Seteru: Ketika Beda Jadi Masalah

Beberapa waktu yang lalu saya pernah menyaksikan berita di tv tentang tawuran anak-anak sekolah sampai mengakibatkan jatuhnya korban nyawa. Berita yang berulang dalam waktu berbeda di tempat lain. Entahlah, apa yang ada di pikiran anak-anak sekolah itu sampai segitunya ngontrog (mendatangi seteru untuk berantem, bahasa sunda). Duel dengan tangan kosong atau mengeluarkan senjata tajam andalan masing-masing. Pernah ga sih, sama mereka itu kepikiran kalau  beberapa tahun ke depan nantinya bakal jadi teman sekampus atau satu kantor nantinya? Apa masih mau tawuran?

Beruntunglah waktu SMA dulu, almamater saya ada di lingkungan AURI (SMAN 9 Bandung). Setidaknya ga ada rombongan anak-anak sekolah lain yang berani mendatangi  almamater saya. Lah, gimana mau berkelahi? Yang ada juga bakalan dihadang oleh Provost duluan yang berjaga. Waktu itu kebetulan banget pos provostnya bersebelahan dengan gedung sekolah. Aman, deh. Ga pernah melihat yang adu kekuatan di depan halaman sekolah. 

Semestinya menurut saya, apa yang diangkat dalam film Seteru yang baru-baru ini saya tonton menginspirasi mereka yang masih doyan tawuran. Ya apapun itu alasannya. Prestise sekolah atau melampiaskan dendam atas nama setia kawan. Prestise atau gengsi sekolah harusnya diangkat dari prestasi. Sedangkan balas dendam hanya akan terus menorehkan luka lama yang ga akan pernah sembuh. Ah ayolah, move on, dong.

Seperti itu yang terjadi dalam perseteruan antara dua gank dari berbeda sekolah di Yogya. Martin Tan (Bio One) ketua gank Boys Don't Cry dari SMA Kesatuan Bangsa  bersama teman-temannya  Jordan (Marco Ten Have) dan Rangga  (Mahdy Reza), kerap tawuran dengan gank dari SMA Budi Pekerti, di mana ada  Ridwan (Yusuf Mahardika) anak dari buruh panggul di pasar bersama teman-temannya Marbun (Karmen Nicholas) dan Dito  (Dhemi Purwanto). Berkali-kali lolos dari endusan polisi,  ganknya Martin dan Ridwan akhirnya tertangkap oleh polisi dan digelandang ke markas Kodim.

Di bawah pengawasan Letnan Makbul (Alfie Alfandy) sebenarnya kedua gank ini hanya diberi tugas untuk membuat satu gol saja  dalam pertandingan futsal melawan tentara agar bisa keluar dari karantina. Tugas yang terlihat enteng namun sesungguhnya tidak mudah diwujudkan. Selain latihan fisik yang berat, handphone yang disita (eh tapi bagaimana caranya Leni, adiknya Martin masih bisa menengok Martin, ya?) bentakan dari Letnan Makbul serta do's and do'ts yang diterapkan membuat mereka nyaris frustasi. Walau masih bisa ribut dan berkelahi, akhirnya lama-lama mereka  berdamai juga, Demi tujuan yang sama, bebas dari isolasi yang menyebalkan.

Ke-enam pemuda dari berbagai latar suku, agama, ras, kondisi ekonomi dan perbedaan lainnya sepakat untuk menyisihkan perseteruan. Mereka akhirnya berhasil mencetak satu gol. Selesai? Belum ternyata. Dirga (Dian Sidik), seorang pemandu bakat melihat potensi yang dimiliki mereka. Apalagi Kolonel Rahmat (Mathias Muchus) juga merestui ide Dirga untuk menyatukan mereka kembali dalam satu skuad yang akan diikutkan dalam kejuaraan futsal yang berlangsung di Bandung di bawah bendera tim Bhineka.

Maka dalam babak-babak selanjutnya, film besutan Hanung ini menyajikan drama-drama yang terjadi bukan hanya  di antara keenam anak SMA ini tapi juga orang lain yang terlibat. Ada Martin dan Rangga  yang kehilangan ibu dan berbeda pendapat dengan ayahnya masing-masing, Rangga yang juga direcoki Arini yang dicintainya tidak suka melihat rujuk yang terjalin  bahkan Letnan Makbul dan Kolonel Rahmat pun punya misi tersendiri untuk menyelesaikan masalah di masa lalu. Sesungguhnya ada pengakuan yang dicari, luka lama yang masih belum sembuh dan rasa takut kehilangan yang menciptakan konflik lagi, menyulitkan mereka yang sudah kadung kompak jadi goyah. 

Saya mendapati ruh dari film sepanjang seratus menit pada putaran dua puluh lima  menit terakhir. Walau sedikit terganggu dengan wajah kiper tim  Juanda - yang jadi lawan berat Bhineka  - kurang muda untuk ukuran SMA, saya cukup tersentuh dibuatnya. Letnan Makbul yang berwajah dingin dan selalu menyebut nomor induk prajuritnya dengan lengkap (apakah protokol dalam dunia prajurit memang seperti itu, ya?),  di mata Kolonel Rahmat masih gagal sebagai pemimpin. 

Sejatinya menjadi pemimpin bukan hanya urusan menjadi seorang yang ditakuti dan didengar instruksinya. Menjadi pemimpin juga harus mau mendengar, memahami, merangkul juga menenangkan hati. 

Jika Martin butuh pengakuan dari Ayahnya kalau ia bisa berubah, maka Letnan Makbul membutuhkan keenam anak-anak muda itu untuk menjadi teladan, juga pengakuan dari Kolonel Rahmat kalau dirinya bisa menjadi prajurit yang baik. Begitu juga dengan kolonel Rahmat yang merasa gregetan karena sebelumnya sudah ada tujuh anak buahnya yang gagal menunaikan tugas sebagai prajurit.

Yang tidak kalah menarik dari film ini, media sosial juga jadi salah satu cara untuk menyemangati tim Bhineka untuk memenangi kejuaraan yang berhadian uang tunai dengan jumlah menggiurkan. Memang untuk memenangkan pertandingan adalah tugas bagi pemain. Namun andil penonton sebagai suporter yang menularkan semangat pantang menyerah tidak lah segampang menuliskan status di twitter. Perlu usaha keras agar teman-teman Martin dan Rangga mau berkompromi saling memberikan dukungan agar tim Bhineka bisa memenangi kejuaraan ini.  

Fenomena yang saya rasakan juga setiap menonton pertandingan Persib atau Liverpool, klub jagoan saya atau Timnas Indonesia saat bertanding. Ada sensasi yang ingin diluapkan lewat ocehan di media sosial walau belum tentu dibaca oleh para pemain di lapangan. Yang suka nonton bola dan cukup aktif di twitter atau media sosial lainnya pasti memahami soal ini.

Kalau pun kalah, jadilah yang susah dikalahkan. Begitu salah satu motivasi yang membuat Martin bangkit menyemangati timnya yang terancam bubar. Di luar hal teknis, tim Bhineka harus menghadapi masalah lain berupa provokasi dari Arini bila tim Bhineka melanjutkan perlombaan. 

Film Seteru yang juga didukung oleh BUMD besar di Jawa Barat dan diproduksi oleh Direktorat Bela Negara Kementerian Pertahanan RI, Dapur-MSP adalah contoh kalau film dengan latar anak-anak SMA ga mesti selalu berkutat tentang cinta melulu sebagai isu utama yang diangkat dalam film. Enam punggawa tim Bhineka belajar banyak hal, kalau mereka memang  tidak selalu sama, tapi pernah menyeduh kopi pahit yang sama. Kopi yang nikmat justru karena rasa pahitnya yang khas, karena kalau terlalu banyak gula malah jadi aneh rasanya, kan?

Mungkin masalah tawuran anak-anak sekolah yang masih terjadi adalah fenomena gunung es. Ada akar masalah yang harus ditelusuri agar tidak terjadi lagi di masa depan. 

Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

4 komentar:

  1. Karena masih muda en labil kali ya Mbak, makanya jadi gampang tersulut emosi ._.

    Aku belom nonton nih filmnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa jadi karena itu. Ayo nonton ya, Mak. Sebelum turun layar.

      Hapus
  2. bagusnya di tonton remaja nih filmnya tapi kayaknya kurang booming ya filmnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harusnya sih, Teh. Tapi kalau selera penonton ga bisa diatur, ya. Padahal ini sutradaranya keren, lho. Ga jaminan menarik minat penonton juga. Film bagus gini sayang ga dapat apresiasi sepadan.

      Hapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.