Top Social

Bring world into Words

Moral Story dari Film The Pursuit of Happyness

Rabu, 17 Februari 2016
Saya lagi pengen ngomongin film lagi. Film barat dan sayangnya  udah  jadul hehehe. Eh tapi jangan langsung cuss aja. Saya yakin film ini banyak yang sepakat  punya moral story yang keren. Lebih kerennya lagi bersih dari sisipan adegan  dewasa.  Keren, lah. Ga bikin risih atau siap-siap tombol FF buat skip  scene tertentu.
Jadi nih saya  pengen ngobrolin film The Pursuit of Happyness.  Kita sepakati dulu kalau tulisan saya ini  bukan review seperti film lainnya yang pernah saya tulis. Pertama karena udah jadul (rilis tahun 2006-2007) dan bakal banyak spoilnya  (boleh dong, ya hehehe). Yang kedua, saya bakal lebih ngebahas  pesan film itu. Ya,  sudut pandang saya yang simpel aja. sih. Ga terlalu berat.  Apalagi saya  belum pengalaman  jadi orangtua (((orangtua))).  Lebih banyak  yang berkompeten buat ngebahas soal ini. But anyway,  once more, ini sudut pandang saya yang sederhana. Mari  berdiskusi dengan santai, ya.
http://www.catatan-efi.com/2016/02/moral-story-dari-film-the-pursuit-of-happyness.html
credit: sonypictures.com
Kalau mengacu tata bahasa Inggris  yang baik dan benar, harusnya judul film ini  adalah The Pursuit of Happiness.  Iya, pake i bukan y.  Di awal film ini  juga Will Smith sempat complain sama pesuruh  di daycare  tempat Christopher  (diperankan oleh Jaden Smith, anak Will Smith sendiri) soal penulisan happyness. Harusnya pake i (happiness) bukan y (happyness).  Ah sudahlah,  tulisan saya ga akan bahas soal itu. Sama seperti juga tokoh utama film ini. Alih-alih ribut mempermasalahkan cara penulisan yang ngaco, dia malah sibuk sendiri mewujudkan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Jadi  gini ceritanya.
Chris Gardner  begitu nama ayah yang diperankan Will Smith. Aktor  yang serba bisa  - meski  ga tau juga kalau disuruh nyuci, masak,  berkebun dsb bisa ga selain pencitraan di film? hehehe, ngaco ah -  ini adalah sosok seorang ayah yang berusaha sekuat tenaga menciptakan kebahagiaan untuk keluarganya. Untuk istrinya, Linda dan anak semata wayangnya Christopher. Sayangnya Linda tidak cukup  kuat bertahan dengan himpitan ekonomi  yang terasa sulit.

Christopher, bocah berambut curly dan polos  ini  tidak  mengerti  kenapa  kedua orangtuanya berpisah. Duh, sedih deh, waktu lihat salah satu scene ketika Christ bertanya, apakah ibunya meninggalkan mereka  karena dia (Christopher)?  Jawaban yang  bikin saya mencelos ketika  Chris  menjawab kalau  Linda pergi bukan karena  dia.  Tidak ada hubungannya sama sekali kepergian Linda dengan anak semata sewayangnya. 

Film drama  yang diangkat dari pengalaman sejati alias true story ini  dalam beberapa adegan cukup membuat penonton menahan nafas. Memang  enggak ada adegan  bak buk  alias  berantem, tembak-tembakan   seperti film laga atau efek visual canggih ketika Will Smith main di film Enemy of  the State misalnya. Tapi adegan Chris yang berlari mengejar gadis Hippies  yang membawa kabur scanner  tulang (bone  density scanner),  tunawisma  yang kurang waras - yang terus ngoceh scannernya itu mesin waktu - dan mengambilnya di stasiun kereta ketika tangan Chris terjepit pintu kereta harus terlepas,  atau  emosinya Chris ketika  harus berebut antrian di  rumah singgah untuk tunawisma. O,ya,  Chris sudah ga bisa membayar  sewa  bulanannya hingga harus bertahan mencari tempat untuk numpang tidur.

Adegan lainnya yang bikin sedih juga ketika Christoper  nangis mainannya jatuh saat kedua ayah dan anak itu berlari mengejar  bus,    waktu keduanya terpaksa tidur di toilet umum  beralaskan lembaran tissue  dan Chris  yang beneran bokek tetap  berusaha  memastikan  Christopher tetap bisa makan. Bocah dengan senyum yang bikin melting itu makan seadanya. Sedangkan Chris cuma diam memerhatikan dan di meja seberangnya ia mellihat  meja lain yang diisi keluarga sedang makan enak sambil bercengkerama.
http://www.catatan-efi.com/2016/02/moral-story-dari-film-the-pursuit-of-happyness.html
tetap  happy  meski  hidup terasa sulit. Credit: popmatters.com
Meski hidup  terasa semakin susah,  ia tidak pernah membiarkan  Christopher ikutan merana.  Selain tetap makan,   ia  tetap  mengantar jemput  puteranya untuk sekolah dan mengajaknya bermain bersama. Cool dad!

Dialog lain antara bapak dan anak yang saya suka ketika keduanya  membahas  siapa raja hutan atau kenapa  salah  soal penulisan happyness itu, dan jawaban bijak Chris soal  kata f**k.  

"Itu kata-kata yang digunakan orang dewasa untuk mengungkapkan kemarahannya atau hal-hal lainnya.  Itu itu bukan kata-kata orang dewasa. Cara pengejaannnya  betul tapi jangan pernah mengatakannya."
atau yang ini.

"Hei, jangan pernah biarkan orang lain   tidak bisa melakukan sesuatu.  Termasuk aku.Oke?"
Tapi  paling suka sih, waktu dia bilang gini.

"Kamu punya mimpi... Kamu harus menjaganya. Orang  yang tidak bisa melakukannya akan bilang kamu tidak bisa melakukannya.  Kalau kamu ingin sesuatu,  berusahalah untuk mendapatkannya. Titik."

Kadang dibuat bingung juga sih, gimana Chris  masih bisa pergi membayar  ongkos bus dan kereta? Atau makan untuk Christopher di kafe, bisa nyetrika pakaiannya tetep  rapi jali (sementara  dia kan udah ga punya rumah, itu numpang nyetrika di mana, ya? Kayak waktu tidur di toilet stasiun itu), atau ketika sepatunya hilang, di lain waktu ia bisa  punya sepatu baru padahal scannernya  belum laku terjual.

Iya, sih, sesekali waktu dia berhasil menjual  scanner  tulang yang mahal itu.  Tapi sepertinya bayaran yang didapat sebesar 250 dolar  itu cepat sekali menguapnya. Eh tapi moral storynya  dari bagian ini adalah dia juga berusaha tetap tampil  profesional.  Tidak berusaha menunjukkan dia  harus dikasihani, bahkan ketika ngantor  pun dia  menjawab dengan santai kenapa  terus menenteng kopernya ke mana-mana.

Di lain waktu ia juga sempat merasa tidak enak hati ketika harus  nalangin  ongkos taksi bosnya  yang ketinggalan dompet. Buat seorang yang lagi beneran bokek, 5 dolar itu berarti banget.

Lagi pula San Fransisco itu kan salah satu kota besar dunia yang keras dan biaya hidup di sana tidak murah. Emang ada fasilitas dari pemerintah kota buat para tunawisma  buat numpang tidur barang beberapa malam, tapi tempat yang tersedia tidak pernah bisa menampung semuanya mereka yang ngantri.

Pernah dengar  istilah "The Power  of Kepepet?"  Dalam keadaan terjepit seperti  ini,  kadang seseorang bakal berusaha total  mengeluarkan potensinya sebisa mungkin. Chris berhasil membuktikannya. Dia berhasil merebut  kembali  dari gadis hippies yang membawa scanner tulang  yang sempat dititipkannya saat  akan wawancara magang di perusahaan pialang saham Dean Witter.  Mendapatkan kembali scanner  dari tunawisma yang ngoceh soal mesin waktu itu, memperbaikinya dan berhasil clossing  alias menjual pada seorang dokter  atau adegan lari-larian Chris  yang berusaha menembus  kemacetan  jalan untuk menjumpai  kliennya, meskipun  akhirnya  keburu pergi.  Karena film ini mengambil seting taun 1981, Chris  pastinya ga bisa nelpon  calon kliennya itu untuk bilang dia bakal datang telat.  

Beberapa adegan membuat saya menahan nafas atau kadang pengen  nangis  ketika Chris  hampir-hampir menyerah. Tapi Tuhan Maha Baik. Pernah dengar kan, kalau  Tuhan tidak akan mengubah nasib kalau  kita tidak pernah berusaha berusaha?  Ending film ini jadi jawaban yang manis dari semua kegigihan  Chris Gardner.  

Dalam kisah sejatinya,  Chris Gardner berhasil menjadi pialang saham  yang sukses dan mendirikan perusahaannya sendiri. Kalau di awal film dia merasa envy kenapa  kerumunan orang-orang yang ditemuinya bsa terlihat  bahagia,  maka di akhir  cerita  dia bisa merasakan hal yang sama ketika  tim direksi perusahaan mengapresiasi  kerja kerasnya dan mengangkatnya jadi karyawan.

Kadang perlu kesabaran  yang luas untuk menunggu pintu langit terbuka menjawab barisan doa dan usaha kita.  Chris Gardner dalam film ini membuktikannya. 
34 komentar on "Moral Story dari Film The Pursuit of Happyness"
  1. Iyaa, aku juga nangis kejer nonton sepanjang film, Kak. T.T Etapi, anyway, di kisah sebenarnya bukan istrinya yang ninggalin Chris Gardner.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku baru tau soal itu Helda. Udah booking temen yang punya bukunya buat dipinjem. Jadi makin penasaran pengen baca bukunya.

      Hapus
  2. Paling nangis saat tidur di toilet umum. Saat Chris nutup telinga christoper. Sungguh ikutan sesak napas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa, itu adegan yang paling mengiris hati. Apalagi pas ada yang gedorin pintu.

      Hapus
  3. Mbak, ada versi bukunya dengan judul sama The Pursuit of Happynes. Sebuah kisah inspirasi yang hebat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Ini juga lagibl nunggu ketemuan temen buat pinjem bukunya. Sangat inspiring, ya.

      Hapus
  4. Filmnya Will Smith banyak yang aman dari adegan dewasa. Yang fear itu juga bebas adegan dewasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mbak Ika. Attitudenya dia di luar film juga bagus, ya. Ga kontroversial.

      Hapus
  5. iya sm kayak mbak phalupi, mbrebes mili waktu lihat adegan itu, ini film bnr2 mengguncang jiwa mbak, cakeeeppp,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tosss juga, mbak. Kalau santai pengen ngulang lagi nonton film ini.

      Hapus
  6. aahh jd pgn nonton filmnya deh :D.. aku suka nih film2 yg based on kisah nyata gini, aplagi yg main will smith ^o^... walo dia kurang ganteng kyknya di film ini ya ;D Beda ama film2 actionnya dia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh makin sini Will Smith tambah ganteng, kok. Mungkin di film itu karena perannya sebagai orang yang lagi susah jadi dandaannnya dikondisikan gitu.

      Hapus
  7. belum nonton, thanks reviewnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus nonton, Mbak. Saya jamin akan nyesel karena baru nonton sekarang.

      Hapus
  8. duh selalu lupa mengajak suami nonton ini, padahal ini bisa menginspirasinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, mumpung inget coba sekarang sempatkan nonton ya, mbak.

      Hapus
  9. membaca ini tapi tetap ingin mewek kalo diingat kembali filmnya

    BalasHapus
  10. ini film memang menjadi favorit saya mbak..

    film yang perlu ditonton oleh semua kalangan dan alurnya itu membuat saya tidak bisa melewatkan satu scene pun..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, wajib ditonton semua orang dan emang sayang banget melewatkan setiap adegannya.

      Hapus
  11. Ini salah satu film yang masuk list "obat" saya. Kalau sedang down atau butuh suntikan semangat ada beberapa film dan buku yang saya baca dan lihat berulang-ulang hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semacam tombo ati dan mood booster ya,mbak.

      Hapus
  12. kayaknya mereka ada kupon yang memungkinkan dia bisa bertahan.
    temenku pernah cerita ada kenalannya di Belanda, gak kerja, dpt tunjangan dri pemerintah. irit abis, tp ya dicukupin bisa. Mgkn krg lbh sama kali ya?
    intinya dia pantang menyerah dan mudah2an bisa ditiru semangatnyaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. O, iya. Saya baru inget kalau di AS ada kebijakan semacam tunjangan buat jobless gitu ya, mbak. #cmiiw
      Ya meski dikasih gitu gak akan cukup diandelin. Semangat pantang nyerahnya emang harus jadi panutan.

      Hapus
  13. Film yang bikin saya nangis, film ini bagus banget Mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mbak. Bagus banget dan wajar kalau semua yang nonton dibikin nangis.

      Hapus
  14. Udah nonton berkali kali dan tetep terharu sama perjuangan Chris, apalagi saat dia nalangi ongkos taksi bosnya meski akhirnya diganti.. keren film ini!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kebayang ya galaunya. Mau nagih pun malu tapi butuh. Tapi bosnya juga keren, ga nyepelein utang.

      Hapus
  15. Aduh saya belum nonton ini *kudet banget*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo gitu nonton sekarang aja, Mak. Biar ga penasaran :)

      Hapus
  16. Aku tiga kali nonton ini teh, nangis...apalagi backgroundnya sama di bidang farmasi, kalau si Crish alat kedokteran, aku jualan obat... sewaktu ngantri untuk tidur di penginapan duuh sedihnya luar biasa...sampai akhirnya jadi pialang saham...kesuksesan yang luar biasa diraih dengan air mata, keringat dan darah ya, teh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Astin. Pas berantem rebutan jatah terakhir dapat penginapan gratis itu juga bikin mencelos.

      Hapus
  17. sama sekali belum nonton, makasi yaa udah ada reviewnya sikit

    BalasHapus
  18. one of the best movie i've ever watched lah :)

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.