Top Social

Bring world into Words

Tentang Perempuan dan Apresiasi Diri

Jumat, 02 Desember 2016
Akhir pekan kemarin saya menghadiri sebuah acara yang digelar di Bandung.  Para perempuan yang inspiratif dari seluruh Indonesia dengan berbagai latar hadir di acara ini. Saya terkesan dengan sekelumit perjalanan hidup yang sempat mereka ceritakan setelah menerima emmm.. apa ya? semacam piala gitu lah, simbol award yan layak mereka terima atas pencapaiannya.

Selesai acara ini semua undangan yang hadir dapat goodie bag tuh. Isinya  adalah  produk-produk sponsor, ada makanan, aksesoris, sampai perawatan rambut. Yang bikin saya tertarik dari isi goodie bag itu justru 2 edisi tabloid yang disisipkan. Udah lama juga ga baca  tabloid nih. Koran juga ding. Palingan baca  1-2 berita  dengan metode scanning (baca: selintas).  Beda kalau baca tabloid, saya suka pengen baca artikel sampai tuntas dan berlanjut ke artikel berikutnya.  

Di tabloid yang saya dapatkan malam itu ada fitur menarik tentang wanita dan apresiasi. Yeah this is so me. Saya lagi butuh baca itu dan lumayan bikin saya tertegun dan merenung. Gimana dengan saya, ya? Sudahkah? Berlebih? atau masih kurang?  Ternyata masih kurang... Mungkin itu juga yang bikin penyakit ga pedenya kadang-kadang kumat.

Penasaran? Kalem saya share di sini, ya.  Bukan curcol baper, ya chit chat gitu deh. Anggap aja kita (saya sama kamu) adalah penpal yang lagi ngobrol lewat tulisan. Nanti jangan lupa berkomentar juga, ya.

Jadi gini lho. 
Dari riset yang dilakukan terhadap 100 responden perempuan  pada akhir bulan oktober kemarin (30 tahun  ke atas dengan 1 anak) didapatkan hasil seperti ini: 69%  Perempuan Tak Pernah Apresiasi Prestasinya. 

Wow, persentase yang lumayan sekali. Kurang lebih 7 dari 10 perempuan gitu deh. Beberapa sub hasil diantaranya adalah; 1 dari 4  orang perempuan ga punya waktu buat dirinya sendiri alias me time, 6 dari 10 perempuan menempatkan kesehatan diri sendiri di bawah suami dan anak-anak-anak serta 2% saja (dari 100 responden itu) yang melakukan medical check up secara rutin (mencakup pap smear, mamografi, pemeriksaan darah dan olahraga teratur). Nah saya termasuk yang 98%nya nih. Eh sebentar, yang masih lajang kayak saya harus ga sih melakukan pap smear dan mamografi? :)  Pemeriksaan darah? Dalam waktu dekat iya,  pernah. Itu pun kepaksa karena disuruh dokter yang penasaran dengan alergi saya hehehe. Olahraga? Iya sih ini juga udah lama enggak. Rencananya pengen nge-yoga rutin gitu. Eh tapi ada aja alasannya skip lagi dan lagi *banyak execuse ya*

Kalau saya ceritain detail riset ini bakal banyak banget, dan bakal jadi kayak cerbung alias cerita bersambung. Lanjut aja terkait dengan apresiasi saya mau bahas sub bagian relasi atau peers (teman) aja.

Sebagai generasi X yang hidup di jaman serba digital saya termasuk yang melek medsos. Minimal yang mainstream kayak FB, twitter dan IG (males maen snapchat, ribet :D). Dan itu sesuai hasil survei juga. 99% responden perempuan  punya akun medsos. Dari 10 perempuan ternyata 8 orang diantaranya pernah melakukan humblebragging di medsos. Errr, secara tidak sadar  mungkin saya pernah melakukan ini juga. Ok skip aja ya yang ini mah, ya.

Masih terkait dengan pertemanan, 8 dari 10 wanita ternyata pernah:
  • Meminta pendapat ketika akan membeli sesuatu. Oke, Checked. 
  • Berpakaian bagus/menarik dan berdandan cantik ketika berkumpul bersama teman. Oke, checked juga. Sedikit cerita ya  kalau dandan kece baik  pakaian atau minimal bedak dan lipen gitu buat saya bukan buat tepe-tepe , tapi lebih buat merasa nyaman dengan diri sendiri dan pede aja.  Apalagi kalau datang ke acara yang pake dress code, meski ga jago dandan ya paling enggak berasa panglingan dikit. 
  • Menunjukan kemampuan diri sendiri seperti memasak atau menyulam. Nah kalau masak saya ga jago banget. Tapi kalau bikin nasgor ala-ala bisa lah. Dan kata bapak saya nasgor ala saya minus msg gitu enak lho. Lah kok malah jadi promosi?  Saya juga punya akun instagram khusus tentang origami, hobi baru saya. Boleh ya difollow @ulik_origami. Sekalian usaha nambah followers hahaha...
bela-belain dandan dengan dresscode acara :)
7 dari 10 wanita ternyata:
  • Menunjukkan sifat humoris/dewasa dan kestabilan emosi. Hmmm gimana ya? Kalian aja deh yang nilai.
  • Membeli tas, sepatu atau baju baru. Ini  masuk juga, meski ga freak amat.
  • Mempercanntik diri dengan melakukan perawatan di salon atu klinik.  Oke, ini checked. Udah setahun lebih saya menjalani ini meski sering diomelin dokter yang katanya saya masih aja suka cheating *duh maaf dok*  Terus saya keingetan juga belum smoothing rambut *perlu ya dibahas?*
  • Melakukan tindakan yang baik dan berguna untuk orang lain.Kalau yang ini saya yakin semua orang pernah, membantu menyebrangkan orang tua, mengambilkan barang orang lain yang jatuh (walau ga kenal) dan sebagainya. 
Bersikap baik ga harus melulu sama orang lain aja, lho. Terkait dengan apresiasi diri, kita juga perlu bersikap baik pada diri sendiri. Menurut Psikolog Tjandra, M.Psi  di artikelnya itu mengapresiasi diri adalah proses untuk menghargai dan bersyukur atas diri sendiri.  Termasuk di dalamnya bersyukur atas tubuh yang bisa berfungsi dengan baik, bakat yang dimiliki, kelebihan dan bahkan kekurangan yang ada  pada diri kita.  
Seseorang yang mengapresiasi dirinya akan menghargai tubuhnya dengan bentuk apapun dan ukuran yang sudah diberi Tuhan. Alih-alih memikirkan kekurangan yang ada, ia akan lebih fokus bersyukur dengan setiap pencapaian yang diraih. 
Saya jadi ingat ketika salah satu penerima penghargaan sosok perempuan yang menginspirasi itu ternyata sedang mengalami bell palsy (suatu keadaan otot wajah yang mengalami kelumpuhan/kelemahan pada satu sisi). Saya gak akan mudeng kalau beliau ga cerita malam itu lho. See? masih banyak hal penting yang dipikirkan daripada meratapi nasib.

Mengapresiasi diri juga bisa dilakukan dengan hal kecil. Ternyata nih masih menurut Psikolog M. Tjandra di artikel yang saya baca, membuat kue dengan tulisan "Untuk Ibu luar biasa yang pernah hidup di dunia"  itu juga merupakan bentuk apresiasi diri.

Jadi ga usah nunggu pengakuan dari orang lain. Bukan berarti narsis. Gimana kalau justru pengakuan dari orang lain itu ga datang dan bikin kita jadi merasa bersalah karena merasa belum maksimal?   Kalau saya kadang sambil ngaca  suka ngomong sama diri sendiri, "Hey saya ga jelek kok, manis juga" hahaha..,  *meski kalau senyum yang memesona kayak cover majalah gitu susah rasanya*

Lalu gimana harusnya kita menghargai diri sendiri?  Nih saya simpulkan dalam beberapa poin ya.

Mulai dari hal yang sederhana. 

Paling gampang ya itu tadi bersyukur bisa melakukan tugas keseharian kita.

Positif thinking

Jangan keras dengan diri sendiri. Bahkan ketika bisa memasak makanan  baru  walau resepnya dapet nyontek. Intinya berhenti mengritik diri sendiri

Berempati dengan kelemahan diri sendiri. 

Ayolah, nobody perfect. Kalau kita bisa memaklumi kelemahan orang lain kenapa harus  begitu keras dengan diri sendiri? Ini sebenarnya PR juga buat saya sih

Berikan diri sendiri hadiah. 

Ah ini juga termasuk cara mengapreasiasi diri. Misalnya ketika sebuah pekerjaan bisa dieksekusi sebelum deadline, boleh dong merayakannya. Ga usah mewah-mewah sampai berlibur. Me time ke salon buat hair spa, pedi meni, melupakan diet dengan ngopi cantik di  kafe atau belanja online boleh juga, tuh. Ada momen tertentu yang bisa kita manfaatkan. Siapa coba yang ga ngiler kalau dirayu dengan promo diskon seperti di akhir tahun kayak gini. 


Tapi.....
Jangan sampai apresiasi diri yang kita lakukan jadi lebay alias kelewat batas. Apa-apa juga yang berlebihan mah tetep ga baik.  Soal me time misalnya, ya lakukan pada saat yang tepat. Kan ga mungkin juga mau enjoy baca buku, namatin koleksi dvd yang belum khatam atau nge-mall ketika perkerjaan di rumah belum selesai, atau nih belanja yang kalap saampai bikin pos lain terambil jatahnya. Intinya apresiasi diri bukan merupakan wujud memanjakan diri secara berlebihan atau kelewat narsis. Hal-hal yang sifatnya materi sebenarnya cuma sebagian saja dari cara kita untuk mengapresiasi diri.  Tetep ya yang utama adalah dengan mengubah pola pikir kita dan jangan larut dalam perasaan bersalah atau menyalahkan diri sendiri. Bukan cuma kita aja yang butuh apreasiasi diri sendiri. Orang-orang lain di sekeliling kita (teman, suami dan keluarga) juga membutuhkan apresiasi dirinya sendiri. Setuju, kan?
7 komentar on "Tentang Perempuan dan Apresiasi Diri"
  1. Mantap.. Mantap.. Dari sekian banyak kata yang ada, sy hanya fokus di 3 kalimat ini:
    1. Eh sebentar, yang masih lajang kayak saya harus ga sih melakukan pap smear dan mamografi? :)
    2. Hey saya ga jelek kok, manis juga.
    3. Tapi kalau bikin nasgor ala-ala bisa lah. Dan kata bapak saya nasgor ala saya minus msg gitu enak lho. Lah kok malah jadi promosi?

    BalasHapus
  2. "Seseorang yang mengapresiasi dirinya akan menghargai tubuhnya dengan bentuk apapun dan ukuran yang sudah diberi Tuhan. Alih-alih memikirkan kekurangan yang ada, ia akan lebih fokus bersyukur dengan setiap pencapaian yang diraih."
    Bener banget ini quotes. Saya orangnya simple banget..nggak pintar dandan, apa adanya..fokus cuma what should I do next to reach my goal?

    BalasHapus
  3. Selain diri sendiri ya suami juga ya mbk? hehe

    BalasHapus
  4. Dunia perempuan sangat kompleks, baik tentang karya maupun kesehatan diri. Acara yang sangat menarik.

    BalasHapus
  5. setuju banget dan soal dandan itu bener banget haha

    BalasHapus
  6. Haiiish, bener nih memang kita perlu mengapresiasi diri. Berdamai dengan kelemahan, no body perfect. Berdamai juga dengan standard yg ketinggian, daripada mangkel terus...eh, kok jadi curhat. wkwkwk. Sukses terus ya Mbak Efi.

    BalasHapus
  7. kereeeen... bener semua tuh.. hahaha...

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.