Top Social

Bring world into Words

Bersyukurlah Sebelum Nikmat Ibadah Itu Dicabut

Rabu, 11 Mei 2011
Malam ini saya masih melek. Ditemani radio yang melantunkan sebuah lagu yang menyentuh.
"...kubersujud bisikku tak terucap
ku bersimpuh tak kuasa ku mencoba
saat ku mengucap bisik kata-kata dalam doa
padaMu kumohon maaf atas segala dosa hamba...."


Saya jadi ingat ketika pagi tadi disela-sela ujian nasional SD tadi saya masuk ke ruang panitia. Niatnya mau minum sambil ngopi, lapar sekali rasanya, berangkat lebih pagi dan ga sempat sarapan. Beberapa menit kemudian, masuk Kepala Sekolah dan pengawas (biasanya ditugaskan dari sekolah lain dengan cara disilang lintas gugus). "Saya ngantuk banget nih, boleh ya saya minta kopi." katanya.

"Ya, boleh aja atuh  ibu," kata salah seorang panitia. Lalu mengalirlah obrolan diantara mereka. Karena saya masih asik ngudap cemilan pagi itu, jadi saya ikutan nyimak obrolan pagi itu. Dan Insya Allah bukan ngomongin aib orang koq, semoga jadi hikmah buat kita semua ya.

Singkatnya ada seorang guru wanita usianya sekitar 50an. Sejak tahun 2004 sudah terkena penyakit stroke. Sempat sembuh tapi kemudian kambuh lagi dan terkapar tidak berdaya. Suaminya entah dimana, apakah sudah meninggal atau bercerai. Stroke yang  keduanya ini dialaminya setelah mencicipi  kadedemes (makanan yang terbuat dari kulit singkong).
Sebelumnya beliau pernah sembuh dari strokenya, meski ga 100% tapi bisa kembali beraktifitas meski harus menyeret kakinya.

Nah, setelah salah makan itu lah kondisinya memburuk. Fisiknya lumpuh total hingga (maaf) untuk BAK dan BAB saja harus dilakukan di tempat tidur. Tidak ada pispot untuk menampung kotorannya.   Jangankan untuk melapisi kasur tempat tidurnya dengan plastik, untuk makanpun beliau mengandalkan uluran tangan kebaikan orang lain. Iba sekali mendengarnya. Karenanya untuk berobat pun beliau tidak berdaya karna dililit hutang.  Untuk mengajukan pinjaman ke bank sepertinya sulit karna hutang sebelumnya masih banyak.  Saking mengharukannya, beliau ini tidak punya rumah dan atas kebaikan seorang kepala sekolah tetangga, mengizinkan ruang kecil yang tidak terpakai untuk tempat tinggalnya. Tidak ada yang tega mempermasalahkan keberadaaan ibu ini ditinggal di lahan yang nota bene milik negara. Entah apa jadinya kalau ada yang tega mengusik dan mengusirnya.

Kembali ke kondisi bu guru yang malang ini, karna ketidakberdayaannya untuk bergerak ruangannya jadi tercium tidak enak. Bahkan untuk shalatpun tetap saja direcokin bau itu. Bahkan untuk
shalatpun beliau lakukan di tempat tidurnya. Seorang kepala sekolah menghiburnya, dan mengingatkannya untuk tetap mengingat Allah dengan tidak meninggalkan shalat.  "Ibu bisa baca Quran kan?"
"Ya, bisa." katanya sambil mengangguk menahan air mata yang tumpah.
"Lakukanlah sebisanya. Untuk shalat jangan ditinggalkan ya bu,"  imbuh Kepala Sekolah.

Ketika ditanyakan bagaimana dengan anak2nya, ternyata salah satu anaknya pun sudah habis kontrak dan menganggur.

Duh Ya Allah, malang nian nasib bu Guru ini. Saya tidak bisa membayangkan  kalau salah satu saudara saya harus mengalami hal seperti ini.  Kena ompol balita yang kita gendong saja membuat kita tidak nyaman dan segera mengganti pakaian. Dihajar flu pun membuat kita tepar dan tidak berkutik.  Tapi ternyata ada yang jauh lebih mengibakan. Ah saya ga tau harus berkomentar apa.

Bersyukurlah kita yang masih diberi kaki yang leluasa melangkah ke mana saja. Tubuh yang sehat untuk bergerak mencari rezeki. Tapi dalam kondisi sehat beginipun kita kerap mengeluh, meratapi sesuatu yang sebenarnya masih bisa atasi.  Bersyukurlah kita masih punya rumah yang nyaman untuk kita tinggali saat panas menyengat atau hujan turun dengan derasnya. Bersyukurlah kalau kita masih bisa menikmati makanan yang kita santap meskipun sederhana bukan hasil racikan seorang chef hotel berbintang. Bersyukurlah kita masih bisa beribadah dengan khusyuk, dengan pakaian dan ruangan yang bersih dan nyaman. bersyukurlah ketika kita masih bisa menolong orang lain dan tidak menjadi beban bagi orang lain. Bersyukurlah kita masih bisa berbagi, bukan menunggu uluran orang lain. Bersyukukrlah kita masih punya keluarga yang kita sayangi dan akan menyayangi kita. Yang selalu ada bukan saat kita senang saja. Keluarga  yangyang saling menguatkan. Bersyukurlah kita masih bisa berpuasa untuk beribadah bukan karena dipaksa keadaan.
........

 رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". (... Q.S Al Baqarah :286)
1 komentar on "Bersyukurlah Sebelum Nikmat Ibadah Itu Dicabut"

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.