Top Social

Bring world into Words

Saat Harus Selektif Memberi

Kamis, 03 April 2014
Sejak pagi tadi, saya sudah berpikir keras apakah saya akan terus memposting ini atau mengurungkannya. Sepertinya, bakal mengundang respon yang mencap saya pelit, ga ikhlas atau apalah itu. Hmmm, saya sudah pikirkan itu. Tapi,saya kepengin brainstorming juga sama teman-teman di sini. Jadi kalau mau komen yang mengkritisi, saya terima terbuka, tapi please, jangan gahar, ya :)

Jadi begini, saya sering bertemu dengan seorang ibu. Saya taksir usianya sekitar 60an lah, masih tegap, sehat, meskipun jejak-jejak keriput terlihat jelas diwajahnya. Penampilannya sederhana sekali, nyaris terlihat lusuh, sih. Biasanya saya suka bertemu dia pagi-pagi, sekitar jam 7-8an saat menuju tempat kerja (iya, soalnya waktu itu saya kerja di SD dekat rumah). kalau bertemu,  dia cuma menyapa begini, "Pergi kerja, neng?"

Saya mengangguk, mengiyakan. "Muhun, bu (iya, bu)".

Begitu seterusnya,  sampai ketika saya memutuskan untuk bekerja sebagai freelancer. Karena lebih leluasa dan banyak tinggal di rumah, saya jadi kebagian tugas belanja dan memasak. Sampai akhirnya, sekitar sebulan yang lalu, saya bertemu lagi dengan ibu ini. Seperti biasa, sapaan basa-basi berlangsung lagi sampai kemudian dia bilang begini...

"Neng, ibu ga punya uang buat beli beras."
source: kisahmuslim.com


Saya mengerti kemana arah pembicarannya, karena saya tidak banyak membawa uang belanja, maka saya ngasih seadanya, memang belum cukup untuk membeli sekilo beras, sih.

"Bu, saya ga bawa uang banyak, ga papa ya, segini?'" tanya saya sambil nyodorin selembar uang berwarna coklat.

"Yaaa neng, tapi ini mah ga cukup buat beli beras sekilo,"  rajuknya.

Tuuh, kan.

"Iya, bu. Tapi saya ga bawa uang banyak, ini buat belanja," imbuh saya meminta maaf.

"Ya sudah, ibu minta tambahannya sama yang lainnya."

Kembali dari pasar, saya ngobrol sama adik ipar yang kebetulan sedang ada di rumah.  Lalu, adik saya juga bercerita kalau ibu yang sama juga pernah meminta uang juga sama adik saya. Entah sejak kapan ibu ini punya kebiasaan demikian. Saya jadi mikir, ini anak-anaknya pada ke mana, ya? Terus kenapa ibu ini ga kepikiran kerja jadi ART gitu atau kerjaan lain yang membuatnya punya harga diri.

Sejak hari itu, saya kerap melihatnya di pasar. Jujur saja, saya jadi malas bertemu dengannya dan meladeni basa-basi setelah obrolan dengan adik ipar saya.  Pernah juga saya berpapasan di pasar dan bertegur sapa, saya buru-buru menyudahi karena melihat gelagatnya untuk meminta uang lagi. Kalau saya melihat ibu ini beberapa kios di depan, saya memilih untuk memutar, melalui lorong lain.  Apalagi kalau berbelanja ke pasar, saya biasanya membawa uang sedikit di atas anggaran, sekedar jaga-jaga kalau ada beberapa komoditas (kok kayak pelajaran ekonomi, ya? :D) yang harganya naik. Khawatirnya, ya, emang saya ga mau 'dimintai lagi dengan besarannya yang dipatok.

Lain waktu saya pernah melihat seorang ibu pemulung mendorong gerobak untuk mengambil barang rongsokan dari tempat sampah. Penampilannya jauh lebih bersih dari ibu tadi, dengan kerudung dan kacamata, saya punya pikiran kalau beliau ini bukan cuma ngerti agama, tapi juga punya harga diri. 

Belum sempat menyapa dan mengajaknya ngobrol, takut salah ngomong. Tapi sepertinya saya akan kesulitan menemuinya lagi, karena sudah lama tidak melihatnya lagi.

Ada kalanya saya merasa tidak nyaman kalau 'dimintai' seperti pada kasus pertama dan lebih suka memberi sama ibu pada kasus kedua.Sebelah hati saya yang lain bilang, ibu yang ada di posisi kedua ini jusru membuat kita serba salah.  Akhirnya, saya lebih suka memilih menolong atau memberi sama yang benar-benar meyakinkan untuk diberi. Dulu saya suka gampang iba ngasih anak-anak pengemis di perempatan atau lampu merah tapi setelah melihat ibu-ibunya 'menunggui' tidak jauh dari ruas jalan, saya jadi sebel. Kecuali angkotnya rame, saya kadang 'ngasih ala kadarnya' kalau yang ngamen anak-anak remaja dengan penampilan berangasan. Soalnya suka terbersit keparnoan macem-macem. 

Repotnya membedakan pengemis yang benar-benar butuh dengan pengemis profesional. Soal urusan tanggung jawab dia bohong sama  tuhan saya sering dengar juga, tapi buat saya kadang ada kondisi untuk lebih selektif dalam memberi.

Apa saya tidak mau dimintai? Enggak kok, beneran :). Kalau kondisinya memang mengibakan saya ga segan-segan memberi, tapi kalau kebiasaan apalagi melihat fisiknya yang masih sehat, saya jadi mikir duakali, entar dulu ah. 


2 komentar on "Saat Harus Selektif Memberi"
  1. Ikuti suara hatimu lah Mak. Tuhan ya maha tahu kok.

    BalasHapus
  2. Memang kadang suka serba salah ya mak, kalau kita terlalu mudah memberi bs jd dimanfaatkan org lain, tp kalau kita sulit memberi jatuhnya pelit, yaa..yang pertengahan aja mak, ga harus selalu dikasih kalau kelihatannya yg meminta itu bukan org yg benar2 sangat membutuhkan, tp bbrp kali ngasih boleh laaah, hehe..

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.