Top Social

Bring world into Words

Pasar Cihapit: Kebangkitan Pasar Tradisional

Minggu, 22 Mei 2016
Menahan  nafas, menutup hidup dengan telapak tangan, tissue atau  apalah  biasanya suka saya lakukan  kalau melewati pasar tradisional.  Kesan  jorok, bau dan kumuh memang sudah kadung melekat dengan pasar tradisional. Apalagi kalau sudah  hujan, perjuangannya jadi ekstra berat. Bau dari sisa sayuran, buahan yang membusuk, limbah dari daging dan ikan yang amis semakin kuat menguar. 

Makanya, soal  kenyamanan tempat belanja jelas  belanja ke supermarket  adalah jawabannya, tapi  kalau ditanya soal  harga, tetep pasar tradisonal  juaranya. Soal harga yang lebih mahal ini juga membuat saya jadi picky saat belanja ke supermarket.  Saya bakalan milih-milih yang sekiranya masih  bisa saya toleransi atau beneran  butuh dan sukar ditemukan di  pasar tradisional. 
http://www.catatan-efi.com/2016/05/pasar-cihapit-kebangkitan-pasar-tradisional.html
kalau pasar tradisonal nyaman gini kan enak ya, mau belanja
Imej ga nyaman itu juga yang ingin dihilangkan Pemerintah Kota Bandung. Pasar Cjihapit, jadi pasar  tradisional pertama yang jadi project pilot sebagai pasar  tradisional  yang bersih dan tertata rapi.


Saya juga pernah mengunjungi  Pasar Sederhana, letaknya tidak jauh dari letaknya dari Rumah Sakit Hasan Sadikin. Memang sih, belum sempat menlongok ke dalam, cuma sampai halaman luar saja untuk meliput sebuah acara. Masih ada pedagang yang tumpah sampai ke bahu jalan, tapi masih mending. Ga kumuh seperti  Pasar Caringin,  Pasar Andir dan Pasar Ciroyom  yang  aroma khasnya  bisa bikin mual perut -_-. Terlepas dari kondisi pasar tradisinal yang memang masih banyak kekurangannya, ada yang bisa kita peroleh dan tidak kita dapatkan di supermarket. lho.

Menawar Harga

Tidak seperti di mall, di pasar tradisional kita masih bisa menawar harga. Dengan komoditas yang sama, kita bisa membandingkan harga dari lapak yang berbeda.  Satu kilogram ayam, satu ekor ikan  yang masih segar dan utuh sangat mungkin bisa kita dapatkan dengan harga 'miring'. Alasannya mungkin karena langganan, tetangga, penghabisan, borongan atau apalah. Coba kita tawar deh satu kilo daging ayam yang sudah dikemas di chiller super market. Ga akan berani nawar, kan?
http://www.catatan-efi.com/2016/05/pasar-cihapit-kebangkitan-pasar-tradisional.html
sayuran, daging dan ikan egar ini  ga kalah kualitasnya sama yang di supermarket

Interaksi Sosial 

Hal lain yang tidak kita dapatkan di super market namun masih ada di pasar tradisional adalah interaksinya. Kalau di super market biasanya kita ditanyai pertanyaan standard seperti 'punya kartu member?' atau 'bawa kantong sendiri dari rumah?'

Baca  ini juga ya  Tentang Kantong plastik Berbayar

Pertanyaan Dari pedagang di pasar tradisional bisa lebih cair dan friendly. Misalnya kayak gini

Ke mana aja, udah lama ga keliatan belanja?
Si Teteh yang sulung sekarang sekolah di mana?
Udah pesen tiket mudiknya, belum pak/bu?

Daaan... yang disukai kebanyakan pembeli di pasar yang kebanyakan para ibu yang doyan diskon adalah tester gratis saat belanja buah-buahan.  Kan biasanya suka kepo. Beneran sudah matang dan manis ga, buah yang akan dibeli? Sebisa mungkin dapat  barang bagus dengan harga murah. Iya, kan?  :)

Hari Jumat 20 Mei 2016 kemarin, saya dan 6 blogger Bandung lainnya (Teh Eno, Yasinta, Euis, Syifa, Nchie dan Koko)  mendapat undangan lagi untuk menghadiri acara  yang berlangsung mulai jam 13.00 setelah salat dzuhur. 

Seperti yang sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya, kalau para mahasiswa SBM ITB ini secara berkala setiap angkatan akan terlibat mendampingi para pedagang di Pasar Cihapit. Untuk angkatan sekarang yang diketuai oleh Adam Hermawan ini masa tugasnya akan segera berakhir dan dilanjutkan oleh angkatan berikutnya.
http://www.catatan-efi.com/2016/05/pasar-cihapit-kebangkitan-pasar-tradisional.html
Apresiasi  yang tinggi  untuk pasar Cihapit
Selain melakukan pendampingan untuk para pedagang pasar dan menyelenggarakan sekolah pasar untuk anak-anak, mulai tanggal 20 Mei kemarin juga diresmikan Perpustakaan Alit di kawasan Pasar Cihapit ini. Didukung oleh partisipan berbagai pihak,  peresmian perpustakaan ini juga diramaikan dengan cap telapak tangan oleh para penggiat di pasar Cihapit termasuk undangan yang hadir.

http://www.catatan-efi.com/2016/05/pasar-cihapit-kebangkitan-pasar-tradisional.html
Sakola Pasar Cihapit
http://www.catatan-efi.com/2016/05/pasar-cihapit-kebangkitan-pasar-tradisional.html
Para partisipan yang bekolaborasi
http://www.catatan-efi.com/2016/05/pasar-cihapit-kebangkitan-pasar-tradisional.html
Berekspresi setelah cap telapak tangan
http://www.catatan-efi.com/2016/05/pasar-cihapit-kebangkitan-pasar-tradisional.html
sebagian  koleksi Pepustakaan Alit
Pssst... Ada yang unik juga di pasar tradisional yang jam 13.00 siang aktivitasnya sudah mulai sepi ini. Enggak mau kalah dengan para pegawai negeri di instansi pemerintah kota Bandung, para pedagang pasar Cihapit juga punya program Rebo Nyunda. Selain berpakaian kebaya, para ibu-ibu di sini punya aktivitas menyanyi bareng-bareng. Hasilnya mereka  pamerkan pada acara kemarin.
http://www.catatan-efi.com/2016/05/pasar-cihapit-kebangkitan-pasar-tradisional.html
Para emak juga ga mau kalah ikutan perform nyanyi  ditemani Bu Cilik, dosen SBM ITB

Ramah Anak dan Difabel

Anyway, pasar tradisional juga bukan cuma bisa rapi dan bersih saja. Interaksi yang guyub, harga yang murah dengan komoditas yang berkualitas, akses yang ramah dan mudah bagi anak-anak dan penyandang difabel juga ditawarkan di sini. Saat peresmian Perpustakaan Alit kemarin, anak-anak sekolah pasar ini  turut meramaikan panggung stelah sebelimnya menyimak acara mendongeng  di panggung bersama Kak Tera.

 Lucu juga melihat mereka. Ada yang percaya diri, malu-malu atau menangis dan  ngumpet di belakang ibunya. Eh tapi  testy dari pedaggang pasar di sini, mereka senang sekali. Anak-anak-anaknya  yang belum sekolah bisa ikut ke pasar dan belajar banyak  hal.  Keren, ya?
http://www.catatan-efi.com/2016/05/pasar-cihapit-kebangkitan-pasar-tradisional.html
Saka, bocah yang pegang mike ini lucu banget. Paling pede diantara teman-temanya
Mudah-mudahan pasar lainnya di Bandung dan Indonesia segera menyusul dengan pasar tradisionalnya yang serba friendly, mulai kenyamanan saat menyusuri setiap lorong dan lapak  sampai harga dan kualitas barangnya.
http://www.catatan-efi.com/2016/05/pasar-cihapit-kebangkitan-pasar-tradisional.html
foto bareng Pak Camat. Credit: Yasinta Astuti
Foto bareng sama mc cantiknya. Credit: Nchie Hanie



37 komentar on "Pasar Cihapit: Kebangkitan Pasar Tradisional"
  1. Semoga bisa d ikuti oleh pasar lainnya juga ya teh, kalau pasarnya kaya pasar cihapit jadi semangat ke pasar deeh jadinya hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kalau semua pasar kayak gini kan asik mau belanja, dan jadi rajin masak (ga yakin juga ding yang ini mah hehehe). Nah, pasar tradisional kalau apik kayak Cihapit gini gengsinya jadi naik.

      Hapus
  2. Ke pasar tradisional itu serunya kita bisa tawar menawar sama penjualnya.. Hayoo siapa yang palin jago nawar, pembeli atau pedagangnya ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha mbak, aku ga jago kalau nawar di Pasar. Ga terlalu murah juga, ga tegaan sih.

      Hapus
  3. ahhh kepasar lagi yuuk..
    beloom puas keliling2
    aku sih jarang ke pasar tradisional, maluu uyy di lihatin banyak orang.
    hahaa..ntar aku ceritain yaa di blog wkwkkw

    sukses terus buat pasar cihapit yaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Deuh yang malu diliatin. Masa, sih? Hihi... Harus ke Cihapit lagi, Ci, Kulinerannya enak dan murah.

      Hapus
  4. duh kang Emil meni hebring euy. kang Emil kudu jadi walikota Cirebon atuh. Aku juga sebetulnay suka dengan apsar tradisional, tapi kalau sudah musim hujan , becek banget.Makanya harus bisa dibuat nyaman ya tapi harga masih bisa dinego

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi Kang Emil harus beres dulu di Bandung, Mbak. Semoga bisa muncul walikota-walikota yang punya program ga kalah keren dari Kang Emil. Enak kan, mbak. Udah nyaman, murah bisa nawar. Di Supermarket mana bisa.

      Hapus
  5. Nyaman ternyata belanja di pasar Cihapit ini, kalau hari minggu pulang dari lari pagi kemarin mampir kesini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah asik. Terus nyari apa saja di Cihapit, Tian?

      Hapus
  6. wah seru banget tuh kayaknya pasarnya, jadi pengen ikut2an n ke pasar.. :-)
    menarik...
    salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, kalau udah merit temenin istri belanja ke pasar kayak gini kan enak ya, Mas. Salam kenal juga. Terimakasih sudah berkunjung :)

      Hapus
  7. Foto akses ramah disabilitasnya mana? Kadang suka nggak percaya kalau yang ramah disabilitas itu benar2 ada

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enggak ada fotonya, Mas. Waktu acara ini, ketua psarnya cerita. Pagi harinya baru menghadiri acara, dan Pasar Cihapit mendapat apresiasi sebagai pasar yang ramah difabel itu. Pasar Cihapit emang punya lorong yang lebar, kontur lantai yang rata dan bersih. Udah gitu ga terlalu banyak kios, ini yang memudahkan akses pengunjung termasuk teman-teman kita yang difabel. Coba deh kalau main ke Bandung main ke sini.

      Hapus
  8. Aku penasaran loh dengan aktivitas Sakola Pasarnya. Unik gitu. Etapi, aku kan bukan anak2 yah, gak bisa ikutan. Hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi.. mungki bisa merhatiin lain kali kalau ke sini. Sasa, yang ngundang kita ke acara ii termasuk yang ngajarin anak-anak di Sakola Pasar. Mereka belajarnya pagi-pagi, kan masih belum sekolah formal, dan kalau sudah jam 13 kan pasarnya udah sepi.

      Hapus
  9. mampir dan membaca disini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai, terimakasih sudah mampir dan membaca. Yuk ke pasar tradsional :)

      Hapus
  10. Balasan
    1. Teh Eno sempat motoin muralnya si Mio di sini lho, Kang.

      Hapus
  11. semoga pasar2 lain di Indonesia bisa mencontoh pasar ini ya, jadi bikin nyaman pengunjung juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mbak. Semoga bisa jadi contoh buat pasar Tradisional lainnya. Syukur-syukur bisa lebih baik dan punya ide inovati lainnya yang belum kepikiran. jadinya masing-masing pasar tradisional bukan cuma nyaman tapi punya ciri khas.

      Hapus
  12. Foto pasar emang artistik
    Aku ni klo ke pasar pesti pengennya jeprat jepret teh
    Uda gitu maah diliatin ama pedagang lagi ngapain ini bawa kamera hahhaha
    Seru ya teh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku baru ke pasar Cihapit ini berani foto-foto. Kalau pasar lain ga berani euy, Nit. Takutnya mereka suuzhan hehehe. Yuk kalai ke Bandung mampir ke sini ya, Nit.

      Hapus
  13. Balasan
    1. Bersih banget, mbak.. Coba kalau deket dari rumah ya, asik nih balanja di sini.

      Hapus
  14. Semoga pasar lain menyusul ya, Teh. Saya juga suka belanja di pasar tradisional apalagi kalau lihat sayur2 yang segar2... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Aamiin. Kan asik, ya kalau belanja sayuran yang seger dan murah pula.

      Hapus
  15. Aku paling sebel ke pasar tradisional, mana aku gk bisa nawar :D becek juga, kadang di tengah jalanan pasar yg sempit ada motor yg gak tahu aturan, main klakson aja maksa mau lewat, errrg.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, serius ada motor bisa masuk ke lorong pasar? pelototin aja, mbak hehehe

      Hapus
  16. kalau pasar tradisionalnya kek gini, bisa betah lama-lama di pasar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, dan ngajak anak-anak ke pasar juga ga rempong, ya :)

      Hapus
  17. Bener juga sih ._. kelemahan pasar tradisional cuma tempatnya aja yang terkesan jorok, selebihnya mah ngalahin mall banget :D

    Eng... andaikan seua pasar kayak pasar cihapit ya :'

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, andai semua psar kayak Cihapit kan asik, ya. Semoga segera terwujud ya, Mas Febri.

      Hapus
  18. Asyik ya
    Pasarnya cukup bersih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah bukan cukup lagi, mas. Sangat bersih untuk kriteria pasar tradisional, mah.

      Hapus
  19. Aiiihhh meni keren pisan euy...
    Coba semua pasar tradisional kaya gini ya Mak.. Betah aku mah klo kaya gini pasarnya.
    Klo disini, ada sih ya pasar tradisional yang lumayan bersih kaya gini, tapi harganya lebih mahal. Jadi ujung-ujungnya balik lagi ke pasar tradisional yang jorok deh.

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.