Dari Sunrise ke Sunset, Pesona Ciletuh Geopark Festival (Part 1)

“If you want to be reminded of the love of the Lord, just watch the sunrise.”
― Jeannette Walls, Half Broke Horses
Kalau ingin diingatkan akan kasih sayang Tuhan, lihatlah matahari terbit. 
Puncak Habibie, Cibareno - Sukabumi

Waktu sudah menunjukkan jam 04.00 pagi ketika mobil yang kami tumpangi  tiba di Pantai Karang Hawu, Sukabumi.  Di Pantai Karang Hawu itu kami hanya transit sejenak. Bersama rombongan Dinas pariwisata dan budaya propinsi Jawa Barat, mobil yang kami tumpangi bergerak menuju Puncak Habibi, berjarak  kurang lebih sekitar 30 menit dari titik transit tadi. 

Kenapa dinamai Puncak Habibie? Bukit yang berdiri anggun di tepian garis pantai  Cikembang ini konon adalah milik mantan Presien RI ke-3. Makanya dinamai Puncak Habibie. Selepas salat subuh, sambil menunggu matahari menampakkan dirinya, ada warung-warung berdinding bambu yang siap melayani kita. Sekadar menyesap teh manis, menyeruput kopi pahit sambil mengudap gorengan, atau kalau anakonda kecil di dalam perut sedang mengganas, bisa deh memesan semangkuk mie instan.
Puncak Habibie, Cibareno - Sukabumi

Berhubung  warung sudah cukup dipenuhi oleh teman-teman yang menunggu kehadiran sang surya, saya dan Yeni juga Bang Aswi memilih untuk duduk-duduk di luar warung saja. Khawatir keasikan ngobrol atau makan, malah terlewatkan momen yang jauh-jauh saya kejar ratusan kilometer dari Bandung.   Yes, di Bandung pun saya sebenarnya bisa menyaksikan matahari terbit setiap pagi, tapi menatapinya dari tepian pantai seperti waktu itu seakan punya pesona magis sendiri. Jadi, biarlah, menunda lapar sejenak asal saya bisa mengabadikan momen itu. Haish segitunya ya :).  
masih di Puncak Habibie juga

Jauh-jauh ke Sukabumi hanya buat menunggui matahari terbit dan tenggelam ditelan horizon pantai? ya enggak, atuh.  Hmmm..... Let's say ini semacam gimmick, bonus.  Sebenarnya tujuan utama kami mengunjungi Sukabumi pekan kemarin adalah untuk menyaksikan acara pembukaan Ciletuh Geopark Festival sebagai persiapan Sukabumi sebagai nominasi  untuk mengikuti  salah satu venue terplilih dalam ajang Unesco Global Geopark (UGG).

FYI, UGG adalah konsep yang dibuat oleh UNESCO di mana pada tahun 2004 terbentuk jaringan Geopark  Global yang beranggotakan 33 negara dengan 120 titik Geopark di berbagai belahan dunia. Keberadaan Geopark ini merupakan upaya untuk mensinergikan konsep koservasi alam dengan edukasi,  dan pertumbuhan ekonomi lokal dan regional. Nah, tahun ini adalah kesempatan Indonesia melalui pesona Sukabuminya untuk menjadi bagian dari UGG itu tadi.

Setelah puas menatapi semburat jingga pagi dan mampir sebentar di Geyser Cisolok (cerita tentang ini menyusul, ya). Sekitar jam 10 pagi kami sampai di GOR Palabuhanratu untuk mengikuti acara pembukaan Ciletuh Geopark Festival yang dihadiri sekaligus dibuka oleh wakil gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar. Ada 8 kecamatan yang menampilkan keseniannya pada kesempatan ini.  Ini baru  sebagian kecil dari kesenian yang ada di Sukabumi sana yang performanya memesona. Saya yang bisanya ogah panas-panasan karena takut item dan bertambah eksotis pun sampai abai hahaha.   


Dan ini  adalah beberapa momen yang berhasil saya abadikan. Sebagian besar nama tariannya saya lupa. -_-. Duuh, maafkan.

Yang saya suka dari para penari ini mereka tampil maksimal. Total. Bukan hanya dari kostum plus make up yang super duper colorfull dan eyecatching  saja tapi juga teriknya matahari  plus hamparan pasir yang lumayan panas siang itu lumayan menguji keteguhan.  Saluuut.
Salah 3 dari penari Cepet yang tampil di acara Festival Adat Sukabmi

Warna warni kostum mereka langsung menarik perhatian saya

Ngarak Putri Mayang Sagara dari Kecamatan Palabuhan Ratu



Ada yang bisa nebak berapa berat  padi yang disetiap panggulan ini? 

Selepas makan siang dan istirahat salat dzuhur, perjalanan kami lanjutkan ke gua Lalay lalu ke  Vihara Nam Hai Kwan SeIm Pu Sa (gampangnya lebih enak disebut Vihara Loji) sebelum malamnya menginap di kampung adat Sirna Resmi. 

Dari rumah ibadah umat Budha yang terletak di desa Kertajaya  Kecamatan Simpenan ini,  membentang tepian pantai yang kami tunggui untuk menyaksikan tenggelamnya matahari di batas cakrawala. What a beautiful moment.
Salah satu sudut di Vihara Nam Hai Kwan SeIm Pu Sa

Sunset di Pantai Loji

Menatap Matahari tenggelam di ufuk barat Pantai Loji
Cerita ke Geyser Cisolok, Vihara Loji, Gua Lalay dan Bermalam di Kampung Adat Sirna Resmi menyusul di postingan berikutnya, ya.

Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

11 komentar:

  1. acaranya meriah bangetttt, rame juga ya

    BalasHapus
  2. teh Efiiiii... pantainya bagus bangettt. Paling suka liat sunset di pinggir pantai, so sweet hahaha

    BalasHapus
  3. Wow.. Sunsetnya langsung ke lautan kalau begitu ya..
    Panorama yang keren..

    Salam ngeblog dari menggapaiangkasa.com

    BalasHapus
  4. Ciletuh, destinasi wisata terbaru di Jabar yang keren banget nih :)

    BalasHapus
  5. Yah asyek keneh maca udah tamat. 😅 sukabumi penuh pesona yg tak terlupakan. Pesta nelayan. Tahun baru. Pokoe seneng deh.😅 tinggal penasaran ke ciletuh 😉

    BalasHapus
  6. Wah ini yg kemarin tea teh? Rame uy! Keren juga ya view n spot2nya. Unesco turun tangan mah yakin kerenlah^^ tempatnya

    BalasHapus
  7. Acaranya cakep bangeeet...suka liat para penarinya :)

    BalasHapus
  8. aku rencana piknik departmen mau ke ciletuh...motoran

    BalasHapus
  9. Waaah melestarikan budaya ya acaranya :D

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.