Top Social

Bring world into Words

Fenomena Totto Chan dan Raja Kecil

Senin, 22 Agustus 2016
Menjadikan anak  sebagai raja pada usia 0-7 tahun adalah salah satu dari fase mendidik anak seperti yang diperkenalkan oleh sahabat Nabi Muhammad saw. Pada saat anak-anak menginjak usia ini, otaknya sangat mudah merekam hal-hal yang pernah diamati atau dialaminya. Pengalaman yang didapatkan oleh mereka pada 7 tahun pertama ini akan bepengaruh pada pembentukan karakter mereka. Kalau mau membaca cerita lebih lengkap dan pengalaman personal, boleh deh baca blognya salah satu emak keren dari Bandung, Fauzia Subhan : Tiga Fase Mendidik Anak 

Waktu saya blogwalking ke blognya Zia ini, saya jadi teringat salah satu buku best seller yang ditulis oleh Tetsuko Kuroyanagi, omak keren asal Jepang, Tetsuko Kuroyanagi (83 tahun) yang terkenal dengan buku best sellernya, Totto-Chan, Gadis Cilik di Jendela. Familiar kan, ya?
http://www.catatan-efi.com/2016/08/fenomena-totto-chan-dan-raja-kecil.html
dokumen pribadi
Saya terkesan dengan 62 cerita-cerita pendek dalam buku setebal 279 halaman ini. Kalau dirata-ratakan, setiap bab diceritakan sektiar 4,5 halaman. Beberapa bagian ada yang kurang, ada yang lebih. Jadi seperti ini ceritanya.

Pindah Sekolah
Ceritanya Totto Chan terpaksa pindah sekolah karena gurunya tidak tahan dengan Totto Chan - nama kecil Tetsuko Kuroyanagi - karena dicap nakal. Padahal sebenarnya Totto Chan bukan nakal, Tapi ia seorang anak yang punya rasa penaran yang tinggi. Meski mungkin ulahnya memang tampak menyebalkan. Misalnya saja, Totto Chan senang membuka dan menutup mejanya ratusan kali lalu memasukan atau mengeluarkan buku dan alat tulis atau apa saja isi dibalik mejanya berulang-ulang, berdiri di atas meja lalu berteriak memanggil pemusik jalanan dari jendela kelasnya, melukis di atas kertas dan melewati pinggirannya dan dengan cueknya melanjutkan goresan krayonnya sampai ke meja belajar. Ga se-rese karakter Sinchan memang tapi gurunya Totto Chan sempat stres dan menyerahkan gadis kecil  itu pada ibunya.

By the way,  Semua tokoh yang ada di  buku Totto Chan - yang di tahun pertamanya laris sampai 4,5 juta copy di tahun terbit pertamanya - mulai dari ibu guru yang kesal, sekolah Totto Chan yang baru, Tomoe Gakuen, kepala sekolah yang baik dan pengertian Mr Sasuko Kabayashi dan teman-temannya Totto Chan juga tokoh nyata. They do exist!  Cerita di dalmnya juga enggak ngarang, bukan sesuatu yang utopis, alias too good to be true. Segitunya membekas, Tetsuko  bisa mengingat detil pengalamannya waktu kelas satu SD. Sesuatu yang memorable sekali pastinya.
Fenomena Totto Chan dan Raja Kecil
Oma Tetsuko diwawancarai Tom Cruise. Sumber: http://www.tomcruise.com/blog/2013/05/30/tom-cruise-interview-on-japanese-talk-show-tetsukos-room/
Totto Chan adalah anak yang beruntung. Sampai usianya menginjak 20 tahun, Mamanya tidak pernah menceritakan mengapa Totto Chan pindah sekolah. Label anak nakal   yang bisa meruntuhkan kepercayaan diri tidak pernah didapatkannya.

Soal label pada anak emang jangan sembarangan mengomeli mereka. Saya pernah nulis soal ini juga di sini

Ngomong-ngomong soal sekolahnya Totto Chan yang kedua, alias Tomo Gakuen ini tidak akan pernah kita temukan kalau coba googling fotonya. Ini karena sekolahnya dibom oleh Amerika. Yup, Tetsuko Kuroyanagi ini menghabiskan masa kecilnya pada masa-masa perang dunia kedua pecah. Riwayat sekolah Tomoe Gakeun ini sendiri usianya tidak lebih dari 10 tahun. Dibom oleh Amerika pada tahun 1945 setelah sebelumnya dibangun Mr Kobayashi tahun 1937. Pak kepsek yang baik dan ramah ini pernah belajar metode Euritmik dari Emile Jaques Dalcroze, seorang komponis berdarah Swiss. Ia membangun sekolah dengan uang sendiri. Konsep tempat belajarnya juga unik, karena tidak berupa gedung, tapi gerbong-gerbong kereta yang dimodifikasi sedemikian rupa untuk menampung murid setiap kelas yang jumlahnya sedikit.

Beberapa kebiasaan unik yang diterapkan oleh Mr Kobayashi di sekolah Tomoe Gakuen ini adalah seperti berikut.

Sesuatu dari Laut dan  Sesuatu dari Darat

Setiap murid diwajibkan untuk membawa bekal makan siangnya dengan bahan yang berasal dari laut dan dan darat. Sepintas syarat ini terasa berat tapi mamanya Totto Chan senang dengan peraturan ini karena lebih mudah menyiapkan bekal untuk gadis kecilnya.   Makanan dari darat bisa saja sayur yang dibumbui atau telur. Sementara makanan dari laut pun boleh hanya  berupa keripik ikan atau rumput laut. Kalaupun ada anak yang tidak lengkap membawa bekalnya sesuai dengan yang disyaratkan, tidak akan dimarahi atau kena hukum. Istri kepala sekolah akan menambahkan bahan yang tidak ada untuk anak-anak di sekolah. Kebayang kan ya, Miss Kobayashi ini harus masak setiap hari untuk memenuhi gizi 50an anak-anak di sekolah Tomoe?

Cara Belajar Yang Unik

Alih-alih memulai jam pelajaran dengan skema standar seperti jam pertama pelajaran ini, jam berikutnya pelajaran itu, di Tomoe Totto Chan dan teman-temannya bebas memilih belajar apa saja yang disukainya. Guru-gurunya akan sabar melayani pertanyaan anak-anak tentang hal yang dipelajarinya. Sistem jam belajar yang berlaku di sini juga membuat teman Totto Chan, Taiji Yamanouchi  menjadi seorang genius di bidang Fisika. Tai-Chan bekerja di sebuah laboratorium terbesar di dunia dengan 145 ahli fisika dan 1.400 staf teknis. Waktu masih sekolah di Tomoe, Tai-Chan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membuat berbagai percobaan dengan pembakar alkohol, tabung reaksi dan buku-buku 'sulit' tentang fisika dan sains.

Beda dengan Tai-Chan - teman Totto Chan yang lain -  Kunio Oe, tidak pernah meraih gelar pendidikan yang tinggi. Boro-boro kuliah, Oe tidak menamatkan SMPnya tapi  pengetahuannya yang tinggi tentang anggrek membuatnya jadi seornag ahli anggrek spesies timur jauh. Benih persilangan yang dibuatnya bisa dihargai sampai puluhan ribu dolar.  Gara-gara baca Totto Chan ini, saya jadi penasaran dengan Anggrek musim semi Cina yang katanya punya wangi paling juara dibanding parfum mana pun!

Tentang Euritmik

Tadi kan saya udah nyebut soal euritmik, ya? Jadi nih euritmik ini kata Mr Kobayashi adalah olahraga yang menghaluskan mekanisme tubuh, mengajari otak mengendalikan tubuh. Sebuah olahraga yang memungkinkan raga dan pikiran memahami irama. Dengan mempraktikkan euritmik membuat kepribadian anak bersifat euritmik. Karena kepribadian ini adalah kepribadian yang kuat, indah, selerasa dengan alam dan mematuhi hukum-hukumnya. Untuk mempelajarinya, murid-murid Tomoe  berjalan mengikuti irama piano dengan gaya sesuka hati dengan tempo yang sesuai dengan ketukan. Bisa lebih cepat atau lebih lambat, tergantung berapa ketukan yang dimainkan, asalkan selama bergerak itu mereka tidak saling bertabrakan dengan temannya yang lain. Kebebasan bergerak ini juga membuat mereka kreatif menciptakan gerakan yang bervariasi.

Kepala Sekolah yang Visioner

Anyway, Tomoe yang kalau digambarkan mirip simbol yin dan yang ini ternyata mempunyai arti tubuh dan pikiran yang berkembang secara bersama-sama dalam keselarasan yang sempurna. Pada waktu itu pula, Mr Kobayashi menerapkan kurikulum yang anti mainstream, berbeda dengan kurikulum sekolah lainnya pada waktu itu yang menurutnya membuat anak-anak jadi memiliki persepsi indrawi yang sempit terhadap alam dan menghilangkan kepekaan mereka terhadap suara Tuhan. Jadi maksudnya gini,  Sir Issac Newton pastinya bukan orang yang petama kali melihat apel yang jatuh kan? Tapimengapa dia yang menemukan teori gravitasi?  Quote Mr Kobayashi yang ngehits dan bisa kita temukan kalau googling adalah sebagai berikut:
Punya mata, tapi tidak melihat keindahan; punya telinga tapi tidak mendengar musik; punya pikiran tapi tidak memahami kebenaran; punya hati tapi tidak pernah tergerak  dan karena itu tidak pernah terbakar.

Ketika Totto Chan Berbohong

Rasa penasaran Totto Chan tidak pernah bisa dibendung.  Karena ga bisa diam, ia sering membuat bajunya sobek dan kotor. Satu waktu, Totto Chan berbohong karena takut mamanya marah. Totto Chan berbohong punggungnya dilempar pisau oleh anak-anak nakal.  padahal secara logika, kalau dilempar pisau bukan cuma pakaian yang rusak, tapi punggungnya juga bakalan luka serius.

Tapi mamanya memang cerdik, berhasil memancing Totto Chan untuk bercerita secara tidak  kenapa celana dalamnya ikutan sobek.  Akhirnya Toto Chan bercerita hobinya yang sering merangkak di bawah kawat (setelah sebelumnya menggali tanah dulu agar bisa menyusup di bawahnya).  Nah, waktu Toto Chan menyusup di bawah kawat ini, bukan cuma bajunya saja yang terkait kawat tapi celana dalamnya juga.  

Karena Totto Chan dan teman-temannya yang senang mengeksplorasi keinginan tahunya ini juga, Mr Kobayashi menyuruh murid-murid Tomoe mengenakan pakaian yang usang. Jadi ketika pulang sekolah pakaian mereka yang rusak atau cepat kotor jadi tidak mubazir. Kebayang aja kalau punya baju yang masih baru terus kotor atau sobek gitu. Ide yang brilian, ya?
http://www.catatan-efi.com/2016/08/fenomena-totto-chan-dan-raja-kecil.html
Totto Chan dewasa jadi duta Unicef. sumber: unicef.org.np

Learning by Doing

Selain  ulahnya yang bikin  guru di sekolah sebelumnya stres, rasa penasaran Totto Chan lainnya adalah pernah loncat  ke lubang berisi kotoran yang hanya ditutup kertas selembar, terperangkap dalam adonan semen yang membuatnya kaku berjam-jam sampai ditemukan mamanya, telinganya yang pernah terluka karena bercanda dengan Rocky, anjing gembala Jerman piaraannya, bersikeras memaksa untuk membeli anak ayam dengan bulu berwarna warni meski kemudian mati 5 hari kemudian, atau menyeret Yasuaki Chan, temannya yang menderita polio untuk memanjat pohon. Kenangan manis yang indah karena semester berikutnya Totto Chan dan teman-temannya bersedih  kehilangan Yasuaki Chan yang meninggal. 

Kepala Sekolah, Papa dan Mama yang sabar membiarkan Totto Chan mengeksplorasi hal-hal yang membuatnya penasaran menjadikannya seorang gadis yang bertumbuh dengan karakter yang kuat, meninggalkan kenangan yang kuat karena kisahnya yang ditulis 40 tahun kemudian masih diingatnya dengan baik. 

3 November: Hari Olahraga dan Reuni Sekolah

Mr Kobayashi berpikir keras dengan melakukan riset untuk menentukan 3 november sebagai perayaan olahraga di sekolah yang kemudian juga diperingati sebagai harinya untuk reunian Tetsuko dan teman-temannya dalam tahun-tahun mendatang. Pada hari yang cerah dan tidak turun hujan ini, bukan cuma murid-murid Tomoe yang merayakan olahraga. bahkan orang tua yang datang  menonton acara ini juga harus siap terlibat. Kalau dicari persamaannya dengan saat ini, semacam porak atau pekan olahraga antar kelas gitu. Kelihatannya cetek tapi ternyata tidak semudah kelihatannya. Uniknya, teman Totto Chan,  Takahashi yang memiliki tubuh pendek dan tidak bisa tumbuh tinggi lagi selalu memenangkan lomba setiap tahunnya.

Belajar Kepercayan Diri

Sejak usia bocah sekolah dasar, Totto Chan belajar menikmati jerih payah sendiri yang bisa dinikmati bersama keluarga. Kalau dalam lomba-lomba biasanya anak-anak akan mendapat hadiah berupa alat tulis, Pak Kepala Sekolah atau Mr Kobayashi akan memberi hadiah yang unik untuk para pemenangnya sperti kubis, lobak, umbi burdock, atau bawang bombay. Awalnya anak-anak ini merasa malu karena harus membawa hadiah-hadiah itu Tapi kerennya Pak Kepala Sekolah ini bilang kalau anak-anak bisa meminta mamanya untuk memasaknya untuk makan malam. 
Itu sayuran yang kaliah peroleh dengan usaha kalian sendiri. Kalian telah memberi makan untuk keluarga dengan jarih payah kalian sendiri. Hebat, kan? Aku yakin, rasanya pasti sedap!

Mr Kobayashi juga mengajarkan anak-anak di Tomoe untuk memiliki kepercayan diri berbicara di depan umum. Seorang anak yang super duper pemalu dan mengaku tidak punya sesuatu untuk diceritakan akhirnya berhasil menaklukan rasa mindernya. Tepuk tangan yang didapatinya setelah selesai bercerita akan jadis sesuatu yang tidak bisa dilupakan seumur hidupnya. 

Sebenarnya masih buanyaaak... yang pengen saya ceritain dari novel keren ini, tapi bakal lebih seru kalau baca sendiri novelnya lah ya, Hehehe... Semoga masih ada sekolah Tomoe lainnya (juga ada di Indonesia) yang bisa mencetak anak-anak hebat seperti Totto Chan, Tai Chan atau  Takahashi yang bisa melejitkan potensi yang dimiliki, terlepas dari keterbatasan yang dimilikinya. Mereka adalah contoh anak-anak yang di usia emasnya mendapat perlakuan sebagai raja seperti yang dianjurkan oleh Ali bin Thalib.


27 komentar on "Fenomena Totto Chan dan Raja Kecil"
  1. Teeeeeh, ini novel yg aku jadikan bahan skripsiiiii hahahaha, jadi inget sempet mabok baca Totto-chan (versi aslinya) krn dipelototin mulu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oyin baca Totto Chan versi bahsa Jepangnya? Huaaa kalau aku bakalan maybook dan jereng hahaha :) Ga bisa baca soalnya.

      Hapus
  2. Tentang pendidikan di Jepang, saya juga teringat novel 12 pasang mata, yang mungkin akan dikaitkan dengan novel laskar pelangi karena hampir mirip jalan ceritanya.

    Tapi 12 pasang mata merupakan karya klasik. Di dalam novel tersebut juga dikisahkan bagaimana cara orang tua mendidik anaknya, mana yang berhasil mana yang tidak. Ditentukan dari rumah dan sekolahnya.

    Dan cerita2 yang diangkat dari pengalaman nyata selalu menarik ya Teh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah aku baru tau soal novel ini, Peh. Cari tau ah. Pasti seru dan menarik. Iya, kalau novel yang diangkat dari kisah nyata rata-rata inspiring, nih.

      Hapus
  3. Totto-chan yang menginspirasi.
    Teh Efi kereeen sangaat....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang keren mah Oma Totto Channya, Teh :)

      Hapus
  4. Teh Efi,
    suka banget sama resensi bukunya.

    Bisa ambil point per-point gitu gimana teh sebelumnya?
    Dicatat dulu?

    Sukkaa sama tulisannya,
    suka sama (isi) bukunya,
    suka sama (yang) nulis...#eh

    hehhe....keren sekali teteh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau yang ini aku emang sengaja nulis per poin soalnya banyak banget yang mau diceritain hihi. Tapi ada juga yang ga dibikin poin. Tergantung gimana isi bukunya sih, Teh.

      Hapus
  5. Waaah, aku jadi pengen beli bukunya niiih!
    Kayaknya bisa dapet banyak ilmu parenting bermanfaat kalo baca buku ini mah yah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget, Ry. Itu Fathir juga kayaknya mirip-mirip Totto Chan yang kepoan gitu hehehe

      Hapus
  6. emang kadang susah ya mbak, membiarkan anak eksplorasi. ketakutan kl dia jatuh terus melukai diri sendiri. mending kalau sekedar pakaian kotor and so on. Suka resensinya dengan mengambil poin2 menarik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, menghadapi anak model Totto Chan ini rasanya melebihi nano-nano kayaknya, ya, mbak. Calon pemimpin atau orang sukses kayaknya masa kecilnya emang punya level penasaran yang tinggi. Thanks lho udah suka postingan ini :) Ayo, baca bukunya, mbak. Ga akan rugi.

      Hapus
  7. Aku baca buku ini tahun 2007, masih inget banget juga sama ceritanya. Kayaknya ibu muda wajib punya supaya seru mendidik anaknya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, recomended, ini. Semacam investasi biar makin banyak referensi mendidik anak. Yang belum punya anak juga kudu baca :)

      Hapus
  8. Pelajaran dari Toto Chan tak lekang oleh zaman ya tehh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Guru dan ortunya keren. Coba makin banyak Mr Kobayashi di jaman sekarang ya, Nay :)

      Hapus
  9. Saya suka sekali dengan buku ini. Saya bacakan buat anak-anak dan mereka suka. Banyak pelajaran yang bisa diambil disini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah keren, mak. Salam buat anak-anakmu sesama fans Totto Chan :)

      Hapus
  10. Wah, kebayang aktifnya Totto Chan itu ya... beruntung dia punya orang tua yang tidak pernah memberi dia label anak nakal. Karena masih banyak orang tua sekarang yang gak tahan dengan perilaku seperti itu, dan dengan mudah melabel anak dengan sebutan yang gak baik.
    Semoga banyak yang bisa seperti orang tua Totto Chan ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya teh, Aamiin. Bener, Totto Chan beruntung banget. Aku juga ga mau kasih label nakal sama anakku nanti. ^_^

      Hapus
  11. Ortu harus banyak belajar dari Ortu dan kepsek nya Toto Chan ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget teh, makanya buku ini cwtak ulang terus. Wajib punya, deh :)

      Hapus
  12. Wah, ini bacaan saya jaman SMP, tapi dulu masih nggak ngeh tentang parenting, hehe. Tulisannya bagus mak, blognya juga, as expected, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah keren euy udah baca dari SMP. Aku malah telat taunya hehe. Makasih udah maen ke sini Mbak Dina :)

      Hapus
  13. kalau ngga salah ada buku lanjutannya kan ya

    BalasHapus
  14. Akuuu maluu, belum pernah baca totto chan :(
    Dulu suka liat orang-orang baca buku itu, tapi knapa aku mah nggak baca y? *hahaha kudeeeet pisan*

    Baru tau ceritanya seseru ini, kemudian mau pinjem :D

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.