Wednesday 17 April 2013

Mas VS Aa


Mas VS Aa. Ini bukan soal kontes lintas suku atau Kompetisi tinju atau ajang sejenis lainnya. Setidaknya kejadian dua kali dengan rentang waktu yang lumayan agak jauh. Enggak ada pemenangnya juga kok hehehe....

Biasanya  saya suka menyapa seorang laki-laki yang enggak begitu kenal dengan panggilan mas. Entah itu di toko, tempat makan, atau tempat-tempat umum lainnya. Sangat jarang saya menyapa dengan sebutan aa, padahal darah sunda mengalir dengan derasnya dalam nadi saya. Lain cerita kalau orang yang saya itu terlihat sudah senior sekali atau dalam situasi formal,  baru deh saya panggil Bapak.
gambar nyalin dari rizalyan.com


Nah, beberapa waktu lalu, saya mengunjungi pameran buku yang digelar di Land Mark Braga, kira-kira sudah dua tahun yang lalu lah. Ada satu stand yang rutin saya sambangi, dan hampir selalu ada satu-dua buku dari sana yang saya pilih untuk dibawa pulang. Pastinya, dibayar dulu dong hehehe. Nah, ceritanya waktu itu saya mau nanya-nanya sama penjaga stand di sana. Kebetulan, yang posisinya enggak jauh dari saya seorang sales promotion boy, jadilah dengan reflek saya manggil mas.

"Mas, kalau buku ini berapa, ya?"
Eh, bukannya jawab pertanyaan saya, dia malah duluan protes.
"Duh, jangan panggil saya Mas, dong. saya kan masih muda, Aa aja deh," protesnya.
Glek! Saya tersenyum geli.
Aa? Saya perhatikan dari penampilannya, ya memang sih, masih muda. Belum sampai usia 25an, sekitar usia anak kuliahan lah. Saya nyengir aja denger dia ngmong gitu. Memang sejak kapan ada Mas-mas jadi kakaknya Aa-aa?  Coba deh udek-udek di kamus KBBI kayaknya ga bakal nemu, sama halnya dengan kita manggil seseorang Bli, Uda, Abang, Encang atau apalah yang sejenisnya. Lagian masih  mending kan, saya enggak manggil emang? Hehehe


Nah, lanjut, ternyata Mas VS Aa ini kejadian lagi waktu saya reunian bareng teman-teman SMP. Setelah selesai makan dan beremeh-temeh alias bernostalgia, kami bersiap-siap untuk pulang. Makanan sudah licin tandas di meja, tinggal bayar tagihan. Menjelang petang, suasana Rumah Makan Sunda yang jadi ajang reunian sudah agak sepi. Para pelayan yang tadinya ramai lalu lalang melayani pembeli mulai surut, entah sibuk berkutat di dapur atau istirahat.

Akhirnya, dari pojok belakang tempat kami ngumpul terlihat seorang pelayan lewat. "Mas, mas, sini dong! Billingnya," seru seorang teman saya.
Entah enggak kedengeran atau dia bermaksud melayani pengunjung lainnya, dia cuek saja jalan terus. Kedua kalinya, pelayan  lain tetep acuh.

Insting saya mulai jalan. "Ini  rumah makan sunda, kan?"  pikir saya. Refleklah saya memanggil pelayan tadi dengan panggilan Aa. "A, sini, Minta billingnya."

Bingo! Dia melirik dan berjalan menghampiri meja kami,
Teman saya yang lain kontan protes, "Ih Efi, kok manggilnya Aa, sih? Kesannya kayak manggil suami gitu!"
Saya nyengir. "Ini kan restoran sunda, ga ada kamus jawa di sini. Liat deh menu sama deskripsinya nya juga ditulis pake bahasa sunda, nah terjemahannya aja pake bahasa Inggris. Bukan bahasa Indonesia,"
Ups, ga bermaksud SARA ya.But anyway, itu yang terjadi. Setelah itu, pelayan tadi datang menghampiri kami dan menyodorkan tagihan.

Nah, sekali lagi. Ternyata panggilan Mas atau Aa itu masih punya efek tersendiri, ya?


Share:

Wednesday 10 April 2013

Review Cerita Di Balik Noda - 42 Kisah Inspirasi Jiwa




Judul Buku : Cerita DiBalik Noda - 42 kisah inspirasi jiwa
ISBN:  9789799105257
Pengarang:  Fira Basuki
Penerbit :  Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Halaman :  248
Dimensi(mm): 135 x 20


Biasanya, yang terbersit di benak kita saat mendengar kata noda  adalah jorok, ceroboh, atau malah kekhawatiran bagaimana cara menghilangkan noda saat mencucinya. Padahal, tidak selamanya noda berkonotasi negatif. Ada banyak rangkaian hikmah yang bisa kita temukan dibalik noda itu jika kita bisa melihat sisi lainnya.  
Itulah yang ingin disampaikan oleh Fira Basuki dan kawan-kawan dalam kumpulan 42 kisah yang terangkum dalam buku Cerita di BalikNoda. Tentu saja, kita sudah tidak asing lagi dengan jargon “Berani Kotor itu Baik”, kan? Kita kerap menyaksikan jargon yang sudah melekat dengan  iklan detergen pembersih Rinso yang wara-wiri di layar televisi setiap hari. Eh, tapi jangan kira kalau buku ini mengajarkan bagaimana cara mencuci pakaian kotor kembali cemerlang. Hohoho, anda akan kecewa dibuatnya, karena tidak ada satu halamanpun yang membahasnya.  

Penulis Best Seller, Fira Basuki bersama para penulis lainnya yang sebagian besar wanita dengan berbagai latar  (ibu rumah tangga, karyawati, guru) urunan dalam kumpulan kisah menawan ini. 

Memutar kembali lembaran kenangan masa kecil dulu mungkin anda masih ingat, kita sering bermain kotor-kotoran, entah itu membuat kue-kue lumpur, memanjat pohon-pohon dan turun ke bawah dengan noda getah yang tiba-tiba sudah membaur dengan pakaian, bermain dolanan di lapang lalu sore harinya kita kembali dengan tatapan kesal dan gemas orang tua kita yang melihat kita sudah kotor tidak karuan. Ada juga orang tua kita yang tersenyum melihatnya sebagai proses kita mengeksplorasi kreatifitas. Tentu saja, masih banyak serangkaian permainan lainnya yang jarang kita temukan lagi saat sekarang ini. Ehm, saya termasuk yang menikmati masa kecil dengan bermain-main di luar dibanding dengan boneka-bonekaan mahal atau mainan canggih seperti PS atau game on line.
Nah, kembali lagi dengan review buku ini, menekuri kisah demi kisah dalam buku ini akan membuat kita tersenyum geli bahkan terharu dibuatnya. Misalnya, cerita Bos Galak yang menjadi pembuka cerita dalam buku ini. Kisah Rani seorang karyawati baru yang nekat memberikan kejutan ulang tahun untuk Bu Elsi, bosnya yang galak. Gara-gara insiden kecil saat pemberian kejutan ini, akhirnya seisi kantor mengetahui apa pasalnya Bu Elsi bersikap galak. Berita bagusnya, insiden kecil itu pula yang melumerkan hati Bu Elsi, sang bos kembali cair dan hangat dengan para karyawannya.
Berlanjut cerita lainnya yang berjudul  Sarung Ayah. Dalam kisah ini, seorang  anak kecil yang ditinggal mati ayahnya yang terlihat acuh ternyata mengajarkan sang ibu untuk berbesar hati melepaskan kepergian suaminya. Ehm, sayangnya cerita ini sedikit terusik dengan kerancuan. Di awal cerita, disebutkan nama anak itu adalah Dewi dan mempunyai tante bernama Wulan. Beralih ke paragraf-paragraf berikutnya, sang anak disebutkan bernama Wulan. Well, terlepas dari hal ini, kisahnya cukup menyentuh kita sebagai pembaca.

Berkotor-kotor ria ternyata juga tidak sebanding dengan nilai moral yang didapatkan. Seperti kisah Ali dalam cerita Siluman Tikus. Simpati Ali yang menolong Mak Sa, seorang janda tua yang hidup menyendiri membuat pandangan ibu-ibu yang doyan merumpi dan berspekulasi dengan dugaan-dugaan berlebih berubah menjadi simpati. Ali dengan jiwa sosialnya yang luar biasa berhasil menghapuskan paranoid yang melanda para ibu-ibu dengan tudingan-tudingan klenik. Coba juga baca kisah tentang persahabatan tulus Gwen (Imlek buat Lela) yang merelakan seluruh uang angpaunya diberikan kepada Lela, putri pembantunya, yang juga sahabat Gwen. Alih-alih memberikan sepeda lamanya, Gwen tidak keberatan memberikan sepeda barunya kepada Lela, satu sikap yang membuat ibunya malu sekaligus terharu.

Secara pribadi saya paling menyukai kisah Harta Sebenarnya. Liburan Puspa dan Donny di kampung memberikan inspirasi bagi Donny dan saudara sepupu Puspa, Lola. Berkat kecerdikan kakek, Donny dan Lola yang semula merasa jijik bermain-main lumpur, menjadi bersemangat ikutan turun dalam kubangan setelah menemukan kaleng yang berisi harta karun. Ide awal sang kakek untuk mencari sandal jepitnya yang jatuh dalam kubangan lumpur bukan saja berhasil mencairkan wajah cemberut Donny dan Lola. Pesan yang ditemukan dalam kaleng-kaleng itu memberikan makna yang mendalam. “Kebahagiaan itu ada dalam hatimu bukan di benda-benda sekitarmu” atau “Orang hebat adalah yang kakinya menapak tanah”, mengajarkan mereka untuk tidak materialistis dan selalu bersikap rendah hati.
  
Lalu, apakah sandal jepit kakek berhasil ditemukan? Apakah anda juga penasaran apa yang membuat Bu Elsi bersikap dingin? Atau bagaiama Dina bisa berbesar hati melepaskan kepergian ibu yang begitu mendadak (Pohon Kenangan) dan kelembutan Arga yang begitu tulus merangkul Azha untuk bersahabat tanpa mengiraukan kekurangan Azha? (Teman Sejati).
Ngomong-ngomong soal kreatifitas, kita juga bisa membaca cerita Nisa (Koki Cilik) yang menginspirasi ibunya untuk membuka usaha bisnis kue, atau Ivan dengan daun-daunnya menciptakan ide "Batik Nigeria" yang menjadi jalan pembuka orang tuanya untuk membayar hutang-hutangnya.

Ah, masih banyak lagi kisah-kisah lainnya yang tak kalah menarik dalam Buku Cerita di Balik Noda ini.  Nah, tunggu apalagi? Ayo segera cari bukunya.
Share:

Friday 5 April 2013

Charming Dentist

l 
Dentist alias dokter gigi. Profesi keren tapi sekaligus ditakuti, bikin keder pasien-pasien. Setidaknya itu yang ada di pikiran saya, mendengar desingan suara bornya saja sudah membuat malas untuk membuka mulut, pasrah dengan tindakan dokter gigi berikutnya. Kebanyakan teman-teman punya pikiran sama, kan, dengan saya?


Sebelum lepas kuliah, saya paling males dan ogah pergi ke dokter gigi. Apalagi, beberapa pengalaman saya bertemu dokter gigi yang judes dan ketus selalu jadi alasan buat menemui dokter gigi.

Sampai akhirnya di penghujung tahun 2010  seorang teman merekomendasikan seorang dokter gigi untuk dikunjungi. "Orangnya ramah, sabar, kalem. Kamu pasti nyaman sama dia," begitu saran teman saya. Ya sudah, saya coba menemuinya.
Share: