Top Social

Bring world into Words

Resensi Buku : Menanti Cinta

Jumat, 14 Maret 2014
Nyaris saja saya lupa pernah melamar untuk meresensi novel Menanti Cinta yang masih fresh dari ovennya penerbit Mozaik Indie. Kalau tidak dicolek seorang teman di status FB mungkin saya lupa sama janji saya buet mereview, hehehe...
Nah, hari selasa tanggal 11 kemarin akhirnya saya menerima paket berisi novel yang dimaksud tadi. Jadi tanpa basa-basi lagi, kita mulai reviewnya, ya.
Judul                     : Menanti Cinta

Penulis                 : Adam Aksara

Penerbit               : Mozaik Indie, Februari 2014

Tebal                     : 227 halaman

ISBN                      : 978-602-14972-3-4
Photo Credit : Mozaik Indie




Apa jadinya kalau kita merasa seperti orang asing, terkucilkan dan tidak punya teman berbagi cerita yang kebanyakan duka? Jangankan yang menyendiri, punya teman banyak di sekeliling pun kita masih memilah siapa teman yang bisa dipercaya untuk berbagi kesedihan. Setuju?

Tapi masalahnya lain dengan Claire, seorang gadis yang baru lulus SMA dan dijadikan ‘mesin uang’ oleh ibunya yang nota bene bekas pelacur. Claire yang polos ternyata tidak mudah dikendalikan Puspita, ibunya yang menginginkan dirinya jadi pelacur agar mendapat uang lebih banyak dan memenuhi kebutuhanibunya akan minuman keras yang seolah sudah menjadi candu.

Keberuntungan Claire yang mendapatkan beasiswa semester awal dan bekerja paruh waktu sebagai seoerang pelayan di sebuah gerai hamburger ternyata terus berlanjut. Seorang dosen muda benama Alex membuatnya penasaran karena kerap terlihat diam di kampus hingga pukul 10 malam. Lewat bantuan ‘detektif kepercayaan’nya Suryo, Alex berhasil mengetahui latar belakang keluarga Claire dan menyelamatkan Claire untuk terus melanjutkan kuliahnya dan hidup lebih dari layak.

Benih-benih cinta yang bertumbuh selama 4 tahun kebersamaan mereka ternyata menemui dilema. Masa lalu Claire yang tiba-tiba muncul lagi menghadapkan Claire pada pilihan yang serba salah, antara bertemu dengan 3 ibu angkatnya yang menyelamatkan Claire dari maut atau merenda kasih dengan Alex dalam sebuah ikatan pernikahan. Di sinilah kesedihan yang membelenggu keduanya, sama-sama saling mencintai tapi tertahan rasa ewuh pakewuh dan ego yang tinggi di antara keduanya.

Menyimak jalinan konflik jalin dalam novel ini sebenarnya cukup asyik.  Meskipun pilihan kata dan dialognya terkesan jadul,  alur maju mundurnya cukup menyampaikan latar hingga penyelesaian cerita dengan baik.  

Dalam beberapa jam saja, saya sudah bisa melahap buku ini hingga tuntas.  Secara pribadi, saya belum tentu nyaman ada di posisi Claire yang seolah mendapat malaikat pelindung sepeti Alex. Alex yang cerdas, penyayang namun kaku, posesif  dan dingin punya potensi kecenderungan psikopat. Ini terlihat dari bagaimana caranya menyingkirkan orang-orang yang dianggapnya merusak kebahagiaan Claire. Semudah itukah seorang Alex menjadikan penegak hukum meluluskan semua skenario yang dibuatnya?  Duh, jangan-jangan kalau ada saru kesalahan Claire yang tidak termaafkan, Alex juga akan berbuat nekat untuk memberi Claire sedikit pelajaran. Memang sih tidak sampai terjadi.

 Entah kalau saya kurang up date, tapi profesi sebagai seorang detektif  swasta yang dimiliki Suryo sepertinya tidak umum di Indonesia, sebagaimana yang sering kita lihat di serial tv produksi barat. Kecuali Suryo adalah penyidik resmi di kepolisian, itu pun sepertinya terkendala juga dengan ikatan dinas.
Sementara untuk Claire, yang sudah terbiasa dengan kekerasan, seakan kurang ‘melawan’ dengan sikap ibu dan ayah tirinya yang sudah keterlaluan.  Claire yang juga pemalu tiba-tiba menjadi seorang wanita yang agresif di depan Alex dalam sebuah kesempatan. Tindakan yang menurut saya kurang punya alasan kuat, apalagi ada sebuah trauma yang menghantuinya di masa lalu.

Ending yang mengharukan di bagian akhir buku ini sedikit terusik saat tiba-tiba penulis menyodorkan satu bab opsional ending. Padahal menurut saya, dua-duanya sama-sama ngetwist terlepas apakah penulisnya akan menyajikan sad ending atau sebaliknya.

Satu catatan  dari saya adalah beberapa halaman buku ini yang terlepas dan posisi beberapa halaman yang loncat dan terbalik. Saya mencoba berbaik sangka kalau penerbit tidak punya itikad buruk hanya karena buku yang dibagikan kepada 100 resensor ini adalah gratisan. Keraguan saya akhir terjawab sudah, beberapa waktu sebelum resensi ini published di blog saya, saya mendapatkan ‘note’ berupa klarifikasi dari penerbit. Intinya adalah kesalah teknis yang diluar kendali penerbit. Two thumb up buat Mozaik Indie yang tanggap dengan kasus ini dan menawarkan opsi yang bikin saya suka.

Terakhir, beberapa bagian dalam cerita ini akan lebih seru jika disampaikan dalam jalinan cerita yang lebih luas, lengkap dengan dialog mereka yang terlibat di dalamnya, agar gregetnya lebih terasa ketimbang membaca ringkasannya dalam bentuk narasi saja.

Selayaknya cinta memang tidak pernah membebani, ia meringankan yang memiliki. Bukan karena hutang budi atau rasa memiliki yang malah membelenggu. Nah, apa alasan kita mecintai seseorang? Fisik, materi,  balas jasa atau ketulusan tanpa hitungan matematis? Silahkan baca di buku ini.

7 komentar on " Resensi Buku : Menanti Cinta"
  1. Mak Efi... memang sifat posesif Alex sangat dominan ya? Tapi untungnya dia masih mengijinkan Claire untuk mewujudkan keinginannya...
    Di satu pihak Alex sangat kuat keinginannya utk melindungi Claire tapi disisi lain dia tak punya rasa PD yang cukup untuk mempertahankan Claire disisinya. Kontradiktif ya?

    Maakkkk... hurufnya digedein dong... capek bener mataku membacanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kekecilan gitu, mak? hahaha... maafkan. Sudah kuseting lagi. Sekarang udah gede, kan? :D
      Inget ga bagian Claire yang pulang pesta wisuda itu,dia dimarahin Alex, katanyadisuruh lihat dunia luar tapi dia ngambek Clair kumpul sama temen-temennya. Dalam kasus lain, mestinya sih Alex membiarkan Claire menyelesaikan masalahnya sendiri, dan belajar jadi wanta tangguh. Bukan bermain tangan 'tuhan' lewat Suryo. Endingnya as we know lah, Claire tetaplah Claire yang rapuh. ^_^

      Hapus
  2. Wah.... resensinya lengkap. Penasaran deh sama bukunya.
    Btw, kok aku gak bisa2 ya ngeresensi? Huhuhu... ajarin dong! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. AIsh, ini masternye review produk. Gak salah, mak? Cuma nulis opini sendiri aja, sambil ngikuti standar biasa hehe. Kalau yang master banget mah ada Mak Haya tuh hehehe, Mak Nia pasti bisa, ciyus, deh. Nanti deh kalau ketemuan, aku kasih pinjem bukunya. :D

      Hapus
  3. makin penasaran sama novel ini, soalnya jatahku belum nyampe :(
    kalo posesif biasanya ada faktor trauma, mungkin si Alex juga begitu, takut kehilangan orang yang membuat ia nyaman. cuma untuk nyewa detektif kalo di sini memang ga populer ya, mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehhe..... sabar Ila :) Nanti bisa tahu deh kenapa Alex jadi seperti itu. Mungkin penulisnya ngefans sama film-film detektif gitu

      Hapus
  4. Bagus ni mak reviewnya. Lengkap ya, jadi penasaran. Walopun gue gasuka suka tokoh cewe yg rapuh gt, kayak telenovela. Hihihi

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.