Top Social

Bring world into Words

Review Film The Hobbit: The Battle of Five Armies

Selasa, 13 Januari 2015

Harusnya  sih saya ulas  film ini   akhir Desember  2014 kemarin,  secara saya nontonnya  tanggal 26 Desember 2014.    Nyaris  lupa  karena  sok sibuk   hehehe,  pikir-pikir  gapapa deh saya posting  juga  review ala saya.  Sayang juga,  kan? (ih ga mau rugi gini, ya  :D).  Sebelum film ini dirilis jadi  trilogi versi  layar lebar,  saya udah ngebayangin  novel ini bakalan jadi film yang keren, pake bingit. Apalagi cerita lanjutannya udah tayang duluan di bioskop, The Lord of The Ring yang juga sama-sama dikemas  dalam  3 kali tayang film (The Fellowship of the Ring, The Two Towers dan The Return of The Kings) sukses di pasaran.


Review Film  The Hobbit: The  Battle  of Five Armies
credit: the nerdist.com
Kalau film  The Lord of The Ring menceritakan petualangan Frodo, maka  film The Hobbit ini menceritakan  Bilbo, moyangnya  Frodo  yang berhasil mencuri  cincin dari Gollum, mahluk jelek rupawan  yang doyan  main tebak-tebakan dan rada lebay ( eh etau emang over, ya?).


Judul Film :  The Hobbit,  The Battle of Five Armies
Sutradara : Pieter Jackson (2014)
Para Pemeran : Ian McKellen , Martin Freeman, Richard Armitage, Evangeline Lilly, Lee Pace, Luke Evans, Benedict Cumberbatch, Ken Stott James Nesbitt, Cate Blanchett, Ian Holm, Christopher Lee, Hugo Weaving, Orlando Bloom
Produksi : Warner Bross

Melanjutkan dua  cerita sebelumnya (An unexpecteed Journey dan  The Desolation of Smaug) akhirnya  cerita  pamungkas dari  petualangan  Bilbo dan para Dwarf  ini diselesaikan dalam lanjutannya yang berjudul The Battle of Five  Armies.  O, ya saya  pernah nulis tentang film ini  dari sisi lain yang saya posting di sini.  Jadi keingetan ternyata film pamungkas  ini tadinya mau dikasih judul There and Back Again. Entah apa alasannya judulnya ganti jadi The Battle of Five Armies. Eh tapi  judul ini lebih  ngehits, sih. Secara  dalam film ini menceritakan lingkaran perang  yang melibatkan  5 kelompok: Manusia, Elf, Kurcaci  alias Dwarf, Goblin dan Orc.



Dalam  cerita  sebelumnya diceritakan kalau  Bilbo berhasil memancing   Smaug keluar dari persembunyiannya, tapi malah ngamuk dan membuat para penduduk kota danau (Esgaroth) yang tidak jauh dari  sarangnya Smaug jadi kerepotan.  Smaug  yang suaranya diisi  oleh Benedict Cumberbatch  ini sempat mengintimadasi  penduduk kota dan menginitimidasi  Bard meski akhirnya tewas setelah terkena  tembakan panah  hitam yang tepat  menembus mulut Smaug.



Smaug memang tewas, tubuh besarnya  jatuh  dan menghancurkan  bangunan  rumah  milik penduduk  kota Esgaroth.  Selesai? Belum! Karena  ternyata  ini  jadi awal  perang yang melibatkan  kelima kelompok itu tadi. 

Tidak ada  kawan abadi, yang ada  adalah kepentingan abadi.  Pepatah  ini  adalah  ungkapan yang cocok menggambarkan situasi  setelah  terbunuhnya Smaug yang kabarnya cepat menyebar ke seluruh penjuru bumi. Alih-alih bagi-bagi kekuasaan, semuanya  begitu bernafsu  ingin menguasai  harta karun ‘peninggalan Smaug’ (yang sebenarnya  hasil jarahan). Bahkan saudara  jauh  para hobbit  pun  ternyata sama  rakusnya.

Kutukan  Smaug (Dragon Sickness)  juga membuat  Thorin  jadi  lupa daratan dan lebih  fokus  mengamankan harta di dalam gua, bukan menolong pasukannya  yang tertahan di luar.   Bilbo menyadari hal ini dan berhasil mencari  satu kunci peninggalan  Smaug yang berharga, Arkenstone  yang juga diincar para peri. Bukan buat  memuaskan  ambisinya sih, tapi Bilbo punya misi lain, agar Thorin mau  melepas  harta  milik kelompok lain yang dikuasainya.

Selalu ada bumbu  kisah cinta dalam setiap film kolosal. Begitu  juga dalam film ini. Cerita mengharu biru antara Kili  dan  Tauriel sukses  bikin saya termehek-mehek. Huaaaaa, why Kili. hiks hiks....

Pemeran Favorit 


Sejak melihat  film The Lord of The Ring, saya  langsung ngefans sama  Orlando Bloom. Tampang  aktor  yang suka nyisir rambut ke belakang ini berubah terlihat cantik dengan rambut blondenya. Berperan sebagai Legolas, seorang peri alias elf  yang telinga mirip si Oki, adiknya Nirmala  yang badung itu. Meski terlihat aneh, tapi tetep aja cuco ya? (husss).

Selain  sosok   Legolas,  masih ada Bard (Luke Evans), The Dragon Slayer yang membuat teman saya yang waktu itu  nonton jadi kesengsem.  Yang  bikin temen saya  terpesona sempurna adalah  adegan ketika Bard dengan dinginnya melepaskan  panah hitam, tepat ke mulut Smaug.  Tenang, dingin tanpa rasa takut.  Emang sih scene  yang satu  ini  paling  keren, sekaligus  bikin  jantung penonton  ikut-ikutan mencelos.  Ah,  ya,  jangan lupakan  juga Kili  (Aidan Tuner) . Dwarf  yang paling  keren ini bukan cuma bikin Tauriel (Evangeline Lilly) kesengsem, saya juga ternyata hihihi.  (hus hus....).

Sebenernya sih saya lebih suka  kalau Bilbo  diperankan oleh Elijah Wood, yang meranin Frodo itu,  lho.  Tapi akting bukan soal urusan tampang aja, kan?   Martin Freeman juga  pas meranin  Bilbo yang bersahaja, enggak banyak  maunya dan beneran tulus  ingin perang ini segera berakhir lalu buru-buru balik ke rumahnya, tanpa mikirin bagi-bagi  gono gini eh harta karun. 

Lumayan banyak tokoh dalam film ini kalau ditanya saya  bakalan lupa siapa aja nama-nama dwarf . paling inget  sih Bilbo, Thorin,  Kili (pastinya) dan  Fili. Sisanya? Ah kepoin aja  situs  resminya The Hobbit




Efek, Properti  dan Kostum
Secara  yang namanya  film kolosal, selain  mellibatkan banyak  tokoh dan para pemain figuran  (meski pura-puranya jadi tentara yang mainnya bentar), efek, properti dan kostum  yang digarap secara total beneran  keren. Ngemanjain mata, deh.    Ga kebayang tuh ya, proses saat   membuat replika si  Smaug yang badan besarnya amit-amit dan  make  up  yang bikin tampang-tampang asli para aktor dan aktris  jadi terlihat aneh atau ya itu tadi, jelek rupa-rupawan.   Bukan cuma film ini aja sih, film kolosal macam Troy, The Kingdom  of Heaven pasti selalu menarik  buat ditonton.  Betul? Ada  beberapa sisi dunia  yang terlihat cantik dan  indah terutama Shire, kampung halamannya  Bilbo.  Ada juga sisi dunia  yang  terlihat ngeri, berantakan dan bikin saya males  tinggal di situ.  Ih, tandus, mengerikan dan bakalan minta Dora Emon  buka pintu kemananya  aja itu.  O, ya ngomongin soal  properti dan segala aneka  printilannya film  ini menghabiskan dana 250 juta dolar.  Coba konversiin ke rupiah. Dapet berapa?  Ga aneh deh,  ya, kalau  hasil akhirnya  film ini jadi keren pisan!

Pesan Moral
Thorin  yang terkena dragon sickness alias  penyakit rakus emas  ini  adalah moral story yang  wajib ditonton oleh para politisi negeri ini (ups). Iya,  saya sebel dan eneg  liat  berita di tv  yang memberitakan mereka ribut-ribut melulu  ini.  Ga usah disebut deh ya, siapa dan siapa. Sepertinya  Dragon Sickness  ini juga  menjangkiti (sebagian) mereka.  Nah, di film ini juga ada  karakter Alfrid (diperankan oleh Ryan Gage),  tokoh  yang rela nyamar jadi banci  karena tidak mau  (takut) berperang. Tipikal penjilat  yang licik dan doyan ngeyel meski udah ketahuan belangnya. Sukses  mengocok perut penonton karena  kekonyolannya,   ditengah-tengah adegan  menegangkan saat perang dan  mengharu biru (itu lho pas adegan Tauriel  nangis ditinggal mati Kili).

Saya nyengir dan mengangguk setuju ketika  seorang teman saya, Dydie  yang bilang kalau mereka  (para politisi) ini wajib nonton film ini. Yup, sindiran halus  yang  keterlaluan kalau udah nonton  tetep ga mudeng. Ah, sudahlah, abaikan.

Saya sempat lihat di  webnya 21cineplex, film ini masih  tayang, tuh. Dengan durasi  lumayan lama, sekitar 140 menit, saya jamin ga kan rugi  nonton film yang super duper keren ini. Rasa penasaran saya  dan harus  nunggu 3 seri  yang dijeda dalam 3 tahun (2012, 2013,2014) lunas terbayar sudah.  Nunggu  film ini tayang di tv? Bisa sih, tapi rasanya bakal lama. Mending nonton aja, biar ga pake lama keponya.   

8 komentar on "Review Film The Hobbit: The Battle of Five Armies"
  1. suka riviunya. udah lebih ngalir dan personal. mampir dong ke tempat saya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asik, makasih kalau suka. Siiip. Meluncur ke tkp :)

      Hapus
  2. Peter Jackson emang kereen garapannya. Ke depannya kayaknya nih Peter akan buat film pecahan dari Hobbit ini, yup sepet Hobbit pecahan dil dari TLOTR, mungkin menceritakan bangsa peri..

    Reviewnya asyik, nggak kaku, mengalir

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah serius? kereeen emang Om Peter, ini. Must watch, dah. Makasih buat apresiasinya, Seneng kalau suka juga ripyu ala saya :D

      Hapus
  3. Hiks....aku belum sempat nonton, padahal punya niat buat nonton ke bioskop sejak nonton ke-2nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah sayang, nanggung bingits. Kalao ga sempet ke bioskop, cari aaj dvdnya, mbak. :)

      Hapus
  4. aku ngga ngikutin blas nih kisah ini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hunting dvdnya aja Dew, dari 1 sampai 3 hihihi :)

      Hapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.