Travel ke Malaysia Langsung dari Bandung

by - May 20, 2019

Aku tuh suka envy kalau lihat postingan temen-temen yang ceritain jalan-jalannya ke luar negeri. Kepikiran aja kayak gini,  kapan aku bisa kayak mereka?

Mimpi aja sih gampang. Tapi ternyata niat ga akan terwujud kalau ga dibarengin usaha. Ya kan?

Sampai akhirnya niatnya dikuatin juga dengan nabung.  Ya gimana mau jalan-jalan, kalau ga dimulai pake nabung? Yakali aku tuh punya temen Dora Emon atau Aladin yang dengan satu jentikan jari semua keinginan bisa kesampaian.

Then,  mimpiku buat jalan-jalan dimulai dari Kuala Lumpur. Finally, I could make it, kesampaian! 

Waktu itu Tian ngajakin aku dan teman-teman lainnya (Dydie dan Nessa) buat jalan-jalan ke sana dengan rencana pergi di awal bulan Mare tahun 2019.

Selain mulai dengan nabung aku juga menguatkan niat itu dengan membuat paspor.  Pasti lah harus ada pasopor. Karena kita masuk ke sana ga kayak lewatin terminal bus antar kota kayak di sini hahaha... Dengan segala gedebak gedebuk dramanya, akhirnya satu batu loncatan terlewati juga.

Baca juga ceritaku membuat paspor di: Mengurus Permohonan Paspor

bandara husen sastranegara
Nunggu burung besi ini ngantar ke Malaysia
Dengan segala macam persiapan, akhirnya kami pergi juga, langsung dari Bandung. Yeah!

Senengnya pas tau ada rute keberangkata n langsung dari Bandung ke Kuala Lumpur. Jadinya ga harus ngibrit dulu ke Jakarta. 

Walaupun dari  segi ongkos, naik pesawat dari Jakarta jauh lebih murah. Tapi dengan pertimbangan waktu (karena kalau naik dari bandara Soeta harus pegi malam dari Bandung)  juga ongkos lainnya pake bus atau travel dari Bandung. Ya beti lah ongkosnya alias beda tipis. 

Buatku yang ga suka ribet atau butuh waktu rada selow tanpa terintimadasi waktu terburu-buru, pilihan cus langsung dari Bandung itu udah pas. Dasar malas aja ini mah :)

Untuk keberangkatan, tadinya aku berencana pake angkot aja atau minta diantar kakak naik motor dari rumah. Tapi angkot ga langsung berhenti di depan pintu masuk. Harus jalan kaki lagi sekitar 500 meteran.  Lumayan rempong karena harus bawa ransel yang  montok berisi perbekalan selama 4 hari 3 malam selama di sana. 

Syukurnya pas pergi itu, Dydie nawarin nebeng mobilnya dia karena diantar sama suaminya langsung ke Bandara. Lumayan banget menghemat tenaga.

By the way, selama ke Malaysia itu kami main ke beberapa tempat. Let's Say Twin Tower Petronas berikut air mancurnya di KLCC yang masih satu kawasan, lalu main ke Batu Caves, Little India, China Town di Petaling, Musem Nasional di Dataran Merdeka dan pastinya hunting skin care di beberapa toko di sana (karena di Malaysia lebih murah), juga nyobain beberapa kulinernya.   

twin tower petronas
Twin Tower Petronas
Puas? Ga! Karena waktu yang terbatas, jadinya ga semua itenerary ga semua sempat disambangi seperti kulineran ke Alor  yang ga sempat atau transit di China Town yang cuma bentaran aja.

Untuk estimasi waktu baiknya diperhitungkan dengan matang. Misal waktu maen ke Suria KLCC yang tempatnya satu kawasan dengan  Menara Kembar Petronas. 


Untuk latar yang cerah enaknya foto-foto di menara kembar ini sore hari. Matahari lagi ga nyengat dan pencahayaannya yang pas. Tapi kalau mau sekalian mau nunggu air mauncur dilatari lampu yang nyala, ya kudu datang malam. 
air mancur suria klcc
Air Mancur di Suria KLCC
Yang seneng dengan sejarah, wajibun bin kudu mampir ke Museum Nasional di Dataran Merdeka. Aku seneng banget karena jadi nambah tau dikit sejarah saudara serumpun kita, Malaysia yang sama-sama Melayu.

Mungkin karena pernah jadi kolonialnya Inggris, selama di sana aku banyak nemuin arsitek gedung bergaya British. Klasik dan anggun. 

museum nasional dataran merdeka
Museum Nasional Dataran Merdeka
museum nasional dataran merdeka
Museum Nasional Dataran Merdeka
Ngomong-ngomong soal melayu aku tuh ga mudeng ngobrol dengan mereka, walau ada sedikit bahasa melayu tapi ya beda aja, sih. Termasuk kalau udah keluar kosakata bahasa Inggris. Aksennya beda. Kultur mereka yang dilatari orang-orang India (banyak banget liat wajah-wajah mereka di sini)  dan orang-orang Cina bikin bahasa mereka jadi sangat kaya dengan percampurannya.  Tambahan lagi aku emang ga khatam nonton serial Upin Ipin :).
wisata ke batu caves malaysia


Untuk jurus paling aman kuasailah bahasa Inggris, meski cuma dasar. Dengan sedikit bantuan bahasa tarzan alias bahasa isyarat, lebih gampang buat nanya-nanya rute atau harga.  Uniknya, lihat wajah asli orang Malaysia yang Melayu banget tuh ga mudah, lho. Populasi mereka ga sebanyak pendatang/penduduk berdarah campuran. Tapi yang jelas Ncik-ncik Malaysia itu cantik-cantik lho.

Selama pelesiran di sana, aku sempat ketemu dengan temannta Tian. Namanya, Su, asli Malaysia.  Orangnya  baik dan ramah. Tapi lagi-lagi soal bahasa jadi kendala. Padahal sebisa mungkin aku udah pake bahasa Indonesia yang familiar juga buat orang Malaysia. Tapi ternyata ga semudah dugaanku.  Lagi-lagi gara-gara ga akrab sama si duo plontos Upin Ipin itu.
apartemen regalia
Foto Bareng Su di depan apartemen Regalia, faovirtnya  para Traveller :)
Akhirnya dengan sedikit bahasa Inggris yang simpel bisa juga ngobrol walau patah-patah. Wah, ini aku harus mengasah lagi bahasa Inggris. Bahasa persatuan internasional biar nanti ga linglung kalau mau nanya-nanya. Untungnya selama di sana kami ga terlalu kelabakan. Antara aku dan teman-teman lainnya saling cover soal nanya-nanya ini.  Itu untungnya travelin rame-rame.
jalan-jalan ke malaysia
mudik ke tanah air dengan muka dan dompet yang udah lecek :D

Perjalanan 4 hari 3 malam ge berasa. Akhirnya kami harus kembali ke tanah air. Berat rasanya. Tapi lebih berat buat dompet, karena amunisi uang saku udah sampai di level paling mengharukan.  Ga tega kalau harus menguras tabungan :).

Baiklah tahun depan semoga bisa kembali ke sini dengan lebih banyak tempat lainnya yang dikunjungi.

Ngomong-ngomong soal transport, seperti yang kubilang di atas. Kalau ada akses yang mudah dari rumah langsung ke atau dari bandara bakal lebih menyenangkan. Apalagi kalau pas balik ke rumah. Udah dijamin tuh yang namanya badan pegel-pegel dengan semua baawaan pakaian kotor plus oleh-oleh bikin bahu jadi nambah pegel berlipat-lipat.

Kalian yang tinggal di Bandung ga usah khawatir lagi lho soal fasilitas antar jemput dari dan ke bandara. Karena saat ini sudah ada Golden Bird yang siap setia mengantar jemput kapan pun kita butuhkan. Armada mereka siap 24 jam melayani. Dengan moto ANDAL (Aman,Nyaman, MuDAh dan personaLized), Golden Bird sudah mendapatkan pengakuan berupa award Superior Service Award dari  PT Persero Angkasa Pura II, bandara Soekarno Hatta. 

Selain di Bandung, Golden Bird juga hadir di kota lainnya yaitu Jabodetabek, Surabaya, Bandung, Bali, Solo, Semarang, Yogyakarta, Lombok, Medan, serta Manado.

Kendaraan untuk antar jemput pun bisa kita pilih. Mau yang standar? Ada Toyota Avanza dan Toyota Innova. Kalau mau yang berkelas, bisa pilih Toyota Camry atau Toyota Alphard. Pastinya dibarengi oleh layanan driver yang profesional juga.
jemputan pribadi golden bird di bandara

So, gimana? Punya rencana liburan ke luar kota atau luar negeri dengan akses melalui bandara? Ya udahyuk coba golden bird bandung sekarang juga. 

By the way cerita lainnya selama aku jalan-jalan di Malaysia menyusul segera setelah tulisan ini, ya.

You May Also Like

3 komentar

  1. Rincian biaya juga dong. Mulai dari tiket, taksi, penginapan, makan dll ... Biar tahu harus nabung berapa ^_^

    ReplyDelete

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.