Top Social

Bring world into Words

Jelajah Rasa Autentik dari Ranah Minang di Trans Luxury Hotel

Minggu, 29 Mei 2016

Jelajah Rasa  Autentik dari  Ranah Minang di Trans Luxury Hotel

Ada yang punya rencana berlibur dan berwisata kuliner di Padang? Pastikan sebelum  pergi dan sesudahnya menimbang berat badan dulu, biar bisa diketahui  pergerakannya. Itu yang dibilang Uni Reno, food consultan yang akan berkolaborasi dengan tim chef restonya hotel The Trans Luxury selama bulan puas nanti. By the way, kalau penggemar kuliner, pasti sudah tau deh siapa Uni  yang ramah dan humble.

Iyes, beliau ini adalah  penulis buku Rendang Traveler: Menyingkap Bertuahnya Rendang Minang dan legacy to the World, Mingakabau - West Sumatera Rendang (Best Local Cuisine Book dan Best Single Subject  Cookbook dalam  Gourmand Award International 2014). Uni Reno  bukan hanya piawai dalam hal menulis soal kuliner Minangkabau (yup,  kuliner Minang, bukan Padang lho), tapi beliau juga penasihat  kuliner untuk film Tabula Rasa, lho.  

http://www.catatan-efi.com/2016/05/jelajah-rasa-autentik-dari-ranah-minang-di-trans-luxury-hotel.html
hidangan buka puasa ala minang yang disajikan di Ttrans Luxury Hotel
So, bisa dibayangkan dong gimana mewah dan aslinya  Jelajah Rasa  Autentik dari  Ranah Minang yang akan dihadirkan oleh The Trans Luxury Hotel selama bulan puasa nanti? Waaah, sudah kebelet untuk ikut merasakan  susana yang Minang banget saat Babuko Basamo nanti di hotel ini? Boleeeh, tapi biar semakin ngeces (hehehe) saya kasih teasernya dulu di sini, ya.

Jadi begini. Selama bulan Ramadhan nanti, mulai tanggal 10 Juni sampai dengan 5 Juli, The Trans Luxury Hotel akan menggelar  acara Buka puasa bersama alias Babuko Basamo dengan tema kuliner  serba Minang. Mulai dari hidangan pembuka alias ta'jil, makanan berat sampai penutup  dengan  harga mulai dari Rp. 299.000 net per orang, all you can eat.

Untuk menjaga kualitas  rasa dan atmosfir yang akan dihadirkan nanti, hotel  yang letaknya berada di Kawasan Trans Studio Bandung ini membuat kolaborasi  tim Chef hotel dengan Uni Reno. Dari tim chef ini, ada Chef Nalendra, Chef Bernard,  Chef Dimas, Chef yusuf dan Chef  Eko yang akan menyajikan menu dengan inggredients  terbaik yang didatangkan langsung dari Sumatera Barat. Misalnya saja  untuk sajian baluit atau belut. Baluitnya didatangkan dari Minang langsung, lho. Kerennya lagi baluit ini bukan hasil penangkaran, tapi dari sawah. artinya Baluit  yang diolah bener-bener yang organik. Enak? Iya, dong? Sehat? Setidaknya lebih higienis. Nah, soal kolesterol atau pencetus  kenaikan berat badan seperti yang dibilang Uni Reno tadi, lain perkara. Sesuatu  yang berlebihan  memang ga baik.  Termasuk makanan, iya kan?
http://www.catatan-efi.com/2016/05/jelajah-rasa-autentik-dari-ranah-minang-di-trans-luxury-hotel.html
tim chef Trans Luxury Hotel & Uni Reno

Makanya, kalau kepengin tuntas berpetualang  kuliner ala Minang ini kayaknya ga cukup sekali, mengingat begitu banyaknya aneka kuliner  yang akan disajikan saat buka puasa bersama di sini.  Misalnya nih, bakal ada menu Singgang Ikan, Itik Lado Mudo, Gulai Bagar, Bubur Kampiun Lompong Sagu, Gulai Manih, Gulai Talua, Gulai Pakis Udang dan tidak ketinggalan menu unggulan Rendang yang sudah dinobatkan sebagai makanan paling enak di dunia oleh CNN.

Selain menghadirkan berbagai sajian makanan khas kampung halamannya Siti Nurbaya ini, selama bulan Puasa nanti juga akan digelar  berbagai acara yang pastinya tetap menghadirkan susana  ranah  Minang yang kental.

Waktu saya menghadiri acara food test ini beberapa lagu asal Minang terus mengalun selama acara. Ayam Den Lapeh, Kambanglah Bungo atau  lagu Badindin  yang bikin jempol saya jadi ga bisa diem :) Duh siapa coba yang ga familiar sama lagu ini. Kalau masih samar atau nyaris lupa, coba deh cari di yotube. Yakin deh, bakalan senyum dan teringat masa bocah dulu suka nari-nari tarian Indang diiringi lagu ini. Ya, kan?

Makan Bajamba Ala Minang

Tapi ngomongin budaya kuliner Minang bukan cuma soal rasa makanan yang enak dan cuma enak sekali dengan ciri khas santan atau pedasnya itu saj, lho. Ternyata saya juga baru ngeh, kalau masyarakat Minang mengenal tradisi makan berjamaah  atau Makan Bajamba.  Kalau pernah mondok di pesantren atau ikutan pesantren kilat, pasti pernah merasakan makan bersama mengelilingi satu nampan berisi nasi lengkap dengan lauk pauknya untuk beberapa  orang. Makan Bajamba bagi masyarakat Minang ini ternyata  masih punya kebiasaan lain. Ada tradisi  semacam story telling  dan mengenaikan aksesoris  yang dikenal dengan Takulua. Enggak  kebayang? Coba reservasi  untuk Babuko Basamo pada tanggal  24 Juni 2016 nanti. Soalnya pada tanggal itu akan diselenggarakan Festival Makan Bajamba yang digelar di Trans Grand Ball Room. Rasanya sayang banget ya kalau festival budaya dan kuliner semacam ini dilewatkan begitu saja.   

Sebelum mencicipi hidangan utama, saya bersama para food blogger dan awak media yang hadir pada tanggal 26 Mei 2016 kemarin sempat juga menyaksikan demo masak membuat Lompong Sagu. Makanan khas dari Pariaman ini  (tuh kan, petulangan kuliner nanti bukan cuma makanan dari Padang saja, tapi juga kota-kota lain yang ada di Sumatera Barat) bisa jadi solusi  untuk menyajikan makanan berbuka yang mudah, murah dan enak, lho.  Ga sampai 30 menit sudah bisa  kita sajikan. Resep dan caranya nanti saya share di akhir postingan ini.
http://www.catatan-efi.com/2016/05/jelajah-rasa-autentik-dari-ranah-minang-di-trans-luxury-hotel.html
demo membuat lompong sagu, ada story dibalik foto ini :)
Dari beberapa  makanan yang tersaji hari itu, semuanya sangat menggoda selera. Apalagi kekhawatiran saya soal makanan Minang yang identik dengan rasa pedas ternyata tidak sepenuhnya terbukti. Pedasnya msih terasa,tapi masih dalam batasan toleransi. Meskipun begitu, beberapa makanan sempat di-skip juga seperti Gulai Udang.  Enak sebenarnya, tapi  berhubung  sangat sensitif dengan hidangan sea food terutama udang, jadinya ga saya cicipin, hiks hiks.

Kerupuk Siram

Kerupuk  ini  dibuat dari bahan ubi. Rasanya mirip dengan kecimpring yang bisa kita temukan di daerah Jawa Barat. Bedanya Kerupuk Siram ala Minang ini cara menikmatinya dengan bumbu kacang ala Sate Padang yang creamy.  Kalau makan bareng, kerupuknya bisa kita cocolkan  ke bumbunya.  Untuk tingkat kepedasannya nyaris tidak terasa. Mungkin waktu membuat bahan ini dan masakan lainnya, Uni Reno sengaja memodifikasi tingkat kepedasannya  sehingga tidak terasa menggigit saat dikunyah. Kalau diperhatikan secara seksama, di bumbu kacang ini ada bintik hitam. Kayaknya sih semacam lada hitam.  Paduan rasa kriuk dari kerupuk  ubi dan bumbunya ini juga oke dijadikan camilan hihihi.  Apalagi  sebagian besar dari kita rasanya ada yang kurang kalau makan nasi  ga ada kerupuknya. Ya, ga?
http://www.catatan-efi.com/2016/05/jelajah-rasa-autentik-dari-ranah-minang-di-trans-luxury-hotel.html
pengen lagi kerupuk ini

Gulai Talua

Hidangan ini termasuk  favorit saya.Telur ayam yang sudah direbus dulu  disajikan dengan bumbu gulai dengan warna cokelat keemasan yang membuat liur terbit. Tingkat kematanganya pas, mengingat saya  bukan penggemar telur yang direbus setengah matang. Bumbu gulainya cukup meresap dengan telur. Tingkat kepedasan? Aman tapi tetap tidak menghilangkan ciri khas  masakan Minang yang kental dengan santannya itu.
http://www.catatan-efi.com/2016/05/jelajah-rasa-autentik-dari-ranah-minang-di-trans-luxury-hotel.html
suka banget sama gulai yang satu ini

Gulai Pakis Udang

Udang dengan bumbu gulai ini disajikan dengan daun pakis. Warna cokelat dan merahnya udang berpadu dengan hijau dari dau pakis ini  cukup menggugah selera sebagai pedamping nasi hangat.  Sayang, saya ga bisa mendeskripsikan lebih banyak rasa dari olahan udang ini karena punya alergi dengan sea food.
http://www.catatan-efi.com/2016/05/jelajah-rasa-autentik-dari-ranah-minang-di-trans-luxury-hotel.html 
Gulai Pakis Udang

 Masih olahan dari udang juga. Duh maafkan saya lupa apa namanya menu yang satu ini. :) Disajikan dengan bumbu yang mengental kayak rendang minus sayur. Warna bumbu  yang kemerahan ini sepertinya menunjukan level kepedasannya  yang cukup terasa.  Kalau doyan sea food dan makanan pedas, jangan lewatkan untuk mencicipinya.

http://www.catatan-efi.com/2016/05/jelajah-rasa-autentik-dari-ranah-minang-di-trans-luxury-hotel.html
gulai udang

Ayam Lado Mudo

Sepintas saya mengira  oalahan dari unggas ini  bakalan  pedas banget. Warna hijau yang dominaan dari bumbu dan kuahnya menunjukkan sepertirti itu.  Berhubungn penasaran, saya bismillah aja, deh. Kalau pedas banget, ya gak akan saya habiskan :). Eh, aman. Lidah saya  masih bisa mengunyahnya. Dan satu potong ayam lado mudo ini pun meluncur dengan mulus dari mulut, tenggorokan sampai ke perut saya. Daging ayamnya yang empuk terasa hangat dengan campuran dari bumo lado kehijauannya.  Hangat di mulut dan aman di perut :)

http://www.catatan-efi.com/2016/05/jelajah-rasa-autentik-dari-ranah-minang-di-trans-luxury-hotel.html
Ayam Lado Mudo

Rendang

Nah ini semuanya sudah tau dong. Makanan juara kebanggan Indonesia  yang sudah diakui  paling juara se-Indonesia. Biarpun darah sunda mengalir deras di tubuh, saya bangga lho kuliner Indonesia ini diakui dunia sebagai makanan yang numeru uno lezatos.  Sama seperti makanan lain yang saya cicipi, rasa santannya kentara, meresap sempurna sampai ke serat-serat dagingnya yang empuk. Entah deh berapa lama para chef di Trans Luxury ini membuat mengaduk bumbunya agar menghasilkan rasa paling juara. Iyes, lauk dari Minang ini jangan sampai diabaikan kalau berbuka nanti, ya. Please, jangan, kalau enggak mau menyesal. 
http://www.catatan-efi.com/2016/05/jelajah-rasa-autentik-dari-ranah-minang-di-trans-luxury-hotel.html
belum pernah mencoba rendang? masa sih?

Sambal Lado Maco

Meskipun lauk pauk ala Minang ini sudah dominan dengan cacahan atau ulekan  cabe di setiap bumbunya, buat sebagian orang (termasuk kuliner daerah lainnya) rasanya enggak lengkap kalau tidak ada sambal. Sama seperti kerupuk, acara makan rasanya ada yang hilang kalau minus sambal. Penggemar sambal  yang ingin nasi hangatnya semakin hangat, bisa mencoba  menambahkan sambal lado maco ini. Meskipun Katya, Amel, dan David yang waktu itu duduk satu meja dengan saya bilang rasanya enggak pedas, saya memutuskan untuk skip sambal lado maco ini.  Sayangnya saya juga alergi dengan ikan teei. Jadi saya skip buat mencobanya. Iyes, selain udang, saya juga alergi dengan teri. Another hiks from me. Semoga alerginya bisa sembuh :) Seperti ini penampakannya Sambal Lado Maco  ini. 

http://www.catatan-efi.com/2016/05/jelajah-rasa-autentik-dari-ranah-minang-di-trans-luxury-hotel.html
merahnya sambal lado maco yang menggoda

 Ada menu lain yang ga sempat saya foto, baluit.  Jangan bayangkan potongan dagingnya  yang  besar dan ehm mirip binatang dari sawah yang bikin kita bergidik, ular.  Enggak, kok. Dagingnya sudah diiris sedemikian rupa. Waktu disajikan sudah pipih, semacam keripik gitu lengkap dengan bumbunya. Rasanya kriuk. To be honest, ini kali pertama saya mencicipi belut setelah sebelumnya dibikin parno karena terbayang terus wujud aslinya  seperti reptil berdarah dingin itu.

Ah, ya tadi saya janji mau share resep sagu lompong kan, ya?  Silahkan dicoba untuk variasi hidangan berbuka nanti.

Lompong Sagu dari Pariaman 

Bahan:
  • 125 gr tepung sagu
  • 175 gr kelapa parut (diambil dari setengah bagian kelapa yang setengah tua)
  • 100 gr gula aren yang sudah diiris atau disisir
  • 350 gr pisang uli (atau pisang kepok)
  • 3 sendok makan air (matang)
  • 2 sendok makan gula pasir
  • 1/2 sendok teh garam
  • Daun pisang untuk membungkus dengan ukuran 25x25 cm

Cara Mengolahnya:
  • Potong pisang berukuran kecil, campurkan dengan gula aren, gula pasir & garam
  • Masukan tepung sagum susul dengan air dan kelapa parut. Remas bahan sampai merata
  • Ambil dua sendok makan adonan, tempatkan di daun pisang yang sudah siap. Bungkus/gulung memanjang seperti otak-otak.
  • Sematkan lidi di setiap ujungnya. Bakar dengan bara sampai padat.  Angkat, tiriskan.
  • Lompong sagu siap disajikan.

Taraaaa... inilah lompong sagu yang sudah matang.

http://www.catatan-efi.com/2016/05/jelajah-rasa-autentik-dari-ranah-minang-di-trans-luxury-hotel.html
Uni Reno memamerkan Lompong Sagu
11 komentar on "Jelajah Rasa Autentik dari Ranah Minang di Trans Luxury Hotel"
  1. Malam malam..lihat foto makanan ini rasanya tuh... >,<
    Mau makan lagi. wkwkwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awas timbangan ngibrit ke kanan, mbak :D

      Hapus
  2. Wah...gak perlu jauh2 mencicipi kuliner Minang ya Mba.. Ada moment jelajah raso di Trans Luxury dah bikin puas ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mbak. Modal ongkosnya murah banget pula.

      Hapus
  3. Ada Lompong, aku pernah diceritain sama temen yang dari MInang cara membuatnya juga, waaah sudah siap-siap ya menu Ramadhannya,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, nih. hawa-hawa ramadan udah berasa. anti Asik, nnanti buka puasanya bisa bikin lompong sagu ini dong, ya :)

      Hapus
  4. duuhhh rrendangnya sepertinya enak banget itu... pengen pengen.... :-)

    BalasHapus
  5. Pengen banget ke padang, mencicipi kulinernya yg pastinya pedas mantap :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau ke Padang langsung aku belum pernah. Duh, bisa-bisa timbanganku jadi nambah banyak ini :D

      Hapus
  6. masih nempel rasanya rendang yang bikin nendang uy
    plus kerupuk siram bumbu sate padangnya, hmmm

    ahhhh *mbayangin nya ga kuku

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.