Top Social

Bring world into Words

Mengoreksi Kembali Gaya Hidup dan Rasa Bahasa

Sabtu, 29 April 2017
Apa sih, penyakit nomor satu yang mematikan di dunia? Kita mengenal  Aids sebagai salah satu penyakit mematikan di dunia. Namun dari hasil penelitian, ternyata terjadi pergeseran persentase penyebab penyakit mematikan antara penyakit menular dan penyakit tidak menular.  Pada tahun 1990 perbandingan antara penyakit menular dan penyakit tidak menular adalah sebesar 56% untuk penyakit menular, 37% disebabkan penyakit tidak menular dan sisanya sebesar 7% terjadi karena cedera.
Foto: pribadi
 Namun dalam selang waktu 25 tahun, persentase penyebab kematian yang diakibatkan oleh penyakit tidak menular mengalami kenaikan yang signifikan. Dari data yang dirilis oleh WHO, ternyata pencetus kematian yang dikarenakan penyakit tidak menular menyumbang angka sebesar 57%,  30%  oleh penyakit menular dan sisanya  13% dikarenakan cedera.
http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/media-kit/20170421/1520574/temu-blogger-kesehatan-jawa-barat-2017/
Tingginya kesadaran masyarakat untuk mengantisipasi risiko terkena penyakit menular ternyata tidak dimbangi oleh kesadaran untuk menjaga kesehatan agar terbebas dari risiko penyakit tidak menular. Kok bisa, ya?  Gaya hidup modern sekarang ternyata jadi salah satu penyebabnya. Itu yang saya dapatkan ketika mengikuti acara Urang Bandung Dukung Germas yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan di hotel Savoy Homann, pada 21 April 2017. Bersama 20 blogger Bandung dan 15 blogger Jawa Barat lainnya, saya mendapatkan pencerahan untuk mengoreksi lagi gaya hidup yang selama ini berisiko.Apalagi  umur saya udah ga muda lagi, lho. .
Tanya jawab blogger dengan narsum Foto: pribadi
Dalam paparan yang disampaikan oleh nara sumber drg Oscar Primadi MPH, Kepala Biro Komunikasi Pelayanan Masyarakat, Indra Rizon, Kepala Bagian Hubungan Media dan Lembaga Kemenkes RI,dan Uus Sukmana, Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, disampaikan beberapa contoh gaya hidup yang bisa menyebabkan timbulnya penyakit degeneratif. Misalnya saja stroke,diabetes, darah tinggi, paru-paru bahkan diare yang juga bisa menyebabkan kematian. Penyakit-penyakit ini umumnya timbul karena :
  • Jarang bergerak/beraktivitas/malas
  • Kurangnya makan makan berserat (buah dan sayur)
  • Minum minuman bersoda
http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/media-kit/20170421/1520574/temu-blogger-kesehatan-jawa-barat-2017/
Dari penyebab di atas, yang paling mudah saya hindari minum-minuman bersoda. Dalam sebulan belum tentu saya minum minuman ini. Pernah juga kecele waktu nonton di bioskop. Waktu itu, saya lapar dan haus berat. Akhirnya memutuskan untuk membeli paket pop corn dan minuman dari pramuniaga yang wara-wiri di dalam studio beberapa saat sebelum film diputar. Eh,  dasar, Saya lupa minta minuman teh (biasanya ada dua pilihan, soda atau teh). Saya terima aja  waktu dikasih minuman dalam gelas ukuran kecil. Oalah, begitu diseruput rasanya ga enak banget di tenggorokan. Ternyata isinya soda. -_-.  

Sebenarnya untuk makan makanan berserat, bukan hal yang sulit bagi saya. Bahkan kalau lagi ada jamuan atau makan di luar nemu salad, saya bakal  mendahulukan salad buah atau sayur.  Selalu begitu. Rasanya sudah seperti ritual wajib saja. Sedangkan kalau di rumah, kebanyakan pas lagi inget  :).  Lebih suka beli buah di tukang buah potong, karena porsinya pas, ga mubazir.  Memang sih, lebih murah kalau beli banyak satu buah/per kilo. Sayangnya suka bersisa dan berakhir di tempat sampah. Sayang banget, kan? 
sebenarnya kurang banyak porsi buahnya, nih :) Foto: pribadi
Beberapa waktu lalu saya sempat menjalani diet food combining (FC),  memulai hari dengan minum air lemon dan sarapan dengan buah. Barulah setelah jamnya makan siang saya makan biasa sampai malam. Memang bener kok, waktu itu saya merasa sehat, lebih bugar dan ehm... wajah terlihat lebih segar. Sekarang, terlalu lama cheating susah rasanya mau balik lagi menjalani pola mana ala FC.
Salad... yummy.... Foto: pribadi
Kalaupun saya enggak bisa diet ala-ala FC itu kembali, setidaknya porsi makan sayur dan buahnya nih yang harus ditambah lagi. Kalau dibilang mahal sih enggak juga. Tergantung buah dan sayur apa yang akan kita konsumsi dan bagaimana memvariasikannya.  Ya, biar enggak bosen lah.  Makanya kalau ada kesempatan nemu buah dan sayur, sayang sekali kalau dilewatkan. Lagi pula buah-buahan lokal  selain murah juga lebih segar  dan sehat karena  bebas dari pengawet . Misalnya saja apel lokal yang bebas dari wax/lilin yang biasa digunakan untuk mengawetkan apel impor agar tidak cepat rusak.
Pisang lokal juga ga kalah bagus kualitasnya dan pasti menyehatkan juga. Foto: pribadi
PR terbesar alias nomor satu buat saya adalah olahraga.  Pernah terbersit keinginan untuk lari pagi ke gor Pajajaran, lari-lari kecil dengan porsi waktu/putaran yang pas dengan kemampuan. Sayangnya masih dalam rencana. Niatnya yang kurang banget  :).

Tapi ada kabar baiknya juga kalau ternyata belum sempat berolahraga. Aktivitas fisik lain seperti jalan kaki,  naik tangga datipada menggunakn lift/eskalator atau melakukan pekerjaan rumah juga ternyata bisa kita lakukan untuk mengurangi risiko terkena penyakit tidak menular itu tadi.  Hayooo,  masih malas dan nyari alasan buat enggak bergerak?

Walau tidak menular, penyakit degenaratif ini  bisa disebut 'silent killer'.  Kebanyakan orang merasa baik-baik saja tapi begitu diperiksa ternyata sudah sampai kondisi siaga. Penyebabnya ya karena cuek atau tidak mau memperbaiki gaya hidupnya.

Di tengah paparan materi hari itu, kami diajak untuk bergerak, semacam senam ringan untuk melakukan peregangan.
Foto: Mbak Wawa
Dari layar di sisi kanan dan kiri panggung acara, saya dan teman-teman blogger mengikuti beberapa gerakan selama kurang lebih 5 menit. Aktivitas yang sama juga kami ulangi pada sore hari. Aktivitas peregangan ini juga jadi aktivitas harian yang dilakukan oleh jajaran pejabat dan staf serta karyawan di kementerian kesehatan.  Gerakan peregangan yang ringan ini bisa dilakukan kapan saja dan oleh siapa saja.  Tentu saja,  untuk tempat dikondisikan kan, ya.  
Gerakan Masyarakat  Hidup Sehat (Germas) yang dikampanyekan oleh Kementerian Kesehatan adalah suatu tindakan yang sistematis dan terencana yang dilakukan oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan, dan kemampuan berperilaku hidup sehat untuk meningkatkan kualitas hidup.
Kita garis bawahi kualitas hidup. Kalau sudah sakit, produktivitas akan menurun, pekerjaan yang harusnya selesai jadi terbengkalai dan mengganggu target-target yang ingin dicapai. Sayang sekali, kan?  Di sisi lain gaya hidup yang tidak sehat juga bisa membuat pos pengeluaran kita mengalami kebocoran karena ada pos tambahan untuk berobat.   Sehat itu murah, sakit itu mahal. Setuju?

Beberapa aktivitas hidup sehat yang bisa dilakukan agar kualitas hidup tetap terjaga antara lain adalah seperti yang digambarkan berikut:
http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/media-kit/20170421/1520574/temu-blogger-kesehatan-jawa-barat-2017/

Jangan lupa juga untuk melakukan tes kesehatan secara berkala.  Ini juga jadi PR besar dan masih banyak yang enggan menjalani. Adanya kekhawatiran  akan ada hasil yang bisa membuat parno adalah alasan yang paling umum kita dengar.
http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/media-kit/20170421/1520574/temu-blogger-kesehatan-jawa-barat-2017/
Padahal kalau sudah menjalani tes, kemungkinannya hanya ada dua. Bersyukur karena ternyata kekhawatiran tidak terjadi setelah hasil tes/pemeriksaan keluar. Sedangkan jika sebaliknya, bisa segera menegakan diagnosa untuk mengobati atau meminimalkan risiko yang mungkin akan muncul dari penyakit yang ditemukan. Saya sudah melalui tes  gula darah, tensi dan kolesterol beberapa waku lalu. Alhamdulillah, hasilnya  positif. Tapi tes lainnya belum, nih :)  

Selesai mendapatkan paparan seputar gaya hidup sehat, acara selanjutnya diisi oleh Anwar Natari, yang membahas rasa bahasa dalam gaya tulisan. Saya tergelak, sedikit tersentil juga ketika narsum yang akrab disapa Mas Awai ini memberikan contoh penggunaan diksi yang bis membingungkan atau mengaburkan makna.
Aanwar Natari, mengajak audiens mengoreksi rasa bahasa  biar ga salah paham. Foto: pribadi
Sebelum acara di Savoy Homann ini saya sudah pernah mengikuti  paparannya juga di acaranya Bloggerday bersama Blogger Crony. Bosen? Enggak juga, tetap asik, apalagi di sesi games parmainan kata. Apa yang ingin kita sampaikan ternyata belum tentu  pemahamannya sama dengan lawan bicara. Misalnya saja ketika mendeskripikan kata 'bingung',  saya dan teman-teman dalam kelompok meja yang sama tidak bisa sekaligus menerangkan kata bingung kepada teman yang ditunjuk sebagai penebak.

Begitu juga ketika muncul kata malu, deskripsi yang disampaikan bermacam-macam namun  pemahaman yang diterima oleh penebak ternyata tidak sama. Pengalaman setiap orang kan beda-beda. Bagi orang lain contoh kejadian yang memalukan belum tentu punya rasa yang sama buat yang lainnya. Kami sukses ngakak dibuatnya di sesi ini. Seru, deh.


Beberapa hal lain yang juga  bisa membuat komunikasi jadi masalah. Penggunaan tanda baca (dalam tulisan) atau latar belakang suku di mana pemakaian kata tertentu bisa menimbulkan penafsiran yang berbeda.  Kata kami dan kita misalnya.

Di daerah tertentu, kata 'kita' digunakan sebagai kata ganti orang pertama dalam bentuk jamak, punya arti yang sama dengan kami. Padahal di tempat lain,  kata kita umumnya dipahami sebagai kata ganti orang pertama yang melibatkan lawan bicara. Jika bertemu dengan orang lain yang pemahamannya berbeda, bukan tidak mungkin bisa menimbulkan salah paham. Kita?  Elu aja kali. Pernah dengar ungkapan ini,  kan?

Sementara untuk rasa tulisan, sebenarnya tidak masalah apakah kita akan menggunakan bahasa gaul, rada western atau bahasa Indonesia yang umum. Kalau  sudah mengenal segmen pembaca di blog misalnya, sudah tersegmen pada karakter atau usia tertentu, diksi yang digunakan tidak jadi masalah. Sementara itu penggunaan bahasa Indonesia yang umum dan sudah dikenal banyak orang bisa memperluas khalayak yang membaca blog.

Akhirnya semua keputusan kembali lagi pada diri kita sendiri untuk berkomunikasi dengan cara apa. Saya percaya kok, seperti juga genre film atau musik, setiap blog juga sudah punya pemirsa/pembacanya masing-masing. Iya, kan?
Foto: Mbak Wawa

2 komentar on "Mengoreksi Kembali Gaya Hidup dan Rasa Bahasa "
  1. Nah, aku masih takut-takut gimana gitu kalau cek kesehatan muehehe. Beuh itu penutupnya kece teh. Setiap blog punya pembaca/pemirsanya masing-masing. Blog aku mah sepi, harus diperbaiki :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama sih, Gilang. Aku juga masih maju mundur cantik (masa ganteng) buat tes kesehatan hehehe

      Hapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.