Top Social

Bring world into Words

6 Hal Menarik dari Pasar Legendaris Cihapit

Jumat, 25 Maret 2016
"Nama saya  Meneer  Kumis." 
   
Begitu kata  lelaki yang tahun ini akan berusia  74 tahun.  Untuk semurannya,  tubuhnya terlihat sehat, enggak ringkih. Kan, tidak jarang  mereka  yag sudah memasuki separuh baya, mulai sakit-sakitan atau pikun, ya? Punggungnya pun cukup  tegap  dan bicaranya lancar ketika diajak ngobrol.

Saya dan 4 blogger  lainnya (Dydie,  Bang Aswi, Ulu dan Alfian) sempat  dibuat  bengong  juga dibuatnya.

"Seriusan pak,  namanya Meneer  Kumis?"
http://www.catatan-efi.com/2016/03/6-hal-menarik-dari-pasar-legendaris-cihapit.html
Pintu masuk pasar  Cihapit dari samping Vitasari Bakery
Ealah,  dia bercanda. Ternyata nama aslinya adalah Suhendi Baridji. Selain  secara fisik terbilang sehat,  ingatannya juga  masih lumayan. Seperti kebanyakan pedangan lainnya di kawasan pasar  Cihapit,  Pak kumis ini sudah lama berjualan sejak tahun 1942. Lancar bercerita ketika  Jepang datang menduduki Bandung dan menahan keluarga  Belanda dalam  kamp konsentrasi di kawasan ini. 

http://www.catatan-efi.com/2016/03/6-hal-menarik-dari-pasar-legendaris-cihapit.html
Meneer  Kumis  pedagang camilan
"Bapak bisa  ngomong bahasa Jepang atau Belanda?" saya iseng nanya.

"Bisa," katanya. "Arigato Gozaimasu," sambil tersenyum dan memperagakan sikap  tumbuh  yang harus dilakukan pada tentara Jepang.  Iya, pada  masa  itu  bukan cuma para meneer Belanda, penduduk pribumi juga kena aturan  yang diterapkan  tentara  pendudukan Jepang.

Nah,  setelah setengah hari  blusukan di Pasar Cihapit, ada 6 hal menarik dari pasar tua di Bandung ini.

1. Kawasan Legendaris

Pak  Suhendi  yang berjualan  camilan sejak puluhan tahun lalu ini juga bercerita sempat merasakan kengerian yang mencekam ketika Westerling  dan tentara ratu adilnya puluhan tahun silam.   Setiap hari, Pak Suhendi alias Pak kumis, mulai pagi jam 6  sampai  jam 5 sore.  Ayah dari  9 anak (satu sudah meninggal) kakek  dari  46 cucu dan 1 buyut ini akan mangkal menjajakan  camilannya berdampingan dengan lapak penjual buah  di sisi luar pasar Cihapit  ini.

Secara resmi pasar  Cihapit ini didirikan tahun 1960an oleh pemerintah Bandung, meski pun sejak tahun 1920  sudah ada. Konsep pembangunan wilayah yang memetakan tata ruang yang terencana -  termasuk pasar ini -  untuk pribumi dan warga Belanda pada  masa itu sempat  meraih predikat sebagai  contoh wilayah  yang sehat, lho. 

2. Pasar  yang Bersih

Sebelum direvitalisasi pada tahun 2008, sebenarnya pasar Cihapit  ini juga sama saja dengan pasar tradisional lainnya.  Becek, kumuh, dan tumpukan sampah  menggunung dan menguarkan aroma yang mengganggu.  Tipikal kebanyakan pasar  tradisional lainnya di Indonesia, 
http://www.catatan-efi.com/2016/03/6-hal-menarik-dari-pasar-legendaris-cihapit.html
Bersih dan ga kumuh

To be honest,  ini  kali pertama saya seumur hidup menginjakkan  kaki di pasar  ini. Iyaaa,  serius. Jangan ketawa,  lho. Envy dan amaze begitu melongok penataan pasar  ini.  Meski tidak besar dan luas  seperti kebanyakan pasar tradisional lainnya, let say  kayak Pasar Cijerah  dekat rumah saya. Konsep pengelolaan pasar  ini  sangat apik dan rapi.  Beberapa  lapak  penjual dikelompokkan di tempat terpisah.  
http://www.catatan-efi.com/2016/03/6-hal-menarik-dari-pasar-legendaris-cihapit.html
Lapak-lapak  yang tertata rapi
Untuk pedagang seperti ikan, daging ayam dan daging sapi ditempatkan  di area  yang sama. Tidak saya temukan genangan air yang  biasanya bisa kita jumpai di pasar lainnya.  Palingan yang rada bau itu dekat lapaknya penjual ayam yang menempatkan kandang ayam di sekitarnya.  Aroma khas pakan ayam dan kotoran cukup tercium di sini. Eh tapi,  dibanding pasar  baru  yang lokasinya di Jalan Otto Iskandardinata pun, situasi di  sini jauh lebih rapi dan bersih.


http://www.catatan-efi.com/2016/03/6-hal-menarik-dari-pasar-legendaris-cihapit.html
kondisi wc pasar yang bersih
Kalau sebagian  pedagang di luar area pasar ini  berdagang sampai sore jam 5, rata-rata  jam 2 siang para penjual di sini sudah menutup  lapaknya dan meninggalkan kiosnya dalam keadaan bersih. Dari hasil obrolan dengan ketua pasar dan pemilik  lapak, sebelum pulang, para pedagang  akan membersihkan lapaknya.

Selain  karena  edukasi  yang intens oleh beberapa  pihak para mahasiswa SBM ITB dengan program BAPER (Bawa Perubahan) yang diantaranya melibatkan Sasa dan Nicky, para pedagang di sini menyadari pentingnya suasana  yang nyaman dan  bersih.  Kalau di pasar lainnya  biasanya tuh akan kita temukan gundukan sampah yang baunya minta ampun, amit-amit bikin kita perlu tissue atau mungkin masker untuk menutup hidup. Nah, tumpukan sampah semacam itu tidak akan kita temui di sini. Sebelumnya sih, sempat  ada area  yang jadi tempat pembuangan sampah sementara  di pasar Cihapit. 

Demi kenyamanan, kebersihan dan kebersihan lingkungan,  lokasi pembuangan sampah pun dialihkan ke tempat  lain. Siapa sangka coba kalau tempat yang saya  foto  ini dulunya tempat penyimapanan sampah sementara?

http://www.catatan-efi.com/2016/03/6-hal-menarik-dari-pasar-legendaris-cihapit.html
Dulunya sampah dari lapak-lapak    ditampung sementara di sini

3. Sewa atau Hak Milik Lapak Permanen

Selain membayar sewa  lapak, para pedagang di sini  juga bisa memiliki lapak menjadi hak  milik permanen, Asiknya lagi, sebelum  menetap dalam jangka waktu panjang,  calon pedagang diberi kesempatan untuk  bedagang selama satu bulan, kemudian bisa memutuskan untuk lanjut  atau tidak. Seperti itu obrolan saya dengan seorang pedagang di sini.

 Boro-boro deh setelah tempatnya enakeun gini, sebelum direvitalisasi  pun, sebagian besar  pedagang di sini  berjualan secara turun temurun. Sayang kalau ga dilanjutkan? Contohnya Bu Popon  yang berjualan dengan suaminya  ini. beliau sudah  40 tahun (tepatnya dari tahun 1975) mencari nafkah di sini.  Soal biaya? terbilang murah. Untuk lapak yang kecil cukup membayar  sewa sebesr Rp.300.000/bulan. Hitung deh kalau harus dibayar per hari.  Ringan, sekali, ya?
Ngajak  Wefie  bu Popon

4. Kualitas Komoditas  Yang Terjaga

Tempat  yang bersih dan kualitas yang terjaga membuat pasar Cihapit punya segmen tersendiri. Jadi nih, ga semua  sayur atau buah-buahan bakal dijual  langsung sama pedagang di sini. Mereka  akan memilih  komoditas  yang baik sebelum dijual ke pelanggannya. Mahal dikit cincai lah, ya.  Ga kalah bagusnya dengan yang dipajang di supermarket.
http://www.catatan-efi.com/2016/03/6-hal-menarik-dari-pasar-legendaris-cihapit.html
Buah-buahannya  bikin mupeng
Karena keasyikan  ngobrol dan nongkrong sampai  jam 2 siang. Pas pulang  tadi saya  cuma sempat membeli dua ikat daun kelor  ini yang masing-masing dijual seharga Rp. 5.000. 
http://www.catatan-efi.com/2016/03/6-hal-menarik-dari-pasar-legendaris-cihapit.html
Dua ikat  daun kelor yang saya beli siang tadi

5. Nongkrongable

Yang menarik di kawasan  pasar Cihapit  ini, selain nama kios yang unik, lukisan mural pada dinding di dekat pintu masuk, beberapa kios juga bisa jadi tempat nonkrong.  Misalnya warung  kopi ini. Setiap kamis minggu pertama, para penggiat  fotografi entah itu  yang minat dengan wedding photography, food photography dan aliran lainnya punya kegiatan khusus  untuk nongkrong di sini. Di sini juga ada Warung Bu Dosen yang  dimilki oleh Bu Cilik, yang mengajar di SBM ITB.  

http://www.catatan-efi.com/2016/03/6-hal-menarik-dari-pasar-legendaris-cihapit.html
Yuk nongkrong di sini
http://www.catatan-efi.com/2016/03/6-hal-menarik-dari-pasar-legendaris-cihapit.html
Lukisan muralnya  keren, ya?
http://www.catatan-efi.com/2016/03/6-hal-menarik-dari-pasar-legendaris-cihapit.html
nama lapak yang unik
Selain itu, seru deh, memperhatikan aktivitas lainnya di sini. Misalnya ada sekolah pasar yang mengenalkan aktivitas  di pasar  untuk anak-anak usia pra sekolah. Lucu juga memerhatikan kekepoan mereka. Di area pasar  yang sudah berlantaikan ubin ini juga beberapa  anak dengan riangnya  mengayuh sepeda  mengitari  selasar pasar  dengan riang. Coba kalau di pasar lainnya, ada ga sih yang kayak  gini?
http://www.catatan-efi.com/2016/03/6-hal-menarik-dari-pasar-legendaris-cihapit.html
Sekolah pasar 

6. Kuliner Legendaris

Selain memang para pedang yang berjualan di sini berjualan secara turun temurun seperti yang saya bilang tadi,  para  pemilik kios makanan  pun sudah terkenal legendaris. Sedikit kecewa tidak bisa menjajal kuliner legendaris Ibu Eha di sini, karena setiap tanggal merah atau libur nasional, warung Bu Eha juga akan libur. Hiks hiks.  Saya dan teman-teman akhirnya menikmati lotek Cihapit yang juga sudah terkenal. Dengan porsi sebanyak ini, cuma dihargai  Rp. 15.000 saja, dan sukses bikin perut kenyang. 

Lotek Cihapit
Atau mau menikmati seduhan kopi? Murah lho, cuma Rp. 11.0000  saja per saji.

http://www.catatan-efi.com/2016/03/6-hal-menarik-dari-pasar-legendaris-cihapit.html
Biar item dan digiling kasar,  kopi Premium  blend ini  soft, ga terlalu pait lho
http://www.catatan-efi.com/2016/03/6-hal-menarik-dari-pasar-legendaris-cihapit.html
Cara penyajian kopi  tradisional yang bisa kita  lihat dari dekat
Ah, saya pengen ke sini lagi  pas hari kerja nanti.  Bagusnya sih,  datang pagi-pagi  kalau emang pengen mencicipi masakannya Ibu Eha. Soalnya kalau sudah siang jangan harap busa kebagian. Saking larisnya, tuh. Selain Dewi Dee dan Pak Bondan Mak Nyus,  para PNS dan karyawan lainnya  juga banyak yang wara-wiri menghabiskan waktu istirahat makan siangnya di sini.

Jadi  kalau  berencana  berburu barang antik seperti buku lama,  kaset dan barang jadul lainnya  di pasar loak Cihapit,  jangan lupa  untuk melipir  ke sini.

Mau belanja, jajan atau nongkrong di pasar Cihapit  bakal  jadi acara main yang seru dan tidak biasa.  Suka gorengan, camilan khas  yang juga murmer? Bisa juga lho kita dapatkan di sini. Pokoknya seru, murah dan meriah.

Masakan Bu Eha yang cepat habis. Credit: komunitasaleut.om
Suka gorengan?  Ada banyak, kok
Pasar Cihapit  ini contoh real kalau pengelolaan pasar tradisional  juga bisa dikelola dengan rapi  dan manajemen yang apik.


28 komentar on "6 Hal Menarik dari Pasar Legendaris Cihapit"
  1. Sayang, nggak ada KRL :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaelah, masa harus ada KRL di mari, dek? Sini pake odong-odong aja ke Bandungnya, beani, ga? :D

      Hapus
  2. Mau nyobain belanja kesini ah sambil nongkrong bareng Marwah dan ayahnya hehe, kebetulan deket dari rumah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kapan-kapan sama Admin Kece BB kita nongkrong bareng di sini, yuk. Masih penasaran sama warung Mak Ehanya euy.

      Hapus
  3. Pasar bersih, pasti pengunjungnya tambah banyak. Apalagi kalau penjualnya ramah-ramah.

    Itu lotek chapit, mirip gado-gado ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iiya. Coba kalau semua pasar kayak gini, ya? Itu lotek, kok Mas. Beneran hehehe. Jangan lupa cobain kalau nanti sempat ke Bandung, ya.

      Hapus
  4. yg di bawah eta teh Ca Kwe sama Bolang-baling ya.. wah loteknya juga enak kayaknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan. Yang paling bawah itu gorengan. Jajanan favorit sejuta umat :)

      Hapus
  5. Pasarnya bersih bangeeettt...dan rapi, sampe bisa dibuat maenan sepedaan sama anak2 TK itu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mbak. Asik banget lah ya kalau semua pasar bisa kayak gini.

      Hapus
  6. Suka sam afoto kopinya. eeer, sound like mesin foto kopi isn't it? Hihihi

    Sayang aku nggak bisa ikut ngopi bareng kalian. Padahal aku ada di depan sampai kelar Salat Jumat karena suamiku Jumatan di masjid Cihapit. Kapan-kapan ngopi bareng di sana yuk ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. It is :) Uh sayang padahal ajak aja suamimu nongkrong bareng di sini abis Jumatan. Yuk ah dolan lagi ke sana, Dy.

      Hapus
  7. Ya ampun ngga cuma pasar modern, tapi pasar yang nyeni juga ya Maaak. Keren euy. Ini pasti idenya kang ridwan kamil juga yaaah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kebayang kan kerennya ekonomi rakyat kalau semua pasar tradisional bersih dan rapi kayak, gini. Seingetku Pemkot Bandung memang merencanakan revitalisasi beberapa pasar tradisional. Bukan cuma yang ini aja. Mudah-mudahan yang deket rumahku juga bisa sekeren ini segera :)

      Hapus
  8. Ini yang dipromosiin Pak Wali ya Mbak di Twitter nya atau di facebooknya gitu. Lupa. Tapi pernah baca, ada statusnya Pak Wali yang recommend pasar untuk dikunjungi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, beliau emang pingin bikin pasar tradisional jadi keren, rapi, nongkrongable dan tematik juga. Belum tau nih nantinya kalau konsep tematiknya sudah diaplikasikan.

      Hapus
  9. Pasarnya bersih yah Mbak Efi, yang belanja jadi nyaman :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget. Biasanya kan paling males kalau belanja ke pasar yang kotor, becek dan bau.

      Hapus
  10. Pasarnay bersih. Jadi suka pastinyaa belanja disini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pastinya. Mudah-mudahan semua pasar tradisional minimal bisa kayak gini, ya.

      Hapus
  11. Ini yang namanya upgrading pasar tradisional, biar nggak kelaut sama pasar mini dan pasar super.
    Keren ini!
    Jadi pengen tahu kok bisa gitu dibikin kayak gini. dari dana Bansos, APBD atau apakah. Biar pasar-pasar yang lain bisa mengikuti. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini kayaknya dana APBD. Pasar-pasar tradisional ini dikelola oleh PD yang termasuk bagian dari BUMD, kan.

      Hapus
  12. udah lama banget ga main ke sini ktnya skrg udh keren ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan katanya lagi, ini mah fakta :) Yuk maen ke sini.

      Hapus
  13. wah keren juga ya pasarnya...
    boleh juga kapan-kapan main kesana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus diagendain, Mas. Pasti pengen datang lagi ke sini.

      Hapus
  14. belum kesampean mampir ke pasar cihapit nih teh efi :D
    seru kayaknya foto2 di mural *fokusnya tetep ke foto2*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayu maen ke sini. Aku juga pengen :)

      Hapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.