Review Film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak

Beberapa hari sebelum tayang perdana, film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak sudah ramai jadi topik pembicaraan di salah satu WAG yang saya ikuti. Apalagi film ini juga memenangi festival film yang baru saja berlangsung di Barcelona oktober kemarin. Dan tau tidak sih, kalau Marsha Timothy pemeran Marlina berhasil menyisihkan Nicole Kidman untuk kategori Best Actress?  Keren, kan.
Foto: 21cineplex
Mengusung genre film ala-ala western semacam The Wild West atau Dance With Wolf, film besutannya Mouly Surya ini mengambil Pulau Sumba sebagai latar film. Bentang alam yang gersang dan tandus cukup menggambarkan betapa kerasnya hidup yang harus dialami Marlina (Marsha Timothty). Walau dicap senang menjadi korban oleh Markus (Egi Fedly) saya tidak merasakan karakter Marlina sebagai korban yang lemah. Kalau sudah menyimak trailernya, di sana digambarkan betapa dinginnya ekspresi Marlina menenteng kepala Markus, perampok yang dengan 'sopan'nya memberitahu dulu rencana jahatnya pada Marlina. Bersama keenam kawananya Markus membeberkan niatnya untuk merampok dan memerkosanya beramai-ramai ditambah minta dibuatkan dulu masakan. Ada ya, penjahat yang malah bangga membocorkan rencananya seperti Markus ini?

Film berdurasi 90 menit ini dibagi dalam 4 bagian, di mana Perampokan jadi pembukanya, lalu dilanjutkan dengan Perjalanan, Pengakuan dan ditutup dengan Kelahiran.  

Tidak terlalu banyak dialog di dalamnya tidak berarti film ini kehilangan gagasan yang ingin disampaikan. Ada banyak simbol yang bisa kita tangkap dari film bernuansa sephia ini. Kalung yang dikenakan Marlina  yang berbentuk rahim, mumi suami Marlina yang teronggok begitu saja di ruang utama rumah atau yang paling terlihat jelas ya itu tadi, saat Marlina dengan santainya menenteng kepala Markus menuju kantor polisi untuk meminta keadilan. Sinting, kan? Bagaimana caranya bisa meyakinkan polisi kalau Marlina adalah korban sementara ia sendiri yang memenggal kepala Markus dan 'memamerkannya' pada polisi. 

Di sisi lain, saat memasuki bagian ketiga, Marlina juga memotret sisi lain betapa menyebalkannya birokrasi di Indonesia. Tapi sekali lagi, Marlina bukanlah sosok wanita yang cemen dan menyerah.  Kalau di awal cerita dia masih santai menodongkan parang ke sopir truk, di sini kita akan melihat gagahnya Marlina mengendarai kuda dan motor trail.  Bahkan untuk wanita modern pun belum tentu bisa segagah Marlina loh. 
Foto: bookmyshow

Yang paling mencuri perhatian buat saya dari film ini adalah karakter Novi yang dimainkan oleh Dea Panendra. Novi diceritakan sedang hamil sepuluh bulan dan anaknya tidak lahir-lahir. Sesekali ia menjadi persuasif membujuk Marlina, kadang ia bisa tertawa getir ketika bercanda bagaimana caranya agar anaknya segera lahir dan di lain waktu ia jadi lebih emosional saat suaminya menuduh ia berselingkuh. 

Film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak ini menawarkan 'paket' yang berbeda dari beberapa film Indonesia sebelumnya yang sudah saya tonton. Tidak seperti sebelum-sebelumnya yang mengekspos keindahan surga di timur Indonesia yang tersembunyi, Marlina mengajak saya untuk melihat lagi masih ada sisi lain dari Indonesia yang belum merasakan kemakmuran dan keadilan. Jalanan yang belum beraspal, akses teknologi yang masih terbatas (bahkan telepon seluler pun masih bernada dering polifonik macam suara hp jadul), hingga ketidakadilan yang masih dialami kaum wanita di sana.  Tangis haru saat  Marlina membantu Novi melahirkan pun masih menyisakan pesan cerita bagi penonton film ini.


Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

7 komentar:

  1. Ya Allah Mbak Marsha ngalahin Mba Nicole, emang keren dehh jadi penasaran banget pengen nonton tapi serem serem sedap gimana gitu heheu tfs ya Teh

    BalasHapus
  2. Udah beberapa kali baca review Marlina bikin aku penasaran banget apalagi filmnya menang ya teh keren juga aktingnya Marsha Timoty sampe sisihin Nicole Kidman :)

    BalasHapus
  3. Di trailer pun, film ini menyisakan banyak tanda tanya bagi saya. Sebegitu "superior"-nya perempuan di daerah timur sana. Layak dan pantas ditonton :)

    BalasHapus
  4. Wah wah, pinisirin nih. Kayak gimana tuh Marsha Timothy bisa ngalahin Nicole Kidman. Kudu nonton. Jarang-jarang ya film Indonesia kayak ini...

    BalasHapus
  5. Aku berani baca karena udah nonton nih. Baru tau Marsha ngalahin Nicole Kidman. Wow. Semalam aku ketemu ama dia Mba, dia muncul di bioskop pas filmnya selesai, "makasih ya semua yang udah nonton," katanya. Aku seneng banget udah nonton film ini dan aku setuju tentang potret lain Indonesia di Timur yang jarang diangkat bisa disampaikan ironinya dengan halus. Aku suka film ini dan emang layak dapet penghargaan. Touching banget ya ditambah acting Novi juga oke.

    BalasHapus
  6. dari awal lihat trailernya aku sudah penasaran banget sama film ini, dari trailernya aja sudah keliatan kalo ini film sangat bagus.

    BalasHapus
  7. Indonesia Timur memang bukan hanya soal keindahan, khususnya Sumba. Di sana perang dan saling membunuh dianggap biasa. Ini kata seorang traveler yang bertemu di Lombok. Ia lama di Sumba. Nyawa harus dibalas nyawa. Ngeri!

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.