Top Social

Bring world into Words

Suatu Hari Di Kubikel

Selasa, 11 Februari 2014
 

“Rasanya aku lagi jenuh, mbak,” Amel, yang kubikelnya bersebelahan denganku berbisik pelan. Aku mendongakkan kepala, mengajaknya mendekat agar suaranya tidak mengganggu teman-teman yang lain.
“Kopi?” Aku mengacungkan kemasan kopi favorit Amel, vanilla late.
Amel mengangguk. Kebetulan, Ujang, office boy kantor kami sedang lewat. Aku mengangsurkan dua sachet kopi yang dibilang sebagai kopi banci oleh Dion, staf marketing kami yang paling flamboyan. Ah, biarlah, lagi pula apa enaknya sih menyesap kopi pahit?

Suatu Hari di Kubikel
sumber gambar dari sini



“Kamu masih punya jatah cuti, kan, Mel?” aku menutup window taskbar. Laporan akhir bulanku sudah selesai, beberapa pekerjaan lain belum bisa aku garap karena harus menunggu Tia dan Sisi menutup laporan mereka
“Masih mba, 5 hari malah, maunya aku habisin semua. Ini kan udah Desember,” Amel tertawa hambar.
“Yang ada Pak Heri bisa misuh-misuh sama kamu, Mel,” ujarku sambil menyodorkan kopi yang baru saja dibuatkan Ujang. Office boy yang satu ini memang cekatan.
“Nah, itu dia, mbak. Boro-boro ngabisin jatah cuti, absen sehari aja pertanyaannya udah kayak penyidik yang interogasiin penjahat.”
Aku nyaris tersedak. Makanya, salah satu cara kami menyiasati jatah biar tidak hangus adalah dengan main nodong. Maksudnya,  bolos dan baru laporan pas masuknya. Konsekeunsinya, jatah cuti kami bakal dipotong. Kalau belum habis, gaji bulanan aman sentosa dari ancaman guntingan kepala cabang yang memang workaholic ini.

“Kalau gitu, kamu kabur aja seperti biasa,” usulku.
Amel menaikan alisnya. “Ga bisa mbak, tau sendiri, sibuk gini Ci  Maya bisa manyun. Heran, kenapa sih harus minggu depan dateng ke Bandung?”
“Yee, kan dia mau liburan akhir tahun di Singapura, non.”
“Tapi kan itu udah acara rutin dia mbak? Dua bulan sekali pasti  dia bawain oleh-oleh dari Singapur, meskipun cuma coklat mungil.”
Aku dan Amel tertawa barengan. Oleh-oleh dari Ci Maya sering diolok-olok anak-anak di sini meskipun akhirnya mereka terima juga.
By the way, apa yang bikin kamu jenuh?” Aku menyesap vanilla late yang masih mengepul. Sedap  nian.
Amel bangkit sebentar, sekadar memastikan kalau pak Heri masih betah di ruangannya. Sebenarnya sih, beliau tidak pernah protes kalau salah satu dari kami barang sebentar singgah  di kubikel teman lainnya, cuma kalau menurutnya sudah melebihi toleransi, tegurannya bikin panas kuping.
“Sudah beberapa hari ini aku tinggal di rumah mama...” Amel menggantungkan kalimatnya.
“Kamu lagi marahan sama Feri?” aku menyebut nama suaminya. Amel dan Feri memang tidak satu kantor tapi kantor kami sama-sama menyewa ruangan gedung yang sama. Kantornya Feri menempati lantai 2 sementara kami ada di lantai 4. Pantas saja beberapa hari belakangan ini bukan hanya muka Amel yang terlihat kusut tapi juga absennya yang selalu mepet jam 7.59. Sedikit lagi, bukan cuma kena potongan gaji tapi juga harus mengisi form berita acara kesiangan. Aturan yang sedikit ribet memang.
“Tapi tiap hari kan tetep aja ami ketemu di sini,” sambung Amel. “Ga enak mbak.”
Aku masih setia menyimak, membiarkan Amel mengalirkan ceritanya, sambil mengira-ngira apa alasan mereka terlibat perang dingin seperti ini. Jangan-jangan rumah mereka yang masih sepi dari suara anak kecil? Mereka sudah menikah 5 tahun yang lalu tapi belum juga menunjukkan tanda-tanda kalau Amel sedang hamil.
“Aku cape  bolak balik ke dokter,” Amel seperti membaca apa yang sedang aku pikirkan.
“Mel, sebenarnya kalian sama-sama merindu. Kalian merindukan kehadiran anak-anak yang sudah lama kalian nantikan. Tapi  mungkin tuhan punya rencana indah buat kamu,” aku membuka suara sambil berpikir memilah kalimat yang tidak melukai perasaannya.
“Ada yang dikarunia anak tapi mereka juga diuji dengan anak-anaknya yang bermasalah. Ya sakitlah, perlu perhatian ekstra atau...”
“Iya sih mbak.”
“Kalau niat kalian menikah buat nerusin keturunan, apa bedanya kamu sama si Memey kucing kesayangku itu? Dia  bisa beranak banyak, dalam setahun. Iya sih, siapa yang enggak mau punya anak? Tapi ada enggak ada keturunan, ga mesti jadi alasan buat kalian saling menjauh. Itu mah udah wewenang Tuhan kapan kalian mau dikasih.”
“Sebenarnya yang rewel itu Mamanya Feri, komentarnya yang bikin aku males. Mbak kan tahu sendiri, mamanya itu rewel sama bibit bebet dan apalah itu. Pernah Feri ngajak aku buat mancing dengan mengaadopsi anak.”
“Nah kenapa enggak coba yang itu saja? Siapa tahu habis itu kamu beneran hamil.”
Amel mengangkat bahu, pintu ruangan Pak Heri terbuka, artinya kami harus buru-buru menyudahi obrolan kalau tidak mau ditatapi dengan lirikan keponya.
“Mbak punya stok pembalut? Aku dapet nih, belum sempat keluar,” kali ini wajah oriental Sisi muncul di atas sekat kubikelku.
Aku menggeleng. “Udah habis, Si. Kamu punya Mel?”
Amel mengangguk. Gegas dia membalikkan badan, tanpa menyadari sikutnya menyenggol kalender mejaku.
Aku meraih kalender meja dan menyimpannya kembali.  Mataku tertuju pada bulatan hijau tanggal 20. Aku punya kebiasaan menandai siklus bulananku yang kebetulan berdekatan dengan Amel. Eh, siklus?
Aku memekik pelan.“Mel!” Kali ini gantian aku yang menghampiri Amel.
“Ada apa mbak?”
" Ini kan udah tanggal dua,  perasaan kamu enggak mens bareng aku, kan? Jangan-jangan...”
Amel masih tergugu. Kedua telapak tangannya menutup mulutya. Ada binar riang di matanya. Kesibukan stok opname bikin Aku enggak ngeh dengan yang satu ini. Lagian kok bisa-bisanya Amel lupa sama siklusnya sendiri, ya?
“Istirahat nanti, antar aku ke apotik, ya, mbak?”

***
Usai istirahat, tanpa sengaja telingaku mendengar Amel bersenandung riang. “Sore nanti, aku balik sama Feri, mbak,” ujarnya sumringah.
Ah Amel, rencana Tuhan memang selalu indah, kan? Sepertinya Bulan Depan Amel bakal memamerkan foto-foto liburannya bareng Feri dengan pose paling narsis.

Cerpen ini diikutsertakan dalam  lomba Give  Away Cinta Tanpa Hiatus

12 komentar on "Suatu Hari Di Kubikel"
  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Giveaway Cinta Tanpa Hiatus
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  2. ooh ini cerpen ya? kirain kisah beneran

    BalasHapus
  3. Semoga skses GA-nya. Salam hangat dari Negeri Ratu Balqis :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks, eh serius dari negerinya ratu Balqis? :)

      Hapus
  4. Pertama kali baca cerpennya Teh Efi. Bagus Teh :)

    BalasHapus
  5. Dedeknya cepet keluar, ya, biar rumah Bunda Amel jadi ramai :D
    Sukses GA-nya, mbak.
    Salam hangat dari Surabaya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin, nanti saya bilangin sama Amel hehe. salam juga, mba.

      Hapus
  6. Rencana Tuhan memang tak ada yang tahu, cerpen yang mengandung petuah bagus mbak
    Sukses untuk GA nya ya mbak
    Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mbak, eh tersanjung juga nih saya :)

      Hapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.