Doctor Strange: Ketika Dokter jadi Tukang Sihir

Doctor Strange: Ketika Dokter Jadi Tukang Sihir - Beberapa waktu yang lalu, (udah rada lama sih) saya  nonton film superhero: Suicide Squad di mana musuh-musuh Batman berkolaborasi dalam satu tim dan mendadak jadi pahlawan. Intinya mereka direkrut pemerintah untuk melawan musuh yang lain.

Film yang bagus, dan kepikiran buat nulis  di blog ini. Eh tapi keburu lupa dan turun layar :) Hitung-hitung menebus utang, sekarang deh saya cerita film tentang karakter superhero, Doctor Strange. Iya, film ini produksi tetangga sebelahnya DC Comics, which is produksinya Marvel Comics. Biarlah mereka bekerja keras, bersaing ketat membuktikan siapa yang jadi terbaik. Sebagai penonton kita mah bagian menikmatinya aja, setuju?
credit: imonline.com
Siang tadi cuacanya kebetulan cerah dan tanpa mikir panjang lagi saya memutuskan untuk nonton film ini, sendirian aja. Maksudnya ga bareng temen karena selalu berujung ga jadi. Ada aja alasannya. Waktunya ga cocok lah, sibuk ini itu lah atau paling apes, keburu udahan. Ya salah siapa coba? Mau nonton dientar-entarin mulu.

Hooooiiiii Efiiii mana ripyunya?

Oke-oke, ini ceritanya.

Doctor Stephen  Vincent Strange  (Benedict Cumberbatch) adalah seorang dokter ahli bedah syaraf yang cerdas, kapasitas memorinya yang luas dan cepat mengambil  keputusan tapi songongnya jitak-able. Dibalik itu ternyata sikapnya begitu itu dilakukan demi menutupi kecemasannya menghadapi kegagalan. 

Doktor yang punya casing (dih kayak hape aja) macho, smart, seksi dengan body tipikal penggiat fitness ini mendapat gelar  master yang bersamaan. Selain smart, dia juga arogan dan susah diomongin. Kalau katanya A ya A, ga mau jadi B.  Sialnya, pembawaannya yang suka keukeuh nan ngeyel selalu terbukti. Salah satunya ketika membedah pasien. Strange menempuh tindakan yang nekat dan sempat diprotes. Eh tapi dia berhasil mengangkat peluru dari kepala pasien hanya dalam hitungan kurang dari satu menit.

Meski nyebelinnya amit-amit dan picky kalau disodorin pasien, dia ini termasuk dokter yang menjunjung tinggi etika kedokteran. Sebisa mungkin nyawa pasien yang dia tangani harus selamat. Dalam beberapa adegan di film ini jadi ngingetin saya sama serial ER yang pernah saya tonton, errrr... belasan tahun silam *LOL*

Lalu sesuatu terjadi. Dalam sebuah perjalanan, Doctor Strange mengalami kecelakaan. Mobilnya terhempas beberapa kali, rusak parah. Sebelum akhirnya kecemplung ke dalam sungai eh apa pinggiran laut,  ya?

Adalah Christine Palmer (Rachel McAdams), koleganya sesama dokter yang segitunya perhatian dengan kondisi Strange. Kalau biasanya dokter ganteng yang potongan muka dan bodinya tipikal metrosexual ini selalu mulus menyelamatkan nyawa pasien tanpa cela, kali ini dia dihadapkan pada kondisi mengenaskan. Saat tersadar dia menemukan tangannya mengalami semacam semi lumpuh, kordinasi syarafnya tidak berjalan dengan baik seperti orang-orang normal.  Pas di scene ini saya mendapatkan moral story:
Kadang kita abai dengan pemberian Tuhan yang "gratis". Syukurilah nikmat Tuhan dengan kondisi tangan kita yang bisa leluasa bekerja dan melakukan ini itu.
Tidak tahan dengan keadaanya yang terasa menyedihan, Strange tidak betah menjalani terapi yang panjang dengan tingat kesuksesan yang minim. Di sini, terlihat Strange sebagai sosok Mr Perfectionis seperti frustasi. Ia  terancam dengan ketakutannya tadi: gagal

Dalam salah satu sesi terapi, ketika ngobrol meski sambil ngomel dan banyak ngeluh, Strange akhirnya menemukan harapan untuk kesembuhannya. Ia  berhasil menemukan Jonathan Pangborn, pasien yang pernah mengalami kelumpuhan permanen dan berhasil sembuh total. Dari Pangborn ini akhirnya Strange pergi ke Kathmandu, Nepal untuk mencari Kamar Taj, sebuah kuil tempat tinggalnya Sang Penyihir Agung alias The Ancient  One (Tilda Switon).
karakter The Ancient yang di film ini digabarkan sebagai sosok seorang perempuan
Di kuil ini Strange mengenal beberapa murid lainnya dari Sang Penyihir Agung, antara lain Karl Mordo (Chiewetel Erjiofor) yang kalau di versi komiknya merupakan musuh bebuyutan Strange. *lagi bosen kali ya jadi penjahat mulu :)*. Lalu ada Wong (Benedict Wong), yang doyan nongkrong di perpustakaan yang berisi koleksi-koleksi manuskrip kuno, kayak di film-film fantasi macam LOTR atau Harry Potter. 

Karena memang Strange ini smart luar biasa, dia cepat sekali menyerap ilmu dari buku-buku yang dibacanya, salah satunya adalah kitab Cagliostro.  Strange pula yang bisa memecahkan kode rahasia yang tersirat dari kitab itu. Kalau Jubah terbang (semacam jubah yang suka dipake mentalis Deddy Corbuzier itu lho) bisa berubah wujud jadi manusia, mungkin  bisa dibilang naksir berat juga sama sosok Strange ini. O iya, jubah terbang yang merah warnanya ini adalah properti sihir yang ada di kuil Kamar Taj.
credit: plarko.com

Strange juga ternyata sangat piawai mengendalikan Mata Agliomoto, semacam jimat yang penampakannya bikin saya inget sama novel/film Dan Brown tentang iluminati. Sejak Vincent Strange masuk ke kuil ini kita memang akan dimanjakan printillan yang berbau fantasi dan sihir seperti kekuatan proyeksi astral, yang sering muncul di scene-scene berikutnya. 

Mordo dan Sang Penyihir alias  The Ancient One  pun terpana. Segitu cepatnya Strange beradaptasi. Gara-gara iseng dan penasarannya yang tinggi itu lah, Strange terseret dalam 'pertempuran' dengan murid Sang Penyihir yang membangkang, Kaecilius (Mad Mikkelsen) dan Dormamu (entah siapa yang menyulih suaranya), sosok yang wujudnya hanya tampil dalam bentuk muka yang samar, sebagai antagonis yang sangat berambisi menguasai dunia.

Kalau ditanya soal efek visual udah deh ya film-film produsi hollywood ini emang mastahnya. Keren. Selain hologram yang berpendar dengan percikan api yang bisa jadi pintu pembuka dimensi ruang dan waktu, di film iin juga penonton akan dibuat terpesona ketika para karakter di sini asik bak bik buk berantem di antara gedung-gedung yang bisa melenting, menciut, melipat seperti laci atau tiba-tiba beputar seperti bergerigi, sebelum kembali dalam keadaan semula. Sementara  mereka asik berantem, dalam beberapa scene orang-orang di sekitar seperti tidak terpengaruh dengan apa yang terjadi (kecuali ketika Sang Penyihir Utama ini terjatuh dari langit dan ambruk di trotoar. Itu pun orang-orang cuma heboh sesaat, tidak panik padahal penduduk dunia sedang terancam.

Di awal film saya sempat dibuat mbulet, asli pusing dengan istilah kedokteran yang apalah apalah itu tadi.  Daripada pusig ngapalin (halah) mendingan  enjoy aja mengkuti alur film selama 114 menit ini sampai selesai. 

Ngantuk? enggak tuh. Selain memang trik visual yang keren, beberapa dialog dalam film ini juga disisipi banyolan Strange dan kawan-kawan.Kadang ada yang rada garing juga sih. Misalnya  waktu Strange ngajak Wong bercanda dengan menyebut nama-nama penyanyi semacam Eminem, Adelle, atau Beyonce. Tapi yang paling epik si pas dialog si Strange sama Dormamu itu. Sampai-sapai Dormamu dibuat kzl, alias kesel. 

Di awal film diinformasikan sebagai film untuk dewasa (17 tahun ke atas). But anyway,  film ini relatif aman ditonton. Ga ada adegan yang bikin penonton yang harus memalingkan atau menutup muka, kecuali ketika ada adegan Palmer mencium Strange. Segitu aja. 

Dibanding film-film superhero lain, sentuhan yang romantis di film ini terasa kurang. Buat saya lho. Waktu lihat Palmer dan Vincent barengan aja chemistrnya terasa kurang greget. Palmer kayak masih segan, sementara  si Strange serupa  sama namanya. Dia mah aneh. 

Di luar adegan berantemnya, pamer sihir atau efek-efek visual yang hadir, saya juga menikmati obrolan yang dalam antara Strange dan gurunya yang plontos itu.

Ada bagian yang bikin saya masih heran sampai sekarang. Ketika Strange diceritakan kordinasi tangannya masih  payah, dia masih bisa membawa  tumpuhkan kitab-kitab kuno yang tebalnya ngalahin kamus itu, meski dalam scene lain diceritakan kalau dia sempat kesal pas cukuran, dia ga bisa menuntaskan ritual  khas kaum pria itu karena koordinasi syaraf tangannya tergganggu. Pertanyaannya, siapa yang menuntaskan rutinitas itu? *iseng amat* Secara dengan kearoganannya itu, Dia pernah ngusir Christine Palmer yang bela-belain menengok ke tempat tinggalnya.

 Lalu juga rahasia tentang The Ancient One yang misterius ini juga ga konsisten tentang prinsipnya.  Eh tapi kalau saya cerita di sini malah jadi spoil dong.

Ya udah lah abaikan saja itu mah ya. Kalau menurut saya sih film ini lumayan deh. 3,5 dari 5 bintang, Ga sefantastis film LOTR atau The Hobbit misalnya. Tapi film besutannya Scott Derrickson ini tonton-able lah. 

Kalau dilihar dari jadwal rilis, Doctor Strange masih terbilang baru. Kurang dari seminggu waktu saya nonton film ini. Waktu saya perhatikan,  kursi penonton cuma terisi kurang lebih 50%. Mungkin karena weekday dan tengah hari juga, jadinya ga penuh-penuh amat. Entah ya kalau weekend, mungkin lain ceritanya. 

Mau nonton film ini? Mangga. Ga rugi, kok.

Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

32 komentar:

  1. lihat thrillernya juga sudah keren , apa lagi nonton film nya ya bu.
    masih bagus judulnya from doctor to wozard, kalau di sini. dokter ke dukun :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe masa dokter ke dukun? Jangan lupa nonton filmnya, ya.

      Hapus
  2. wah jadi penasaran pengen nonton, tapi kalau saya suka ketiduran kalau nonton wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe bawa ganjel mata kalau gitu biar melek :D

      Hapus
  3. Selalu suka dengan cerita yang mengandung unsur fantasi. Pengen coba nonton kalo sempet dan masih tayang di bioskop hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nontoooon ya, Wid. Biar ga penasaran.

      Hapus
  4. Semalam nonton di IMAX jd kereeenn sungguh film ini. Berasa ikutan nyebur ke dlm filmnya ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya berasa ikut di dalam filmnya. Apalagi kalau nonton yang 3 dimensi ya.

      Hapus
  5. Suami saya pengin nonton nih, Mbak. Tapi maunya ditemenin padahal ini genre film yang bukan selera saya. Kemudian kami bikin kesepakatan, saya mau nemenin tapi dikasih jajan nachos. Hihihi... Disogok nachos aja langsung mau :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanti kalau diajak nonton film yang pas suka juga pura-pur aja ga minat. Biar dijajanin makanan terus. Eh tapi nanti lama-lama suami curiga ga, ya?

      Hapus
  6. Bagian operasi ngangkat pelurunya itu loh teh efi, bikin saya ikutan nahan napas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyeh bener, itu bikin mencelos pas nonton. Dianya mah datar aja ya.

      Hapus
  7. Besok nonton klo jdi hehe... Liat trailernya sih kerennn

    BalasHapus
  8. Balasan
    1. Ajakin Mbak! Mumpung masih tayang.

      Hapus
  9. Begitu scene gedungnya gerak2 jd gerigi aku terpana mba.. hehe.. terpana jg pas liat om benedict cukur, cakeeepp.. :D Menghibur filmnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan aku sebel pas liat dia berantakan kayak gembel. Paling suka sih pas dia setelan jadi dokter. :)

      Hapus
  10. Saya udh nonton kemarin buat yg blom baca komiknya memang rada ngak paham ya tapi visual efeknya memang keren banget apalagi pas adegang lari kejar-kejaran di bangunan yang terbalik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, visual effectnya keren bingits. Jadi betah nontonnya.

      Hapus
  11. aku salut deh sama opa Stan Lee yang tokoh2 ciptaannya itu punya karakter sendiri. Mungkin kl ancient one gak ada wujud fisik dlm film jd rada susah buat dimengerti penonton ya... Apalagi kyk saya yg blm baca komiknya sm sekali... Tp Benedict Cumberbatch itu memang keren banget aktingnyaaaah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga maiak komik, mbak. Lebih suka nonton versi adaptasinya ke film. Tapi kalau suka baca komik sih kayaknya feellnya lebih dapet,, ya. Sama kayak nonton film yang diangkat dari novel. Mas Ben ((Mas Ben)) ini keren banget, jadi pengen nungguin film dia yang lainnya.

      Hapus
  12. Alde pengen nonton hihi aku bilang bukan film anak kecil teh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nonton aja, Dew. Aman kok. Gapapa kata aku mah.

      Hapus
  13. Baca ceritanya juga udah menarik,,, jadi pengen nonton juga nih...

    BalasHapus
  14. Selalu suka baca tulisan review film ala Efi. Walaupun panjang tetep dibaca sampai habis. Penasaran sih, dokter baik-baik jadi tukang sihir. Jadi sebenarnya film ini jenis drama ato action, Teh? Drama Action kali ya haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kalau suka :). Ini genrenya action-fantasy, Yun. Dramanya dikit banget.

      Hapus
  15. Reviewnya bagus Teh Efi. Semua dikuliti sampai hal-hal yang detail. Awalnya gak pengen nonton tapi kok penasaran.Eh, filmnya udah turun layar ya? ya udah nunggu tayang via Bioskop transtv aja deh wakaka..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum, masih ada kok di bioskop. Ah nungguin tayang di tv mah masih lama. Mending sekarang-sekarang aja biar ga penasaran.

      Hapus
  16. kalo efek dari filmnya emang uwaow sich, tapi jalur ceritanya kecepetan jadinya ga bagus

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.