Top Social

Bring world into Words

Review Film Hijab, Make Up Class & Meet and Greet

Selasa, 20 Januari 2015

Dibanding dulu, waktu  saya memutuskan untuk  berjilbab (tahun 1997),  muslimah  yang menutup auratnya  masih sedikit,  fashionnya pun masih standar.  Kalau bukan gamis  yang model  funky dengan celana panjang dan atasan kemeja  atau t-shirt long sleeve  plus  tentunya  jilbab  segi  empat yang disampirkan. Belum banyak  yang stylish,  gayanya ga jauh-jauh dari situ.  Sekarang? jauuuh beda. Banyak pilihan  model hijab yang  bisa kita  ikuti. Mau yang syari dengan gamis atau abaya dan kerudung  yang panjang sampai  pinggang, atau  yang modis dengan aneka lilitan  dan aksesoris. Well, saya  enggak akan membahas  soal  gaya-gayaan jilbab yang kadang-kadang  malah memancing keributan di medsos. Enggak, deh.  Maaf, ya  ^_^.  
 
Review Film Hijab, Make Up Class & Meet and Greet
ini undangannya  khusus buat saya :)
Fenemona  hijab ala muslimah Indonesia ini juga yang jeli ditangkap oleh Hanung dan diangkat  dalam film berlayar lebar dengan judul yang simple, Hijab.  Jangan bayangin  kalau  film seperti ini akan terasa berat dan  alur  yang  terkesan menggurui. Makanya  begitu saya dicolek  oleh Mbak Erli, dari Mazaya buat ikut  Gala Premier Film Hijab di Bandung - tangal 16 Januari kemarin - dengan semangat  45   saya  menyambut ajakan ini.
Review Film Hijab, Make Up Class & Meet and Greet
credit: Rani Yulianti
Sebelum pemutaran film jam 16.50, kami mengikuti kelas  make up dan tutorial hijab dulu plus meet and greet  bareng aktor dan aktris  pendukung (Carrisa Puteri,  Natasha Rizky dan Mike Lucock).  Dibuka  dengan  kelas  make up, saya yang aslinya super cuek ga pernah bermake up, kembali  berjibaku (lagi) dengan palet  hehehe...
Review Film Hijab, Make Up Class & Meet and Greet
credit: Umi Bindya
Tadinya hari itu saya pengen  beli  lipstik di boothnya  Mazaya. Ada varian dari palet   yang  warnanya saya suka dan  nge-mate di bibir. Ga glowing atau kering. Pokoknya alami banget. Karena memang itu  kelebihannya Mazaya,  produknya water base dan bakal menyesuaikan dengan karakter  kulit pemakainnya.  Nanti deh, saya cari  di offline store aja.  buat lipstick yang bikin saya kepincut. No wonder, langsung  laris manis  tanjung kimpul hari itu.
http://www.catatan-efi.com/2015/01/review-film-hijab-make-up-class-meet.html
no photo is hoax. Nih buktinya :)
Secara  Gala Premier,  jadinya  ga dijual umum di  ticket box biasa. Sukses membuat iri pengunjung yang nanya-nanya  kok bisa dapet tiket nontonnya? Hihihi....  ngeblog atuh  mba, kayak saya. (eits, asiknya jadi blogger  yang seperti ini). Nah, ini resensi film Hijabnya.

Judul Film : Hijab
Genre : Drama Komedi
Durasi : 100 menit
Produksi : Dapur  Film & Ampuh Entertainmnet
Sutradara : Hanung Bramantyo
Para pemain : Zaskia Adya Mecca, Carrisa Puteri,  Mike Lucock, Natsha Rizky, Ananda Omesh, Nino Fernandez, Dion Wiyoko.

Jadi nih, seperti  yang saya  bilang sebelumnya kalau film  Hijab ini jauh dari kesan film yang berat dan  serius ngatur  soal  hijab mesti bagaimana dan aneka perintilannya. Dikemas dengan gaya pop, film Hijab  yang lucu dan kocak ini memotret  kehidupan para muslimah di Indonesia   yang berjilbab. Sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari dan mungkin dialami oleh kita.  Ada Sari (Zaskia Adya Mecca), Bia (Carrisa Putteri) si gadis  hidayah,  Tata  (Tika Brivani)  seorang mantan aktivis perempuan  yang terpaksa  menutup rambutnya dengan turban  gara-gara  pitak  dan Anin (Natasha Rizky)  yang terobsesi  dengan hal-hal yang  berbau Perancis.

Kecuali Anin yang belum menikah, mereka  berempat bersahabat karib dan suka ngumpul bareng  dalam arisan bareng  suami-suami mereka.  Gamal (Mike Lucock), suaminya Sari adalah tipe orang arab yang strike,  keras dan susah diajak kompromi.  Bagi Gamal,  haram  hukumnya  bagi seorang isteri  untuk mencari nafkah, karena  itu adalah kewajiban suami. Sari  harus diam di rumah mengurus  anak, rumah dan melayani suami. Itu saja. Tipe suami yang nyebelin banget, ya? Hehehe... Lalu ada Ujul (Ananda Omesh), seorang fotografer idealis,  suaminya Tata. Memang tidak  sekeras Gamal tapi tipe laki-laki yang    mudah dipengaruhi, terutama oleh  Gamal atau Chaky  (Dion Wiyoko), pacarnya Anin - seorang sutradara  yang  moderat dan membebaskan  Anin untuk mengurus  karirnya. Nah, kalau Matnur (Nino Fernandez) adalah seorang  aktor  yang mewajibkan Sari  ikut menemani syuting di lokasi  dan menjadikan Sari fotografer alias  tukang foto  dadakan kalau  ketemu fansnya Matnur  yang super histeris.

Celetukan  Gamal  saat  arisan menyengat Tata. Tata yang punya latar belakang  seorang aktivis tidak terima  dengan ucapan  Gamal yang bilang, “Ini arisan  pake uang suami. Kalau gitu,  ini arisan suami, dong. jangan-jangan semua arisan para istri dibayarin suaminya.”

Keempat  sahabat ini berkumpul dan sepakat  untuk merintis sebuah bisnis. Sari yang punya otak bisnis, Anin yang punya channel  luas,  dan Tata  yang  punya  nyali besar  sepakat untuk   merintis bisnis  hijab  yang dijual secara  online.   Dengan sembunyi-sembunyi,  mereka merintis hijab ini tanpa sepengetahuan para suami.  Semuanya berjalan  lancar sampai ketika bisnis mereka ada dipuncak dan dilirik  oleh Jakarta International Islamic Fashion, justeru berbarengan dengan karir  para suami  yang rontok satu persatu. Kesuksesan bisnis hijab ini bukannya membuat para suami  senang, malah mengancam rumah tangga mereka, sementara  Anin  mulai terusik oleh kehadiran  orang lain.

Casting
Selain keempat pasang tokoh utama,  penonton film Hijab akan dimanjakan  oleh akting   aktris dan aktor lainnya. Masih ada Meriam Belina, Sophia Muller, Mathias Muchus,  Jajang C Noer,  Marini, Rina Hasyim, ustadz Ahmad Al Habsy dan ustadzah Lulung yang  beradu akting meramaikan film  ini. O, ya di film ini  juga ada  Dijah Yellow, berperan sebagai pembeli  yang bikin susah para pramuniaga karena banyak maunya.  Meski   harus  berperan jadi suaminya  Sari  yang diperankan oleh Zaskia, peran Mike cukup proporsional dan sukses  menghayati  karakter suami  yang rese dan nyebelin.  Secara pribadi,  saya bakal envy sama peran Anin. Selain cantik dan smart juga punya Chaky yang baik, enggak rempong dan full support.

Kostum
Dengan dukungan butik Meccanism, milik Zaskia Adya Mecca,  membuat wadrobe para pemain film ini  bisa  jadi inspirasi  buat para muslimah  yang  senang  dengan berbagai model  gaya  busana  muslimah. Dari model hijab syari  ala Sari,  hijab gaul ala Bia atau turban yang dikenakan Tata.   Kalau  saya seneng  sama  hijab ala  Bia di film ini. Modis, simple dan ga terlalu aneh  buat saya. Ga nolak deh kalau dikasih baju ini hehehe...

Pesan Moral
Sejak semula merintis  bisnis   ini, Anin sudah mewanti teman-temannya  untuk jujur dan tidak menutupi  bisnis ini pada para suami. Kekhawatiran  Anin yang diabaikan teman-temannya jadi kenyataan saat para suami bereaksi, saat  para isteri   seolah-olah  mengambil alih tanggung jawab finansial keluarga. Sementara  Anin  yang belum menikah,  sebal bukan main dengan tingkah para sahabatnya  yang ribet dengan suami-suaminya.  Meski punya pacar yang  moderat dan membebaskan Anin, pertahanan Anin mulai goyah ketika Tante Elma mengenalkan keponakannya, Michelle, cowok Perancis  yang  nyaris menjawab obsesi  Anin dengan segala yang berbau Perancis.   
"Hijab bukan hasil tapi adalah perjalanan, pengalaman untuk  menjadi yang terbaik".
Saya lupa  quotenya siapa di film itu.  Tapiiii... saya setuju kalau  setiap orang perlu proses yang berbeda  buat berhijab.  Bukan jaminan  dengan berjilbab  itu menjadikan seorang muslimah  bersih dari dosa dan cela.  Tapi juga  bukan  alasan untuk  mengabaikan kewajiban  berhijab. Nobody perfect.  Buat kita  yang sudah  berhijab mendingan menyemangati temannya  yang belum dengan cara  yang santun. Setuju? 

Quote  yang paling nendang buat saya adalah yang ini nih,  
"Uang suami itu untuk istri dan  uang istri itu  buat keluarganya."  

Daleeeem...  Jadi  beda  ya,  dengan  qoute  yang udah  terlanjur bilang kalau uang istri ya uang istri. Artinya? Ehm.... ada di ending film ini.
Soundtrack
Saya paling suka  lagu recycle   Satu Yang Tak Bisa Lepas  yang dinyanyikan oleh Andien. Penghayatannya dapat banget dan pas dengan suasana hati Anin  yang galau, apakah harus  memilih jalan dengan Chaky, cinta sejatinya atau  mewujudkan mimpi dengan obsesinya  dengan Michelle.  Nah,  pas  lagu ini muncul,  adegan ini yang paling ngena dan nyentuh buat saya.  Masih ada  juga lagu Let It Be My Way  yang  juga dinyanyikan Andien.

Kesimpulan
Jadi gimana kesimpulannya? Pakah para istri  ini terus melanjutkan bisnis hijab online-nya  atau  melanjutkan keinginan para suami  untuk menjadi isteri  yang  baik, diam di rumah saja dan  ga ngurusin  bisnis? Jawabannya ada di film ini. Saya kasih rate 3,5 dari 5 bintang. Cocok ditonton oleh para suami dan isteri  yang kerja atau tidak kerja atau para lajang yang belum menikah. 



27 komentar on "Review Film Hijab, Make Up Class & Meet and Greet "
  1. Betul sekali itu,uang suami otomatis menjadi uang istri karena judulnya memberi nafkah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Soalnya kalau mencari nafkah itu buat sendiri, cuma berlaku buat para lajang. :)

      Hapus
  2. Mak, sy lihatnya pas diceritain di Hitam Putih.
    Kayaknya seru ya.
    Ceritanya simpel, kehidupan sehari-hari banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mak. Seru dan ngena. ga usah mikir berat nonton ini mah. :)

      Hapus
  3. Aku juga mau nonton nih mak ,serunya ama suami kali ya hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nontooon ya, mak. Hayo dipilih karakter siapa yang disukai? :)

      Hapus
  4. "Hijab bukan hasil tapi adalah perjalanan, pengalaman untuk menjadi yang terbaik"
    __________________________
    Quote ini stuju , nah maka dari itu, kayaknya kalau ada istilah "udah dapet hidayah karena sudah berjilbab" kurang lebih gitu lha istilahnya , diskriminasi banget ya, ini pendapat saya. Soalnya istilah itu kayak memojokkan para perempuan yang belum berjilbab karena belum dapat hidayah, padahal alasan bukan hanya belum dapat hidayah. Ada 1001 alasan bagi para perempuan mengapa dia belum berjilbab..

    Mudah2an ngerti opini saya ini waaks :) soalnya panjang Mbeneer...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngerti, kok :D Berhijab itu cuma salah satu kewajiban aja, bukan free pas masuk surga. Yeeh, emang undian kompetisi ya, dapat bye hehehe.
      Belum berhijab itu ga berarti juga pahala ibadahnya angus, kok. Balikin aja premisnya, belum berhijab aja udah baik, apalagi kalau udah berhijab. nah kalau yang berhijab ada yang rese dibalik juga, dengan terlindung hijab ini udah mending. Seenggaknya dia punya batasan, kayak gelang yang dipake tahanan yang coba-coba kabur (ini analoginya kejauhan, ya :P). Beuuh, komen balasannya jugakepanjangan hehehe

      Hapus
    2. mungkin ada yang maksa Ahmed untuk pakai hijab... waaakz kabooor :D

      Hapus
    3. Wkwkwk..... ngakak guling-guling baca komen Pak Umar. Kayaknya sih, gitu. :D

      Hapus
  5. pengen nonton ih... pasti menginspirasi skali ya kostumnya ya isi filmnya jg :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya... Di film itu ada satu scene lagi fashion show. Sedaaap, bajunya keren-keren :)

      Hapus
  6. keren banget ceritanya,,,aku mau nonton juga tapi sayang kemarin nggak bisa nonton soalnya ada acara... hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waks sayang banget, mbak. Ya udah rencanain lagi lain waktu :)

      Hapus
  7. Secara ide, cukup bagus nih filmnya. Tapi untuk quote yang terakhir "uang suami itu uang istri, uang istri untuk keluarganya..." nendang banget nih buat saya. Biasanya saya pakai jurus jitu, "uang istri itu untuk istri" supaya uang saya gak dimintain ahahahaha.... tetep aja ya gak bisa nyimpen penghasilan untuk sendiri, pada akhirnya ya dibagi2 juga :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi iyaaa mbak. Keluarga kan bisa suami juga, kalau misalnya suaminya tiba-tiba sakit dan ga bisa kerja lagi. Itu juga yang terjadi di film itu. :) Mereka merasa gengsi kalau para isttri membantu secara finansial.

      Hapus
  8. kapan hari lihat thrillnya,seru kayaknya plus lucu hehehe

    BalasHapus
  9. Kereeen riview-nya Efi, mesti belajar banyak nih cara riview film dr effi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aish Rani :) *pegangin idung takut terbang* Masih belajar juga, kok. *serius*

      Hapus
  10. Pengen nonton juga, penasaran ama pamer hijabnya, pasti cantik2 tuh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo nonton, mak. Aman kok filmnya, ga seperti yang dihebohin di medsos itu :)

      Hapus
  11. Jalan ceritanya sepertinya unik, ya Fi. Cerita para perempuan kekinian banget yang kreatif, berpendidikan dan berani. Pengen nonton eksekusinya kaya gimana hijab dalam sudut pandang Hanung dan berhijab di lingkungan mereka seperti apa, sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya teh, perempuan juga punya hak dan caranya sendiri buat beraktualisasi tanpa harus mengabaikan keluarga. Nah, di film ini dikemas dengan segar, ringan tapi sebenarnya punya pesan tersirat yang jleb.

      Hapus
  12. Dulu saya berhijab dari SMP, sampai akhirnya sesuatu hal terjadi pada gelombang kehidupan saya pun melepas hijab tahun 2004 dan kembali memakai hijab 2010. Jadi memang hidayah itu ada dalam hati :D hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah kan, kita engak tau kapan orang bisa kembali nemu hidayahnya, ya, Tian. Mencela, menghujat dan apapun itu sebenarnya malah menggambarkan siapa kita, bukan siapa yang kita cela. :)

      Hapus
  13. kalau boleh tau apa judul lagu ending di film tersebut

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.