Tuesday 31 January 2017

6 Harga Printer Terbaru dengan Performa Terbaik

Aplikasi penggunaan PC dan atau laptop baik di kantor mau pun di rumah membuat kita membutuhkan printer untuk mencetak dokumen/naskah sampai foto. Bisa untuk kepetingan pekerjaan atau untuk kepentingan pribadi saja. Antara computer atau laptop dengan printer itu buat saya seperti sayur tanpa garam. Rasanya ada hilang kalau printe rusak atau tidak ada.

Ngomong-ngomong soal printer, bukan saja soal kepraktisan pemakaiannya tapi juga kualitas dokumen yang tercetak juga penting pake banget. Rasanya gemes banget kalau hasil cetakannya bermasalah seperti warna yang samara tau tinta yang bleber atau ketajamannya yang mengecewakan. Pernah mengalami hal itu?. Ternyata tidak selalu harus  memiliki printer mahal lho untuk memiliki printer yang kualitasnya mumpuni. . Misalnya saja seperti 6 printer berikut yang bisa jadi rujukan mendapatkan printer yang tepat sesuai dengan spesifikasi kebutuhan. Yuk, kita cek seperti saja sih fitur dari 6 printer dengan harga yang murah berikut ini,

Epson L120

Printer Epson L120 dilengkapi dengan fitur khusus berupa tabung tinta. Karenanya pinter ini sangat cocok untuk kita yang frekuensi pencetakan dokumennya cukup intens. Meski sudah dibekali dengan tabung tinta khusus, Epson L120 tetap didesain dengan ukuran yang minimalis. So, no worry deh, tidak akan menuh-meuhin tempat penyimpanan printernya. Terus gimana soal harga? Cuma 1,6 juta rupiah saja. Cincay, kan?
sumber gambar: Epson

Canon Printer PIXMA MG 2570s

Salah satu anggota keluarga printer dari brand inijuga punya tampian yang minimalis sehinngga tidak akan menyita space meja kerja. Asiknya, Printer besutan Cannon ini juga dilengkapi dengan fitur cartridge XL yang bisa diaktifkan saat kita akan mencetak dokumen yang jumlahnya cukup banyak. Sol budget kalem saja. Cuma perlu merogoh 800 ribu rupiah saja sudah bisa memboyong Canon Printer PIXMA MG 2570s sebagai partner kerja yang mumpuni.

HP Deskjet 2132 All in One

Ada kalanya kita memerlukan keberadaan printer bukan saja untuk menetak naskah atau foto tapi juga fitur scan dan fotocopy untuk bebagai kepentingan. Kalau kebutuhan seperti ini cukup sering kita butuhkan, maka jawaban yang tepat adalah HP Deskjet 2132 All in One. Kemampuannya mencetak dokumen pun lumayan cepat yaitu sekitar 7,5 lembar per menit bila dokumennya hitam putih sementara untuk print dokumen berwarna, jumlah lembar yang dihasilkan dalam setiap menitnya sebanyak lembar saja. Dengan banderol 600 ribu rupiah saja rasanya harga yang worth it.

HP Deskjet 2135 Ink Advantage All in One

Masih dari keluarga HP, Seri 2135 dari HP Deskjet juga tidak kalah kerennya untuk soal fitur. Fitur thermal inject-nya membuat performa yang menakjubkan karena mampu mencetak dokumen hingga1.000 halaman. Partner yang bisa diandalkan saat kita dikejar dead line pelaporan pekerjaan. Di sampig itu masih ada slot USB dengan kecepatan tinggi yanga kan membuat proses printing semaki n efisien. Dengan membayar harga sekitar700 ribu rupiah, kita sudah bisa memiliki printer yang kerjanya ngebut ini.
sumber: hp.com

Canon Single IP2870s

Punya budget terbatas tapi sangat membutuhka printer untuk menunjang pekerjaan? Tenang saja, ada lho printer harga 500 ribuan yang bisa kita dapatkan. Misalnya saja Caonon seri SingleIP 2870s ini dengan harga printer terbaru  tidak lebih dari 550 ribu akan membantu memudahkan pekerjaan kita. Dengan desainnya yang mimimalis, printer ini juga tidak akan memghabiskan ruang penempatannya. Responnya pun cukup oke karena begitu tersambung dengan komputer secara otomatis akan menyala tanpa harus menekan tombol power.

Epson Printer L310

Semakin banyak dokumen yang harus dihasilkan, membuat kita harus mengatur waktu pencetakannya agar tidak mulur. Kadang karena harus mantengin printer kita sampai lupa makan kurang tidur agar pencetakan dokumen dengan printer tepat waktu. Dengan kemampuannya menghasilkan sebanyak 6.500 lembar warna dan 4.000 lembar hitam putih akan membuat kita punya waktu lebih banyak ebralih pada pekerjaan lainnya. Hanya dengan dana tidak sampai 2 juta, Epson Printer L310 siap menjadi mittra untuk memudahkan semua pekerjaan kita dalam hal mencetak dokumen. 


Nah sekarang sudah ada bayangan kan printer merk apa yang cocok sebagai partner kerja dengan budget yang tidak terlalu mahal?
Share:

Friday 27 January 2017

Tour de Petjinan van Bandoeng, Napak Tilas Sejarah Etnis Tionghoa di Bandung

Ada banyak cerita dibalik nama jalan-jalan yang ada di Bandung.  Sebagian besar nama jalan yang kita kenal ternyata punya akar sejarah yang menarik untuk ditelusuri.  Saya jadi ingat cerita teman saya, teh Imas,  kalau nama-nama gang di sekitaran jalan Holis atau Cibuntu terkait dengan sejarah nama tokoh tertentu. Jalan Syahbandar yang teletak di samping Puskemas Cibuntu adalah salah satunya. Konon katanya semasa hidupnya Syahbandar  adalah seorang yang sangat kaya dengan aset tanahnya yang luas. Saya juga jadi teringat cerita teman SMP saya ketika menceritakan gang Siti Mariah, gang menuju ke rumahnya juga ada ceritanya. Saya lupa-lupa ingat  detail daerahnya tapi di kawasan itu kita bisa menjumpai makam Siti Mariah di sana.  

Bergeser ke pusat kota, nama-nama jalan seperti Jalan Tamblong (babah tukang kayu), Jalan Asep Berlian (orang yang sangat kaya karena punya punya perhiasan banyak di tangannya), Jalann Dulatip (salah satu saudagar pasar pada tahun 1900an) Jalan Tamim (pemburu dan pengoleksi celana jeans mesti tau banget tempat ini) dan beberapa titik lainnya pun tidak lepas dengan akar sejarah pada masa lampau. 

Yang tidak kalah menarik adalah cerita penamaan jalan Paltiga. Ruas jalan yang terletak di sebelah kiri jalan Jendral Sudirman, sekitar 300 meter sebelum Cibeureum-Cimahi adalaah jalan menuju komplek tempat tinggal saya. Dulu  pernah ada yang bilang kalau di daerah sana pernah ada 3 pesawat (orang Sunda kalau nyebut pesawat terbang dengan sebutan kapal) yang jatuh. Konyol juga sih kalau dengar cerita ini, karena tidak mungkin lalu lintas pesawat  bisa berpapasan lalu tiga pesawat bersamaan jatuh di sana (cmiiw).  Sampai akhirnya saya baru ngeh ketika mengikuti napak tilas bersama komunitas  Aleut (24 Januari 2017). Ih ke mana aja ya?

Penamaan Paltiga adalah pemberian nama jalan terkait lalu lintas dengan kuda yang ditandai dengan batas pal (1 pal kurang lebih setara dengan 1,5 km). Saat itu transportasi di Bandung masih sangat sederhana, bagi para keluarga menak (bangsawan) dan Belanda, kuda menjadi sarana transportasi untuk menempuh perjalanan. 



Area alun-alun Bandung menjadi meet point bagi kami peserta ngaleut yang disponsori oleh hotel Best Western Premire,  Bandung. Karena akhir pekan ini akan menyongsong tahun baru Imlek  2568, tema itenerary yang diambil adalah Tour de Petjinan van Bandoeng.

Bersama Bang Aswi dan Mbak Alaika, kami turut ngaleut (berjalan kaki bareng-bareng) dengan perwakilan media, pengurus komunitas Aleut, Mojang Jajaka  Bandung, Koko Cici Jakarta, Akko Amoi Bandung, dan Mojang Jajaka Bandung serta tim dari hotel Best Wetern Premier Bandung pastinya. Kurang lebih ada 38 peserta menyusuri jejak sejarah etnis Tionghoa sejak pertama kali Jalan Pos (De Grotepostweg) dibangun untuk menghidupkan perekonomian Bandung.  Kalau sekarang jalan Pos ini lebih dikenal dengan nama jalan Asia Afrika. Tahu dong di mana itu?

Warung Kopi Purnama

Itinerary pertama yang kami tuju adalah Warung Kopi Purnama yang terletak di jalan Alkateri. kalau berjalan dari Alun-alun Bandung letaknya ada di sebelah kiri jalan Asia Afrika,  di samping hotel Grand Flower yang dulunya merupakan salah satu mall yang terkenal di akhir tahun 1980an, Romano Plaza. Game Zonenya sempat ngehits juga dengan lift tembus pandang dari halaman luarnya. Yang ngaku anak Bandung mesti tahu ini :).

Back to topic, ya.  Meski matahari sudah mulai menyengat, pagi itu selasar jalan Asia Afrika yang biasanya dipadati PKL masih terlihat sepi. Saya sempat mengabadikan mural di salah satu sudut jalan ini. Ada yang tahu siapa Kim Jong yang dimaksud di sini?

Tidak jauh dari mural ini, kami tiba di Warung Kopi Purnama, sebuah warung kopi yang cukup legendaris. Usianya sudah menjejak 87 tahun, didirikan pada tahun 1930.Pada saat itu masih bernama Chang Chong Se (berganti nama pada tahun 1966). Saat ini  Warung Kopi Purnama sudah dikelola oleh generasi ke-4. 

Jangan merasa khawatir kalau datang sendirian ke warung ini. Akan selalu ada mereka yang menyapa dan mengajak untuk nimbrung ngobrol.  Bila dulu jam 5 sore sudah tutup, sekarang waktu operasi Warung Kopi Purnama jadi lebih lama, yaitu tutup pada jam 10 malam. Yang menarik, kebutuhan kopi untuk warung ini dipasok dari Kopi Aroma yang lokasinya cukup berdekatan. 

Kopi Aroma

Ada banya kedai atau cafe tempat ngopi di Bandung. Tapi jangan pernah mengabaikan salah satu pusat kopi yang satu ini, pabrik Kopi  Aroma. Belum sampai di depan tokonya saja aroma kopi sudah menguar di udara dengan sensasi aroma yang harum menyenangkan.  Tokonya belum buka saja sudah banyak orang-orang yang mengantri. Pada waktu tertentu antriannya bisa lebih panjang dibanding ketika hari itu kami main ke sini.

Selain rasanya yang tetap konsisten, Kopi Aroma juga masih setia dengan mengandalkan peralatan lama untuk mengolah kopinya. Bahkan sebelum diolah di sini persediaan kopi bisa disimpan sampai 5 tahun ke depan. Hasilnya, kopi racikan di sini mempunyai kadar asam yang rendah. Kecuali punya keluhan maag yang sangat akut, Kopi Aroma ini bisa jadi pilihan lain menyesap kopi tanpa meninggalkan rasa bersalah. Ya tentu saja asal jangan over dosis, dong. 

Dengan andalannya berupa Mocca arabika dan Robusta, Kopi Aroma tidak pernah membuka cabang lain. Cuma di sini saja. Tapi jangan khawaatir, kemasan Kopi Aroma yang kita jumpai di Supermarket itu asli kok karena  untuk beberapa swalayan memang sudah dipasok.


Babah Kuya

Bagi yang mempunyai keluarga dengan keluhan penyakit degenaratif seperti kolesterol,  darah tinggi, diabetes dan penyakit lainnya, nama tokob  obat ini sudah sangat familiar. Selain memang dikenal secara umum, toko obat Babah Kuya juga jadi rujukan para terapis herbal, farmasi dan Sinshe untuk mendapatkan obat. Selain membeli obat yang diresepkan, pembeli juga bisa minta tolong diracikan obat untuk jenis penyakit tertentu. Bahkan di sini juga katanya bisa dijumpai rempah-rempah bumbu masakan yang sulit dtemukan. Sambiloto, Batrawali atau Bidara bisa didapatkan di sini. Aroma obat herbal yang memenuhi toko sangat khas sekali.Hingga saat ini  Babah Kuya masih dikelola oleh keturunanya, sudah masuk generasi ke-4.



Cakue Osin

Kenyang hanya dengan menghirup aroma kopi, kebal dengan bau obat dan rempah lainnya, perut kami mulai demo dan minta diisi. Fiuh, senangnyaaaa karena kami tiba di Cakue Osin yang terletak di jalan Babatan. Tidak jauh dari pasar atau dekat SMP 6 Bandung. Sekilas nama usaha kuliner ini mengingatkan saya dengan drama seri dari Jepang itu, lho. Tapi ini Osin, bukan Oshin versi Jepang itu. 

Ngomong-ngomong soal kuliner Tionghoa, selain capcay, bacang, siomay atau bakpau, cakue ini juga merupakan hasil perkawinan kuliner Tionghoa dengan kuliner lokal. Cakue Osin  ini juga usianya sudah lama. Sejak tahun 1934 sudah ada, lho. Warungnya sangat sederhana tapi jangan salah, mereka punya pelanggan yang loyal. Untuk beberapa jenis tertentu malah bisa habis diborong sebelum jam 10 pagi.

Untuk ukuran harga dan rasa sepadan lah. Satu cakue yang ukurannya jumbo cukup mengenyangkan. Bisa dicocol dengan saus yang endeus itu atau dicelupkan dengan bubur kacang Fujian. Kacang yang digunakan pun unik, bukan kacang hijau seperti biasa tapi kacang tanah yang lembut dengan aroma dan rasaya yang khas. Manisnya pun tidak berlebih.

Bagi yang muslim, harap berhati-hati untuk menjajal jenis makanan tertentu karena komposisi bahannya mengandung babi alias non halal. Tapi untuk  cakue, bubur kacang, kue tambang dan kompia kosong aman dan halal kok. Bahkan untuk mengolah sebelum dijualpun diperlakukan secara terpisah.


Pasar dan Huru-hara

Meskipun karakter etnis Tionghoa  pada saat itu bisa dibilang cair dan mudah berbaur dengan warga lainnya, tidak lah mudah bagi mereka untuk mendapatkan izin masuk ke Bandung. Menjadi seorang muslim adalah salah satu cara untuk memuluskan jalan masuk. Namun situasi ini dimanfaatkan oleh seorang Tionghoa bernama Munada. Dengan berpura-pura masuk menjadi orang muslim, Munada tidak bisa menutupi karakter aslinya yang suka membuat kekacauan. Peristiwa kebakaran pasar Ciguriang pada bulan November tahun 1845 juga tidak terlepas dari perannya.Huru-hara ini adalah umpan utnuk melampiaskan dendam pada Asisten Residen Priangan dan Bupati Bandung pada saat itu.

Puluhan tahun berlalu setelah kebakaran yang melanda pasar Ciguriang pada tahun 1904 didirikan pasar  baru dengan los-los  yang semipermanen. Yang menarik dari pasar ini, pada tahun 1935 Pasar Baru mendapat pernghargaan berupa pasar terbersih dan teratur  di wilayah Hindia Belanda.  Pada tahun 1970an pasar baru mengalami perombakan menjadi gedung bertingkat dan direnovasi lagi menjadi semakin baik pada tahun 2001 sampai sekarang.

Saudagar pasar dan Rasia Bandung

Salah satu alasan kedatangan etnis Tionghoa ke Bandung pada saat itu adalah dibutuhkannya keahlian mereka dalam hal perkayuan untuk menunjang pembangunan Bandung. Namun ternyata mereka bukan hanya jago soal kayu, tapi juga punya naluri berniaga yang mumpuni. Selain menjadi ahli pengobatan seperti Babah Kuya, pengusaha kopi  (kopi Purnama dan Kopi Aroma) atau atau mengelola berbagai bisnis kuliner seperti Cakue Osin, etnis Tionghoa di Bandung pada saat itu juga dikenal jago berniaga di pasar. Konon kedatangan para warga Tionghoa ini selain terkait kepentingan Belanda yang sedang menggenjot pembangunan Bandung juga terktat dengan meletusnya Perang Diponegoro.

Bermula hanya ada 13 orang (tahun 1840), populasi warga Tionghoa semakin membesar dan membutuhkan permukiman yang pada saat itu dilokalisasi oleh Pemerintah Hindia Belanda. Kawasan Pecinan atau Kampung Cina pada saat itu terpusat di  Kampung Suniaraja (Santiong)  dengan batasan jalan Asia Afrika, Banceuy, Suniaraja dan jalan Otto Iskandardinata. Namun pada perkembangannya batasan pemukiman etnis Tionghoa ini jadi samar karena pada saat itu sebagain besar dari mereka hidup membaur dengan masyarakat  pribumi dan pendatang lainnya.

 Salah satunya adalah Tidak keluarga Tan Djin Gie sebagai pedagang batik Solo yang terkenal. Bahkan sampai saat ini kita masih bisa menjumpai jejak sejarah keluarga ini dalam bentu bangunan hotel Surabaya (dulu bernama  Landhuis). 


Terkait dengan keluarga ini terbit sebuah novel  pada tahun 1917 Rasia Bandung, berkisah tentang kisah cinta terlarang.  Salah satu tokoh utamanya bernama Hilda, anak dari Tan Djin Gie yang jatuh cinta pada seorang pemuda yang juga berasal dari marga Tan. Pada saat itu menjalin cinta apalagi menikah dengan sesama marga adalah sebuah aib  sehingga membuat anak gadis dari Tan Djin Gie yaitu Hilda tidak diakui oleh keluarga. Nahasnya cinta setia Hilda pada Tan Tjin Hiauw, pemuda yang dicintainya itu tidak sepenuhnya berbalas kesetiaan  hingga menjadi pusaran kisah cinta yang rumit.

Beberapa tahun kemudian kisah cinta mereka ini terangkum dalam novel. Kalau Siti Nurbaya sudah dikenal dan jadi novel yang yang lgendaris, kisah cinta Rasia Bandung ini belum banyak yang familiar. Identitas penulis dari novel ini pun masih misteri. Ada yang menduga penulis novel ini (Chabanneau, nama samaran  yang artinya minuman keras) berusaha memeras tokoh utama cerita. 

Penasaran dengan buku ini? Saya sudah punya bukunya tapi nanti saja ya saya tulis reviewnya ddi blog saya khsuus buku akunbukucom.  Dinamika bahasa juga terjadi di novel ini. Gaya bahasanya sangat berbeda dengan novel populer modern. Tadinya  Rasia Bandung terbit dalam 3 jilid kemudian disempurnakan di sana sini seperti ejaan bahasa lama  yang disesuaikan dengan ejaan sekarang, c
atata kaki untuk memberikan keterangan dan disatukan dalam satu jilid saja. Kalau ingin baca sendiri silahkan hubungi Komunitas Aleut untuk memesan buku ini, baik untuk yang tinggal di Bandung atau di luar Bandung. Silahkan chat saja via WA di nomer  0896 8095 4394 atau 0859 7490 5769.  Yang mau main ke markas Aleut sambil langsung memboyong buku ini bisa melipir ke jalan Solontongan No. 20-D, Buahbatu, Bandung.

Vihara Satya Budi

Viahra yang dulunya bersebelahan dengan almamater SMP saya (SMPN 25 Bandung yang sekarang beralamat di jalan Pajagalan) ini terletak di jalan Kelenteng.  Usia Kelenteng ini udah cukup tua, didirikan pada tahun 1800an. Vihara Satya Budi didirikan di atas tanah milik Tan Ju Liong. Vihara yang selalu ramai dipadati pengunjung  di setiap malam Imlek ini desainnya dirancang secara istimewa. Tan Ju Liong memanggil arsiteknya langsung membangun vihara yang megah dari Tiongkok Selatan. 



Meski terbuka untuk umum di luar umat Konghucu, pengunjung yang datang iharapkan untuk tetap menjag etika agar tidak menganggu proses ibadah. Di beberapa titik kita diperkenankan untuk memotret atau berfoto ria, di bagian lain seperti bagian dalam vihara tidak diiziinkan untuk memotret.  Aroma dari dupa, lilin yang besar (dinyakalan dari jam 5 pagi sampai jam 5 sore saja, dan patung-patung dengan nuansa merah dan kuning yang dominan bisa kita jumpai di sini. 

Share:

Thursday 26 January 2017

Tips Sewa Apartemen

Tips Sewa Apartemen [infomercial] - Tinggal di apartemen? Satu kata yang paling sering diasosiasikan adalah mahal. Ya, berbeda dengan rumah tinggal, membeli atau sekadar menyewa apatemen memang lebih mahal. Tapi bagi sebagian orang, apalagi yang mobilitasnya tinggi dan tidak  mau terjebak macet dari  dan ke tempat kerja, tidak lah mudah mendapatkan rumah yang lokasinya berada di pusat kota. Seperti Jakarta misalnya. 
credit: urbanindo
Di samping itu, selain pertimbangan kemudahan aksesibilitas, tren sewa apartemen juga lebih mudah dijumpai.  Akan mudah sekali untuk menjumpai tawaran dari pelaku bisnis properti untuk menyewa apartemen, bukan hanya dalam jangka tahunan saja. Untuk hitungan masa tinggal per bulan bahkan per hari pun ada, lho. Tinggal sesuaikan saja dengan kebutuhan. Tidak usah pusing dengan urusan over kontrak untuk memanfaatkan sisa masa tinggal yang tidak terpakai misalnya. Sementara itu untuk kebutuhan sewa per hari juga jadi jawaban bagi yang hanya mencari tempat bermalam hanya sehari saja untuk keperluan bisnis ketika hunian di hotel sudah penuh semua.


By the way, pernah kebayang ga kalau ada yang menyewakan apartemen hanya dengan membayar 150 ribu rupiah saja? Bahkan jauh lebih murah dari biaya yang harus kita bayar jika menginap di hotel, ya? Eh tapi jangan senang dulu. Sebagai penyewa kita harus tahu dulu dengan nominal sebesar itu apa sja sih manfaat yang akan kita dapatkan. Nih ada tips yang perlu diketahui seputar sewa apartemen [disclosure] dalam masa harian. Cekidot ya.

Jangan terpengaruh foto

Yes, begitu lihat foto biasanya kita seperti orang jatuh cinta. Langsung tertarik dan segitunya menggebu-gebu ingin menyewanya. Sangat disarankan untuk tidak begitu saja kepincut dengan tampilan yang kita lihat. Baik itu dari foto yang kita lihat di  internet, koran, majalah, atau iklan - iklan  lainnya. Belum tentu tampilan foto yang tampak sama persis dengan aslinya. Jadi sebelum memutuskan untuk langsung sepakat, melakukan survei langsung ke lokasi tetap perlu dilakukan agar tidak kecewa. Kalau sudah oke, baru lakukan transaksi dan serah terima kunci.

Biaya

Saat disebutkan biaya yang harus kita bayar, pastikan juga itu adalah biaya total yang harus kita bayar. Kenapa? Karena masih ada biaya apartemen yang harus dibayar tapi ternyata masih ada biaya tambahan lainnya yang harus dibayar.  Jadi rasanya seperti ditonjok karena tiba-tiba ada billing lain yang harus dibayar. Gimana ga sebel? Makanya jangan segan untuk cerewet bertanya apakah biaya lain seperti listrik, sambungan telepon dan tambahan lainnya sudah termasuk atau belum. Sebagai konsumen kita berhak untuk tahu soal itu.

Ketahui dengan jelas kantor pemilik apartemen 

Ini juga hal penting yang harus diperhatikan. Bahkan ketika kita hanya menyewa dalam hitungan harian pun. Pillihlah agen penyewa apartemen yang memiliki reputasi yang baik. Jangan sampai ketika semua biaya sudah dibayar  ternyata menyisakan ketidaknyamanan yang  harus dilalui selama tinggal di sana. Walau bukan rumah sendiri, merasa hommy adalah hal yang berhak kita dapatkan. Masa sih suah bayar mahal tapi ga sepadan dengan kenyamanan  fasilitas? Enggak dong. 








membantu berpikir sebelum benar - benar memutuskan
Share:

Wednesday 25 January 2017

4 Tips Rumah Dijual Yang Harus Diketahui Pembeli

4 Tips Rumah Dijual Yang Harus Diketahui Pembeli [infomercial] - Tinggal di kota mana pun, kota kecil atau kota besar, memiliki rumah sendiri adalah impian setiap orang. Tidak terkecuali bagi yang tinggal di kota yang besar seperti Jakarta. Meskipun biaya idupny memang lebih mahal dibanding kota-kota lainnya, siapa sih yang menyurutkan keinginan memiliki rumah sendiri. 

Seperti yang pernah saya sebutkan i posting sebelumnya, yakin deh siapa sih yang mau jadi kontraktor terus menerus. Kalau sudah settle ya mendinga punya rumah. Dihitung0hitung kalau bayar kontrakan sekian tahun ternyata bisa setara dengan nyicil beli rumah sendiri. Lebih enak sih emang bayar tunai, biar ga merasa dikejar-kejar utang cicilan hehehe. Ini juga impian saya punya rumah sendiri yang udah lunas di muka.


Banyak lho cara untuk mencari rumah idaman. Selain cara konvensional alias offline dengan survei,  juga bisa dengan cara online alias daring. Kalau lihat foto dan info yang diampaikan sudah klik dan harga dalam jangkauan tinggal ngatur waktu buat ketemuan. Ya, ga?

Selain sebagai tempat tinggal, tidak sedikit juga menjadikan rumahnya sebagai lahan bisnis. Punya toko atau warung/kafe yang memanfaatkan lahan ddi rumah jadi bisa cara ngirit agar tidak usah lagi menyewa lapak atau ruko. Space terbatas alias rumah minimalis? Tenang aja, massih bisa disiasati dengan meningkatkan rumah jadi 2 atau 3 lantai. 


Bagi yang sedang mencari rumah, saya punya beberapa tips nih buat  memilih rumah dijual di Jakarta  [disclosure] seperti berikut ini.

Kondisi

Pastikan rumah yang akan kita beli memiliki kondisi yang basih baik dan kokoh. Meskipun banyak kemudahan saat mencari rumah via online, selalu yakinkan pilihan kita tidak salah dengan datang langsung ke lokasi utuk melihat kondisi rumah.

Desain

Jangan abaikaan juga soal desain rumah.  Punya danna pas-pasan tidak berarti soal model rumah dilewat begitu saja. Jatuh cinta pada pandangan pertama juga berlaku saat kita menentukan pilihan rumah. kalau sudah suka dengan desain rumah, bakal membuat kita betah tingal di dalamnya juga akan sepenuh hati untuk merawatnya. Ingat lho, rumah bukan cuma tempat tinggal tapi bisa jadi investasi masa depan. 

Harga

Iya lah. Pastinya  ini juga soal penting pake banget untuk diperhatikan.  Kondisi bangunan yang kokoh, ceklis. Desain apik dan ciamik ceklis juga. Eh tapi kalau uang ga cukup? Ya harus rela melupakan sang incaran dan menemukan pilihan lainnya. Tentunya menyesuaikan harga bukan berarti kita mengabaikan pertimbangan lain yang sudah saya sebut di atas tadi, lho.

Peralatan rumah. 

Nah ini pun penting untuk diperhatikan,  Menyesuaikan furnitur yang akan mengisi rumah harus disesuaikan baik dalam segi ukuran yang pas atau keserasian  desain dan fungsi yang kita butuhkan. kebutuhan peralatan antara satu rumah dengan rumah lainnya tidak akan sama persis.  Buatlah check list barang yang akan kita beli untuk mengisi rumah dengan mempertimbangkan kebutuhan yang utama dulu.
Share:

Tuesday 24 January 2017

Sajian Kuliner Imlek di Trans Luxury Hotel

Apa sih yang paling diingat dari  jelang perayaan tahun baru Imlek? Kalau saya paling gampang teringatkan dengan jeruk mandarin, kue keranjang, pertunjukan barongsai dan  emmm angpau. Hehehe... Ornamen hiasan mulai dari lampion sampai kostum  ala koko dan cici  dengan dominasi warna merah dan kuning akan sering kita jumpai di berbagai tempat umum seperti mall termasuk di hotel. 
Dan ngomongin soal perayaan tahun baru Imlek, untuk tahun baru ayam api kali ini, kawasan terpadu  Kawasan Terpadu Trans Studio Bandung pun akan turut memeriahkan kegembiraan dan sukacita. Bagi yang sudah lama sekali kangen menyaksikan atraksi khas Imlek dan momennya pas lagi di Bandung kenapa tidak datang saja ke Trans Studio Mall? 

Akan ada beberapa pertunjukan yang akan digelar seperti Liong Dance Show dan Parade Barongsai Lantai pukul pada tanggal 29 Januari 2017 pada pukul  12.00 WIB dan 15.30 WIB.

Keseruan perayaan Imlek di sini juga akan dimeriahkan dengan bagi-bagi angpau. Setiap transaksi dengan  menggunakan kartu TSM Ultima atau Kartu Kredit Bank Mega atau menggunakan kartu kredit dan kartu debit bank lain di mana pengunjung yang berbelanja akan mendapatkan angpau berupa  voucher belanja mulai dari nominal Rp. 200.000,00.


Pemenang lucky angpau berupa kesempatan menginap di Celebrity Suite dan Premier Room, voucher dinner di The 18 th Restaurant and Lounge, hingga voucher Dream Time Massage di The Spa. 

Berbicara tentang kawasan terpadu Trans Studio, jangan lewatkan juga dengan perayaan tahun baru Imlek yang juga bisa dinikmati dengan  bersantap malam di The Restaurant lantai 3  atau The 18 th Restaurant and Lounge pada hari jumat, 27 January 2017.  
Pada hari Jumat, 20 Januari 2017 kemarin, saya bersama teman-teman blogger dan media berkesempatan mendapatkan bocoran menu makan malam di The 18 th Restaurant and Lounge plus menyaksikan demo masak yang langsung disajikan oleh Chef senior Shifu Tang asal Hongkong. 

Dengan bahasa Indonesia yang terpatah-patah,  Chef yang ramah dan kalem ini bukan hanya bercerita bagaimana cara mengolah masakan yang disajikannya hari itu  tapi juga makna yang terkandung dalam sajian perayaan Imlek.

Pada hari itu Chef Shifu Tang menunjukan kehandalannya mengolah tiga menu masakan, salah satunya adaah menu Deep Friend Prawn with Salted Egg. Bahasa gampangnya sih Udang Goreng Telur Asin, biar ga ribet nyebutnya :). 

Beberapa bahan-bahan yang digunakan selain udang dan telur asin itu tadi  diantaranya adalah bawang putih, tepung ayam, mentega, telur, garam  dan gula. Untuk telur asinnya sendiri hanya kuning telurnya saja yang digunakan.  Jadi bagian putihnya disisihkan saja.  Tentu saja untuk menjaga keaslian citarasa yang dihasilkan, Chef Shifu Tang membuat sendiri telur asinnya. Lebih orisinal. 

Dan seperti inilah penampakan Deep Friend Prawn with Salted Egg olahan Chef Shifu ini.


Jangan lewatkan juga mie siomay ini (duh saya lupa namanya).  Kuahnya terasa gurih tapi tidak keasinan.  Enak banget buat menghangatkan perut ketika rinai hujan yang biasanya membarengi pergantian tahun baru.

Seperti halnya citarasa masakan daerah di Indonesia yang punya ciri khas (misalnya masakan sunda yang rasa asin,  olahan jawa yang manis, atau  kuliner minang yang kentara dengan santan), rasa mie ini juga sangat khas dengan rasa masakan ala Hongkong.  Begitu lho kata Putra Agung,  salah seorang food blogger yang hari itu juga datang ke acara ini. 

Yang tidak kalah menarik dari sajian dinner ala Imlek di  sini adalah saladnya. Yup, setelah banyak mejajal berbagai menu yang mengandung lemak dan kolesterol, jangan lupa netralkan dengan salad yang sehat ini dong. Yee Sang namanya. Dibalik manfaatnya yang menyehatkan, salad Yee Sang ini juga punya makna tersendiri dalam perayaan imlek ini. Menurut Shifu, Yee Sang adalah lambang dari harapan kemakmuran yang ingin dicapai.

Selain ikan salmon,  ada serutan halus lobak,  wortel,  timun,  bawang merah, kacang san pangsit plus kuahnya itu. Sekilas kalau memerhatikan penampakan sajiannya kayak tumpeng gitu,  ya.  

Selain yang sudah saya sebutkan di atas masih ada beberapa menu lainnya yang bisa kita nikmati ketika bersantap malam saat menghabiskan waktu menunggu tahun baru Imlek tiba. Sajian dengan tema 'Hong Kong Night with Shifu Tang' akan disajikan set menu dengan harga Rp 688.999net/dewasa.



Sementara itu The Restaurant yang terletak di lantai 3, akan menyajikan kuliner khas Tionghoa juga yang tidak kalah menariknya.  Sebut saja ada  Baked Chicken with Sesame Seed, Braises Fish Maw and Black Mushroom, Braised Hoisom, hingga Stirfried Sea Scallops with Broccoli and Pear. 


Untuk bersantap di resto lantai 3 disajikan ala buffet pada tanggal  27 Januari 2017, mulai pukul 18.00 – 22.00 WIB. Bagi dewasa akan dikenai charge Rp 539.888 nett, sedangkan untuk anak-anak di bawah usia 12 tahun cukup membayar Rp 269.999 nett.  Sambil makan juga pengunjung akan dihibur oleh hiburan tradisional. Selain Lion-lion, juga akan ada atraksi Wushu, Fortune Teller,  dan hiburan lainnya. 


Jangan lupa untuk memanfaatkan potongan harga spesial dengan menggunakan kartu kredit Bank Mega, paket menarik dari Ibis hotel yang akan memeriahkan perayaan  tahun baru Imlek. Ah ya hampir lupa,  seminggu kemudian, akan ada band legendaris yang akan menggelar konsernya di Trans Studio Bandung pada tanggal 4 Februari 2017 nanti. Aaah... ayo yang kangen sama Hedi Yunus dan teman-temannya, nih waktu yang pas :)

Selalu ada alasan untuk menghabiskan akhir pekan di Bandung,  dan kawasan terpadu Trans Studio Bandung adalah salah satunya. 
Share:

Monday 23 January 2017

Tips Rumah Dijual Dengan Harga Yang Tinggi

Tips Rumah Dijual Dengan Harga Yang Tinggi [Infomercial] - Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan memiliki salah satu hal ini dalam wish listnya. Atau mumpung masih Januari, permulaan tahun, nih. Ya boleh deh jadi salah satu resolusi juga, yaitu memiliki rumah. Ah, siapa sih yang ga kepengin punya rumah sendiri? Rasanya ga ada deh yang mau bertahan jadi kontraktor alias ngontrak *kasihan Hayati, jangan sampai soal rumah pun dibuat lelah*

Sementara itu di sisi lain, ketika orang lain sedang membutuhkan rumah, pasti ada dong sisi penawaran alias penjual rumah. Ya, kan? Ini mah teori tentang pasar yang simpel banget. Ada kebutuhan ada penawaran. Tapi ada uang ga selalu ada barang. Tergantung kesepakatan dulu lah. 

Sederhananya gini, saya punya rumah yang dijual dengan harga let's say 500 juta. Dulu waktu beli, saya harus merogoh kocek ummm... 400 juta. Ya, saya ga mau melepas harga ketika ditawar 300 juta misalnya. Paling jelek harga modal. Tapi kalau bisa dapat dari harga semula, kenapa enggak? Lagi pula pasaran properti memang kayak gitu, selalu meningkat.

Terus gimana caranya kalau ingin menjual rumah dan pas dilepas itu harganya tinggi? 

Saya punya tipsnya nih, terutama buat yang butuh tips rumah dijual di Bandung [disclosure] biar sesuai harapan. Ya, dengan pertumbuhan ekonomi dan suasana yang semakin nyaman dan bikin betah, rasanya banyak deh yang tertarik untuk tinggal di Bandung. Simak, yes.

credit: urbanindo

Perawatan rumah

Iya, dong. Semua orang juga tau. Tampilan rumah yang terawat, bersih dan indah akan meningkatkan daya tarik di mata calon pembeli. Sama lah kalau kita beli baju di mall. Kalau dekil, belel atau ada bagian yang sobek, ya bye! Begitu juga rumah. Siapa coba yang mau beli rumah yang tampak tidak terawat? Apalagi terkesan spooky. Hiiiy….

Desain Terkini

Bedakan lho dengan desain klasik yang artistik. Silahkan simak lagi tips pertama J Rumah yang tampak jadul akan menurunkan rate pasaran. Coba cari tau tren desain rumah yang lagi ngehits, atau bahasa lainnya lakukan survey pasar. Dengan mengenali selera calon pembeli akan mendekatkan kita satu langkah menemukan calon pembeli yang klik. Kalau udah naksir biasanya calon pembeli akan mempertimbangkan sedikit tambahan di atas anggaran.

Pertimbangkan lokasi

Yes, jangan abaikan ini. Rumah keren ceklis. Harga cocok, ceklis. Eh tapi akses kemana-mana susah. Calon pembeli juga bakal mikir lagi. Ongkos yang harus dikeluarkan jadi semakin besar, waktu tempuh juga semakin lama. Kecuali kalau buat beli vila gitu sih ya gapapa kali, ya. Tapi kalau rumah kan artinya tingkat mobilitas untuk pulang pergi lebih aktif, tiap hari malah buat yang kerja kantoran.

Perlengkapan yang lengkap dan bagus

Ga semua sih pejual rumah menyediakan yang satu ini. Tapi kalau pengin menyediakan furniture dan printilan lainnya sebagai nilai tambah untuk rumah yang akan dijual, pastikan kalau kualitasnya ga mengecewakan. Sesuaikan saja dengan harga rumah, dan kelas sosial calon pembeli. Jangan jomplang gitu, deh. 

Nah, sekarang udah ada bayangan kan, apa yang akan dilakukan ketika akan menjual rumah agar punya nilai jual yang tinggi?
Share:

Sunday 22 January 2017

Film Iqro: Membaca Quran dan Mempelajari Sains

Apakah seorang anak yang keasikan bermain gadget itu bikin resah orangtua?  Kebanyakan jawaban yang akan kita dapatkan adalah, ya. Tapi kalau seandainya keasikan yang dilakukan Aqila, tokoh utama dalam film Iqro ini paling sering ditemukan pada anak-anak mungkin tidak akan seresah yang kita jumpai sekarang ini.
credit: film-iqro.com

Berawal dari rivalitas teman sekelas

Aqila (diperankan oleh Aisha Nurra Datau) adalah seorang anak SD yang sangat up to date dengan perkembangan iptek terbaru. Dalam salah satu adegan, Aqila yang bercita-cita menjadi seorang astronot sempat berdebat dengan teman sekelasnya Reni tentang status Pluto yang sudah bukan merupakan planet dalam sistem tata surya. Rivalitas positif dengan Reni untuk saling membuktikan siapa yang penemuannya yang paling hebat mengantarkan Aqila untuk pergi berlibur ke Lembang. Di sana ada Opanya, Profesor Wibowo (Cok Simbara)  yang bekerja sebagai peneliti di observatorium Bosscha. Keinginan Aqila untuk berlibur sekaligus melakukan 'riset'  klop dengan rencana ibunya dan Oma (Neno Warisman) untuk memperbaiki  bacaan Quran Aqila yang pernah dikeluhkan oleh guru ngajinya di Jakarta.

Membaca ayat-ayat Nya

Apa hubungannya harus bisa mengaji dengan mempelajari ilmu pengetahuan alam? Kurang lebih seperti itu dialog Aqila dengan Opanya.  Aqila sudah menunjukan minatnya yang tinggi dengan  membaca ayat-ayat qauniyah (tanda-tanda atau wujud pemciptaan Allah yang bisa kita di sekeliling atau alam raya) namun  Aqila lupa untuk membaca ayat-ayat qauliyah (ayat-ayat Quran), dua hal yang seharusnya dpelajari bersamaan oleh umat muslim. Bahkan ketika dulu para ilmuwan masih memperdebatkan apakah bumi atau matahari sebagai pusat sistem tata surya, dalam Quran sudah tersirat petunjuk itu dalam surat Ali Imran ayat 190: 
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta penggantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berakal."
Opa kemudian bercerita kalau dulu  di jaman nabi ketika belum mengenal penghitung waktu seperti sekarang, umat Islam bisa melakukan salat tanpa melihat jam. Ketika teringat ayat pertama (QS: Al Alaq ayat 1-5) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk membaca,   akhinya syarat  untuk bisa mengaji agar bisa menggunakan teropong bintang di Bosscha  dipenuhi Aqila demi obesinya itu.  

Ketika Bosscha Terancam 

Sementara itu di sisi lain Profesor Wibowo dihadapkan pada masalah lain yang menyangkut masa depan observatorium Bosscha. Pembangunan sebuah hotel yang jaraknya sangat dekat (200 meter) dengan teropong bintang peninggalan Belanda itu akan membuat pengamatan langit dan benda-benda di angkasa akan terganggu karena adanya polusi cahaya. Keinginan Aqila untuk mengamati sendiri benda langit dari teropong Boscha terancam terwujud.

By the way jauh ke belakang sebelum Aqila lahir, polui cahaya yang menganggu pemandangan langit pun telah membuat sebuah rasi bintang tidak bisa disaksikan lagi sejak tahun 1995. Hmmm... ada yang tau rasi apa yang dimaksud?

Konten Edukasi Film

Banyak sekali konten edukasi yang saya dapatkan selama menonton film ini. Ketika guru ngajinya di Jakarta mengeluhkan Aqila yang terkesan asik sendiri dengan gadgetnya, kak Raudhah  (diperankan oleh Adhitya Putri) - guru mengaji Aqila di Lembang - malah berusaha masuk ke dunianya yang kedapatan ngoprek gadget ketika belajar mengaji. Aqila merasa terraih karenanya. Mungkin itu juga yang membuat gadis cantik itu punya energi yang banyak untuk membaca ayat-ayat Quran selama liburan semester yang dihabiskannya. Aqila berhasil 'ngebut' menamatkan level Iqro dari level 4 sampai khatam level 6, bahkan sampai mengikuti lomba mengaji.  

Ilustrasi polusi cahaya yang mengganggu pengamatan langit ini juga disajikan dengan menarik lewat sticker hologram milik Aqila. Sesungguhnya saya iri dengan anak-anak generasi Z ke sana. Mengulik pelajaran tidak seboring dulu yang kebanyakan terfokus pada text book saja. Lebih banyak akses dan cara belajar yang seru dan mengasikan.  Ah ya sudahlah, itu mah cuma curcol saja :)


Pada bagian lain, film ini membuat saya terharu dengan bacaan Quran Fauzi (Raihan Khan) yang sangat merdu. Sayangnya di film ini Fauzi ga terlihat usahanya untuk belajar mengaji segigih Aqila. Fauzi  anak dari Codet (Michael Lucock) seorang jawara - juga mantan residivis -  ini malah menghabiskan waktunya dengan berbagai kejailan dan ulah iseng di sela-sela tugasnya berjualan kerupuk Palembang milik keluarganya.  Tentang keikhlasan,  meluruskan niat, ketawakalan, jujur dan menyentuh hati dengan hati akan kita dapatkan di sini. 

Selain kehadiran bintang film seperti Neno Warisman, Cok Simbara dan Micahel Lucock, masih ada aktris senior Meriam Belina yang menguatkan Iqro  sebagai salah satu film keluarga recomended. Karakternya sebagai seorang nenek dan ibu (emaknya Codet)  yang cerewet cukup menyegarkan suasana. Suaranya yag keras kalau memanggil, kayak pake toa,  atau saat  ngobrol dengan campuran logat sunda dan batak yang khas.

Terlepas dari Belanda yang pernah  punya 'dosa' besar  menjajah Indonesia selama 3,5 abad. Tapi selalu ada sisi baik dari peinggalan masa lalu yang kita dapatkan. Nyaris hancur ketika Jepang menjatuhkan bom di sekitar kawasan Lembang. Sampai sekarang, gedung pengamatan bintang tertua di indonesia dengan arsitek Art Deco yang artistik itu jadi salah satu cagar budaya kebanggaan Indonesia terutama Bandung. Lalu saya juga jadi teringat kalau sampai sekarang  belum kesampaian main ke sana, menuntaskan keinginan tahu seperti apa penampakan benda langit bila dilihat dari teropong raksasa   (ih ke mana aja?).
dokumen pribadi
Katanya nih, baru film Iqro lho yang pertama kali mendapat izin  menggunakan teropong Bosscha untuk kepentingan syutingnya. Terlintas pikiran saya, seandainya saja  film Iqro ini mengeksplor lebih banyak hak istimewanya dalam visualisasi filmnya. Mungkin memang ini tanda kalau saya harus mengagendakan  waktu mengunjungi Observatorium Bosscha.  Ke sana yuk? Eh tapi jangan lupa untuk nonton filmnya  yang akan tayang serentak mulai 26 Januari 2017.
Credit: Raja Lubis

Share:

Friday 20 January 2017

Membedakan Antara Butuh dan Ingin

Sekeren apapun hp yang ada di tangan, pasti ada masanya dia tidak sanggup bertahan. Akan sampai pada waktunya dia bilang sayonara,  maafkan aku tak bisa menemanimu lagi.  Gitu kalau dia bisa ngomong *lebay*

Ada apa emang,  Fi?
Jadi gini... Beberapa waktu lalu hp yang biasa saya pakai performanya makin ngaco. Bermula dari tragedi jatuh di toilet umum di  area The Lodge Maribaya. 

Waktu itu layarnya retak,  dan meninggalkan jejak goresan pada kamera depan. Masih bagus tetep nyala,  walaupun ga bisa dipake selfie. Eh bisa sih, sebenarnya tapi kalau dipaksain akan menghasilkan foto yang spooky.  Nantinya akan terlihat siluet keputihan yang membingkai foto. Sementara wajah saya bakal kelihatan gelap.  Gimana ga serem, coba?

Karena jarang sekali selfie, kasus itu ga terlalu masalah buat saya.  Kalau pun iya harus selfie untuk keperluan tertentu ya pinjem aja, bentar hehehe

Di luar itu kinerja hpnya baik-baik saja. Jadi saya tahan aja rencana untuk memperbaiki layar hp.  Lumayan euy,  700 ribuan lebih, belum lagi katanya harus install ulang softwarenya.   Memperbaiki di counter hp langganan pun meski lebih murah membuat saya berpikir ulang.  "Ntar aja,  beli baru sekalian, " gitu saya mikirnya *ngirit mode on detected*

Tapi kemudian hp kesayangan saya itu mulai ringkih.  Sering bootloop.  Beberapa foto yang tertanam di memori internalnya tidak bisa diselamatkan.  Mau gimana lagi? Emang udah ga bisa diselamatkan.  Pasrah aja lah.

Beberapa kali tuh hpnya ngehang, tapi bisa saya reset ulang dengan cara factory reset alias setingan pabrik.  Lumayan lah.  Ngirit waktu buat ngibrit ke counter dan ngirit biaya pula hahaha *ngirit mode on detected lagi*

Namun ada kalanya hp yang bootloop itu ga bisa dibenerin sendiri.  Daripada bersusah hati, saya serahin sama ahlinya.  Melipir ke counter reparasi hp dan voilaaa...  sembuh lagi.

Tadi kan saya bilang kalau hp itu ada umurnya,  ya?  
Ya mungkin di antara kalian bakal ada yang mikir saya jorok lah sama hp sampai umurnya pendek gitu. Baru setaun lebih dikit umurnya kok lekas metong alias tiwas alias mati total.  Ya udah atuh  mau gimana lagi?  Ditangisi pun ga akan bikin hpnya nyala lagi.

FYI, saya itu tipe pengguna hp yang 'fanatik'.  Maksudnya gini,  kalau yang ditangan masih bisa dipakai dan berfungsi,  ga usah beli hp lagi. Nanti deh kalau emang bener-bener 'perlu' baru beli lagi.

Akhirnya emang kudu beli hp lagi. Ga bisa di-entar-entarin lagi.  Sehari saja whatsapp saya off pada nanyain kenapa hihihi... Ya abis gimana?  Keseharian saya emang berurusan sama media sosial. Harus ready to be reached (dihubungi maksudnya, bukan reached yang ditoel-toel -_-).

Sebelum beli gawai alias gadget alias hp (kayak penjahat aja banyak aliasnya)  gress, saya sempat  ngulik informasi.  Kalau ga cari tau secara daring (ngobrol di chat atau googling), ngobrol juga sama adik. Yang pernah kuliah di jurusan Ekonomi mungkin masih inget dengan bahasan kendala anggaran atau teori utilitas.  Hayooo ada yang masih inget ga?Iya yang pake kurva-kurva gitu :D. 

Sederhananya gini,  dengan anggaran di tangan kita pastinya ingin memaksimalkan kepuasan yang didapatkan saat membelanjakan barang.  Bisa mengombinasikan 1-2 atau lebih barang atau nyari satu barang saja dengan spesifikasi paling mumpuni. Yaaah pokoknya yang bisa menghasilkan tingkat kepuasan yang paling maximum.

Dalam posisi yang saya alami,  saya lagi butuh hp aja dulu.  Keinginan beli parfum baru,  sneaker atau pashmina anyar ditunda aja.  Ada skala prioritas gitu lah.  Lagian ketiga contoh printilan yang itu tadi statusnya aman terkendali *LOL*

Pertanyaan selanjutnya,   mau beli hp baru kayak gimana?  Sekarang lagi booming tuh hp baru yang sudah dijejali processor dengan RAM 3 giga.  Kan lumayan kalau bisa diajak multitasking. Dia ga akan lelah mengimbangi irama saya.  

Kamera?  Harus mumpuni lah.  Ga harus cetar badai juga sih. Minimal ga burek atau minimal sama kualitasnya dengan pendahulu yang udah pensiun itu. Kan kualitas hp ga sepenuhnya berbanding lurus dengan yang pakai.  Biar mihil tapi kalau ga bisa ngulik maksimalisasinya, ya percuma. Hahahaa... Kecuali udah expert banget, perlu waktu deh buat memaksimalkan fungsi dan operasional dari HP,  meski saya merasa untuk soal foto misalnya  kelas fotografi dengan ponselnya harus ditambah lagi.
Hmmm terus apa lagi?  Saya pengen yang punya memori internal yang lumayan, pelindung layar dari goresan atau sudah gorilla glass,  hands free yang sudah include (ga semua paket hp baru sudah dilengkapi yang satu inj), terus support otg (on the go, kayak flash disk gitu)  biar ga susah mindahin file.  Kebetulan punya otg yang belum dimanfaatkan, tuh.  Ini kalau dianalogikan kayak beli kanebo dulu sebelum beli mobil :D.  

Lalu saya juga pengen merk hp yang baru itu punya layanan purna jual yang ga ribet.  Garansi resmi dan service centre yang ada di Bandung. Jangan sampai bermasalah,  tapi kalau ada apa-apa kan ga bete nunggu dioper ke pusat di Jakarta.

Wiiih banyak banget ya,maunya? Tapi ya itu tadi dengan anggaran di tangan, semuanya terpemuhi ga?  Akhirnya  harus berdamai dengan kenyataan,  eh  anggaran. Beberapa spesifikasi dari daftar saya ikhlaskan  tidak terpenuhi. RAM yang 3 giga itu diturunin,  jadi tetap di 2 giga.  Spesifikasi memori yang tadinya saya harapkan bisa menampung data 32 giga saya relain tetap di 16 giga.  Kan ada slot micro sd dan support otg.  Kamera?  Pengennya yang 13 MP sih tapi pas nanya-nanya dan bandingin dengan beberapa merk di counter hp, saya dapat rekomendasi dengan hasil yang cukup memuaskan.  Apalagi dalam satu paket box gressnya itu udah dilengkapi casing silikon dan hands free.   Ini juga lumaya. Karena kalau beli yang original secara terpisah.  Mahal,  cuy!

And this is it...
Saya ketemu sama Oppo A37 yang pas juga dengan anggaran hehehe.  Kurang lebih  90% harapan  tercapai.  Meski  naksir adiknya (A39) yang selisih harganya lumayan.  Ya udahlah paling ga beda di kapasitas RAM dan kualifikasi kameranya dan dimensinya beda dikit, cuma selisih 0,2 inch aja. Di luar itu kalau pun ada perbedaan lainnya bukan perkara yang prinsip. Bungkussss...

Dan ini hasil foto  saya dengan kamera Oppo A37, meski ga sekece fotografer tapi saya cukup puas.
foto outdoor
foto indoor dengan penerangan  minimal
selfie dari ketinggian lantai 18 dari 'stage' kaca tembus pandang
sunset yang cantik memayungi kota Bandung
Dipikir-pikir, kalau punya anggaran lebih, nantinya saya bakal naikin keinginan   buat memiliki gawai yang speknya lebih tinggi. Let say kalau dari keluarga Oppo mungkin pengen Oppo F1S, atau kerabatnya dari gank Vivo. Punya lebih lagi mungkin saya pengen punya Iphone 7 dan seterusnya. Khas manusia banget yang keinginannya ga pernah ada habisnya.

Ya udah, kondisi setiap orang kan ga disamaratakan, ga bisa plek persis antara si A dan si B.  Pas lagi butuh  dan bisa terpenuhi ga pake ngutang apalagi minta juga saya udah bersyukur banget. Ga merasa pusing mikir utang kalau belinya nyicil atau kegelisahan lainnya.

Ini postingan saya yang geje dan jelas bukan endorse lah.  Cuma pengen berbagi aja salah satu contoh antara memenuhi kebutuhan atau memuaskan keinginan. Ternyata mensyukuri apa yang kita dapatkan itu kayak susah-susah gampang. Ngomongnya sih cetek, prakteknya belum tentu. Ya ga, sih?
Share:

Wednesday 18 January 2017

Nonton Film: Sendiri atau Rame-rame?

If you want to go fast, go alone. If you want to go far, go with others.
Familiar sama quote ini? Entah siapa yang pertama kali melontarkannya. Waktu baca kutipan quote ini di majalah  yang terbit bulan ini saya jadi kengetan mau cerita nih.


Jalau suka stalking akun medsos saya (ih geer, siapa elu), belakangan ini kalian akan merhatiin saya suka cerita lagi atau habis nonton ini, nonton itu. Kebanyakan rame-rame tapi beberapa diantaranya  nonton sendiri. Seperti film dr Strange, Headshot, Railroad Tiger dan terakhir film The Great Wall. Eh merhatiin, ga? Ternyata 3 dari 4 film yang saya tonton itu film barat/luar? So? Yaaaa ga ada apa-apa sih. * terus kenapa nanya?*

Beberapa film lainnya pernah saya tonton berdua bareng teman, adik atau sama teman. Seperti Sabtu Bersama Bapak, Rudi Habibie, Dear Love, Fantastic Beast Where to Find Them, Terjebak Nostalgia, Pasukan Garuda, Cek Toko Sebelah dan lainnya. Nah ini menariknya pas ga nonton sendiri malah banyakan film lokal yang saya tonton *sigh, dibahas lagi"
Credit Photo: Ummi Bindya
Saya jadi movie goers? Errr... Sebenarnya belum cocok dibilang gitu karena ga terlalu banyak. Tapi kalau rada banyakan dibanding sebelumnya ya iya. Selain memang saya bergabung dengan Forum Film Bandung Community, sebenarnya dari dulu saya suka kepengin nonton tapi tertunda atau tepatnya banyak yang ga jadi. 

Kenapa? Karena dulu  ngajakin teman tapi waktunya ga matching. Kalau bukan saya ya temennya yang diajakin itu berhalangan.  Ngajakin adik pun ga selalu matching, karena jamnya yang pas barengan available susah nemu. Atau pas diajakin dianya ga minat karena judul film yang saya sodorin bukan maunya dia.  

Jadi gimana?
Akhirnya saya putusin buat nonton sendiri.

Ga seru, garing.
Dulu saya mikirnya juga gitu. Tapi kaaan pas nonton itu meski bareng temen, begitu film tayang masing-masing asik menatapi layar lebar. Termehek-mehek, ngakak, terpesona atau manyun sambil mengerutkan jedat. Lho, kok gini? Kok gitu?

Meski saya tipikal manusia cerewet kalau udah ngobrol, kalau di sebelah saya terlalu berisik juga sebel sih huehehe...
Pernah ngasih isyarat dehem-dehem gitu ga ngaruh. Mungkin 'kursi sebelah' itu ngira saya lagi sakit tenggorokan. -_-

Ternyata nonton sendiri itu ga masalah. Beberapa kali nonton pun saya pernah merhatiin beberapa pengunjung datang sendiri buat nonton, ga sama ganknya. Duh kenapa ga dari dulu, ya cuek melipir sendiri ke bioskop? Cuma yaaa emang jadinya ga ada temen  buat bahas film begitu keluar dari studio. Sisi baiknya karena jalan sendiri jadi hemat pengeluaran makan. Nyahahaha... Justru makan sendiri kurang asik buat saya. Lebih rame barengan temen, ada aja yang bisa diobrolin termasuk kalau udah nonton film itu.

O ya, tips dari saya nih kalau mau nonton sendiri pilihlah seat di pinggir lorong. Bukan dipojok apalagi di tengah. Setidaknya itu bisa membantu kita selow alias santai. Ga enak banget kalau nyempil di tengah.  Biarlah kambing aja yang congek, kita ga usah ikut-ikutan ya. :P

Lagi pula kalau mau bahas film itu ga mesti melulu selesai film. Nyetatus di medsos, buat ulasan di blogpost atau chat di Whatsapp juga kan bisa. Seperti yang dibilang quote di atas tadi, kalau mau cepet ya udah pergi sendiri. Daripada nyesel filmnya keburu turun layar, coba? Banyak euy film yang ke-skip karena pas mau nonton udah ga tayang. Hunting dvdnya males. Nunggu  muncul di tv sih bisa, terutama film Indonesia yang lebih cepat wara-wiri di layar kaca.  Tapinya feelnya yang didapat akan berbeda, antara nonton di bioskop sama di tv. Bukan berarti saya sok kayah pengen ke bioskop nonton semua film. Selain faktor waktu, selera soal budget juga jadi pertimbangan :) Ya seleksi  aja.

Itu sih saya, ya. Kalian mungkin bakal beda pertimbangannya. Yang paling jelas, asiknya nonton sendiri ga repot mengkompromikan pilihan. Kan suka ada tuh pas mau nonton malah jadi lempar-lempar pilihan, ga enak sama temen enaknya nonton yang mana (ini sih kayaknya kalau perempuan yang nonton, suka kayak gini hahaha). Paling ga enak itu kalau ternyata filmnya ga sesuai ekspektasi. Kalau nontonnya alone nyesel sendiri. Ga merasa bersalh karena rekomendasinya  meleset.

But anyway selama judul filmnya bikin saya tertarik, nonton rame-rame pun hayu aja. 

Ada yang mau nambahin?
Share: