Playdate Dapur Hangus & KEB: 4 Tips Food Photography dengan Ponsel

Suka makan? Iya dong yakin deh. 
Meski suka makan dan 'suka makan'punya makna berbeda. Ngerti lah, ya. Kan ga mungkin  ga suka makan dalam arti kayak mogok makan terus mulutnya diplesterin atau dijahit gitu. Kayak aksi protes yang dulu suka saya baca beritanya di koran (kenapa jadi bahas ini?).


Suka foto? 
Kalau punya gadget yang namanya ponsel, entah itu sistem operasinya windows, android atau iOS mestinya punya hape yang ada kameranya. Meski tingkat  kekecean HPnya ga sama persis. Harga emang ga boong. Jadi ga fair kalau misalnya membandingkan kamera HP yang harganya sejutaan  vs hp harga 5 jutaan.Jauh bingits, Sis, Bro. Ga fair.  

Terus, kamera HP apa yang bagus?
Saya suka merasa minder kalau pas lagi review makan-makan lihat orang yang bawa kamera canggih kayak DSLR atau mirrorless. Sementara saya masih bermodalkan kamera dari HP. Maunya sih punya kamera mirrorless, kadang galau, mikir ulang pengen punya kamera DSLR aja. Ah galau dipiara sih. Makanya ga jadi-jadi punya kameranya hahaha... Eh tapi kalau kamera HP sih saya miara. Duh miara -_-. Ini kayak hewan piaraan aja hahahaha.

But lucky me. Katanya nggak ada itu kamera yang terbaik, 
Serius? 
Iya
Lalu?
Yaaa..., kalau ada juga itu adalah kamera yang kita miliki
 *kemudian elusin kamera hp sendiri*

Saya ga ngarang kok. Yang bilang gini adalah Arbain Rambey.

Who is he?
itu lho jurnalis sekaligus redaktur foto di koran Kompas. googling aja kalau pengen tau profil beliau, ya.

Saya diingatkan quote soal kamera terbaik ini waktu mengikuti Playdate Dapur Hangus barengan Kumpulan Emak-emak Blogger Bandung. Finally, kesampaian juga saya ikutan kelasnya Ika. Sebelumnya cuma ketemu bentar dan ga sempat nanya banyak soal fotografi. Makanya, setelah drama nyasar di kampus UPI yang luasnya pake banget dan agak telat (well 45 menit telat itu bukan agak deh, pardon me), mengatur nafas yang cape setelah jalan kaki, akhirnya saya duduk m anis bersama  7 peserta lainnya yang ikutan acara ini (Madame Vivera, Dydie, Sarrah Gita, Cucu, teh Yayu, teh Nancy and daughter)

Photo: Ika,  font editing; Icha
So the stoy goes...
Selama kurang lebih 4 jam acara, saya mendapatkan sedikit pencerahan soal fotografi pake HP itu.  Yang paling saya inget adalah  jangan menyalakan lampu flash kalau memoto makanan. Selebihnya, saka masih pake naluri semau gue, Entah itu bener atau salah. Belakangan saya  baru nyadar kalau moto makanan punya kecennderungan zoom in, alias terlalu deket (ke mana aja neng). Setelah ngulik hari itu, saya baru menikmati style 'menjaga jarak' yang ternyata bisa membuat tampilan foto malah lebih kece.

Jadi dari acara workshop hari itu ada  beberapa hal baru yang saya dapatkan. Ini dia.

Mastering the Lights

Selain big no soal lampu flash yang nyala, hal lain yang perlu diperhatikan adalah mengatur cahaya yang ideal untuk menghasilkan jepretan menarik. Jangan sampai ada pantulan cahaya dari balik punggung kita (haish). Maksudnya arahnya datang sejajar dari arah kita. Kalau pun mau, gunakan cahaya yang datang dari depan atau samping kita. Untuk memantulkan cahaya, kita bisa menggunakan cermin untuk membelokan cahayanya.  Sssttt... kalau ibu tirinya Snow White cuma perlu satu cermin yang membohonginya, kita perlu lebih dari satu cermin dengan berbagai variasi. Ukuran makanan, bidang foto atau properti lainnya yang digunakan memengaruhi cermin apa yang akan kita pakai. Jadi, kalau cuma pake cermin dari compact powder aja itu gak akan cukup atau ideal *_*.

Untuk membantu pengaturan cahaya adalah dengan menggunakan lampu belajar yang menggunakan lampu LED yang sudah diselubungi kertas kalkir untuk mengurangi tajamnya bias sinar yang dihasilkan. Nah ide ini saya baru mudeng. Selama ini saya cukup dibuat putus asa saat memerhatikan sudut-sudut di rumah yang sinarnya kurang ideal untuk memotret. Belakangan saya baru sadar kalau sinar cahaya yang ideal di rumah saya itu ada di kamar mandi di lantai dua rumah saya. Lah, masa bawa makanan ke kamar mandi buat difoto? Kan enggak mungkin :P Makanya saya perlu properti lampu belajar   plus kertas kalkirnya ini buat mengatur cahaya.
Kalau jerawat harus dihaluskan, tekstur roti mah jangan karena di situ letak seksinya
Masih ada reflektor dan difuser untuk membantu menyaring cahaya saat memotret.  Nah, sudah punya apa saja? Kalau pas lagi di luar kan rempong yeee bawa properti kayak gini. Berat lah  kalau harus membekal aneka properti saat ngereview resto.

Eits, jangan putus asa kalau ternyata tata cahaya di dalam resto enggak support. Pergi bareng temen, kan? Coba gantian untuk memanfaatkan lampu flash light temannya untuk membelokan cahaya. Pergi sendiri? Coba kalau ada waiter atau waitress yang lagi available eh nganggur saiapa tau bisa dimintain tolong. Asal jangan kelamaan aja sih :D

Note: Kalau foto selfie harusnya menyamarkan jerawat di muka, justru tekstur makanan seperti pori-pori roti harus kentara biar terlihat semakin menggoda. Slruuuppp....

Props Styling
Tips kedua adalah mengatur properti. Selain objek foto berupa makanan(let say kita akan memoto roti), maka kita bisa menambahkan properti lainnya untuk menambah daya tarik foto. Beberapa properti yang bisa kita manfaatkan sebagai pemanis foto antara lain adalah:
  • serbet
  • berbagai properti foto yang nge-tune dengan tema makanan 
  • botol, buku, senedok, mug dan properti lainnya yang bisa memperkuat tema foto
  • bahan dasar makanan dalam frame
foto flat ala-ala saya. gimana? Ada masukan?
Salah satu hal yang perlu kita ingat adalah jangan menambahkan bahan makanan (buah atau sayuran) yang ga ada sama sekali dalam komposisi makanan. Misalnya saja saat memoto bolu yang emang dari sononya ga pake strawberry atau cherry. Eh dengan polosnya kita 'maksa' nambahin buah ini di atasnya. Kalaupun ingin menambahkan cherry atau strawberry kita bisa menjadikan buah-buahan ini sebagai latar di belakang foto makanannya. Hmmm, udah kebayang kan?

Untuk foto makanan khas daerah, kita menggunakan piring atau gelas seng sebagai propertinya. Meski sebenarnya  dengan piring modern pun kita masih bisa menyajikan foto makanan tradisional yang tidak kalah menariknya.

Masih bingung menambahkan properti lainnya? Token, kacamata atau buku bisa juga jadi properti tambahan saat memoto. Atau kalau memoto makanan di resto, nomor meja pun bisa jadi properti 'gratis' yang bisa kita gunakan.

Food Styling

Sederhananya adalah tata letak objek makanan dan properti  yang digunakan saat memoto makanan. Kalau merasa masih kaku jangan sedih. Semua orang yang belajar memoto pun awalnya akan mengalami hal ini. Inget, kan, Practice  makes perfect? Jangan ragu juga untuk memotong makanan. ga usah semua makanan/properti juga masuk  dalam frame, agar objek foto lebih fokus. SAya masih harus banyak berlatih soal ini juga euy.
suka roti yang mana?

Semakin sering berlatih, semakin luwes dan semakin baik. Beberapa cara yang bisa kita gunakan misalnya seperti ini.

  • polesan minyak pada permukan daging
  • semprotan air pada es
  • merendam daun mint dalam air es atau memasak sayur setengah matang agar tetap terlihat segar dan menarik

Di sela-sela tanya jawab, saya sempat nanya sama Ika, gimana sih caranya memotret Lotek/karedok dan makanan sejenis lainnya yang tampilannya kurang menarik buat difoto. Rumeuk kalau urang Sunda bilang. Terus gimana dong?

Cara yang bisa kita lakukan adalah memisahkan bumbu/saus kacang dengan sayurannya. Jangan langsung diaduk. Kita bisa menempatkan saus kacang di pinggirnya. Ga usah banyak-banyak. Secukupnya aja. Tambahan potongan cabe di atas sayurannya juga membuat foto lotek jadi menarik, lho.

Editing

Ada kalanya foto yang akan kita unggah ternyata masih perlu diedit.Entah itu tingkat kecerahan, saturasi, kontras, white balance,  sampai pengimbuhan watermark. Untuk aplikasi yang satu ini sifatnya personal, setiap orang punya selera berbeda. Untuk membantu menghasilkan tampilan foto yang instagramable misalnya, kita juga bisa memanfaatkan fitur filter atau edit sebelum mengunggah.  Ada juga aplikasi Snapseed (ini yang suka saya pake) VSCOcam dan Phonto atau photto editor bila ingin menggunakan watermark. Saya sendiri lebih suka menggunakan Phonto kalau ingin menambahkan watermarks.  Soalnya banyak pilihan font yang lucu-lucu, baik yang standar bawaan aplikasi atau yang bisa kita unduh sendiri. Belakangan saya lagi males nambahin font buat watermark di foto yang saya unggah ke blog. Kalau ada yang pake buat foto saya di sini gimana dong? Ya udah, gpp deh, pengakuan kalau foto jepretan saya ini kece hihihi... *geer amet*

But anyway, hati-hati juga saat mengedit. Misalnya saat membuat kolase degan picsart, karena ukuran foto bisa dicompress oleh aplikasi ini jadi jauh lebih kecil. Coba cek lagi hasil editan fotonya sebelum diunggah, apakah kualitasnya tetap oke atau tidak.

dibalik foto menarik ada perjuangan mencari angle terbaik. in frame: Teh Nancy, Dydie dan Cucu

Last but not least, kebutuhan foto yang akan diunggah untuk medsos seperti instagram atau pinterest dengan foto yang akan diunggah untuk blog bisa beda lho. You feel it. Untuk contekan foto instargram, Ika memberi contoh @russianfoodieproject . Foto-fotonya doi emang cakep, bikn ngiler dengan tata cahaya yang apik. Sialnya caption yang dia gunakan menggunakan bahasa ibu bocah kenes Marsha. Bikin saya terharu karena ga ngerti dia ngomong apaan -_-.

Ну, что, готовы к четвертому этапу #печем_с_posudacenter? 😊 Представляем вам первую работу - американский вишневый пирог от Олеси @okuprin из нашего сборника "Выпечка" (по рецепту Маши @masha_nemova). 😍 Проголосовать за работу можно, поставив лайк под этим фото. 😊⬆️ А рецепт можно подсмотреть в сборнике "Выпечка" по активной ссылке у нас в профиле или в мобильном приложении Russian Foodie. 😊 Какими бы ни были ваши планы на предстоящие выходные, желаем, чтобы они были вкусными! 😉
A photo posted by Russian Foodie Magazine (@russianfoodieproject) on

Jadi kapan kita belajar lagi food photography?


Special thank to:
Ika Rahma (ig: @dapuhangus)
Eatbox (ig: @eatboxfood)
Denu Cokelat (ig: @denucokelat)
Rocky Bars (ig: @rockybars)
Kandura Studio (ig: @kandurastudio)

Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

22 komentar:

  1. Thx for sharing ya.. jadi merasa dapat ilmu padahal nggak ikut kelasnya.. hehe..

    Tp boleh dong kalau ada info kelas fotografi semacam ini, dishare jg.. sapa tau bisa ikut nambah ilmu kaya mom..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rajin aja mantengin info acara di grup mak. Semoga bisa menggelar event kayak ginijuga di Jakarta, ya.

      Hapus
  2. Habis miara nanti ternak hape juga teh *eeh *peace. Serius ngga ada kamera yang terbaik? *elusin hape juga. Itu foto yang paling awal pake kamera hape juga teh? Makasih buat sharingnya teh. Dan makasih juga udah ngasih tau soal snapseed. Aku jadi suka banget ngedit pake itu. Filternya bagus-bagus :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, semuanya pake kamera kok, Gilang. Asik, semoga tulisannya bermanfaat ya. Aku belum sepenuhnya mengeksplor snapseed.

      Mari elusin hp kita dengan penuh cinta hahaha

      Hapus
  3. Aku jg udh ga pernah lg pakai flash mba.. Baru sadar itu bikin foto makanan jd ga menarik :D. Kalo memang butuh cahaya, aku lbh milih temenku mengarahkan sinar senter aja drpd pake flash..

    Itu rotinya yg pink dr buah bit merahnya yaaa? Pengeeennnn :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga beli senter buat moto makanan. Tapi kayaknya butuh asisten buat pegangin haha. Rotinya belum sempat aku cicipin. Keburu kenyang :)

      Hapus
  4. Ayo ngumpul lagi, motret makanan bareng. XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuuu Dy. Kalau ada kelas Januari, kabari ya.

      Hapus
  5. Seru bgt ikutan workshop food photography kayak gini.. Jd tau trik2nya biar foto mkanan jd makin kece yaa mba.. Klo ada lg aku jd pingin ikutan.. hehe.. Langsung aku kepoin itu russianfoodie, huhuuu bagus2 bangeeet fotonya tp sama mbaa gak ngerti ngomong apa itu haha.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ga kerasa waktunya, tau-tau udahan. Dan aku berasa haus ilmu hehe. Duh emang si Russianfoodie itu bener-bener ya bikin kepo wkwkwk

      Hapus
  6. itu hasil foto bagus-bagus banget mak, btw aku suka sekali workshop fotografi beberapa kali ikut acara bang Arbain Rambe, pernah juga workshop dengan Dewandra Jelantik,seru sih memang belajar foto bikin nagih dan nggak pernah puas :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah asik euy pernah ikut kelas mereka. Ada ceritanya di blog kah, mak?

      Hapus
  7. Aaaaaa,makasih teh ilmunyaaa^^

    BalasHapus
  8. Asik banget ya bisa belajar bareng2 gitu, thanks dah sharing ilmu dari eventnya Mba :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asik banget, mbak. Kalau ada event kayak gini moga dirimu bisa ikut lagi

      Hapus
  9. Aku kalau sudah berurusan sama fotoin makanan kayaknya angkat tangat Teh. Nggak pernah berhasil sebel banget. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku pun suka merasa fail dan minder kalau diadu ((diadu))) sama jepretan foto blogger lain sih, Ka. Tapi suka gemes sama hasil foo.ro sendiri, pengen rada bagusan gitu hehe

      Hapus
  10. yang foto makanan di box itu kayaknya box nya kurang ke tengah dikiiit lagi. biar jelas, kalau kita mau nunjukin si box. bener g teh?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang flat flay itu ya, Nay? Iya nih kurang fokus. Thanks masukannya, ya.

      Hapus
  11. Waaah, dpt byk ide nih usai baca postingan teh efi yg ini, tfs teh ;-)

    BalasHapus
  12. Wehehe,, makasih kak sarannya :D bisa dicoba ini nanti :D

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.