Moral Story Dari Film Maleficent

by - June 26, 2015

Jangan heran dulu kalau saya mendadak ngebahas film Maleficient ini. Yes, sudah lewat dan ga kekinian kalau ngereview. So yesterday kalau Hillary Duff bilang hihihi...

Jadi di tulisan ini saya ga kan ngebahas aktingnya Angelina Jolie, Make up nya yang bikin doi kelihatan tetap cantik meski tirus kayak kurang gizi, tandukan, atau kostum para peri yang lucu-lucu itu. 

Biar jadi antagonis, Angelina Jolie tetap seksi :) credit: telegraph.co.uk 

Saya kepengin bahas moral story dari film yang diangkat dari dongeng klasik ini. Siapa juga yang ga kenal sama dongeng putri tidur, Aurora yang kena kutuk Peri yang sirik atau kurang piknik?. Kalau dulu kita kenal alur cerita film ini di mana Aurora tertusuk jarum mesin pemintal, lalu tertidur. Aurora hanya bisa bangun kalau ada cinta sejati yang datang menciumnya. Lalu cerita seleasai. Happy ever after. 

Drama Queen banget ga, sih? Untungnya versi film yang ini mah beda banget.

Nah di film yang dibesut sutradara Robert Stromberg dan penulis naskah Linda Woolverton, alurnya dibongkar, diacak-acak kalau adik saya bilang. 


Malaficent dan Stefan remaja. Credit: reelgirl.com 

Sebenarnya Maleficent adalah peri yang baik hati. Ia bertemu Stefan, anak petani yang miskin, sudah tidak punya ayah ibu. Berbeda bangsa tapi keduanya saling jatuh cinta. Singkat kata Maleficent tidak bisa melupakan cinta pertamanya, Stefan. 

Sementara sang raja yang berkuasa waktu itu memusuhi dan ingin menaklukan bangsa Moors, bangsanya Malefecient sedang sekarat. Ia bersedia memberikan tahta dan menjadikannya menantu bagi yang bisa menaklukan Maleficent.

Nah diantara para calon pewaris tahta Stefan lah yang tau kelemahan Maleficent dan tau di mana bisa menemui. Stefan tau Maleficent akan lemah bila menyentuh besi. Tapi bukan itu yang diincarnya.

Stefan memanfaatkan Maleficent yang lagi rindu berat dan menjadikannya tumbal untuk mendapatkan tahta kekuasaan yang diinginkan.

Tercapai? Yes, he did. Tapi Stefan tidak sadar kalau saat itu ia gelap mata. Ulahnya yang ambisius bukan hanya menanam benih sakit hati, tapi juga menyisakan dendam yang mengancam anaknya 16 tahun kemudian, yaitu Aurora. 

Sama seperti cerita klasik lainnya, belasan tahun kemudian Maleficent bertemu kembali dengan Stefan dan keluarganya. Bukan untuk rujuk alias damai tapi untuk menuntakan dendam masa lalunya. Maleficent datang untuk mengutuk Aurora. Sumpah serapah yang kemudian disesalinya. Sesungguhnya Maleficent jatuh cinta dengan kepolosan dan kelucuan Aurora kecil. Tapi apa boleh buat, ia tidak bisa membatalkan sendiri kutukannya. 

Seperti kita tahu, serombongan peri baik hati lainnya ‘membelokan’ kutukan itu dengan menjadikan kutukan tidur panjang Aurora akan terhenti bila mendapat ciuman dari seorang pengeran.

Yang meranin Aurora kecil ini lucu banget. credit: disney.wikia.com 

Kebaikan Aurora bikin Maleficient luluh dan jatuh hati. Apalagi pas Aurora bilang ingin menjadi bagian dari bangsa Moors. 

Serakah Itu Cuma Menunda Petaka dan Bikin Gelisah 

Aurora akhirnya tau jati dirinya. Sebelum Hari ultahnya ke-16, Aurora datang ke Istana. Dan Raja Stefan bukannya senang kedatangan putrinya. Yang ada dia malah makin stres berat. Selama masa penantian 16 tahun itu dia mikir keras gimana caranya melumpuhkan Maleficent. 

Auora lalu dikurung di sebuah kamar. Anak baik, polos dan ga ngerti dendam dan perseturuan orang tua, berhasil mengecoh emban eh dayang atau apa gitu, ya? Iya, pokoknya dia bisa keluar dari kamar tempat dia dikurung. Aurora akhirnya menemukan mesin pintal. Lalu.... kutukan itu pun terjadi. 

Sementara Aurora tertidur, para peri yang baik hati pada rempong nyari Philip. Setelah ketemu pun ga semudah cerita mainstream lainnya. Ga semudah itu buat Philip membangunkan Aurora, lho. 

Film Maleficent bukan hanya gimana caranya membangunkan putri tidur tapi bagaimana menyelesaikan urusan masa lalu antara Raja Stefan dan Malaficent. Kasihan Aurora, dia ga tahu apa-apa tapi malah jadi korban masa lalu ortunya. Kasian juga Raja Stefan. Jadi hidupnya selama 16 tahun ga dinikmatinya. Cuma dihantui bayang-bayang ketakutan dan balas dendam. Ckckck..... raja macam apa dia? 

Seinget saya,  cerita tentang Aurora dulu ga menceritakan alasan yang jelas kenapa Maleficent ngamuk-ngamuk lalu menghukum Aurora dengan kutukan kejamnya.  CMIIW,  ya.  Film  Maleficent adalah film keluarga  yang  punya value. Bukan hanya cerita tentang pangeran berkuda yang datang jadi hero lalu hidup bahagia selamanya.   Diiih gombal, ya. Jangan mau diboongin mimpi  kosong kayak gitu hihihi

Seperti film-film fairy tale lainnya yang bercerita tentang si jahat dan si baik, film ini juga ngasih pesan jangan jadi orang jahat. Cepat atau lambat, kita akan menuai benih yang sudah ditanam. So, mau pilih jadi good guy atau bad guy? Yang jahat ga selamanya jahat, ada waktunya dia bisa luluh karena tersentuh untuk hal-hal sederhana. Di lain sisi,  kalau gelap mata bisi bikin seseorang diringkus ambisi dan keserakahan, menghalalkan segala caranya dan susah banget buat menyadarkannya.  Amit-amit, ya? 

You May Also Like

16 komentar

  1. anak saya suka film ini tapai kalau nonton harus di dampingi biar agedan kiss nya di 'cut' hehhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Teh,adegan kissingnya itu cukup mengganggu kalau ngajak anak-anak nonton.padahal pesan ceritanya keren banget.

      Delete
  2. Saya mau jadi sweet girl aja....:)

    ReplyDelete
  3. Aku sukaaa banget sama Maleficent ini. Ceritanya di luar dugaan.
    Juga suka sama gambarnya yang bagus dan dramatis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hollywood emang jago bikin efek film ya, Sin.

      Delete
  4. pilem hollywood mah endingnya sama rata teh, sudah menjadi keniscayaan hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emmmm, maksudnya sma rata gimana, Al? Twistnya ga bisa ditebak gitu, ya?

      Delete
  5. ya ampun teh ini film dari aman kapaan??
    tapi makasih banget bocoran filmnyaaa yang haru-haru galau, yang sebenernya belom pernah ku tonton ini wkwkwk xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Fimny ga terlalu lama amet sih, setahun yang lalu hehehe. Yeeeh, nonton atuh, neng. Rame, lho

      Delete
  6. suka nih film ini jadi bukan cerita princess aja, penyihir juga kenapa jahat tuh ada sebabnya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya,orang jadi jahat bisa jadi gara-gara kita, ya, Tian.

      Delete
  7. Hahahahaha jd inget kmrn nonton ini pak suami nyletuk "kamu bgt tuh, jahat tp baik hati"
    Jiyaaaah wkwkwkwwwkwk.
    Btw ponakan jg suka ini, demen bgt dah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, lho. jahat tapi baik.Tampak terkesan absurd. By the way kalo nonton bareng ponakan harus siap-siap skip-in beberapa adegan tertentu ya, mbak :)

      Delete
  8. iya fi, saya juga nonton ini, nemenin anak yg udah gede jelang dewasa, seneng banget sama ni film

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asik ya, Bu bisa nonton bareng-bareng. kapan-kapan kita nonton bareng yuk, Bu :)

      Delete

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.