Review Film Danur: I can See Ghosts

Abdi teh ayeuna gaduh hiji  boneka 
Teu kinten saena sareng lucuna  
Ku abdi diacukan, acukan sae pisan
Cing mangga tingali boneka abdi 
Dulu waktu masih kecil, saya diajarin lagu ini oleh Apa (bapak). Biasa aja saya nganggapnya. Cuma lagu anak-anak  berbahasa sunda. Enggak pernah kepikiran  ada cerita apa di balik lagu ini.

Sampai kemudian beberapa waktu yang lalu setiap duduk di deretan penonton di bioskop, dan lagu ini muncul dalam trailer film Danur, jadi terdengar menyeramkan.  Yang saya lakukan? Berusaha  abai karena saya ga suka lihat film hantu. Nyeremin lah. Itu yang saya rasakan saban trailer Danur wara wiri di layar bioskop. 

Tapi ternyata akhirnya saya nonton film ini juga. Takut? Hmmm... iya lumayan bahkan malam hari sebelum tidur pun  berusaha membuang jauh-jauh pikiran dan ingatan yang masih tertinggal setelah nonton film itu, lalu memberi sugesti diri sendiri, ga ada apa-apa.

Ada dua karakter hantu yang diceritakan dalam film ini. Tiga orang hantu baik (Jensen, Peter dan Willliam) -  anak-anak bule londo yang meninggal ketika tentara Nippon datang ke Indonesia, menghabisi keluarga Belanda -  serta Mbak Asih (Shareefa Daanish) sebagai hantu jahat. Perkenalan Risa kecil dengan trio hantu itu sendiri dimulai ketika Risa yang kerap ditinggal ibunya,   Eli (Kinaryosih). Ketika berulang tahun ke-8 ia merapalkan doa agar dia tidak kesepian lagi. 

Doanya  terjawab dalam hitungan detik saja. Tidak lama setelahnya, Risa yang tinggal di rumah neneknya mendengar suara anak laki-laki yang menyanyikan bait lagu di atas tadi di salah satu ruang di lantai atas rumah beruansa kayu dan furnitur klasik. Suasana rumah yang temaram dan halaman yang luas dengan banyak pohon juga cukup memberi kesan angker. 

Akhirnya Risa menemukan trio anak-anak hantu itu dan segera bersahabat. Lagu itu juga yang jadi semacam kata sandi unttuk memanggil mereka jika ingin main bersama. Kalau boleh saya bilang, film yang diangkat dari kisah nyata ini dramatisasi ketakutannya lebih dominan dihasilkan dari tata musik yang muncul dalam beberapa adegan. Lebih mengagetkan bercampur mengesalkan. Bukan dari keterangahan para pemeran yang harus lari, bersembunyi atau kekagetan seperti yang ditunjukan oleh Ingrid Widjarnako sebagai neneknya Risa.

Sebagai perkenalan, tata suara  yang memprovokasi rasa takut bolehlah hadir sebagai pengiring kemuculan Jensen cs. Beberapa penonton yang duduknya satu deret di depan saya malah sejak awal film diputar sudah menyiapkan jaket untuk menutupi muka. Saya? Udah siap aja narik ujung pashmina kalau ada penampakan yang nyeremin.  Namun di beberapa bagian lain, tata suara seramnya rasanya berlebihan.

Kedekatan Risa dengan para hantu ini terendus oleh Eli yang mengundang orang pintar, Abah Asep (Jose Rizal Manua) yang awet tua untuk 'mengobati' Risa. Saya bilang awet tua karena ketika Risa kecil dan remaja, wajahnya tetep gitu-gitu aja. Ga berubah. Sementara Eli  dalam pandangan saya terkesan datar dan kurang ekspresif sebagai ibu. 

Eli  akhirnya menyadari jika Risa adalah seorang anak indigo, punya kepekaan merasakan mahluk dan dunia lain. Itu juga yang dikatakan Abah Asep setelah membukakan mata batin Risa.

Dalam adegan ini juga saya yang belum baca novel true story,  Danur yang ditulis oleh Risa Sarasawati jadi tahu apa arti Danur.  Danur adalah sesuatu hal yang hanya bisa dirasakan oleh anak-anak seperti Risa. 

Kalau lagu tadi jadi sandi untuk memanggil Jensen cs, lain ceritanya dengan sosok Mbak Asih (Shareefa Danish). Risa remaja (Prilly Latuconsina) dan adiknya Riri (Sandrina Michelle)  yang kembali lagi ke rumah neneknya, menenami sang nenek (Ingrid Wdjarnako) yang sedang sakit, bergantian dengan sepupunya Andri (Indra Brotolaras) menunggu perawat yang akan dikirim oleh Tante Tina.  Di sinilah ekspresi datar yang ditunjukkan Shareefa Daanish 
, nyanyian-nyanyian yang membangkitkan bulu kuduk yang sesungguhnya mulai mengintimadasi penonton. Tentu saja selain meneror Risa, Andri dan Nenek dengan kemunculannya yang tiba-tiba. 

Boneka kesayangan Riri juga mengingatkan saya dengan karkter boneka hantu yang pernah saya tonton di serial Friday The 13th. Bukan lucu atau menggemaskan tapi malah bikin ga mau pegang. Pada bagian bagian seperti inilah tata suara menurut saya efektif menguatkan kesan seram dalam film berdurasi sepanjang 78 menit itu. Durasi yang cukup mendebarkan jantung bagi yang jarang nonton film hantu.

Saya kasihan sama nenek untuk dua alasan. Alasan pertama adalah ekspresi ketakutan yang ditunjukkannya saban Mbak Asih datang. Alasan yang kedua adalah kostum yang dipakai nenek juga dandanannya. Daster putih polos, riasan dan rambut panjang yang tergerai bikin penampilan nenek enggak kalah nyereminnya dengan Asih.  Sekilas mengingatkan sosok hantu-hantu wanita di film Indonesia yang jadul semacam Suketi yang identik dengan aktris Suzana. Kenapa ga dikasih baju batik, kebaya atau lainnya yang lebih cocok, ya? Namun di luar itu,  peran yang dimainkan Ingrid tanpa kata-katanya itu sukses lho menularkan ketakutan pada penonton. 

Walau nyeremin dengan wajah dingin dan kadang rautnya berubah layaknya hantu-hantu ala Indonesia (saya sempat dua kali nutupin muka ketika Mba Asih meneror Risa), ada adegan yang bikin saya pengen ketawa. Entahah, kok saya malah mengaosiasikan gesture dan ekspresinya Mbak Asih itu kayak pose manequin challenge dan boomerang yang lagi trending di media sosial. 

Dalam salah satu adegan ketika Risa sedang salat, Mbak Asih masih bisa cuek melenggang ga jauh dari Risa.  Sepanjang yang saya ingat, dalam film-film hantu ala Indonesia, mestinya Asih merasa tidak nyaman atau kepanasan kalau ada yang sedang salat atau melakukan ritual lainnya. Kebiasaan hantu-hantu dalam film indonesia lainnya yang berani muncul di malam hari saja pun dipatahkan oleh film Danur. Trio Jensen, William dan Peter serta Asih berani muncul pada siang hari. Di sisi lain, anak-anak yang masih polos masih jadi  objek utama bagi para hantu untuk menunjukkan keberadaanya.

Dibanding film yang dibintangi Prily sebelumnya, saya lebih suka menyaksikan aktingnya di film ini. Lebih mature dan natural. Misalnya saja ketika kengerian dan kesedihan yang dirasakannya ketika menyaksikan Asih memeluk Riri yang terlelap di bathub. Di bagian ini saya ngintip dari sela-sela jari, saking seremnya.

Jika bagi Risa dan ketiga temannya menyanyikan lagu abi teh gaduh boneka sebagai sandi untuk memanggil, saya masih belum memahami makna lagu itu bagi Asih karena masing-masing dari mereka punya kepentingan berbeda. Mungkinkah Asih mendompleng sandi itu untuk mengincar Riri, ya? Aroma permusuhan antara mereka di masa lalu kurang tergambarkan dengan jelas di sini walaupun sebelumnya Risa sudah diberitahu kalau Asih adalah sosok hantu jahat.  

Setelah nonton film Danur, mungkin yang suka menyanyikan lagu abi teh gaduh boneka untuk meninabobokan anak, akan berpikir ulang. Lagu biasa itu jadi terdengar mistis. Mungkin bukan cuma malam hari saja tapi juga di siang hari. 

Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

36 komentar:

  1. hahahha aku juga liat trailernya merinding dengerin lagu itu teh Efi :p beraniaan ih nontonnya aku ga berani mending baca bukunya aja deh hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pas awal-awal duduk di studio dan film ini akan diputar pun aku masih deg-degan. Serem-serem gimana gitu.

      Hapus
  2. Shareefa Danish itu wajahnya unik. Kalo datar bisa jadi bengis atau menyeramkan. Aku sebenarnya penasaran sama film ini. Pengen nonton tapi takut kalo pas di rumah sendirian jadi kebayang-bayang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ya. Meranin Psikopat atau karakter antagonis kayaknya cocok. Aku juga kadang masih suka kebayang. Cari kesibukan aja akhirnya biar teralihkan.

      Hapus
  3. Sebenarnya cerita lagunya itu tentang apa, mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cerita dari lagunya kayaknya biasa aja. Ga ada bau-bau mistisnya. Cuma efek dari film ini aja yang akhirnya ngasih kesan horor.

      Hapus
  4. Udah lama gak liat akting Shareefa Danish, keren laaah dulu di Rumah Dara aja keren banget.

    Aku seneng film Danur ini kayaknya sukses keluar dari image film horor Indo yang gitu-gitu aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya lumayan agak keluar dari pakem film hantu Indonesia biasanya. Cuma efek nyeremin sesudahnya ga bisa ilang :D

      Hapus
  5. Jadi inget sama salah satu drama Korea yang aku tonton, teh..
    Judulnya Master's Sun.

    Persis.
    Ada anak yang sering ditinggal ibunya kerja. Sekali ibunya pulang, nuntut anaknya buat perfect. Padahal anaknya masih sekitaran SD kelas 3 gitu.
    Mau perfect gimana coba..?

    Kalo gak suka, Ibunya bakal mukul anaknya pake payung sampe babak belur dan dikurung di lemari trus lemarinya dikunci.


    Anaknya stres dan akhirnya berteman sama hantu anak-anak, 3 orang.

    Persis kan yaa, teh?

    Berarti sejarah itu berulang di mana-mana.
    *naha jadi ngomongin sejarah?!?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah gitu ya? Ini kisah nyata yang diangkat dari pengalaman Risa Saraswati. Belum baca bukunya sih. Tapi katanya hantu-hantu temennya Risa itu ikut menentukan alur filmnya. Tapi fenomena anak-anak yang kesepian ditinggal ibu itu emang banyak di mana-mana ya.

      Hapus
  6. Anak-anak saya lagi minta nonton film ini, saya nya masih mikir..sieeunn..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anaknya ngebet emaknya ogah, ya hehehe. Temen-temenku juga pada gitu. Akhirnya cuma nganterin aja tapi ga ikutan nonton. Nunggu sambil ngemall.

      Hapus
  7. Aduh aku baru dengar soundtrack sama iklannya di tv sudah nggak berani, Teh. Serem banget tapi aslinya aku penasaran pengen nonton abis baca tulisan ini. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayi jadi maju mundur antara takut tapi penasaran ya? :)

      Hapus
  8. Saya angkat tangan deh, mbak. Ga berani nonton. Hihihi... penakuut. Trailernya muncul waktu mau nonton beauty and the best. Itu juga saya ampir teriak saking ngerasa seremnya. Trus ada anak kecil yang minta pulang gara2 nonton trailer ini menjelang film Beauty and the Beast. Hehehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harusnya kalau mau nayangin trailer disesuaikan sama film yang akan tayang, ya. Aku juga kaget dan sebel pas pertama liat trailernya. Terus gimana si anak yang minta pulang itu? Jadi, ga?

      Hapus
  9. Ngga berani nontoooon.. males hahahah dirumah suka sendirian or berduaan raya doang, jadi skiiip XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan sampai kita jadi parno dan tersugesti bayangan sendiri ya.

      Hapus
  10. yang aku masih bingung ya hubungan Mbak Asih dan hantu Peter cs... kurang banget... durasinya juga cuma 1, 5 jaman kemarin... masih penasaran, padahal filmnya mah bagusss

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya,kan. Kurang tergambar di film ini. Kalau ada head to head antara Mbak Asih sama Peter dkk itu akan seru tapi mungkin efeknya lebih nyeremin.

      Hapus
  11. hiii...baca ini aja kok ya jadi serem, kayaknya mikir panjang deh kalo mau nonton filmnya, nonton yang bikin happy aja lah >_<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah tulisanku bikin takut? Duh maaf ya, Mak.

      Hapus
  12. kok saya malah jadi pengen beli bukunya daripada nonton ya, soalnya saya tipe yang lebih menikmati imaginasi saat membaca suatu paragraf hahahaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku malah ga pengen baca bukunya. Takut makin liar imajinasinya hehehe. Udah cukup liat filmnya aja.

      Hapus
  13. aw aw..teu janten ah fiiii
    syereeem

    BalasHapus
  14. waaaa aku gak suka film horror mba, penakut aslinya, hihihi, tapi kebayang nih, anak2ku malah yang pasti pengen nonton :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, para dedek emesh alah banyak yang suka film ini. Faktor Pril juga kayaknya.

      Hapus
  15. Thanks reviewnya Mba. Baru Ngeh kenapa saat pemutaran perdana film ini, sebagian bangku dibiarkan kosong. Ternyata untuk para hantu yang menginspirasi penulisnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya,katanya gitu, Mbak. Wallahualam.

      Hapus
  16. aku nggak mau nonton film indonesia yang horor.
    bisa kebayang2 dan bakalan takut kalau malem sendirian lagi.
    haha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Efek film horor Indonesia emang lebih lama kerasanya daripada film luar, ya.

      Hapus
  17. baru ngeh juga kenapa bangku bagian depan kok kosong, heeee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heuheu iya, katanya udah ada yang ngetag.

      Hapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.