Belajar dari Jusuf Hamka: Jadilah Orang yang Bermanfaat

Dari sekian video tiktok yang suka mampir setiap saya membuka aplikasi ini, videonya Jusuf Hamka adalah salah satu yang selalu saya tonton sampai habis. Ga pernah diskip.

Misalnya waktu beliau cerita soal warung nasi sedekah yang dibukanya dengan modal 10 juta. 10 juta yang jadi modalnya itu ga habis-habis setelah berjalan selama 1,5 tahun. Malah surplus.


Cuma di situ aja videonya. How? Kok bisa? Saya penasaran dibuatnya.

Sampai di lain waktu, baru kemudian saya nemu lagi video lainnya tentang harga nasi kuning yang dijualnya Begini katanya:

"Saya beli nasi kuning 10 ribu. Saya jual 3 ribu. Secara matematika orang bilang rugi. Saya bilang untung. Kalau saya kasih gratis, saya memonopoli sedekah itu. Saya mememonopoli pahala itu. Tapi kalau saya jual 3 ribu, saudara-saudara yang biasa makan 10 ribu dia bisa makan 3 ribu, dia bisa sedekah buat orang lain di bawah dia 3 ribu juga. Dia masih save 4 ribu."

Ga memonopoli sedekah. Suatu hal yang baru saya dengar.

Balik lagi ke soal nasi kuning itu, kenapa ga digratisin? Jawabannya sungguh diluar dugaan saya. Beliau bilang kalau ingi berbagi pahala dengan yang membelinya. 

Sejenak saya mikir dan mau protes. Kan yang dibantunya duafa. Berbagi pahala gimana, sih?

Karena katanya kalau mereka membeli itu sama dengan membantu biaya produksi warung nasinya itu. Dari jualannya itu Juduf Hamka tidak sedikit pun mengambil untung. Untuk 1 porsi nasi yang dijual, beliau mengeluarkan sedekah 7 ribu rupiah. Sisanya yang 3 ribu itu didapatkan dari yang membeli. Jadi baik beliau sebagai pemodal utama warungnya maupun yang membeli, sama-sama dapat pahala.
Saya ga kepikirian ke situ. Soal memonopoli pahalanya. 

Sementara saya juga masih penasaran, kenapa warungnya masih surplus? Kan matematikanya dia nombokin. Yang makan di sana membayar dengan harga di bawah tarifnya. 

Ternyata begini jawabannya..

Satu hari beliau bertemu dengan seorang ibu makan di warung sedekahnya. Dari penampilannya udah jelas dia orang berada. Pak Jusuf ini heran kenapa ibu itu mau makan di sana.Terus dijawab sama ibu itu, memang ga boleh? Oh enggak, tentu saja boleh jawab Pak Jusuf. Cuma kenapa si ibu mau makan di tempat seperti itu.Kan dia masih bisa makan di tempat lain yang  lebih mewah.

Selesai makan, ibu itu membayar nasi yang dimakannya 10 juta. Kebanyakan. Tapi ibu itu bersikeras mau membayar segitu. Karena dia juga mau berbagi. Ini seperti mengulang ucapan Pak Jusuf sebelumnya. Jangan memonopoli sedekah.

Akhirnya saya paham kenapa di video sebelumnya Pak Jusuf cerita warungnya surplus selalu.Niat baik Pak Jusuf disambut Allah dengan mendatangkan orang-orang baik yang ingin berbagi juga. Sebuah penjelasan sederhana tentang matematika sedekah.

Di video lainnya saya menemukan qoute beliau seperti ini:
"Jadi orang kaya bukan sesuatu yang bangga. Kalau kamu kaya kamu tidak bermanfaat buat orang lain, mungkin lebih baik ga usah kaya. Jadi lebih baik sederhana tapi bermanfaat untuk orang lain."

Jleb.
Saya jadi mikir untuk merevisi proposal saya sama Allah minta banyak rezeki. Buat apa? Buat memperkaya diri sendiri? Terus gimana kalau malah ga bisa jadi manfaat buat orang lain? Padahal sebagai muslim saya belajar gimana beratnya hisab (perhitungan) di akhirat kelak. hartamu datang dari mana dan digunakan untuk apa?  

Padahalnya lagi Pak Jusuf ini kayanya minta ampun. Bos jalan tol ini punya koleksi mobil mewah macam Lamborghini atau Alphard tapi dia cuek pake sendal yang sudah 15 tahun ga diganti-ganti. Celana jeans yang dipakaianya pun beli dari toko jeans di Cihampelas.
Semangat berbagi dan bermanfaat ini juga yang diusung oleh JNE, salah satu perusahaanlogistik terbesar di Indonesia.


Berbagi, Memberi dan Menyantuni


Beberapa waktu lalu JNE mendapat pengahrgaan dari The Iconomics Research, sebagai 50 Indonesia Best CEO 2022 Awards  “Employee’s  Choice” Courrier Category.

Penilaian yang dilakukan secara online ii menjaring  kurang lebih 8.000 karyawan yang datang dari barbagai latar industri dan kategori. Dengan menggunakan 4 parameter indikator (popularity, competency, crisis leadership dan personality) menanyakan penilaian responden  terkait kinerja para CEO selama kurun waktu  Januari 2022 sampai dengan awal Maret 2022.

M. Feriadi Soeprapto selaku Presiden Direktur JNE menjelaskan prinsip JNE soal berbagi, memberi dan menyantuni. Amanan kepemimpinan bukan cuma soal harta namun juga dapat memberikan manfaat bagi kehidupan orang banyak. Baik bagi karyawan maupun masyarakat.

Saya jadi inget satu waktu, saya pernah diundang hadir dalam sebuah acara gathering JNE di Bandung dengan mitra bisnisnya yaitu para pelaku UMKM. Dari pembinaan yang dilakukan, para UMKM ini bisa menjangkau lebih luas target pasar.

JNE bukan saja berpikir tentang omset berapa banyak paket yang bisa dikirimkan oleh pelanggannnya tapi juga membnatu para pelaku usaha untuk scale up usahanya. Sinergi ini yang menjadikan keberkahan dan simultan. Para pelaku ekonomi terus bertumbuh, sementara dari sisi JNE juga semakin banyak mendapat kepercayaan untuk mengirimkan barang sampai ke tangan konsumen.

Bisnis memang ga selalu harus cuan dan cuan alias untung terus. Tapi ada misi sosial yang kalau dijalankan dengan tulus, insya Allah akan dibalas Allah dengan dengan cara yang ajaib.

Memang bener apa yang diucapkan oleh satu satu narsum di sebuah acara yang saya ikuti. Perbaiki dulu mindset bisnisnya (atau apapun motivasi kita melakukan sesuatu). Jangan cari untung, tapi jadikan niat untuk memberikan kemanfaatkan buat orang lain. Bantu orang lain mendapatkan kebutuhannya dengan bisnis yang kita jalani.

Ga heran ya kalau JNE mengusung tagline Connecting Happiness. Ternyata bukan sekedar menghantarkan kebahagiaan dengan mengirimkan paket dari pengirim ke penerima. Jauh di belakang itu ada banyak yang terbantu untuk tumbuh dan mandiri dalam berusaha

23 Comments

  1. jadi orang yang bermanfaat, ini menarik banget, karena ditengah terpaan dunia digital banyak yang ingin eksis dan dikenal, tapi belum tentu jadi manfaat untuk orang banyak ya

    ReplyDelete
  2. Pernah baca kisah warung nasi sedekah Jusuf Hamka dan awalnya heran juga , terkait monopoli sedekah misalnya. Tapi setelah saya maknai benar juga. Memang ini orang beneran inspiratif ya...membumi!
    Demikian juga JNE sebagai perusahaan konsep humanity beneran dijalankan, tek heran CEO-nya raih penghargaan.

    ReplyDelete
  3. Salut sama Pak Jusuf Hamka yang warung nasi sedekahnya malah surplus, karena ternyata banyak orang yang ikutan berbagi. Salut juga sama Bapak Mohamad yang memajukan JNE, begitu menginspirasi kita semua akan kiat2nya. Ga cuma meraup cuan semata tapi berbagi terhadap sesama, jiwa sosialnya tinggi ya.

    ReplyDelete
  4. Aku nih kalau ngomongin sedekah jadi ingat sama almarhum papahku, dulu beliau itu senang sekali berbagi sampai kita merasa "ih papah nih baik banget, apa2 dibagiin" ternyata setelah besar dan semakin paham jadi lebih tau manfaatnya juga.

    ReplyDelete
  5. Saya juga suka nonton video-videonya Jusuf Hamka, sering mak jleb gitu kalau dengar omongannya, lugas dan mengena.

    Salut juga dengan pengelolaan di JNE, yang tak lupa untuk berbagi, tujuan bisnisnya bukan cuma cuan tapi keberkahan

    ReplyDelete
  6. Dennise Sihombing27 April 2022 at 15:50

    Suka nih dengan quote Yusuf Hamka, "Jadi orang kaya bukan sesuatu yang bangga. Kalau kamu kaya kamu tidak bermanfaat buat orang lain". Nah itu memang yang harus jadi bahan perenungan bagi mereka yang lebih secara materi. Salam hormat untuk pak Yusuf Hamka

    ReplyDelete
  7. Mba Efi aku sepakat kalau memang bisnis tidak melulu soal uang tapi juga ada pencarian keberkahan, misi sosial yang tak boleh diabaikan

    ReplyDelete
  8. Bisa jadi renungan loh, setiap kita merasa tidak berarti atau justru sombong, tanya ke dalam jiwa: Apakah kita sudah bermanfaat untuk orang lain, setidaknya dalam ruang lingkup keluarga? Makasih mb sharing artikelnya

    ReplyDelete
  9. Sesuai hadist nabi ya, sebaik-baiknya orang adalah yang paling bermanfaat , pak Jusuf Hamka memang sangat meng inspirasi

    ReplyDelete
  10. Jangan memonopoli sedekah, untk juga istilahnya tapi dalam artinya ya. Semoga makin banyak bapak-bapak launnya seperti Jusuf Hamka dan bisa bermanfaat untuk orang lain.

    ReplyDelete
  11. Aku jadi ikutan teh Efi menonton video beliau yang teteh bagikan.
    Sungguh sosok yang inspiratif sekali di zaman yang serba uang, uang dan uang. Pak Jusuf Hamka berhasil menilai dengan perspektif berbeda sebagai pengusaha.

    Berbagi, Memberi dan Menyantuni.

    Dan filosofi yang sama juga dianut oleh CEO JNE, Bapak M. Feriadi Soeprapto.
    Selamat dan sukses untuk penghargaan 50 Indonesia Best CEO 2022 Awards  “Employee’s  Choice” Courrier Category.

    Semoga senantiasa bermanfaat semakin luas.

    ReplyDelete
  12. ambil untung dikit demi yang lebih besar ya mak. jne ada di tangan yang tepat. congrats jne best ceo semoga makin bikin jne tambah berkembang seperti kang tae moo

    ReplyDelete
  13. MasyaAllah selalu suka kalau ada yang cerita tentang keajaiban sedekah seperti menular ya Mba. Makasih ya mba udah diceritain pak Jusuf. Kemarin-kemarin juga sliweran di Youtube pak Jusuf ini.

    ReplyDelete
  14. Pak Yusuf Hamka ini sangat menginspirasi. Bukan hanya soal bagaimana beliau mengatur keuangan, tapi juga soal berbagi ke sesama. Dan yang paling saya suka ialah kesederhanaan beliau. Orang kaya tapi biasa aja.

    ReplyDelete
  15. Sedekah itu cara termudah untuk mendapatkan pahala ya, mbak. Ngga heran kalau Jusuf Hamka menjalankan itu dengan ikhlas dan dengan bahagia, kemudian mengenalkan ke banyak orang manfaatnya apa

    ReplyDelete
  16. Bpk Jusuf Hamka ini luarrr biasa inspiring!
    Aku sering ngerasa "mak desshh" gitu kalo menyimak ujaran beliau.
    Karena dituturkan secara lugas dan presisi.
    Keren!

    ReplyDelete
  17. Bola balik baca soal nasi kuning di atas, memang yaa proposal kita minta sama Allah besar ga hanya buat kita sendiri, tapi buat sekitar dan kita berusha menjadi orang yang bermanfaat. Banyak belajar dari mereka2 yang dituliskan diatas, termasuk bapak Feriadi dari JNE, semoga saja makin sukses dan berkah usaha2nya,

    ReplyDelete
  18. Aku tau yusuf hamka di podcast deny sumargo konsep dia dlm bersedekah kereen ya mak.

    Orangnya juga tidak kliatan orang kaya barang yg dipakai biasa aja ga brranded mahal

    ReplyDelete
  19. Jusuf Hamka selalu memberi contoh yang baik kepada kita semua ya, Teh. Seperti halnya CEO JNE dan karyawan2 di JNE juga. Mereka juga berusaha untuk selalu menebar manfaat.

    ReplyDelete
  20. Bener banget. Saya tuh selalu suka dengerin talkshow yang diadakan JNE. Senang ketika mendengar gimana para karyawan di sana, kemudian para mitra, dan banyak orang di luar JNE yang juga terbantu dari perusahaan ini. Jadi JNE tuh benar-benar gak sekadar sebagai jasa pengiriman, lebih dari itu ya ada banyak sekali hal-hal yang mereka lakukan yang memberikan manfaat bagi orang lain.

    ReplyDelete
  21. Waaah aku juga suka nonton video beliau, orang kaya yang baik tanpa flexing. Rumusnya tentang sedekah ini keren ya, jangan monopoli sedekah. Dan seperti yang dilakukan oleh JNE, dengan menjadikan pelanggannya bisa mendapatkan kebaikan. Kita bisa berbisnis dengan menyediakan sesuatu yang bermanfaat untuk pelanggan kita juga

    ReplyDelete
  22. Oalah, ini Pak Yusuf Hamka yang anaknya lagi viral mualaf itu ya (padahal udah tahun kapan mualafnya), katanya terinspirasi daria ayahnya yang hobi sedekah. Masya Allah, merinding saya Teh nulisnya, apalagi pas lihat wajahnya.... semoga Pak YH dan anaknya hidup dalam keberkahan. Aamiin

    ReplyDelete
  23. Pak jusuf hamka ini humble dan sederhana yah, keren memang. JNE juga hebat menyediakan wadah untuk pelanggannya berbagi kebaikan.

    ReplyDelete

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.