Top Social

Bring world into Words

Public Speaking di Medsos (1): Tentang Selfie

Minggu, 28 Agustus 2016
Waktu dapat undangan acara ini, perasaan sedap-sedap ngeri langsung menjalari saya. Errr, public speaking?  Iya atau enggak, ya? Abisnya saya itu suka dilanda demam panggung. Speechless (halah) kalau harus ngobrol di depan orang banyak. Meski aslinya kalau lagi ngobrol saya bisa menjelma jadi seorang mahluk nan cerewet hehehe.

Kan beda ya, ngobrol biasa sama ngomong depan orang banyak. Tapi pas lihat nama-nama narsumnya, sayang juga buat dilewatkan.  Ada Bayu Oktara, pemeran Gusti di sitkom favorit saya OB, Hilbram Dunar yang sering saya tonton di acara Mario Teguh  Golden Way dan host acara TV Uly Herdinansyah yang sekarang menemani Pak Mario, menggantikan Hilbram di acara MTGW. Yasudahlah, saya bilang iyes. Mas Anang juga pasti setuju :D


There we go
Bertempat di Kantor Pusat Indosat KPPTI, Jalan  Medan Merdeka Barat No. 21 trio speaker ini langsung menyapa para audiens yang semuanya perempuan ini. Yup, karena Indosat mengangkat acara ini dengan tagar #WomanDigital.  Saya masih belum mudeng juga antara judul acara dengan tagar ini.

Baru kemudian ketika Bayu, Hilbram dan Uly bergantian menyampaikan paparan saya baru mudeng. Hmmm... Kunci dari kelanggengan berinteraksi adalah komunikasi.  Dapat ya, benang merahnya. Di dunia digital pun kita kan berkomunikasi, meski secara tertulis dan ada ilmunya juga agar kita tetap bisa memiliki hubungan yang baik dengan lingkaran pertemanan di dunia medsos.

Bagian pertama saya mau cerita tentang Selfie, sebagai salah satu bagian dari aktivitas kita di media sosial. Sementara tentang Branding dan  Update  di Media Sosial saya tulis di posting yang terpisah.  Soalnya panjang bingits kalau disatuin di sini.

Kenapa Kita Ber-Media Sosial?

Please, jangan bilang cuma buat kekinian aja. Jawaban yang enggak banget. Dengan bermedia sosial kita bisa  berkomunitas menemukan teman yang punya minat dan hobi yang sama, sampai membranding diri atau produk baik barang atau jasa. Coba deh, perhatikan. Di FB  punya grup berisikan orang-orang yang mempunyai minat yang sama, kan? Misalnya komunitas blogger, komunitas penggemar foto, komunitas kuliner, komunitas pecinta bola (itu mah saya). Dari update media sosial ini juga kita bisa saling bertukar informasi apa saja, mulai dari yang ringan, dekat dengan keseharian sampai yang serius.

Komunikasi dunia digital juga bukan terbatas media sosial saja, tapi juga sampai ke aplikasi chat. Kalau dulu kita cuma pakai BBM, sekarang sudah ada WA, Telegram, Line, sampai Snapchat.  Dengan aplikasi chat, baik japri atau lewat grup, kita berbagi file gambar, audio, atau teks. Sangat leluasa dibanding SMS yang cuma 140 karakter itu. Ngomong-ngomong soal LINE, setelah menghapus di HP, akhirnya saya menginstal lagi. Alasannya karena adik-adik saya pada ogah chat di BBM, Telegram atau WA. Baiklah, biar bisa keep in touch ketika salah satu atau salah banyak dari kami sedang di luar, saya nurut (((nurut))).

Nyebelinnya kalau di aplikasi chat, perlu perjuangan ekstra untuk melacak interaksi lama. Harus manjat biar nyambung kalau ngobrol. Selain itu harus rajin ngehapus chat lama. kalau ga mau HPnya ngehang. Dengan jumlah grup belasan di WA,  harus curiga kalau HP mulai lelet :D. Beberapa aplikasi kayak WA memberikan fitur menyimpan chat yang kita anggap penting.  Tinggal tap tombol pengaturan, lalu kirim email ke email sendiri untuk menyimpan chat penting. Sisipan foto yang di obrolan juga bisa kita simpan. Aman.

Oke, lanjut.

Tentang Foto dan Selfie

Oke, kita bahas profil kita di Media Sosial. Rata-rata pasti pernah dong mengunggah minimal sekali saja fotonya di media sosial. Kalau saya perhatikan, 90% teman saya di FB, Twitter, Path, Instagram dan medsos lainnya menjadikan fotonya sendiri sebagai profil di akunnya. Ada yang difotoin atau selfie. Kadang dari profil foto ini kita juga suka mengira-ngira karakter seseorang.

Dalam sesi ini, para peserta juga diajak untuk melakukan selfie dari berbagai angel, atas, bawah, kanan, kiri. Sesukanya deh. Kalau saya ngambil pose kayak gini.
Biasanya males banget ngambil foto dari bawah, eh tapi kalau kayak gini mah kece, ya? hehehe
credit foto: Aufa Hasbi
Rasanya ga seru kalau bahas medsos tanpa foto. Bahkan postingan blog atau laman bakal terasa hambar nan garing kalau hanya berisi tulisan saja. Kebanyakan dari kita lebih menyukai sesuatu secara visual daripada tulisan. Mungkin itu penyebabnya minat baca - terutama di Indonesia  - itu rendah.   Skip.  Foto yang tampilannya menarik dan 'bercerita' bisa memancing acungan jempol yang banyak. Entah itu difotoin,  selfie atau foto rame-rame alias wefie atau gruofie kayak fotonya Ellen Degeneres (mungkin dulu ortunya berdoa Ellen kelak jadi orang yang dermawan, Generous maksudnya hehehe).

sumber: usatoday.com

Tahu tidak? Fotonya Ellen ini pernah bikin jagad twiter sempat heboh, lho.  Foto  ini diretweet lebih dari 2 juta kali dengan menggunakan HP Samsungnya.  Mungkin faktor Ellen sebagai seorang yang femes yang membuat foto ini sampai segitunya direspon. Gara-gara foto ini timeline Twitter nyaris kolaps saking sibuknya. Kira-kira pesan apa yang kita dapatkan dari foto ini sampai orang-orang rela nge-retweet foto ini, ya?

Sebenarnya selfie pertama kali muncul bukan di awal tahun 2000an ketika fitur kamera dibenamkan ke HP dengan kualitas gambar  yang masih kecil, lho. Kalau ditarik ke belakang, sejarah mencatat selfie pertama kali dilakukan oleh  Robert Cornelius (1839)  tapi  ada juga yang bilang putri kaisar Rusia, Anastasia Nikolaevna yang pertama kali berselfie ria dengan kameranya. Mungkin nasib tragis yang menimpa keluarganya yang tewas dibantai membuat ceritanya lebih populer.
Sumber: huffingtonpost.com
Fotonya tampak spooky. hiiiy... Sumber foto: teenagefilm.com
Pernah denger ga mitos yang bilang ga boleh foto bertiga, karena salah satu bakal ada yang meninggal? Kalau saya sih ga percaya. Gini, lho. Kenyataannya, someday kan emang setiap yang bernyawa bakal mati, termasuk kita manusia, ya? Padahal Berfoto dengan formasi jumlah ganjil itu recomended. Alasannya gampang aja, karena  otak kita secara refleks akan memasangkan apa yang kita lihat. Nah, kalau berfoto dalam formasi jumlah yang ganjil, di mana salah satunya itu ga ada pasangannya, justru bakal menarik perhatian. Apalagi kalau posisi kita ada di tengah, bakal  jadi center of focus. Eh, eh... coba scroll lagi ke atas, di foto saya yang berlima itu kira-kira siapa yang jadi pusat perhatian? huehehe

Dari Mata Turun Ke Hati Dari Kata Jadi Jatuh Cinta

Sebuah foto bisa bercerita banyak hal. Namun, akan lebih asik lagi kalau diimbuhi caption atau quote di postingan foto yang kita update. Entah itu FB, Instagram, Twitter atau jejaring lainnya. Soal bikin yang satu ini juga saya masih belajar. Kudu mikir lama banget mau kasih caption apaan. Tapi setuju dong, ya kalau diksi yang menarik akan membuat sebuah foto semakin dicintai (((dicintai))).

Dari mata turun ke hati. Dari kata bisa membuat jatuh cinta, begitu katanya.  Kalau masih bingung memilih kata-kata, coba googling dan cari quote yang cocok untuk menggambarkan foto yang kita bagikan. Jangan lupa kalau minjem punya orang lain, kasih creditnya, dong. Udah kerasa kan, kalau mikirin quote yang kece itu ga gampang? 


Bocoran blogpost berikutnya
Aktif di media sosial juga bisa jadi sarana yang mudah dan ampuh untuk branding produk atau branding diri. FYI, 34% penduduk Indonesia sudah mengenal internet. 74 juta diantaranya memiliki akun media sosial, dengan 66 juta diantaranya mengakses internet dari HP. Sementara itu pertumbuhan user media sosial juga terus mengalami peningkatan, sebesar 10% per tahunnya. Pasar yang sangat potensial sekali kalau kita ingin memasarkan produk dan jasa. Coba lihat buzzer di twitter, instagram atau youtube. 

Jangan salah lho, dari media ini mereka bisa mendapatkan uang yang tidak sedikit. Masih ingat Aw Karin yang video tsurhatnya jadi viral itu? Videonya yang sudah ditonton oleh 2,5 juta itu menghasilkan 100 rupiah per klik. Nah, itung deh berapa yang didapatkan doi dari satu videonya. Belum video lain atau postingan fotonya di instagram. Iya, tau, goalnya Neng Karin ini bukan buat dicontoh. But let see, Dengan kreativitas yang mumpuni kita bisa menjadikan medsos ini sebagai sumber penghasilan. Dan kalau mau contoh buzzer yang punya attitude yang baik, kita masih punya Diana Rikasari, Alvin,   Dian Pelangi atau Gaida Tsuraya yang punya follower banyak tapi tetap berbagi konten yang inspiratif, kan? Nah tentang Branding dan seputaran update di medsos ini saya bahas di postingan berikutnya aja, ya. Jadi please, come back lagi ke sini biar ga penasaran hehe


29 komentar on "Public Speaking di Medsos (1): Tentang Selfie"
  1. Selfie dan sosial media udah kayak tak terpisahkan ya teh. :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Meskipun ga doyan, ya, Gung? Dan biasanya dibalik posting selfie, ada belasan atau puluhan pose selfie yang gagal.

      Hapus
  2. Saya sendiri jarang hapus dan clear message whatsapp. Karena itu kali ya jadi berat. Trus udah jarang selfie kalo gak diperlukan. Hahahaha *trus ditabok

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seriusan, Mas? Jarang clear chat?
      Kalau ditaboknya pake pocer gimana? Hehehe

      Hapus
  3. Mak Efi.. templates baru ya? *apa aku aja yng jarang mampir lagi. Eh eniwei, ada bukunya kan ini ya. Jadi pengen beli.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mak, template baru hehehe. Asik mampir lagi di sini.
      Kayaknya ga ada bukunya. Ini mah rangkuman materi acara yang aku ikutin. Jangan lupa mampir lagi buat baca bagian keduanya, ya.

      Hapus
  4. Balasan
    1. Iya, aneh, teh. Lebih enakeun pake selfie ya hehehe

      Hapus
  5. Kalau saya sih dulu sering banget foto selfie, tapi sekarang udah agak berkurang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga jarang kok, Mas hehehe.

      Hapus
  6. Saya sendiri cenderung lebih suka wefie, mbak, daripada selfie. Hehe. Tentang Awkarin, sebenarnya saya juga ada salutnya juga, sih, karena gak semua orang dengan brand yang sama dengannya, bisa seterkenal dia. Tapi, balik lagi, mungkin konten Awkarin sedikit terlalu dewasa (maaf).

    Btw, foto cewek yang greyscalenya serem, mbak -_- kuskip langsung ke tulisannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mak, aku juga lebih suka wefie. Selfieku banyak gagalnya hahaha.
      Iya fotonya Anastasia itu spooky,mak. Nuansanya gimana gitu, ya.

      Hapus
  7. Artikel nya kece banget, Jadi pengen selfies, hehehehe...

    BalasHapus
  8. Selfieku cuma utk photo profile, lomba atau job. Event juga nyaris nggak pernah, nunggu di tag aja. Udah. Nggak ada yg lain. :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku seringnya dihapus lagi kalau abis selfie, mbak. Ga pede :D

      Hapus
  9. gak gitu suka selfi sih secara wajah jadi tembem , enakan difotoin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emaaang hahaha aku kalau wefie gitu paling males kalau disuruh yang jepretin kamara. Mukaku kelihatan gede jadinya.

      Hapus
  10. Jarang selfie kalo aku siy, lebih sering minta difotoin aja. Bhahahaha... trus bedanya apah?? Makin nambah umur makin malu buat selfie gitu ;). *beuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bedanya yang satu moto sendiri, yang satu difotoin mbak, hehehe.

      Hapus
  11. menarik menarik...*kmudian selfie *

    BalasHapus
  12. Bagus teh tulisannya, ditunggu lanjutannya ya.. kalo Sandra sih jadi jarang aplod fto selfie, seringnya apload karya hehe kecuali selfie yang di bayar karena miris liat anak muda jaman sekarang kebanyakan selfie jadi kurang menikmati suatu momen kalau lagi wisata, pas ditanya gatau apa2 utg kita blogger jadi klo main, foto, nulis jd lbh mnfaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, suka ada yang gitu, San. Pas liputan acara kebanyakan foto selfienya terus konten acaranya malah ga dapet huehehe... Aku suka tuh sama art-nya Sandra. Lucu-lucu.

      Hapus
  13. selfie, wefie, gaya hidup yang sebenarnya sudah dikenal, cuma baru ngetop saat ini ya mbak . :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, efek medsos juga ya. Jaman kamera yang masih pake roll film itu belum ada temenku yang selfie gitu :D

      Hapus
  14. Ish ish template baru...keceee!!!
    Tapi itu profilenya kok masih bahasa lorem ipsum :D

    Btw, welfie yg dr bawah itu jadi pake tongsis atau gimana?
    Aku jg ga nemuin jawaban knp welfie si ellen jd di rt banyak org. Hm kenapa mak?

    BalasHapus
  15. Masih penasaran dengan tagar #WomenDigital. Apa karena perempuan (nggak semua sih) suka curhat di medsos?

    BalasHapus
  16. WA bisa buat berat HP? Sampe harus dihapus chatnya, ya? Saya mah gak pernah dihapusin tuh..? hihihi

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.