Curhat Netizen Bandung Pada MPR

Desember 20, 2017

Selasa sore, selepas ashar di tanggal 11 Desember 2017 jadi hari yang spesial buat netizen Bandung. Sekitar 60 orang blogger dan perwakilan hadir berkumpul di  hotel Aston Tropicana Cihampelas. Kenapa saya bilang spesial? Ini karena kali kedua buat netizen Bandung mengikuti acara bincang bersama MPR setelah sebelumnya dilaksanakan pada bulan Mei 2017. Yang membuat semakin spesial event kemarin juga karena Zulkifli Hassan, ketua  MPR juga ikut hadir.

Jadilah setelah dibuka dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya, aneka curhatan langsung mengalir dari audiens dalam acara Gathering Netizen MPR dan BloggerBDG. Mulai dari gas 3 kilogram yang mendadak hilang dari peredaran, persoalan kena tilang polisi, pola perkawanan yang kompleks di Indonesia, sampai mood menulis yang hilang karena pengenaan pajak yang dirasa tidak adil dan mematikan gairah menulis.   Diskusi santai sore itu akhirnya mengerucut menemukan kesimpulan. Apa yang jadi masalah dan sumber keluhan yang mengemuka sesungguhnya bukan hanya urusan pemerintah. Tapi juga jadi PR bersama bagi kita semua sebagai rakyat.

Sampah yang menumpuk dan banjir yang menderas setiap musim hujan datang memang menyebalkan dan menguras stok kesabaran. Tapi kan, nggak akan tiba-tiba surut dan selesai dengan curhat begitu saja. Terus kita sebagai rakyat apakah kita sudah membantu mencari solusinya? Semisal membuang sampah pada tempatnya, memilih, memilah dan mengolah sampah sampai membayar retribusinya?

Saya jadi inget quote familiar yang pernah saya dengar saat menyimak tausiyahnya Aa Gym. Mengatasi masalah itu diselesaikan dengan 3M. Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal terkecil  dan Mulai dari Sekarang. Ibaratnya kita ini adalah  lidi-lidi yang terserak, jika semuanya terikat dalam satu sinergi dan punya komitmen yang sama, solusi untuk masalah akan lebih mudah didapatkan

Di hari itu juga, Pak Zul dengan gaya santai dan to the pointnya mengambil contoh negara-negara di kawasan Skandinavia sana. Selain Finlandia yang terkenal dengan sistem pendidikannya yang layak jadi panutan, ternyata masih ada hal lain yang bisa teladani. Seriusan, saya kurang update (alias kurang baca).

Mereka tidak punya bareskrim dan komisi pemberantasan korupsi (KPK),  salah satu lini dalam kepolisiannya yang mengurus dan menginvestigasi tindak kriminal. Tapi catatan aduan kasus kejahatannya sangat kecil. Padahal di Indonesia sini dengan adanya Bareskrim, aneka laporan kejahatan selalu saja ada. Bukan dalam hitungan bulan atau minggu tapi harian. Ada apa atuh ya, dengan Indonesia ini?

Gimana dengan korupsi? As we all know, ini pun ga kalah eksis. Mulai dari korupsi kerah biru alias korupsi kecil-kecilan yang dilakukan pegawai kecil, sampai korupsi kerah putih atau mega korupsi yang dilakukan pejabat negara yang sampai saat ini masih jadi agenda maraton lembaga peradilan di negeri ini. 

Sepertinya (dan memang iya sih), ada yang salah dengan mindset yang selama ini membenam dalam benak dan kepala kita. Padahal kalau ditarik ke belakang orde reformasi di Indonesia sudah melangkah lama, hampir 20 tahun berlangsung. Tapi ternyata masih ada lubang yang tersisa, ada robekan yang harus disambung untuk menyatukan kembali Indonesia.

Reformasi di Indoesia yang ditandai dengan kebebasan menyampaikan pikiran dan pendapat serta berkumpul di mana di zaman sebelumnya menjadi sesuatu yang mewah ternyata belum sepenuhnya berhasil menyatukan hati dan pikiran bangsa ini. Masih saja berulang war-waran di media sosial soal suka tidak suka pada figur pemimpin, bullying atau hoax yang herannya masih saja ada yang menyebarkannya. Padahal sudah ada undang-undang ITE yang mengatur etika media sosial. E ya ampun, masih banyak yang abai.  Duh, gemes saya jadinya.

Itu di dunia virtual alias dunia media sosial. Di dunia nyata pun ga kalah ramenya. Tau dong ya, kasus persekusi yang dialami oleh Ustadz Somad di Bali tempo hari.  Terlepas dari latar belakang yang mengawali kasus ini, ga berarti kita bisa main hakim sendiri atau bahkan bersikap tidak adil memukul rata dari respon yang muncul. Maksud saya gini. Enggak semua orang-orang Bali sana bersikap setuju dengan tindakan persekusi terhadap Ustadz Somad ini. analogi sederhananya,  tidak semua orang Sunda menyukai lalapan, atau semua orang Jawa suka makanan yang manis misalnya. Tapi yang sudah-sudah,orang jadi gampang menggeneralisasi. Kalau si A begini ya si B yang latarnya sama dengan si A juga bakal gitu.

Padahal tetangga sebelah sudah selow alias santai dengan perbedaan yang ada. Hal mana semboyan berbeda tapi satu seperti yang kita baca dalam lambang Garuda Indonesia belum sepenuhnya kita jalankan. Yang di Jepang sudah semakin menyempurnakan teknologi antisipasi gempa,  orang-orang Korea sudah memengaruhi dunia dengan tren pop atau sinemanya bahkan Vietnam yang sempat ancur-ancuran dengan perang saudara di tahun 1980an pun sudah berkompromi dan mulai melesat.

Masih mau melangkah maju, kan? Iya, dong. Mau lah. Masa mau disalip terus. Mau tau apa kuncinya? Cuma tiga aja, kok. Ini nih.

  • Mengokohkan diri dengan asal muasal.
Jangan lupa asal kita siapa dan dari mana.
  • Mengerti negeri.  
Lupa, bingung atau samar? Inget pesan Bung Karno, Jas Merah. Jangan pernah melupakan sejarah. Yuuk ah baca lagi dan perbanyak referensi.
  • Punya ilmu. 
Iyes, karena yang namanya hidup itu kan melangkah maju, bukan mundur. Nah biar bisa terus melesat, perbanyak ilmu dan skill. Biar ga jalan di tempat. 

Tinggal satu aja, niatnya jangan cuma jadi wacana, tapi aksi nyata, alias action. Karena tujuan berbangsa dan bernegara itu keadilan bagi semua. Ya kan? 


You Might Also Like

7 komentar

  1. Curhaat donk Pak Zul...
    Semoga curhatan Netizen Bandung bisa mendapat jawabannya yaa, etapi kadang permasalahan sampah dan banjir emang bener juga ya, balik lagi sama rakyat yg suka buang sampah sembarangannya hahaaa..

    BalasHapus
  2. Aku pikir acara yang berbau politik gini bakalan ngebosenin Teh, taunya malah bisa curhat ya.. 😂

    Semoga masyarakat Indonesia semakin punya kesadaran tinggi tentang kesatuan, supaya nggak gampang terhasut hoax, nggak main hakim sendiri biar negara Indonesia ini semakin maju. aamiin..

    BalasHapus
  3. Yang penting saling menghargai, itu!

    BalasHapus
  4. Masih banyak lubang di hati rakyat yang harus ditambal supaya bisa bahu-membahu menjaga Indonesia tercinta..

    BalasHapus
  5. ringan tapi mengena tulisannya, teh. apalagi yg 3M aa gym. sy malah udah lupa :D

    BalasHapus
  6. seru pisan ya Teh acaranya, apalagi pas sesi foto2 hahaha

    BalasHapus
  7. Acara seru mudah2an ada follow up nya ya..:)

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.