Top Social

Bring world into Words

7 Alasan Film Cek Toko Sebelah Layak Tonton

Jumat, 06 Januari 2017
+: Kayaknya nih minggu lalu harga kecapnya ga segini 
-: Dari agennya emang naik, kalau ga percaya, cek  toko sebelah
+: Ya udah gapapa. Aku percaya. Lagi pula Aku males ngecek-ngecek toko sebelah toko  sebelah
- :  Harganya lebih mahal?
+ : Bukan, di toko sebelah ga boleh ngutang                                               
Familiar sama dialog mirip-mirip kayak di atas?  Obrolan yang biasanya akan kita dengar kalau belanja di toko-toko kelontongan.  Kurang lebih semacam itu lah. Coba nawar atau ngutang di mini atau supermarket, mana bisa. Ya, kan?

Beberapa baris pembuka postingan ini adalah penggalan dialog dalam scene awal film Cek Toko Sebelah yang disutradarai dan dibintangi oleh Ernest Prakasa.

Judul Film: Cek Toko Sebelah
Genre : Drama Komedi
Segmen Penonton: 13+
Durasi: 104 Menit
Sutradara: Ernest Prakasa
Produser: Chand Parwez Servia, Fiaz Servia
Penulis : Ernest Prakasa
Produksi : Starvision

Sudah nonton?  Belum?  Wah harus nonton lho. Sini, saya kasih 7 alasan kenapa harus nonton film ini.

Sudut pandang tentang rivalitas saudara

Film Cek Toko Sebelah bercerita tentang Koh Afuk (Chew Kin Wah) yang ingin Erwin (Ernest Prakasa) melanjutkan usaha toko kelontong alias sembako yang dulu dirintisnya bersama mendiang istrinya.  Saat Koh Afuk merasa Erwin paling pantas melanjutkan usahanya , Erwin dihadapkan pada pilihan masa depan karirnya yang cemerlang dan lebih menarik untuk menjadi seorang Brand Director yang berkantor di Singapura.

Di sisi lain, kakak Erwin, Yohan (Dion Wiyoko) jadi cemburu karena merasa dilangkahi. Yohan yang sehari-harinya berprofesi sebagai seorang fotografer wedding merasa dirinya lebih pantas melanjutkan usaha ayahnya namun ditampik oleh Koh Afuk dengan alasan yang menohok.

"Papa juga mau kok kasih toko ke kamu. Tapi kamu ngurus hidup sendiri aja belum bener. kamu cuma bertanggung jawab cuma sama satu  orang aja, Ayu.  kalau kamu ngurusin toko, kamu bertanggung jawab sama semua karyawan  papa"
Pernah mengalami situasi yang mirip seperti yang dialami Erwin dan Yohan? Mungkin dalam beberapa kasus, memang ada kecenderungan orang tua melimpahkan perhatian atau kasih sayang pada salah satu anak dibanding anak lainnya.  Sikap Yohan yang merasa 'disepelekan'  pun wajar saja. Selain faktor senioritas sebagai seorang Kakak, juga ada alasan lain berupa kedekatan Yohan dengan mendiang ibunya.

Setiap Yohan dan Ayu menziarahi makam ibunya atau ketika Yohan bersama Ayu sedang ngobrol adalah momen-momen yang paling bikin saya suka.  Kebanyakan bikin terenyuh. 



Profesionalitas

Terlepas dari alasan sentimentil Yohan terkait masa lalu saat toko dirintis, saya melihat Koh Afuk menilai Erwin lebih layak, karena punya kemampuan manjerial yang lebih baik dan rapi. Selain karirnya yang cemerlang, saat uji coba mengurus toko pun Erwin menawarkan konsep baru untuk mengelola pembukuan keuangan tokonya. Daripada ribet dengan akuntansi warung yang kadang suka ga sinkron untuk menyesuaikan catatan hutang pelanggan, Erwin menawarkan Koh Afuk menggunakan tablet untuk membuat laporan keuangan.

Siapa bilang sih, pengelolaan toko kelontong ga bisa profesional seperti di toko-toko modern macam mini market atau supermarket?


Begitu juga dengan Yohan yang masa depannya terkesan meragukan, sesungguhnya dibalik emosimya yang kerap meledak ia mempunyai kelebihan lain sebagai  suami yang baik dan siaga bagi istrinya.


Dukungan orang terdekat

Meski Yohan terbakar cemburu karena perhatian Koh Afuk pada Erwin, sesungguhnya Yohan seorang suami yang beruntung memiliki Ayu (Adinia Wirasti) seorang istri yang selalu support dan tidak banyak menuntut. Bahkan ketika bisnis katering kuenya semakin berkembang Ayu menuruti keinginan Yohan dengan konsekuensi impiannya harus tertunda.

Sementara Erwin yang punya masa depan karir yang cerah, selain dihadapkan pada dilema menuruti keinginan ayahnya, ia pun dibuat pusing dengan sikap Natali (Gisella Anastasia). Gadis cantik ini lebih menginginkan Erwin untuk menyongsong jenjang karirnya yang lebih menjanjikan, bukan menjadi seorang Koko yang ngurus toko sembako.


Kalau saya bilang sih hubungan antara Erwin dan Natali ini semacam judul lagu If Love is Blind. Natali yang ambisius dan egois sukses bikin saya sebel. Mungkin kalau saya jadi Erwin bakal nyuekin Natali yang ga mau ngertiin. Kok, jalan terus sama dia, sih? Kenapa ga nyari yang baik dan pengertian kayak Ayu? Gemessss....


Pesan utama film

Ada banyak pesan moral yang bisa kita dapatkan dari film ini. Selain keuletan dalam berusaha, tipikal khas dari orang-orang etnis Cina yang saya kenal sejak kecil, dari film ini kita juga diingatkan untuk menjaga baik-baik hubungan dengan orang tua.

Pesan yang sama  seperti yang disampaikan oleh Bu Sonya (Asri Welas), bosnya Erwin tentang pentingnya keluarga. Dengan suaranya dan logat yang khas, dan gaya ngomong yang lebay,  Bu Sonya  yang dulunya 'funky dan gaul abis' keukeuh mengajak Erwin juga karyawan lainnya menyanyikan lagu soundtrack serial Keluarga Cemara.

Harta yang berharga adalah keluarga.....
*Pukpuk Bu Sonya* Erwin dan teman-temannya ternyata pada katro, Bu. Mereka ga mudeng sama serial tv yang pernah ngehits. Terlalu emang.

Tentang pentingnya keluarga yang jadi pesan utama dari film ini juga tersirat dalam  bagian lainnya. Misanya ketika Aming  (Edward Suhadi) yang sedang berjudi merasa kesal dan ngomelin ibunya, Vincent (Abdur Arsyad) mengingatkan Aming yang juga doyan ngemil tapi bercita-cita langsing ini untuk menjaga nada bicaranya.


Pesan Moral lainnya

Yakin kalau toko sebelah yang jenis usahanya sama itu selamanya akan jadi rival? Di film ini kita bisa mendapat pesan moral lainnya selain tentang keluarga.
 
Persaingan toko dengan produk sejenis, tidak selamanya menjadikan toko sebelah adalah pesaing. Selain cinta yang bersemi sesama karyawan beda toko antara Tini (Arafah Rianti) dengan Kuncoro (Dodit), dalam keadaan tertentu Koh Afuk dan Pak Nandar (Budi Dalton) pemilik toko sebelah harus bekerjasama menolak bujukan Pak Robert (Tora Sudiro) yang keukueh ingin membeli toko mereka. Sesekali kita harus 'berdamai' dengan kompetitor untuk kepentingan bersama.

Ada yang merhatiin ga, makna dari obrolan pelanggan Koh Afuk yang saya kutip di awal postingan? Meski konsep toko kelontongan kalah modern dengan aneka mart atau swalayan lainnya, menjaga loyalitas pelanggan itu bukan sesuatu yang mudah lho. Kalau masih suka belanja ke pasar tradisional, kayaknya kita pasti punya deh minimal satu lapak yang selalu kita datangi untuk membeli sayur atau keperlua rumah tangga lainnya, meski ada toko atau lapak lainnya dengan jenis usaha atau komoditas sejenis. Ga ada lapak langganan? Masa sih?


Di sisi lain ketika profesi Yohan sebagai fotografer yang katanya belum sukses, sebenarnya dia sudah memegang prinsip klien adalah raja.

Kombinasi drama - komedi yang bikin gagal mewek


Film bergenre Drama - Komedi ini punya muatan komedi yang dominan dibanding dramanya. Didukung para komika Stand Up Comedy ( Arief Didu, Dodit, Yuda keling, Arafah Rianti dkk) film Cek Toko Sebelah ini seakan-akan tidak mengizinkan penontonnya terharu berlama-lama.

Sepanjang 104 menit ini, meski gagal nangis, penonton akan tetap dibuat berderai air mata berkat kelucuan-kelucuan yang mengalir secara alami. Saban ada adegan yang mengharukan, akan disusul oleh adengan lain yang memecahkan gelak tawa. Misalnya saja ketika dalam satu adegan, saat Yohan curhat di makam mamanya disusul dengan scene perkenalan karyawan toko yang kocak. Sejak menit-menit awal, film dengan cameo spesial Kaesang Pangarep (putra Presiden Jokowi) ini memang sudah sukses menghadirkan gemuruh tawa di dalam ruangan studio sepanjang film diputar.


By the way, tomat itu termasuk sayur atau buah? Ada yang bisa jawab?


Aktor/Aktris dan adegan  terfavorit

Kalau ngikutin emosi sentimentil, saya akan menunjuk Ayu sebagai karakter panutan, istri idaman.  Ada karakter yang lucu tapi nyebelin kayak Dokter Cahyo yang dimainkan Arief Didu. Kalau saya jadi keluarga pasien bakal bete karena cerita-cerita garingnya rada nakut-nakutin. Masih untung sih daripada ketemu dokter yang judes, misalnya.

Karakter-karakter lainnya yang ada di film ini, baik porsi peran sedikit atau banyak kalau saya lihat bermain total terutama dari segi kemampuan mereka mengocok perut penonton. Selamat bingung memilih aktor atau aktris favorit. 

Ada satu momen yang paling bikin saya melting, yaitu  ketika Yohan sedang bersama Koh Afuk, ditambah lagi dengan latar lagu yang feelnya ngena banget ( The Overtunes - I Still Love You ). Adegan ini juga nyaris bikin saya nangis, tapi lagi-lagi gagal karena... *ilang sinyal*



Tapi....

Kalau memerhatikan label film ini dengan batasan usia 13+ itu artinya aman ngajak anak, keponakan atau anggota keluarga lainnya yang masih ABG. Banyolannya masih aman, ga bikin risih. Meski memang ada karakter Naryo (Yusril Fahriza) yang kemayu dan merasa dirinya seorang perempuan atau tatapan melongo para karyawan toko ketika melihat seorang perempuan berpakaian seksi atau pelecehan seksual yang dilakukan Robert terhadap sekretarisnya.

Andai Erwin dan Natali ngobrolnya ga dicampur pake bahasa Inggris pun, gregetnya film ini ga akan berkurang lho, Nest. Mungkin akan lebih ngena kalau dialog berbahasa Inggris ini muncul ketika Erwin lagi memghadapi wawancara untuk tempat kerja barunya di Singapura (di film ini sih ga dimunculkan sesi wawancaranya itu).


Terus...?

Kalau saya ceritain yang lainnya, ya ga rame dong. Mending nonton film ini aja! Kira-kira yang akhirnya ngurus toko siapa, ya? Gimana dengan karir Erwin dan hubungannya dengan Natali atau Yohan kakaknya yang sempat meruncing? Ya udah, cus aja ke bioskop nonton film ini. Ga rugi jadi pelanggan tokonya Koh Afuk. Selain ketemu Kokoh yang cucok macam Erwin, melihat kelakuan karyawan toko di sini bakal jadi hiburan tersendiri. Ga usah pake cek studio sebelah untuk memilih dan menhitung kancing, film apa yang akan ditonton :)


16 komentar on "7 Alasan Film Cek Toko Sebelah Layak Tonton"
  1. keknya kocak y mba ef :D liat cuplikanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kocak abis sepanjang film, Mbak. Ayo nonton juga :)

      Hapus
  2. Kalo ada adinia wirasti si aku mangkat alias mauk hihi, soalnya untuk kategori actress acting dese termasuk mumpuni diantara yang lain teh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asiiik. Akting dia di film ini bikin aku kepincut lho, Nit. Buruan Cek Tokonya eh filmnya :)

      Hapus
  3. baca judulnya aja saya jadi mau belanja :D
    Jadi ingat seminar entreprenur beberapa waktu lalu, bahwa 'toko sebelah' gak bisa disebut pesaing, bisa jadi dialah guru untuk toko kita. Tuh, jadi pengen nonton kan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah lho makin mupeng nonton juga. Makanya buruan tonton ya Mbak :)

      Hapus
  4. Dari judulnya aja udah menarik banget ya. Pemainnya kece-kece, aku ngefans soalnya ama Kaesang. Dan emang kata cek ditoko sebelah ini gayanya kita banget..Mak suka nanya kalau aku ada beli sesuatu dari toko, "Dew, dah kamu cek toh ke toko sebelah?" :D pasti itu ha ha ha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe.... perempuan banget, selisi harga pasti dikejar ya, mbak :)

      Hapus
  5. Tomat itu buah, Teh. Buah tulen dia :D

    Setujuuu filmnya kocaaak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi kaaaan tomat itu suka kita pake buat masak, Va :D

      Hapus
  6. Ini FAVORIT akohh, teh! HEhehe sumpaah keren abis. Ceritanya apik, angkat masalah klasik yang dialami keluarga Chinese. Pas kayak teman Mama, anaknya kuliah di Sidney, pulang kuliah jaga toko.
    Ernest pun pintar memilih komika :D
    Top abis dah!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa Ran, komedinya ga slapstick. Jadinya enjoy nontonnya, meski dalam beberapa hal ada kekurangan tapi overall menghibur lah.

      Hapus
  7. Aku belum nonton film ini teh, sepertinya seru banget ya teh. Nonton ah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tontonable kok, Lis. Ajakin pak suami atau temen nonton, ya. Dijamin ngakak sepanjang film.

      Hapus
  8. Banyak bangeeet yang bilang film ini bagus Mba Efi.. Aku blum sempet nonton nih hiks.. Baca review ini jd makin pingin nonton.. Masih ada gak ya di 21 wiken ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sampai hari ini pas aku balasin komen sih masih ada, Dita. Ayo ke bioskop jangan sampai keburu turun layar.

      Hapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.