Top Social

Bring world into Words

Moon Cake Story: Harmonis Yang Manis dari Dua Dunia

Senin, 27 Maret 2017
Saya termasuk orang yang percaya kalau sesuatu yang terjadi pasti ada alasannya, termasuk kalau bertemu dengan seseorang. Bisa jadi salah satu atau masing-masing  akan saling mengubah alur lembaran cerita keseharian kita.  Misalnya saja seperti pertemuan antara David (Morgan Oey) dan Asih (Bunga Citra Lestari) dalaam film Moon Cake Story.  Diantara berbagai joki three in one yang mengacungkan tawaran pemilik mobil agar lolos dari aturan kawasan three in one, David seorang pengusaha yang hari itu melintas meminta supir pribadinya  Pak Tri (Dedy Sutomo) untuk menepikan mobil dan membukakan pintu untuk Asih,  bersama anaknya Bimo.  


David yang sebelumnya mengeluhkan rasa kue bulan yang dicicipi tidak seenak buatan mendiang ibu dan istrinya tidak sempat ngobrol banyak dengan Asih karena keburuh ada razia satpol yang menyebabkan Asih kabur. Merasa punya hutang karena belum membayar upah Asih joki cantik yang terlihat cerdas dengan kacamatanya itu, David berusaha keras mencari tahu alamat Asih yang ternyata tinggal di perkampungan. 

Pertemuan demi pertemuan di antara keduanya semakin intens. David yang semasa kecilnya pernah mengalamai situasi hidup yang sulit seperti keluarga Asih meminta Asih untuk merintis usaha membuat kue bulan dengan memberikan resep dan cetakan kue peninggalan  ibunya.  Bagi David - yang sangat memuja dua orang mendiang yang dicintainya itu - Asih yang sudah menjanda itu tidak pantas hidup di jalanan. Keberaradaan David yang sering berkunjung mengusik perhatian orang-orang di sekitarnya dengan berbagai respon. 

Adegan Teatrikal & Potret Sosial 
Kalau sudah pernah menonton film-fim arahan Garin Nugroho biasanya selalu ada benang merah yang bisa kita simpulkan. Selain beberapa adegan bergaya teatrikal, film Moon Cake Story masih menyajikan ciri khas Garin  berupa fenomena sosial  di sekitar kita yang diangkat dalam filmnya. Kemiskinan masyarakat di pinggiran  kota, perbedaan status sosial, dan toleransi disajikan dengan apik. Salah satu yang saya suka ketika David yang divonis terkena penyakit Alzheimer mulai sering lupa meminta Asih kembali berdoa untuk arwah ibu dan istrinya, Asih bersedia menemaninya. Sementara David khusyuk berdoa, Asih duduk di belakang memberi kesempatan bagi David untuk berdoa lagi.Ngomong-ngomong soal alzheimer, reaksi penyakit ini bukan  cuma mengikis ingatan penderitanya saja tapi juga mengancam sistem organ tubuh lainnya.

Pencuri Perhatian

Siapa yang mencuri perhatian saya di film ini, ya?  Menurut saya, semuanya bermain dengan total. Kemunculan Mbok Tun yang suka ngomel dengan suara cempreng khasnya mengingatkan watak dengan nama yang sama di film Guru Bangsa: Tjokroaminoto

Totalitas yang dimainkan oleh para pemeran pendukung membuat film ini terasa hidup, lengkap dengan derai tawa dan keharuan yang bisa dirasakan penonton.  Salah satunya adalah ketika Sekar yang mati-matian menolak cinta Mang Saswi yang berprofesi sebagai badut hiburan. Dalam satu adegan akhirnya bersedia melukiskan gambar hati di pipi Mang Saswi menggunakan lipstik kesayangan. Adegan ini lumayan bikin saya mewek, lho.

Filosofi Kue Bulan dan Meja Makan

Ditengah kekhawatiran Aline (Dominique Diyose), kakak angkat David dan Achin Suk  - yang entah siapanya David dalam keluarga -  mengkhawatirkan kondisi kesehatannya, David merasakan kenyamanan saat berkumpul bersama dengan Asih. Di sisi lain, Sekar (Melati Zein), adiknya Asih yang centil,  kurang suka dengan keberadaan David. Hanya Bimo  yang walaupun bandel bisa lekas akrab dengan David menghabiskan waktu bersama.  Bersama keluarga Asih, David merasakan kembali kehangat keluarga meski tinggal di pinggiran kota yang kumuh.

David yang umur hidupnya tidak akan lama lagi tidak memedulikan kesehatannya, sangat meresapi filosofi kue bulan. Baginya kue bulan adalah tanda orang diberinya sangat spesial, meski hubungannya dengan Asih tidak  jelas -  tidak ada ungkapan secara eksplisit semacam I love you dan sejenisnya itu. 

Yang tidak kalah menarik juga tentang pentingnya arti meja makan dalam sebuah rumah. Saya ikut merasakan kenelangsaan ketika  meja yang sekian lama dirindukan Asih sepeninggal suaminya hanya bertahan sesaat ketika muncul gerombolan yang merusak meja tersebut.  Sama halnya bagi David, meja bukan sekadar pasangan kursi sebagai perabotan rumah tangga, tapi juga sebagai tempat untuk makan, berkumpul dan berdoa bersama keluarga.  Buat kita mungkin yang namanya meja biasa saja, tapi tidak bagi Asih juga David. Meja itu punya arti yang sangat penting untuk mengeratkan ikatan emosi di antara keluarga. Beruntunglah kalau masih punya rutinitas makan bersama keluarga dengan melingkari meja makan dan berdoa sebelum bersantap. 

Sepanjang film berdurasi sekitar 94 potret keberagaman antara berbagai suku (Sunda, Betawi, Maluku dan Tionghoa), status sosial  dan perbedaan agama tetap  konsisten menggambarkan berartinya setiap orang dalam kehidupan. Seperti yang disampaikan oleh Pak RT,  jika kita adalah siapa-siapa bagi orang lain.  

Sayang sekali kalau melewatkan film bagus ini dalam daftar kunjungan ke bioskop.



10 komentar on "Moon Cake Story: Harmonis Yang Manis dari Dua Dunia"
  1. Sukaa teh,, mau ah nonton spt nya jln cerita bgus mau liat endingnya gmn?

    BalasHapus
  2. Mupeng pengen nonton juga. Huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga udah nonton, ya. FIlm bagus gini soalnya.

      Hapus
  3. Sayang film ini muncul ketika joki 3 in 1 sudah ngga ada lagi di ganti sama ganjil genap...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya emang itu salah satu minusnya. Tapi inspirasi film ini emang pas liat fenomena joki 3 in 1 itu.

      Hapus
  4. Nambah lagi nih buat tontonan, hihi semoga suami mau diajakin nonton ini. Kok kayaknya tertarik banget deh sama film ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi makin banyak rekomendasi nonton ya.

      Hapus
  5. Filosofis meja makan dan Kue bulan...
    Jadi ingat film Pasir berbisik dan Cinta dalam sepotong Roti. Saya jadi membayangkan kedua film itu.
    Film-Film Garin Nugroho selalu bikin saya penasaran. Beda soalnya. Agak Idealis juga..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya emang. Garin sangat loyal dengan idealismenya. Sayangnya apresiasi penonton di Indonesia ga sepadan.

      Hapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.