Top Social

Bring world into Words

Anti Aging: Kita Semua Adalah Korban Iklan

Jumat, 10 Juli 2015
Tiba-tiba saja  kaki dan tangan saya  terasa  gatal. Padahal baru saja mandi. Digigit  nyamuk? Bukan.   Udara  pagi ini juga enggak dingin-dingin amat.  Hmmm,  alarm di otak saya langsung  menyala. Saya alergi. Salah makan, nih!
Bukan alergi seafood yang katanya  banyak  dituding jadi pemicu  alergi.   Iya sih, memang  seafood semacam  udang  bisa  bikin tubuh  kita jadi alergi. Ada banyak jenis  makanan  yang  bikin kita  jadi alergi dan ternyata alergi  itu berhubungan dengan antiaging.
 
http://www.catatan-efi.com/2015/07/antiaging-kita-semua-adalah-korban-iklan.html
credit: healthguru.com
Kita adalah korban iklan 
What? Antiaging? Bukannya  antiaging  itu kayak  iklan di tv-tv  itu, ya? Flek  hitam,  kerutan di sudut  mata atau  kantung  mata dan tanda-tanda lainnya?
Ah ternyata  kita  sudah jadi korban iklan kalau mengindentikan soal antiaging dengan tanda-tanda  itu. Iya sih,  itu salah satunya, dari sisi estetisnya. Tapi   ada yang lebih penting yang harus kita perhatikan soal antiaging ini, yaitu   perawatan tubuh dari dalam. Mulai dari pola makan sampai gaya  hidup.
Padahal   terapan antiaging ini  dihitung sejak  usia  0 tahun, lho.  Sederhananya, antiaging itu adalah hidup yang mencapai kesehatan  di atas  standar. Mencegah kebiasaan hidup dan lingkungan yang bisa merusak  kesehatan. 
Dengan  antiaging ini  kita  bisa punya tubuh sehat, bebas dari penyakit degenaratif semacam  gula darah, jantung, kolestrol dan sebagainya.  Bisa  kok  punya  tubuh  80 tahun tapi tetap  bugar  dan sehat  seperti usia 30an.  Eh tapi yang usia  30an aja  udah banyak yang bermasalah. Kayak saya. Duh, ampun, deh.    
Sebelumnya saya pernah  cerita soal  antiaging pada  2 posting  lainnya   beberapa waktu lalu, saya berkesempatan  untuk ketemu langsung dengan dr David, ownernya  DF Clinic. Jadi saya lebih puas  nanya  dengan dokter  yang memang interestnya  soal antiaging  ini.

Antiaging  Dikarenakan  Adiksi 
Waktu  bertemu dengan dr Sherley saya disarankan  buat berhenti  makan  yang pedes-pedes. Saya mencoba nurut dan lumayan, banyak jerawat yang kempis.  Meski begitu,  ternyata  saya masih punya masalah alergi  lainnya. Kalau mau lebih akurat  sih mending ngambil  tes alergi aja. Sebelumnya saya sempat bingung soal budgetnya hihihi... iya 3 juta,  gitu, lho. Tapi ternyata  saya   bisa mencoba Bio-E. Soal budget, cincailah.  Jauh lebih murah dengan kisaran harga sekitar 150 – 200 ribu. Hmm, worthed, kok dan yang menyelenggarakan tes  ini dokter  juga.
Bio E test adalah alternatif pemeriksaan alergi dengan harga terjangkau dengan cara melihat efek resonansi biologis badan kita terhadap makanan yang di paparkan. Test ini sangat sensitif namun sayangnya tidak membedakan reaktif ringan dan reaktif kuat. Sehingga pasien harus mencoba mencari tau sendiri mana yang harus dipantang ketat dan dikurangi.
Dari semua tes hanya membantu mencari mana yang alergi. Tapi tidak menjelaskan mana yang reaksi alerginya.Setelah tau mana yang alergi,  dicoba hindari semua. Lakukan tes satu persatu selama seminggu. Cari tau makanan yang menyebabkan reaksi. Tidak semua alergi reaksinya sama.

-sumber:  Grup FB sembuh autoimun 
Nah ngomongin soal alergi, meski saya  positif dan yakin   alergi  sama  yang pedas setelah mencoba  diet cabe-cabean beberapa waktu lalu, tidak selalu  semua  makanan yang pedas  bikin  alergi.  Bisa  jadi saya alergi sama cengek dan cabe merah, tapi baik-baik saja  dengan paprika, misalnya. Kalau mau hasil yang lebih meyakinkan, ya  harus  pake   blood test atau Bio E-test.

Diet dan Hormon Melatonin
Ada beberapa  tanda yang   bisa kita kenali kalau sebenarnya  kita  punya  masalah dengan alergi. Cuma karena tubuh  kita  udah addict,  jadinya gagal untuk mengenal alergi (adiksi)  dan ga  merasa  ada masalah. Misalnya saja nih ada  lingar hitam di mata. Halah,  ini mah masalah saya. Emang  sih penyakit saya  suka begadang, tapi dari kacamata  dr David masalah saya  bukan  soal begadang aja. Ada  alergi  dengan tubuh saya  dan itu tadi,  tubuh saya bereaksi dan  memberi warning  dengan tanda seperti  ini. 
Cara  sembuhnya? Saya kudu diet. Diet  bukan ngecilin tubuh lho. Diet ga selalu identik dengan progrm ngurusin badan. Lah yang badannya subur  juga bukan kelebihan gizi. Tapi kekurangan gizi. Badannya jadi bongsor  itu karena tubuhnya  numpuk kalori.

Ya  namanya  hukum alam, yang kuat yang survive. Pilihannya  saya  mau melawan  dengan menjalani diet atau menyerah. Saya pengen  sehat, makanya ga mau nyerah.  Selain berhenti  makan yang pedas-pedas, saya harus  memperbanyak  makanan  yang sehat  (tidak digoreng), berhenti makanan lainnya, banyakin sayur dan  buah-buahan  yang  bervariasi,  cepat tidur dan mematikan lampu  waktu tidur dan mengubah kebiasaan lainnya.  Dulu sih suka malas,  tapi  demi sehat, sekarang  saya  udah bisa tidur dengan kondisi lampu  yang mati. Iya,  balik lagi sama niat,  ya apa-apa juga. Kita yang  milih kita  yang nanggung risiko.

Selain  emang menghemat  pemakaian listrik  (halah, iya atuh),   tidur dengan lampu dimatikan  itu  sangat mendukung produksi hormon melatonin  di dalam tubuh.  Hormon melatonin ini tidak bisa bekerja.,meski  mata kita merem, tapi masih tidur dalam ruangan  yang terkena sinar (biarpun dikit  aja). Makanya kalau tidur dengan lampu 5 watt, misalnya  posisinya  harus membelakangi  kita.  Eh kebayang  kan, kayak gimana posisinya?

Kalau  serius menjalani  diet  ini,bukan hanya tubuh  yang sehat dan bugar, kulit  yang sehat, bersih dan kenyal  sebagai  bonusnya  bisa kita dapatkan.  Setelah menjalani Bio-E  test, saat kita berobat  di DF Klinik kita akan  mengikuti Terapi Disbiosis. Apa itu terapi Disbiosis,  kecukupan gizi, dan pola makan sehat  yang disarankan dr David sampai soal autoimun saya lanjutin di tulisan berikutnya, ya.




11 komentar on "Anti Aging: Kita Semua Adalah Korban Iklan"
  1. Murah banget tes alerginya ya Mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Murah segitu mah. Dibanding tes lainnya yang berjuta-juta.

      Hapus
  2. saya juga kalau tidur lampu harus mati,jadi dapet cahanya dari lampu luar hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ga gelap-gelap amat sebenarnya. Soalnya dari jendela kamar mantul cahaya lampu daari rumah tetangga, mbak.

      Hapus
  3. Jadi selama ini saya? huhuhuh korban iklan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huhuhu... iya, selama ini kita korban iklan.

      Hapus
  4. fi..tulisane beda-beda fontnya...
    aku kalau malem matiin lampu emang seh.. *tarik2 kulit muka biar kenceng *atau malah kendur :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, nih Cha. Abis ganti template. Mau diberesin biar sama fontnya :)

      Hapus
    2. Iya, nih Cha. Abis ganti template. Mau diberesin biar sama fontnya :)

      Hapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.