obrolan yang ringan dan santai membuat kami cepat nyambung dan tidak terputus begitu saja dalam satu kali balas-balasan email.

Sejak itu lah kami mulai intens bertukar cerita, link blog, mengoreksi penulisan nama katakana saya yang ‘rada’ salah,  dan obrolan-obrolan seru lainnya. Dari blognya Mba Dina, saya juga mengenal si kecil Luna yang sebenarnya lahir di siang bolong. Ah manis dan lucu sekali melihat tingkahnya dalam video yang diunggah mama-nya di blog. Hebat ya, bocah usia 4 tahun itu sudah banyak menguasai kosa kata bahasa Jepang hehehehe. Ya iya lah, secara dari lahir dia berinteraksi dengan mereka yang berbahasa Jepang.

Selain melihat lucunya tingkah Luna, saya juga bisa menyaksikan kemeriahan  sebuah festival di Jepang yang juga diunggah Mba Dina. Subhanallah saya semakin ngebet  menyaksikan langsung Sakura mekar yang Cuma 7 hari saja dalam setahun itu.

      “Kalau kamu maen ke Jepang, ga usah  repot-repot cari penginapan Fi. Kamu nginep aja di apartemen saya, gratis! Saya dan suami memang sengaja menyediakan satu ruang khusus untuk tamu yang menginap. Kami seneng banget kalau kedatangan tamu dari tanah air.  Beberapa waktu yang lalu juga ada tamu dari tanah air lho nginep di apartemen saya. Hitung-hitung menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Indonesia  buat Luna”

      Siapa nolak? Lumayan banget kan bisa menghemat biaya penginapan di Jepang. Tau sendiri lah seperti apa biaya dan segala tetek bengeknya di Jepang sana.  Semoga kesampaian ya… Amin ya Allah.

      Satu waktu saya pernah memposting tulisan di blog saya tentang budaya dan watak orang Jepang yang membuat saya terkagum-kagum. Mba Dina menanggapi dan mengamini apa yang saya tulis. Mba Dina cerita kalau kita meninggalkan sesuatu di keranjang sepeda kita selama berjam-jam dijamin ga akan hilang, atau barang yang tertinggal di kereta,  99% kemungkinan besar  bakal balik lagi sama pemiliknya, soal budaya antri yang rapi dan kebiasaan lainnya.  Tapi, Mba Dina juga mengimbuhkan soal kerinduannya pada rasa persaudaraan yang kuat cuma terasa di Indonesia.  Semoga kalau kembali ke tanah air bisa segera ketemuan alias kopi darat ya.

Bukan Cuma sharing dari email dan facebook saja, lewat paket buku yang Mba Dina kirimkan saya juga belajar beberapa hal. Bagaimana keteguhan hati seseorang dicoba ketika jauh dari tanah air. Mulai dari menjaga kehalalan makanan,  semangat belajar yang pantang menyerah dan keyakinan akan pertolongan Allah ketika kita merasa berada di titik kritis.
Alhamdulillah, dari email terakhirnya saya mendapat kabar kalu kuliah S-3nya sudah selesai dan sedang menunggu yudisium maret nanti.  Wow, selama komunikasi yang saya jalin dengan beliau, kesan hangat, low profil dan lucu yang saya dapatkan. Senang sekali rasanya punya teman yang meskipun terpisah ratusan mil sebaik Mba Dina. Duh Mba Din, menjadi temanmu indah ya?

Saya tersenyum geli ketika membaca “7 Ter”nya. Salah satunya  ceritanya tentang teman Jepangnya yang tidak bisa membedakan babi dan baby  itu. Salah paham dalam kosa kata ternyata bukan cuma monopoli orang Indonesia aja ya?
Impian saya untuk menyaksikan sakura mekar mungkin harus tertunda dulu tahun ini tapi saya masih punya harapan untuk mengunjungi Jepang tahun-tahun yang akan datang. Tentu saja saya juga berharap segera bertemu Mba Dina satu waktu, entah itu di tanah air atau malah menemani saya jalan-jalan di Jepang sana. Ya, rencana Allah, siapa tahu kan?

****

Tulisan ini saya sertakan dalam lomba Long Distance Friendship yang digelar oleh dua orang teman di FB, sudah ditutup deadlinenya, sedang menunggu pengumuman. Hadiahnya lumayan, paket buku yang menarik :)
Share:

Monday, 21 February 2011

Jadilah wanita perkasa, bukan cewek tomboy!!

Tomboy. Kata itu berasal dari Tom yang boy, alkisah sih begitu awalnya. Tapi akhirnya kosakata ini identik dengan cewek yang sikap dan tingkahnya kayak Tom, eh…maksudnya kayak cowok. Mulai dari dandanannya, gaya berpakaiannya, rambutnya, hobinya, sampai ke tingkah segala rupa. Cewek-cewek suka pada bangga kalau mereka mendapat sebutan tomboy.

Coba lihat saja sinetron yang mengexplore sikap tomboy ini dalam Kecil-kecil jadi Manten yang tokoh utamanya bernama Rohaye (sinetron jadul). Doi berpenampilan ala cowok. Mulai rambut yang dipotong gundul ala Ronaldo, baju kaos dan celana yang identik baju kebangsaan cowok, suka berkelahi, suka panjat-panjat pohon, main sepak bola meski doi cewek sendiri, hingga gaya berjalan semua dibuat sedemikian rupa biar kayak cowok beneran. Belum lagi sinetron-sinetron remaja yang terkadang menggambarkan seorang cewek yang mukulin cowok hingga babak belur.

Itu di sinetron. Belum lagi media iklan yang juga suka banget munculin tokoh-tokoh tomboy terutama produk-produk buat remaja. Coba deh lihat di sekeliling kamu, akan banyak lagi dijumpai fenomena cewek tomboy ini. Seakan-akan jadi cowok tuh enak banget, cool man! Tapi apa iya sih jadi cewek yang bertingkah kayak cowok itu emang kelihatan cool dan asyik?

....Cewek tomboy itu bukan karena faktor genetik kayak semacam penyakit, melainkan karena dibentuk oleh lingkungan....

Munculnya cewek tomboy

Cewek tomboy itu bukan karena keturunan, juga bukan penyakir menular hehe, ngelantur. Maksudnya cewek tomboy itu bukan karena adanya faktor genetik kayak semacam penyakit. Bukan dan gak bener itu. Munculnya fenomena cewek tomboy karena dibentuk oleh lingkungan. Faktor keluarga yang cenderung bebas, mau jadi tomboy kek itu bukan menjadi perhatian ortu. Atau saudara yang kebetulan cowok semua. Atau bahkan bentukan dan didikan keluarga karena memandang bahwa jadi cowok itu jauh lebih oke dan bergengsi daripada jadi cewek. Ada lho keluarga yang begini. Anak cewek sama cowok diperlakukan beda ma artu juga lingkungan., Jadilah yang terlahir sebagai cewek gak pede dengan kecewekannya dan memilih bertingkah sebagai cowok.

Atau bisa juga cewek tomboy karena trend. Banyak banget tuh para cowok suka sama style cewek tomboy. Dengan alasan kalo cewek tomboy lebih enak diajak gaul daripada yang cewek beneran, atau orangnya gak terlalu rewel dan manja. Bisa menghidupkan segala suasana dan lain-lain. Sehingga cewek yang awalnya gak tomboy karena tuntutan jaman dan trend akhirnya mulai coba-coba untuk bergaya tomboy. Celana jins dan kaos oblong, topi dipakai terbalik kayak abang becak, maennya sama cowok mulu, tertawa, berbicara dan bergaya ala cowok agar sebutan cewek tomboy melekat pada dirinya.

....Ada yang gayanya aja kayak tomboy, diputusin cowoknya udah nangis Bombay....

Tapi, jadi cewek tomboy membawa konsekuensi tersendiri loh. Ada yang gayanya aja kayak tomboy, diputusin cowoknya udah nangis Bombay. Ih..jijay banget kan? Atau gayanya sok cowok, tapi ternyata ada ada cowok kiyut lewat mata tetep aja melotot. Itu mah cewek banget atuh.


Wanita-wanita Perkasa Teladan Umat

Kalau kamu mengaku seorang cewek yang gak suka lemat-lemot, coba bandingkan dengan sosok-sosok perkasa ini.

Share:

Monday, 14 February 2011

True Love

Ngudek-ngudek arsip lama dari temen, dah  jadul sih pas Friendster  masih hapening. Mumpung momennya lagi pas nih :)

Kadang saya iri melihat orang-orang di sekeliling saya, disayangi oleh
"seseorang".  Apalagi di bulan Februari. Di mana-mana nuansanya Valentine.
Saya memang penganut "tiada pacaran sebelum akad", tapi sebagai manusia
kadang timbul juga perasaan ingin diperhatikan secara istimewa.

Saya tidak pernah tahu rasanya candle light dinner. Pun tidak pernah
menerima bunga mawar merah. Tidak ada yang menawarkan jaketnya saat saya
menggigil kedinginan. Atau berpegangan tangan sambil melihat hujan meteor.
(Deuh, Meteoor Garden banget! He..he...)

Yah, mungkin saya bisa merasakan sekilas hal-hal itu kalau saya sudah
menikah. Mungkin. Mudah-mudahan. Tapi sampai saatnya tiba, bagaimana caranya
supaya tidak kotor hati?

Lalu  saya pun tersadar, tiga kata cinta yang saya rindukan itu sudah sering
saya dengar. Orang tua saya selalu mengucapkannya. Memanggil saya dengan sayang" betapapun saya telah menyusahkan dan sering menyakiti mereka.
Mungkin mereka bahkan memanggil saya seperti itu sejak saya belum
dilahirkan. Padahal belum tentu saya jadi anak yang bisa melapangkan mereka
ke surga... Belum tentu bisa jadi kebanggaan.. . Jangan-jangan hanya jadi
beban...

Tatapan cinta itu juga sering saya terima. Dari ibu yang bergadang menjaga
saya yang tengah demam... Dari ayah yang dulu berhenti merokok agar bisa
membeli makanan untuk saya... Dari teman yang beriring-iring menjenguk saya
ketika dirawat di rumah sakit. Dari adik yang memeluk saya ketika
bersedih. Dari sepupu yang berbagi makanan padahal ia juga lapar. Dari orang
tua teman yang bersedia mengantarkan saya pulang larut malam. Betapa
seringnya kita tidak menyadari.

Share:

Flash Fiction : Indah Pada Waktunya

Flash Fiction ini dibuat dalam rangka kampanye Say No To Valentine yang kerap dirayakan di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Miris rasanya karena dengan merayakan Valentine ini, taruhannya Aqidah kia bisa tergerus. Semoga makin banyak yang tersadarkan.

Indah Pada Waktunya

Mita mengerutkan keningnya saat ia  menemukan seikat bunga dan sebatang coklat di meja kerjanya. “Dari Tomi” seloroh Tika seperti memahami kebingungan Mita. “Konyol ah,” timpal Mita cuek.  Tika terkekeh, “ His name is also effort” dengan grammar kacaunya. Maksudnya namanya juga usaha hehehe. Mita memonyongkan mulutnya. “Buat kamu aja deh.”
Sigap Tika meraih coklat dan membuka bungkusnya. “Eh, jangan!” 

“Lho katanya buatku?”

“Maksudku orangnya,” Mita menyeringai sambil meraih coklat dari tangan Tika. “Yang ini jangan. sogokan!”
“Emang bakal digerebek KPK?” Tanya Tika polos.  “Ngaco ah.  besok aku bawakan yang lebih mahal dari ini” Mita mengacungkan coklatnya.

Mata Tika berbinar. “ Awas, jangan lupa lho!”

 “Mit, ga suka ya bunga sama coklatnya?” suara Tomi dari belakang punggung Mita membuat keduanya menoleh.
            “Tom,kapan saja kita bisa berbagi koq, ga harus nunggu 14 Februari. Bukankah setiap  pagi kita menyapa teman-teman di kantor dengan salam? Mendoakan keselamatan untuk saudara itu jauh lebih bermakna. Berpahala pula.  Murah meriah” beber Mita riang.

Tomi tersenyum hambar. Deheman khas  Tesa sang Admin Head menghentikan obrolan pagi itu. Hari itu pikiran Tomi seperti bola kusut, rasa penasarannya belum terjawab. “Tesa ngehe,” rutuknya pelan. Riuh rendah jeritan printer yang mencetak laporan rutin bulanannya menyamarkan rutukannya. Padahal jarak meja kerjanya dengan meja Tesa cuma beberapa langkah saja.

“Tom,  aku kan pinjem laporan jurnal bulan kemaren, bukan yang nopember.”  Mita sudah berdiri di sampingnya.
“Masa?”

“Iya, kamu ngelamun  sih,” canda Mita.

“Abis hadiah dari aku kamu tolak sih” dalih Tomi. “Nih. Awas ya, kembali utuh lho. Jangan ada file yang hilang. Kalau enggak...” Tomi menyodorkan arsip yang diminta Mita sambil  melirik Tesa yang tengah tenggelam dengan kesibukannya.
“Ada yang bisa kubantu?” tanya Tesa sambil mendongak dari tumpukan laporannya.

Kompak Mita dan Tomi menggelang. “Enggak Tes.”
“Bawa bekal ga? Aku traktir makan siang ya?” Tomi seperti menemukan ide menuntaskan kepenasarannya.
“Bareng sama Tika ya?  Biar yang tandukan ga nimbrung” Mita menaruh kedua telunjuknya di samping pelipisnya.
Tomi menganguk setuju. “Oke.”

****
“Mit,  kalau bunga dan coklat itu aku ganti dengan yang lain gimana?” Tanya Tomi.
“Tom, bukan soal barangnya yang ga bisa aku terima.” Mita menyeruput teh manisnya. “Semua amalan itu kan tergantung niatnya. Sementara kamu ngasih aku hadiah itu untuk alasan yang ga bisa aku terima. Meski misalnya kamu ngasih aku hadiah lain.

Maaf sekali,  aku ga mau ngasih kamu harapan  kosong. Selama ini aku menghargai kamu sebagai teman, titik. Virus merah jambu itu kamu jinakkan dulu ya, banyak-banyakin ikutan pengajian. Satu waktu kamu bakal bertemu dengan seseoarang yang berhak  dengan semua perhatianmu. Percayalah, semuanya akan indah pada waktunya Tom. ” tukas Mita diplomatis.

            “Mulai lusa aku mau ambil cuti seminggu. Nanti kamu datang ya. Ada syukuran sederhana ”
Mita menyodorkan undangan bersampul merah marun berukuran setengah folio. Tomi tergugu membaca isinya. Tika yang sejak tadi asik jadi  pendengar setia mengibaskan tangannya. “Tom, 15 menit lagi.  Kamu shalat kan?”
Tomi mengangguk lemah. “Tentu Tik, lagian aku pengen mempertahankan rekor clean sheet rekor absenku.”
Share:

Friday, 4 February 2011

These Pictures Can Tell Thousand Words

Sayang sekali rasanya kalau tidak berbagi.  Dulu sekali dikirim seorang teman. Jamannya Friendster masih happening. hehehe jadul sekali ya? Mudah-mudahan pesan moral dari gamabr ini ga basi alias jadul. Thanks for sharing ya Menik. Semoga jadi obat hati buat kita semua, kalo kesedhian, kemalangan yang kita rasakan sepertinya tidak seberapa dengan mereka rasakan. Cobaan yang Allah kasih ga akan salah alamat,  pasti sesuai takaran kemampuan hamba-Nya menanggung. Wallahualam.
aa



if you think your job is tough, how about him?

if you think your salary is low, how about her?

If you think you don't have many friend s ...

you think study is a burden, how about her?

hen you feel like giving up, think of this man

if you think you suffer in life, do you suffer as much as he does?

if you complaint about your transport system, how about them?

if your society is unfair to you, how about her?

" That which is beautiful is not always good; but that which is good is always beautiful"
Share:

Wednesday, 2 February 2011

Lomba Resensi Buku (Please Support Me :D)

Dear Friend, ada lomba resensi buku yang di adakan Asma nadia. Hadiahnya lumyan banget, nih :
Akan diambil 2 orang pemenang.
Juara I : hadiah buku terbitan ASMANADIA PUBLISHING HOUSE senilai Rp.500.000
Juara 2 : hadiah buku terbitan ASMANADIA PUBLISHING HOUSE senilai Rp. 300.000

@ 10 peresensi awal yang berada di Jakarta dan sekitarnya akan
mendapatkan kesempatan untuk melihat syuting film Rumah Tanpa Jendela
secara langsung.
@ 5 Peresensi terbaik yang ada di Jakarta dan sekitarnya, berhak
mendapatkan tiket gratis untuk nonton bareng film Rumah Tanpa Jendela
bersama Asma Nadia!

Bisa ngehemat budget kita buat belanja buku-buku Asma Nadia kan? dan kalo menang bisa dialihkan untuk belanja buku lainnya. Duh beneran deh, saya udah bikin list buku-buku yang pengen saya beli dan berharap bisa menang hehehe. Kalo temen-temen pengen ikutan juga bisa baca ketentuannya di sini 
Waktunya masih panjang koq, sampai tanggal 25 Februari 2010 ini.

Nah sekalian nih saya mau minta tolong juga hehehe. Tolong dong kasih komentar  di resensi yang saya buat ya, kalo ga komen kasih jempol juga ga papa koq. Soalnya pemenang yang diambil adalah mereka yang jumlah komen/like nya paling banyak.  Caranya gabung dulu ke http://www.facebook.com/AsmaNadia.Penulis  trus komentarin deh resensi saya sini.
Jangan sampe nyasar ya

O ya ini resensi saya ya, tapi tetep kasih komentar/likenya di link yang saya kasih (jangan lupa join dulu ya) hehehe bukan maksa ya tapi memohon (lho?)

Share: