Review Pasukan Garuda: Sumpah Prajurit dan Kesetiaan Cinta

Film Indonesia yang berlatar militer? Biasanya yang teringat oleh saya adalah film-film berlatar perjuangan Indonesia jaman dulu.  Guru Bangsa Tjokroaminoto misalnya.

Terus kalau disebut film terbaru Rio Dewanto dengan latar militer kayak gini jelas bukan menceritakan perjuangan tentara Indonesia puluhan tahun silam, dong. Waktu tau film  Pasukan Garuda: I Leave My Heart in Libanon premier alias tayang perdana, saya beneran blank soal film ini. Malah baru cari tau story behindnya setelah nonton di bioskop. Jadi pas nonton ini di hari tayang perdananya nothing to loose,  ga punya ekspektasi apa-apa.

Nekat? Enggak juga. Sebelumnya saya pernah liat aktingnya Rio di Filosofi Kopi lewat sebuah aplikasi, dan suka! Dan omong-omong soal kopi,  ternyata film ini masih related dengan kopi, lho.  Selama syuting di Libanon sana Rio dan kawan-kawan suka disuguhi kopi ala Libanon yang kental dengan rempah-rempahnya.

Dih, kok jadi bahas kopi?  Review filmnya mana?   

Film ini  mengambil latar cerita kehidupan para pajurit yang dikirim ke Libanon sebagai pasukan penjaga perdamaian. Yup, penjaga perdamaian, jadi bukan untuk turun ke medan perang dan mengokang senjata. Ada banyak hal yang dilakukan Satria (Rio Dewanto) dan teman-temannya selama di sana. Dulu, kita pernah mengenal ABRI turun ke desa. Di film ini,  selama berada di sana kontingen Garuda pun berbaur dengan warga  Libanon dalam kehidupan sehari-hari. 

Tentang Komitmen

Iya, ini kesimpulan pertama saya setelah nonton. Sebelum terbang ke Libanon sesungguhnya Satria dihadapkan pada situasi sulit. Diah (Revalina S Temat) yang galau mempertanyakan keseriusan Satria untuk menikahinya. Ditambah lagi ibunya Diah, (Tri Yudiman) yang juga terkesen 'ngenyek'. Tidak suka pada tunangan putrinya itu. 

Tapi seperti yang dibilang Satrio, mereka adalah prajurit yang sudah bersumpah untuk siap ditugaskan ke mana saja. Karenanya, ia  dibuat  surprise. Ketika sudah pasrah dengan sikap Diah dan ibunya  menemukan kenyataan kalau akhirnya kekasihnya  datang juga melepas kepergiannya. Saat yang lain dilingkupi keharuan melepas pasangan,  Diah meyakinkan Satrio soal kesetiaannya, Dalam waktu yang sama,  rekan Satrio sesama prajurit malah direcoki kegalauan tunangannya yang tidak setuju dengan kepergiannya ke Libanon. Seiring berjalannya waktu, Diah seperti termakan ucapannya sendiri. 

Pencuri pehatian

Selalu ada aktor atau aktris dalam setiap film yang berhasil merebut perhatian penonton. Buat saya, sang pencuri perhatian itu adalah Salma (Hadijah Lilu) gadis kecil yang mengalami trauma setelah kematian ayahnya. Trauma masa lalu yang membuat bocah dengan sorot mata yang puk-pukable (duh istilahnya nih :D) membuat Satria bertekad sebisa mungkin membantu gadis kecil itu bisa bicara lagi. Rio sukses memerankan sosok prajurit yang adorable dan bikin melting. Setiap adegan film memperihatkan interaksi Satria adalah scene terfavorit versi saya. Satria yang komitmen dengan janjinya untuk membantu Salma mendapatkan kesembuhan itu membuktikan ucapannya. Saya ga menyalahkan Rania (Jowy Qhoury)  jadi jatuh cinta sama Danki a.k.a Satria.  Abis emang charming, sih.  

Ice breaker

Kalau Salma jadi pencuri perhatian, karakter Serka Gulamo yang diperankan oleh Boris Bokir jadi pencair suasana. Percaya dirinya yang ekstra dengan nada bicara khas Bataknya kerap membuat penonton tergelak. Gulamo yang nyablak ini sesungguhnya seorang prajurit yang baik dan perhatian. Saat ia menghibur ujang yang kangen kampung halaman menghadirkan adegan yang epik. Pas suasana lagi mendukung untuk terharu, omongannya malah bikin kepingin ngikik. Kalau yang ngerti bahasa Batak mungkin sejak tahu nama karakternya bakal ketawa ngakak. Begitu juga dalam potongan adengan berikutnya, Gulamo kerap memancing tawa penonton. 

Perempuan itu rumit

Film ini juga membuat saya (saya lho ga nuduh yang lain :D) sebagai perempuan seperti kesindir. Kenapa? Karena sikap Diah bikin pusing Satria. Gadis cantik yang berrprofesi sebagai dokter itu ternyata pencemburu besar yang  nyusahin. Dalam sebuah video call yang dilihatnya, Diah merasa Satria kelewat dekat dengan Rania.

Rumit. Itu yang dirasakan Satria setiap berurusan sama kekasihnya itu. Diah cemburuan tapi ga mau kasih kesempatan  Satria untuk menjelaskan. Deuh, gemes saya liatnya. Kok gitu sih, neng? 

Sementara di lain waktu Diah juga menunjukkan sikapnya yang plin plan. Pertahanannnya terusik ketika seorang pengusaha propeti belia dan sukses, Andri (Baim Wong) yang gigih mengejarnya.  Giliran Satria yang belakangan mengetahui soal ini malah bikin saya pengen bilang sama Diah, "rasain, deh". hahaha.... "Makanya neng, ngomong atuh, jangan diem aja."

Padahal kalau ada di posisinya Diah sangat mungkin saya juga akan menjelma jadi mahluk  semacam itu. Lebih ribet dari nebak teka-teki, serba salah pokoknya.

Makanya, pas banget kalau  Letkol (purn) Surya, ayahnya Diah  yang diperankan Deddy Mizwar bilang gini:
Prajurit tidak akan menangis karena kematian. Dia cuma menderita karena penghianatan dan ketidaksetiaan. Dan ini juga bukan kegagalanmu atau kekalahanmu. Ini justru kemenangan terbesarmu. Dan bagi prajurit pertempuran tidak akan pernah selesai sampai kita mati.

Boys (don't) cry too

Siapa bilang pepatah boys dont cry berlaku buat prajurit? No, mereka juga manusia. Ada rekan Satria yang menangis dan mencium perut besar istrinya yang sedang mengandung sesaat sebelum pergi ke Libanon, ada Ujang yang mewek karena homesick alias kangen kampung halaman, atau Satria yang wajahnya selalu terlihat tegar pun dalam situasi tertentu terlihat melehkan air mata.

Ayolah, mereka juga sama-sama manusia. Bukan robot yang kaku dan ga punya perasaan. Satria pun bisa  menangis juga.


Eh sebentar,...
Ada satu hal yang bikin saya penasaran saat menonton film ini. Saat Satria memberikan baretnya pada Salma ia sedang dalam kondisi bertugas. Aturan-aturan keprotokeleran sebagai seorang tentara mengikat dan berlaku bukan cuma buat anak buahnya, tapi juga buat Kapten yang senyum dan sikapnya ini adorable. Itu harusnya kena sanksi ga, sih? Padahal dalam kesempatan lain temannya kena tegur karena lupa mematikan hp saat jam bertugas. 

Ya sudahlah, abaikan saja kebingunan saya. Fans atau bukan fansnya Rio Dewanto Revalina atau siapa pun para pemeran di film ini, penasaran atau enggak dengan  bagaimana rumitnya memahai mahluk bernama wanita seperti sosok Diah, saya rekomendasikan untuk nonton lho. 3,75 dari 5 bintang saya kasih buat film ini.

Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

13 komentar:

  1. Aku pikir ceritanya bakal kayak descendants of the sun mbak, karakter pemainnya hampir mirip, apalagi ada tentara cewek rambut pendek itu. Ternyata beda banget ya alur ceritanya, :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku ga ngikuti Descendant of the sun, mbak. Ada yang bilang mirip gitu sih. Untung lah ga sama ya, jadi ga akan dituding nyontek filmnya.

      Hapus
  2. Wah sepertinya masuk genre drama ya Mba?

    BalasHapus
  3. Ratenya cuma 3,75 ya mbak :D hmmm..berarti medium lah ya kira-kira...Aku suka sih si Revalina Temat, dia actress yang bagus menurutku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lumayan bagus mbak. Cuma kalau bakal ngehits banget kayak AADC misalnya emang susah. Makanya aku kasih rate 3,75 :)

      Hapus
  4. Sejak lihat trailernya di TV udah penasaran pengen nonton. Saya selalu suka cerita model-model gini hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah mumpung masih tayang di bioskop, jangan lupa mampir ya, mbak. Jangan lupa siapin tissue.

      Hapus
  5. Rio Dewantooo hahahh cakeps #eh #salfok gegara baca ini aku jadi liat thrillernya daaan kepengen nonton... aduh.. gawat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang cakep dan gpp salfok juga hahaha. Ayo nontoooon mbak.

      Hapus
  6. wah menarik ya. adiku kebetulan diterjunkan juga di lebanon teh. sebelum dia kesana, tunangan dulu. 2 tahun kemudian...pulang dan nikah. alhamdulillah lancar. aku dilompati wkwkkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah serius, adiku prajurit? Gpp Nay dilompati, aku pun dilompati. Dua kali malah :)

      Hapus
  7. Saya juga ngira kayak dots, karena lagi booming , biasanya kan gitu, ternyata tidak yah.. tapi jujur bukan favorit saya film seperti ini, hehhee

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.