Top Social

Bring world into Words

Karena Masa Depan Itu Hak Semua Orang

Sabtu, 07 Maret 2015

Kalau  biasanya beberapa sesi acara  di ruang Alamanda, lantai 2 hotel Aston hotel penuh dengan canda  dan timpalan  yang kocak  dari temn-teman blogger #sahabatJKN #lawanTB, maka  lain ceritanya  ketika hari kedua setelah jeda  makan siang.  Menghadirkan teman-teman Terjang (terus  berjuang - sebutan untuk para pasien dan mantan pasien TB)  membuat suasana  di ruangan  agak-agak melow.  Meski nara sumber ke tiga Rehan sempat menyegarkan suasana  dengan celetukan  polos dan lucunya.
credit: wikihow
Dari  7  teman-teman terjang,  (5 orang dewasa, 2 orang anak 3 di antaranya  malah sudah terkena virus  HIV) saya mendapat banyak hikmah dan inspirasi.  Tadinya  siang itu  saya  bawa laptop ke ruangan sambil coba-coba curi waktu buat ‘mengerjakan PR’ tapi ternyata  tidak berhasil. Perhatian saya tersedot  untuk menyimak penuturan dari para  survivor.
Sebelumnya,  beberapa dari mereka  sudah  kami temui  saat mengunjungi rumah sakit Hasan Sadikin. Keterbatasan waktu yang ada membuat  obrolan  rombongan yang dipecah menjadi 4 grup  jadi seadanya.
Saya  lupa lagi dengan nama 4 orang para teteh-teteh  yang  berbagi di sesi  pertama.  Maaf ya, ga saya sebutin :)
Ini adalah bagian pertama dari  3  sesi sharing dengan teman-teman Terjang. Untuk cerita  anak-anak yang terkena TB dan  Dehan, relawan  rumah cemara yang pernah menderita  TB saya ceritakan di posting berikutnya, ya.
Ada di antara  mereka  yang diceraikan  oleh suaminya,  mendapat dukungan dari  suami dan keluarga  namun harus berpisah dengan anaknya,  ada menemukan jalan hidayah  menjadi seorang muslimah yang lebih baik (meski pernah terjerumus pergaulan yang salah, tapi Allah maha baik, memberinya  kesempatan memperbaiki diri dan menemukan cintanya  karena masih ada pria yang  menerimanya untuk menjadi istrinya.  Tuh, kan.... true love itu ada, lho. Love is not just matter physical attraction), dan  merelakan  melepas pekerjaan  agar bisa total  berobat.
Teteh yang pertama bercerita  ketika dirinya divonis  menderita  TB,  malah suaminya yang frustasi  dan menyerah. Ah, saya heran, deh. Yang sakit siapa,  yang bosan siapa, ya?  Sisi lain saya sebagai seorang perempuan sebel  dan kesel  mendengar penuturan karena ternyata sang suami  menalaknya.  Sedih? Pasti lah. Tapi keinginannya untuk sembuh lebih besar  dan bisa mengalahkan rasa sedihnya. Teteh ini  mengabaikan rasa sakit  karena perlakuan tidak mengenakan dari suaminya. Berobat dan kontrol secara rutin, meski harus menenggak obat yang banyak, membosankan serta harus  menjaga  jarak saat berinteraksi  dengan orang lain dijalaninya dengan sepenuh hati.
Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Benarlah janji Allah, kalau  seseorang bisa mengubah  nasibnya kalau mau berusaha. Tidak cukup dengan doa saja.  Kuman-kuman TB dalam tubuhnya bisa diatasi dan  bisa dilumpuhkan. Tinggal menghitung minggu saja untuk menunggu teteh  ini sembuh.
Semangatnya untuk sembuh  terlihat jelas dari perubahan fisiknya.  Sang suami yang dulu menalaknya ternyata diam-diam memerhatikan perubahan dan menyapanya kembali untuk rujuk alias  balikan. Diterima? “No way!”  jawab teteh  ini. Tepuk tangan, senyum dan haru  menyambut  cerita teteh  ini. Ah, biarkan saja ya, teh.  Acuhkan saja  kalau  giliran susah malah ninggalin :)
Survivor  kedua yang bercerita  pun tak kalah  mengharukan kisahnya. Meski punya suami yang baik dan bersedia mengantarnya  tiap hari berobat (bayangkan saja, setiap pergi berobat harus menempuh  perjalan  30 km pulang pergi dari rumah  ke rumah sakit), Allah mengujinya dengan  cobaan lain. Sempat kecolongan karena hamil. Alhamdulillah bayinya selamat, tapi yang membuat  saya dan teman-teman di dalam ruangan merinding saat teteh ini sempat terdiam, menahan tangis karena setelah melahirkan  harus rela  berpisah dengan bayinya  sampai ia dinyatakan sembuh.
Duh, siapa yang tidak sakit  hatinya terpisah dengan buah hati setelah berbulan-bulan  mengandung lalu harus menunggu lagi sampai dinyatakan sembuh?  Demi rasa sayangnya pada buah hati, teteh  ini  mengeraskan hati untuk terus menjalani proses  pengobatan. Syukurlah ada  suaminya  yang  sabar dan setia mendampingi. Ini  kebalikannya  dari cerita teteh yang pertama, ya.  Meski memang Allah mengujinya  dengan  cara  lain yang tidak  kalah luar biasanya.
Saya mengamini  komentar  teman saya, Ayu,  yang juga  relawan OHDA. Sakit yang diberikan oleh Allah atau apa pun cobaan lain adalah  cara Allah  menyayangi kita untuk menggugurkan dosa, selama kita sabar dengan dan ikhlas  menjalaninya. Semua pasti mendapat ganjaran dengan ending manis yang tidak pernah kita duga.
Seorang teman peserta  workshop  lalu bertanya pada teteh ketiga  ketika ia bercerita setelah dinyatakan terinfeksi virus HIV. Sebenarnya saya pengin nanya soal ini juga, tapi ewuh pakewuh karena tidak enak hati. Teteh  yang berjilbab ini menjawab dengan tenang, kalau masa  lalunya pernah terjerumus  pergaulan yang salah sehingga membuatnya terkena virus HIV.    
Tapi sekali lagi, Allah maha baik.  Setiap orang punya masa  lalu. Sudah jelas,  kalau  kita tidak akan pernah bisa  memutar  waktu  dan mengubah  ‘timeline’ yang sudah terlanjur tercatat. Tapi setiap orang  berhak punya masa depan, berhak untuk berubah. Allah menjawab kesungguhan teteh ini. Meski belum ada obat yang bisa menyembuhkan HIV sampai tuntas,  penyakit TB  dan HIV memang seperti  konspirasi  mengerikan bisa  diatasinya.  Teteh ini teurs berobat dan  hampir sembuh.  Seperti yang saya  ceritakan sebelumnya,  Allah mempertemukannya dengan seorang laki-laki  yang baik dan bisa menerima masa lalu dan penyakit  HIV  yang kini merecoki tubuhnya.
Cerita teteh yang keempat tidak kalah  mengharukan juga. Tanpa tekanan dari  pihak kantor, keinginannya untuk sembuh dan tidak ingin  menulari orang di sekitarnya  membuatnya memutuskan untuk resign untuk berobat secara total. Ada lagi motivasi lain  untuk sembuh karena keinginannya  untuk menikah dan mempunyai anak. Semoga Allah segera menjawab doanya, ya, teh.
credit: Anjari

40 komentar on "Karena Masa Depan Itu Hak Semua Orang"
  1. Setuju Mba Efi, setiap orang berhak memperoleh dan mengukir masa depannya.

    BalasHapus
  2. setuju teh Efi... sesi yang ini bikin termewek2... hiks hiks...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Orin, hening banget. Giliran Dehan ngomong baru pecah, itu juga aku sempet loading dulu :) Pengen buru2 cerita tentang Dehan juga, nih. btw hari terakhir dirimu pulang duluan, yaaa. Moga2 anakmu dah sehat, ya.

      Hapus
  3. Terharu bacanya. Fabiayyialairobbikumatukadziban. Cobaan hidupku ga ada secuilnya dibanding cobaan mereka..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, saya juga jadi mikir banyak setelah nyimak cerita mereka.

      Hapus
  4. iya setuju mak... Semoga kita semakin menghargai berkah hidup yang Allah berikan. berkaca pada mereka

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mak, hdup itu anugerah, harus disyukuri dengan cara yang baik termasuk menjaga kesehatan, ya.

      Hapus
  5. amin2...
    mkasih mbak sharing2nya..
    alhamdulilah dapat inspirasi bnyak , Alloh Subhanawata'ala memang maha arrohman dan arrohim, yang membolak balikan hati kita semaunya.barusan baca2 cerita diatas ,saya pemuda yang lagi proses menuju menjadi suami idaman wanita *ea ..sekarang jadi lebih tahu dan sedikit merasakan persaaan seorang wanita seperti apa *cie modus kwkwkw :D
    thanks mbak di tunggu teteh lainya ...
    salam
    sutopo blogger jogja

    BalasHapus
    Balasan
    1. komentar yang mengandung muatan penuh kode :D Semoga segera nemu ya, mas.

      Hapus
  6. Semoga teteh2 itu cepat sembuh dan diberi kekuatan berlimpah. Saya jadi bersyukur banget dg kondisi saya, lebih tersemangati untuk hidup lebih baik.
    Terimakasih sharingnya Teh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiin Ki. Semoga kisah mereka bisa jadi inspirasi buat yang lain, ya.

      Hapus
  7. kisah yg inspiratif. sungguh api semangat hidup yg harus ditiru sebab masa depan adalah milik setiap orang. salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan pernah menyerah, bahkan kalau besok kiamat pun kita tetap wajib menanam bibit, ya.

      Hapus
  8. Bagus acaranya euy. Kok gak ada pengumumannya di KEB ya Efi? I wish I could join this event :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan hajatnya KEB, teh. I've told you by inbox, right?

      Hapus
  9. Orang2 pilihan. Kadang sakit dikit aja sudah mengeluh luar biasa, sementara mereka mengakami sakit yang teramat larah tp tak ada keluh kesah yang teucap. Org hebat dan keren.. mkasih sdh berbagi info ini ya mak

    BalasHapus
  10. sharing dari teman2 terjang ini emang bener2 buka mata banget yah teh, bikin motivasi juga, buat hidup lebih baik :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Ran. Bener banget. ternyata kesedihan dan keluh kesah kita ga ada apa-apanya sama cobaan yang dialami sama mereka.

      Hapus
  11. mendengar/membaca penuturan seperti ini, mau tak mau kita diingatkan untuk selalu bersyukur ya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Mbak. Kita masih lebih beruntung dari mereka, ya.

      Hapus
  12. sedih banget,ditalak ketika sakit....makaish mbak sharingnya^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jujur aja, aku kesel dan gemes sama suaminya teteh itu, mak. Pengen...... ah sudahlah :)

      Hapus
  13. Suami yang baik pasti menemani istrinya baik suka maupun duka. Beruntunglah pasien yang suaminya setia dan selalu menemani. Tapi kejam banget suami yang meninggalkan istrinya ya teh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kayak suami teteh yang kedua itu, ya. Keren, deh.

      Hapus
  14. semoga para penderita TB, HIV, dan HIV-TB dapat sembuh dan bisa kembali ke kehidupan normal lagi..

    BalasHapus
  15. Setuju dengan judul postingan ini :)

    BalasHapus
  16. yapz, setuju banget mbak efi...

    BalasHapus
  17. TB itu apa, teh efi? Tuberculosis?

    BalasHapus
  18. selain obat dari dokter, semangat untuk sembuh itu penting banget ya maak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mak. Optimisme itu kayak triger

      Hapus
  19. Semangat dan tekad serta dukungan untuk sembuh, saya rasa adalah obat terbaik yang akan menyembuhkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget, Tian. Semangat itu ngaruh ke fisik.

      Hapus
  20. Inspiratif mak....
    baru tahu kisah2 spt ini
    salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih. Seneng kalau bisa menginspirasi.

      Hapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.