Wednesday, 28 August 2013

Indonesia : Dreamland of Asia


Gambar diambil dari sini


Indonesia? Which part of Bali is it?
Pernah dengar bule ngomong gitu?
Ter...la...lu... kalau Bang Roma bilang.
Rasanya, kok gimana gitu, ya. Jangan-jangan itu bule enggak lulus pelajaran Geografi. Hehehehe.... 

Duh, mister, let me tell you deh. Ni, ya di   Indonesia itu ada Sumatera, ada Jawa, Kalimantan a.ka  sohor dengan sebutan Borneonya, lalu ada Sulawesi, Maluku, Papua, Nusa Tenggara dan Bali tentunya.  

 Dulu waktu bule-bule londo alias Kompeni Belanda menjajah Indonesia, mereka itu betah banget ngendon dari tahun 1600an. . Bayangin, apa enggak bulukan tuh? Bukan cuma karena  rempah-rempahnya, kekayaan alamnya (hiks) tapi juga kecantikan alamnya. ada Bandung yang disandingkan dengan Paris sampai disebut Parijs van Java, Karimunjawa dengan  The Paradise of Java-nya, sampai Raja Ampat yang cantik dengan keeksotikan lautnya dengan sebutan The Paradise of Papua. 
  
Saya  masih inget nih, waktu masih  di bangku SD dulu,  sekitar awal tahun 1990an ada pariwara tv  dengan tagline Visit Indonesia Year, kalau enggak salah di tahun 1991 gitu deh. Sekarang malah yang tampaknya yang gencar promoin wisatanya di tv-tv nasional malah Malaysia dengan taglinenya Truly Asia. Padahal, Indonesia itu enggak kalah cantik sama Malaysia. Tapi semakin sini kok sepertinya semakin sepi dengan promosi wisata, ya? Indonesia sebagai negara denga garis pantai terpanjang di dunia ini, bukan melulu soal Bali aja, kok. 
Masih ada Taman Laut Bunaken di Sulawesi Utara, Taman Komodo yang juga punya taman laut yang mempesona. 

Gambar ngambil dari sini
Atau suasana sunrise yang eksotik seperti di Laguna Pari, Banten. Cantik, ya. Enggak kalah sama pantai Phuketnya Thailand. Ngomongin Indonesia yang cantik (ehm) bukan cuma soal laut juga.  

Masih ingat adegan Frodo saat mencuri cincin dari Gollum dan adegan kejar-kejaran yang seru dalam film The Hobbits? Nah, gambar berikut bukan setting film tersebut. Lalu, di mana, dong?
Gambar diambil dari sini


Gambar ngambil dari sini


Nah, gambar di atas adalah bagian dari gua Pawon, yang terletak di Citatah, Padalarang, kabupaten Bandung.  

Jangan lupakan pesona kulinernya. Masih inget pelajaran sejarah dulu? Belanda dengan VOC alias kompeninya juga doyan dengan sensasi rempah-rempahnya tanah air.  Ngomongin soal makanan, jangan lupakan rendang makanan khas dari ranah Minang ini nangkring di urutan ke-11 sebagai makanan terenak di dunia. 


Gambarnya nyulik dari sini
 Coba jelajah kuliner di negeri para Meneer, enggak bakalan repot nemuin gerai makanan khas Indonesia berikut toko-toko yang menyediakan aneka bumbu dapurnya. Kalau Malaysia bangga dengan tagline Truly Asianya, atau Thailand pede dengan  Amazing  Thailand lalu Indonesia punya apa, ya? Ah, ya dulu kita pernah punya tagline "Wonderful Indonesia" tahun 2011. Tanpa bermaksud 'nyela' yang sudah cape-cape mikirin ide ini, sepertinya kurang catchy. 

Saya bilang sih, Indonesia itu kaya.  Kita punya candi Borobudur,  Wayang, Angklung  yang diakui sebagai warisan dunia. Kita juga punya kekayaan tambang seperti Emas di Freeport atau Gas di Natuna dan Cepu dengan kualitas terbaik. Udah kayak di surga aja deh. Bisa dibilang Palu Gada, Apa yang Elu Mau, Gua Ada. Belum lagi keragaman bahasanya yang entah ada berapa kalau diinvetarisasi.  Kalau kasih nama "Paradise" entah, ya. Secara  kita sendiri belum pernah lihat seperti apa Surga itu. 

Saya ngusulin nih, gimana kalau kita mengusung tagline Dreamland of Asia.  
Kalau menurut kamu, gimana?






Share:

Tuesday, 27 August 2013

Antara Borobudur dan Angkor Wat


Apa hubungannya antara candi Borobudur dan candi Angkor Wat? Saya langsung garuk-garuk kepala, bingung deh. Boro-boro ke candi Angkor Wat, ke candi Borobudur aja belum, tuh.

What???
Hus, biasa aja, enggak usah lebay gitu. Iya, saya emang belum nyambangin Borobudur tuh.  *tutup muka*
Nah, topik hari dua lomba blog #10daysforasean sekarang adalah tentang candi Borobudur yang ternyata punya kemiripan relief dengan candi Angkor Wat.

Gambar nyulik dari sini

Salah satu relief candi Angkor Wat. Gambar nyulik dari sini
Eh, gimana ceritanya, ya?
Candi Angkor Wat sendiri baru didirikan 3 abad kemudian setelah Borobudur. Borobudur didirikan oleh dinasti Sailendra pada masa bertahtanya raja Samaratungga sekitar tahun 824 masehi. Borobudur ini baru selesai pada masa pemerintahan ratu Pramudawardhani puteri dari Samaratungga.

Nah, melipir sedikit ke Kamboja,  Angkor adalah ibukota kerajaan Khmer yang dimulai pada tahun 802 masehi. Pendirinya adalah raja Hindu Jayawarman II. Eh, nampak terdengar satu rumpun, ya? Setelah ngulik sana-sini ternyata eh ternyata, Jayawarman II pernah tinggal di Jawa pada masa dinasti Sailendra. Entah untuk alasan apa doi tinggal di sana. Pengaruh kultur budaya Jawa ini sepertinya 'nempel' sama Jayawarman. Selain klaim dewa raja, nuansa Jawa juga mempengaruhi gaya candi Angkor Wat pada masa berikutnya.

Nah! mulai terlihat benang merahnya, ya. Meski pendiri kerajaan Angkor adalah Jayawarman II, candi Angkor Wat sendiri baru didirikan pada masanya Suryawarman II. Meski pada awalnya ditujukan sebagai tempat pemujaan Hindu, fungsi candi Angkor Wat ini bergeser menjadi candi Budha pada masa Jayawarman VII. Ini bisa dilihat dengan adanya relief Budha pada candi Angkor Wat.

Coba  perhatikan, saya nyaris terkecoh membaca nama-nama raja kamboja ini. Sekilas kok malah seperti naam raja-raja Jawa, ya? Apakah nenek moyangnya satu rumpun? Saya jadi ingat pelajaran sejarah waktu SMU (saat kurikulum tahun 1994 berlaku, SMA sempet diganti namanya jadi SMU, akronim yang ga asyik kedengerannya).

Ada beberapa teori tentang asal usul nenek moyang bangsa Indonesia. Salah satunnya adalah teori yang menyebutkan kalau nenek moyang kita itu berasal dari Yunan. Teori lain menyebutkan kalau ternyata nenek moyang bangsa Indonesia itu asli penduduk Jawa dan sederet teori lainnya. Menariknya, Teori Yunan  ini juga bilang kalau bahasa Melayu satu rumpun dengan bahasa Champa (Kamboja). Pendapat lain yang mendebat teori menyanggah dan menganggapnya sebagai suatu kebetulan saja.  Bangsa Indonesia bersal dan berkembang dari Nusantara. Well, soal ini bukan domain saya buat membahasnya. Yang ada saya bisa kena jewer ahli sejarahnya.

Sebenarnya, bukan cuma Borobudur dengan Angkor Wat saja yang mempunyai kesamaan. Sebutlah candi Sukuh yang punya kemiripan dengan piramida suku Aztec  yang di Mexico. Perlu waktu yang lumayan lama untuk menghubungkan dua kawasan, itu ya. Entah teknologi seperti apa kalau ternyata pada masa itu sudah terjalin komunikasi dari dua kawasan yang berjauhan ini.

Jadi, apakah bangsa Indonesia dan bangsa Kamboja berasal dari nenek moyang yang sama? Atau apakah bangsa Indonesia pada masa itu sudah mempunyai wilayah kekuasaan yang luas? Sebagai reminder, dinasti Sailendra berkuasa pada masa Mataram lama dimulai pada tahun 752 Masehi sedangkan Majapahit baru muncul sekitar tahun 1293. Jauh sebelum Gajah Mada bersumpah menyatukan Nusantara. Seperti yang disebutkan batasan wilayah imperium Majapahit diantaranya adalah Thailand, Laos, Myanmar, Kamboja (Champa) dan Vietnam.

Yang jelas, seperti sudah saya ceritakan di atas, pendiri kerajaan Angkor, Jayawarman II pernah menetap di Jawa pada masa dinasti Sailendra berjaya. Jadi, ada apa, ya?


    
Share:

Monday, 26 August 2013

Kalau Salon Thailand Menyerbu

Let's talk about love, eh Thailand.

Thailand? Coba, apa yang wara-wiri di benak kita ngomong soal Thailand? Gajah?  Phuket? Pagoda, kulinernya yang ekstrim (uhuk) atau masih inget gadis-gadis cantik yang menari lenggak lenggok di videoklip Black or Whitenya  mendiang Jacko?

Gambar nyulik dari sini

Is black... or white...
Is black... or white... 
yeah yeah....


Eh, malah konser. Hus! Maaf enggak ada receh :D

Kembali ke topik.

Nah ngomongin soal cantik nih, identik dengan kosmetik atau serangkaian perawatan tubuh, dari jedat sampai jempol kaki. From Head to Toes. Secara nih seperti yang kita tahu, di Thailand sana bukan perempuannya saja yang berlomba pamer  kecantikan tapi juga ladyboynya itu. Duuh, jangan terkecoh, ya. Syerem!

Biasanya pembawaan orang Indonesia itu latah, enggak 'gaul' kalau enggak ikut trend yang lagi booming. Terus, kalau tiba-tiba yang jadi booming di Indonesia itu yang berbau  Thailand, gimana ya? Lalu booming itu dikemas dengan bisnis Waralaba.
Bisanya nih, waralaba itu identik dengan restoran ya, menjamur dari Sabang sampe Merauke, dari roti sampai Ayam dengan aneka remeh temehnya. Jangan bayangkan waralaba dari Thailand yang bakal menyerbu Indonesia itu waralaba kuliner ekstrimnya itu. Sepertinya enggak akan laku.

Lalu, apa dong?
Salon! Iya, salon. Gimana kalo yang rame-rame buka waralaba di Indonesia itu gerai salon dari Thailand? Tentu saja namanya juga waralaba,  jadi standarnya juga enggak akan asal. Mulai dari produk, standar pelayanan sampai tenaga profesionalnya yang diimpor langsung dari Thailand sana.

Terbayang enggak, kalau kapster salonnya ganteng setengah hidup (setengah mati berarti setengah hidup, dong? iya enggak? hehehehe...) mirip dengan eks penjaga gawang Persib Kosin Hathairattanakool (Yeh, mentang-mentang bobotoh, masih aja kepikiran ke situ). Tentu saja pelanggan yang datang bukan berarti disulap, sim salabim! Berubah  cantik nian mirip Yingluck Shinawatra atau Tata Young. Sekedar tambahan info nih, Yingluck Shinawatra itu adalah Perdana Menteri Thailand. Beliau juga adalah adik dari mantan Perdana Mentri Thaksin Shianwatra, dan diusianya yang menginjak 46 tahun itu tetap charming. Ehm!

Gambar nyulik dari sini
Coba deh, blogwalking atau colek-colek Om Google, secantik apa sih wanita-wanita Thailand. Tanpa bermaksud menafikan kecantikan wanita-wanita Indonesia, tapi naluri wanita selalu pengen ngulik soal yang satu ini.

Eh, Apa kabarnya dong salon lokal yang sudah ada duluan? Padahal Indonesia adalah pasar yang empuk buat dibidik waralaba asing. Menurut Asosiasi Franchise Indonesia, pertumbuhan waralaba asing di Indonesia ada di angka 6-7  %, lebih tinggi dari waralaba lokal yang berkisar di angka 2 % saja.


Tapi, sebentar mas Bros, mba Siss (jamak alias plural ceritanya, jadi ditambahin 's'. Penting, enggak, sih? :D)
Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya kalau bisnis waralaba asing di Indonesia itu didominasi oleh restoran. Ya, ada sih memang waralaba  salon ber-merk asing. Marie France Bodyline, contohnya. Itu pun identik dengan program pelangsingan tubuh. Sementara ini, Salon yang tergambar dibenak saya itu perawatan rambut, wajah, tubuh atau pedi meni dan aneka spa. Belum lagi salon-salon khusus muslimah sudah banyak bermunculan, membuat para  muslimah merasa lebih aman dan nyaman untuk mendapatkan jasa perawatan salon ini.

Nah, logika saya yang sederhana nih, kalau saya jadi pemilik salon lokal, saya enggak mau kalah bersaing dong. Mungkin saya bakal berpikir ulang kalau harus menggelontorkan anggaran untuk membeli hak waralaba. Mending buat ekspansi usaha aja. Ilmu bisa didapat dimana saja, kan? Kalau ternyata rahasia kecantikan dari Thailand itu menggempur bisnis kecantikan, saya bakalan ngulik buat cari tahu apa saja sih formula khas Thailand. Lalu saya juga bakal menseting tampilan salon saya dengan nuansa Thailand. Mulai dari bahan baku,  furniture sampai dandanan kapsternya. Tapi enggak tega juga sih kalau membayangkan kapster salonnya memakai sunting ala Thailand yang mirip pagoda itu, ya. Duh, kebayang berat dan pusingnya :D

Namanya juga trend, pasti ada pasang surutnya, ada musimnya. Satu trend bakal diganti dengan trend lainnya yang lebih inovatif. Jadi, nyontek sedikit dari iklan sebuah Mie, ni, "Kembali ke Selera Asal, Pulanglah ke Nusantara". Ramuan khas Indonesia enggak kalah patennya juga. Saya sih udah enjoy dengan 'menu' khas salon langganan saya. Hehehehe.. Padahal, jujur aja saya itu jarang banget ke salon. *buka kartu*

Loyalitas enggak akan kemana kalau para pengelola salonnya inovatif dan kreatif. Masih banyak rahasia alam Indonesia yang belum kita gali. Lagi pula orang Indonesia itu kreatif,  kok. Jadi, bersaing dengan salon waralaba dari Thailand? Ah, siapa takut.







Share:

Friday, 23 August 2013

Cinta untuk bumi Kinanah : Sepenggal Cerita dari Bale Asri

Malam itu, ponsel saya bergetar lembut. Rrr...... Ada pesan masuk. Seorang teman memberi tahu saya kalau hari Kamis, tanggal 22 Agustus akan digelar acara monolog dan konser peduli Mesir sekaligus penggalangan dana yang akan digelar di Bale Asri PUSDAI. Beberapa nama di dalamnya sudah familiar buat saya, penyanyi religius Opick dan Ebith Beat A salah dua diantara pengisi acaranya. Noted! Saya pengen dateng meskin acaranya diagendakan dimulai jam 19.30-21.30. Singkat saya dapat exit permit meski nonton sendirian. Solusinya, saya dijemput pulang oleh kakak saya usai acara. Asyik!


Nah, hari itu, saya datang lebih awal. Menjelang maghrib, saya sudah datang di TKP. Belum banyak terlihat pengunjung sepertinya, kecuali panitia yang saya kenali dari ID Card yang mereka pakai. Entah apa pasal, saya memutuskan untuk menunggu acara sambil duduk-duduk di halaman Masjid, alih-alih 'nge-tag' posisi di Bale Asrinya langsung. Eh, menjelang jam 19.00 saya mengenali seorang jamaah yang menyambangi masjid. Reuni kecil, ngobrol sebentar ngalor-ngidul dan temannya yang datang barengan  petang itu tertarik ikutan nonton. Nah, asyik yang kedua, saya punya temen nonton nih. Yipiiiii... 

Selesai shalat Isya, kami bertiga menuju lokasi dan sudah banyak pengunjung yang hadir. Saya disapa salah satu panitia yang memberi kantung plastik berisi air mineral dan tissue. Ini Asyik yang ketiga, setelah sebelumnya petugas penitipan tidak bisa menerima titipan sepatu/sandal,  kantung plastik ini bisa jadi solusi. Riskan kalau membiarkan sandal di belakang. Bakalan repot nantinya pas pulang nanti mencari sandal diantara 2000-an alas kaki pengunjung lainnya. 


Acara yang sedianya dimulai jam 19.30 ternyata molor setengah jam. Tepat jam 20.00 Acara dimulai. Dengan perangkat suara yang apik, Layar  Raksana di sisi kiri panggung menyajikan slide dengan latar beberapa ayat dari surah Yusuf. Nah, bumi Kinanah itu bukan sekali ini saja direcoki aroma iri dengki. Bahkan Nabi Yusuf as sekalipun, mengalaminya. Itulah, mengapa Ayahanda Nabi Yaqub  as melarang Yusuf untuk menceritakan mimpinya."Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia".

 Potongan slide berputar, disambung dengan Pidato Presiden Mursi saat pertama kali dilantik sebagai presiden Mesir. Rambut halus di lengan saya terasa berdiri. Setelah itu, lampu stage meredup. Kali ini Kang Nugi, mantan penyiar radio MQ muncul ke pentas membacakan monolog surat Mohammad El Beltaji untuk putrinya, Asma. Untuk yang satu ini, saya rasa teman-teman semua sudah banyak yang tau, ya? Ada banyak 'postingan' yang wara-wiri di beranda jejaring sosial facebook. Kutipan terakhir dari surat Betalji itu yang menyentuh hati, "Aku tidak akan mengucapkan selamat tinggal kepadamu. Kita akan segera bertemu dengan Nabi kita tercinta dan para sahabatnya di Tepian Telaga Surga Kautsar dan itu adalah pertemuan dimana kita bisa memliki satu sama lain."

Nah, setelah kang Nugi, giliran kali ini giliran ustadz Yusuf Burhanudin Lc yang hadir di stage. Saat itu, beliau mengenang saat pertama kali menjejakan kakinya di Mesir, 9 September tahun 1999. Ada rasa cemas yang mnggelayut, dengan bekal yang tersisa 40 dolar (kurang lebih empat ratus ribu) apakah akan cukup untuk 9 orang yang ada? Allah maha Baik, bukan untuk hitungan mingguan, tapi bahkan sampai 8 tahun lamanya beliau dan teman-teman bisa bertahan di Mesir dan menyelesaikan kuliahnya. Atas kebaikan warga Mesir, beliau dan teman-teman tidak pernah luput dari perhatian dan kasih sayang warga di sana. Bahkan mereka menanyakan dimana mahasiswa Indonesia saat akan memberikan sembako. "Mana orang Indonesia? Mana orang Indonesia?". Saat itu, satu janji dipegang teguh. Akan selalu menyayangi Mesir, sekalipun ia termasuk mereka yang membantai. Tidak ada nada dendam yang saya tangkap malam itu.  Allah tidak pernah tidur, pertolongan Allah untuk Mesir pasti akan datang 

Edcoustic yang hadir ke pentas kemudian.  Edcoustic membuka penampilannya dengan lagu favorit saya. Jalan Masih Panjang disusul dengan Muhasabah Cinta. Saya nyengir mendengar lagu kedua ini. Kalau pernah patah hati, pasti familiar dengan lagu ini. Halah, kok, malah curcol, ya? :D


Selesai pentas Edcoustic, ustadzah Mimin Aminah dengan lemah lembut suaranya sanggup menggetarkan pengunjung. Saya merinding dibuatnya. Saat kita menyaksikan ribuan rakyat Mesir meregang nyawa, kekejaman dan penindasan militer yang menyiksa saudara-saudaranya sendiri, yakinlah kalau Allah ada untuk kita. Kita mempunyai doa sebagai senjata orang Muslim. Saat tubuh terluka, saat darah mengalir, saat  musuh melancarkan tipu daya, Allahlah pembalas makar terbaik.  Saat Mesir dibantai, tanpa kita sadari, Aqidah kita juga terancam. Tepukan halus beliau menyapa hadirin. "Apakah diantara kita ada yang belum shalat ghaib? Apakah diantara kita sudah ada yang mendoakan saudara-saudara kita di Mesir? Kalau belum, berdoalah, karena itu pertanda lemahnya iman. Semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri."

Kang Hari BPM melanjutkan acara malam itu dengan mengajak pengunjung untuk bersenandung Istighfar. Lagu yang sudah cukup familiar buat kita semua. Astaghfirullah Raba Barayaa Astaghifirullah minnal Khothaaya.... AH siapa yang tidak 'ngeh' dengan lagu ini? Silahkan digoogling :)

Nah, usai Kang Hari, giliran Ustadz Hilman Rosyad yang muncul ke pentas panggung. Beliau bercerita, ada empat negara Islam yang ditakuti barat. Siapa saja mereka? Ada Mesir, sebagai Ummu Dunya, atau Ibunya dunia. Lalu Saudi Arabia  yang dilemahkan barat dengan menciptakan sistem monarkhi dalam pemerintahannya, Turki sang pemegang khilafah yang dilemahkan dengan paham sekulernya dan terakhir Indonesia. Ah, sudah tahu sendiri, kan, dengan apa negeri ini dilemahkan. Hiks....

Itulah, saat ini, kita sebagai bangsa Indonesia membutuhkan Allah, butuh pertolongan Allah untuk mengeluarkan negeri ini dari keterpurukaannya. Beliau mengajak kita untuk mengingat kembali isyarat dari Rasulullah saw. Kita akan ditolong Allah kalau kita mau membantu saudaranya. Ya, Mesir salah satunya. Bayangkan, jika 4 negeri ini ini bisa keluar dari cengkraman barat!

Selesai ustadz Hilman turun dari stage, tiga orang personil naik ke panggung. Satu dengan gitar, satu personil membawa perkusi dan sau lagi dengan dandanan ala DJ. Ah, siapa lagi kalau bukan Ebith yang tampil? Lagu Dina Amparan Sajadah dkemas dengan irama sudanese yang apik dilanjutkan dengan lagu doa untuk orang tua dan Ya Rabi Ya Mustafa mengajak pengunjung bernyanyi bersama dengan pembawaannya yang enerjik. Malam itu, Ebith menawarkan satu jersey timnas Indonesia untuk dilelang. Hasil dai penjualan jersey itu akan disumbangkan untuk penggalangan dana untuk Mesir. O, ya sebelum Ebith pentas, petugas berkeliling diantara pengunjung untuk mengumpulkan dana.  Semoga sedikit banyak dana yang terkumpul akan menjadi saksi sebagai bukti cinta kita pada saudara kita, yaaa. Aamiin.

Selesai Ebith menghentak stage dengan penampilannya, lampu kembali meredup. Sedianya, malam itu panitia akan mngadakan interaksi langsung dengan ustadz Nandang Burhanudin Lc langsung dari Mesir  via Facebook atau Skype sehingga kita bisa berinteraksi langsung dengan 'face to face'. Sayang sekali, karena pihak Militer memblokir akses internet, akhirnya interaksi malam itu hanya bisa dilangsungkan via HP - itupun kabarnya  komunikasi jalur telepon juga diawasi -  yang diperdengarkan dengan bantuan mic. Saya kurang bisa menangkap pembicaraan yang kurang jelas, tapi intinya,  beliau menyampaikan bantuan  berupa materi dan doa akan sangat berarti sekali bagi saudara-saudara kita di sana. 

Sebelum Opick hadir menutup acara, Gus Oong naik ke stage dengan membawakan monolognya. 
.....
Kenapa kah para binatang masih punya cinta dan kasih sayang
Kepada sesama binatang
Tanpa membatas kehidupan dengan politik dan agama
Mesir, kenapa kamu, Mesir?
Mesir Sungguh kamu memalukan
Agama kalian  dibuat  kemana?
Allah kalian dibuat kemana
....
Mesir, darah dagingmu yang terkoyak
Dalam pembantaian yang membabi buta
Atas nama apa dan demi apa?
Mesir, banjir darah...
Darah dagingnya sendiri
Mesir
Setan mana yang memperdayakan kalian?
Mesir, Mesir...
Kalian memalukan peradaban manusia

Yaa Manan Yaa Hanan yang dibawakan Opick sepertinya menjadi penutup acara. Saya dan teman mencuri start duluan untuk keluar dari arena. Dengan 2000an pengunjung yang hadir, saya mencari aman untuk terhindar dari desa-desakan. 
Malam itu, langit di atas Bandung cerah, menyambut doa yang mengangkasa untuk sadara-saudara di Mesir. Di sini langit b egitu bersih, cerah dengan gemintang mengintip dengan sinarnya yang cemerlang. Semoga Langit yang sama juga akan hadir di bumi Kinanah. Aamiin ya Allah.
Share:

Friday, 2 August 2013

Naluri Batita

Sabtu dua pekan lalu, akhirnya saya mengunjungi lagi sekolah. Kangen berat  sama temen-temen di sana sekalian mau nengok bu Dida (guru) yang sedang sakit. Apalagi temen saya, Dadi, janj mau bawa anaknya, Danish. Bocah lucu 1,5 tahun yang ketika masih usia bulanan suka saya timang-timang di sekolah. Kadang, saya usil nngajarin bahasa planet yang ditanggapin lain sama Danish. Hasilnya? malah seperti mempermainkan ludah. Sukses deh bikin Dadi, temenku itu protes berat. Hehehe.

Kembali, ke topik. Setelah kangen-kangenan dengan guru-guru di sana, akhirnya Aku dan teh Imas meluncur menuju rumah bu Dida, sementara Dadi karena rempong harus menggendong Danish dibonceng Dini menuju TKP. 

Nah, sebelumnya, waktu masih di sekolah, saya susah payah membujuk Danish bair mau digendong. Ih, jual mahal banget! Lupa kalau dulu nurut aja aku gendong-gendong. (Ya iyalah, batita gitu lho :D).

Satu waktu, saat jeda di tengah obrolan kami berlima, saya iseng menunjukan foto keponakan saya, Azka yang berusia 4 tahun, yang jadai screen image hp saya. Eh, ternyata gara-gara foto ini sukses membuat Danish nurut mau digendong saya. malah mulai ngoceh dengan bahasa planetnya.

"Teteh..." tunjuknya sambil mencium layar hp saya.
Ampuuun. Bocah sekecil itu udah tahu aja mana yang cantik.
"Di, siapa yang ngajarin Danish?" tanya saya.
"Yeeeh, itu mah naluri alamiah kali. Aku ga ngajarin kok teh. Awas ah, nanti hpnya dibanting Danish," Dadi mengingatkan saya.

Saya cuma nyengir. Duh, jangan sampe  saya belanja gagdet belum saatnya. 



Share:

Sunday, 30 June 2013

Akhir yang Indah

Entah keberapa kali saya menemukan makna "everything happen for a reason". Ya, selalu tidak pernah ada kebetulan.

Seperti pagi tadi, 'kebetulan' itu saya temukan, dan saya terlibat di dalamnya. Minggu pagi tadi, setelah 3 minggu absen, saya kangen banget pengen ngaji. Kalau minggu-minggu sebelumnya pengajian biasanya digelar di masjid Al Murasalah Telkom, Geger Kalong. Tapi tidak pagi tadi. Biasanya, pengajian dipindahkan tempatnya karena memang sudah diagendakan atau Telkom sebagai tuan rumah punya hajatan. Jadi, singkat cerita, hari ini pengajiannya digelar di Masjid At Taqwa, enggak jauh dari masjid Daarut Tauhiid (DT). Ah, ya kalo ngomongin DT ada banyak kenangan tertinggal di sana. Sejak SMP saya sudah mengenal DT dan ibu saya susah payah "menggusur" saya supaya mau ikutan Sanlat selama liburan. Masa lalu yang enggak pantas dicontoh, ya.

Nah, balik ke pengajian tadi, begitu memasuki pelataran masjid, saya heran ketika mendengar panitia mengumumkan sesuatu. Samar-samar saya mendengar panitia menyebut shalat jenazah. Errrr, saya ga salah acara, kan? Saya meyakinkan diri, para pedagang yang rutin mengisi bazaar pengajian MPI emang udah saya hafal wajah-wajahnya.

Akhirnya, saya baru 'ngeh' kalo dalam waktu yang bersamaan ada warga setempat yang meninggal. Jadi, sebelum acara dimulai, akan diadakan dulu shalat jenazah. Setelah shalat jenazah selesai, barulah acara dimulai.
gambar ngambil dari sini

Saya yang masih punya wudhu sejak pergi dari rumah, jadi tidak perlu melipir dulu ke belakang untuk berwudhu. Masya Allah, yaaaa. Allah sudah punya rencananya. Enggak ada yang kebetulan, apa yang terjadi hari ini sudah diatur Allah. Saya pernah dengar kalau seseorang yang meninggal dishalatkan oleh 40 orang dosa-dosanya akan diampuni Allah. Jamaah pengajian yang menshalatkan almarhumah (belakangan saya tau yang meninggal adalah seorang wanita dari pesan yang disampaikan perwakilan keluarga) lebih dari itu.Dengan massa yang rutin menghadiri pengajian Percikan Iman bikin  saya merinding. Tidak seperti biasanya, apalagi saya tidak tahu sama sekali siapa almarhumah. Padahal, saya sering memperhatikan, saat seseorang meninggal saja, belum tentu kerabat atau tetangga terdekat tergerak hatinya untuk ikut menshalatkan. Lalu, bagaimana dengan hari ini? Saya dan yang hadir tadi (kecuali saudara dan tetangga) juga tidak mengenal sama sekali.

Pastilah almarhumah punya kebaikan semasa hidupnya sampai Allah menghadiahkan saat indah seperti tadi pagi. Ah, saya selalu berpikir, bagaimana kalau saya meninggal nanti? Ada berapa banyak orang yang menshalatkan saya? Apakah orang-orang menangisi kepergian saya, atau malah bersorak senang? Naudzubillah....

Sebuah pelajaran berharga, apalagi moderator juga mengimbuhkan dalam komentarnya sebelum kajian. "Semoga saat kita meninggal, kita meninggalkan mereka yang menangisi kita dengan tersenyum bahagia. Bahagia kembali kepada Allah karena melaluinya dengan Khusnul Khatimah."

Aamiin.


Share:

Saturday, 8 June 2013

Ketika Pangeran Cassava Jatuh Cinta

gambar ngambil dari http://sro.web.id/
Minggu menjelang petang, setelah wara wiri dari toko buku di sebuah pusat perbelanjaan aku dan teman berniat segera pulang.

Kami  urung pulang, terhadang hujan yang deras mengguyur kota Bandung. Sambil menunggu hujan reda, temanku mengajak berbelok ke sebuah resto franchise. Aku batal memesan minuman karena yang tersedia hanya minuman bersoda saja.

Tidak ada tempat yang tesisa kecuali sebuah pojokan dengan sofa memanjang yang menyisakan tiga seat kosong. Baru saja kami duduk,  sebuah suara membuat kami menoleh melirik sumber suara.

“Lu adalah cinta sejati gue,” oh lalala Bona gajah kecil temannya Bobo itukah? Bukan…. Lalu,  ada yang lagi latihan teater kah?

Oh, bukan sama sekali. Bukan juga dua kali atau tiga kali.

Seorang cowok berbadan tegap, berkemeja rapi sebrang kursiku,  dengan jarak sekitar setengah meter itu masih cukup terdengar jelas. Ia lalu menggamit jemari seorang cewek bertampang ayu, mirip artis Mona Ratuliu,yang duduk di depannya.

Reflek cewek itu menarik lengannya.

Aku memperhatikan cowok itu, beberapa tato dengan warna warni mejeng dengan ‘kerennya’ di leher dan lengan kirinya.

Aku jadi teringat kenangan masa kecil.  Dulu ada permen karet yang berhadiah tato temporer , atau… permen dengan rasa meriah yang bisa membuat lidah kita warnanya jadi enggak karuan.

Sontak, radarku begerak, menyesuaikan sinyal dengan frekuensi yang lebih pas. Ah, klik. Aku dan temanku ngikik sambil senyum-senyum nyimak Pangeran Cassava yang sedang beraksi.

Nah siapa yang jadi korban? Cewek dengan arah 2 dari posisi tempat dudukku itu? Hohoho… Sepertinya bukan wahai  saudara-saudara sebanga se tanah air sekalian.

Nah, kembali ke TKP….

“Lu tau ga? Waktu smp, sma gue terkenal banget lho.”

*Ciyus? Miapa?*
Rupanya cowok ini belum sembuh dari penyakit post populer syndrome-nya. Ah, kalau pinjem kamusnya Andrea Hirata,ada di urutan ke berapa ya kelainan ini? Seratus? Dua Ratus? Entah…

Masih tidak ada tanggapan. Si cewek masih asik dengan perannya sebagai pendengar setia ketimbang jadi juri yang jutek. Yeee, emang audisi-audisian?

Si cewek tadi belum bereaksi, masih menatap bingung. Mungkin separuh pikirannya sudah terbang ke rumah membayangkan kamar yang hangat, bergelung dibalik selimut sambil menyeruput susu coklat yang hangat.  Hahaha….ini sebenernya yang menghayal siapa sih?

“Lu tanya deh temen-temen smp sama  sma gue di …..” si playboy cap singkong ini nyebutin nama kota asalnya (demi melindungi privasi korban yang jadi objek candid script) Deuh… Iseng banget sih mas sampe harus melintas pulau   demi survey iseng begituan.

“Lu tanya mereka deh, ga  ada yg ga kenal gue,” pede bener deh cowok itu berusaha meyakinkan kalau si cewek itu justru bakal rugi ga jadian sama dia.

Akhirnya si cewek buka suara.

“Lu udah empat kali deh ngomong beginian.” Jderrr, skak mat.
Sekali. Lagi ngomong dapet gelas kali ya? Hehehehe
Hujan mulai reda. Beberapa pengunjung segera meninggalkan arena dan juara, eh arena perbelanjaan maksudnya. Aku pun begitu, bersama teman segera bergegas pulang. Tersenyum senang karena ternyata nemuin ide yang tergeletak begitu saja di sudut resto ini.

Maaf ya mas, sepertinya dirimu layak jadi bintang candid. Demi kepentingan para gadis-gadis  untuk jadi contoh menghadapi playboy hehehe…, Hasta la vista. Arivederchi…
repost dari blog tumblrku http://celotehannyaefi.tumblr.com/page/4
Share:

Saturday, 1 June 2013

Memaafkan : Hati Seluas Samudera itu Berbalas Surga.

gambar ngambil dari sini
"Ah, biarin aja dia gitu. Itung-itung dapet transferan pahala, kan lumayan."

Pernah denger selorohan seperti ini? Atau mungkin kita sendiri yang mengucapkannya. Saat kita mendapat perlakuan yang enggak mengenakan dari seseorang, kadang terlintas perasaan seperti ini, ya? Jujur, saya juga sering kepikiran seperti ini.

Padahal, mungkin tanpa sadar ada sikap atau kata-kata saya yang membuat orang lain terluka. Kadang, perasaan ego manusia kita juga sedikit terusik saat diingatkan ada sikap atau kata-kata kita yang tidak semestinya. Kadang, mungkin kita punya argumen lain. "Abis, dia gitu, sih." atau "Ah, masa, sih?" dan sederet pledoi lainnya. Ehm, jujur, saya juga pernah membela diri seperti itu. Ah, malu deh.

Lalu, pekan kemarin saya dibuat tercenung. Tepatnya, kamis malam lalu saat saya mendengar relay langsung kajian marifattullah dari Masjid DT. Saat itu Aa Gym memberikan materi tentang hati yang bersih. Persis seperti yang saya ceritakan di atas.

Apa pasal yang membuat sayang merenung?
Dalam ceramahnya, Aa Gym membuat saya berpikir dari sudut pandang lain. Justru, kita jangan "memanfaatkan" kezhaliman orang lain untuk mendapatkan transfer pahala gratis.
"Jangan, memanfaatkan kezhaliman orang lain. Surga itu kan luas. Kita doakan saja dia berubah jadi baik. Mending kita doakan saja masuk surga bareng-bareng."

JLEB.
Saya tersenyum masam mendengarnya. Rasanya seperti kesindir. Ah, mindset saya selama ini barus berubah, ya. Lalu saya jadi teringat kisah Rasulullah SAW saat berada di Thaif. Saat itu, beliau sedang dirundung kesedihan , setelah beberapa waktu sebelumnya secara berturut-turut ditinggalkan Bunda Khadijah dan paman tercinta, Abu Thalib.

Berangkatlah Rasulullah menuju Thaif, mencari pembesar di sana yang masih mempunyai hubungan kekerabatan. Alih-alih mendapat sambutan, penduduk di sana malah mengusir dan melempari beliau sampai terluka. Saat itu, datanglah malaikat Jibril menawari Rasulullah pertolongan untuk menimpakan gunung Qubais dan gunung Qa’aqa’an. 

Tapi Rasulullah menolak. Malah, Rasulullah mendoakan agar dari penduduk Thaif lahir generasi yang shaleh. "Ya Allah tunjukanlah kepada mereka jalan yang lurus.  Sesungguhnya mereka melakukan itu karena mereka tidak mengerti," ujar Rasulullah dalam doanya.

Duh, begitu pemaafnya, ya Rasulullah. Apa yang kita alami mungkin cuma seujung kuku dibanding perihnya penderitaan Rasulullah. Kita juga ingat bagaimana perlakuan sahabat Umar sebelum memeluk Islam, tapi Rasulullah mendoakan Umar bin Khaththab jadi salah satu pilar kejayaan Islam pada masa itu, dan Allah mengabulkan doanya.

Kita juga tidak lupa dengan kisah Yusuf as yang memaafkan perlakuan saudara-saudaranya yang pernah "membuang", atau Ayub as yang memaafkan istrinya dan jangan lupa juga, bagaimana sadisnya Hindun yang memakan hati Hamzah, paman tercinta Rasulullah, tapi masih dimaafkan.

Seperti yang Allah perintahkan dalam srat Al-A'raf ayat 199. "Jadilah pemaaf dan suruhlah orang untuk mengerjakan yang baik serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh."

Melupakan, barangkali memang bukan perkara mudah. Tapi, dengan memaafkan, akan membuat ingatan pengalaman tidak nyaman itu tidak membebani pikiran kita. Plong. Bukankah, samudra yang luas tidak terpengaruh warna dan rasa meski kita membuang bangkai ke sana? Ah, enggak mudah, ya? Tapi mengasah jiwa maaf itu memang perlu waktu. Setidaknya, waktu yang berlalu tidak sia-sia hanya karena sibuk memikirkan orang lain. Mungkin, dia acuh tak acuh, masa bodoh. Biarkan, saja. Tapi, jangan sampai kita dibuat rugi dua kali. Hei, bukankah kita juga pernah merasa bersalah, dan rasanga legaaa sekali saat dorang lain memaafkan kita. Move on, so you can Move Up.

 

Share: