Top Social

Bring world into Words

10 Mitos Seputar Diabetes

Jumat, 28 Februari 2014

Yang namanya mitos tidak musti harus berhubungan dengan yang namanya klenik. Untuk soal medis  ada juga mitos yang beredar di masyarakat dan mungkin kita sendiri enggak ngeh soal ini. Tahu dong tagline sebuah iklan gula rendah kalori, 'manisnya hidup kita yang tentukan'. Yup, manisnya tubuh sehat itu emang anugerah dari Allah.  

 Soal yang manis-manis siapa yang enggak kenal Diabetes? Penyakit yang jadi penyebab kematian tertinggi setelah jantung dan stroke ini ternyata punya banyak mitos yang mungkin enggak kita sadari. Apalagi penyakit yang satu ini bukan mengancam target dengan usia sepuh saja. Yang masih muda juga bisa kena, lho.  So, posting kali ini saya mau sharing hasil dari paparan materi kesehatan yang saya simak minggu kemarin dari  Rizky Perdana, seorang dosen FK Unisba yang juga anggota salah Tim Penjemput Kematian Khusnul Khotimah di yayasan Percikan Iman.

10 Mitos Seputar Diabetes
courtesy : www.zelenaplus.com
Nih dia 10 mitos yang perlu kita kenali.

1.    Diturunkan menyilang dari ibu ke anak laki-laki dan sebaliknya.
Ternyata tidak. Jadi misalnya seorang ibu menyandang diabetes, maka yang beresiko bukan anaknya yang laki laki saja. Kalau seorang ibu menyandang penyakit ini, maka anaknya yang prempuan juga punya peluang sama untuk terkena. Begitu juga sebaliknya kalau seorang ayah mengalami hal yang sama. Jadi,  beware dan abaikan saja mitos ini, ya!


2.    Diabetes penyakitnya orang tua
Betulkah? Ternyata tidak juga. Waktu saya kerja di SD, seorang rekan guru  teman saya mengalami ini saya hamil usia puteranya yang kedua. Itu artinya waktu usianya 30an sudah terkena. Istilah kedokterannya adalah MODY alias Maturity Onset Diabetes of the young. Buat yang masih muda dan berprinsip woles dan main  terabas dan hajar yang manis manis, hey... red alert! Sekarang kendalikan, ya. Apalagi kalau riwayat keluarganya punya sejarah diabetes. Disarankan juga untuk yang memasuki usia 35 tahunan mulai menjalani cek darah secara berkala (ini artinya saya juga harus memberanikan diri untuk itu :D). Perhatikan juga dengan berat badan. Coba browsing cara menghitung index masa tubuh. Sebagai catatan, gunakan patokan asia pasifik, ya. Bukan standar internasional. Mengingat postur tubuh orang Indonesia tidak sebongsor para bule. Jadi, batasan normalnya adalah dibawah angka 25. Ini cuma salah satu ukuran saja.  

3.    Sering makan manis bisa bikin diabetes.
Masih berhubungan dengan poin di atas. Memang bisa mengundang resiko lebih gede kalau asupan gula atau karbihidratnya berlebih, tapi setiap orang punya kadar kebutuhan yang berbeda. 

4.    Penyandang diabetes tidak boleh makan karbohidrat atau gula.
Siapa bilang? Bukan pantangan kok. Yang benar itu bukan mantang alias tidak mengonsumsi sama sekali, tapi diatur. Makanya mereka yang sudah terkena diabetes ini,  asupan konsumsinya ditakar. Pengalaman teman saya tadi, justru dengan mantangnya dia sama nasi, kompensasinya sama makanan lain tidak berefek positif, malah bikin dia pusing dan keluhannya jadi terasa.

5.    Penyakit Diabetes bisa sembuh.
Sayangnya,  belum ada obat yang menyembuhkan.  But anyway, meskipun harus isandang seumur hidup, everything flow normally, asal konsisten dengan aturan main. Ingat ya, diatur, bukan dipantang.

6.    Obat tradisional lebih baik.
Nah, ini dia. Bukan menafikan kemampuan obat herbal. As we knows previously, belum ditemukan kasus seorang penyandang diabetes bisa sembuh 100%.  Secara yang namanya kadar  gula darah harus dikontrol, bukan berarti dengan herbal jadi modus buat menghajar makanan yang tadi itu harusdibatasi. Malah dalam beberapa kasus, dengan  makan obat tradisional pola makannya jadi tidak terkontrol.  Well, seperti juga obat kimia lainnya, yang namanya obat ada cocok-cocokan. Kalau dengan herbal ternyata tidak ada perubahan, berarti memang enggak cocok. Jadi, konsultasikan dengan dokter apapun keluhannya. Just be frankly, karena dokter bukan mesin pemindai kejujuran yang serba tahu. Resep yang dituliskan dokter ini berdasarkan keluhan dari pasien. Biasanya kita suka sotoy alias sok tahu. Jangan membohongi dokter, karena ternyata yang rugi itu kita sendiri.  

7.    Diabetes bikin penyandangnya merana seumur hidup.
Bukan sadis, ya. tapi sekali lagi perlu digaris bawahi diabetes ini akan disandang seumur hidup, tapi bukan berarti jadi tidak bisa beraktifitas secara normal.  So, mulailah berdamai dengan tubuh dan disiplin untuk pola hidup termasuk pola makan. Pengobatan memang ada banyak macam  yang dijalani pasien, tapi bukan selalu berarti parah. Ini lebih ditujukan untuk menurunkan ke batas optimal.

8.    Pengguna insulin berarti penyakitnya sudah parah.
Ini yang harus diluruskan. Tidak semua pengguna insulin sudah parah. Misalnya untuk penyandang diabetes  tipe 1, dimana pankreas memang tidak bisa memproduksi insulin. Padahal insulin ini  ‘bahan’ utama untuk mengolah gula sebelum diedarkan ke seluruh organ tubuh. Malah  rujukan dari dokter-dokter di Eropa lebih suka pake insulin daripada oral. 
10 Mitos Seputar Diabetes
Courtesy : www.tuvie.com

9.    Terlalu banyak aturan.
Sebenarnya ini adalah soal adaptasi. Awalnya memang begitu, tapi kalau sudah terbiasa, semuanya akan berjalan normal.

10. Selama ada obat, jadi bebas makan.
Nah ini modus yang sering jadi dalih main hajar makanan. Tubuh kita punya ambang batas untuk menyerap asupan makanan.  Alih alih yng sakit, yang normal kalau asupan makanan apapun berlebihan, tetep aja efeknya enggak baik. 

 Kalau mau menyimak paparan lebih lengkap paparannya bisa download di sini. Legal kok, jadi jangan khawatir, ya.
 



6 komentar on "10 Mitos Seputar Diabetes"
  1. wah, info yg bagus nih..
    oya adakah grup diabetasi agar memudahkan tuk share seputar penyakit ini?

    BalasHapus
  2. Errr aku kurang tau mak soal grup ini. Maksudnya grup offline atau online seperti FB? Coba digoogling aja, mak. :D

    BalasHapus
  3. Makasih infonya ya... menarik :)

    BalasHapus
  4. Oh begitu ya, jadi walaupun masih muda harus tetap disiplin mengatur pola makan, jangan berlebihan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak faktor pencetusnya, Vi. Pola makan cuma salah satunya aja :D

      Hapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.