Saturday, 14 May 2011

Wa Asih dan Penjahit Kain Kafan

Jumat kemaren, bada shubuh saya tiduran di atas sajadah (bukan contoh yang baik buat ditiru yaaa :D). Kebetulan juga Mama lagi di luar kota, jadi ga ada yang protes kalau pagi itu saya masih malas2an hehehe.
Nah, sekitar jam 6 saya terbangun. Ada telpon masuk  dari teman saya sesama staf tata usaha.
"Ya, halooo Di." jawab saya sambil segera melepas mukena. Sayu harus segera bangun bagi dan melesat ke kamar mandi, bersiap-siap ke sekolah.
"Hari ini aku ga bisa masuk. Bilangin sama guru-guru ya. Mamanya Ines meninggal,"  ujarnya di sebrang sana.
Innalillahi Wainnailihi rojiuun

Lalu pagi tadi Dadi teman juga sahabat saya kembali masuk bekerja. Bercerita tentang uwaknya yang meninggal.

"Subhanallah teh, wajahnya tersenyum. Waktu shalat jenazah aja sampai dibagi dua. Karna banyaknya yang pengen nyolatin almarhumah."

Duh jadi terharu. Jadi, alhmarhumah tinggal bersama seorang putrinya yang bekerja di sebuah Pabrik dengan waktu kerja 8 jam per shiftnya. Sebelum meninggal, Almarhumah sempat berpesan pada Ines, minta dibawain oleh-oleh keju. Almarhumah, sebut saja Wa Asih sudah lama mengidap penyakit kanker payudara stadium IV. Bosan bolak-balik RS ditambah biaya kemoterapi yang lumayan mahal membuat beliau memutuskan kembalil istirahat di rumah dan berobat seadanya. Kalau Ines masuk kerja, Ada  Nia yang berbaik hati mau menemani ibunya.  Pagi hari kemarin, saat Ines kembali ke rumah Ines segera menghampiri mamanya yang sedang  terbaring pulas di tempat tidur.

"Maaa,... Ines bawa keju nih, pesenan Mama."
Ines menghampiri mamanya.
"Maaa, bangun" sapa Ines lembut.
Lama tak ada jawaban, Ines sadar ada sesuatu terjadi pada Ibunya. Sontak Ines menjerit, tangisnya pecah.  Dadi dan saudara-saudaranya yang memang rumahnya berdekatan segera menghambur keluar menghampiri rumah Ines.

Ines tak kuasa menahan sedihnya, Mamanya tercinta sudah berpulang. Nia yang malam itu menjaga Wa Asih pun dibuat bingung.
"Semalam saya masih denger dia bernafas koq," ujarnya seolah membela diri. entah kenapa, tidak biasanya Nia diserang kantuk malam itu.  Lalu, saudara-saudara dan kerabat segera dihubungi.  Ines bersikeras  untuk memakamkan mamanya hari itu juga sebelum jumatan.  Beberapa sanak kerabat mencoba membujuk Ines untuk menundanya sore nanti, mengingat  perjalanan saudara dari luar kota yang membutuhkan waktu.
"Nggak, sekarang!" Ines bersikeras.
"Baiklah," saudara-saudaranya mengalah. Lantas kesibukan pemakaman pun segera disiapkan. Syukurlah kain kafan untuk jenazah bisa didapatkan dengan mudah. Saat akan menjahit kain kafan, mulai kebingungan melanda.  Dalam waktu bersamaan,  mesin jahit saudara-saudaranya rusak.

"Jadi dikecos (jahit manual) aja ya?" kata yang lain.
"Ga bisa, terlalu lama." timpal yanng lain.
Disaat kebingungan itu, entah dari mana datangnya seoang pria  separuh baya, berwajah simpatik dan pakain necis datang menghampiri. "Saya mau menjahitkannya. tunggu sebentar ya" ujar Pria itu sambil pergi berlalu meninggalkan mereka.
"Siapa?" tanya  saudara-saudara Ines saling menatap.
"Ga tau," kata yang lain.

Tidak lama setelah itu, Pria simpatik ini datang kembali membawakan kain kafan yang sudah dijahit. Rencana pemakanan sebelum jumatan berjalan lancar.  Saya tidak pernah bertemu dengan almarhumah, hanya dengar cerita tentang beliau dari sahabat saya Dadi.  Mengingat banyaknya mereka yang datang menshalatkan sampai dua kali shalat jenazah, almarhumah punya tempat istimewa di hati para pelayat.
"Aku sampe kebagian tempat yang nyempil," imbuh Dadi.

Ah saya jadi penasaran, seperti apa sih almarhumah di masa hidupnya?
"Beliau baik banget teh. Wa Asih paling alergi kalau denger orang lain ngegosip. katanya sejelek-jelek orang pasti ada sisi baiknya."
"Udah ah, jangan ngomongin orang," Dadi menirukan ucapan Wa Asih.

"Waktu Wa Asih meninggal, papanya Ines dateng ga?" tanyaku
"Ada teh. Tau ga? Dia lagi berduaan sama prempuan lain." Dadi menggerutu gemas.

Ah saya mengerti sekarang. Allah sayang sekali sama Wa ASih. Sakit yang dialaminya adalah cara Allah menggugurkan dosa-dosanya, ditambah sikap suaminya yang tidak semestinya namun dijalanin Wa Asih dengan sabar.

Ngomongin soal Pria misterius yang mau menjahitkan kain kafan saya punya kesimpulan sendiri. Adakah dia malaikat yang dikirim Allah?
Share:

Wednesday, 11 May 2011

Bersyukurlah Sebelum Nikmat Ibadah Itu Dicabut

Malam ini saya masih melek. Ditemani radio yang melantunkan sebuah lagu yang menyentuh.
"...kubersujud bisikku tak terucap
ku bersimpuh tak kuasa ku mencoba
saat ku mengucap bisik kata-kata dalam doa
padaMu kumohon maaf atas segala dosa hamba...."


Saya jadi ingat ketika pagi tadi disela-sela ujian nasional SD tadi saya masuk ke ruang panitia. Niatnya mau minum sambil ngopi, lapar sekali rasanya, berangkat lebih pagi dan ga sempat sarapan. Beberapa menit kemudian, masuk Kepala Sekolah dan pengawas (biasanya ditugaskan dari sekolah lain dengan cara disilang lintas gugus). "Saya ngantuk banget nih, boleh ya saya minta kopi." katanya.

"Ya, boleh aja atuh  ibu," kata salah seorang panitia. Lalu mengalirlah obrolan diantara mereka. Karena saya masih asik ngudap cemilan pagi itu, jadi saya ikutan nyimak obrolan pagi itu. Dan Insya Allah bukan ngomongin aib orang koq, semoga jadi hikmah buat kita semua ya.

Singkatnya ada seorang guru wanita usianya sekitar 50an. Sejak tahun 2004 sudah terkena penyakit stroke. Sempat sembuh tapi kemudian kambuh lagi dan terkapar tidak berdaya. Suaminya entah dimana, apakah sudah meninggal atau bercerai. Stroke yang  keduanya ini dialaminya setelah mencicipi  kadedemes (makanan yang terbuat dari kulit singkong).
Sebelumnya beliau pernah sembuh dari strokenya, meski ga 100% tapi bisa kembali beraktifitas meski harus menyeret kakinya.

Nah, setelah salah makan itu lah kondisinya memburuk. Fisiknya lumpuh total hingga (maaf) untuk BAK dan BAB saja harus dilakukan di tempat tidur. Tidak ada pispot untuk menampung kotorannya.   Jangankan untuk melapisi kasur tempat tidurnya dengan plastik, untuk makanpun beliau mengandalkan uluran tangan kebaikan orang lain. Iba sekali mendengarnya. Karenanya untuk berobat pun beliau tidak berdaya karna dililit hutang.  Untuk mengajukan pinjaman ke bank sepertinya sulit karna hutang sebelumnya masih banyak.  Saking mengharukannya, beliau ini tidak punya rumah dan atas kebaikan seorang kepala sekolah tetangga, mengizinkan ruang kecil yang tidak terpakai untuk tempat tinggalnya. Tidak ada yang tega mempermasalahkan keberadaaan ibu ini ditinggal di lahan yang nota bene milik negara. Entah apa jadinya kalau ada yang tega mengusik dan mengusirnya.

Kembali ke kondisi bu guru yang malang ini, karna ketidakberdayaannya untuk bergerak ruangannya jadi tercium tidak enak. Bahkan untuk shalatpun tetap saja direcokin bau itu. Bahkan untuk
shalatpun beliau lakukan di tempat tidurnya. Seorang kepala sekolah menghiburnya, dan mengingatkannya untuk tetap mengingat Allah dengan tidak meninggalkan shalat.  "Ibu bisa baca Quran kan?"
"Ya, bisa." katanya sambil mengangguk menahan air mata yang tumpah.
"Lakukanlah sebisanya. Untuk shalat jangan ditinggalkan ya bu,"  imbuh Kepala Sekolah.

Ketika ditanyakan bagaimana dengan anak2nya, ternyata salah satu anaknya pun sudah habis kontrak dan menganggur.

Duh Ya Allah, malang nian nasib bu Guru ini. Saya tidak bisa membayangkan  kalau salah satu saudara saya harus mengalami hal seperti ini.  Kena ompol balita yang kita gendong saja membuat kita tidak nyaman dan segera mengganti pakaian. Dihajar flu pun membuat kita tepar dan tidak berkutik.  Tapi ternyata ada yang jauh lebih mengibakan. Ah saya ga tau harus berkomentar apa.

Bersyukurlah kita yang masih diberi kaki yang leluasa melangkah ke mana saja. Tubuh yang sehat untuk bergerak mencari rezeki. Tapi dalam kondisi sehat beginipun kita kerap mengeluh, meratapi sesuatu yang sebenarnya masih bisa atasi.  Bersyukurlah kita masih punya rumah yang nyaman untuk kita tinggali saat panas menyengat atau hujan turun dengan derasnya. Bersyukurlah kalau kita masih bisa menikmati makanan yang kita santap meskipun sederhana bukan hasil racikan seorang chef hotel berbintang. Bersyukurlah kita masih bisa beribadah dengan khusyuk, dengan pakaian dan ruangan yang bersih dan nyaman. bersyukurlah ketika kita masih bisa menolong orang lain dan tidak menjadi beban bagi orang lain. Bersyukurlah kita masih bisa berbagi, bukan menunggu uluran orang lain. Bersyukukrlah kita masih punya keluarga yang kita sayangi dan akan menyayangi kita. Yang selalu ada bukan saat kita senang saja. Keluarga  yangyang saling menguatkan. Bersyukurlah kita masih bisa berpuasa untuk beribadah bukan karena dipaksa keadaan.
........

 رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". (... Q.S Al Baqarah :286)
Share:

Tentang Atlantis

Beberapa hari kemaren, saya iseng ngebuka wall beberapa  teman di FB termasuk salah satunya akun Tasaro. Sebelumnya (lagi) pernah baca status beliau yang bilang bakal ada lanjutan dari novel Muhammad Sang Penggenggam Hujan yang bakal launching Mei ini. Nah, ada satu temannya yang posting kalau beliau bakal hadir di Islamic Book Fair Mei ini. Aaah, langsung penasaran. Colek-colek Oom Google, eh dia cuma jawab pendek ga bisa ngomong banyak soal detil. 

Akhirnya setelah dapetin nomer telepon IKAPI JABAR, coba telp sana and confirm. Yup! Betul Sekali, beliau mau hadir di acara talk show tanggal 11 Mei ini. Sedikit kecewa karna operator yang ngasih tau bilangn buku yang bakal dibahas judulnya Nibiru. Ah, jadi bujan Sang Penggenggam Hujan ya? Ya sudahlah, paling ga bisa nguber tanda tangannya. Hehehehe diuber, emang kabur ya?

Singkat cerita, saya janjian  sama teman di sana. Mba Vivera dari komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis dan Kemal, dari  komunitas  Ngaji Yuk. Eh ternyata Minggu nanti beliau dateng lagi  buat bahas buku Sang Pengeja Hujan. Asiiik senengnya. Nah, ngomong-ngomong soal buku Nibirunya beliau, saya coba ngikutin acaranya. Kalau lihat sampul dan sekilas isinya jadi inget cerita Lord Of The Ring, Narnia dan genre sejenis.  Lalu sebelum ngebahas buku itu, diputerin slide film (presentasi yang diajuin Tasaro) tentang buku Nibiru ini. Rencananya bakal dibuat jadi tetralogi (wiiih panjangnya ya?). Jadi kesengsem sama novel ini. Apalagi dalam slide yang diputer tadi Tasaro bercerita tentang teknologi jaman dulu yang gak kalah canggih dengan teknologi sekarang. Misalnya, ditemuinnya lukisan peta dari jaman dulu   (lupa tahunnya) di Turki dan ternyata sama persis dengan hasil jepretan Apollo, terus ada situs kuno yang digunain buat neropong bintang, patung manusia yang super tinggi dan gak ketauan apa tujuan pembuatannya. Lalu ada lukisan mirip pesawat di dindingnya Piramida (kalo ga salah ya, CMIIW). Ada replika tengkorak dari logam yang entah gimana caranya dibuat sampe sekarang ga ada tekonologi yangn bisa niru proses pembuatannya. Nah, jadi Novel Nibiru ini mengandung 3 unsur dimana Tasaro menggabungkan hasil  penelitian, imajinasi masa kecilnya trus satu lagi (ampuun lupa,.... nyesel ga dicatet). Makin menarik lagi pas sesi tanya jawab ada audiens yang ternyata seorang peneliti UNESCO. Waaah, bukan yang hadir di situ aja, Tasaro juga. 
Lalu si bapak ini nimbrung dan setuju sama hasil penelitian seorang ilmuwan dari Turki yang nyampein teori kalau Atlantis itu sebenarnya ada di Indonesia. Subhanallah!

Rasa penasaran  saya sama Sang Penggenggam Hujan sedikit terobati deh. Berhubung buku yang saya cari ga ada di pameran, jadi saya alihkan buat beli Novel Nibiru ini. Cerita tentang isinya? Nanti yaaa, kalau  udah selesai dibaca. Bakal balapan ni sama Novel Sang Pengeja Hujan hehehe

Share:

Thursday, 24 March 2011

Cara Mudah Menghafal Nama-nama Surat Dalam Al-Quran Dengan Metode Cerita

Cara Mudah Menghafal Nama-nama Surat Dalam Al-Quran Dengan Metode Cerita
Bismillah...

I. Menghafal nama – nama Surah dengan metoda cerita.
Metoda yang penulis buat ini sebenarnya terinspirasi dari metoda
Quantum Learning melalui pelatihan yang telah diikuti. Prinsipnya
bagaimana belajar itu mudah dan menyenangkan. Dan tidak ada salahnya
kita gunakan dalam proses mengenal Al-Qur’an dari sisi-sisi tertentu.
Salah satunya adalah menghafal nama – nama surah dalam Al-Qur’an.
Mulai saat ini anda diajak untuk mengenal nama-nama surah dalam
Al-Qur’an. Anda akan dibawa keluar dari zona nyaman menuju satu
pengalaman baru yang mengasyikkan. Membuat anda sadar dan melek dari
mitos – mitos yang menyesatkan tentang ghuluw atau bahkan ekstrim yang
terlalu jauh menyimpang dalam mensikapi keutamaan Al-Qur’an. Al-Qur’an
dianggap sebagai suatu yang mistik. Padahal sebenarnya Al-Qur’an itu
mu’jizat. Al-Qur’an memiliki hayawiyyah atau dinamis penuh makna.
Dan metoda berikut ini merupakan salah satu pensikapan dinamis dan
unik. Bisa dinikmati manfaatnya bagi setiap muslim yang ingin lebih
akrab bermu’ayasyah ma’l qur’an dari sisi nama-nama surahnya yang
berjumlah 114 surah. Karena itu cobalah metoda ini;


a. Cara menghafal
Dalam metoda cerita ini pendekatannya melalui arti atau terjemah dari
nama surah yang berbahasa Arab. Yang perlu diperhatikan di sini adalah
bukan kebenaran ceritanya tetapi bagaimana anda bisa menghafal dan
mengingat nama – nama surah dalam Al-Qur’an dengan mudah, karena
cerita ini bersifat imajinatif bukan hakiki.
Cerita berikut dibuat bersifat penggalan – penggalan (per sepuluh
surah kecuali surah yang ke-91 – 99 dan ke-100 sampai terakhir). Hal
ini akan membantu anda mempermudah dalam menghafal dan mengingat
kembali nama – nama Surah dalam Al-Qur’an. Ingat yang dihafal bukan
ceritanya tetapi alur cerita nama – nama surah Al-Qur’an (dalam
terjemah) yang tertulis dengan huruf tebal dan kapital. Seperti;
PEMBUKAAN, SAPI BETINA dan seterusnya.

Praktisnya adalah sebagai berikut;

1. Bacalah cerita tersebut (misalnya cerita I; 1-10) sambil tersenyum.
2. Boleh dibaca dalam hati atau dengan suara. Perhatikan pada kata -
kata bercetak tebal dan berikan tekanan bunyi yang berbeda dari kata
yang tidak bercetak tebal.
3. Bayangkan anda sendiri sedang manjadi pelaku atau terlibat langsung
dalam alur cerita tersebut. Kalau bisa sambil membayangkan dan
gerakkan anggota tubuh anda sebagai bentuk kreasi dari imajinasi anda.
4. Tulis ulang kata – kata yang bercetak tebal sesuai yang anda ingat
saja, lalu cocokkan dan urutkan sesuai urutannya.
5. Setelah anda berhasil menulis ulang kata – kata yang bercetak
tebal, dengan melihat kata – kata tersebut cobalah anda
mengulang(mengingat) kembali alur ceritanya tanpa harus sama persis.
6. Berikutnya anda melihat grafik kata – kata yang bercetak tebal dan
bacalah dalam bahasa Arabnya. Ingat jangan dihafal terlebih dahulu
teks arab yang ditulis dengan huruf latin tersebut (hal tersebut akan
dibahasa tersendiri).

b. Cara Mengingat ulang
Bila anda lupa dengan nama surah tertentu, misalnya saja anda lupa
dengan nama Surah ke-13, maka langsung saja anda mengingat -ingat alur
cerita tersebut. Dimulai dari urutan surah yang ke-11 yaitu HUD. Maka
anda akan teringat bahwa HUD dan YUSUF disambar PETIR. Secara otomatis
dalam hitungan menit atau bahkan detik, anda akan dengan cepat
mengingatnya kembali bahwa surat yang ke-13 adalah Surah PETIR (yang
Bahasa Arabnya AR RA’D). Menyenangkan bukan?
Selamat mencoba dan menikmati. Semoga anda benar – benar puas.
c. Tekhnis Menghafal

Berikut ini teknis dan cara menghafal nama – nama surah dengan metoda
cerita yang dibagi dalam 11 bagian (cerita) agar memudahkan kita dalam
penguasaan maksimal dan cepat.


Cerita I; (Surah 1 – 10)
Aku membaca Al-Qur’an dimulai dengan PEMBUKAAN. Kebetulan waktu itu
tetanggaku sedang memotong SAPI BETINA untuk KELUARGA IMRAN yang punya
anak wanita bernama AN NISA. Ia lapar makan HIDANGAN, sisanya ia
berikan untuk BINATANG TERNAK yang berkandang di TEMPAT-TEMPAT YANG
TINGGI, di sana dibagikan HARTA RAMPASAN PERANG yang dilakukan setelah
TAUBAT seperti taubatnya YUNUS
NO KRONOLOGI CERITA


1 PEMBUKAAN – AL-FATIHAH
2 SAPI BETINA – AL-BAQOROH
3 KELUARGA IMRAN – ALI IMRON
4 AN NISA (WANITA) – AN NISA
5 HIDANGAN – AL MAIDAH
6 BINATANG TERNAK – AL AN ‘AM
7 TEMPAT-TEMPAT YANG TINGGI – AL A’ ROF
8 HARTA RAMPASAN PERANG – AL ANFAL
9 TAUBAT – AT TAUBAH
10 YUNUS -YUNUS


Cerita II; (Surah 11 – 20)
HUD dan YUSUF disambar PETIR sementara itu IBRAHIM sedang berada di
PEGUNUNGAN HIJR tempat dimana LEBAH memulai PERJALANAN MALAM menuju ke
GUA tempat bersembunyinya MARYAM dan TOHA.
NO KRONOLOGI CERITA


11 HUD – HUD
12 YUSUF-YUSUF
13 PETIR – AR RA’D
14 IBRAHIM -IBRAHIM
15 PEGUNUNGAN HIJR – AL HIJR
16 LEBAH – AN NAHL
17 PERJALANAN MALAM – AL ISRO
18 GUA – AL KAHFI
19 MARYAM – MARYAM
20 TOHA – TOHA


Share:

Horeeee.... First Antologi

Yeeee, senengnya!
Malem tadi akhirnya diumumkan juga  3 orang pemenang plus 100 orang kontributor terbaik lomba menulis Long Distance Friendship (LDF) yang digelar di FB. Ini kali kedua saya ikutan lomba Flash FIction, setelah yang pertama saya ga berhasil kali yang kedua ini masih belum beruntung. Hehehe

Lho, apa bedanya?
Beda lah, meski gak jadi juara, 100 kontributor terpilih naskahnya akan dibukukan. Nah, siapa ga seneng? Biasanya orang mesti besusah payah mengirim tulisannya buat diterbitkan. Ada sih  cara lebih mudah, pake jalur indie (self) publishing.Nah yang ini perlu modal juga biar bisa naik cetak. 
Buat lomba LDF ini, kita gak usah berrepot-repot ria mencari penerbit yang sudi menerbitkan tulisan, karna sudah dikoordinir sama panitianya.

Dari notes yang ditulis sama Fiani Gee salah satu juri, kami diminta menngirimkan kembali data tentang kami dalam bentuk narasi. Oke, no problem. Ketik sebentar dan langsung saya kirim data yang diminta lewat inbox beliau. Eh, ada yang lupa! Ternyata  juga dimintai foto buat disertakan dalam buku.
Gubrak!
Karna saya bukan banci kamera, ga gampang nyari koleksi foto pribadi. Yang ada juga foto yang banyakan dan kalau di-crop ga bagus kayaknya. Trus saya coba cari di album foto yang  di-tag sama temen. Belum puas juga, ga ada yang cocok. 

Pake pas foto? jiaaaaah, resmi banget! Kalau bukan buat ikutan seminar,  sertifikat dan hal-hal yang resmi (termasuk buat ke KUA nanti? hehehhehe) deuh, ga deh.  Biar bukan banci kamera kayaknya ga asyik deh. Dan.... akhirnya pagi tadi sebelum berangkat saya nyempetin dulu berpose pake kamera HP. Nah, kalau mau liat fotonya seperti apa (please, jangan muntah ya! aman koq :D )silahkan beli Antologinya kalau udah terbit ya. *mode promosi on*

Nah, selai note & FB akhirnya tulisan saya juga mejeng dalam bentuk buku. Semoga bisa nulis lagi dengan mutu yang lebih baik. *wink*


Share:

Horeeee.... First Antologi

Yeeee, senengnya!
Malem tadi akhirnya diumumkan juga  3 orang pemenang plus 100 orang kontributor terbaik lomba menulis Long Distance Friendship (LDF) yang digelar di FB. Ini kali kedua saya ikutan lomba Flash FIction, setelah yang pertama saya ga berhasil kali yang kedua ini masih belum beruntung. Hehehe

Lho, apa bedanya?
Beda lah, meski gak jadi juara, 100 kontributor terpilih naskahnya akan dibukukan. Nah, siapa ga seneng? Biasanya orang mesti besusah payah mengirim tulisannya buat diterbitkan. Ada sih  cara lebih mudah, pake jalur indie (self) publishing.Nah yang ini perlu modal juga biar bisa naik cetak. 
Buat lomba LDF ini, kita gak usah berrepot-repot ria mencari penerbit yang sudi menerbitkan tulisan, karna sudah dikoordinir sama panitianya.


Dari notes yang ditulis sama Fiani Gee salah satu juri, kami diminta menngirimkan kembali data tentang kami dalam bentuk narasi. Oke, no problem. Ketik sebentar dan langsung saya kirim data yang diminta lewat inbox beliau. Eh, ada yang lupa! Ternyata  juga dimintai foto buat disertakan dalam buku.
Gubrak!
Karna saya bukan banci kamera, ga gampang nyari koleksi foto pribadi. Yang ada juga foto yang banyakan dan kalau di-crop ga bagus kayaknya. Trus saya coba cari di album foto yang  di-tag sama temen. Belum puas juga, ga ada yang cocok. 


Pake pas foto? jiaaaaah, resmi banget! Kalau bukan buat ikutan seminar,  sertifikat dan hal-hal yang resmi (termasuk buat ke KUA nanti? hehehhehe) deuh, ga deh.  Biar bukan banci kamera kayaknya ga asyik deh. Dan.... akhirnya pagi tadi sebelum berangkat saya nyempetin dulu berpose pake kamera HP. Nah, kalau mau liat fotonya seperti apa (please, jangan muntah ya! aman koq :D )silahkan beli Antologinya kalau udah terbit ya. *mode promosi on*


Nah, selai note & FB akhirnya tulisan saya juga mejeng dalam bentuk buku. Semoga bisa nulis lagi dengan mutu yang lebih baik. *wink*



Share:

Wednesday, 16 March 2011

Kembalikan Bandungku yang Dulu


 Perhatikan para pengemudi motor di atas ini. Seharusnya meraka ga ada di lajur ini karena lajur ini disediakan buat kendaraan dari arah sebaliknya (searah dengan mobil pick up). Niatnya mau instan, cepet tapi karna volume kendaraan jadi numpuk ga jelas tepat di lintasan kereta malah jadi macet. Jarak ke perempatan berikutnya yang cuma butuh waktu 2-3 menit jadi molor sampai 30 menit!








Dan ini, para pengemudi motor yang keukeuh maksa nyari celah sempit  di kiri jalan. Mau nyalip harusnya ngambil dari sebelah kanan kan? Dengan kondisi macet sulit buat memacu kendaraan di atas rata-rata. Sementara tepi jalan sudah mentok, kalau pun ada malah jadi lahan pedagang. Kadang jalur trotoar  ini bebas dari pedagang, truk yang parkir ngasal  dan  masih saja dipake sama (lagi) pengendara motor yang ga sabar pengen cepet sampai.



 Padahal panjang jalan relatif cuma segitu-gitunya (kecuali dibuatkan jalan layang). Kalaupun dilakukan perlebaran jalan juga ga bisa selalu dilakukan. Belum lagi kalau pelebaran jalan, pohon-pohon ini yang jadi korban harus di tebang. Udara makin panas aja karna secara berkala cabang-cabang yang sudah rimbun harus ditebang demi keselamatan Pengguna jalan.

Solusinya sih sarana transportasi masal, seperti Transbus yang sudah digagas Pemkot Badan. Tapi ternyata aplikasinya ga semudah teori. Selain infrastruktur, anggaran,  juga penolakan dari para supir angkutan umum yang merasa ladang nafkahnya terancam. Padahal, dengan semakin masifnya volume kendaraan (terutama motor)  bikin konsumsi BBM makin meningkat. CO2 yang dilepaskan ke udara makin banyak dan bikin udara Bandung  tambah sumpek dan panas.

Kangen banget sama Bandung yang dulu. Bandung yang adem, Bandung yang hijau.....
Share:

Tuesday, 15 March 2011

Review Rumah Tanpa Jendela

Wiih, akhirnya kesampean juga nonton film Rumah Tanpa Jendela.  

 Deuh telat banget ya, secara film ini premiernya akhir Februari  dan hari gini malah baru nonton hehehe. Tak apalah, yang penting ga ketinggalan. 
Jadi film ini awalnya diangkat dari novel yang judulnya sama, Rumah tanpa Jendela karyanya Asma Nadia. Sebenernya novel ini pun hasil dari perluasan cerita dari judul cerita "Jendela Rara" yang diambil dari kumcer Emak Ingin Naik Haji.

Film ini mengangkat tokoh Rara yang diperankan oleh Dwi Tasya  yang bermimpi punya rumah yang berjendela. Rara tinggal bersama Ayahnya Raga (Rafi Ahmad) dan Neneknya (Ingrid Widjarnako) di sebuah perkampungan kumuh bersama para pemulung lainnya. Saat belajar dengan Bu Alya, Rara menceritakan mimpinya untuk memiliki jendela rumah yang disambut dengan tawa teman-temannya. 
Rara mulai menemukan jalan meretas mimpinya saat ia mengojekan payung di tempat Aldo (Emir Mahira)  les menggambar. Perkenalan Rara dan Aldo berlanjut menjadi persahabatan, apalagi neneknya Aldo, Nek Aisyah (Ati Kanser) yang tinggal bersama Aldo kerap mengundang Rara dan teman-temannya bermain di Rumah.

Kehadiran Nenek Aisyah dan Rara menjadi hiburan tersendiri buat Aldo penderita autis yang kerap ditinggal ayah ibunya yang sibuk. Sebenarnya Aldo punya dua orang kakak Adam dan Andini. Berbeda dari Adam dan pembantu-pembantu di rumahnya, justru Dini merasa malu dengan keberadaan Aldo hingga saat pesta ulang tahunnya Andini berusaha menyembunyikan keberadaan Aldo dari Rio teman sekolah Andini yang ditaksirnya.


Nah, di lain pihak, Nek Aisyah yang 'gaul' itu punya agenda tersendiri untuk memberi kejutan buat Andini. Saat Adam tampil bersama band-nya Nek Aisyah mengajak Aldo, Rara dan teman-temannya jadi penari latar Adam. Andini menjadi kesal dibuatnya, malu karna merasa Rio sudah mengetahui keadaan Aldo, Andini mulai menjauh dari Rio.

Rio yang berusaha mencari jawaban atas sikap aneh Andini malah menemukan Aldo dan ngobrol akrab dengan Aldo. Semakin sebal lah Andini dibuatnya. Tidak tahan dengan kekesalan Andini yang tetap merasa malu, Aldo kabur dari rumah dengan Rara. Saat Aldo hilang  Andini baru mengetahui kalau ternyata Rio mempunyai saudara kembar, Roy yang juga mempunyai kelainan. Roy  sudah meninggal karna penyakit yanng dideritanya. 
"Justru karna ketidaksempurnaannya Rio itu yang membuat dia sempurna. Kadang saya dibuat iri karnanya," papar Rio saat menceritakan saudaranya itu. 

Andini menangis dibuatnya, Mama Aldo yang juga terkesan cuek juga dibuat panik saat Aldo hilang. Dalam pelariannya, Aldo menemukan ketulusan Rara sebagai teman. "Terima kasih sudah mau menjadi teman Aldo" kata Aldo saat Rara menjawab pertanyaan Aldo. Bersama Rara pula Aldo merasakan pengalaman pertama mencicipi keringatnya sendiri.

Ada banyak pesan moral yang hadir lewat rangkaian dialog dalam film ini. Nek Aisyah yang lembut, dermawan tapi gaul. Adam kakak yang sayang dengan Aldo, Alya guru muda  yang ikhlas mendidik anak-anak jalanan dengan bayaran kecil, Pak Syahri yang tenang dan tentu saja Aldo yang dengan keterbatasannya itu punya hati yang lembut dan peka.

Kalau di kota teman-teman tidak ada bioskop, mungkin bisa mencari VCD/DVDnya. SIlahkan lihat thriller dan video OSTnya di bawah ini. 
O, ya jangan lupa ya siapkan tissue saat menonton film ini, karna ga perlu waktu lama untuk membuat muara sungai mengalir dari mata kita.







Share: