Showing posts with label Mesin Waktu. Show all posts
Showing posts with label Mesin Waktu. Show all posts

Friday, 7 February 2025

Svara: Aplikasi Lengkap Buat Radio Lover

Saya lupa gimana ceritanya bisa tau aplikasi Svara. Yang saya ingat waktu itu saya lagi nyarri aplikasi biar bisa denger radio dari HP. Masalahnya kalau denger dari aplikasi bawaan yang ada di HP pas kita roaming alias lagi jalan ke luar kota, udah deh ilang tuh siaran radionya. Aplikasi bawaan memang fiturnya kayak radio analog biasa gitu yang jangkauan frekuensinya terbatas dengan jarak.

Sempat kepikiran nyobain denger pake strreaming via browser. Tapi lagi-lagi kalau denger dari browser pas aplikasinya ditutup ya udah siarannya bye bye. Kan ga mungkin mau dengerin siaran radio tapi brosowernya harus manteng terus. Ga pegel apa ya?

Terus kalau ada yang bilang gini: "Ya elah, denger radio yang ketangkep aja"

Tidak sesederhana itu. Buat radio junkies kayak saya, format siaran juga penyiar plus pilihan musiknya itu yang bikin pendengar jadi terkoneksi sama radio yang didengerin. Jadi kalau punya beberapa radio favorit, buat saya sih mesti ada 1 radio yang "ini gue banget"

Sedikit cerita, saya tuh lebih sering dengerin radio daripada nonton tv hehehe. Beda ceritanya sama sama nonton lewat aplikasi atau denger yuotube ya Podcast versi analog dari radio itu punya ciri khas tersendiri. Ya pokoknya gitu deh. Meski pun sekarang udah ada aplikasi macam Spotify, joox dan sejenisnya, radio is my first choice.

Akhirnya saya nemu  tuh aplikasi Svara dan segera instal di hp saya.  Untuk kapasitas penyimpanan di hp pun aman, ga makan banyak memori.



Btw ini tampilan info aplikasinya. Ringan banget, kan? Btw sebenarnya udah install lebih lama aplikasi ini sebelum oktober 2024 tapi karena satu dan lain hal, bikin saya instal kembali aplikasinya.

Kalau temen-temen tau instagramer Mbak Wulan penyiar RRI Pro2 Tanjung Pinang yang kontennya itu bikin kita pengen nyimak siarannya, juga bisa dengerin juga. Seperti ini tampilan antar muka aplikasinya pas kita buka

Pada bagian recently channel akan menampilkan histori radio apa saja yang sebelumnya sudah kita denger. Tinggal geser ke kiri, kita akan menemukan radio yang pernah didengar sebelumnya. Tinggal klik aja mau denger lagi radio apa. 

Seperti yang saya bilang tadi kalau lewat Svara kita bisa nyimak radio di kota lain. Seperti misalnya RRI Pro2 Tanjung Pinang,  Geronimo Yogya, iRadio atau radio lainnya. Gampang! Klik saja ikon channel yang warna ijo itu dan kita akan menemukan pilihan mau denger radio di wilayah mana. Seperti ini tampilan yang akan muncul di layar


Lewat Svara ini kita bukan cuma mendengarkan siaran saja. Beberapa radio di aplikasi ini juga menyajikan konten yang menarik. Misalnya  untuk Radio K Lite  punya menu News,  Playlist, Lite Trip, Variety dan menu lainnya sesuai dengan format siaran udaranya. Semisal ada talk show yang terlewatkan, kita bisa menyimak rekamannya di sini.

Memang belum semua radio punya kanal di sini. Prambors Jakarta misalnya. Begitu juga dengan radio yang sudah bergabung di Svara, ga semuanya melengkapi fitur-fiturnya seperti radio K Lite, MQ, Voice of Indonesia atau RRI Pro 2 Tanjung Pinang. Sebagian besar baru menyediakan akses untuk mendengarkan siarannya saja.

Dulu kita mengindentikan radio sebagai media hiburan audio saja. Lewat wajah baru dari Svara ini, radio yang sudah mengintegrasikan media komunikasinya di Svara juga sudah bisa dinikmati secara visual lewat video yang terunggah. Lewat fitur chat, kita juga bisa berinteraksi dengan penyiar seperti layaknya podcat live di youtube.  

Untuk layanan dari aplikasinya sendiri pun menyajikan fitur-fitur hiburan dan informasi yang bisa kita simak. Mulai dari new release, Playlist pilihan, serial podcast dan video seperti yang saya bilang tadi, hadir dengan topik-topik yang yang bisa kita simak. Ga kalah serunya dengan channel hiburan lainnya. Kalau mau bilang radio is dead, kayaknya enggak deh setelah hadirnya Svara ini.

Berapa bayar iurannya?

Ini yang asiknya dari Svara. Aksesnya gratis, ga dipungut biaya. Seriously. Jadi mau kangen-kangenan denger radio zaman ngekost dulu, dengerin pod cast atau mau denger playlist tapi males bikin list piliahannya, Svara ini bisa jadi solusi.

Svara bisa dunduh dari play store atau app store. Hayuk, install. Ga akan lagi ketinggalan siaran dari penyiar kesayangan. Bisa stay tune kapan saja dan di mana saja.  






Share:

Thursday, 26 September 2024

Teh: Jepang, VOC dan Kereta Api

Dulu waktu masih SD, saya sempat baca artikel di majalah anak yang membahas tentang asal usul teh yang datang dari Cina. Seiring berjalannya waktu, teh jadi minuman populer di dunia, termasuk juga Indonesia. Terus saya pernah mikir kalau teh ini datang ke Indonesia diperkenalkan oleh pedagang-pedagang dari Cina.
source: pixabay

Really? Ternyata saya salah. Teh datang ke Indonesia justru melalui seorang anggota VOC. Kok, bisa ya? 

VOC dan WIBU

Kenalin nih.

Andreas Cleyer. Seroang dokter berkebangsaan Jerman. Beliau ini multi talent banget. Bukan cuma handal dan jago seluk beluk medis tapi juga punya jiwa dagang (ya iya lah, makanya bergabung dengan VOC, kan), ahli botani dan peneliti Jepang. Dari penelitiannya ia menemukan hal menarik dari Jepang, Teh. Lalu terpikirkan oleh Cleyer untuk membawanya ke Batavia pada tahun 1684.

 Apakah ia punya naluri bisnis pada saat itu? Belum. Cleyer membawa teh ke Indonesia pada saat itu dalam bentuk benih saja, dan cuma jadi tanaman hias. Keberadaan teh yang jadi tanaman hias ini ditemukan di taman Istana Gubernur Jendral Champhyus Jakarta pada tahun 1694. Sepuluh tahun setelah kembalinya Cleyer.

Kalau ada yang bertanya, kok bisa Cleyer dateng ke Jepang? Bukannya mereka musuh sesama penjajah yang memperebutkan Indonesia?

Ya, pada zaman Perang Dunia. Tapi ratusan tahun sebelumnya ternyata mereka adalah bestie, lho. Pertama kali Belanda datang ke Jepang pada tahun 1598 saat masa Shogun Tokugawa sedang berkuasa di Jepang. Kala itu pemerintah Tokugawa lagi sebel sama Portugis yang datang duluan ke sana. Pasalnya Portugis datang ke Jepang sebagai misionaris giat menyebarkan agama katolik, sebuah hal yang tidak disukai oleh Tokugawa.

Sementara Belanda yang datang ke sana lebih mikirin urusan dagang ketimbang misi religius. Walaupun Belanda identik dengan Kristen Prostetan (di masa itu tidak akur dengan umat Katolik). Mungkin ini salah satu contoh musuhnya musuhku adalah sahabatku. Makanya pas saat itu Cleyer dengan mudah diterima di Jepang dan bisa melakukan penelitian di sana dengan leluasa.

Tak Kenal Maka Tak Cuan

Teh menjadi primadona yang seksi setelah satu abad kemudian atau sekitar tahun 1800an saat Belanda saat itu lagi bokek karena kalah perang. Uniknya pada saat itu VOC sudah tinggal nama alias bubar satu tahun sebelumnya (1799).

Pencetusnya antara lain adalah kalah bersaing dengan kamar dagangnya kompetitor di Eropa (Inggris dan Perancis), lalu tuduhan soal petinggi VOC yang korupsi ditambah kalahnya Belanda pada peperangan di Eropa. Pemerintah Belanda pun dibuat pusing dengan pribumi yang susah ditaklukan seperti perlawanan Pangeran diponegoro misalnya.

So, pejabat-pejabat +62 yang korupsi, hei kalian! kalau mau sok jago VOC udah duluan jadi korruptor dan terbukti bikin rugi. Mau kelakuannya sama seperti mereka?
 
source: https://indonesiaexpat.id/

Pemerintah kolonialnya cepet mikir. Harus segera dapet duit. Dari mana? Ini jawabannya. Indonesia kaya dengan rempah-rempahnya yang dieksploitasi. Ya sudah, pemerintah Kolonial berusaha menggenjot volume ekspornya dengan menjalankan politik tanam paksa alias "Cultuurstelsel"
https://voi.id/

Ide tanam paksa ini datang dari inisiatifnya Johannes Van den Bosch pada Raja Wilem I untuk menutupi kas pemerintah Belanda yang mengalami defisit. Komoditas teh menjadi salah satu jenis tanaman yang masuk sebagai proyeknya Bosch. Raja Wilem I setuju, dan proyek ini pun berjalan termasuk diantaranya dengan perintah menanam teh yang hasilnya akan diekspor ke Eropa.

Kebun Teh dan kereta Api

"Jij tau kenapa Ijk panggil ke sini?" Van Den Bosch menatap Jacobus Isidorus Loudewijk Levian Jacobson yang baru masuk ruangannya

Jacobson, botanicus berambut ikal itu menatap Van den Bosch dengan tatapan tenang sambil menerawang.

"Pastinya ada hal penting yang mau tuan sampaikan pada ijk. Coba Ijk tebak. Apakah kita akan bikin sebuah perkebunan?"

Van den Bosch berbinar girang. "Jij tau kalau teh adalah minuman yang laris di Eropa setelah kopi."

"Tuan mau bikin rencana ekspor teh?"

"Tepat. Jij pasti tahu yang harus dilakukan.Benih dan tanahnya, ijk jamin jij akan dapatkan itu. Ijk mau Jij segera kerjakan"

"Siapa yang akan tanam tehnya?"

"Pribumi, tentu saja. Jij pikir ijk suruh jij kerjakan sendiri, eh?"

Dalam hatinya, Jacobson ingin merutuk panjang soal rencana yang diberikan Van den Bosch. Overdomme. Pribumi itu tau apa soal teh? Tidak mudah meneer! Bahkan mendiang Cleyer yang cerdas pun tidak segera langsung membuat kebunnya seabad lalu.

"Tapi tuan, kita orang pernah bikin uji cobanya dulu dan gagal."

"Ijk tau itu. Karenanya ijk tau jij cerdas dan bisa cari jalan bikin kita bisa ekspor teh yang banyak. Jij tau? Kas negara kita sudah kosong gara-gara VOC tidak berguna itu."

VOC sialan! Kali ini Jacobson memaki yang lain. Mereka yang tidak becus, dirinya harus menanggung repotnya. Tapi tidak ada gunanya membantah lelaki di depannya itu. Order harus dikerjakan.  "Baiklah," Jacobson mengangguk dengan terpaksa. "Ijk coba"

"Goed. Ijk percaya sama Jij"

By the way itu cuma dialog imajiner ya hahaha. 

Tapi memang Jacobson diperintahkan untuk menanam teh dalam jumlah yang masih. Uji cobanya pada tahun 1728 dinilai berhasil. Lalu pada tahun 1828 Jacobson membuka lahan baru di Wanayasa (Purwakarta) dan Gunung Raung Banyuwangi. Sebagai catatan, keberhasilannya menanam teh pada masa itu juga tidak lepas hari hadirnya 15 orang Cina (7 diantaranya memahami seluk beluk teh) yang diajaknya turut serta.

Hingga tahun 1846 perkebunan teh luasnya semakin bertambah hingga mencapai 3.193 hektar. Jacobson girang tidak terkira. Kegembiraannya ditumpahkan dalam buku yang ditulisnya dengan judul “Terbitnya buku pertama Pedoman Teknik Budidaya dan Pengolahan Teh”

Sadly, Van den Bosch tidak sempat melihat keberhasilan Jacobson. sang gubernur jendral meninggal 2 tahun sebelum buku itu ditulis. Andai masih hidup, Jacobson mungkin akan memakernya pada Van den Bosch. Saya bisa!

source: hidayatullah.com

Dari politik tanam paksa ini pemerintah Belanda berhasil menyehatkan kembali kas negaranya dan meraup keuntungan sampai US$75,5 miliar (dengan kurs hari ini). Di sisi lain politik tanam paksa yang dijalankan menuai kritik dari berbagai kalangan termasuk Eduard Douwes Dekker lewat tulisannya Max Havelaar.

Sebagai respon, pemerintah mengganti politik tanam paksa dan memberlakukan UU Agraria pada tahun 1902. Usaha ini berhasil mendorong pertambahan kebun teh di Jawa Barat, dari 100 perkebunan teh yang ada di Jawa, 81 di antaranya berlokasi di Jawa Barat.

source: kompas

Selain mencabut kebijakan tanam paksa dan menggantinya dengan UU Agraria, pemerintah kolonial pada saat ini membuka kesempatan poihak swasta untuk ikut mengola industri teh.  Para investor  mengusulkan untuk kemudahkan akses transportasi sehingga akan mempercepat  pengangkutan teh untuk segera dijjual. Jalur yang sudah ada sebelumnya (tahun 1851) menjadikan teh lebih cepat sampai ke tangan konsumen ke berbagai wilayah dan mendatangkan puni-puni yang banyak untuk epemrintah kolonial. 

Legaaa rasanya. Sekarang saya sudah tau sejarah teh di Indonesia. Ternyata ada banyak cerita sejarah di dalamnya yang mengantarkan secangkir teh hangat yang bisa kita sesap nikmatnya.

Source:

https://www.kompas.com/stori/read/2022/10/11/230000979/apa-yang-menyebabkan-voc-dibubarkan-?

https://www.gramedia.com/literasi/tujuan-pembentukan-voc/

https://jalurrempah.kemdikbud.go.id/artikel/rempah-dan-teh-nusantara-sekilas-sejarah-dan-manfaatnya

https://kumparan.com/sejarah-dan-sosial/sejarah-teh-di-indonesia-dari-tanam-paksa-hingga-nasionalisasi-20lCaugzxRc/1

https://chub.fisipol.ugm.ac.id/2020/08/31/ngeteh-dulu-sedikit-tentang-teh-di-indonesia/

https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Johannes_Camphuys

https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5715313/cultuurstelsel-adalah-sistem-tanam-paksa-ini-sejarah-dan-kebijakannya

https://www.bbc.com/indonesia/majalah-52468047

https://disbun.jabarprov.go.id/post/view/836-id-perjalanan-teh-di-jawa-barat

https://disipusda.purwakartakab.go.id/perkebunan-teh-pertama-di-nusantara-ada-di-wanayasa-purwakarta

https://regional.kompas.com/read/2020/05/06/12590041/melihat-jejak-kereta-api-dan-penjajahan-belanda-di-tanah-priangan-tanam



Share: